North Sumatera
Comments 50

Informasi Singkat tentang Tanjungbalai, Asahan

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Luchtfoto_van_Tandjoengbalai_TMnr_10017791.jpg

Jika aku akan pulang kampung, entah kenapa orang selalu menyebut “kapan pulang ke Medan?”. Yah, mereka yang menyebut seperti itu sebenarnya tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Bagaimana tidak untuk kemudahan saya juga menyebut kota Medan sebagai tujuan pulang. Jika saya menyebut Tanjungbalai, kemungkinan besar pendengar akan bingung dan percakapan bisa lebih panjang. My bad.

Sebenarnya mental seperti ini muncul akibat sentralisasi peradaban Republik Indonesia di salah satu pulau di negeri ini, sebut saja Pulau Jawa. Orang yang bertempat tinggal di pulau jawa bisa dengan percaya dirinya menyebut “Besok saya pulang ke Klaten”, “Yo, pamit ke Sukabumi dulu”, “Saya kerja di Gresik”, atau “Saya masih di Cianjur euy”. Sangat jarang yang menyebut “saya mau ke Jawa dulu” atau “saya mau ke Surabaya dulu” padahal tujuan akhirnya Probolinggo. Bahkan orang Cimahi tidak akan salah menyebut Bandung saat akan pulang kampung padahal jarak keduanya sama seperti jarak Bikini Bottom ke rumah Spongebob.

Orang-orang yang mendapat kemudahan ini kemudian seenaknya menyebut nama ibukota provinsi atau bahkan nama provinsi untuk menyebut titik manapun di provinsi itu. “Kamu di Medannya dimananya?” padahal rumahnya di Kisaran. “Eh, rumahmu di Aceh ya” atau “di Bengkulu ya”. “Kapan pulang ke Bali?”. Lebih parahnya lagi, para pendatang entah juga karena supaya pendengar mudah berbicara atau memang dirinya sendiri kurang mengenal mengenai kota-kota di provinsi asalnya melakukan hal yang sama. Di jawa, mereka berkelakukan seperti orang-orang modern tersebut: menyebut segala kota di luar jawa baik asal daerahnya maupun provinsi lain dengan nama ibukotanya. Well, I condemn them all, including I myself. But I can’t do anything about it.

Dengan demikian, demi propaganda, saya ingin memberikan beberapa informasi singkat untuk memberikan bibit nama kota di luar jawa selain nama ibukota provinsi sekaligus mengedukasi pembaca mengenal kota tempat saya tinggal sekarang. Informasi ini diperoleh dari buku Tanjungbalai Kota dalam Angka, situs pemerintah Kota Tanjungbalai, situs BPS Tanjungbalai, dan cerita penduduk dan keluarga disini.

  • Kota ini sering disebut Tanjungbalai Asahan meskipun sudah bukan bagian dari Kabupaten Asahan lagi untuk membedakan dengan kota bernama sama Tanjungbalai di Kepulauan Karimun, Riau.
  • Walaupun nama aslinya disambung: Tanjungbalai, kota ini sering dipisah menjadi Tanjung Balai atau disingkat menjadi Tg. Balai.
  • Tahun 1980an kota terpadat di Asia Tenggara kira-kira kota mana ya? Ya, Tanjungbalai. Dengan luas hanya 199ha (2 km²), waktu itu Tanjungbalai memiliki penduduk 40.000 jiwa. Dengan demikian, kepadatan populasi adalah 20.000 jiwa/km². Bandingkan dengan kepadatan DKI Jakarta sekarang yaitu 14.000 jiwa/km2. Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan. Tahun 2011 lalu penduduk Tanjungbalai mencapai 150.000 jiwa dengan wilayah terpadat adalah kecamatan Tanjungbalai Utara dengan kepadatan 21.000 jiwa/km².
  • Asal nama Tanjungbalai konon berasal dari kampung kecil di ujung tanjung di muara Sungai Silau aliran Sungai Asahan. Di kampung itu ada balai yang sering dilewati nelayan dan pedagang. Balai itu disebut Balai di Tanjung. Semakin lama kampung itu semakin besar dan jadilah Tanjungbalai.
  • Tanjungbalai merayakan hari jadinya yang ke-391 pada 27 Desember 2011 tahun lalu.
  • Tanjungbalai merupakan bagian dari Kerajaan Asahan yang bertahan dari tahun 1620 hingga tahun 1933. Dengan UU Darurat No. 9 tahun 1956, Lembaran Negara 1956 No.60 Kota Tanjungbalai dipisah dari Kabupaten Asahan.
  • Meskipun penduduk Tanjungbalai mayoritas bersuku batak (42,96%), bahasa batak jarang digunakan disini. Terdapat bahasa Tanjungbalai yang lebih sering dipakai. Bahasa campuran Indonesia, Tanjungbalai, dan Melayu berlogat batak pun sering didengar.
  • Jumlah penduduk bersuku Jawa mencapai 17%.
SD Negeri 132414

