Pos-pos Terbaru

Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang

Saya ingin membahas tentang lebarnya pendapat komunitas muslim tentang halal dan haram makanan di Jepang. Tujuan artikel ini bukan untuk memberi petunjuk atau bahkan fatwa seperti: makanan halal itu yang seperti ini-ini dan haram itu-itu. Melainkan, lebih berfokus ke realitas di lapangan. Bahwa banyak perbedaan pendapat ttg batasan makanan yang boleh dikonsumsi muslim di Jepang.

Pembaca bisa menimbang antar pendapat satu dan pendapat yang lain di artikel ini kemudian mencari lebih lanjut dalil-dalil pendukungnya. Artikel ini juga tidak akan mengutip dalil atau kaidah halal haram dalam islam karena penulis tidak memiliki kapasitas disana. Sekali lagi, fokus artikel ini adalah lebarnya spektrum pendapat di lapangan.

Juga di luar scope artikel ini untuk memberi daftar produk/merek snack yang halal dan produk/merek yang haram. Jika Anda mencari hal tersebut, saya sarankan untuk membaca artikel dari KMI Sendai dan PPI Tokodai berikut. Atau situs yang sering menjadi acuan teman-teman, halaljepun. Untuk kaidah yang lebih ilmiah, silakan kunjungi ustadz terdekat.

Sekali lagi yang harus dicatat bahwa pendapat-pendapat disini bukanlah pendapat saya dan saya tidak meng-endorse-nya. Saya juga akan berusaha untuk bersikap netral dan menyembunyikan yang mana yang pendapat saya atau yang biasa saya/teman-teman lakukan agar tidak ada judgment kepada pemegang pendapat seberangnya. Juga yang mana pendapat yang “mainstream”, karena mainstream bagi lingkungan saya mungkin berbeda bagi lingkungan lain.

Artikel ini pada akhirnya bertujuan sebagai pengaya dan titik diskusi, bukan sebagai pendakwa atau titik acu.


Konsensus: Daging Babi dan Minuman Alkohol itu Haram

Dari lebarnya spektrum yang akan kita bahas, terdapat satu konsensus utama yakni daging babi dan minuman beralkohol itu haram. Dengan demikian, artikel ini dengan sengaja mengesampingkan pendapat orang yang katanya islam tetapi entah kenapa masih makan daging babi dan minum alkohol.

Penekanan yang ada di dalam konsensus ini adalah kata daging dan kata minuman. Daging dalam artian, babi masih berwujud otot atau gilingan. Minum dalam artian, alkohol masih berwujud cairan nyata yang dapat diminum. Makan daging babi yang masih tampak seperti daging dan minum alkohol yang masih dalam bentuk minuman tidak termasuk dalam bahasan artikel ini. Jelas HAROM.

Namun, turunan dari kedua zat ini, masih fair game. Karena penekanan dari dua benda tadi berbeda, bahasan keduanya dalam artikel ini bisa berbeda. Dengan penekanan di daging, turunan babi  yang berupa daging (e.g. bacon, ham) tidak akan masuk dalam bahasan ini. Dengan penekaan di minum, tidak akan ada bahasan tentang minuman beralkohol, tetapi akan ada bahasan ttg turunan alkohol yang bukan minuman disini.


Daging Biasa: Yang Dijual dan Dimakan Orang Jepang

Perbedaan pendapat dimulai dari daging supermarket biasa. Dengan kata lain daging sapi dan ayam yang dijual dan dimakan oleh orang Jepang.

niku-di-supa

Pendapat pertama mengatakan bahwa sama seperti di negara manapun (Indonesia misalnya), kita tidak bisa memastikan kalau si hewan yang udah jadi daging itu dipotong dengan cara islami atau tidak. Pendapat ini memegang prinsip “kalau tidak tahu, ya bole-bole aja…“. Di Indonesia pun, siapapun yang menjual, apakah dia orang Tionghoa, Batak, Sunda, atau Jawa, tidak pernah ada yang mempertanyakan atau menelusuri detail sejarah si daging, atau latar belakang sang penjual.

Pendapat lain mengatakan bahwa Jepang adalah negara non-muslim. Bahkan non-ahli kitab alias politeis. Dari fakta tersebut ditambah deduksi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar daging yang dijual bebas disini tidak dipotong dengan cara islami, alias tidak halal. Memang tidak semua, tetapi pemegang pendapat ini lebih berhati-hati dengan daging dan menjauhi semua makanan lokal yang mengandung daging. Persis seperti vegetarian.

Orang dengan pendapat pertama tidak akan ragu untuk masuk ke restoran Jepang dan memandang orang dengan pendapat kedua menganiaya/mendzalimi diri sendiritidak menikmati hidup, atau fanatik mungkin. Sebaliknya, orang dengan pendapat kedua tidak akan memakan bahkan madu kalau ada kanji daging di komposisinya dan memandang pendapat pertama sebagai ceroboh atau ignorant.

Efek dari kedua pendapat ini sangat besar. Sebagian besar diskusi atau kontroversi pendapat di artikel ini tidak akan berlaku bagi pemegang pendapat pertama. Sebaliknya orang dengan pendapat kedua akan memburu kanji 肉 pada setiap produk berkemasan dan mengeliminasinya.


Daging Australia

Saizeriya Aussie Menu

P.S. Menu Saizeriya yg paling atas ada bacon-nya, jadi tetep aja ga boleh dimakan

Perpanjangan dari topik sebelumnya, terdapat juga perbedaan pendapat antara daging ahli kitab daging yang diimpor dari negara ahli-kitab (baca: barat i.e. Benua Australia, Benua Eropa, Benua Amerika).

 

Saya belum pernah mengunjungi negara ahli-kitab (baca: negara dengan mayoritas penduduk beragama kristiani), jadi saya tidak tahu bagaimana komunitas muslim disana membedakan antara daging sapi halal dan tidak halal. Kami yang di Jepang ini penasaran juga. Mungkin ada yang bersedia menulis?

Yang jelas, dua pendapat yang berbeda mencuat.

Satu pendapat, negara ahli-kitab? OK. Negara politeisme? NOK.

Satu pendapat lain, mau ahli mau pakar, tunjukkan dulu logo halalnya baru OK.

Konsekuensinya adalah saat pergi ke restoran. Misalnya, beberapa tahun lalu Sukiya – restoran sashimi daging dan ikan – rumornya mengimpor daging dari Australia. Dengan demikian, sebagian orang makan disana. Sebagian yang lain, kalau diajak nggak mau karena tetap nggak jelas dari Australianya agen halal atau agen biasa. Sayangnya, Sukiya kabarnya tidak memakai daging Australia lagi saat saya datang ke Jepang, sehingga saya tidak mengalami langsung konflik tersebut.

Contoh yang lebih modern (2017) adalah adanya menu dengan Daging Australia di Saizeriya. Nah, boleh dimakan nggak tuh?


Daging Ayam Brazil Halal

Daging ayam berlogo halal yang paling mainstream di Jepang adalah produk impor dari Brazil. Biasanya bermerk Seria atau Sadia. Daging ayam ini dijual di toko-toko halal. Toko Jepang mainstream seperti Gyoumu Supa dan Amica juga menjualnya. Terkadang saya juga nemu ayam utuh ini dijual di random warung atau supermarket yang nggak ada bau-bau toko halalnya.

Daging ini ada logo halalnya. Jadi, halal?

brand-seara

Tidak menurut sebagian brader dari Pakistan dengan alasan yang tidak saya pahami. Yang jelas, mereka agak nggak suka kalau disuguhi daging ayam yang diolah dari ayam utuh Brazil berlogo halal ini.

Mereka -brader- tidak percaya bahwa logo halal di produknya itu valid. Brazil gitu loh? Emangnya siapa yang kepikiran orang islam kalau dengar kata “Brazil”. Saya tidak begitu mengerti tapi isu yang saya dengar adalah sebagai berikut. Rumornya ada syekh dari brader-brader tersebut menanyakan entah ke supliernya atau importirnya atau perusahaan di Brazilnya dan pas ditanya (atau dikunjungi? entahlah) jawaban yang mereka beri tidak meyakinkan.

Begitulah.

Jadi brader makan daging mana? Para brader beli daging halal yang disembelih di Jepang. Mungkin karena yang punya tokonya adalah brader juga, jadi mereka kenal dan yakin atau gimana gitu.

Saya menemukan banyak logo halal yang unik-unik di Gyomu Supa, misal halal Denmark, Eropa, Filipin. Negara-negara yang nggak kita pikirkan kalau bakal ada lembaga sertifikasi halalnya lah. Dan logo halal adalah tanda paling mudah bagi kita untuk mempercayai kehalalalan sebuah produk. Agak ragu juga sebenarnya dengan logo halal yang nggak pernah dengar sebelumnya tersebut. Kemudian ada berita juga di Korea, kasus pemalsuan logo halal ini sangat mewabah.

Topik ini mencuatkan pertanyaan apakah logo halal itu sendiri bisa dipercaya? Namun, kalau kita tidak mempercayai tanda halal di produk ini, apa lagi dong yang bisa kita percaya ya…

Hal yg terkait dengan ini adalah kasus berikut. Kalau kita datang ke sebuah restauran dan bertanya, ini dagingnya halal tidak (sering dilakukan orang ke resto India/Nepal) lalu dijawab “iya”, apa yg membuat kita percaya? Bisa jadi mereka bahkan ga tahu konsep halal itu bijimana.

Mirin, Seperti di Sushi atau Udon atau lain-lain

Topik selanjutnya: Mirin. Zat yang belum pernah saya denger pas di Indonesia ini adalah bumbu dapur berupa cairan yang mengandung alkohol berkadar tinggi, biasa dipakai untuk tumisan atau makanan berkuah. Hal yang sangat menyebalkan karena muslim di Jepang hobi makan sushi, soba, dan udon. Karena, well, makanan tersebut adalah makanan Jepang buanget yang tidak mengandung daging sama sekali.

Toko udon favorit di toyohashi.jpg

Toko udon favorit di Toyohashi.

Ditambah lagi banyak rumor ttg toko sushi sana boleh, toko sushi sini ada mirinnya, toko sushi situ cuma menu tertentu bertebaran hampir secara periodik, membuat komunitas flip-flop dan bingung menyikapi sushi. Hal inilah yang membuat kasus spesifik ini patut dicatat di artikel ini.

Beberapa orang mengabaikan apakah sushi mengandung mirin atau tidak. Sebentar… Mengabaikan mungkin kata yang terlalu kasar. Lebih tepatnya, membuat asumsi by default sushi itu boleh dimakan sampai ada bukti (atau rumor) kalau dia mengandung mirin.

Beberapa benar-benar mengabaikan rumor tersebut. Wong sushi gini… Mana bisa mabuk makan sushi banyak-banyak, walaupun ada mirin-nya.

Beberapa yang lain agak paranoid, menjauhi sushi yang pernah terdengar rumor bahwa ia berimirin, barang sedikitpun. Atau bahkan semua jenis sushi.

Ada yang bertanya, orang Jepang memakai mirin untuk minum-minum nggak? Kemudian dilanjutkan, kalau diminum banyak-banyak memabukkan nggak? Kalau nggak kan berarti ya boleh aja, bermirin atau tidak.

Pertanyaan yang pertama jawabannya iya, zaman dulu kala [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era … Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

Untuk pertanyaan kedua, entahlah. Karena dulu dipakai untuk minum-minum, ya kemungkinan besar memabukkan juga kali ya. Sehingga bisa disimpulkan karena banyaknya memabukkan thus haram, ergo, sedikitnya pun haram.

2302_03

Sumber: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

Setidaknya itu pendapat sebagian orang. Sebagian komunitas lainnya melihat, produknya atau makanannya, bukan komposisinya. Dengan kata lain, sushinya bukan mirinnya. Hal yang membawa kita ke topik berikutnya.

Makanan Ber-(senyawa)-alkohol

Bagaimana kalau makanan tersebut disiram alkohol, kemudian 1 detik kemudian ia menguap lalu hilang sama sekali?

Bagaimana kalau makanan tersebut berkadar alkohol yang sangat sedikit? Alkohol dari alam? Durian, tape, legen beralkohol tetapi undoubtly halal kan?, sekali lagi bagi sebagian besar pendapat.

Bagaimana kalau makanan itu tadinya berbahan alkohol, tapi sekarang bukan berwujud alkohol? Cuka aja boleh…

Semua variasi ini bisa memiliki spektrum pendapat masing-masing, pendapat sejumlah kepala yang ada. Perbedaan ini dikarenakan beda interpretasi antara khamr dan alkohol. Khamr, memabukkan. Hampir semua alkohol memabukkan. Yap, hampir tapi tidak semua.

Tidak cuma kita-kita yang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, para ahli pun sepertinya tidak bisa memberikan jawaban yang simpel, jelas dan konsisten. Titik temunya sulit disepakati. Setiap sertifikasi halal pun punya standar persentase alkohol maksimal masing-masing. Nah, apalagi orang-orang yang dibawah kayak kita. Pasti eksekusinya juga pusing dan tidak konsisten.

