Pos-pos Terbaru

Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang

Saya ingin membahas tentang lebarnya pendapat komunitas muslim tentang halal dan haram makanan di Jepang. Tujuan artikel ini bukan untuk memberi petunjuk atau bahkan fatwa seperti: makanan halal itu yang seperti ini-ini dan haram itu-itu. Melainkan, lebih berfokus ke realitas di lapangan. Bahwa banyak perbedaan pendapat ttg batasan makanan yang boleh dikonsumsi muslim di Jepang.

Pembaca bisa menimbang antar pendapat satu dan pendapat yang lain di artikel ini kemudian mencari lebih lanjut dalil-dalil pendukungnya. Artikel ini juga tidak akan mengutip dalil atau kaidah halal haram dalam islam karena penulis tidak memiliki kapasitas disana. Sekali lagi, fokus artikel ini adalah lebarnya spektrum pendapat di lapangan.

Juga di luar scope artikel ini untuk memberi daftar produk/merek snack yang halal dan produk/merek yang haram. Jika Anda mencari hal tersebut, saya sarankan untuk membaca artikel dari KMI Sendai dan PPI Tokodai berikut. Atau situs yang sering menjadi acuan teman-teman, halaljepun. Untuk kaidah yang lebih ilmiah, silakan kunjungi ustadz terdekat.

Sekali lagi yang harus dicatat bahwa pendapat-pendapat disini bukanlah pendapat saya dan saya tidak meng-endorse-nya. Saya juga akan berusaha untuk bersikap netral dan menyembunyikan yang mana yang pendapat saya atau yang biasa saya/teman-teman lakukan agar tidak ada judgment kepada pemegang pendapat seberangnya. Juga yang mana pendapat yang “mainstream”, karena mainstream bagi lingkungan saya mungkin berbeda bagi lingkungan lain.

Artikel ini pada akhirnya bertujuan sebagai pengaya dan titik diskusi, bukan sebagai pendakwa atau titik acu.


Konsensus: Daging Babi dan Minuman Alkohol itu Haram

Dari lebarnya spektrum yang akan kita bahas, terdapat satu konsensus utama yakni daging babi dan minuman beralkohol itu haram. Dengan demikian, artikel ini dengan sengaja mengesampingkan pendapat orang yang katanya islam tetapi entah kenapa masih makan daging babi dan minum alkohol.

Penekanan yang ada di dalam konsensus ini adalah kata daging dan kata minuman. Daging dalam artian, babi masih berwujud otot atau gilingan. Minum dalam artian, alkohol masih berwujud cairan nyata yang dapat diminum. Makan daging babi yang masih tampak seperti daging dan minum alkohol yang masih dalam bentuk minuman tidak termasuk dalam bahasan artikel ini. Jelas HAROM.

Namun, turunan dari kedua zat ini, masih fair game. Karena penekanan dari dua benda tadi berbeda, bahasan keduanya dalam artikel ini bisa berbeda. Dengan penekanan di daging, turunan babi  yang berupa daging (e.g. bacon, ham) tidak akan masuk dalam bahasan ini. Dengan penekaan di minum, tidak akan ada bahasan tentang minuman beralkohol, tetapi akan ada bahasan ttg turunan alkohol yang bukan minuman disini.


Daging Biasa: Yang Dijual dan Dimakan Orang Jepang

Perbedaan pendapat dimulai dari daging supermarket biasa. Dengan kata lain daging sapi dan ayam yang dijual dan dimakan oleh orang Jepang.

niku-di-supa

Pendapat pertama mengatakan bahwa sama seperti di negara manapun (Indonesia misalnya), kita tidak bisa memastikan kalau si hewan yang udah jadi daging itu dipotong dengan cara islami atau tidak. Pendapat ini memegang prinsip “kalau tidak tahu, ya bole-bole aja…“. Di Indonesia pun, siapapun yang menjual, apakah dia orang Tionghoa, Batak, Sunda, atau Jawa, tidak pernah ada yang mempertanyakan atau menelusuri detail sejarah si daging, atau latar belakang sang penjual.

