Pos-pos Terbaru

Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang

Saya ingin membahas tentang lebarnya pendapat komunitas muslim tentang halal dan haram makanan di Jepang. Tujuan artikel ini bukan untuk memberi petunjuk atau bahkan fatwa seperti: makanan halal itu yang seperti ini-ini dan haram itu-itu. Melainkan, lebih berfokus ke realitas di lapangan. Bahwa banyak perbedaan pendapat ttg batasan makanan yang boleh dikonsumsi muslim di Jepang.

Pembaca bisa menimbang antar pendapat satu dan pendapat yang lain di artikel ini kemudian mencari lebih lanjut dalil-dalil pendukungnya. Artikel ini juga tidak akan mengutip dalil atau kaidah halal haram dalam islam karena penulis tidak memiliki kapasitas disana. Sekali lagi, fokus artikel ini adalah lebarnya spektrum pendapat di lapangan.

Juga di luar scope artikel ini untuk memberi daftar produk/merek snack yang halal dan produk/merek yang haram. Jika Anda mencari hal tersebut, saya sarankan untuk membaca artikel dari KMI Sendai dan PPI Tokodai berikut. Atau situs yang sering menjadi acuan teman-teman, halaljepun. Untuk kaidah yang lebih ilmiah, silakan kunjungi ustadz terdekat.

Sekali lagi yang harus dicatat bahwa pendapat-pendapat disini bukanlah pendapat saya dan saya tidak meng-endorse-nya. Saya juga akan berusaha untuk bersikap netral dan menyembunyikan yang mana yang pendapat saya atau yang biasa saya/teman-teman lakukan agar tidak ada judgment kepada pemegang pendapat seberangnya. Juga yang mana pendapat yang “mainstream”, karena mainstream bagi lingkungan saya mungkin berbeda bagi lingkungan lain.

Artikel ini pada akhirnya bertujuan sebagai pengaya dan titik diskusi, bukan sebagai pendakwa atau titik acu.


Konsensus: Daging Babi dan Minuman Alkohol itu Haram

Dari lebarnya spektrum yang akan kita bahas, terdapat satu konsensus utama yakni daging babi dan minuman beralkohol itu haram. Dengan demikian, artikel ini dengan sengaja mengesampingkan pendapat orang yang katanya islam tetapi entah kenapa masih makan daging babi dan minum alkohol.

Penekanan yang ada di dalam konsensus ini adalah kata daging dan kata minuman. Daging dalam artian, babi masih berwujud otot atau gilingan. Minum dalam artian, alkohol masih berwujud cairan nyata yang dapat diminum. Makan daging babi yang masih tampak seperti daging dan minum alkohol yang masih dalam bentuk minuman tidak termasuk dalam bahasan artikel ini. Jelas HAROM.

Namun, turunan dari kedua zat ini, masih fair game. Karena penekanan dari dua benda tadi berbeda, bahasan keduanya dalam artikel ini bisa berbeda. Dengan penekanan di daging, turunan babi  yang berupa daging (e.g. bacon, ham) tidak akan masuk dalam bahasan ini. Dengan penekaan di minum, tidak akan ada bahasan tentang minuman beralkohol, tetapi akan ada bahasan ttg turunan alkohol yang bukan minuman disini.


Daging Biasa: Yang Dijual dan Dimakan Orang Jepang

Perbedaan pendapat dimulai dari daging supermarket biasa. Dengan kata lain daging sapi dan ayam yang dijual dan dimakan oleh orang Jepang.

niku-di-supa

Pendapat pertama mengatakan bahwa sama seperti di negara manapun (Indonesia misalnya), kita tidak bisa memastikan kalau si hewan yang udah jadi daging itu dipotong dengan cara islami atau tidak. Pendapat ini memegang prinsip “kalau tidak tahu, ya bole-bole aja…“. Di Indonesia pun, siapapun yang menjual, apakah dia orang Tionghoa, Batak, Sunda, atau Jawa, tidak pernah ada yang mempertanyakan atau menelusuri detail sejarah si daging, atau latar belakang sang penjual.

Pendapat lain mengatakan bahwa Jepang adalah negara non-muslim. Bahkan non-ahli kitab alias politeis. Dari fakta tersebut ditambah deduksi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar daging yang dijual bebas disini tidak dipotong dengan cara islami, alias tidak halal. Memang tidak semua, tetapi pemegang pendapat ini lebih berhati-hati dengan daging dan menjauhi semua makanan lokal yang mengandung daging. Persis seperti vegetarian.

Orang dengan pendapat pertama tidak akan ragu untuk masuk ke restoran Jepang dan memandang orang dengan pendapat kedua menganiaya/mendzalimi diri sendiritidak menikmati hidup, atau fanatik mungkin. Sebaliknya, orang dengan pendapat kedua tidak akan memakan bahkan madu kalau ada kanji daging di komposisinya dan memandang pendapat pertama sebagai ceroboh atau ignorant.

Efek dari kedua pendapat ini sangat besar. Sebagian besar diskusi atau kontroversi pendapat di artikel ini tidak akan berlaku bagi pemegang pendapat pertama. Sebaliknya orang dengan pendapat kedua akan memburu kanji 肉 pada setiap produk berkemasan dan mengeliminasinya.


Daging Australia

Saizeriya Aussie Menu

P.S. Menu Saizeriya yg paling atas ada bacon-nya, jadi tetep aja ga boleh dimakan

Perpanjangan dari topik sebelumnya, terdapat juga perbedaan pendapat antara daging ahli kitab daging yang diimpor dari negara ahli-kitab (baca: barat i.e. Benua Australia, Benua Eropa, Benua Amerika).

 

Saya belum pernah mengunjungi negara ahli-kitab (baca: negara dengan mayoritas penduduk beragama kristiani), jadi saya tidak tahu bagaimana komunitas muslim disana membedakan antara daging sapi halal dan tidak halal. Kami yang di Jepang ini penasaran juga. Mungkin ada yang bersedia menulis?

Yang jelas, dua pendapat yang berbeda mencuat.

Satu pendapat, negara ahli-kitab? OK. Negara politeisme? NOK.

Satu pendapat lain, mau ahli mau pakar, tunjukkan dulu logo halalnya baru OK.

Konsekuensinya adalah saat pergi ke restoran. Misalnya, beberapa tahun lalu Sukiya – restoran sashimi daging dan ikan – rumornya mengimpor daging dari Australia. Dengan demikian, sebagian orang makan disana. Sebagian yang lain, kalau diajak nggak mau karena tetap nggak jelas dari Australianya agen halal atau agen biasa. Sayangnya, Sukiya kabarnya tidak memakai daging Australia lagi saat saya datang ke Jepang, sehingga saya tidak mengalami langsung konflik tersebut.

Contoh yang lebih modern (2017) adalah adanya menu dengan Daging Australia di Saizeriya. Nah, boleh dimakan nggak tuh?


Daging Ayam Brazil Halal

Daging ayam berlogo halal yang paling mainstream di Jepang adalah produk impor dari Brazil. Biasanya bermerk Seria atau Sadia. Daging ayam ini dijual di toko-toko halal. Toko Jepang mainstream seperti Gyoumu Supa dan Amica juga menjualnya. Terkadang saya juga nemu ayam utuh ini dijual di random warung atau supermarket yang nggak ada bau-bau toko halalnya.

Daging ini ada logo halalnya. Jadi, halal?

brand-seara

Tidak menurut sebagian brader dari Pakistan dengan alasan yang tidak saya pahami. Yang jelas, mereka agak nggak suka kalau disuguhi daging ayam yang diolah dari ayam utuh Brazil berlogo halal ini.

Mereka -brader- tidak percaya bahwa logo halal di produknya itu valid. Brazil gitu loh? Emangnya siapa yang kepikiran orang islam kalau dengar kata “Brazil”? ^^ Saya tidak begitu mengerti tapi isu yang saya dengar adalah sebagai berikut. Rumornya ada syekh dari brader-brader tersebut menanyakan entah ke supliernya atau importirnya atau perusahaan di Brazilnya dan pas ditanya (atau dikunjungi? entahlah) jawaban yang mereka beri tidak meyakinkan.

Begitulah. Update 2017.03.26 Ada skandal suap, pemalsuan sertifikat, dan kelalaian standar kebersihan di Brazil mencuat. Ternyata isu brader… ada benarnya. Skandal ini juga mencakup produsen Seara dan Sadia, namun sepertinya lebih ke masalah keuangan dibanding kebersihan. Meskipun begitu, sepertinya reaksi pemerintah Jepang adl. membatasi impor daging dari Brazil.

Jadi brader makan daging mana? Para brader beli daging halal yang disembelih di Jepang. Mungkin karena yang punya tokonya adalah brader juga, jadi mereka kenal dan yakin atau gimana gitu.

Saya menemukan banyak logo halal yang unik-unik di Gyomu Supa, misal halal Denmark, Eropa, Filipin. Negara-negara yang nggak kita pikirkan kalau bakal ada lembaga sertifikasi halalnya lah. Dan logo halal adalah tanda paling mudah bagi kita untuk mempercayai kehalalalan sebuah produk. Agak ragu juga sebenarnya dengan logo halal yang nggak pernah dengar sebelumnya tersebut. Kemudian ada berita juga di Korea, kasus pemalsuan logo halal ini sangat mewabah.

Topik ini mencuatkan pertanyaan apakah logo halal itu sendiri bisa dipercaya? Namun, kalau kita tidak mempercayai tanda halal di produk ini, apa lagi dong yang bisa kita percaya ya…

Hal yg terkait dengan ini adalah kasus berikut. Kalau kita datang ke sebuah restauran dan bertanya, ini dagingnya halal tidak (sering dilakukan orang ke resto India/Nepal) lalu dijawab “iya”, apa yg membuat kita percaya? Bisa jadi mereka bahkan ga tahu konsep halal itu bijimana.

Mirin, Seperti di Sushi atau Udon atau lain-lain

Topik selanjutnya: Mirin. Zat yang belum pernah saya denger pas di Indonesia ini adalah bumbu dapur berupa cairan yang mengandung alkohol berkadar tinggi, biasa dipakai untuk tumisan atau makanan berkuah. Hal yang sangat menyebalkan karena muslim di Jepang hobi makan sushi, soba, dan udon. Karena, well, makanan tersebut adalah makanan Jepang buanget yang tidak mengandung daging sama sekali.

Toko udon favorit di toyohashi.jpg

Toko udon favorit di Toyohashi.

Ditambah lagi banyak rumor ttg toko sushi sana boleh, toko sushi sini ada mirinnya, toko sushi situ cuma menu tertentu bertebaran hampir secara periodik, membuat komunitas flip-flop dan bingung menyikapi sushi. Hal inilah yang membuat kasus spesifik ini patut dicatat di artikel ini.

Beberapa orang mengabaikan apakah sushi mengandung mirin atau tidak. Sebentar… Mengabaikan mungkin kata yang terlalu kasar. Lebih tepatnya, membuat asumsi by default sushi itu boleh dimakan sampai ada bukti (atau rumor) kalau dia mengandung mirin.

Beberapa benar-benar mengabaikan rumor tersebut. Wong sushi gini… Mana bisa mabuk makan sushi banyak-banyak, walaupun ada mirin-nya.

Beberapa yang lain agak paranoid, menjauhi sushi yang pernah terdengar rumor bahwa ia berimirin, barang sedikitpun. Atau bahkan semua jenis sushi.

Ada yang bertanya, orang Jepang memakai mirin untuk minum-minum nggak? Kemudian dilanjutkan, kalau diminum banyak-banyak memabukkan nggak? Kalau nggak kan berarti ya boleh aja, bermirin atau tidak.

Pertanyaan yang pertama jawabannya iya, zaman dulu kala [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era … Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

Untuk pertanyaan kedua, entahlah. Karena dulu dipakai untuk minum-minum, ya kemungkinan besar memabukkan juga kali ya. Sehingga bisa disimpulkan karena banyaknya memabukkan thus haram, ergo, sedikitnya pun haram.