Contoh tidak konsisten misalnya, sebut saja si A* sangat suka durian. Kan halal. Namun, choco-chips yang ada kanji 酒 sake-nya, menjauhi. Padahal mungkin persentase alkohol di durian lebih besar dari pada di snack tersebut dan nggak pernah dengar tuh ada orang mabuk makan choco-chips banyak-banyak. But who knows…

*) Siapa itu si A. Karena batasan netralitas pendapat di artikel ini, saya tidak akan memberitahu siapa itu A. Wink.. wink..

Tidak hanya soal alkohol tadi, soal perubahan senyawa molekuler juga sepertinya masih menjadi perdebatan para ahli. Molekul ini dari babi, tapi udah berubah, atau cuma untuk dimakan bakteri dan bakteri menghasilkan molekul lain. Topik sulit yang tidak akan dibahas di artikel ini. Hal ini terkait dengan zat-zat komposisi yang akan menjadi topik selanjutnya. Yap, bahan makanan jadi bahan pertimbangan buat makan di Jepang disini. Nggak kayak di Indonesia. Ada zat yang meragukan dan ada yang tidak.

Minuman “Keras” Alkohol Nol Persen

Sebelum membahas lebih lanjut ttg zat meragukan tersebut pada komposisi makanan dan zat turunannya, mumpung lagi membahas Alkohol, mari kita sisipkan topik ttg minuman tidak beralkohol.

Es teh manis?

Bukan lah. Misalnya, bir non-alkohol atau wishkey zero alkohol, dan semacamnya. Katanya di arab banyak yang kayak ginian.

0-00_abv_beers

Foto dari Non-alcoholic beverage [Wikipedia]. Saya nggak beli lho!

Kalau saya, kok ragu kalau itu boleh diminum. Alkohol nol persen ya apa sama dengan tidak memabukkan? Yang jelas ada muslim yang yakin kalau minuman tersebut boleh diminum.

MUI sendiri menfatwakan bahwa makanan dengan nama haram (misal: teh merek Whiskey) atau makanan yg direkayasa supaya jadi berasa seperti rasa makanan yang haram (bumbu perasa babi yg nggak dari babi), jadi haram juga (Fatwa MUI 4/2003).

Meskipun masalah legalitas seperti hukum, fatwa, dan dalil di luar bahasan artikel ini, terkait dengan fatwa tadi, bagaimana dengan bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Balik ke Jepang. Disini bir dan semacamnya dijual bebas di mana saja, di warung pun buanyak variasinya. Saya sih jarang mendengar eksistensi minum keras zero alkohol disini, dan kayaknya komunitas disini juga tidak terlalu peduli dg eksistensinya. Well, move on ke topik selanjutnya.

Zat Turunan pada Ingredients

Nah, saatnya membahas gajah di ruangan. Nggak gajah juga sih, kan senyawa zat kecil-kecil. Zat turunan yang saya maksud ini ditemukan di bahan makanan, tertulis di daftar komposisi di balik kemasan makanan.

o0604040313218925372

Sumber: ameblo.jp. Coklat tanpa nyukazai. Pernah dapat coklat ini dari anak SMP Jepang pas pertemuan pertama Aichi Scholarship. Mereka jualan coklat ini untuk charity katanya.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

Daftar ini bisa melebar luas, termasuk tetapi tidak terbatas pada: lemak, gelatin, shortening, jelly, nyuukazai (emulsifier), margarin, butter, karamel, cream, yeast, asam amino, soyu (soy sauce), white vanili, dll.

Bahan-bahan makanan yang dijauhi tersebut biasanya karena tidak jelasnya asal muasal mereka. Kebanyakan dari keluarga turunan babi, misalnya emulsifier dari babi dan seterusnya. Namun ada juga emulsifier yang bukan dari babi. Karena tidak tahu yang mana, jadi tidak jelas lah.

Setiap item di watch out list itu bisa menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Nah menyikapi hal ini secara umum pun bisa menjadi pendapat yang berbeda juga. Kaum kalau tidak tahu tidak apa-apa, tidak akan melihat eksistensi tulisan tersebut di komposisi. Kaum paranoid akan memburu semua kanji dan kana dari daftar list mereka dan menjauhi semua makanan bertuliskan kanji-kana tersebut. Kaum takut tapi penasaran rasanya kayak mana akan menelpon si pembuat makanan untuk memastikan bahan makanan tadi terbuat dari apa.

Kaum yang terakhir saya sebut tadi biasanya akan dipandang jadi hero (atau jadi villain?) ketika mengumumkan produk ini boleh-tidak boleh karena alasan ini ana itu. Yang akan dibahas pada dua topik terakhir.

Double Derivative: Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan

Namun sebelum membahas dua topik tadi, mari sedikit mengekstensi topik sebelumnya sedikit. Mungkin sudah jelas di judul yak, ttg.  “Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan”.

Maksud loehh?

Lihat kembali di daftar “watch-out”-items pada topik sebelumnya. Dua item terakhir adalah soyu dan white vanili. Ekstrak kedelai dan vanila putih. Hal yang kalau dilihat dari namanya, tidak ada bau-bau mencurigakan. Bukan? Namun, ada beberapa orang yang menjauhinya dengan argumen sebagai berikut.

Jadi, soyu itu soy sauce alias saus kedelai. Soyu sebagai produk di supermarket, botolan, satuan ada yang mengandung alkohol (kanji 酒) dan ada yang tidak. Jadi ada yang boleh ada yang tidak. Are you with me?

Nah, ada produk makanan lain tuh. Misal apa deh, roti kek atau snack. Eh, dilihat di belakang bungkusnya ada tulisan soyu. Jeng-jeng-jeng…. Nah lho, nah lho. Boleh nggak tuh?

Karena fakta di lapangan yang bisa kita saksikan sendiri (di supermarket, misal) bahwa ada soyu yang boleh dan nggak boleh, meragukan, ergo si roti tadi juga meragukan sampai diketahui si soyu ini komposisinya bagaimana. Jadi, rotinya mending dijauhi.

Yang lain berpendapat, chotto matte! soy sauce ya soy sauce. White vanili ya white vanili. Jangan menyetarakan produk bahan dan produk jadi. Produk pabrik dan produk konsumen. Logikanya, pabrik kalau memesan dan mencantumkan bahan ya bahan murni. Bukan bahan turunan. Kalau turunan berarti bahannya bahan tadi juga merupakan bahan dan harus dicantumkan juga, bukan? Kalau begitu, produk yang mengandung coklat semua meragukan karena ada coklat yang mengandung alkohol ada juga yang tidak.

Argumentasi pada topik terakhir ini cast doubt, apa lagi ini indonesianya, memancarkan bayang keraguan pada daftar komposisi itu sendiri. Bisa dipercaya atau tidak kah?

Untung saja ada kaum takut tapi penasaran pengen nyoba yang terdepan dalam mengonfirmasikan hal-hal tersebut ke produsen langsung. Bisa nunggu laporan mereka lah. Eh.. Tapi kalau daftar komposisi di kemasan nggak bisa dipercaya,  konfirmasi dari produsen bisa dipercaya nggak ya? Hm…



Halal Berbatas: Waktu/Serial Number/Tempat/Bungkus

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

Bahasan gajah di ruangan (ttg zat turunan dalam komposisi) ini merujuk kepada satu kesimpulan. Kehalalan di sini sifatnya limited dan temporer.

 

Bertanya “ttg kit-kat itu halal apa nggak?” jawabannya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menjawab. Dan macam-macam lagi tergantung kapan, kit-kat yang mana, yang dijual dimana, bahkan yang serial numbernya dengan akhiran apa.

Ada juga produk milk-tea yang as bizzare as it sounds, um, seaneh kedengarannya, berbeda status kehalalannya bergantung pada ukuran botol. Yang sedang boleh, yang kecil nggak. Padahal produk yang sama dengan tulisan komposisi yang sama.

Hal tersebut sangat biasa di kehidupan komunitas muslim di Jepang.


Makanan Dari Teman

Artikel ini memperlihatkan bahwa setiap ada topik pasti ada pendapat yang berbeda di antaranya. Nah, kalau makanan itu untuk diri sendiri sih nggak masalah. Namun, di dalam komunitas tentu interaksi, tukar pikiran, dan tukar makanan pasti akan terjadi. Bagaimana dengan spektrum pendapat yang berbeda-beda tadi?

Apakah kita harus mengecek kalau semua parameter di atas sama nilainya dengan teman yang memberi kita makan tadi? Tentu saja pada topik ini juga ada perbedaan pendapat lagi. Ada yang nanya banget, ada yang nanya secukupnya, ada yang cuek.

Misal yang soal brader tadi, katanya sampai ngamuk dan menolak kalau disuguhi daging halal brazil. Saya sih tidak menyaksikan langsung gimana cara mereka menolaknya. Katanya sih beberapa tahun lalu terjadi, dan sepertinya mereka sudah mulai melunak akhir-akhir ini.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

SONY DSC

Nobody will refuse or question the halal status of rendang. Sumber foto: Rendang [wikipedia].

Menurut saya, burden of proof, duh apa lagi ini Indonesianya, beban pembuktian kehalalalan jatuh kepada dia yang membuat dan memberi makanan tersebut. Dan sebagai muslim, kita cukup percaya dengan keislamannya dan yakin dia tidak berniat mencelakakan. Ini juga sebagai penghormatan terhadap pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat, muslim tetap bersaudara.

Meskipun begitu, dua paragraf terakhir di atas nggak jelas juga tuh dengan klausa “kecuali sangat-sangat mencurigakan”. Mencurigakan itu yang bijimana? Duh duh duh…



Mujtahid dan Mujtahid Mutlak

Pada akhirnya, setiap pendapat adalah milik pribadi masing-masing. Setiap pribadi harus berijtihad, memutuskan bahwa saya berpendapat begini untuk topik ini dan begitu untuk ropik itu.

Ada prinsip bagus dari ustadz yang menjadi imam di Masjid Toyohashi (atau yang datang dari Indonesia untuk pengajian? saya lupa siapa).

Wara’ itu untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain.

Dan bagi yang bingung memutuskan pendapat, selalu ada mujtahid mutlak di sekitar kita. Ini sebenarnya istilah guyon yang dicetuskan oleh salah satu bapak-bapak di Toyohashi. Jadi bukan mustahid mutlak kayak imam syafii gitu bukan. Disini maksudnya, orang-orang yang kalau “berfatwa” roti merek ini itu boleh, chiki ini itu nggak, dan memakannya, pendapat itu bakal mutlak dipakai oleh komunitas di sekitarnya.

Syarat jadi mujtahid mutlak ini tidak sulit. Punya kecenderungan untuk peduli ttg halal dan haram. Jadi, minimal bukan omnivora-lah, apapun dimakan. Punya kecenderungan untuk update informasi. Nggak gaptek-gaptek dan kuper-kuper amat. Dan yg terpenting punya kecenderungan untuk bisa membaca kanji. Beres. Saya juga pernah menjadi mujtahid mutlak bagi anak-anak SMP Indonesia yang datang ke Jepang. Mereka belanja di kombini dan saya dengan otoriter men-dictate, ini boleh, ini jangan.

Biasanya tiap komunitas punya orang seperti ini, dan pendapatnya juga berbeda antata mutlaker di komunitas satu dan lain. Pernah dengar cerita juga, ada anak yang dianggap alim karena dia rajin sholat mengaji dsb, memiliki pendapat pertama di topik pertama artikel ini, jadi teman-temannya pun berpendapat yang sama.

Di internet, kaum penanya produsen tadi juga bisa direfer dan dipakai pendapatnya secara mutlak. Biasanya mereka mengepos di Facebook, group, atau blog-blog. Situs halal yang saya refer di awal artikel juga salah satu contohnya.

halal-japan-facebook.png

Mujtahid mutlak daring sedang beraksi.

 

Jika Anda bingung ttg suatu kasus halal haram suatu produk, membaca artikel ini mungkin akan tambah bingung. Untuk pembaca yang sudah membaca sampai paragraf ini, saya ucapkan: Selamat atas achievent Anda membaca artikel 3000 kata ini. Maaf karena mungkin saya tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membaca blog ini.



Penutup

Topik berikutnya, terdapat juga perbedaan pendapat dari bagaimana makanan tadi itu ditutup. Penutupnya turunan dari babi atau nggak.

Bercanda-bercanda…

Artikel ini sudah terlalu puanjang dan membahas hal yang cukup luasss…. Mau mengedit supaya lebih ringkas, kok capek ya. Jadinya, bingung deh mau menutupnya bagaimana.

Pokoknya gitu lah ya.

Di Jepang, halal haram itu pusing. Nggak gampang kayak di Indonesia. Namun, semoga tidak ada konflik dikarenakan perbedaan pendapat di atas. Tidak perlu keras mengoreksi dan berbantah-bantahan. Mari melembut dan tersenyum. Saling menghormati pendapat masing-masing, dan terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sepertinya itu lebih baik.