Pendapat lain mengatakan bahwa Jepang adalah negara non-muslim. Bahkan non-ahli kitab alias politeis. Dari fakta tersebut ditambah deduksi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar daging yang dijual bebas disini tidak dipotong dengan cara islami, alias tidak halal. Memang tidak semua, tetapi pemegang pendapat ini lebih berhati-hati dengan daging dan menjauhi semua makanan lokal yang mengandung daging. Persis seperti vegetarian.

Orang dengan pendapat pertama tidak akan ragu untuk masuk ke restoran Jepang dan memandang orang dengan pendapat kedua menganiaya/mendzalimi diri sendiritidak menikmati hidup, atau fanatik mungkin. Sebaliknya, orang dengan pendapat kedua tidak akan memakan bahkan madu kalau ada kanji daging di komposisinya dan memandang pendapat pertama sebagai ceroboh atau ignorant.

Efek dari kedua pendapat ini sangat besar. Sebagian besar diskusi atau kontroversi pendapat di artikel ini tidak akan berlaku bagi pemegang pendapat pertama. Sebaliknya orang dengan pendapat kedua akan memburu kanji 肉 pada setiap produk berkemasan dan mengeliminasinya.


Daging Australia

Saizeriya Aussie Menu

P.S. Menu Saizeriya yg paling atas ada bacon-nya, jadi tetep aja ga boleh dimakan

Perpanjangan dari topik sebelumnya, terdapat juga perbedaan pendapat antara daging ahli kitab daging yang diimpor dari negara ahli-kitab (baca: barat i.e. Benua Australia, Benua Eropa, Benua Amerika).

 

Saya belum pernah mengunjungi negara ahli-kitab (baca: negara dengan mayoritas penduduk beragama kristiani), jadi saya tidak tahu bagaimana komunitas muslim disana membedakan antara daging sapi halal dan tidak halal. Kami yang di Jepang ini penasaran juga. Mungkin ada yang bersedia menulis?

Yang jelas, dua pendapat yang berbeda mencuat.

Satu pendapat, negara ahli-kitab? OK. Negara politeisme? NOK.

Satu pendapat lain, mau ahli mau pakar, tunjukkan dulu logo halalnya baru OK.

Konsekuensinya adalah saat pergi ke restoran. Misalnya, beberapa tahun lalu Sukiya – restoran sashimi daging dan ikan – rumornya mengimpor daging dari Australia. Dengan demikian, sebagian orang makan disana. Sebagian yang lain, kalau diajak nggak mau karena tetap nggak jelas dari Australianya agen halal atau agen biasa. Sayangnya, Sukiya kabarnya tidak memakai daging Australia lagi saat saya datang ke Jepang, sehingga saya tidak mengalami langsung konflik tersebut.

Contoh yang lebih modern (2017) adalah adanya menu dengan Daging Australia di Saizeriya. Nah, boleh dimakan nggak tuh?


Daging Ayam Brazil Halal

Daging ayam berlogo halal yang paling mainstream di Jepang adalah produk impor dari Brazil. Biasanya bermerk Seria atau Sadia. Daging ayam ini dijual di toko-toko halal. Toko Jepang mainstream seperti Gyoumu Supa dan Amica juga menjualnya. Terkadang saya juga nemu ayam utuh ini dijual di random warung atau supermarket yang nggak ada bau-bau toko halalnya.

Daging ini ada logo halalnya. Jadi, halal?

brand-seara

Tidak menurut sebagian brader dari Pakistan dengan alasan yang tidak saya pahami. Yang jelas, mereka agak nggak suka kalau disuguhi daging ayam yang diolah dari ayam utuh Brazil berlogo halal ini.

Mereka -brader- tidak percaya bahwa logo halal di produknya itu valid. Brazil gitu loh? Emangnya siapa yang kepikiran orang islam kalau dengar kata “Brazil”? ^^ Saya tidak begitu mengerti tapi isu yang saya dengar adalah sebagai berikut. Rumornya ada syekh dari brader-brader tersebut menanyakan entah ke supliernya atau importirnya atau perusahaan di Brazilnya dan pas ditanya (atau dikunjungi? entahlah) jawaban yang mereka beri tidak meyakinkan.