2302_03

Sumber: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

Setidaknya itu pendapat sebagian orang. Sebagian komunitas lainnya melihat, produknya atau makanannya, bukan komposisinya. Dengan kata lain, sushinya bukan mirinnya. Hal yang membawa kita ke topik berikutnya.

Makanan Ber-(senyawa)-alkohol

Bagaimana kalau makanan tersebut disiram alkohol, kemudian 1 detik kemudian ia menguap lalu hilang sama sekali?

Bagaimana kalau makanan tersebut berkadar alkohol yang sangat sedikit? Alkohol dari alam? Durian, tape, legen beralkohol tetapi undoubtly halal kan?, sekali lagi bagi sebagian besar pendapat.

Bagaimana kalau makanan itu tadinya berbahan alkohol, tapi sekarang bukan berwujud alkohol? Cuka aja boleh…

Semua variasi ini bisa memiliki spektrum pendapat masing-masing, pendapat sejumlah kepala yang ada. Perbedaan ini dikarenakan beda interpretasi antara khamr dan alkohol. Khamr, memabukkan. Hampir semua alkohol memabukkan. Yap, hampir tapi tidak semua.

Tidak cuma kita-kita yang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, para ahli pun sepertinya tidak bisa memberikan jawaban yang simpel, jelas dan konsisten. Titik temunya sulit disepakati. Setiap sertifikasi halal pun punya standar persentase alkohol maksimal masing-masing. Nah, apalagi orang-orang yang dibawah kayak kita. Pasti eksekusinya juga pusing dan tidak konsisten.

Contoh tidak konsisten misalnya, sebut saja si A* sangat suka durian. Kan halal. Namun, choco-chips yang ada kanji 酒 sake-nya, menjauhi. Padahal mungkin persentase alkohol di durian lebih besar dari pada di snack tersebut dan nggak pernah dengar tuh ada orang mabuk makan choco-chips banyak-banyak. But who knows…

*) Siapa itu si A. Karena batasan netralitas pendapat di artikel ini, saya tidak akan memberitahu siapa itu A. Wink.. wink..

Tidak hanya soal alkohol tadi, soal perubahan senyawa molekuler juga sepertinya masih menjadi perdebatan para ahli. Molekul ini dari babi, tapi udah berubah, atau cuma untuk dimakan bakteri dan bakteri menghasilkan molekul lain. Topik sulit yang tidak akan dibahas di artikel ini. Hal ini terkait dengan zat-zat komposisi yang akan menjadi topik selanjutnya. Yap, bahan makanan jadi bahan pertimbangan buat makan di Jepang disini. Nggak kayak di Indonesia. Ada zat yang meragukan dan ada yang tidak.

Minuman “Keras” Alkohol Nol Persen

Sebelum membahas lebih lanjut ttg zat meragukan tersebut pada komposisi makanan dan zat turunannya, mumpung lagi membahas Alkohol, mari kita sisipkan topik ttg minuman tidak beralkohol.

Es teh manis?

Bukan lah. Misalnya, bir non-alkohol atau wishkey zero alkohol, dan semacamnya. Katanya di arab banyak yang kayak ginian.

0-00_abv_beers

Foto dari Non-alcoholic beverage [Wikipedia]. Saya nggak beli lho!

Kalau saya, kok ragu kalau itu boleh diminum. Alkohol nol persen ya apa sama dengan tidak memabukkan? Yang jelas ada muslim yang yakin kalau minuman tersebut boleh diminum.

MUI sendiri menfatwakan bahwa makanan dengan nama haram (misal: teh merek Whiskey) atau makanan yg direkayasa supaya jadi berasa seperti rasa makanan yang haram (bumbu perasa babi yg nggak dari babi), jadi haram juga (Fatwa MUI 4/2003).

Meskipun masalah legalitas seperti hukum, fatwa, dan dalil di luar bahasan artikel ini, terkait dengan fatwa tadi, bagaimana dengan bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Balik ke Jepang. Disini bir dan semacamnya dijual bebas di mana saja, di warung pun buanyak variasinya. Saya sih jarang mendengar eksistensi minum keras zero alkohol disini, dan kayaknya komunitas disini juga tidak terlalu peduli dg eksistensinya. Well, move on ke topik selanjutnya.

Zat Turunan pada Ingredients

Nah, saatnya membahas gajah di ruangan. Nggak gajah juga sih, kan senyawa zat kecil-kecil. Zat turunan yang saya maksud ini ditemukan di bahan makanan, tertulis di daftar komposisi di balik kemasan makanan.

o0604040313218925372

Sumber: ameblo.jp. Coklat tanpa nyukazai. Pernah dapat coklat ini dari anak SMP Jepang pas pertemuan pertama Aichi Scholarship. Mereka jualan coklat ini untuk charity katanya.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

Daftar ini bisa melebar luas, termasuk tetapi tidak terbatas pada: lemak, gelatin, shortening, jelly, nyuukazai (emulsifier), margarin, butter, karamel, cream, yeast, asam amino, soyu (soy sauce), white vanili, dll.

Bahan-bahan makanan yang dijauhi tersebut biasanya karena tidak jelasnya asal muasal mereka. Kebanyakan dari keluarga turunan babi, misalnya emulsifier dari babi dan seterusnya. Namun ada juga emulsifier yang bukan dari babi. Karena tidak tahu yang mana, jadi tidak jelas lah.

Setiap item di watch out list itu bisa menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Nah menyikapi hal ini secara umum pun bisa menjadi pendapat yang berbeda juga. Kaum kalau tidak tahu tidak apa-apa, tidak akan melihat eksistensi tulisan tersebut di komposisi. Kaum paranoid akan memburu semua kanji dan kana dari daftar list mereka dan menjauhi semua makanan bertuliskan kanji-kana tersebut. Kaum takut tapi penasaran rasanya kayak mana akan menelpon si pembuat makanan untuk memastikan bahan makanan tadi terbuat dari apa.

Kaum yang terakhir saya sebut tadi biasanya akan dipandang jadi hero (atau jadi villain?) ketika mengumumkan produk ini boleh-tidak boleh karena alasan ini ana itu. Yang akan dibahas pada dua topik terakhir.

Double Derivative: Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan

Namun sebelum membahas dua topik tadi, mari sedikit mengekstensi topik sebelumnya sedikit. Mungkin sudah jelas di judul yak, ttg.  “Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan”.

Maksud loehh?

Lihat kembali di daftar “watch-out”-items pada topik sebelumnya. Dua item terakhir adalah soyu dan white vanili. Ekstrak kedelai dan vanila putih. Hal yang kalau dilihat dari namanya, tidak ada bau-bau mencurigakan. Bukan? Namun, ada beberapa orang yang menjauhinya dengan argumen sebagai berikut.

Jadi, soyu itu soy sauce alias saus kedelai. Soyu sebagai produk di supermarket, botolan, satuan ada yang mengandung alkohol (kanji 酒) dan ada yang tidak. Jadi ada yang boleh ada yang tidak. Are you with me?

Nah, ada produk makanan lain tuh. Misal apa deh, roti kek atau snack. Eh, dilihat di belakang bungkusnya ada tulisan soyu. Jeng-jeng-jeng…. Nah lho, nah lho. Boleh nggak tuh?

Karena fakta di lapangan yang bisa kita saksikan sendiri (di supermarket, misal) bahwa ada soyu yang boleh dan nggak boleh, meragukan, ergo si roti tadi juga meragukan sampai diketahui si soyu ini komposisinya bagaimana. Jadi, rotinya mending dijauhi.

Yang lain berpendapat, chotto matte! soy sauce ya soy sauce. White vanili ya white vanili. Jangan menyetarakan produk bahan dan produk jadi. Produk pabrik dan produk konsumen. Logikanya, pabrik kalau memesan dan mencantumkan bahan ya bahan murni. Bukan bahan turunan. Kalau turunan berarti bahannya bahan tadi juga merupakan bahan dan harus dicantumkan juga, bukan? Kalau begitu, produk yang mengandung coklat semua meragukan karena ada coklat yang mengandung alkohol ada juga yang tidak.

Argumentasi pada topik terakhir ini cast doubt, apa lagi ini indonesianya, memancarkan bayang keraguan pada daftar komposisi itu sendiri. Bisa dipercaya atau tidak kah?

Untung saja ada kaum takut tapi penasaran pengen nyoba yang terdepan dalam mengonfirmasikan hal-hal tersebut ke produsen langsung. Bisa nunggu laporan mereka lah. Eh.. Tapi kalau daftar komposisi di kemasan nggak bisa dipercaya,  konfirmasi dari produsen bisa dipercaya nggak ya? Hm…



Halal Berbatas: Waktu/Serial Number/Tempat/Bungkus

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

Bahasan gajah di ruangan (ttg zat turunan dalam komposisi) ini merujuk kepada satu kesimpulan. Kehalalan di sini sifatnya limited dan temporer.

 

Bertanya “ttg kit-kat itu halal apa nggak?” jawabannya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menjawab. Dan macam-macam lagi tergantung kapan, kit-kat yang mana, yang dijual dimana, bahkan yang serial numbernya dengan akhiran apa.

Ada juga produk milk-tea yang as bizzare as it sounds, um, seaneh kedengarannya, berbeda status kehalalannya bergantung pada ukuran botol. Yang sedang boleh, yang kecil nggak. Padahal produk yang sama dengan tulisan komposisi yang sama.

Hal tersebut sangat biasa di kehidupan komunitas muslim di Jepang.


Makanan Dari Teman

Artikel ini memperlihatkan bahwa setiap ada topik pasti ada pendapat yang berbeda di antaranya. Nah, kalau makanan itu untuk diri sendiri sih nggak masalah. Namun, di dalam komunitas tentu interaksi, tukar pikiran, dan tukar makanan pasti akan terjadi. Bagaimana dengan spektrum pendapat yang berbeda-beda tadi?

Apakah kita harus mengecek kalau semua parameter di atas sama nilainya dengan teman yang memberi kita makan tadi? Tentu saja pada topik ini juga ada perbedaan pendapat lagi. Ada yang nanya banget, ada yang nanya secukupnya, ada yang cuek.

Misal yang soal brader tadi, katanya sampai ngamuk dan menolak kalau disuguhi daging halal brazil. Saya sih tidak menyaksikan langsung gimana cara mereka menolaknya. Katanya sih beberapa tahun lalu terjadi, dan sepertinya mereka sudah mulai melunak akhir-akhir ini.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

SONY DSC

Nobody will refuse or question the halal status of rendang. Sumber foto: Rendang [wikipedia].

Menurut saya, burden of proof, duh apa lagi ini Indonesianya, beban pembuktian kehalalalan jatuh kepada dia yang membuat dan memberi makanan tersebut. Dan sebagai muslim, kita cukup percaya dengan keislamannya dan yakin dia tidak berniat mencelakakan. Ini juga sebagai penghormatan terhadap pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat, muslim tetap bersaudara.

Meskipun begitu, dua paragraf terakhir di atas nggak jelas juga tuh dengan klausa “kecuali sangat-sangat mencurigakan”. Mencurigakan itu yang bijimana? Duh duh duh…



Mujtahid dan Mujtahid Mutlak

Pada akhirnya, setiap pendapat adalah milik pribadi masing-masing. Setiap pribadi harus berijtihad, memutuskan bahwa saya berpendapat begini untuk topik ini dan begitu untuk ropik itu.

Ada prinsip bagus dari ustadz yang menjadi imam di Masjid Toyohashi (atau yang datang dari Indonesia untuk pengajian? saya lupa siapa).

Wara’ itu untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain.