SD Negeri 132414 di Jalan Amir Hamzah, Tanjungbalai

  • Pemerintah mempertahankan nomor nasional dari SD Negeri di Tanjungbalai sehingga nomornya memiliki 6 digit. Nomor ini tetap dipakai di berbagai kesempatan seperti gapura, spanduk, dan ijazah, Sebagai contoh, foto diatas diambil di depan rumah kakek saya. SD Negeri 132414 yang kebetulan nama lokalnya juga SD Negeri 13 Tanjungbalai.
  • Siswi di Tanjungbalai yang beragama islam wajib memakai jilbab ketika sekolah. Jumlah penduduk yang beragama islam adalah 81.99%. Akan tetapi, menurut pengamatan saya sangat sulit menemukan gadis elok nan berjilbab cantik (baca: benar) di luar jam sekolah, misal di jalan atau di pasar (Tidak seperti di Bandung😀).  Mungkin suhu udara yang seperti suhu pantai dan minimnya kegiatan atau organisasi keislaman yang melibatkan remaja yang menyebabkan hal ini.
  • Seluruh sekolah libur sepanjang bulan Ramadhan.
Betor

Betor Itu seperti Motor (we outsider called it Mobil) tetapi Becak

  • Transportasi utama yang digunakan adalah sepeda motor. Angkutan umum utama yang digunakan adalah becak ditempeli sepeda motor utuh disamping (bukan becak yang ditambahi mesin motor atau separuh badan sepeda motor di belakang becak, seperti di Jawa). Juga disebut betor seperti di daerah lain.
  • Seperti di kebanyakan daerah di Sumatera Utara, mobil (kendaraan beroda empat itu) disebut motor, motor (kendaraan beroda dua) disebut kereta, dan kereta (kendaraan bergerbong dan ber-rel) disebut kereta api.
  • Aturan lalu lintas disini hampir tidak digubris. Pemakai helm tidak ada. Lampu merah yang hanya ada di empat persimpangan pun (dua tahun lalu setahu saya cuma ada dua) pun jarang digubris pemakai jalan.
  • Karena makin banyaknya sepeda motor a.k.a kereta, PNS diwajibkan memakai sepeda untuk ke kantor setiap hari Jumat.
Terminal tidak laku disini

Angkot juga sepi dan jarang terlihat

  • Tanjungbalai adalah kota pelabuhan. Banyak penduduknya yang bermatapencaharian nelayan.
  • Sungai Asahan termasuk sungai yang lebar (sekitar 500m). Banyak kapal yang diparkir di sepanjang sungai ini. Pemandangan ini sangat mengesankan bagi saya.
Kapal Parkir dan Jembatan Titi di Latar