Sama-sama perantau kita di Jepang sini, mari kita saling bahu membahu.

Jika ada pertanyaan, pendapat, cerita silakan kasih komentar di artikel ini atau lebih baik lagi tulis di blogmu. Mungkin bisa memperkaya wawasan ttg topik ini lebih luas lagi.

^^.. Wassalamualaikum.

Stiker Bikkuriman

Saya baru tahu dari teman kantor, kalau di Jepang stiker bikkuriman ini sangat terkenal. Teman saya itu kolektor, dari dia kecil. Jadi, stiker ini dapetnya hadiah kalau beli snack coklat gitu. Satu coklat dulu harganya 30 yen, terus ada bonus hadiah stiker. Gambarnya dari anime tahun 90-an bikkuriman.

Fast forward ke 2017, harga si coklat jadi 100 yen. Namun, harga stiker yang dulu dikumpulin oleh anak-anak itu bisa naik berkali-kali lipat. Stiker keluaran terbaru katanya punya harga standar 500 yen. Stiker keluaran dulu yang masih bagus bisa dihargai sampai 3000 dan kalau cukup populer bisa sampai 10.000 yen.

Beliau katanya sampai rela pergi ke Nagano untuk beli stiker ini. Pas waktu ada event jualan berbatas waktu gitu-gitu. Yang sekarang lagi populer katanya stiker cross-over sama Kinnikuman.

Yang unik dari stiker beginian adalah kata teman saya itu satu: desain gambarnya, dan dua: teknik mengkilapnya. Katanya walaupun karakter yang difituri di satu stiker, ada buanyak pola meling-elingnya. Tergantung backgroundnya, bisa zig-zag, garis-garis, melingkar, dll.

Stiker yang suangat langka, misalnya karena misprint, kata si teman, harganya bisa melangit. Berapa coba tebak? Hayo…

Bisa dicek di situs darkieshouse

Jeng-jeng-jeng…

ブラックゼウス(トイカード): 350.000 yen

Di rupiahkan, bisa jadi 40 juta tuh. Untuk satu lembar stiker mainan anak-anak yang dulu belinya 30 yen!

Jangan-jangan 10 tahun lagi bakal jadi 100 juta rupiah tuh. Wew… Peluang bisnis gan!

Dulu satu kotak isinya 40 coklat katanya. Jadi dulu, anak yang punya banyak duit beli sekotak gitu, 1200 yen. Sampai pernah katanya si coklat berhadiah stiker ini sulit dicari. Untung dia punya toko langganan, jadi sama empunya toko diumpetin satu kotak buat dia. Toko-toko juga biasanya membatasi orang maksimal beli 3 kotak per hari.

Coklatnya mah kagak dimakan, stikernya yg utama, coklatnya yang hadiah tuh.

Dahulu saya juga suka ngoleksi wayang teplek, tazos, dan figur dua dimensi digimon. Sempat saya simpen lama, tapi saat SMP karena memenuhi tas akhirnya saya buang deh. Sayang juga ya…

Tapi buat apa juga ya. Wong di Indonesia nggak populer lagi… Kenapa nggak konstan populer yak? Nggak pas animenya? Atau emang budaya orang Jepang yg suka ngoleksi dan ngiler dengan barang langka?


Sumber gambar featured dan artikel lebih lengkap tentang stiker bikkuriman ini: shinrabanshochocolate.wordpress.com

Oh ya, ada juga Stiker bikkuriman bergambar Star Wars. Seru-seru ya desainnya emang.
Sumber gambar: razcardblog.blogspot.jp.

cci02062016_000212b1

Iklan

The Halal-Haram Spectrum of Food in Japan

I want to discuss how varied the opinion of individual muslim communities regarding halal and haram status of foods in Japan. However, it is not the goal of this article to give a guidance or even fatwa such as “this kind of foods are halal and that kind of foods are haram”. No. I wish to focus on real facts, grass-root level facts, that this level of variation in opinion and consideration, the whole spectrum exists.

Bahasa Indonesia tersedia di artikel sebelah.

I wish to give insight to any brother and sister outside Japan who wants to visit or move here. And possible invite discussion from brother and sister who live in muslim minority nations, whether the same phenomenon also exists over there or not, and how to face such differing in opinion.

The readers should be able to judge one opinion and the others by themselves. And then search for logics, details, or dalils to support the opinion also by themselves. This article will not provide any scholarly argumentation, verses, fatwa, or rule on any of the opinion. I don’t have the capacity to provide them. Please cross-check them on outside references. Or better, visits your local mosques and imam for further discussion.

This article also will not provide any list of halal/haram snacks, restaurants, supermarkets, or products. If you are searching for that kind of info, I suggest you visit this nice article from halal-guide. For you travelers this article from JNTO and japan-guide are nice. These site halalmedia.jp, halalgourmet.jp, and Facebook halal japan are also sometimes referred by many friends to check the halal status of popular products.

It should be noted that the opinions in this article are not my own. Nor I endorse them. I will try to be as neutral as possible and hide my own opinion in each of the topics. I do this in order to not give any judgment to the opinions and then sway the reader to my possibly wrong opinion. I will also not inform you which opinion is mainstream and which is a minority. The word mainstream itself is misleading and could be different from one community to the others.

At the foremost, the goal of this article is only for enrichment and discussion point, not for judgment and reference point.


Consensus: Pork Meat and Alcoholic Drink are Haram

Let me begin with this consensus. There is no dispute about the haram status of pork meat and alcoholic drink. Therefore, this article will dismiss any opinion from “muslim” who said, for whatever reason, that they are fine drinking alcoholic drink and eating pork meat.

But there is a catch. This consensus emphasizes meat and drink. Emphasizing meat on pork meat means that this consensus only applies for pig derived products which still in the form of muscles, such as ham, bacon, pork, etc. Emphasizing drink on alcoholic drink means that it only applies to a liquid form of alcohol that, well, drinkable.

The difference in the emphasize means that pig derivatives in the form of lump meat and alcoholic derivatives in the form of liquid will not be discussed in this article. Any other derivative is a fair game and will be included in this article.Meat


Meats: The One That Japanese Sell, Buy, and Eat

Our first topics is the normal meats, mostly referring to beef and chicken, which can be found in any Japanese shops, supermarkets, and restaurant. These meats:

This first topic divides the community into two big groups.

The first opinion said that in any country (Indonesia for example) or any time (the time of prophet Muhammad for example) we as a consumer can not be absolutely certain and do not possess the capability to find out whether these meats were slaughtered by islamic way. This opinion held the principle “no sin for not knowing”.

Even in Indonesia, any seller, whether they are a Javanese, Chinese, Bataknese, or Sundanese, no one will bother to ask the halal status of their raw meat. Nor trace the meat origin. Nor find out the affiliates, principle, or religion of the seller. Any chicken and beef are as good as halal chicken and beef. If you do not do it over there, why bother to do it here in Japan.

The second opinion said that Japan is not a muslim majority country. Thus, it can be deduced that most of the meat will not be slaughtered the halal way. Maybe not all. But most of them are enough reason to avoid all of them, according to this opinion. Therefore, they refrain eating any meat included local food in Japan. Just like a vegetarian.

Muslim with the first opinion will not hesitate to eat in any Japanese restaurant. They also view the second opinion as self-oppressing (zalim to our own body), arrogant, or even fanatics. On the other hand, Muslim with the second opinion will avoid most of Japanese food (restaurant or packaged alike). They view the first opinion as sloppy, ignorant, or even sinful.

The effect of this topic alone is very big. Most if not all controversy in this article will not apply for the first opinion. The second person will hunt any 肉 kanji on every product, if there is a meat kanji in honey, they will throw it.


Australian Meat

This topic is an extension of the previous topic. There is also differing in opinion regarding meats that are imported from the country of ′Ahl al-Kitāb, people of the book. I am assuming from the continent of Australia, Europe, and America.

I myself do not know which country can be designated as “people of the book”, nor I ever visit any of that country (I am assuming country with Christian majority). I am very curious about this topic. I think, any Muslim living in Japan curious, how the Muslim community in that country view the “normal” meat over there. If you have time, please share…

Nevertheless, there are differing opinions.

First opinion. The country of people of the book? OK. Country of polytheist? NO!

Second opinion. Country of the people of the book, people of the forest, or people of the sun does not matter. Show me the halal mark, then we can talk.

The most practical example is Australian meat. Years ago, Sukiya – a sashimi restaurant – served a menu using meat from Australia. Or so the rumor goes. Some people ate there. And some people will refuse an invitation to eat there. Because, you know, it was still not clear whether the meat has halal mark or not. Unfortunately, since I came to Japan the Sukiya does not serve this menu anymore, and I never witness the drama unfolding in front of my own eyes.

Probably, the more modern (2017) example is a new menu from Saizeriya, with a big mark indicating that they use Australian beef. SO, can we eat it?


Brazilian Chicken with Halal Mark

The most commonly found chicken meat with halal mark are the one which imported from Brazil. Some of them are brand Seria or Sadia. These brands usually sold in your usual halal food shop. Mainstream Japanese supermarkets such as Gyoumu Supa and Amica also sold it. I occasionally also find this type of chicken in random small shops or supermarkets that at a glance do not care about halal products.

These Brazilian chickens have a hala mark. So, it is halal, right…?

No. According to some brothers. I do not understand their reasoning but I will explain later. In any case, if you give them fried chicken from this meat, they will not touch it.

Rumor said, that they – the brothers – do not trust the halal mark. It may be not valid, according to them. Well, when you hear the word “Brazil”, do you even think about islamic stuff?? No, don’t you? As the story goes, one of their community inquired the Brazilian importer, or the producer in Brazillian, or authority over there – I am not sure – and the answer they got are not convincing. Dubious at best.

Or so they said. So what kind of halal chicken do they eat? Halal chicken from Japan, locally slaughtered and marked with halal logo. Maybe they trust this logo because the bussiness are owned by their own community members.

This topic raises a question about the halal mark itself. Can you trust it?

BUT. If you can not trust it, WHO DO YOU TRUST?

I find many variants of halal logo, many that I never seen before when I went to halal shops. There are halal marks from Scandinavia, Myanmar, Italia. The nations that we do not even aware that they can be included in the Halal Venn-Diagram.

Should we trust them? There are also disturbing news about Korean crackdown on fake halal certificate.  Over there this is a very serious problem. However, if we do not trust the mark, how we can ever trust anything anymore.

On a related topic, can you trust the restaurant owner/staff when you ask them “is this meat halal?”. People usually this question to Nepal/Indian restaurant. When replied by yes, we usually put a happy face and sit to their table. But, how do you know that they even know the concept of halal?


Mirin, Like in Sushi, Udon, and friends

The previous topic is a heavy one, but next we will cover alcoholic substance. Such as Mirin. A substance that I never hear before, and almost mistakenly bought on my first day to the supermarket to buy a frying oil.

Mirin is seasoning which contains relatively high percentage of alcohol. It is commonly used in stir-fry food or soupy food. It is also sometimes used in Sushi and Udon. This fact alone annoys many Muslim people. Because, you know, Sushi and Udon are the only Japanese-y food without any relation to meat.

My favorite Udon shop in Toyohashi

Our frustration grows as the rumor about our favorite sushi shop includes mirin in their rice, or not anymore, or includes again, almost periodically change and change and change. This kind of things makes many part of community flip flops regarding this sushi matter and probably mirin in general.

Some people ignores completely whether the food (read: sushi, udon) contains mirin. Wait… Ignore is a harsh word. I mean, some people make an assumption that that kind of foods by default do not contains mirin. At least until it is confirmed otherwise. But the they usually will not do the confirmation themselves.

Some other people will definitely ignores it. Whether it is confirmed or not. There is no person in the world ever drunk by too much eating sushi.

Some other people are paranoids, will avoid any sushi and udon. They do not like raw fish anyway.

There was an interesting discussion. Do the Japanese use mirin as a, well, alcoholic drink? Do they drink them, and then drunk? If not, then maybe it is not khamr after all, and thus permissible.

The answer to the first question is yes. At least long time ago [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era …Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

The answer for second question is I don’t know. Somebody has to do the experiment. However, I think the answer is closer to yes. If the Japanese at that time use it for drinking, that indeed they drink it to be drunk. Yeah, English is confusing. Drinking it much is haram, ergo, also drinking it a little.

2302_03

Image: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

At least that is an opinion from some parts of the community. The question remains that eating sushi as much as you can will make you vomit, never make you drunk. In this reasoning, some people inspects the status of khamr on the final product, not the composition. Thus, it brings us to the next topic.


Alcoholic Food

What if the food is poured by wine, and then 1 second later it will definitely, completely, disappear. Vaporized.

What if the food contains alcohol, but at the low end of the percentage. How about natural alcohol. Example of such food is durian, or tapai (alcoholic fermented casava that definitely not haram, common in Indonesia), or  legen (alcoholic palm water which won’t make you drunk).