Dan bagi yang bingung memutuskan pendapat, selalu ada mujtahid mutlak di sekitar kita. Ini sebenarnya istilah guyon yang dicetuskan oleh salah satu bapak-bapak di Toyohashi. Jadi bukan mustahid mutlak kayak imam syafii gitu bukan. Disini maksudnya, orang-orang yang kalau “berfatwa” roti merek ini itu boleh, chiki ini itu nggak, dan memakannya, pendapat itu bakal mutlak dipakai oleh komunitas di sekitarnya.

Syarat jadi mujtahid mutlak ini tidak sulit. Punya kecenderungan untuk peduli ttg halal dan haram. Jadi, minimal bukan omnivora-lah, apapun dimakan. Punya kecenderungan untuk update informasi. Nggak gaptek-gaptek dan kuper-kuper amat. Dan yg terpenting punya kecenderungan untuk bisa membaca kanji. Beres. Saya juga pernah menjadi mujtahid mutlak bagi anak-anak SMP Indonesia yang datang ke Jepang. Mereka belanja di kombini dan saya dengan otoriter men-dictate, ini boleh, ini jangan.

Biasanya tiap komunitas punya orang seperti ini, dan pendapatnya juga berbeda antata mutlaker di komunitas satu dan lain. Pernah dengar cerita juga, ada anak yang dianggap alim karena dia rajin sholat mengaji dsb, memiliki pendapat pertama di topik pertama artikel ini, jadi teman-temannya pun berpendapat yang sama.

Di internet, kaum penanya produsen tadi juga bisa direfer dan dipakai pendapatnya secara mutlak. Biasanya mereka mengepos di Facebook, group, atau blog-blog. Situs halal yang saya refer di awal artikel juga salah satu contohnya.

halal-japan-facebook.png

Mujtahid mutlak daring sedang beraksi.

 

Jika Anda bingung ttg suatu kasus halal haram suatu produk, membaca artikel ini mungkin akan tambah bingung. Untuk pembaca yang sudah membaca sampai paragraf ini, saya ucapkan: Selamat atas achievent Anda membaca artikel 3000 kata ini. Maaf karena mungkin saya tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membaca blog ini.



Penutup

Topik berikutnya, terdapat juga perbedaan pendapat dari bagaimana makanan tadi itu ditutup. Penutupnya turunan dari babi atau nggak.

Bercanda-bercanda…

Artikel ini sudah terlalu puanjang dan membahas hal yang cukup luasss…. Mau mengedit supaya lebih ringkas, kok capek ya. Jadinya, bingung deh mau menutupnya bagaimana.

Pokoknya gitu lah ya.

Di Jepang, halal haram itu pusing. Nggak gampang kayak di Indonesia. Namun, semoga tidak ada konflik dikarenakan perbedaan pendapat di atas. Tidak perlu keras mengoreksi dan berbantah-bantahan. Mari melembut dan tersenyum. Saling menghormati pendapat masing-masing, dan terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sepertinya itu lebih baik.

Sama-sama perantau kita di Jepang sini, mari kita saling bahu membahu.

Jika ada pertanyaan, pendapat, cerita silakan kasih komentar di artikel ini atau lebih baik lagi tulis di blogmu. Mungkin bisa memperkaya wawasan ttg topik ini lebih luas lagi.

^^.. Wassalamualaikum.

Sssssttt…

Setiap pagi saya mendengar orang Jepang yang baru datang di kantor berdesis ria. Datang satu orang.

Ssssttt….

Satu orang lagi…

Sssttttts….

Nggak semua sih. Sebagian… Ngapa lah ini orang Jepang pikir saya… Rupanya itu singkatan dari “Selamat Pagi”. Jadi kalau ditulis full begini nih.

[Ohayogozaima]sssssttsu.

Mungkin karena malu atau gimana jadi awal kalimatnya diucap sirr sama mereka. Atau mungkin biar efisien atau gimana kali.

Kalau di Indonesia dibuat seefisien begitu, mungkin kira-kira jadi begini…

giii…..

Atau begini..

likummm…..

Kali yak.

Di kantor saya dulu di Nagoya, orang yang berdesis gitu kalau ketahuan Shacho (CEO) bakal dimarahi dan disuruh ulang masuk kantornya. Di depan pintu harus salam pakai teriak, cem tentara.

OHAYOUGOZAIMASU!

Gitu… Jangan sampe deh.

Iklan

Nan ya?!

Di dalam semangat nuansa makna, saya baru saja diperkenalkan oleh teman Jepang saya satu komik yang sangat lucu berikut. Hampir semua dialog di komiknya cuma bilang “nan ya” atau variasinya. Dan tentu saja, artinya, atau lebih tepatnya arti dan nuansa di dalamnya berbeda-beda.

Komik ini bukan dalam bahasa Jepang standar, melainkan dalam dialek Kansai. Mari kita cek.

nanya

Sumber: Sayangnya nggak ada yang tahu pengarang asli dari komik di atas. Udah terlanjur terkenal. Best case: Osakaaruaru Twitter

Kalau di artikan ke bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan kesan yang ada di bahsa aslinya, mungkin kira-kira seperti berikut.

Patut di catat bahwa komik bahasa Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri.

nanya baris 1

“Ih, apaan nih?” *ngejek

“Apaan loe!?” *nggak terima

“Apaan gan… Nggak apa-apa gan….” *menenangkan

“Apaan sih?!” *bingung

“Loe yang apa??” *nantangin

nanya baris 3

“Apa loe ha!?” *balik nantang

“Apa juga ha!?” *gelut

“Apa-apaan ini kalian!” *kesel

“Ngapa!!???” *nantangin juga loe?

“Apaan toohh—-!!” *nggak mudeng

nanya baris 4

“Eh apa tuh?” *nanya sesuatu

“Apaan?” *konfirmasi pertanyaan balik

“Apaan sih apaan?” *yang lain ikut penasaran

“Apa, gelut katanya…”  *terjawab

“Oh, kirain apaan.” *kecewa

Tamat.

Justifikasi

Awal-awal penulisku mengisi diriku ini, perataan paragraf yang dia gunakan adalah justifikasi. Entah apa itu bahasa Indonesianya? Perataan kiri kanan? Atau perataan aja? Dulu kayaknya dia berpikir kalau justifikasi itu membuat artikel jadi bagus. Kayak koran gitu. Rapih. Cantik. Mungkin lebih mudah dibaca kali ya.

Namun ada banyak kelemahan dalam perataan justifikasi paragraf di web. Beberapa malah jadi antitesis dari alasan penggunaan justifikasi di koran. Pertama tengok paragraf yang diset dengan perataan kanan kiri di bawah ini. Paragraf ini diambil dari artikel Logo Provinsi yang merombak seluruh logo provinsi di Indonesia. Cek tengah paragraf, rentang spasinya jadi nggak rata.

Contoh efek buruk justifikasi

Aku tadinya mau memdemonstrasikan live dengan paragraf di atas, tapi kan justifikasi di web ini bergantung pada lebar jendela, jadi susah deh ngasih liat sisi jeleknya.

Blob di tengah teks ini tentu saja tidak membuat teks lebih mudah dibaca. Pinggir-pinggir rapih sih kesannya cakep, tapi tengah itu lebih penting karena mata manusia mengalir di dalamnya saat membaca. Bukan terpaku di pinggir.

Di contoh di atas sih cuma sebaris. Kalau yang muncul berbaris baris? Misal kata yang muncul panjang-panjang. Misal nih ya.

Pertanggungjawaban mantan Presiden Republik Indonesia yang dipertanggungjawabkan di rapat pleno nasional pertanggungjawaban menyebarluasnya  Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis afterthefact alias hanya pascainsiden mempermasalahkan permasalahan yang diada-adakan. Pertanggungjawabannya Presiden yang memempertanggungjawabkannya pascakepresidenan tersebut ditolak mentah-mentah oleh komisi Dewan Perwakilan Rakyat.

Geser-geser jendela browser dan lihat perubahan paragraf di atas deh. Aneh!

Jadi kenapa spasi itu bisa muncul? Karena teknologi perataan justifikasi milik HTML dan CSS masih cupu. Cuma if kata-kata nggak muat gedein spasi di baris ini dan lanjut ke baris berikutnya.

Kalau Latex, dengan setting rata kiri kanan paragraf secara otomatis akan memenggal kata sehingga saat ada kata super panjang seperti kata “mempertontonkan” di contoh di atas, kata tersebut tidak seluruhnya jatuh ke baris berikutnya dan menciptakan ruang-ruang kosong di tempat tinggal sebelumnya.

Cek contoh hasil dari Latex berikut. Garis strip di kata mempertontokan automagically appear berkat si Latex.

latex justifikasi.PNG

Memang sih masih ada kasus yang mau diapain aja tetap serba salah. Kayak baris kedua contoh di atas, mau dipisah “lam-bang” juga nggak muat di baris atasnya. Jadi tetap ada spasi agak besar disana. Ini shouganai…  atau bahasa indonesia: ya piyee….

Setidaknya, spasi liar ini terminimasi oleh Latex.

Di koran juga begitu. Cuma aku nggak tahu mereka memotong-motong kata pakai typeset dari Latex juga atau manual itu. Penulisku juga kayaknya nggak tahu.

Di web? Justify masih cupu dan sepertinya tidak usah dipakai banyak-banyak dulu. Untunglah akhir-akhir ini si dia nggak pernah menjustifikasi diriku ini lagi.

Nuance dan Nuansa

Saya bingung, nuance ini bahasa Indonesianya apa ya?

Bukannya “nuansa” ya gan?

Iya sih itu… Tapi beda deh. Di artikel sebelumnya saya memakai kata nuance dalam bahasa Inggris walaupun saya tahu ada kata nuansa di bahasa Indonesia. Soalnya saya merasa ada nuance di kata nuansa yang membuatnya beda dari kata nuance.

Ehm. Maksud saya, kata nuance dalam bahasa Inggris dan kata nuansa dalam bahasa Indonesia itu punya arti yang sedikit berbeda. Mari kita lihat bedanya.

nuance

  1. subtle distinction or variationNuances of flavor and fragrance cannot be described accurately … — Scott Seegers… these terms have certain nuances of meaning … — Ben F. Nelms

  2. a subtle quality
  3. sensibility to, awareness of, or ability to express delicate shadings (as of meaning, feeling, or value)

(Merriam Webster Online)

nu.an.sa

  1. n variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dan sebagainya)
  2. n kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai)

(KBBI Daring Badan Bahasa Kemendikbud)

Hmm, kalau liat kamus di atas sama kayaknya gan!

Nyet nyet nyet.… Saya berani bertaruh kalau si bapak-bapak perumus KBBI itu cuma ngeliat arti nuance dalam bahasa Inggris kemudian memberi fatwa, inilah arti kata nuansa seharusnya.

Dalam percakapan sehari-hari, kata nuansa dalam bahasa Indonesia hampir tidak pernah diartikan sebagai subtle difference atau perbedaan halus. Tidak percaya, lihat aja daftar frasa berikut ini.

Nuansa Ramadhan. Nuansa Tahun Baru. Nuansa Jawa. Nuansa Tradisional. Nuansa Islami. Nuansa Sejuk. Nuansa Kemerdekaan.

Kalian bisa mendaftar sendiri pemakaian kata nuansa yang umum tersebut dan bisa disimpulkan kalau arti nuansa disana adalah tema atau suasana. Sama sekali bukan perbedaan halus. Kalau emang si KBBI tadi “benar”, kalimat berikut-lah yang harusnya lebih umum.

Ada nuansa di suara dan wajahnya ketika kami bertemu kembali.

Sayangnya, saat membaca kalimat di atas kita langsung berteriak. Nuansa di muka? Suara? Maksute? Nuansa apaan? Agak tuaan dikit kah gitu kah?