Begitulah. Update 2017.03.26 Ada skandal suap, pemalsuan sertifikat, dan kelalaian standar kebersihan di Brazil mencuat. Ternyata isu brader… ada benarnya. Skandal ini juga mencakup produsen Seara dan Sadia, namun sepertinya lebih ke masalah keuangan dibanding kebersihan. Meskipun begitu, sepertinya reaksi pemerintah Jepang adl. membatasi impor daging dari Brazil.

Jadi brader makan daging mana? Para brader beli daging halal yang disembelih di Jepang. Mungkin karena yang punya tokonya adalah brader juga, jadi mereka kenal dan yakin atau gimana gitu.

Saya menemukan banyak logo halal yang unik-unik di Gyomu Supa, misal halal Denmark, Eropa, Filipin. Negara-negara yang nggak kita pikirkan kalau bakal ada lembaga sertifikasi halalnya lah. Dan logo halal adalah tanda paling mudah bagi kita untuk mempercayai kehalalalan sebuah produk. Agak ragu juga sebenarnya dengan logo halal yang nggak pernah dengar sebelumnya tersebut. Kemudian ada berita juga di Korea, kasus pemalsuan logo halal ini sangat mewabah.

Topik ini mencuatkan pertanyaan apakah logo halal itu sendiri bisa dipercaya? Namun, kalau kita tidak mempercayai tanda halal di produk ini, apa lagi dong yang bisa kita percaya ya…

Hal yg terkait dengan ini adalah kasus berikut. Kalau kita datang ke sebuah restauran dan bertanya, ini dagingnya halal tidak (sering dilakukan orang ke resto India/Nepal) lalu dijawab “iya”, apa yg membuat kita percaya? Bisa jadi mereka bahkan ga tahu konsep halal itu bijimana.

Mirin, Seperti di Sushi atau Udon atau lain-lain

Topik selanjutnya: Mirin. Zat yang belum pernah saya denger pas di Indonesia ini adalah bumbu dapur berupa cairan yang mengandung alkohol berkadar tinggi, biasa dipakai untuk tumisan atau makanan berkuah. Hal yang sangat menyebalkan karena muslim di Jepang hobi makan sushi, soba, dan udon. Karena, well, makanan tersebut adalah makanan Jepang buanget yang tidak mengandung daging sama sekali.

Toko udon favorit di toyohashi.jpg

Toko udon favorit di Toyohashi.

Ditambah lagi banyak rumor ttg toko sushi sana boleh, toko sushi sini ada mirinnya, toko sushi situ cuma menu tertentu bertebaran hampir secara periodik, membuat komunitas flip-flop dan bingung menyikapi sushi. Hal inilah yang membuat kasus spesifik ini patut dicatat di artikel ini.

Beberapa orang mengabaikan apakah sushi mengandung mirin atau tidak. Sebentar… Mengabaikan mungkin kata yang terlalu kasar. Lebih tepatnya, membuat asumsi by default sushi itu boleh dimakan sampai ada bukti (atau rumor) kalau dia mengandung mirin.

Beberapa benar-benar mengabaikan rumor tersebut. Wong sushi gini… Mana bisa mabuk makan sushi banyak-banyak, walaupun ada mirin-nya.

Beberapa yang lain agak paranoid, menjauhi sushi yang pernah terdengar rumor bahwa ia berimirin, barang sedikitpun. Atau bahkan semua jenis sushi.

Ada yang bertanya, orang Jepang memakai mirin untuk minum-minum nggak? Kemudian dilanjutkan, kalau diminum banyak-banyak memabukkan nggak? Kalau nggak kan berarti ya boleh aja, bermirin atau tidak.

Pertanyaan yang pertama jawabannya iya, zaman dulu kala [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era … Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

Untuk pertanyaan kedua, entahlah. Karena dulu dipakai untuk minum-minum, ya kemungkinan besar memabukkan juga kali ya. Sehingga bisa disimpulkan karena banyaknya memabukkan thus haram, ergo, sedikitnya pun haram.