How about a food that contained alcohol that the molecule now changed to another molecule. Such as, vinegar.

For every possibility, there will be differing opinion. It is true in the muslim majority country (Indonesia), thus it will be more prevalent and confusing here in Japan. Quite off topic but I myself feel that the experts and scholars also do not have consensus in this matter. Or at least a consistent guide or rule for this topic. Every halal certificate organization also has their own view and standard. If the experts do not agree, how about us the grass-root.

Just an example of this inconsistency is people that like durian but avoid snack with kanji 酒 in their packaging. It is entirely possible that the durian has more alcoholic content than the snack.

Yeah, some people will search for the kanji in the composition section of the packaging to avoid drinking alcohol from the food. Some people, will not.

Thus, the joke goes that, we should experiment to non-muslim people, ask them to eat the alcoholic food as much as they can. Until they vomit, if possible. And then see, whether they become drunk or not.

Regarding this topic of molecular thingy, it seems that not only alcoholic compound but any derived compounds are still in debate by the expert. For example food ingredients in the from of “pure compound” derived from pig that cannot be differentiated by other compound derived from everywhere else. Or compound that is used only to feed bacteries that will finally extract the food ingredients. This advanced topic will not be covered in this article, but the effects will.

Yes. That kind of food ingredients that are listed in the composition section of the packaged food. The chemical compound like substance food ingredients is also up for debate in the community. In muslim majority country (Indonesia), nobody will care about this kind of thing.

However, before address that topic, we will continue a little bit about alcohol.

Non-Alcoholic Drink

Or conversely, a topic about non-alcohol. Non-alcoholic drink to be specific?

What? Ice Coffee?

No. No. I mean this drink.

0-00_abv_beers

This picture is from Wikipedia. I don’t buy this.

Yeah. Zero-alcohol beer or wine and friends. As we discussed before, many people are paranoids about alcohol. So these drinks do not contain any alcohol. Is it halal to drink?

Some people say yes. Some people doubt it.

On a related note, Indonesian Ulema Council has a fatra that any food or drink with a name with haram connotation will be haram by themselves (for example tea with brand Whiskey Tea). Also a food that is engineered to taste like a haram substance, also haram (for example potato chips bacon flavor without any bacon). [Fatwa MUI 4/2003].

Even though the topic of legal, law, and dalil is outside of the scope this article, the above fatwa make me curious. How about bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Coming back to Japan. Here alcoholic drink and this kind of non-alcoholic alcoholic drink is freely sold on any outlet. Convenience store, supermarkets, restaurant. You can find it everywhere. Jepang. Not sure anybody care enough to try the non-alcoholic alcoholic drink though.

Well, move on to the next topic.

Ingredients Listed Derived Substance

The elephant in the room. Well, not exactly elephant because this substance is molecular. Very small that you can not see. But it is listed anyway in the packaging and invited concern to some people.

o0604040313218925372

Image: ameblo.jp. This chocolates are nyukazai-free. I once got this choco from a junior high school club on Aichi Scholarship cultural event. They were selling this choco for charity.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

I personally never truly grasp the extend of the list of watch-out items. Whenever I think that I know them all, and then I meet some new people or new community and then they warn me about this substance that I never suspect.

The list can and will spread very wide. The items is included but not limited to: fat, gelatin, shortening,  jelly, nyukazai / emulsifier, margarin, butter, caramel, cream, yeast, amico acid, soyu (soy sauce), white vanili, etc.

This watch out substance is to be watch out usually because of their origin. Unknown origin. There is a possibility that they are derived from pig, for example. The most common example is nyukazai 乳化剤 or emulsifier, that is known derived from plant or pig. Sometimes the packaging writes the emulsifier’s origin, but sometimes do not. When it is unknown, nobody’s sure and somebody avoids it.

I will only add that, on every items on that list, there will be differing opinion to their must-watch status.

Some people, when confronted with unknown information illustrated in the emulsifier example will assume the best and eat it. Some people will assume the worst and throw the product on sight.

Some other people, the paranoid but adventurous-curious people, will call the manufacturer and ask them questions. Is this thing from plant or pig, or similar question.

This people will be viewed as a hero (or villain?) when they announce that this product is okay because it does not contain xxx or contains yyy. This kind of people will be featured in the very last topic of this article.

Double Derivative: Food with Ingredients that Have Consumer Products with Questionable Variant Ingredients

Before that, we will extend the topic of derivative. Entering double derivative! As the title suggest there is a food, this food has ingredients written in it, this ingredients has many consumer products, that has ingredients written in it, and some of the products have questionable ingredients.

Bear with me.

Let see again the watch-out list I provided in the previous topic. The last two (or three?) are very interesting, because I never suspect them before until my someone mention it. Soy Sauce and White Vanilli. Not so suspicious, right? I mean, they are both from plant, and should be no problemo.

Their argument is as follow.

So soy sauce is from soybeans. We can buy soy sauce from supermarkets. There are many products of soy sauce in the supermarkets. We can inspect the ingredients list in the packaging. Some of them contain only soybeans. Some of them contain many things, including alcohol. Are you still with me?

And then there are other, completely unrelated products. Let’s say it is a bread or a snack. Oh my god, see, the packaging lists soy sauce as one of its ingredients. Oh no, we do not know which soy sauce products they used. Oh no, this snack is bad!!!

They follow the logic that there is a fact that we can observe: soy sauce are sold in supermarket, not all soy sauce are free from dubious derived ingredients. Ergo, all products containing soy sauce or white vanilli is also dubious. QED.

Some other people will said, Wait A Minute! You were mixing the name of product and the name of substance. A soy sauce is soy sauce, a sauce from soybeans! White vanili is a vanili that is white! Additionally, you were also mixing a consumer product with manufacture product. Manufacture usually will purchase a pure substance. If, the ingredients of the ingredients are significant enough, it should be listed as the ingredients of the final product as well, shouldn’t it?

Thus this final topic and argumentation cast a doubt on the ingredients list itself. Can we trust it?

At least, there are the doubtful but curious type of people that will follow the money the ingredients and confirm the manufacturer itself. But this also raises question, should we trust the manufacturer’s answer?



Halal Limited: in Time, Place, Serial Number, and even Packaging Size

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

This discussion brings us to conclusion that on the strictest sense, the halal status of products in Japan are ephemeral. It is limited and temporer.

Asking “is Japanese kit-kat halal?” is grasping the air. It depends on the flavor of the kit-kat, when it was produced, it’s serial number, it’s selling location, etc.

As bizzarre as it sounds, there are also products that have different halal status based on their bottle size. Even though this is the same brand and same packaging and same writing including the ingredients. Just the size.

This is very common phenomenon in Japan.

But who decided that?


The Mujtahid and The Absolute Mujtahid

Without any authority, here everyone is a mujtahid. Everyone should think for themselves what kind of policy or which opinion they will take. That is why this kind of article is necessary.

There is a good advice from our local imam in Toyohashi Mosque.

Wara’ is for ourselves to follow. Not for others to follow.

And for the one that cannot decide by themselves, there are always the absolute mujtahid. Well, this is not the kind of absolute mujtahid you found on islamic law. This is a slang term that we use to describe the kind of person that their every decision about halal food affects us all in the community.

If they said this brand of chocolate is not okay, nobody will buy or bring it to community party. If they eat a new bread, they everybody will buy that bread this weekend. They are absolute.

There is not many requirements to be an absolute mujtahid. You just need this three things. One, somewhat reserved in food choice and continuously updated themselves in the topic of food. Omnivore or consensus breaker cannot be. Two, somewhat well known or revered in the community. Three, somewhat be able to read Japanese. No kanji illiterate!

Every communities usually have their own absolute. It should be noted that there are possibilities that absolute in one community have differing opinion from absolute in others. There is at least one instance I heard that a person revered in one community hold the first opinion on the first topic in this article. So, anything is possible.

The doubtful but curious people that I kept talking about are also positioned themselves (or be positioned) as absolute mujtahid. They usually have many followers on the internet. Some websites, Facebook group, or forum also acts as absolute mujtahid for many people. They provide guidance and help for the ignorance mass.

halal japan facebook

Absolute mujtahid in action

So, if you cannot decide by yourself, find your own absolute mujtahid to make the choice for you.


Food From Friends

This article shows that on every topic, there are persons with conflicting opinion. It actually does not matter if you live alone. But we are all living in society. Every community has interactions. Exchange of opinion. And of course, exchange of food? But how about this spectrum of halal criteria applied for this exchanged food?

Do we have to check all of our own defined parameter to the friend’s parameter? Just to eat their food? Of course, this topic also rises different opinions among people. Some people will check on every details, some will ask just a little confirmation, and some will ignore any differences.

One example, on the brother and Brazil chicken, some said that they will be angry if they know that the chicken you give them were Brazillian. I do not witness the exact reaction but I think they are getting softened nowadays.

I will violated this article’s neutrality clause special for this topic. My opinion in this topic is if I know the people who give me is muslim, I will never ask is this halal? or worse why you were saying this is halal?.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

I think that the burden of proof to check whether this food is halal or not are on them. Because they are muslim, they should have any notion about the concept of halal. As a muslim, we should have a faith on their faith and judgement. And believe they have good intention, not to hurt us in anyway. A difference in opinion is not worth the trouble for conflict.

But you can ask in a nice way, or refuse to eat if you can handle it well.

My point is, do not break any Silat-ur-Rahim just for a simple reason as which food do you eat and not.  Just respect each other opinions.


Closing

The last topic is whether the food is how the food is enclosed, whether the food’s closing is made of plant material or from….

No, I was joking. ^^

This article has been very long and cover many things. I do not know how to close it. I want to edit it a little and make it a little bit brief, but editing takes time you know. More than the writing itself.

So yeah, that’s it for know.

If you have read this far and searching for answer about halal status of certain food, maybe you will be confused. Because this article is not the absolute you seek for. For that, I will give you my apologize. Also my thanks to bear with this long article. I hope it will be useful for muslim in Japan and also useful for muslim in majority muslim world to know what does it feel to live here.

If you are living in Europe or other muslim minority country, I am waiting for your comment and story in your country. Please do not hesitate to share it.

Also if you have questions, comments, or objections also do not hesitate to write in in the comment section below.

Wassalāmu ʿalaykum.

Langgar di Sekulaku

Salah satu hal yang diamanahi ke saya selama disini adalah mengelola langgar di sekulaku. Atau lebih tepatnya, hal yang secara nggak sengaja saya dan teman kacaukan sehingga terpaksa dikelola dengan lebih rapi.

Di sekulaku ini, terdapat sebuah ruang di lantai teratap yang selama ini dipakai oleh komunitas orang beriman disini untuk bersujud.

Jadi. Jaman dahulu kala, di era ketika naga masih terbang bebas di angkasa, sihir merajalela, dan komputer masih benda mahal yang hanya bisa dibeli oleh kaum borjuis, terdapatlah tujuh legenda. Mereka mematerialkan mimpi dan menaruhnya di kahyangan, titik tertinggi realm, yang dipinjam karena pada saat itu tidak digunakan dari grand wizard yang kini sudah pensiun.

… jodan-jodan 

Kembali ke masa sekarang. Kahyangan alias kamar di atap itu rutin dipakai mahasiswa setiap hari, meskipun kondisinya agak gimanaaa gitu. Buecek. Kuotor. Tirai butut. Boklam sekarat. Ruang lembab. Karpet lobong. Namun, setidaknya fungsional sebagai langgar sehari-hari.

Awal dua taun silam, pihak sekula ngadain rapat antara rektorat kampus dan ketua-ketua komunitas pelajar asing. Katanya mau saling tukar ide. Biar pelajar asing di Toyohashi, semoga hidupkan jadi lebih baik… tugas yang berat… dilaksanakan… berjuang agar lebih baik… 

ehm

Jadi setiap ketua komunitas diminta untuk memberikan sedikit komen (atau meneruskan komen dari komunitasnya) ttg apa sih yang kurang di sekulaku ini.

Dari komunitas Indonesia dan Malaysia, saya ketua PPI dan wakil dari PPM waktu itu menyampaikan terima kasih atas langgar dan juga menu halal di kantin yang disediakan di kampus, sangat membantu hidup kite-kite orang malay. Kemudian kami memberikan semacam rekues. Makanan yang kurang bervariasi. Lampu di langgar yg pada mati, lantai yang becek, dll. Kan pertemuan itu katanya mau tanya hal yang bisa meningkatkan kesejahteraan pelajar asing disini kan? Makan halal dan shalat itu bagian integral dari kami. Jadi minta petunjuk buat itu langgar lebih baik.

not a bad start, rite?

Ternyata, hal itu gahwat. Sangat gahwat… Siapakah yang dapat melaksanakannya?
Sekarang berusaha mewujudkan!

De ting is kamar sembayang yang disana itu non-opisial! N-O-N plus O-P-I-S.  Alias tidak diakui kampus. Secara opis! Dan membawa hal nono di pertemuan opis seperti itu tadi,  ternyata agak, atau yaaa sangaat, nggak bagus.