Kapal Parkir dan Jembatan Titi di Latar

  • Terdapat jembatan sepanjang hampir 1 km melintasi Sungai Asahan yang entah mengapa disebut orang lokal sebagai jembatan “Titi”.
  • Kita dapat menyeberang ke Malaysia dengan kapal ferri cepat menempuh waktu 4 jam dari pelabuhan Teluk Nibung, Tanjungbalai. Banyak sayuran dan bahan makanan hasil penduduk Tanjungbalai yang memang dijual segar di Malaysia.
  • Di Tanjungbalai terdapat pasar yang dikenal dengan nama Pasar Mayat. Sebelumnya, lokasi pasar ini memang permakaman. Pasar ini menjual pakaian dan bahan makanan. Pasar yang tergolong pasar tradisional ini (tentunya bukan mall) buka dari pagi hingga jam 11 malam.
  • Letak kota Tanjungbalai yang lumayan dekat dengat Malaysia, Singapore, dan Batam serta posisinya sebagai kota pelabuhan yang cukup dikenal membuat banyak penyelundupan masuk kesini. Narkoba. Miras. Barang bekas dan produk luar negeri. Orang Rohingya. Tentu saja mereka tidak melewati pelabuhan resmi dan pengecekan imigrasi. Yang harus mereka lakukan adalah mencari pinggir pantai terdekat yang cukup jauh dari jangkauan polisi air kemudian jalan kaki ke kota dengan tenang. Polisi disini sibuk menangani hal ini dan tidak menaruh perhatian sama sekali ke lalu lintas.
Kapal Polisi Parkir

Satuan Kapal Polisi Sedang Parkir di Dekat Pekong

  • Dipinggir jalan utama sering ditemukan penjual dadakan yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Mereka ini menjual barang dari kapal yang rusak di jalan (baca: di laut) atau karam. Kebetulan saat jalan-jalan menyusuri sungai ini dengan speedboat, kami berhasil menemukan satu kapal yang sedang karam.
  • Kota ini juga disebut sebagai kota kerang. Hal ini dikarenakan dulu Kota Tanjungbalai pernah menghasilkan Kerang dalam jumlah yang besar. Akan tetapi, belakangan ini produksi Kerang jauh menurun dikarenakan ekosistim yang tidak mendukung.
  • Kota ini pernah mendapatkan penghargaan Adipura pada tahun 2008 silam.
  • Terdapat pula tuga lumba-lumba di salah satu bundaran besar di kota ini. Entah siapa yang mendesain, padahal lumba-lumba tidak ada hubungannya sama sekali dengan kota ini. Memang dahulu pada zaman penjajahan Belanda, lumba-lumba dapat ditemui di Sungai Asahan di dekat kota. Akan tetapi, sekarang tidak pernah ditemui lagi. Mungkin di laut seberang Tanjungbalai masih ada tetapi itu diluar jurisdiksi kota Tanjungbalai.

Kapal Karam di Dekat Pelabuhan Teluk Nibung

Nemu saat Keliling di Sungai Asahan

  • Terdapat sebuah kebun binatang di kota ini! Wow kan… Hanya saja kebun binatang ini bukan milik pemerintah. Luasnya mungkin hanya setengah lapangan bola. Katanya sih kebun binatang ini milik pribadi dan diletakkan di halaman belakang sebuah rumah orang <redacted from original>.
  • Ralat 2015/10 untuk poin di atas: pemiliknya bukan seperti yg ditulis di atas (padahal kalau teliti kalimat di atas tidak menunjuk ke pemilik kebun dan tidak berniat rasis). Sesuai Perpres 12/2014, inpres sebelumnya tahun 1967 dicabut dan penyebutan etnis yg benar dalam dokumen resmi dikembalikan pada istilah Etnis Tionghoa. Tulisan ini dibuat tahun 2012 yg saat ditulis penulis tidak tahu kontroversi dalam pemakaian istilah sebelumnya. Meskipun blog ini bukan dokumen resmi negara, kata tersebut saya hapus. Mohon maaf jika ada yg tersinggung atas ketidakakuratan info dan pemakaian kata.
  • Catatan 2015/10: Saya yg bukan orang Tanjungbalai hanya pernah sekali ke kebun binatang ini dan mendengar lewat saja ttg kebun binatang ini. Jadi tidak tepat informasinya. Mohon maaf kalau ada yg tidak berkenan.
  • Tanah di Tanjungbalai kebanyakan tanah rawa atau disebut tanah layo yang berpasir sehingga Tanjungbalai sulit berkembang. Sulit membangun bangunan disini. Harus ditimbun dulu.
  • Disini magrib (matahari terbenam) pukul 18.30 dan subuh pukul (05.15).
  • anjungbalai umurnya 400 tahun! Sangat tua ya? Walau sudah berumur, sayangnya kota ini masih miskin (baca: belum maju) dan kurang dikenal masyarakat di luar pulau Sumatera atau bahkan luar Sumatera Utara.