Menurut Samsudin Berlian (Kompas, 26 Mar 2010) yang kemudian artikelnya dicadangkan di rubrikbahasa, kata nuansa ini dipopulerkan oleh lagu Nuansa Bening oleh Keenan Nasution pada tahun 1970. Dan sejak itulah orang pada mengasosiasikan kata ini menjadi suasana, suasana bening…

Kita bisa aja berargumen kalau orang-orang yang memakai kata nuansa dengan arti suasana tadilah yang salah. Konyol. Nggak mutu. Namun, masa iya pemakai mayoritas bisa dicap salah dan bodoh semua.

Apa nggak lebih cocok kalau disepakati kalau ada “arti baru” atau “pergeseran makna” di kata nuansa tersebut, laiknya kata maskapai yang tadinya berarti perusahaan (sembarang) sekarang menyempit artinya menjadi perusahaan penerbangan. Jadi si KBBI yang harus direvisi tuh… Bukannya kamus itu tugasnya adalah merekam arti kosa kata sesuai yang dipakai oleh masyarakat? (Alinea ini memandang bahwa kamus itu deskriptif)

Namun saya juga agak sayang kalau kata nuance yang di bahasa Inggris itu tidak lagi memiliki padanan di bahasa Indonesia. Kalau kita tidak lagi memiliki kata untuk menggambarkan sebuah perbedaan yang halus dari suatu makna, kualitas, musik, warna, dll. Separuh diri saya masih percaya bahwa arti kata yang terekam di kamus itu adalah standar emas yang harus dijaga. (Alinea ini memandang bahwa kamus itu perskriptif)

Intinya saya galau. Untuk tujuan artikel ini, saya akan memakai arti nuansa yang tercantum dalam dua kamus terkutip di atas.


Suatu hari, ada yang mengklaim bahwa kita harus memahami bahwa bahasa Indonesia itu sering dirasa-rasakan melebihi makna leksikal kata itu sendiri. Misalnya tentang pemakaian istilah tabrakan, tubrukan, atau tumbukan. Itu artinya sama tapi beda di rasanya… Bernuansa.

Misalnya lagi kata seluruh dan semua. Artinya beda tapi sama, dan susah nentuin dimana bedanya. Kalau kata saya, kata seluruh itu dilihat dari atas sebagai satu kesatuan. Jadi sifatnya tunggal. Semua itu dilihat dari bawah, harus ada komponen-komponennya. Jadi kata semua bersifat jamak.

Jam itu jangka waktu, tetapi bisa juga menjadi saat tertentu. Pukul itu hanya bisa dipalai untuk saat tertentu.

Pencinta itu adalah orang yang mencinta. Pecinta itu adalah orang yang bercinta.

Meninggal. Mati. Mampus. Wafat. Gugur. Kayaknya ini pembaca bisa membedakan nuansa di dalamnya.

Membahas nuansa makna dari kata-kata itu sangat menarik. Di blog ini banyak banget bahasan seperti ini. Misalnya huruf × alfabet, makna × arti × definisi, hantar × antar, jubah, tabrakan × benturan, dan lain-lain. Di masa depan, tentu artikel seperti ini bakal bertambah.

Dengan demikian, saya sadar penuh dan setuju dengan pendapat di atas. Namun, saya tidak setuju bahwa itu hanya terjadi atau bahkan hanya umum terjadi di Bahasa Indonesia. No. Not even close…

Nuansa terjadi di bahasa manapun. Bukan karena orang indonesia itu suka merasa-rasa. Tapi karena orang itu suka merasa-merasa.

Misalnya nih bahasa Inggris. Really sama truly. Kalau really itu punya nuansa “yang sangat” kalau truly itu punya nuansa “sebenarnya”. Jadi kalau kita bilang a really crazy person, kita mengklaim bahwa dia itu sangat gila, gilanya nggak ketulungan. Kalau kita bilang a truly crazy person, kita mengklain bahwa dia itu gila beneran, nggak main-main atau bohongan. Harfiah. Mutlak. Gila segila-gilanya.

Illusion dan DelusionIllusion itu sesuatu yang tidak nyata, digunakan untuk memberikan kesan yang salah terhadap realita. Delusion itu kepercayaan, persepsi, bayangan pikiran, atau pendapat yang salah atau dibuat-buat alias bertentangan dengan fakta. Fatamorgana itu ilusi. Indonesia menang world cup itu delusi.

Postpone × delay × defer. Postpone itu sengaja menunda sesuatu yang sudah dijadwalkan, umumnya ke jadwal yang lain. Delay itu ada kesan tidak sengaja tertunda, di luar dugaan, dan belum tentu ada jadwal penggantinya. Meskipun bisa jadi umbrella term juga, dipakai umum untuk segala penundaan. Defer itu menunda sesuatu tapi belum tentu jadwalnya sudah ditentukan sebelumnya (sebelum dia ditunda).

Bahasa Jepang lebih banyak lagi. Rajanya nuansa keknya. Di JLPT seksi vocabulary justru mengetes pemahaman nuansa dibanding cuma makna kata. Saya sampai stress dan nggak lulus-lulus karenanya. Saya berikan contoh yang gampang aja disini.

Analisis: 分析 bunseki × 解析 kaiseki. Kalau bunseki itu analisis yang lebih menyeluruh, umum, atau ringkas. Kalau kaiseki itu lebih mendalam, metodik, bersifat numerik, dan butuh data yang spesifik.

Malam: 夜 yoru × 晩 ban. Kalau yoru itu lawannya 昼 hiru alias siang, kalau ban itu lawannya 朝 asa alias pagi. Tengah malam itu pakai 夜 yoru = 真夜中 mayonaka.

Marah: 怒る okoru, 叱る shikaru. Kata okoru itu marahnya karena ketidakpuasan subjek yang memarahi. Kata shikaru itu karena kesalahan yang harusnya umum diketahui kalau itu salah. Situasi “guru memarahi siswa karena tidak mengerjakan PR” itu memakai shikaru. Situasi “cewek marah sama cowoknya karena lupa ulang tahun” itu memakai okoru.

Hai aja bisa berarti macam-macam bergantung pada nuansa suaranya.

Kalau didaftar semua bisa-bisa melebihi kamus artikel ini. Sementara contohnya segini dulu. Sisanya simpanan artikel buat lain kali.


Karena ada nuansa ini jugalah kata dalam bahasa asing biasanya tidak bisa dicari padanan utuhnya di bahasa lain. Saya sempat membahas di 11 Kata Indonesia yang Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya. Ada yang komentar: bisa aja ah tuh gan dicari padanannya. Tinggal dibuat konteksnya, katanya.

Namun, mencari exact meaning termasuk nuansanya untuk beberapa kata itu mustahil lho. Misal mabuk dan drunk. Arti keduanya sama… Sayangnya konsepnya berbeda sehingga mereka bernuansa makna.

Mabuk itu konsepnya lebih ke pusing kepala yang sangat dan tiba-tiba karena objek luar sampai susah mikir. Kagak ada asosiasi sama alkohol. Makanya ada istilah mabuk yang bukan dari alkohol, misal dari kendaraan, laut, atau cinta. Konsep ini nggak ada di bahasa Inggris. Padanannya, drunk itu ya kejadian hilang syaraf karena minuman. Tok. Nggak ada istilah car-drunk, sea-drunk, atau love-drunk.

Harus hati-hati kalau nerjemahin sesuatu nih, khususnya novel.


Saya juga ingin membahas tentang keyakinan saya bahwa kalau menulis sesuatu, apalagi pendapat, itu harus memiliki nuansa. Nuanced article. Nuanced opinion. Sedemikian sehingga berbeda dari yang lain, walaupun bahasannya sama. Dengan demikian, ada sesuatu yang baru yang ditawarkan ke pembaca.

Misalnya saja artikel ini sama persis dengan artikel  Nuansa Makna (Samsudin Berlian, Kompas) tadi dan juga Blog Kutu Kamus berikut. Namun, saya setuju bahwa kata nuansa itu dipakai secara salah di masyarat luas, tetapi berbeda di titik argumen bahwa pemakai salah kaprah nuansa = suasana itu semuanya heresy, melainkan saya memandang kalau kamuslah yang harus dimutakhirkan. Saya juga memberikan contoh nuance dari bahasa lain dan antar bahasa.

Well, mungkin bisa juga didebatkan kalau semua hal itu, mau artikel, musik, karangan, masakan, makalah memiliki nuansa. Asal nggak plagiat plek 100% persis-sis kali yak.

Namun, ada juga argumen yang menentang nuance, khususnya di bidang akademik. Makalah berjudul Fuck Nuance (Kieran Healy, American Sociological Association 2017) berikut merupakaan bacaan yang bagus.

Yup, mungkin buat tema artikel lain kali.

Collision

Beberapa waktu silam saat saya membahas Jubah, salah satu leluhur tetua daisenpai (bahasa Indonesianya pa ya?) saya berkomentar bahwa agensi pendidikan di Indonesia memaksa semua riset pakai bahasa Indonesia murni. Dan beliau bingung, riset beliau tentang collision analysis ini di Indonesianya apa? Apa ya tubrukan, tabrakan, tumbukan, atau benturan.

Spontan saya waktu itu menanyakan balik ‘bukannya “analisa benturan” ya?” ke beliau. Namun setelah dipikir, saya bingung juga. Bisa jadi tabrakan.

Di artikel ini saya mencoba membahas dua konsep dalam informatika yang dalam bahasa Inggris memakai kata “Collision”. Walaupun dalam bahasa inggris istilahnya sama, dalam bahasa Indonesia istilah ini harus diterjemahkan menjadi dua kata berbeda.

Collision Detection

Istilah ini sering dipakai di dunia game, atau lebih tepatnya di dunia grafis. Secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut.

Dalam dunia nyata, objek bergerak yang bergerak bisa berinteraksi satu sama lain ketika bersentuhan. Aksi = reaksi. Namun, dalam grafis game hal tersebut tentu saja harus diprogram.

Misalnya contoh gambar di bawah, ada kaki mau menendang bola. Si program harus bisa mementukan, dititik mana si bola bakal balik arah. Kotak jingga di bawah adalah garis terluar dari sprite ehm… dari gambar si objek. Garis si kaki resolusinya bagus tetapi si bola resolusinya rendah. Algoritma collision detection yang jelek bakal memberikan sinyal ON saat si kedua kotak jingga berbenturan. Yang bagus bakal ON ketika si area hitam yang berbenturan.

Yup. Istilah yang ini, kalau di Indonesia seharusnya Deteksi Benturan. Mudah dipahami nuance-nya disini, soalnya saat kedua benda bersentuhan sedikit alias berbenturan, collision detection pun menyala.

Collision

Deteksi benturan dalam grafis

Hash Collision Probability

Kalau istilah yang ini dipakau di bidang keamanan informasi. Hash disini bukan tagar lho yak… Mungkin bisa dipahami sebagai ringkasan dari suatu informasi untuk memastikan keaslian dari informasi tersebut.

Misalnya nih, SMS itu kan isinya teks dan bisa direpresentasikan sebagai nol dan satu. Gimana cara kita tahu dengan singkat bahwa SMS ini masih asli? Kan kita meragukan teksnya tuh, utuh nggak… Yang paling gampang adalah jumlahin semua hurufnya dengan kesepakatan a=1, b=2, dst.

Jadi, pesan berikut ini memiliki hash 89.

jangan dibaca gan

Nah, algoritma hash sederhana di atas punya kelemahan yang cukup besar. Misalnya pesan di bawah ini memiliki hash yang sama persis, 89.

boleeh dibaca gan

Hal ini tentu saja sangat jelek ketika hash tersebut dipakai buat sekuriti. Soalnya gampang banget nyari cara buat mengubah pesan yang menghasilkan ringkasan yang sama. Yang menabrak hash pesan asli.

Yap, Hash Collision Probability ini menghitung peluang tabrakan dari ringkasan yang dihasilkan algoritma tersebut.

hash collision

Tabrakan hash: ketika dua input jatuh ke satu output yang sama atau mirip

Yup lagi, disini dipakainya tabrakan, karena kata tabrakan lebih ada nuance yang lebih besar dibanding benturan atau tumbukan.