2302_03

Sumber: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

Setidaknya itu pendapat sebagian orang. Sebagian komunitas lainnya melihat, produknya atau makanannya, bukan komposisinya. Dengan kata lain, sushinya bukan mirinnya. Hal yang membawa kita ke topik berikutnya.

Makanan Ber-(senyawa)-alkohol

Bagaimana kalau makanan tersebut disiram alkohol, kemudian 1 detik kemudian ia menguap lalu hilang sama sekali?

Bagaimana kalau makanan tersebut berkadar alkohol yang sangat sedikit? Alkohol dari alam? Durian, tape, legen beralkohol tetapi undoubtly halal kan?, sekali lagi bagi sebagian besar pendapat.

Bagaimana kalau makanan itu tadinya berbahan alkohol, tapi sekarang bukan berwujud alkohol? Cuka aja boleh…

Semua variasi ini bisa memiliki spektrum pendapat masing-masing, pendapat sejumlah kepala yang ada. Perbedaan ini dikarenakan beda interpretasi antara khamr dan alkohol. Khamr, memabukkan. Hampir semua alkohol memabukkan. Yap, hampir tapi tidak semua.

Tidak cuma kita-kita yang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, para ahli pun sepertinya tidak bisa memberikan jawaban yang simpel, jelas dan konsisten. Titik temunya sulit disepakati. Setiap sertifikasi halal pun punya standar persentase alkohol maksimal masing-masing. Nah, apalagi orang-orang yang dibawah kayak kita. Pasti eksekusinya juga pusing dan tidak konsisten.

Contoh tidak konsisten misalnya, sebut saja si A* sangat suka durian. Kan halal. Namun, choco-chips yang ada kanji 酒 sake-nya, menjauhi. Padahal mungkin persentase alkohol di durian lebih besar dari pada di snack tersebut dan nggak pernah dengar tuh ada orang mabuk makan choco-chips banyak-banyak. But who knows…

*) Siapa itu si A. Karena batasan netralitas pendapat di artikel ini, saya tidak akan memberitahu siapa itu A. Wink.. wink..

Tidak hanya soal alkohol tadi, soal perubahan senyawa molekuler juga sepertinya masih menjadi perdebatan para ahli. Molekul ini dari babi, tapi udah berubah, atau cuma untuk dimakan bakteri dan bakteri menghasilkan molekul lain. Topik sulit yang tidak akan dibahas di artikel ini. Hal ini terkait dengan zat-zat komposisi yang akan menjadi topik selanjutnya. Yap, bahan makanan jadi bahan pertimbangan buat makan di Jepang disini. Nggak kayak di Indonesia. Ada zat yang meragukan dan ada yang tidak.

Minuman “Keras” Alkohol Nol Persen

Sebelum membahas lebih lanjut ttg zat meragukan tersebut pada komposisi makanan dan zat turunannya, mumpung lagi membahas Alkohol, mari kita sisipkan topik ttg minuman tidak beralkohol.

Es teh manis?

Bukan lah. Misalnya, bir non-alkohol atau wishkey zero alkohol, dan semacamnya. Katanya di arab banyak yang kayak ginian.

0-00_abv_beers

Foto dari Non-alcoholic beverage [Wikipedia]. Saya nggak beli lho!

Kalau saya, kok ragu kalau itu boleh diminum. Alkohol nol persen ya apa sama dengan tidak memabukkan? Yang jelas ada muslim yang yakin kalau minuman tersebut boleh diminum.

MUI sendiri menfatwakan bahwa makanan dengan nama haram (misal: teh merek Whiskey) atau makanan yg direkayasa supaya jadi berasa seperti rasa makanan yang haram (bumbu perasa babi yg nggak dari babi), jadi haram juga (Fatwa MUI 4/2003).

Meskipun masalah legalitas seperti hukum, fatwa, dan dalil di luar bahasan artikel ini, terkait dengan fatwa tadi, bagaimana dengan bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Balik ke Jepang. Disini bir dan semacamnya dijual bebas di mana saja, di warung pun buanyak variasinya. Saya sih jarang mendengar eksistensi minum keras zero alkohol disini, dan kayaknya komunitas disini juga tidak terlalu peduli dg eksistensinya. Well, move on ke topik selanjutnya.

