Penulis: Albadr Nasution

Satu Buah Mangga dan Bungkusnya

Jadi saya membeli satu buah mangga. Di Jepang, harga mangga tidak wajar. Satu biji bisa mencapai 3000 yen (setara Rp300.000,-). Yang saya nemu ini nggak begitu ‘mahal’, cuma 800 yen saja. Sekali-kali beli lah ya, satu, udah lama nggak makan mangga soalnya. Yang juga agak beda dari Indonesia adalah gaya membungkus si buah. Berikut laporannya. Ngomong-ngomong, kalau Anda belum dengar, katanya orang Jepang saat bungkus membungkus agak overkill. Saya agak kurang bisa membuktikan dan merasakan hal ini sih, agak lebay emang tapi nggak segitunya juga. Misalnya kalau beli gantungan kunci, satu-satu dibungkusi kertas terus dimasuki plastik kecil sendiri-sendiri lalu baru dimasukkan ke kresek bersama. Setidaknya sampai saya membeli satu buah mangga ini. Di kiri atas adalah gambar satu buah mangga yang saya beli di dalam keresek. Kanan atas adalah isi dari kesek tersebut, bungkusan kertas dari mangga yang mungkin saya beli. Singkat cerita, berikut gambar setelah mangga menyeruak total dari sarangnya. Bungkus dari paling luar ke dalam: Kantong keresek plastik untuk membawa Kantong kertas Singgasana Kertas tisu lembut supaya empuk Pembungkus berjarik yang biasa membungkus buah, supaya lebih …

Semua Poster Iklan Jepang Punya Kotak Pencarian (Search Box)

Jika Anda jalan-jalan di Jepang, pastinya dengan kereta (atau bus), silakan mengamati poster iklan yang tertempel disana. Semua poster, atau setidaknya hampir semua, ada kotak search-nya. Ciyus ini… Saya tidak pernah melihat hal ini di iklan cetak Indonesia. Mungkin sayanya yg jarang naik moda transportasi publik di tanah air sih (emg ada transportasi publik disana? angkot?). Yang saya ingat, beberapa tahun terakhir elemen desain yang mulai bermunculan di iklan tanah air adalah logo facebook, diikuti logo twitter, dan disampingnya ada nama username FB/TW dari laman profil perusahaan tersebut. Sama url web dan nomor telpon customer service lah, biar lengkap. Namun, elemen design tadi agak jarang diterumakan di Jepang dan yang wajib bagi iklan cetak disini justru kotak search. Kenapa ya? Menurut saya sih biar gampang mencari info lebih lanjut / website tentang iklan tersebut. Dengan tersedianya kata kunci pencarian unik, calon pelanggan lebih mudah menemukan kembali informasi iklan tersebut di Internet. Apalagi kalau kata kunci didukung SEO terbaik yg membuat web produk pertamax di hasil pencarian. Daripada harus memaksa calon pelanggan mengingat url website, atau telpon, atau nama akun facebook/twitter …

Bungkus iPhone Itu Bahannya Apa Yak?

Saya termasuk orang yang eman membuang sampah kardus khususnya untuk barang elektronik. Waktu di Bandung, bungkus mouse, headset, hape, charger universal, bahkan sampai kardus dispenser pun tersimpan dengan rapi di suatu tempat. Mau dibuang kok rasanya nggak tega. Seolah nanti masih bisa dipakai lagi, untuk apaaa gitu. Sayangnya di Jepang nggak bisa begitu. Soalnya, “apato” (kosan) disini sempit-sempit. Anda bisa googling sendiri bagaimana konsep rumah jepang yang mungil tapi sangat efisien. Orang Jepang juga punya kebiasaan berbeda dengan orang Indonesia tentang barang-barang. Barang kuno sedikit, rusak sedikit, ya lembiru saja: lempar beli baru. No hard feeling. Beda banget dengan kita kan? Kardusnya aja sayang. Makanya gomi-senta (pusat sampah) di kampus sini bisa dibilang adalah toserba bagi orang asing, khususnya saat bulan-bulan kelulusan bagi mahasiswa Jepang (sekitar Maret-April). Dari sepatu, lemari, sampai laptop atau kulkas bisa diperoleh. Yup, orang jepang juga males bawain barang-barangnya saat kuliah balik ke rumah/ ke tempat kerja. Nggak kayak kita yang barangnya digotong atau bahkan dibagi-bagi di FJB ITB (saya). Dan budaya Jepang tadi dimanfaatkan oleh mahasiswa asing untuk menambah aksesori kosan. Setidaknya begitulah …