Bukan dari sisi tingkat kepentingan istilahnya lho. Tapi dari luas penampang dua benda yang bersentuhan tadi. Kalau dalam Collision Detection, si dua benda cuma overlap sedikit sudah dianggap iya. Kalau disini, si dua hash harus memiliki overlap yang tinggi baru dianggap collision.

Alih Bahasa Istilah Teknis? Yang Bagus?

Jadi gimana membedakannya? Terus collision analysis di bidang fisika terapan tadi itu apa?

Ya nggak ada metode khusus untuk semua kata kayaknya gan. Harus dilihat dulu daftar pilihan kata dan nuance-nya.

Yang paling gampang ya melihat bagaimana konsensus telah mengalihbahasakan kata itu sebelumnya. Di makalah Indonesia diterjemahkannya bagaimana gitu, biar seragam.

Yang saya paling salut adalah di bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi -setidaknya yang sama pelajari di SMA- istilah teknis bahasa Indonesianya sudah matang. Besaran. Gaya. Daya. Usaha. Kelembaman. Medan. Arus. Tegangan. Hambatan, Kumparan. Zat. Senyawa. Zarah. Ikatan. Galat. Gulma. Tungkai.

Saya sampe nggak tahu awal-awal bahasa Inggrisnya apa.

Kemudian yang akhir-akhir ini saya tahu. Aras. Deran. Buai. Malar. Tunak. Simpal. Catu. Ilian. Yang bahasa Indonesianya pun nggak ngerti, wkwk….

Oh ya, Pusat Bahasa mengeluarkan pedoman umum pembentukan istilah lho. Bagus buat bahan bacaan sebelum tidur tuh kayaknya.

Blog sebelah juga membahas ttg ide dia untuk membentuk kata-kata baru. Saya juga sangat tertarik tentang kata-kata bahasa Indonesia ini, if don’t notice it yet. Penasaran, kamu tahu istilah bidang tertentu berbahasa Indonesia yang jarang diketahui umum?


Atribusi

Gambar mobil tabrakan adalah buatan Adriana Danaila dan dipublikasi di The Noun Project dengan sedikit modifikasi.

60 Sapi Apa Yang…

Entah kenapa, joke tebak-tebakan tentang sapi ini yang paling banyak ditemui dan gampang dibikin. Kok bisa ya?

Berikut saya mendaftar beberapa yang berhasil saya temukan / pikirkan. Mulai dari yang paling mainstream. Untuk jawaban silakan di-higlight kata setelah pertanyaan.

1. Sapi apa yang jalannya merayap? ::Sapidermen::

2. Sapi apa yang bisa terbakar? ::Sapiritus::

3. Sapi apa yang bisa nulis? ::Sapidol::

4. Sapi apa yang jadi kekasih gelap? ::Oh Sapia…::

5. Sapi apa yang jalannya cepat? ::Saprint::

6. Sapi apa yang jalannya lebih cepat? ::Sapida Balap::

7. Sapi apa yang jalannya lebih cepat tapi nggak capek? ::Sapida Motor::

8. Sapi apa yang supercepat? ::Sapid Boat::

9. Sapi apa yang pelit? ::Sapiring Berdua::

10. Sapi apa yang romantis? ::Sapiring Berdua Sama Kamu::

11. Sapi apa yang warna-warni? ::Sapidol warna::

12. Sapi apa yang ada di semua mobil? ::Sapion::

13. Sapi apa yang menular? ::Sapilis::

14. Sapi apa yang bau pesing? ::Sapitank::

15. Sapi apa yang bau tahi? ::Kotoran sapi::

16. Sapi apa yang bisa untuk bersih-bersih? ::Sapi lidi::

17. Sapi apa yang bisa nyanyi? ::Sapiul Jamil::

18. Sapi apa yang bisa telepati? ::Sapikiran::

19. Sapi apa yang bisa membaca sapi lain? ::Sapikolog::

21. Sapi apa yang bunyinya indah? ::Kecapi::

22. Sapi apa yang kerjaannya ngurusi sapi gila? ::Sapikiater::

23. Sapi apa yang beranak tiga? ::Sapi betina::

24. Sapi betina apa yang jago acting? ::Sapia Latjuba::

25. Sapi apa yang bisa nangis? ::Bella Sapira::

26. Sapi apa yang alim? ::Imam Sapi-i::

27. Sapi apa yang alim dan cantik? ::Nur Sapiyah anaknya pak ustadz::

28. Sapi apa yang pintar? ::Homo Sapiens::

29. Sapi apa yang apes? ::Sapintar-pintarnya tupai melompat akhirnya jatuh juga::

30. Sapi apa yang bisa buat internetan? ::Telkom Sapidi…::

31. Sapi apa yang berbahaya kalau diinjak? ::Sapi Ranjau::

32. Sapi apa yang paling menggemaskan? ::Boneka Sapi::

33. Sapi apa yang enak dimakan? ::Sapiring Nasi Uduk::

34. Sapi apa yang bulat tengahnya kuning? ::Telur Mata Sapi::

35. Sapi apa yang harganya murah? ::Sapi glonggongan::

36. Sapi apa yang sering ditemukan di pinggir jalan? ::Pedagang Sapi Lima::

37. Sapi apa yang bisa diminum susunya? ::Sapi perah::

38. Sapi apa yang galau? ::Pria-pria Kesapian::

39. Sapi apa yang membuat galau? ::Cinta bertepuk sapilah tangan::

40. Sapi apa yang nggak suka lebaran haji? ::Sapi potong::

41. Sapi apa yang nggak punya duit? ::Sapir miskin::

42. Sapi apa yang sebaiknya dilakukan setelah dua tahun? ::Menyapih anak::

43. Sapi apa yang membuat damai? ::Guru sapiritual::

44. Sapi apa yang punya banyak ide? ::Insapirasi::

45. Sapi apa yang bisa membuat kulit luka? ::Sapirhan kaca::

46. Sapi apa yang sakitnya itu di dalam dada? ::Sapirhan hati::

47. Sapi apa yang jadi idaman banyak orang tua? ::Pegawai Negeri Sapil::

48. Sapi apa yang wajib dilakukan saat kemah? ::Sapi unggun::

49. Sapi apa yang suaranya keras? ::Sapiker::

50. Sapi apa yang bisa membuat film? ::Steven Sapilberg::

52. Sapi apa yang banyak ditemukan di film? Sapisial Effect::

53. Sapi apa yang bisa membuat bangunan? ::Sapil engineering::

54. Sapi apa yang muter-muter? ::Fidget sapinner::

55. Sapi apa yang kejang-kejang? ::Sapilepsi::

56. Sapi apa yang sering jadi korban pemerasan? ::Sapi perah::

57. Sapi apa yang kuliah? ::Sapitas Academia::

58. Sapi apa yang asli nusantara? ::Sapi bali::

59. Sapi apa yang bermuka dua? ::Sapi kembar siam di Kentucky ini ::

60. Sapi apa yang bisa menghentikan daftar sapi ini? ::Cukup sapihan dan terima kasih.

Fyuh… Banyaknya…


Bonus.

sapiosexual (comparative more sapiosexual, superlative most sapiosexual)

  1. Sexually attracted to intelligence or the human mind

Attribusi.

Gambar sapi paling atas buatan Chrystina Angeline dari The Noun Project.

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya.

Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut:

English Formal Informal Informal Possesive
I Saya Aku -ku
You Anda Kamu -mu
He/She/It Beliau Dia -nya
We (inclusive) Kita Kita Kita
We (exclusive) Kami Kami Kami
You (Plural) Kalian Kalian Kalian
They Mereka Mereka Mereka

Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral.

Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya…

Jika saya disuruh merevisi tabel di atas, kira-kira hasilnya seperti berikut. Kolom terkanan saya biarkan apa adanya soalnya lagi nggak kepikiran. Kalau ada ide silakan bagi tau…

English H Form L Form Informal Possesive
I Saya, Aku Gue, Gua, Aing, Beta,
Nyong, Diriku, Eike,
Ana, Ane,
-ku
You Anda, Kamu Engkau, Kau, Dikau, Kow,
Loe, Lu, Maneh,
Sampeyan, Situ,
Antum, Ente,
-mu
He/She/It Beliau, Dia Anak itu, Orang itu, -nya
We (inclusive) Kita Kita orang, Torang, Kita
We (exclusive) Kami Kami orang, Kita, Kami
You (Plural) Kalian Kamu orang, Lorang, Lupada Kalian
They Mereka Dia orang, Mereka

Ah itu kan bahasa daerah. Ah itu kan bahasa gaul. Mungkin itu yang ada di benak kalian.

Jawabannya sederhana. Jadi bukan bahasa Indonesia ya? Kalau begitu, kita kalau ngobrol itu gak pake bahasa Indonesia dong. Dan native speaker bahasa Indonesia jadinya NOL dong.

Hal ini juga di bahas oleh Sneddon di makalahnya “Diglossia in Indonesian”. Pemerintah mempromosikan bahasa Indonesia yang baru sebagai “bahasa yang baik dan benar”, sedemikian sehingga bahasa yang diucapkan sehari-hari itu dikucilkan. Tidak dianggap. Seolah-olah bahasa gaul itu bukan bahasa Indonesia.

Namun kalau kita mengadopsi teori diglosianya Fergusson, semua bisa dianggap bahasa Indonesia! Cuma ya ragamnya aja (bukan dialek) yang berbeda…

Dan jika kita sudah sepakat bahasa gaul dan ucapan sehari-hari itu tidak-lain dan tidak-bukan jugalah bahasa Indonesia, kita bisa masuk ke kesimpulan. Bahasa Indonesia itu kaya!

Tidak hanya kosakata dari bahasa ibunya – Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia pun disokong kosakata yang diserap dari bahasa daerah. Dan dipakai oleh orang-orang daerah tersebut untuk berbicara ke orang daerah lain. Beberapa kata sifatnya sudah jadi nasional, kayak gue loe yang dari daerah Jakarta. Beberapa masih regional. Namun itu tidak membatasi kayanya kita akan ragam pronoun.

Tidak hanya itu juga, kita biasa mengganti kata “kamu” dengan euphemisme seperti saudara, bapak, ibu, mas, mbak, adek, abang, dan lain-lain. Makin banyak pilihan kan tuh!

Setidaknya kalau mau nulis novel nih, kita bisa mengasosiasikan karakter dengan penggunaan kata ganti orangnya. Misal satu tokoh ngomongnya selalu Anda/Sodara dan Saya kayak pengacara gitu. Tokoh lain Aku dan Engkau. Tokoh yang sono ngomongnya eike dan ente. Eh pas berhadapan dengan orang tertentu atau saat diskusi dengan topik tertentu, si tokoh sono tadi balik ke Kamu dan Saya. Nah lho – nah lho, ada apa itu? #subtle

Jauh lebih seru bukan dibanding semua karakter memakai You and I.

Saya juga tergantung orangnya beda-beda memakai pronoun. Ada orang yg saya selalu memakai aku. Ke keluarga selalu manakai nama. Ke teman depat maneh-aing. Sisanya baru saya. Bukan cuma aing kan yang gini?

Oh ya, di Jepang juga ada cukup banyak varian pronoun.
Saya: 私 watashi、私 watakushi, 我 ware, わし washi, 自分 jibun, うち uchi, 僕 boku、俺 ore.
Kamu: あなた anata、あんた anta, 君 kimi、おまえ omae, てめえ temee、貴様 kisama.
Dia: 彼 kare、彼女 kanojyou、やつ yatsu、そいつ soitsu、あいつ aitsu.

Lengkapnya bisa dilihat di wikipedia Japanese Pronoun berikut.

Btw, kata ganti orang ketiga tunggal “dia” itu netral yak di Indonesia maupun Jepang. Kurang ada variasinya.