Yah, untuk sementara ini segitu dulu informasi yang bisa saya berikan. Semoga artikel ini bisa memberikan gambaran mengenai kota ini. Lain kali, jika saya pulang kampung, saya akan menyebut nama kota ini sebagai tujuan saya. Insya Allah.

P.S. Saya bukan orang Tanjungbalai, meskipun rumah dan keluarga besar sekarang disana. Jadi saya tidak tahu pasti ttg kota ini. Informasi di atas adalah yg saya peroleh dari kunjungan saya kesana sebentar-sebentar. Beberapa info pasti tidak tepat. Silakan koreksi jika ada yg salah.

P.S. 2. Utamakan kepala dingin dan sopan santun. Jika ada yg salah, tunjukkan dengan jelas dan saya akan koreksi. Tidak perlu ada sumpah serapah di antara kita.

P.S. 3. Comment section penuh beberapa orang yg kurang berpengalaman dalam mengoreksi. Mohon dimaklumi dan pandang sebelah mata jika Anda kesana…

50 Comments

  1. ary farid says

    makasih mas Nasution atas info ttg Tanjung balai.,.. keep writing.

  2. miranka says

    tanjung balai : wak uteh, djalaut hutabarat, syafii panjaitan🙂

  3. abang penulis trimaksih saya lahir di tanjung balai karimun ttpi saya di besarkan di cirebon ktika liat photo dan tulisan abang kpngn kesana inysallah klo ada rezeki skalian mau mencari krabat ayah(alm)waktu tugas d sana trimksh bang abang baik dan berguna buat bangsa indonesia lanjutkan bang semangaaaattt

    • Zulaika says

      Tanjung balai asahan dengan tanjung balai karimun Beda mas,..

  4. Piliank says

    Hahaha” ngangkak liat comment2 di bawa ketauan mana yg sekolahan dan mana yg enggak,mungkin si deny & si andi ini memang keturunan Tionghoa, di mana2 klu nama muhammad itu di awal,ini kok di akhir “andi muhamad” huruf m nya 1 lagi..!! Nyamar nama lu ya akakakakakak
    Terus kan saja bang Albadr Nasution artikel nya gak ada yg salah kok.jgn dengar kan kata2 orang gak jelas.kota nya di publikasikan kok malah di bacoti. Akakakakkakaka

  5. ahmad buchori ismail says

    Ciri-ciri orang tanjungbale asli biasanya bicara elok/santun tak perlu ikut anjing (hewan) atok dan lainnya yang menyinggung perasaan orang lain. Marilah berdialog penuh persaudaraan. Salah salah sikit dimaafkan sajalah, namanya juga manusia tempat lupa dan salah, setuju … kan

  6. ahamd buchori ismail says

    Kata Rasul jangan membals keburukan dengan keburukan tapi balaslah dngan kebaikan. Tanjungbale tu dulu masyarakatnya taat beragama (Islam), tolong kembalikan citra itu. Ucapan memaki/kotor mari kita hindari …. setuju ya

  7. Benny Tagor says

    oi mak..iyo pulak lopas sedikit rindu itu yo…salam rindu dulu lah untuk semuo orang tg bale yg ada disini yo…hahahah, aku orang tg bale tinggal di depan lapas dulu itu asrama tentara, skg pindah sudah ke simpang ompat…

    • yusi says

      kota tanjungbalai ,memang kota yang indah
      hehheheh….
      bagi orang tanjungbalai yang udah merantau,pasti rindula sama kota tanjungbalai ni

  8. Makasi tulisannya Bang..

    Sedikit mengobati rasa rindu kampung halaman.
    Iseng2 nyari tulisan mengenai tanjung balai kota tercinta.. Hhaha. Agak bernostalgia dikit aku bah..
    😀

    Aku sekarang udah kerja dan kuliah di medan.
    Rindu juga ama pisang bakar dari lapas tanjungbale. (Oh iya.. Nyebutnya seharusnya tanjungbale biar pas); (lapas tu lapangan pasir di tanjungbale). Udah lama gk pulang kampung. Walaupun jarak medan k tanjungbale gk jauh2 kali tapi terhalang waktu.