Kilas

Ne-na-naa ne-naa. Sambil mengayuh sepeda kudengar alunan seruling menggema di langit. Seolah-olah dunia nyata ini kini punya soundtrack pengiring. Alunan itu memanggil anak-anak kembali ke rumah, selalu diputar pada jam yang sama. Tanda akhir hari. Ia mendayu-dayu. Membuatku terkilas dengan kisah kita sejak mendarat di negeri ini. Ting-tung ting-tung, tung-teng ting-tung. Diikuti panggilan bersahutan memberitahu pesawat datang dan pergi. Aku sudah terbiasa dengan bahasa itu tetapi belum mengerti penuh apa yang mbak itu bilang. Letih, aku cuek. Hanya mengikuti kemana antrian berjalan. Hingga sampai giliranku, aku difoto, diberi kartu, dan keluar tanpa ada kejadian berarti. Resmi sampai. Syukurlah. Wruhh… Suara gemuruh hujan menyambutku. Kabarnya topan sedang hobi berlibur kesini. Di bulan pertamaku saja, dua tiga kali dia blusukan. Tiupannya dahsyat. Mengombang-ambingkan pepohonan. Berdansa dengan tiang listrik. Menggoda kereta yang membawaku. Wusshh… Kereta melaju cepat meninggalkan pulau buatan. Tampak jalanan dan perumahan yang dilintasi jalur rel, elok dan bersih, rapi tertata. Indah dipandang. Antrian keluar masuk kereta pun tampak seperti barisan anak SD sebelum kelas dimulai. Oh, inikah masyarakat yang terkenal dengan disiplinnya itu. Hanya saja, …

Orang Jepang: Alpukat Itu Sayur

Banyak orang (di seluruh dunia) bertanya-tanya tentang tomat, “apakah itu sayur atau buah?”. Well, secara teknis dia buah tapi digunakan umumnya sebagai sayur. Banyak hal juga masuk dalam kategori ambigu ini. I’m looking at you Timun, Terong, Kacang Panjang… Namun, tidak pernah kusangka kalau hal ini juga menyangkut Alpukat. Saya bercerita ke ibu-ibu Jepang tentang buah dan minuman di Indonesia. Mereka tanya ada alpukat juga nggak? Lalu, saya cerita deh tentu ada dong dan ditambah cerita buah aneh lain kayak rambutan, nangka. Juga tentang jus alpukat yang super lezat dan terkenal di Indonesia. Dicampur susu cokelat, wuih…. Sedap! “Dijus terus campur coklat?” Beliau kaget. “Kayak buah ya…” katanya. Lah ya memang buah toh? Masih ada keraguan pada si Pokat tah… Ternyata menurut beliau, rata-rata orang Jepang menganggap Alpukat itu sayur. Soalnya rasanya gak manis-manis amat. Terus disini makannya seperti makan salad. Atau ditaruh di-sushi. Atau di-cocol ke shōyu (kecap asin). Dijus? Wow, ciyus?… Hmm…. NB: Alpukat di Jepang mahal. Satu biji kecil harganya 100-200 yen. Nggak semahal mangga sih yang bisa sampe 800 yen atau bahkan 3000 yen per buah. …

I Love You, Ine…

Singkat cerita… Internet saya di apartemen (baca: kosan) mati. Dari hari Senin. Yah, saya gak bisa begitu banyak protes sih mengingat bahwa internet di apartemen ini gratis sebagai servis dari pemilik apato (baca: bu kos). Daya jual untuk menarik lebih banyak penghuni. Awal-awal saya pikir cuma sementara saja, eh ditinggal sampe Selasa kok masih ga mempan. Kabelnya kah, coba 4 kabel lain juga sama, ga nyala, maklum saya menyimpan banyak barang aneh-aneh komunitas PPI disini. Akhirnya Rabu masih juga, malamnya cek di kamar teman sebelah ternyata bisa! Jadi bukan salah laptop dan kabel saya. Ya udah, telp besok deh Kamis, mungkin 2 hari sembuh ya. Seenggaknya Sabtu udah bisa main lagi. Hmf,, Don’t get me wrong. Of course, I can live without Internet. Maybe. Hanya saja rasanya ada yang kurang di hati. Tidak ada tempat merebahkan kepala, menenangkan hati, dan menghibur gundah. Mengingat background saya teknik informatika (atau komputer sains), Internet bisa dibilang darah dan daging. Mungkin seperti pelukis dan cat minyak atau pelari dengan ekstra joss kali ya. Namun, analogi ini tentu saja sangat tidak …

Internet, Presiden, Anak Presiden, dan … Babi Enak?