Yang saya paling suka itu  てめえ temee dan 貴様 kisama. Secara harfiah sih arti aslinya “kamu”, tapi punya konotasi merendahkan serendah-rendahnya, dan bisa dijadikan umpatan juga. Di bahasa Indonesia ada nggak ya?

 


Referensi.

Ferguson, CA. 1959 ‘Diglossia’, Word 15:325-40. [Reprinted in 1972 in Pier Paolo Giglioli (ed.), Language and social context; Selected readings, pp. 232-51. Harmondsworth: Penguin.]

Sneddon, J. (2003). Diglossia in Indonesian. Journal of the humanities and social sciences of Southeast Asia and Oceania, 159(4), 519-549.

Diglosia dan Dialog dalam Tulisan

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung sedikit bahwa Bahasa Indonesia dengan mengalami Diglosia dan menyebabkan obrolan dalam tulisan menjadi aneh. Tema untuk lain kali kata saya waktu itu, inilah lain kali tersebut.

Pertama-tama, apa itu Diglossia? Saya tidak akan membahas mendalam disini. Semoga dua paragraf ringkas berikut cukup untuk menjelaskan.

Intinya, Diglosia adalah kondisi dimana sebuah bahasa memiliki dua ragam yang dipakai secara bersamaan. Umumnya dinamakan dua prestige yang berbeda. Yang satu prestis tinggi, disingkat H. Yang lain prestis rendah, disebut L. Di Bahasa Indonesia bisa dibilang bahasa baku vs bahasa sehari-hari. Saya tidak ingin menyakiti hatimu vs Gue nggak pengen nyakitin hati loe.

Bahasa Indonesia masuk ke definisi cetusan Fergusson [1959]. (1) Dua ragam H dan L bahasa Indonesia memiliki fungsi yang berbeda, ragam H untuk yang resmi seperti pendidikan, berita, dan pemerintahan sementara L untuk percakapan kasual seperti ke teman, keluarga, dan masyarakat. (2) Ragam H, dianggap superior, distandarkan, dan diangkat tinggi oleh yang berwenang sementara L dengan cap Bahasa Yang Baik dan Benar, sementara L dianggap bahasa pasar dan haram diajarkan di sekolah. (3) H dipakai di dalam literatur dan syair sementara L hanya untuk percakapan informal.  (Sneddon, 2003).

Sebenarnya, Mas Sneddon membahas lengkap tuh ttg bedanya H dan L-nya Bahasa Indonesia. Ada lebih dari 10 item. Bagi yang tertarik, silakan cari paper PDF-nya di perpus terdekar Anda. It is a good read!

Yang saya ingin curhatkan di artikel ini lebih menekan ke poin ketiga di atas. Ragam L kita itu tidak dipakai untuk literatur!

Hal ini membuat saya kesal kalau membaca dialog (atau menulis dialog!) di novel-novel. Soalnya, penggunaan kata di dialognya tidak realistis. Nggak bakal ada orang Indonesia yang ngomong kayak gitu di dunia nyata.

Misalnya saja kutipan dari novel Ketika Cinta Bertasbih, oleh Habiburrahman el Shirazy berikut.

Bayangkan dialog di atas dimainkan plek leterlek. Apa nggak awkward parah tuh?

Yang lebih natural (di dunia nyata), mungkin kira-kira begini kali ya… Bisa setuju bisa nggak sih.

“Kak Tiara nangis? Maafin saya kak, kalo ada katakata saya nggak berkenan.”

Nggak papa Dik. Kakak cuma ngerasa berat ngadepin masalah ini. Kakak pengen cepetan jelas, pengen cepetan konsen ujian. Akhir-akhir ini Kakak susah tidur. Tapi kamu bener, dua hari lagi, nggak lama. Atau kakak ambil keputusan aja tanpa nunggu saran kakakmu. Suatu saat nanti, kamu bakal tahu kenapa kakak nangis.”

Cetak miring menandakan yang berbeda dari tulisan asli. Susunan kata dan kalimat sengaja dibuat sama dengan aslinya untuk mempertahankan alur pikir dan mungkin karakter tokoh. Namun, kalau dibuat bebas mungkin bisa lebih natural lagi.

Ngerti kan, titik frustasi saya dimana?

Masalahnya kalau dialog natural bayangan saya di atas tadi yang tertulis di novel, yang ngamuk mungkin lebih banyak lagi. Editor satu hal. Pembaca mungkin yang lain. Novel jadi tampak, well, unrefined atau unintellect. Tuh, bermain H vs L-nya Ferguson.

Jadi sepertinya dialog di novel-novel Indonesia itu bukan dialog yang diutarakan karakternya benar-benar kata per kata, melainkan hanya standar garis besar yang bisa saja pilihan katanya berbeda saat kalimat itu diucapkan memakai mulut. Hm… Hm… Hm…

Kalau gitu caranya, susah bedain satu dan lain karakter di novel. Karakter 1 dan karakter 2 di dunia nyata pasti punya gaya ngomong yang beda, pemilihan kata yang beda, dan struktur kalimat yang beda. That’s real world.

Kalau pakai cara sekarang, dialog patuh dengan aturan me-kan, di-kan, ber-kan dan semuanya, semua karakter persis dengan pembawa berita ngomong deh jadinya…!! Atau politisi yak? Robot? Atau syahdan melayu?

Contoh lain adalah ketika Muslim’ Show menerjemahkan komiknya ke Bahasa Indonesia. Mereka memberikan dua alternatif seperti berikut. Gambar 1 adalah alternatif H, memakai bahasa (cenderung) baku yang suka dipakai di literatur. Gambar 2 adalah alternatif L, walaupun lebih condong ke orang Jakarte.

Ragam H, Bahasa Baku Bahasa Indonesia

Ragam L, Bahasa Sehari-hari (Daerah Jakarta)

Sumber Gambar: Facebook Page The Muslim Show Indonesia, Agustus 2014

Saya sangat menyayangkan Gambar 1 yang menang polling. Saya ingin memperjuangkan naturalisasi percakapan sehari-hari ke literatur. Tapi emang itu Gambar 2 nya kebanyakan kata Gw dan spamming Bro. Jadi agak geli juga dengernya…

Namun, kalau terjemahan mungkin memang lebih baik di Gambar 1 (ragam H) si kali ya. Biar lebih netral. Juga kadang susah menangkap nuansa satu bahasa ke bahasa lain, jadi yang paling aman ya yang paling netral. Agak serem juga bayangin baca komik Conan dengan ragam L.

Pengen nulis dialog yang lebih alami! Yang sebenar-benarnya karakter ucapkan kalau di dunia nyata. Tapi gimana ya… Hmf…

Referensi.

Ferguson, CA. 1959 ‘Diglossia’, Word 15:325-40. [Reprinted in 1972 in Pier Paolo Giglioli (ed.), Language and social context; Selected readings, pp. 232-51. Harmondsworth: Penguin.]

Sneddon, J. (2003). Diglossia in Indonesian. Journal of the humanities and social sciences of Southeast Asia and Oceania, 159(4), 519-549.

Al-al, Bed-bed, Der-der

Bahasa Indonesia punya satu fitur yang unik tentang nama. Di bahasa kita, nama bisa disingkat menjadi hanya satu dua suku kata. Dan ini dilakukan dengan spontan, hampir ke seluruh nama-nama apapun, dan tanpa harus minta izin dulu ke yang punya nama.

Misalnya nih, ada orang namanya Yulianto.  Sangat-sangat lazim di orang kita memanggil dia dengan kata “Yul”.

Eh Yul-yul, Pak Is ada PR nggak?

Hal ini sepertinya juga tidak peduli dengan gelar sebutan Pak Bu Mas Mbak. Memanggil langsung ke orangnya atau ke orang ketiga. Misal di percakapan di atas, Pak Ismadi menjadi Pak Is.

Namun, jelas yang paling kerasa adalah kalau memanggil ke orangnya langsung.

Anton Ton. Udah makan belum?
Fitriana Kemana aja nggak pernah kedengeran Na?
Heni Hen, paper udah disubmit belum.
Butet Tet, disana tadi saya liat Robert lho.
Fikri Fik, kapan maneh beranak lagi?
Heru/Heri/Hero Her-her, boleh pinjam Go Pro nggak?
Dwi Wi, akhir pekan main ke monas yuk…

Yang namanya udah singkat satu kali napas aja masih bisa disingkat tuh, di contoh terakhir.

Nama-nama di atas cenderung nama Indonesia sih, tapi sepertinya hal ini juga tidak terbatas nuansa asal nama deh.

Robert Bert, ada episod gundam yang baru lho di TV One.
Mustafa Mus, gomen saya nggak pernah balas line. Sibuk nih.
Jasmine Jas! Jasmin! Sini geh… Ada yg mau gue omongin.
Fuji Ke restoran sushi yuk, Ji… Udah lama nggak kesana.
Einarsson Piye Son kabare?
Patricia Ca-ica. Gimana Tangkuban Perahu kemaren? Aman?
Abraham Bi-abi (atau Be-Abe). Ajarin main DLSR dong.

Sekarang coba bayangin orang barat nyingkat nama dengan gaya Indonesia tadi. Satu dua suku kata. Aneh jadinya.

Rebbeca, can I borrow your car for a little while, Reb?

Mit, Smith… Where are you last Sunday?

Memang ada juga nama barat yang “secara tradisi” memiliki nama singkat universal. Misalnya Bill dari William. Dick dari Richard.  Jess/Jessie dari Jessica. Wiktionary mendaftar nama-nama tersebut dan singkatannya di artikel “Appendix:English given names” ini.

Namun hal di atas bersifat diminutive. Artinya pet name, jadi sepertinya penggunannya terbatas untuk teman terdekat atau keluarga.

Misalnya lagi di Jepang, bayangkan orang Jepang ngomong…

り、ひかり。。。遊ぼう。。。
Ri, hikari… Asobou…
Ri, hikari… Main yuk.

Kayaknya nggak mungkin deh. Kalau di bahasa Indonesia masih kedengeran alami, kalau bahasa aslinya… Hm…

Nama singkat bukan berarti nggak ada di Jepang. Ada tapi dibuat-buat dulu. Misal Reina jadi Renchon. Takeru jadi Takki. Nggak tambah pendek -.-, tapi jadi lebih terasa akrab sih emang. Biasanya harus tanya dulu ke orangnya, boleh nggak dipanggil begitu… Kecuali well, dia emang osananajimi teman masa kecil jadi sejak jaman bejot emang manggilnya kayak gitu.

Di Indonesia, semua nama. Semua orang tahu cara memotongnya. Tanpa ada kamus yang menentukan. Tanpa harus izin ke orangnya. Dan tanpa melihat level atas-bawah.

Mungkin nih ya, mungkin karena di Indonesia hampir nggak ada yang punya Family Name. Semua orang pasti memanggil dengan first name. Universal, teman-dosen-anak buah. Manggil dengan satu nama. Jadi tidak awkward kalau nama itu dipotong pojok-pojoknya. Berbeda dengan Inggris dan Jepang,

Jika hipotesis di atas benar, bahasa lain yang tidak mengindahkan Family Name bakal punya fitur yang sama dengan Bahasa Indonesia ini. Saya cuma tahu Bahasa Inggris dan Jepang sih. Ada yang tahu Bahasa Lain?


Sekarang masuk ke judul artikel.

Nama saya Albadr. Nama ini cenderung susah untuk dipotong depan atau belakang. Potong depan, Al, bisa sih. Dan beberapa orang ada yang memanggil saya begitu, tapi bisa dihitung jari tangan (di Indonesia, di Jepang hampir semua).

Ada juga yang memanggil dengan der-der. Dari dua huruf terakhirnya Albadr. Ada juga yang bed-bed, dari korupsisasi kata Albad menjadi Albed (supaya gampang). Ada juga yang memanggil bader (tanpa disingkat lagi), cuma satu orang yg saya inget manggil gini nih.