Zat Turunan pada Ingredients

Nah, saatnya membahas gajah di ruangan. Nggak gajah juga sih, kan senyawa zat kecil-kecil. Zat turunan yang saya maksud ini ditemukan di bahan makanan, tertulis di daftar komposisi di balik kemasan makanan.

o0604040313218925372

Sumber: ameblo.jp. Coklat tanpa nyukazai. Pernah dapat coklat ini dari anak SMP Jepang pas pertemuan pertama Aichi Scholarship. Mereka jualan coklat ini untuk charity katanya.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

Daftar ini bisa melebar luas, termasuk tetapi tidak terbatas pada: lemak, gelatin, shortening, jelly, nyuukazai (emulsifier), margarin, butter, karamel, cream, yeast, asam amino, soyu (soy sauce), white vanili, dll.

Bahan-bahan makanan yang dijauhi tersebut biasanya karena tidak jelasnya asal muasal mereka. Kebanyakan dari keluarga turunan babi, misalnya emulsifier dari babi dan seterusnya. Namun ada juga emulsifier yang bukan dari babi. Karena tidak tahu yang mana, jadi tidak jelas lah.

Setiap item di watch out list itu bisa menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Nah menyikapi hal ini secara umum pun bisa menjadi pendapat yang berbeda juga. Kaum kalau tidak tahu tidak apa-apa, tidak akan melihat eksistensi tulisan tersebut di komposisi. Kaum paranoid akan memburu semua kanji dan kana dari daftar list mereka dan menjauhi semua makanan bertuliskan kanji-kana tersebut. Kaum takut tapi penasaran rasanya kayak mana akan menelpon si pembuat makanan untuk memastikan bahan makanan tadi terbuat dari apa.

Kaum yang terakhir saya sebut tadi biasanya akan dipandang jadi hero (atau jadi villain?) ketika mengumumkan produk ini boleh-tidak boleh karena alasan ini ana itu. Yang akan dibahas pada dua topik terakhir.

Double Derivative: Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan

Namun sebelum membahas dua topik tadi, mari sedikit mengekstensi topik sebelumnya sedikit. Mungkin sudah jelas di judul yak, ttg.  “Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan”.

Maksud loehh?

Lihat kembali di daftar “watch-out”-items pada topik sebelumnya. Dua item terakhir adalah soyu dan white vanili. Ekstrak kedelai dan vanila putih. Hal yang kalau dilihat dari namanya, tidak ada bau-bau mencurigakan. Bukan? Namun, ada beberapa orang yang menjauhinya dengan argumen sebagai berikut.

Jadi, soyu itu soy sauce alias saus kedelai. Soyu sebagai produk di supermarket, botolan, satuan ada yang mengandung alkohol (kanji 酒) dan ada yang tidak. Jadi ada yang boleh ada yang tidak. Are you with me?

Nah, ada produk makanan lain tuh. Misal apa deh, roti kek atau snack. Eh, dilihat di belakang bungkusnya ada tulisan soyu. Jeng-jeng-jeng…. Nah lho, nah lho. Boleh nggak tuh?

Karena fakta di lapangan yang bisa kita saksikan sendiri (di supermarket, misal) bahwa ada soyu yang boleh dan nggak boleh, meragukan, ergo si roti tadi juga meragukan sampai diketahui si soyu ini komposisinya bagaimana. Jadi, rotinya mending dijauhi.

Yang lain berpendapat, chotto matte! soy sauce ya soy sauce. White vanili ya white vanili. Jangan menyetarakan produk bahan dan produk jadi. Produk pabrik dan produk konsumen. Logikanya, pabrik kalau memesan dan mencantumkan bahan ya bahan murni. Bukan bahan turunan. Kalau turunan berarti bahannya bahan tadi juga merupakan bahan dan harus dicantumkan juga, bukan? Kalau begitu, produk yang mengandung coklat semua meragukan karena ada coklat yang mengandung alkohol ada juga yang tidak.