Dan seketika meningkatlah kondisi ruang itu dari waspada menjadi awas.

Jepang adalah negara sekuler. Artinya secara hukum tidak boleh mengutamakan agama tertentu di dalam institusi pemerintah. Universitas negeri adalah salah satu tangan pemerintah. Ergo tunduk dalam regulasi tersebut. Jadi universitas negeri nggak bisa mengajari atau menyediakan ruang keagamaan. Katanya begitu.

Side note: obong, lempar2 setan pakai kacang, pasang boneka puteri dan pangeran di awal maret, gitu-gitu dianggapnya budaya, bukan agama. Jadi diluar konteks si hukum ini.

Universitas swasta sih nggak ngepek. Bukan kroni negara soalnya. Banyax saya temui univ swasta yang di webnya dengan bangga nampilin kalau dia punya mushala. Dipajang sebagai iklan, tuk menarik siswa baru juga kali. Nah, universitas pemerintah kagak bisa gt…

Selama ini, ternyata, kondisi langgar di sekulaku ini adalah situasi tahu-sama-tempe. Mereka tahu tapi pura-pura tempe. Kan tak resmi, jadi tak bole kaka… Namun, staf pada tahu kalau siswa muslim butuh akan eksistensi ruang itu dan secara praktis setiap hari memakainya.

Initinya mereka menutup mata sebelah, seolah-olah ruang itu tak ada di peta kampus.

Memberikan rasa terima kasih dan meng-invoke keberadaan ruang diujung atap tadi dalam forum resmi, kenegaraan, yang menitnya tercatat, dan jg dihadiri entitas lain yang belum tentu tahu-sama-tempe (e.g. lain komunitas pelajar asing), bisa menimbulkan… Banyak emas salah…

Selain hukum administrasi kenegaraan td, kecemburuan adl. salah 1-nya. Sebuah ruang yg cm bole dipakai o/ sebagian dan bukan keseluruhan komunitas kampus adl. hal yg sulit diterima di era democrazy ini. Ruang publik, tapi buat golongan ini doang, KUSUS! And they are not even a UKM!! Bumbu kecemburan dari padang tuh. Pedas.

Disini, UKM juga ada banyak dan pada minta ruang sekre jg. Kalau mereka tahu ada satu kamar yg seringnya kosong tp cuma bs dipake oleh sebagian umat, bisa-bisa pada ngamuk.

Ditambah lagi fakta bahwa ada masjid toyohashi di dekat kampus. Cuma butuh jalan 5-10 menit. Begitu argumen salah satu protestan dari, sebut saja negara komie di asia tenggara, setelah blunder di rapat ofisial tadi terjadi.

Sikil Note: Itulah sebab kenapa ini tulisan bergaya kosa dan gramar yg aneh n penuh sngktn. Agar org natip.jp yg make gugel trenslet tetep kaga bs baca ini artikel. Agar wong.asg yang kaga solat juga ga ngerti klopun make mbah gugel. Hanya org.id dg segala pengetahuan kultur dan reperensi yg bs baca, dg agak sakit mata dikit. Tapi keknya, gugel skrg muakin canggih-gih sich, jadi tetep aje kebaca separo. Moga mugi artikel ini ga begitu piral.

 

Namun, untungnya staf kampus paham benar butuhnya siswa akan langgar di kampus meskipun sudah ada masjid dengan jarak walkabel. Beruntungnya kami memiliki dosen yg paham, karena ia warga negara mayoritas islam. Beliau pun ngasi pengertian ke sang protester. Misal, case solat kalau cuma punya waktu di antara zemi dan kuliah. Atau hujan. Atau banyak use-case lainnya.

Dan beruntungnya lagi, Pak Rektor sekulakku ini juga penuh cinta.

Cahaya cinta perlahan menyilaukan!

Beliau mengadres keluhan yg di utara rapat. Beliau kemudian blusukan ke si langgar. Meliat gmn sie kondisinya. Dan beliau pun keciwa… Oh oh kacewa… Soalnya… itu kamar dan sekitarnya kaya kaga terawat sama sesungai.

Meskipun kecuwa, sang rektor tetap memberi kesempatan kedua kepada komunitas.

Itulah mimpi kehidupan kedua.
Mimpi itu dari mana datangnyaa?

Singkat cerita beliau pun meng-hard reset ruang ini. Lampu langsung dibenahi. Lantai dibersihkan dan diganti karpet baru. Dipasang hijab beneran, pake rel biar mantap biar bisa dibuka tutup kapan saja. Wastapel yang biasa dipakai tempat wudhu dan sudah dalam kondisi memprihatinkan, diganti total dg keran rendah supaya bisa cuci kaki. Plus kehangatan! Selang disambung ke water heater dan air yang keluar tidak lagi mematikan saat musim dingin.

Ruang jadi seperti baru! Seperti mimpi! Kok bisa ya?

Jawabnya ada di ujung langit.
Kita ke sana dengan seorang anak.
Anak yang tangkas,, dan juga pemberaniiii, hiiiii!!!

Reboisasi dilakukan selama kira-kira satu bulan. Saya terbelalak dengan dedikasi para staf dalam masa reparasi tersebut. Gara-gara komentar atau keluhan kami di rapat komunitas kan mereka jadi repot. Masalah administrasi negara tuh. Namun, mereka tetap berusaha untuk memenuhi kebutuhan kami dan merejuvenisasi kamar ini, yang sebenarnya bukan kewajiban kampus atau bahkan tidak boleh karena bisa jatuh ke favoritisme.

<Taruh Gambar Before/After Disini>
<HDD rusak sebelum artikel ini selesai, jadi fotonya ilang>
<Kalaupun dipasang nanti malah ketahuan ini kahyangan ada dimana>

Saya sering dimintai adobaisu dlm eksekusi reklamasi kamar ini. Contonya, kalo wudu itu bijimana. Biar nyaman. Hoo… Butuh ada tempat cuci kaki atau minimal keran agak rendah biar kagak harus ngangkat sikil ke wastapel. Hoo… Kalo bisa aernya anget biar kalau akhir tahun kagak menggigil. Hoo… Harus dikasi karpet biar kaga becek.

Kemudian soal merehabilitasi lantai ruangan yg menyedihkan. Bagusnya bijimana. Warna apa.

Kemudian soal merevitalisasi hijab pemisah area geulis dan kasep bijimana. Enaknya seberapa tinggi. Oh ya, sama mereka dibikinin rel hijab gan! Tadinya cuma digantung pake tali menyedihkan gitu. Sekarang tampak lebih keren dan lebih luas. Apa nggak wow!

Kemudian soal lemari enaknya gimana. Yang terakhir ini akhirnya tidak kongkret revolusinya. Karena alasan yg akan dikemukakan kemudian.

Saya efektiply jadi custodian of the *high realm. Pas reparasi dilakukan, pihak kampus meminta saya buat oversight mamang-mamangnya. Ngecekin doang sih sama nge-okay ukuran si mamang.
*High soalnya kan di lantai tertinggi di sekulaku. Haha…

However, from great power comes great responsibilities.

 

Reboisasi ini dilakukan dengan perjanjian. Antara pihak sekulaku dan pihak komunitas. Perjanjian non-formal tahu sama bakwan tentunya. Ringkasnya adl. sbg. berikut.

Satu, harus dijaga kerapihan dan kebersihan. Mesti ada kebersihan rutin mingguan. Vacum karpet. Jendela. Dan terpenting pel koridor dari tempat wudu ke high realm. Pun sepihak saya buat jadwal komunitas ID, MY, Others, dan TOGETHER setahun penuh buat bersih-bersih.

Namun sayang, pada praktiknya ID yg paling sering melakukan, MY kadang, Others entah kemane dan TOGETHER hampir tidak pernah. Pengennya yg others itu tahu jg ttg pentingnya perjanjian ini. Tapi mereka kan ga bisa baca artikel ini, by design.

Use it. Clean it. Ladies included!

Peraturan_simple.jpg

Dua, harus ada peraturan penggunaan. Tidak boleh simpan benda pribadi di ruang. Lampu mati kalau keluar ruang. Sajadah dirapikan kembali. Slipper jangan masuk. Dll. Kalau ada yg rusak, komunitas yg mengelola/mengganti/mencuci.

Sajadahnya dicuci dong gan!

Tiga, harus ada penyebaran sekaligus penanganan informasi. Peraturan harus dipastikan bisa turun ke generasi berikutnya. Generasi berikutnya harus paham status realm ini. Dan info ttg ruang harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan yg salah tidak diketahui non-komunitas. Basically, never claim that it is a langgar outside the community.

Yang terakhir ini juga meliputi pemakaian ruangan kalau ada komunitas lain pengen make (ketahuan gt). Makanya si hijab dibuat bisa buka tutup, biar ada alasan ini buat kamar ganti atau apa gitu. Juga perlengkapan sembayang juga harus dirapikan lagi, supaya kalau org lewat dan ga sengaja liat ga berkesan ini ruang buat sembayang.

Side note: Nah yg masalah lemari tadi, tadinya ada lemari yg mau ditaruh disini. Cuma lemarinya kaca. Dosen yg membela kami tadi gak setuju kalau kaca (tembus pandang, isi dalemnya keliatan). Dan kaga jadi deh dipindah. Jadi akhirnya soal lemari, janji sekulaku remains unsolved. Akhirnya, saya beli kotak aja buat tempat sejadahnya.

Psstt… Nothing’s here.

 

Begitulah ringkasan janji darah yg sekulaku dan kami bertiga setujui tersebut.

Dan artikel ini saya tulis juga sebagai benang merah, untuk generasi berapa tahun kemudian yg penasaran ttg sejarah. Dan jaga-jaga kali-kali hal-hal serupa lagi-lagi terjadi.

Dan sebelum lulus, karena saya orang Indonesia, saya menitipkan ruang ini ke PPI TY dan KMIT sebagai custodian resmi. Repot memang hampir selalu komunitas PPI yang ngepel ngilangin cap sepatu di lantai dan tangga. Tapi itu demi hidup kita sendiri kan. Syukurilah langgar di sekulaku tersebut. Dan bertarunglah untuknya.

Bertarunglah Dragon Ball!
Dengan segala kemampuan yang ada…
Bila kembali dari langit.
Semoga hidupkan jadi lebih baik.


 

A year later. A week ago. (habis draft ini terlantar setahun) I paid a visit to the angel. After being blessed by an awkward smile, pink blushed cheeks, and bright light on her victorious face. After I got some five minutes of pleasantries, much much more than I expected, deserved. After all of that, I turn my gaze to the high realm.

Agak kecewa juga. Sadajah yg cewe plus mukena ngumpel-ngumpel nggak masuk ke kotak. Kalau kurang kotaknya, bisa sediakan pribadi lah. Paling beli di amajon lima ratus. Di Daiso ada juga kok. Terus-terus, sepertinya mulai ada tanda-tanda meninggalkan barang pribadi ke ruangan tuh. Hm hm…

Tempelan pengumuman keknya yg udah tua banget, nggak di prin ulang. Sajadah bau. Bawa ke rumah, masukin mesin cuci, luas bawa lagi, keknya nggak respot deh.

Namun, cukup senang melihat jadwal giliran ngepel sudah diupdate sampai tahun depan (yg saya print cuma sampai 2017), dan yang tepenting lagi banyak terisi. Walaupun nggak penuh rapat setiap minggu seperti yang saya inginkan dan komunitas janjinkan ke sekulaku sih.

Slipper rapi dan lantai bersih. Yah not bad lah. Semoga bisa lebih baik.

Ngomong-ngomong, masalah langgar di sekula seperti ini harusnya adalah masalah internasional. Ndak cuma TY, tetapi juga kota-kota lain di Jepang, dan juga Eropa kan. Pihak sekulaku juga penasaran, sekula lain gimana sih ngelola kisah kasih seperti ini.

Bagaimana kisah langgar di sekulamu? Dare to share a story?

Mungkin berat melaksanakan tugas mengelola ruangan publik yang bukan kamar sendiri. Apalagi tanpa koordinasi. Namun, itu ruang punya kita. Kampus, dengan TRUST, ngasih pengelolaan ke komunitas. Bukan ke koordinator. Hey, kampus nggak wajib nyediain ini ruang in the first place! Setidaknya berjuanglah supaya tetap bisa menikmati ‘fasilitas’ ini.

Tugas yang berat!
Dilaksanakan!

Berjuang agar lebih baik…
Siapa yang dapat melaksanakannya
Dan berusaha mewujudkan…

Siapa lagi kalau bukan kita!!!

Semua itu demi hidup yang baik.
Hanya kita sendiri yang mampu..
Melaksanakannya!