Nah, jadi deh saya bisa dipanggil Al. Bed. atau Der.

Al-al, udah makan belum… Ini aku buatin sop.

Bed-bed, kirimin revisi bisnis plan yang baru ditulis kemaren dong.

Der-der, tumben rajin ngeblog?

Atau Bader bagi yang pengen.

Bader-bader… Mm… Eh, nggak jadi.

Duduk Dimana?

Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingin bertanya ke pembaca. Saya pensaran. Kalian pada duduk dimana nih?

Saya bisa ngecek di statistik web wordpress dari peta pengunjung sih. Namun, lebih seru kayaknya kalau interaktif artikel nanya, yg baca jawab di komen, kan…

Eh, ngerti nggak pertanyaannya? Jadi, duduk dimana?


Dari pertanyaan ini, saya menemukan satu contoh bahwa bahasa Indonesia itu tidak logis ataupun konsisten. Masih lebih bagus bahasa Malaysia…

Jadi, suatu hari sekian tahun silam… Saya melancong ke Bangi, Selangor. Sambil ikut konferensi, saya bertemu dengan sanak saudara yg tinggal di sana. Adalah peri kecil saya Batrisya bertanya dengan lucunya.

Abang abed duduk dimane?

Duduk? Kebetulan waktu itu lagi duduk di taman sih kayaknya. Terus saya jadi bingung… Ini… Lagi duduk… Disini… Di kursi taman ini…

Prosesor saya ngehang, saya pun menatap ke ibunya Batrisya, bibi saya. Help me…! 

Ternyata maksud pertanyaan si Ica tadi itu:

Abang tinggal dimana?

Huh. Bahasa Malaysia. Lucu…

Itu perasaan saya waktu itu, di tengah euforia juga kali pertama ke Malaysia dan melihat banyak papan pengumuman yg bikin ngakak di pesawat, bandara, kampus, dll. Mungkin mereka gitu juga kalau ke Indonesia kali ya.

Namun, tunggu dulu! Kalau dipikir, soal kasus duduk ini mereka lebih logis loh.

Tahu kartu apa yang dimiliki setiap orang Indonesia? KTP. Kartu Tanda Penduduk. Yup, penduduk. Artinya orang yang duduk di suatu tempat.

Kata turunan lain juga memiliki makna tentang lokasi / wilayah. Misal menduduki, pendudukan. Bukanlah artinya menaruh pantat di suatu benda (menduduki, ada juga sih arti kesana), atau peristiwa penaruhan pantat (pendudukan). Namun tentang penguasaan wilayah tempat duduk, tempat tinggal orang. Orang lain menetap dengan paksa di tempat duduk tadi.

Sekarang kita cek kata tinggal. Nggak mungkin kan kita menyebut KTP jadi Kartu Tanda Peninggal… Di KBBI juga ada 12 arti kata tinggal dan yang sesuai dengan kata tempat tinggal cuma ada di nomor 11. Itu pun harus ikuti dengan kata rumah- dan tempat- di depannya.

Peninggalan juga artinya agak beda dengan nuansa yang ada di kata “tempat tinggal”. Peninggalan itu yaaa artinya sesuatu yang ditinggalkan orang. Orangnya justru pergi, bukan menetap. Meninggal, well, subjeknya pergi ke dunia lain. Tertinggal, yang harusnya ikutan pergi eh tidak sengaja tidak ikut pergi. Meninggalkan, sengaja menaruh sesuatu di suatu tempat sebelum kita pergi. Tinggal kelas, tidak bisa lanjut ke kelas berikutnya. Semua ada konteks sesuatu yang pergi di kata tinggal ini.

Jadi tempat tinggal atau rumah tinggal hanyalah tempat atau rumah yang nggak kita bawa-bawa kalau kita pergi. Hmm…

Jadi bahasa Indonesia itu aneh dan inkonsisten kalau memakai “Tinggal dimana?” dalam pertanyaan. Tinggal? What the heck are you asking about… Saya ikut kok, nggak tinggal…

“Duduk dimana?” itu lebih logis. Saya duduk di Meguro, Tokyo, sepuluh menit dari Stasiun Oookayama.

Bahasa Malaysia: 1.
Bahasa Indonesia: 0.

Jubah

Saya merasa menulis dalam bahasa Indonesia itu lebih banyak tantangannya. Seperti yang saya bilang kemaren di artikel Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi. Lebih-lebih kalau mau menulis fiksi atau cerita.

Membuat dialognya susah, karena bahasa Indonesia sedang mengalami diglossia, punya dua variasi berbeda. Satu formal untuk tulisan. Satu informal, untuk ngobrol. Nah, ketika menulis obrolan alias dialog di teks, hasilnya aneh! Well, tema untuk lain kali.

Membuat deskripsi latar juga susah minta ampun. Bingung memilih kata-kata, atau bingung karena nggak ada kata yang cocok di Bahasa Indonesia itu sendiri. Nuance-nya itu… Karena mungkin saya kurang familiar dengan konsep-konsep fundamental di kepala orang Indonesia. Udah jarang baca literatur berbahasa Indonesia sih. Lebih sering nonton anime/film barat juga soalnya akhir-akhir (satu dekade belakang?) ini.

Case in point, saat saya ingin menulis deskripsi pakaian sebuah karakter. Dan ini berkutat di satu kata: mantel atau jubah atau apapun itu lah.

Gen_Bou_Kingdom

Gen Bou (Kingdom)
Sumber Gambar: wikia.com

Biar gampang saya kasih contoh gambar. Yang ada di kepala saya kira-kira seperti tokoh di samping ini. Saya ingin menarasikan lembar yang merah-merah itu. Atau kalau masih kurang jelas, kayak yang dipakai sama Altair, dari Assassins Creed (Sumber Gambar: screenrant.com).

Kayak gitu lah. Terus dijogress dengan pakaian yang biasa dipakai oleh biksu-biksu tibet.

Kebayang?

Kayaknya itu sejenis mantel deh.

Terus saya coba googling mantel di Google Images. Lho kok, hasilnya beda… Malah per•api•an yang keluar. Bahasa apa itu yak…

Ada lagi kata yang lain Indonesianya: jubah. Cuma kan banyak jenis jubah tuh. Harus didetailkan gimana bentuk jubahnya.

Eh, emang jubah itu yang kayak mana toh?

Karena bingung, saya pun coba bertanya ke KBBI. Di luar sangkaan, jawaban yang saya dapat seperti ini.

ju.bah

n baju panjang (sampai di bawah lutut), berlengan panjang, seperti yang dipakai oleh orang Arab, padri, atau hakim: perutusan dari Saudi Arabia itu semuanya mengenakan — putih

Terus, kalau saya coba cari di Google entah kenapa yang keluar cakep-cakep bikin ngiler kayak di bawah ini nih.

Hasil pencarian Google Image dengan kueri “Jubah”

Ngomong-ngomong, sejak kapan Google Image jadi kayak toko online begitu? Bisa pilih warna segala kalau nyari pakaian. Ngomong-ngomong lagi, itu yg kanan bawah kok kayaknya pencilan…

Yang kayak gitu itu bukannya gamis yak?

Baru kali ini ada asosiasi antara jubah dengan jilbab cewek di kepala saya. Baru tahu…


Kalau memakai bahasa Inggris kok kayak lebih mudah. Kayaknya doang sih, belum dicoba. Nggak tahu, mungkin karena kosa katanya lebih banyak kali ya…

Misalnya ada kata cape yang cuma terbang-terbang di bagian belakang badan doang. Paling pol ya menyelubungi sampai samping.

Ada lagi coat yang mirip jaket tapi lebih panjang dan dipakai di luar jaket. Kayaknya ini Indonesianya mantel. Terus bedanya sama yang inggris mantle Mantle itu dalam ruangan kalau coat luar ruangan.

Ada lagi cloak yang seperti cape tapi lebih kayak selimut dan punya kupluk. Nggak punya lobang buat tangan.

Dan lain sebagainya, seperti robe, tunic, poncho (bukan jas hujan), capote, etc.

Mungkin perbedaan di atas cuma sekadar pedantik. Namun, yang penting adalah banyak pilihan kata… Jadi lebih lancar, variatif, dan spesifik kalau mau membuat deskripsi teks.

Harus banyak ngarang kata-kata baru nih, pusat bahasa…


Setelah empat jam berjuang, berikut lah satu dua paragraf deskripsi karakter yang mau saya tulis tadi.

Rambut acak-acakan dan janggut panjang Raja Vinh sudah perak mengkilat, kontras dengan tiga pemimpin muda di hadapannya. Pakaiannya tebal berupa lapisan kain hijau dan kuning. Harmonis bak langit kuning di atas pematang. Meililit di badan dan menjuntai hingga tumit. Pinggangnya terikat dengan sehelai kain merah. Lebar menutupi separuh perut. Ikatannya tak tampak, disembunyikan di panggul. Kain berbentuk jubah tak berlengan berwarna sama terhampar dari bahu hingga ke betis. Menutupi seluruh punggung di belakang hingga tepi depan badan.

Beliau duduk di kursi tinggi berselimuti kain, berusaha menyamakan titik pandangan mata dengan lawannya. Kaki kirinya tergeletak di lutut kanan. Tangan kanannya memegang tongkat kayu yang sepertinya lebih panjang dari tubuhnya. Tangan kiri tergenggam di pinggang. Badan kurusnya tegap dengan sedikit condong ke depan. Ia menyengir lebar, memberi salam hormat kehormatan kepada forum perdamaian.

Entahlah, gimana jadinya tuh. Apa pembaca bisa membayangkan sesuai dengan di kepala saya atau tidak.

Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi

Beberapa tahun lalu, saya mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam tulisan. Baik dan benar disini dipandang dari sisi purist kemurnian. Jangan sampai tercampur dengan bahasa Inggris, takut-takur di masa depan jadi Indolish ntar. Kalau ada padanan kata Indonesianya, pakai! Kalau tidak ada, cari! Atau buat!

Misalnya beberapa tulisan berikut ini.

Di artikel pertama di atas bahkan saya memberi banyak contoh substitusi penyulihan dari beberapa kategori golongan kata.

Namun, sekarang setelah saya menjadi ekspat di Jepang, hal itu menjadi sangat sulit dilakukan. Super duper sulit hard chou-muzukashi parah.

Sering kali saat soudan konsultasi atau diskusi atau debat, semua bahasa campur baur. Parah. Ada sentence kalimat berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Jepang. Di pikiran juga begitu. Segala konsep di kepala lebur semua di satu wadah, susah dipisahkan lagi. Mendokusai Repot lah ngaturnya.

Hal ini juga bisa dilihat di tulisan-tulisan saya dua tahun belakangan.

Sekarang saya mengerti titik kritik saya dahulu kala. Kenapa sih pejabat-pejabat itu kalau pidato campur-campur indonesia-inggris? Satu dua kata pakai bahasa Inggris yg padahal ada bahasa Indonesianya, dan bahkan mungkin lebih bagus dan rapi.

Ternyata emang karena kebiasaan. Bukan karena biar sok keren nginggris, atau biar terkesan pinter… Karena kebiasaan. Vocab kosa kata yang bahasa Inggris lebih familiar akrab dipakai sehari-hari, terutama di lingkungan kuliah/kerja mereka dahulu. Jadi ketika balik ke Indonesia dan pidato berbahasa Indonesia, tetap saja shouganai (waduh, apa ini bahasa Indonesianya?).

Lihat aja artikel ini. Yang kata-kata biasa aja udah susah, apalagi kalau ngobrolin soal teknis.

Jadi apa point inti artikel ini?

Nggak ada. (^^) Hanya kalau ternyata manifesto pernyataan saya dulu berlawanan dengan aksi saya sekarang, terutama di blog ini ya saya mohon maaf saja.