Jadi saya baru update berita ttg anak presiden menulis babi enak. Agak konyol memang berita-berita sekarang, satu kalimat di blog bisa jadi berita. Beberapa “media” menambahi bahwa dia menghina makanan kesukaan rasul, ketara ingin menjatuhkan kelompok tertentu. Duh, duh, duh… Tahun lalu saya membayangkan situasi ini untuk pemilu 2030. Xkcd juga pernah membuat komik yg membahas hal serupa untuk pemilu 2032. Nggak nyangka baru setahun, di Indonesia sudah ada aja yang memakai plot device seperti ini.

Bingung Domain Blog Baru: Albadr dan .ln

Jadi dari dulu saya pengen bikin domain baru dan ngeblog di hosting sendiri. Lihat-lihat di perusahaan hosting kayaknya ga begitu mahal. Mungkin yang 50.000 (rupiah) sebulan udah lumayan. Cuma buat blog doang kan, 500 yen. Kalau punya domain & hosting sendiri, bisa macem-macem. Pake tema wordpress yang keren. Atau malah upload situs / subdomain sendiri. Folder repo sendiri. Atau multi blog di bawah satu nama. Yang membuat hal itu hingga saat ini hanya berupa wacana salah satunya adalah nama domain. Enaknya apa ya? Di .id atau di .com atau dimana? .me? Melihat nama blog ini, kalau disamakan ya tinggal albadrln.com tapi kok kayaknya hmmm… Ada yang kurang. Atau albadrln.id? Hm…. Albadr.id? Albadr.me? Ada usulan? Yang paling ideal adalah kalau ada top level domain .ln, sayang belum ada negara dengan nama berhuruf l dan n. Ada satu situs yang entah benar atau tidak (menurut wiki) memberi domain .ln bagi pelanggannya. Situsnya ttg pembelian sertifikat tanah di bulan gitu -.-. Si .ln adalah domain bagi lunar, katanya. Cuma ini situs kayak hoax banget gitu… I mean. Mana …

Terkait Kasus Gaham Daring

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus online bullying terjadi di sekitar kita. Mulai dari orang yang rekues untuk menggaham individual tertentu atau netizen yang menyebarluaskan racauan yang diucapkan netizen lain. Biasanya berupa makian, perendahan terhadap golongan lain, tindakan kurang sosial. Entah kenapa orang senang sekali dengan berita seperti ini, bahwa ada orang di belahan bumi lain yang kurang bagus moralnya. Ngomong-ngomong (ini cuma keisengan saya cek KBBI sih, habis ga tahu padanan bahasa Indonesia): Gaham/Sakat Daring = Online Bullying Dan yang saya maksud dengan istilah di atas adalah mengejek, menghina, atau mencemooh dalam dunia maya individu menulis status pribadi dengan nuansa asosial dalam dunia maya. Atau mengeluarkan pernyataan turut iba/malu bahwa ada orang seperti ini. Atau turut menyebarkan, memberi akses, atau tautan kepada teks asli atau teks gahaman. Huh, susah mendefinisikannya. Harus mendefinisikan pula ‘asosial’ itu yang kayak mana. Let’s go by example. Ada banyak kasus contoh. Pada saat saya masih di ITB, ada sesama civita academica yang di-DO gara-gara nonton bola dan menulis status flaming. Beberapa waktu lalu ada kasus mbak-mbak curhat nggak jelas tentang kursi prioritas di kereta. Yang terakhir antri bensin pertamax. Hal-hal ini memang …

SBY and then Naruto: It’s The End of An Era

Jika dihitung dari masa akil baligh saya, mungkin bisa dianggap setelah SD, sekitar umur 13 tahun kali ya, hingga sekarang umur 24 tahun, hanya 11 tahun berlalu. Meskipun saya ingat sekali saat Suharto turun (saya sedang dalam perjalanan bus tiga hari tiga malam dari Lampung ke Medan waktu itu), sepertinya umur melek politik saya belum sampai, terbukti tidak terkenangnya pengganti setelahnya. Namun, sebagian besar di antara masa itu, sekitar 10 tahun, dihabiskan oleh pucuk yang sama. Presiden? Saya tahunya Presiden Indonesia ya SBY. Sayang sekali, sekarang beliau sudah tiada tidak menjabat lagi. Masa ini tiba pula. Rasanya sulit dipercaya… Dari zaman yang sama pula, sekitar SMP kelas satu, saya mulai mengenal Naruto dari kawan-kawan. Semenjak itu, hampir setiap minggu saya ditemani oleh lanjutan cerita beliau. Tidak disangka sisa dua chapter lagi cerita legendaris ini. Namun, akhirnya waktu ini datang jua. Rasanya sulit dipercaya… Sulit dipercaya… It’s truly the end of an era.