    PS: Aku juga orng Cina bang. Tapi gak tersinggung kok. Itu tergantung bagaimana cara pribadi mnanggapinya aj Bang. Cuma untuk menghindari orng tersinggung, emang lebi baik di hapus/diganti jd tionghoa. Gpp lah. Silap aja itu Bang. Hhaha.

    Makasi Bang atas tulisannya.. Berkarya terus ya..

  9. dewa says

    bro Albadr Nasution… tulisan anda ini sangat menarik sekali utk di simak. tidak lupa juga saya ucapkan terimakasih banyak atas semua info yg anda tulis di media ini. ini cukup mengobati rasa rindu saya akan kampung halaman saya ini. TIDAK ADA GADING YG TIDAK RETAK. demikian juga tulisan anda ini. mengingat pada atmosphere kebangsaan kita sekrg ini,ada baiknya kata-2 yg bersifat RASIS bisa kita kurangi atau bahkan di hilangkan. kalau saya tidak salah ada Perpress yg sudah menghaluskan kata CINA menjadi TIONGHOA. sebab negara pun sudah mengakui kontribusi mereka dlm membangun bangsa ini. initinya adalah SIFAT RASIALIS TIDAK MENDAPAT TEMPAT DI BUMI PERTIWI INI. Saudara jgn kecil hati atas semua kritik dan saran yg saudara terima. jadikan ini semua sebagai ajang introspeksi dan inspirasi. melalui tulisan ini pula saya mengajak semua yg membaca tulisan Albadr Nasution, agar berkenan mengerti semua kelebihan dan kekurangan beliau ini. terimakasih. tetap berkarya, tetap semangat, NKRI HARGA MATI.

    • Mas Dewa, makasih banget sudah membaca blog saya yg tidak ada apa-apanya ini. Juga atas komennya yg memberi kecerahan di artikel ini dibanding komen tak sedap-beradap di bawah. Saya sgt mengapresiasi dan bersyukur dg mas dewa…

      Soal kesalahan saya sangat terbuka atas semua kritik. Tentu akan saya perbaiki jika saya ditegur dg baik-baik dan diberitahu yg mana yg salah. Kalau tidak diberitahu ya tidak tahu…

      Soal Perpres saya tahu tahun 2014 diterbitkan. Sayangnya artikel ini ditulis tahun 2012, saya tentu tidak ingat setiap kata yg ada di ratusan artikel blog ini. Saya sangat bersyukur kalau ada yg menunjukkan.
      Saat menulis saya juga tidak bermaksud rasis, lihat saja kalimat asli disana tidak ada kesan rasis. Tidak tahu kalau orang ya, menurut saya (dulu&sekarang) kata yg Anda sebut itu netral, tidak rasis. Saya ga akan merasa apa2 kalau Anda sebut saya Cina. Yg saya rasa, kata ini di Jawa dan dunia internasional kyknya tidak negatif. Netral tal. Saya kaget juga lho pas perpres itu muncul, “penting bgt gt ya”. Baru tahu saat itu saya… Kalau ternyata sebagian masyarakat menganggap itu kata negatif. Saya sih mengalah, kalau ada yg menganggap rasis ya saya ganti sesuai perpres. Asal saya diberi petunjuk yg benar. Murid nggak akan paham kan kalau guru langsung menghardik saat ia salah. Sama seperti sifat rasisme, sifat guru yg kayak gini kayaknya juga tidak diperlukan di Bumi Pertiwi.