Orang Jepang: Tiada Ekspektasi Politik

Suatu hari, saya di kantor ngobrol panjang dengan teman semeja. Sangat jarang lho di Jepang ngobrol pas lagi suasana kerja. Waktu itu temanya tentang… Jeng jeng jeng… Anime jaman dulu, dragon ball, sailor moon, card captor, doraemon, dll. Juga hobi koleksi stiker Bikkuriman salah satu senpai. Dan setelah ngobrol ngalur ngidul, nyerempet juga ke Trump dan politik jepang.

Saya cerita ke mereka. Kalau di Jepang, ketemu orang atau temen di jalan ngomongnya cuaca kan yak? Ya nggak juga lah, jawab temen saya di sebelah. Ternyata bayangan saya berbeda dg kenyataan. Terus saya melanjutkan, ngomongin politik nggak? Kalau orang Indonesia, ketemu temen atau orang nggak dikenal di jalan, politik terkini biasa jadi obrolan. Setidaknya half of the time lah.

Di Jepang? Nggak ada topik politik yang bisa diomongin, katanya.

Kehidupan politik dan kehidupan mereka seperti kankenai, nggak ada kaitannya. Setidaknya menurut mereka gitu. Mungkin mereka sudah sibuk dan pusing dengan urusan sekolah atau kantor kali ya. Menurut teman saya itu, orang Jepang tidak memiliki ekspektasi apa-apa ke para pejabat dan pemerintah. Apa mau mereka terserah lah, gitu mungkin ya.

Setelah googling, sentimen ini keknya bukan cuma dimiliki oleh teman semeja saya itu doang. Artikel Gaijinpot berikut juga sebelas dua belas dengan pengakuan mereka.

Mungkin, menurut saya, ketat dan tertatanya rutinitas serta aturan-hukum di Jepang, kecenderungan orang Jepang untuk menghindari konflik (tatemae, honne), dan modern-nya kehidupan disini punya kontribusi besar terhadap apatisme ke politik ini. Yah, tapi ini baru hipotesis nol dan harus diteliti lebih lanjut.


Oh ya, foto di atas adalah foto politisi lagi kampanye di Toyohashi. Disini kampanye harus gitu tuh, turun ke lapangan, teriak-teriak, memperkenalkan diri langsung ke rakyat. Dadah di pinggir atau perempatan jalan  ke orang atau mobil lewat. Atau pakai mobil pickup sambil menyuarakan kampanye.

Saya juga pernah liat orang kampanye di stasiun. Sayangnya semua orang yang lewat nyuekin. Lebih rame orang ngamen di sebelahnya daripada si politisi.


Artikel bagus lain terkait politik di Jepang, dari Gaijinpot.

 

Arti “Hmmm”…

Sering terjadi di kantor, ketika berdiskusi tentang kerjaan, teman memberikan usul atau pertanyaan atau dugaan (ttg error yg lagi didiskusikan), dan saya yang mendengar kemudian berpikir, menimbang usulnya, refleks menggumam:

Hmmm….

Si teman kemudian menjawab

ですね。‘Desune’ atau だろう。‘Darou’

alias ‘tul kan? Atau meneruskan seolah saya menyetujui usul tersebut atau menjawab pertanyaannya dengan jawaban “Ya”.

Hal ini rutin terjadi dan saya nggak tahu gimana menanganinya. Haduh haduh…

Oh ya, bagaimana kesalahpahaman tersebut bisa terjadi? Ada yang tahu? Ada yang tahuu??

Jadi begini. Dalam bahasa Jepang, Positive Acknowledgement ada dua macam. Yang satu, dan formal adalah

はい。‘Hai’

Dan yang satu lagi dan agak casual adalah

うん。‘Un’

Sudah lihat titik masalahnya? Orang Jepang nggak bisa membedakan Hm dan Un.

Orang Jepang kalau lagi mikir emang menggumam gimana ya? Di drama atau anime tahunya cuma.

ええと。‘Eeto’

Tapi menurut saya nuans-nya beda. Iya nggak sih? Orang kita hmm sama orang Jepang eeto. Kalau eeto itu kayaknya agak nggak tepat dipakai pas diskusi gt, apalagi sering-sering.

Saya juga pernah denger si temen menggumam dengan bunyi:

ふむふむ。‘Fumufumu’

Mungkin karena nggak ada huruf hu di bahasa Jepang, sebenarnya itu gumaman

Hmf Hmf…

kali yak… Namun bukannya hmmm… dan hmf… itu nuansa nya beda ya? Text-based alias di sms ataupun ngomong-based. Hmmm itu kalau lagi mikir, nggak tahu mau jawab ya atau tidak. Hmf itu lebih ke menghela nafas karena kecewa atau capek.  Dan yang fumufumu itu saya nangkapnya lebih ke kayaknya jawaban cenderung ke iya dibanding tidak atau sejenis oh gitu ya.

Jadi beda kan??

Entahlah. Hmmm….

Despair (for the US) and Maybe Conviction (for the World)

Technically, starting yesterday. January 20th, 2017. The start of reigning era of the exalted beloved great emperor, Donald Trump. The era of despair.

Just like the stage of a screenplay, the three act, we start the adventure act with HOPE. Eight years ago. When the protagonist get the initiative and the reader, the world, feels hope. But, this act usually ends with a low note. The villain gets the upper hand. The reader fears and the hero despairs. Just like that, now we are in the stage of DESPAIR.

However, if this follows the three act structure, the hero will stand up again. He will get his CONVICTION. And in the final stage, justice will prevail.

Kidding aside.

Saya mengikuti berita politik di US dua tahun belakang, bahkan lebih dari berita politik dari negeri saya sendiri. Yah, meskipun saya melihatnya lebih banyak dari kacamata late show comedy, seperti The Late Show with Stephen Colbert dan The Daily Show with Trevor Noah. Atau biasa dikena dengan perspektif libtards oleh orang-orang Amrik. Perspektif orang liberal retards. Yup saya orang liberal, sebuah kata yang kalau dibawa ke Indonesia artinya, atau lebih tepatnya, skopenya lain. Mungkin cerita untuk lain kali.

Politik di US, dan juga komedi-komedi malam itu sangat-sangat menarik menurut saya. Terkadang dunia nyata lebih pantas menjadi bahan tertawaan dibanding fiksi.

Yap, itulah Amerika Serikat sekarang. Bahan tertawaan. Berkat dear leader yang baru menjadi presiden kemarin. Ngomong-ngomong, saya agak kesal atau bingung ketika ditanya oleh orang Indonesia yg kurang mengikuti berita politik US seperti saya. Pertanyaannya begini:

Donald Trump itu rasis yak?

Biasanya saya cuma bisa menjawab: hehehe… Namun dalam hati saya meringis: the word “racist” doesn’t even scratch the surface.

Donald Trump itu: Rasis. Seksis. Demagouge. Dungu. Sok pinter. Sombong. Congkak. Bully. Pembohong. Compulsive Liar. Tiran. Fasis. Otoriter. Totaliter. Pervert. Ego maniak. Licik. Provokator. Dan ini semua belum bisa menjelaskan segala sifat dia.

And now, he has the strongest army in the world and a nuclear code.

Namun, setelah dipikir-pikir, dia jadi presiden sebenarnya nggak masalah bagi saya. Atau bagi kita, warga dunia lah. Now that the US is a laughing stock, with a deteriorating reputation, we can move on. Beberapa tahun ke depan, jika semua berjalan lancar, kepemimpinan dunia akan beralih. Kesempatan terbuka lebar bagi negara-negara lain untuk mengisi kekosongan tersebut.

Kesempatan bagi Indonesia juga tuh…


Note: Foto mode biru merah ala Poster HOPE Obama dibuat dengan beberapa klik via Lunapic. Yang jepret foto, saya tidak tahu. Maaf tidak bisa memberi kredit.

Tronton Baligo Iklan Berjalan

Satu hal yang saya temukan unik di Jepang adalah penggunaan tronton sebagai baligo berjalan. Seperti di foto di atas, si tronton ini dicat penuh dengan iklan. Kemudian si tronton kerjaannya hanya muter-muter wilayah pusat kota dengan lambat. Berjalan dengan sangat lambat. Kalau bisa kena lampu merah di setiap persimpangan, dia akan melakukannya.

Pertama kali saya melihat truk semacam ini, di Tokyo, iklan yang ditayangkan di truk adalah iklan sebuah grup band lokal atau grup idol. Foto membernya terpampang raksasa di bak putih tronton. Yang lebih unik bukanlah gambanya. Melainkan si truk juga menyetel lagu keras-keras. Lagu si band tersebut. Namanya juga iklan bukan? Jadi ya, yg diiklankan apa lagi kalau bukan lagu si grup band.

Nggak mesti grup band, produk lain juga bisa diiklankan di tronton ini rupanya. Dan tentu saja, pakai suara-suara juga dong.

Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini di Indonesia. Mungkin saya kurang gaul aja kali. Setidaknya di Bandung saya belum pernah lihat. Ada nggak ya di Indonesia?

Jika nggak ada, wah mungkin ini peluang bisnis tuh! Kalau di Bandung, diputer-puterin aja di wilayah Dago ke BIP dan BEC gitu aja. Yang saya pernah liat sih di becak atau angkot gitu-gitu. Kan luas penampangnya kecil tapi, kurang seru. Kalau tronton kan, mantab!

Namun, saya agak skeptis kalau hal ini bisa diterapkan di Indonesia. Satu hal ini bisa diterapkan di Jepang adalah ekstensifnya transportasi umum, terutama kereta subway. Lho, apa hubungannya kereta sama tronton? Karena banyaknya stasiun penguhubung tiap titik ramai kota menciptakan budaya jalan kaki. Pertokoan terkumpul di satu daerah yang ujung ke ujung terjangkau mudah dengan kaki. Dengan demikian, jalan yang ramai pejalan kaki ini bisa jadi sasaran empuk si baligo tronton.

Di Jepang banyak tempat yang seperti ini: pusat perbelanjaan super ramai dari ujung jalan ke ujung jalan lain. Di Indonesia, saya kurang paham. Kalaupun ada, biasanya toko-toko kecil (alias pasar) atau pedagang kaki lima. Dipinggir jalan raya pasti dipenuhi oleh tempat parkir. Trotoar pun sempit. Gimana orang mau jalan kaki,,,

iklan-berjalan-6

Btw, di Jepang baligo statik sepertinya nggak seramai di Indonesia. Biasanya mereka nemplok di gedung atau area parkir gitu, bukan dipinggir jalan random kayak di Indonesia. Bandingkan aja googling billboard in Japan sama billboard in Indonesia. Atau perasaan saya aja ya?

Saya juga agak penasaran, regulasi ttg periklanan di kendaraan ini bagaimana ya? Ada batasan atau pajak pajak tertentu nggak. Kalau baligo yang di perempatan atau tempat-tempat tetap begitu kan harusnya diregulasi ketat oleh pemerintah kota. Terkait erat dengan tata kota tuh.

Kalau di kendaraan, apalagi si kendaraan itu milik pribadi bijimana tuh? Kan nggak ada beda dengan truk pertamina mengecet badan truk dengan iklan perminyakan, atau truk Coca Cola berisi iklan orang minum Coca Cola.

Oh ya, foto-foto di atas adalah baligo tronton yang ada di Nagoya. Kebanyakan foto malam karena nemunya pas pulang kantor. Saya juga nggak ngerti yang diiklankan apa… Di Tokyo saya sering lihatnya grup band/idol. Mungkin karena liatnya di Akiba kali ya. Di Nagoya, pernah juga satu dua liat iklan band di tronton beginian. Sayangnya mau difoto kabur duluan truknya.

 

Sikat Gigi di Jepang Nggak Ada yang Bener

Entah perasaan saya aja atau gimana ya, saya merasa kalau sikat gigi di Jepang itu kok kawai-kawai gitu… Bukan gambar atau disainnya lho ya. Ukurannya. Kecil-kecil gitu.

Rasanya beda jauh dengan memakai sikat dari Indonesia. Agak nggak nyaman jadinya kalau dipakai. Awal-awal di Jepang, memakai sikat gigi imut ini sering kali merah-merah manis keluar dari gusi saya.

Ada juga sih ukuran yang lebih gede dari ukuran mainstream. Namun, jadi bukan memanjang, malah melebar jauh. Gemuk gitu….

Di gambar atas bisa diamati perbedaan antara sikat gigi di Jepang dan Indonesia. Tiga sikat gigi di kiri dibeli di Jepang. Sikat gigi paling kanan dibeli di Indonesia. Yang kedua dari kanan dikasih sama Singapore Air, jadi mungkin standar di Singapore kali lah ya. Sikat gigi Singapore kurang lebih berukuran sama dengan Indonesia.

Saya sengaja beli sikat dengan merek yang sama. Systema. Di Indonesia ngimpor juga mereka.

Tampak jelas kalau sikat gigi di Jepang cenderung lebih kecil. Ukuran yang paling banyak ditemukan bisa sampai separuh dari ukuran sikat gigi di Indonesia. Hm Hm… Mulut orang Jepang kecil-kecil atau biar hemat pemakaian odol apa ya…

Yang gemuk mungkin biar kalau menyikat vertikal lebih efisien kali ya… Tapi tetep nggak enak juga dipakai. Lama-lama ya biasa juga sih (saya hampir selalu make yang gede). Tapi rasanya nggak mantep gitu.