Haimu, Haitsu, Apato, dan Mansion

Saya bingung dengan nama apato saya sekarang. Namanya, サウスハイム, yang kalau diromajikan, yup! Gimana coba? Disitu bingungnya….

Kalau per silabel Jepang sih jadinya SA-U-SU-HA-I-MU. Tiga bulan disini, misterius gimana romajinya. Masih belum kepikiran untuk nyari tahu.

Sering kalau nulis alamat saya memakai romaji. Soalnya malas kan nulis kanji, corat coretnya banyak. Tokyo. Meguro. Begitu sampai ke nama apato ini, jeng-jeng… Masa Sauce Hyme, Sausu Haimu, atau Saus Haim. Coba tebak gimana?

Karena bingung balik lagi deh saya ke katakana サウスハイム, selalu begitu.

Sampai tiga bulan kemudian, saya googling-googling. Pertama googling pakai frasa Inggris yg saya curigai, Sauce Hyme. No good. Keluarnya Sauce Rhyme, itupun nyampah isinya.

Sausheim

Terus saya coba pakai yang paling normal, Saus Haim. Muncul kandidat yang sangat bagus. Ada nama kota di utara Perancis, dekat Jerman. Namanya Sausheim.

Wah, kandidat yang bagus!

Tapi kok ragu kalau yg punya apato ngasih nama dengan kota ini, pernah kesana apa si nenek.

Googling lagi deh pakai katakana, biar lebih ketahuan. Banyak ternyata yang pakai nama tersebut. Ratusan. Dari puluhan laman google, cuma satu link yang memberi hint ttg tulisan romaji dari サウスハイム. Di link tertulis, south-haim.

Hm,,, “South”. That makes sense… Saya juga sudah menduga kalau ハイム itu rumah.

Cek dan ricek, itu ternyata bahasa Jerman. Heim, yang memang artinya rumah. Dan sangat sering dipakai untuk nama apartment di Jepang. Entah kenapa…

Jadi サウスハイム itu kalau ditulis di tulisan latin jadi “South Heim”, rumah selatan.

Ada satu kata lagi yang umum dipakai di nama rumah, ハイツ Haitsu. Kalau yang ini dari bahasa Inggris, Heights. -.-!

Jadi ceritanya, kalau Heights si rumah bakal lebih tinggi, katanya. Lantainya agak banyak. Namun, pada prakteknya kagak juga. Apato teman saya bernama OOハイツ tapi dua lantai juga. Jadi keknya gak bisa ambil patokan tipe kamar dari nama bangunan deh.

Yang juga umum adalah メゾン, kali ini diambil dari bahasa Perancis “maison“.

Apato

Ngomong-ngomong, bangunan tempat tinggal di Jepang itu umumnya ada dua tipe: Apato dan Mansion. Apa bedanya?

Kalau apato itu dari bahasa Inggris apartment. Kalau di bahasa aslinya sih artinya ya rumah susun lah ya… Bangunan yang kamar per kamarnya dijadikan tempat tinggal. Tinggi bangunan, bahan, dan kemewahan tidak termasuk dalam nuance kata apartment.

Kalau di Jepang apato itu hanya diperuntukkan untuk bangunan yang rendah. Low rise building… Maksimal dua lantai mungkin dan kemungkinan berbahan dasar kayu.

Mansion

Mansion juga berasal dari bahasa Inggris, yang artinya rumah besar atau mewah. Di Jepang, well, kamar sempit juga bisa disebut mansion. Pokoknya bangunannya asal tinggi aja… Biasanya si bangunan punya cor-coran, bukan berbatang kayu.

Apato biasanya lebih murah dan berkesan low profile dibanding mansion di Jepang.

Tahun lalu di Nagoya sih saya tinggal di mansion, tapi sekarang di Tokyo saya memilih low profile…  ^^v

*Bilang aja kamar di Tokyo mahal-mahal!

Telepon Umum

Saya kadang menemukan telepon umum di jalan, terawat dan masih berfungsi. Di depan kampus saya TUT ada. Di halaman gedung kantor sekarang juga ada dua.

Di dalam kayak gini bentuknya. Retro banget, tapi bersih dari debu. Dan yang penting fungsional, layarnya masih nyala-nyala. Mesin teleponnya menerima kartu telepon dan koin. Saya nggak pernah liat sih seumur-umur kartu telepon itu yang kayak mana. Udah punah kayaknya. Tapi ada lobang koin 10 dan 100 yen, boleh juga.

IMG_20170622_124614660

Saya coba iseng nyobain tadi. Masukin koin 10 yen, udah bisa manggil. Nomor yang tertampil di layar No Caller ID. Hmmm…. Sarana bagus buat ngerjain orang?

Berarti telepon umum itu nggak di-assign nomor telepon kah ya? Kirain ada lho nomor teleponnya. Di film-film kan sering tuh orang di telpon via telepon umum, disuruh pergi ke telepon umum mana gitu buat kontakan. Film mata-mata sih. Atau itu di barat doang yak?

Mencoba memanggil

Kalau menurut biro turisme nasional jepang, pakai telepon umum ini 10 yen bisa 57 detik. Lama juga ya… Murah kan berarti yak?

 

Kartu Poin

Awal-awal di Jepang, saya pergi ke mall ingin membeli terminal listrik. Karena saya masih cupu, saya ditemani oleh tutor saya. Kemana-mana sang tutor ini mengantarkan saya pakai mobilnya, sekaligus menjadi alih bahasa pribadi saya. Saat membayar, petugas kasir ngomong pakai bahasa Jepang cepat. Goco-goco-goco-goco…. Saya nggak ngerti….

Wichi-wizu-wataw-kaado arimasuka?

Si tutor kemudian mengambil alih. Ia pun memberikan semacam kartu miliknya dan menyerahkan ke kasir. Kasir memindai kartu tersebut dan memberikan kembali ke dia. Saya yang bingung, pulangnya berterima kasih ke dia. Entah kenapa saya merasa dia memberikan sesuatu dengan kartunya itu… Si tutor kemudian tertawa…

Haha… Kagak,,, Bukan-bukan, aing yang harusnya terima kasih…

Kira-kira begitu jawaban dia.

Fast-forward dua tahun kemudian, saya mengayomi gerombolan anak SMP yang studi tour ke Jepang. Mereka menginap di masjid, dan apato saya di depan masjid waktu itu. Jadi saya jadi terus ketemu dengan mereka. Saya juga dimintai tolong jadi pemberi fatwa halal saat mereka belanja di mini market. Karena mereka rame, 30-an orang kali, saya juga kewalahan. Untung mereka cukup pintar. Salah satu dari mereka bilang.

Udah bilang hai-hai aja… Kalau ditanyain credit card bilang aja nggak ada. Terus bayar cash

Saya jadi ingat kejadian waktu awal saya beli terminal dahulu. Masih nggak ngerti kaado (card/kartu) yang ditanyain mbak-mbak kasir itu apa sih.

Itulah kartu poin, bukan kartu kredit atau semacamnya. Kartu ini bisa dikatakan kartu memberi dari merchant atau toko tersebut. Kalau punya kartu, setiap pembelian kita bisa mendapat poin. Biasanya 100 yen dapat 1 poin, atau 1000 yen dapat 1 poin, bergantung pada kartunya. Mangkanya si tutor tadi ketawa lalu berterima kasih ke saya.

Jadi ini semacam insentif pelanggan untuk selalu belanja di toko tersebut. Poin menumpuk di kartu dan bisa dicek setiap saat di kasir. Biasanya 1 poin bernilai 1 yen (kalau ditukar balik). Cara menggunakannya adalah saat kita belanja, untuk mengurangi nilai belanjaan yang harus kita bayar.

Kartu poin yang paling sering saya pakai (dulu) adalah R Point Card dari Circle-K (dan Rakuten), soalnya si mini market ini ada di depan rumah (dan depan masjid).

Gaya pakai saya adalah sebagai berikut. Kalau belanjaan 1237, saya pakai poin 37 jadi biar nggak dapat kembalian receh koin satu atau sepuluh yen.

Hidup agak lama disini, kartu poin yang kita punya semakin menumpuk. Lihat saja kartu poin saya di gambar di atas.

Intinya: Ayo… Lampiaskan nafsu konsumerisasi Anda di kami! Nanti dapat hadiah lho, yang bisa dipake untuk belanja lagi… Di kami lagi!!!

Oh ya, nggak semua kartu poin gratis lho. Ada yang bayar pas pertama kali buat. Kartu poin buar JA harganya 300 yen… Saya nggak ngerti sih kenapa harus capek-capek bayar buat bikin kartu poin, kan intinya kartu ini buat menarik pelanggan buat belanja ke mereka kan? Kok ya disuruh bayar juga di awal (walaupun bayaran tadi juga ditransfer jadi poin sebagian)…

Sebenarnya, kalau nggak punya kartu poin di atas kita juga dapat poin lho. Namun karena tidak ada divais yang mengakumulasikannya, jadi poin nya ya terbuang percuma. Biasanya poin yang kita dapat ini tertulis di nota belanjaan seperti di bawah.

Saya sih tidak begitu memperhatikan, apakah ini semua berlaku untuk semua toko atau tidak. Mungkin cuma toko yang memiliki sistem poin saja. Dan toko yang bikin kartu poinnya nggak bayar.

Dugaan saya juga, nota belanjaan ini bisa dikumpulin dan dipakai seperti kartu poin di atas. Namun saya belum pernah mencobanya. Ada yang pernah?

Bukan cuma kartu point, kartu kredit juga ada point-nya. Kartu top-up untuk di kereta seperti Suica, Passmo, Manaca juga ada poinnya. Setiap penggunaan nanti dapat poin, dan nanti bisa ditukar lagi ke yen.

Saya pernah sampai dapat poin bernilai 2000 poin alias 2000 yen dari Manaca, dan saat poinnya di-“klaim” via mesin pengisi ulang di stasiun, si kartu langsung pindah ke mode poin. Selanjutnya biaya naik kereta otomatis diambil dari poin sampai si poin habis. Seru,,,…


Selain kartu yang menyimpan poin, terdapat juga kartu yang namanya stamp card. Bukan poin yang disimpan, tapi cap. Biasanya yang menyediakan kartu ini adalah restoran atau toko yang menjual makanan. Toko roti, es krim, mie ayam, gitu-gitu.

Namun, saya pernah juga dapat kartu semacam gitu dari toko baju.

Kalau kita makan disana pertama kali, kita dapat kartunya. Kesana kedua kali, kartunya dicap. Yang saya nggak ngerti jumlah cap per kunjungan, apakah itu per orang, per menu yang kita pesan, atau gimana. Setiap restoran, nggak, setiap mamang kasir, salah juga, setiap kejadian kayaknya punya perlakuan yang berbeda deh.

Sampai kalau kartunya penuh kita bisa dapat bonus tertentu. Misal satu roti Choco Ring gratis. Beberapa restoran juga memberi bonus kalaupun kartunya cuma penuh setengah. Dikasih bertahap, semacam milestone gitu.

Oh ya, sekarang zaman canggih. Kartu semacam di atas udah nggak mesti berbentuk fisik. Yamada Denki menyediakan point apps, aplikasi di hape yang memiliki barcode. Mamangnya tinggal memindai barcode di hape itu aja. Kita bisa juga main di apps dan dapat poin tambahan di luar belanja, misalnya baca iklan apa atau gimana gitu.

Sayangnya, apps ini lama-lama jadi nyepam email dan notifikasi di hape. Bikin jengkel…

Dan sayangnya lagi, belum ada apps yang menyatukan seluruh point-point semua toko di satu atap. Kalau ada seru kan tuh… Nggak harus bawa-bawa kartu poin banyak-banyak. Nggak harus instal apps poin banyak-banyak.

Lahan bisnis tuh kawan-kawan.

Btw, di Indonesia apa kabar ya? Ada kayak ginian nggak disana sekarang?