      Sekali lagi terima kasih kepada mas Dewa atas pencerahannya dan juga kepada yg lain saya mohon maaf atas kesalahan informasi dan pemakaian kata tidak hanya di artikel ini tapi semua artikel saya. Salam olahraga…

  10. Bukan tentang pemiliknya org apo,sekarang tulisan kau itu rasis,”orang cina” ,kalau kau memang org berpendidikan kau tau kata apa yg seharusnya kau pake
    Dan kalau kau tak mau dikomen,elok usah kau bikin blog!

  11. sok meraso berpendidikan pula itu si budak ni,kok mmg berpendidikan kau tak “org cina” kau tulis di situ,aku sebagai org muslim pn tak sur membaconyo!

    • Nah, begini kan jelas. Jadi info yang tidak tepat adalah kata “cina” di atas. Mohon maaf kalau salah informasi… Saya juga denger2 dari orang. Nggak semua tahu juga siapa yg punya.
      Supaya fair, saya koreksi bagian itu.

      Kalau dari awal komentar jujur kan enak, nggak asal semprot.

      Btw bagian itu padahal ditujukan supaya orang non-TJB terkesan bahwa ada loh kebun binatang kecil disana. Sayang, beberapa orang tidak paham bagaimana cara bertegur sapa.

  12. Muhammad solihin says

    Tak ada yg salah paham, smua dikarenakan kau yg sok semat jadi ong, pendidikan kau sajo masi gratisan sudah sok mantap kali ondak membuat blog , kau sajo anak rumahan yg masi minum susu gantung.

  13. Bujang omak kau yo ! Kesuran pula kau , kau jangan berlagak sok smart,apo maksudnyo “sangat mencerminkan penulisannya?” ,gayo kau sajo sok sekolah di Bandung,
    Bung andi muhamad,kau konal atok dio yo?

    • Andi muhamad says

      Konal aku atoknyo.
      Tinggal di dopan sd 13 atoknyo. Jual jajan -jajanan budak2.

      • Silakan silaturahim ke rumah atok. Dan jelaskan duduk perkaranya.

        Oh ya, maksud “sangat mencerminkan penulisnya” yaa… Saya jelaskan dikit deh. Kalau Anda ketemu orang X dan si X tiba2 bilang ke Anda anjing atau k**** tanpa alasan, bagaimana anda melihat yg ngomong? Ya jelas lah ya. Si X adl orang yg sangat bonafit dan flamboyan kan haha…

    • ahamd buchori ismail says

      Tolong saudara ralat kata “B O K”. Mari dtalog yang santun sebagai budaya orang tanjungbale (Saya Buchori lahir di Pematang Darat Sungai Baru). Orang dusun tapi mau belajar santun. Tolong ya.

  14. Jangan sok “semat” kau!
    “Sangat mencerminkan penulisannya” ,udah ku blgnyo,karna ong kek kamu makonyo begitu torus tanjung tu!

    • Haha… Betul-betul… Dan karena orang macam kow tanjung jadi hebat, bukan? Mantab sekali.

      Saya heran dengan komentar sini di atas bawah ini, nyandu apa sih mereka? Emang ada yg negatif di artikel di atas kah? Bukannya saya nulis artikel biar orang pada kenal tanjung balai… Pada nggak bisa baca kah? Atau ada yg bisa jelaskan, dengan objektif. Bukan cuma lempar cercaan sepihak tanpa alasan dan solusi, macam orang tak berpendidikan.

      • ahamd buchori ismail says

        Anda sudah benar. teruslah menulis tentang informasi yang dibutuhkan masyarakat. tks kawan

      • Andi muhamad says

        Jangan sok mantap kau anjing.
        Tau aku dimano rumah atok kau.
        Tengok ajo la.

      • Siapa ya yg sok mantab. Coba cek nada komentar di atas, yg bergaya sumpah serapah bukan saya sepertinya.

        Lalu kalau tahu rumah atok kenapa? Mau silaturahim? Ya silakan…

        Yg saya nggak mengerti, kenapa Anda ga ada angin ga ada hujan mengancam di blok orang. Tabiat? Kesurupan? Atau kalau ada yg salah di artikel silakan sebutkan. Biar rasional, sama sama paham. Dan bisa saya koreksi artikelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s