Entahlah. Mungkin ini cuma perasaan saya aja.

Bener gak sih?

 

Selebaran dari Pak Polisi Bandara Chubu

Awal tahun kemaren saya iseng lewat Chubu Centrair International Airport, kebetulan aja dari jalan-jalan ke Indonesia/Singapur, nggak ada salahnya mampir ini bandara. Baru keluar dari terminal kedatangan, seseorang berjas rapi mendatangi saya dan menyapa dengan sopan.

Mas-mas, orang mana mas? Anu, saya ini polisi nih… Boleh ngobrol sebentar nggak…

Kira-kira begitulah kalau di Indonesiakan ya…

Polisi ternyata. Tapi berpakaian p̶r̶e̶m̶a̶n̶ jas.

Beliau memperkenalkan diri, kemudian menanyakan asal saya dari mana, ada urusan apa di Jepang. Sambil obrolan mengalir minta saya menujukkan kartu identitas, kalau boleh, katanya. Nama perusahaan saya kerja. Pergi ke masjid atau nggak. Dan lain-lain.

Eh, kerja toh? Dulu lulus dari Toyohashi… Hm hm. Tinggal di Nakaku? Wah tahu itu dong, Mabes Polisi Nagoya yg di Nakaku. Pasti sering ke supermarket Yamanaka yak??

Polisinya ramah dan asyik. Saya tidak merasa risih atau terancam. Cuma capai aja setelah perjalanan lebih dari 36 jam. Yang saya rasakan obrolannya yaa kayak kita, orang Indonesia, kalau ketemu dan menyapa orang tak dikenal di jalan. Bedanya, orang tak dikenal ini kepo banget dan sambil mencatat apa yang diobrolkan.

Di akhir obrolan, Pak Polisi memberikan selebaran seperti berikut.

poster-polisi-chubu-1

Pak Polisinya bertanya,

Ini udah pernah belum dapat beginian??

Saya jawab sih belum. Nggak inget juga kayak udah kayak belum.

Sesaat sebelum sampai di Jepang, saya mendapat kabar buruk dari kolega di Jepang, bahwa ada orang Indonesia yg tertangkap melakukan tindakan kriminal. Merampok dan memukuli obaa-chan atau gimana. Saya kurang paham. Yang jelas, berita sedih ini sangat menyakiti komunitas Indonesia dan muslim di Jepang.

Jadi dalam hati saya mikir, apa pak polisi ini nongkrong dan mengintai orang-orang bermuka melayu yang baru keluar dari terminal kedatangan yak. Dengan kata lain, profiling… Tapi senggaknya mereka ramah dan sopan. Tujuannya juga buat ngasih pengumuman/ peringatan gitu-gitu. Nggak apa lah ya.

Selebarannya bolak-balik. Belakangnya seperti ini.

poster-polisi-chubu-2

Itu di paragraf terakhir.

Bila permukaan air tiba-tiba naik drastis, segera mengungsi ke dataran yang tinggi.

Okayyy…

Begitulah. Mungkin selebaran di atas bisa menjadi acuan untuk hidup di Jepang, bagi yang belum cukup beruntung untuk diobroli oleh Pak Pol di bandara.

Hati-hati di Jepang dan tetap erat ke komunitas-komunitas terdekat…

Meja di Lab: Tujuh Layar dalam Satu Waktu

Cuma mau pamer foto meja kerja saya di lab waktu kuliah master di TUT. Setahun terakhir sebelum lulus, kira-kira beginilah pemandangan tempat nongkrong saya. Dalam satu waktu, harus bisa memantau tujuh layar sekaligus.

Ketujuh layar tersebut adalah:

  1. Laptop pribadi, pekerjaan utama disimpan disini, ngelatex juga disini.
  2. PC Lab, sebagai server yang dipake buat riset tesis.
  3. Laptop i7 Lab, saya suruh kerja rodi learning sama testing macam-macam.
  4. PC Lab 2, nganggur pas Mas Igi lulus, daripada nggak dipake kan, mending buat bantu si laptop i7. Monitornya kadang buat extend laptop pribadi.
  5. Tablet, buat ngoding aplikasi android dan mengambil gambar muka sendiri
  6. Hape, nyetel Man with Mission atau One OK Rock dari yutub, atau Crash Course atau Kurzgesagt atau PBS Space Time, dkk.
  7. Epson, layar off-screen (foto di atas ya layarnya), buat ngambil gambar muka orang.

Note: Foto diambil dengan Epson Moverio BT-200 (Smart-glasses), yang mengambil foto juga tampak di tablet. Foto agak burek karena si printer kacamata cuma punya kamera dengan resolusi VGA.


Oh ya, pada konstelasi meja kerja di atas ada empat PC yang mesti dioperasikan antar sesama. Penasaran biar nggak repot kebanyakan mouse/keyboard? Space meja sempit gitu…

Saya pakai Synergy dari Symless. Ada beberapa alternative lain yang gratis sebenarnya, tapi berbatas (dua komputer misalnya) dan pas saya ngetes kadang entah kenapa nggak jalan juga. Pake Synergy lumayan, walaupun masih banyak ruang untuk improvement.

Re:Zero, A Masterpiece

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali.

Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!!

Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL:

IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION!

Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!!

Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya…

Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis!

Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini.

Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV Series, Sinetron, Film, Novel, VN, etc.) bisa buat seri artikel sendiri. Mungkin bisa diringkas dengan tiga kata: variasi, kedalaman, dan eksekusi. Namun itu bahasan untuk lain kali.

Intinya, saya sudah banyak nonton anime. Udah muak lah… Pahamlah sama semua klise, trope, dll. Namun, banyak hal yang baru saya alami setelah saya menonton Re:Zero di musim ini.

  • Pertama kali saya merasakan zetsubou (putus asa) yang mendalam setelah menonton episod dan masih terngiang hingga beberapa jam setelahnya. Harus nonton video kucing dulu supaya bisa tidur.
  • Pertama kali saya menonton episod yang sangat-sangat spektakuler, yang saya nggak bakal mau nonton ulang. Ehm, episod 15 ehm… Kenapa? Karena well, cek poin sebelum ini.
  • Pertama kali saya spontan teriak F word ke layar. Teriak lho… Teriak! You know, it’s not in my character to say that. Yes, the author of this series is a troll (reddit, point 3) .
    Note: by F word of course I mean: Friends!
  • Pertama kali saya tertawa ngakak melihat super panjangnya list kekuatan dari seorang tokoh super duper imba (ehm, Reinhart, ehm….) dan sangat bersyukur bukan dia yang jadi MC.
  • Pertama kali saya merasa nggak nyaman ngeliat MC yang lemah, pathetic, membohongi diri sendiri dan sekelilingnya, terus hampir gila kena trauma alias PTSD, tapi masih tetap lanjut nonton.

Dan belakangan, di episod 18.

  • Pertama kali saya menangis, literally meneteskan air mata. Bukan cuma mata haru, benar-benar merembas deras. Deras! Sepanjang episod!! Yang isinya padahal cuma dua orang berdiri di tempat yang sama. Separuh isinya monolog dan separuh laginya dialog.

Mungkin kira-kira kayak ini lah raut wajah waktu saya nonton.

Don’t get me wrong. Ada banyak contoh episod anime/ tv series yang isinya cuma dialog tapi sangat menarik untuk ditonton. Contoh konret: Bakemonogatari. Hampir semua episod malah! Ada banyak juga contoh anime/ tv series yang membuat saya terharu dan mengabutkan mata. Clannad, Tokyo Tower, AnoHana, Shigatsu Kimi no Uso, One liter of tears, dan banyak seri lainnya.

Namun, episod 18 Re:Zero ini… Is in a whole different dimension. 

Episod 18 ini saja, bisa mengalahkan semua romance di J-Drama, K-Drama, sinetron, holiwut atau boliwut manapun… Saya yakin nggak bakal ada drama live action itu bisa mengubek-ubek emosi melebihi episod ini.

Episod yang sangat-sangat super, sampai saya ragu mau nonton lagi. Nggak tahan sama emosi gan…

Supaya ngerti, bagi yang belum tahu ttg anime ini, sedikit overview. Premisnya, ttg seorang NEET bernama Subaru yang tiba-tiba nyasar ke dunia fantasy yang well kejam. Disini eh dia punya kekuatan seperti karakter di game. Dia punya save point, kalau mati bakal reset lagi ke save point tersebut. Starting from zero.

Nah, cerita Re:Zero ini mengisahkan bagaimana reaksi manusia biasa, manusia beneran kayak saya yang nulis blog ini dan Anda pembaca, dengan segala pola pikir dan psikologinya, saat ditaruh ke dunia fantasy dengan kekuatan absurd kayak premis di atas. Menghadapi rentetan tragedi. Didorong sampai ke titik nadir…

Sebuah story telling akan berusaha menempatkan tokoh utamanya (MC) sebagai seseorang yang relatable dengan pembacanya. Jadi pembaca bisa menempatkan diri di sepatunya si MC. Empati… Cerita yang bagus bakal membuat kita lebih dari empati. Membuat pembaca merasakan yang dirasakan oleh si MC, berpikir wajar kalau aing kena kejadian gini, aing akan berbuat, dan bereaksi demikian. And Re:Zero have an excellence job at it!!

Sangat rekomendasi untuk nonton episod ini. Namun, kayaknya kalau nggak nonton dari episod 1 ya nggak akan kena emosinya deh… Soalnya episode 18 ini puncak dari seluruh episode sebelumnya, dan akhir dari prolog cerita Re:Zero. Akhirnya, cerita sebenarnya dimulai juga.

Re:Zero asalnya dari web novel yang bisa dibaca disini (URL: http://ncode.syosetu.com/n2267be). Setelah musim ini selesai pengen banget baca, tapi kanjinya itu…

Trade-off between Kamejima Station and Honjin for Reaching Nagoya Mosque

Abstract. Nagoya mosque is located almost in the exact middle between Kamejima-station and Honjin station. Many people thought that Honjin-station is the nearest and thus the most convenient station to get off from and on to the city subway. Challenging this idea, we measure the travel time taken from both stations. Both stations is comparable in walking time. Finally, we argue that actually Kamejima-station is the better access for Nagoya mosque, considering topology, terrain, train schedule, and also the travel time itself.

Albadr Lutan Nasution (m.ln.albadr[at]gmail.com)

1. Background

The center of Islamic activity in Nagoya city is undoubtedly the Nagoya Muslim Mosque, located between Kamejima and Honjin station on Higashiyama Line in Nakamura-ku. It is the only mosque in Nagoya city center. Established in 1937, this mosque actually predates the city subway itself, even though current building are rebuilt in 1998 after the original mosque burnt down by US raid on World War II [1]. As redundant as it seems, the phrase “muslim mosque” in the mosque’s name may serve as disambiguation to other mosque in Nagoya city that not exactly fit as “Muslim”, i.e. Ahmadiyya etc. Though, it may be only the author’s bias and falls outside of the scope of this paper.

Being a new resident of Nagoya city and a muslim, the author will have to travel to the Nagoya Muslim Mosque frequently. Especially in Ramadan, maybe it will be almost everyday. The most convenient is public transportation notably Nagoya municipal subway. The muslim resident of and traveler to Nagoya is quite lucky, because the mosque is only one or two stations after the city center, Nagoya station.

Figure 1. Higashiyama Line.png

Figure 1. Position of Nagoya Mosque on Higashiyama Line

The subway station topology of Higashiyama Line from Nagoya station until Honjin station is presented in Figure 1. We can see that the Nagoya mosque is only one station away if we get off at Kamejima station and two stations away at Honjin station. Selecting between these two stations for hub to reach the mosque is the main concern of this paper.

The main motivation of this “research” is for author’s convenient. As the author travel to the mosque frequently, optimizing this travel will be very helpful in the long run. At the very least, this is simply a matter of curiosity and habit for him. For example, in the first month residing in Nagoya, the author took many different bicycle routes to go to work in order to find all possible paths. Thus, in the instance of a path is blocked due to traffic light, the author can immediately switch to the other path in which the traffic light is green. On the grand, it will improve the travel time to work tremendously.

2. General Consensus

It seems that there is a general consensus regarding the matter of which station is nearest to the Nagoya Muslim Mosque. This can be seen in the Figure 2 and most of maps available online. The author also observe that most worshippers will take the Honjin station to travel to and from the mosque.

Maps Kamejima-Honjin.PNG

Figure 2. Honjin station (left), Nagoya mosque (middle), and Kamejima station (right) on Wikimapia map [2]. North side is in the top.

Challenging this notion, the author tries to measure the walking distance and time from Nagoya mosque to both stations. The distance measurement can be done simply by Google map. The walking time (and possibly distance) can be measured by directly visiting and walking along the routes. The estimation is presented in the Table 1. This measurement is taken from the entrance of the mosque until the nearest entrance of both stations.

Table 1. Distance and time from Nagoya Muslim Mosque to nearest station entrances

Route to mosque Distance Walking Time
Kamejima 4th Entrance 443 meter around 6 min
Honjin 3th Entrance 337 meter around 4 min

From the Table 1, it is clear that Honjin station is the nearest station from Nagoya mosque and thus the general consensus to use this station for travel hub has a reason.

3. Further Measurement

The rest of this paper will assume the same constrain as the author for traveling to the mosque, which is the travel is to and from Nagoya station side or east side not Nakamura-ku side or the west side. This assumption probably hold for most muslim residing in Nagoya city.

In order to make fair judgement upon that assumption, the author then measure the travel distance to Nagoya mosque both using Kamejima station and using Honjin station from the platform of Kamejima station.

Therefore, if we choose Kamejima station as hub, the author will get off the train in Kamejima station, start the timer, exit the station using entrance 4th, and the walk eastward to Nagoya mosque.

Choosing Honjin station as hub, the author will NOT get off the train on Kamejima station. Instead, the author will start the timer approximately as the train depart from Kamejima station, then get off on Honjin station, exit using Honjin station entrance 3th, and walk westward to Nagoya mosque.

The measurement is done thrice. The average results are presented in Table 3. As a supporting evidence, video of each experiment is presented on Figure 3 and 4. The video is the same rate as recording, therefore the seeker’s elapsed time can be used as measurement time for this experiment.

Table 2. Time measurement of getting off at Kamejima station or Honjin station

Route to mosque Travel Time
Platform – Kamejima station 4th Entrance – mosque 7 min 23 s
Platrorm – Honjin station 3th Enrance – mosque 7 min 21 s

Figure 3. Kamejima station as hub

4. Discussion

We can see on Table 3 that actually the travel time are comparable for both hubs. The difference between travel time for the three experiments are not exceeded 30 seconds. The train’s travel time from Kamejima to Honjin is exactly* 1 min 30 seconds. Taking this travel time and not only walking time into account, this result may serve as evidence that it does not matter which station to choose to get off from.

*by “exactly” I mean to the last second

The variance of this travel time mainly because of the existence of big junction on the Kamejima station route, as we can see in Figure 2. This is probably the other reason that most people choose to get off in Honjin instead of Kamejima, as waiting the traffic light can be perceived to lengthen the travel distance and time to the mosque. In the experiments, the author blocked with the big junction’s traffic light twice. However, it takes only around maximum 30 seconds. When we are lucky to get the green light, we actually can arrive at the mosque faster than getting off from Honjin station.

The terrain inside both stations are also notable to mention. Honjin station has a complex terrain from the 3th Entrance. We have to descend very long stairs and then ascend another stairs again. We can see this on video on Figure 4 .Contrary to it, Kamejima station has very simple terrain. The platform gate can be found right after descending the first stairs from the entrance. Not to mention that there is an elevator on Kamejima station which is not exist on Honjin station.

Figure 4. Honjin station as hub

Travel time between the two station can also become a concern. In the case of going home and catching a train, choosing Kamejima station may be much better. Because that means that we can have the advantage of spare time around 1 minute and 30 seconds for waiting the train. An experienced traveler by train in Japan may realize that this is a tremendous amount of time.

5. Conclusion

We presented some evidence that getting off from Kamejima station to reach Nagoya mosque and conversely getting on Kamejima station to go home from the mosque is way better than Honjin station. This strips the general consensus that Honjin station is nearer to the mosque and thus more convenient.

The travel time itself, including train travel time, walking time, and waiting the traffic light time are comparable. However, considering many other variables such as topology, terrain, and time schedule, Kamejima station is the better choice.

Reference

[1] Nagoya mosque history (URL: en.nagoyamosque.com/nagoyamosque/history)
[2] Wikimapia Map – 名古屋モスク (URL: wikimapia.org/2130855/ja/名古屋モスク)

Lebaran di Nagoya

Ied Mubarak, 皆さん。

Hari ini saya shalat idul fitri untuk pertama kali di Nagoya. Shalat ied disini tidak di masjid. Masjid Nagoya soalnya super sempit sekali. Untuk shalat jumat saja sudah penuh sesak tiga lantai. Maklum, ukuran satu ruangnya mungkin hanya sebesar ruangan apartemen sedang.

Shalat dialihkan ke Port Messe Nagoya. Sebuah hall internasional di dekat stasiun Kinjo Futo. Pelabuhan Nagoya sana. Dengan kata lain: jauuuhh…

Harus naik Aonami-line yang mahal, dari ujung ke ujung. Dari stasiun Nagoya memakan waktu sekitar 30 menit, seharga 350 yen.

Shalat dimulai pukul 10 pagi. Agak beda dari yang lain nih. Mungkin karena jauhnya itu kali ya. Dan spot ini ternyata aggregat untuk wilayah yang cukup luas. Seluruh Kota Nagoya saja sudah sangat luas untuk ditampung di hanya satu hall internasional.

Dan ternyata, memang sangat sesak sekali. Hall yang seluas ini aja tidak cukup. Shafnya harus berhemat. Kalau bisa sujud di sela-sela kaki shaf depannya.

Di dalam hall, penuh sesak.JPG

Malah dengar-dengar, di masjid Shin-Anjo malah shalatnya dua kloter. Saking gak muatnya… Ndak tahu juga sih, harus klarifikasi dulu sama penghuni disana.

Namun, suasanya tadi keren juga. Banyak sekali orang islam. Bukan cuma orang asing, tidak sedikit juga muka-muka perisai penduduk lokal berseliweran memakai baju koko. Seolah bukan di negeri non muslim.

Ketika naik kereta dari stasiun Nagoya, Aonami line, kereta dipenuhi muslim. Duduk kiri kanan depan bisa dijumpai muka-muka jawa. Di stasiun akhir, saat keluar kereta dan turun ekskalator, orang Jepang jadi minoritas. Agak lucu juga ngeliat sign-sign stasiun kanji tapi orang-orang yg lewat pake gamis, batik, jenggotan, jilbaban. Sayang saya tidak sempat memfoto.

Penasaran, orang Jepang yg minoritas tadi kepikiran apa ya pas dia keluar stasiun.

Di lokasi, mungkin ada sekitar 2000-an orang lebih kali.

Sayangnya, mungkin karena saya masih baru di kota ini, jarang ada yang kenal. T.T. Lebaran tapi nggak bisa silaturahim. Orang yg disapa di lokasi hari ini bisa dihitung dengan jari dua tangan.

Pulang shalat saya kembali ke Nagoya station, makan disana nyobain restoran India baru, terus langsung ke kantor. Giri-giri jam 1. Back to work… Haha… Hiks.

Btw, saya penasaran dengan manajemen masjidnya. Sewa hall sebesar itu berapa ya? Darimana dananya? Gimana cara mesennya, publikasi event ke seluruh Nagoya?

Terus pengelola masjid sebelum soal ied cerita/curhat ttg. banyak banget mualaf tiap hari di sini, sayangnya mereka nggak bisa masuk masjid. Kenapa? Karena kalau masuk, ngobrol sama muslim “senior” mereka diwanti-wanti nggak boleh ini nggak boleh itu. Nggak ramah lah. Sedih, para senior itu terlalu strict untuk keluarga barunya sendiri. Tanpa memikirkan perasaannya, situasi keluarga, kondisi iman, dll. Don’t be too hard man! Dan juga, kata Pak Pengeola, masalah lain-lain. Cerita untuk lain kali.

Semoga bisa dimudahkan urusan mereka, kami, dan kita komunitas muslim di Jepang ini untuk masa depan.

 

Pengen Nulis Jurnal

Saya lagi penasaran dengan aplikasi, kalau bisa mobile, buat nulis jurnal. Ada gak ya yang bagus? Belum nyari bener-bener sih, tapi sekilas liat kok jelek semua.

Jurnal? Bukan-bukan, bukan jurnal yang itu. Yang saya ngutang dua agan itu, bukan lah! Maksudnya jurnal disini buku harian. Tapi dibilang buku harian kok kayaknya gmn gt. Pertama, kayak kesan norak atau melankolis, kan kata jurnal lebih elegan, hehe. Kedua, nggak nyari yang harian juga. Apps yg saya sekilas lihat tadi itu yg mode harian, makanya jelek.

Jadi, saya dulu sebenarnya juga sempat meniatkan diri untuk menulis jurnal/ buku harian/ atau apalah itu. Pokoknya, catatan pribadi untuk diri di masa depan yang bersifat rahasia. Blog pribadi lah. Saya dulu nulis di buku beneran. Hitung-hitung melatih tulisan tangan, sama mencurahkan keluh kesah. Cie… Saya dulu memulainya karena membaca sebuah buku ttg menulis, saya lupa judulnya. Disarankan oleh Mbak Ilmi Hapsari Dewi, istrinya kak Bachtiar, kakaknya Annas. (ada yg kenal?)

Setelah kurang lebih setahun, makin lama makin jarang. Akhirnya, kejarangannya makin melebar dan tertinggal lah jurnal hitam itu. Memang hal yang bersifat rutinitas gini gak boleh ditinggalkan barang sehari, kalau nggak hilang kebiasaannya.

Malu ah, Jangan diliat!

Kuliah di Jepang, mahasiswa dibiasakan untuk membuat catatan pribadi. Nggak juga sih sebenarnya. Cuma karena ada GROUP MEETING tiap minggu, jadi harus membuat slide presentasi laporan progress ke grup riset tiap minggu. Biasanya isinya:

  • Rencana minggu ini
  • Hal yang dilakukan dan hasil capaian/ masalah
  • Rencana selanjutnya

Kemudian tiap sebulan sekali, ada ZENTAI MEETING yang mengharuskan grup tertentu presentasi kemajuan untuk bulan kemaren. Jadi, suka nggak suka, tiba-tiba punya jurnal ttg riset sendiri aja deh.

Btw, mayoritas mahasiswa Jepang menyebut meeting disini dengan kata ZEMI. Bisa dikatakan mutlak “semua” mahasiswa Jepang. Kata ini begitu dewa yg jika disebut bisa digunakan untuk menolak tawaran, event, ajakan, atau minta tolong apapun. APAPUN!!! Namun, di lab saya kata ZEMI ini sama sekali tidak dikenal. Agak aneh ya? Mungkin karena kata ini nggak begitu presisi digunakan, apalagi sebagai one phrase to catch them all. Cerita untuk lain kali.

Nah, saat saya mulai kerja, satu hal yang pertama diajarkan oleh bos saya adalah membuat 日報 (nippou) alias laporan harian. Templat yang beliau beri adalah sebagai berikut:

  1. Planned Tasks
    Rencana hari ini, sebaiknya pikirkan 30 menit di awal hari
  2. Results
    Apa aja capaian, semua rencana berhasil kah? Gagal kah?
  3. Learned Items
    Hari ini pasti ada hal baru yang dipelajari. Tulis!
  4. Thoughts
    Ini bagian yg paling penting. Atasan biasanya baca bagian ini doang. Untuk diri sendiri di masa depan juga penting buat refleksi.
Laporan Progress

Tipikal Slide Laporan Progress

Selama tiga bulan ini, saya menulis jurnal harian tersebut. Awal-awal saya menyisakan waktu sebentar di akhir hari untuk menulis, setengah sampai satu jam. Lama kelamaan, setiap saya menyelesaikan sesuatu, ada hasil (buruk/baik), atau ada pikiran tertentu saya langsung tulis tanpa harus menunggu akhir hari. Lebih enak gini, nggak berat mikir/mengingat sebelum pulang dan catatannya lebih lengkap.

Hasilnya seru juga. Saya jadi ingat oh waktu itu pernah melakukan hal itu, eksperimen parameter ini hasilnya gini. Semua detail ada catatannya di email. Benri!

Begitulah ceritanya. Saya jadi tertarik lagi buat menulis buku harian jurnal untuk keseharian. Mungkin bisa berguna di masa depan kelak.

Lagi jalan, tiba-tiba liat ada toko bagus, catet-foto-simpan. Eh, ketemu orang baru, catet lagi entri sedikit. Kepikiran sesuatu, pengen beli itu, atau lagi galau nih, atau ada ide blog! Buka apps bentar, ketika satu kalimat, beres. Simpel kayaknya ya.

Kalau di anime mungkin jadinya kayak si Yuki di Mirai Nikki deh. Hehe… Nggak separah itu juga sih.

1715_phone

Nah, kembali ke aplikasi hape tadi, belum nemu yg kayak gitu. Kebanyakan harus membuat entri harian, pilih tanggal, terus tulis puanjang. “Today I met…”

Nggak ada ya yang UI-nya cuma kotak teks polos satu, kayak mesej. Terus tulis, enter deh. Si apps langsung catat tanggal nulis, tempat (opsional), atau ada pilihan tag di bawah. Simpel kan. Masak nggak ada sih??

Ada gan! Namanya: Twitter. <.<

Oh. My.