Argumentasi pada topik terakhir ini cast doubt, apa lagi ini indonesianya, memancarkan bayang keraguan pada daftar komposisi itu sendiri. Bisa dipercaya atau tidak kah?

Untung saja ada kaum takut tapi penasaran pengen nyoba yang terdepan dalam mengonfirmasikan hal-hal tersebut ke produsen langsung. Bisa nunggu laporan mereka lah. Eh.. Tapi kalau daftar komposisi di kemasan nggak bisa dipercaya,  konfirmasi dari produsen bisa dipercaya nggak ya? Hm…



Halal Berbatas: Waktu/Serial Number/Tempat/Bungkus

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

Bahasan gajah di ruangan (ttg zat turunan dalam komposisi) ini merujuk kepada satu kesimpulan. Kehalalan di sini sifatnya limited dan temporer.

 

Bertanya “ttg kit-kat itu halal apa nggak?” jawabannya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menjawab. Dan macam-macam lagi tergantung kapan, kit-kat yang mana, yang dijual dimana, bahkan yang serial numbernya dengan akhiran apa.

Ada juga produk milk-tea yang as bizzare as it sounds, um, seaneh kedengarannya, berbeda status kehalalannya bergantung pada ukuran botol. Yang sedang boleh, yang kecil nggak. Padahal produk yang sama dengan tulisan komposisi yang sama.

Hal tersebut sangat biasa di kehidupan komunitas muslim di Jepang.


Makanan Dari Teman

Artikel ini memperlihatkan bahwa setiap ada topik pasti ada pendapat yang berbeda di antaranya. Nah, kalau makanan itu untuk diri sendiri sih nggak masalah. Namun, di dalam komunitas tentu interaksi, tukar pikiran, dan tukar makanan pasti akan terjadi. Bagaimana dengan spektrum pendapat yang berbeda-beda tadi?

Apakah kita harus mengecek kalau semua parameter di atas sama nilainya dengan teman yang memberi kita makan tadi? Tentu saja pada topik ini juga ada perbedaan pendapat lagi. Ada yang nanya banget, ada yang nanya secukupnya, ada yang cuek.

Misal yang soal brader tadi, katanya sampai ngamuk dan menolak kalau disuguhi daging halal brazil. Saya sih tidak menyaksikan langsung gimana cara mereka menolaknya. Katanya sih beberapa tahun lalu terjadi, dan sepertinya mereka sudah mulai melunak akhir-akhir ini.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

SONY DSC

Nobody will refuse or question the halal status of rendang. Sumber foto: Rendang [wikipedia].

Menurut saya, burden of proof, duh apa lagi ini Indonesianya, beban pembuktian kehalalalan jatuh kepada dia yang membuat dan memberi makanan tersebut. Dan sebagai muslim, kita cukup percaya dengan keislamannya dan yakin dia tidak berniat mencelakakan. Ini juga sebagai penghormatan terhadap pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat, muslim tetap bersaudara.

Meskipun begitu, dua paragraf terakhir di atas nggak jelas juga tuh dengan klausa “kecuali sangat-sangat mencurigakan”. Mencurigakan itu yang bijimana? Duh duh duh…



Mujtahid dan Mujtahid Mutlak

Pada akhirnya, setiap pendapat adalah milik pribadi masing-masing. Setiap pribadi harus berijtihad, memutuskan bahwa saya berpendapat begini untuk topik ini dan begitu untuk ropik itu.

Ada prinsip bagus dari ustadz yang menjadi imam di Masjid Toyohashi (atau yang datang dari Indonesia untuk pengajian? saya lupa siapa).

Wara’ itu untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain.

Dan bagi yang bingung memutuskan pendapat, selalu ada mujtahid mutlak di sekitar kita. Ini sebenarnya istilah guyon yang dicetuskan oleh salah satu bapak-bapak di Toyohashi. Jadi bukan mustahid mutlak kayak imam syafii gitu bukan. Disini maksudnya, orang-orang yang kalau “berfatwa” roti merek ini itu boleh, chiki ini itu nggak, dan memakannya, pendapat itu bakal mutlak dipakai oleh komunitas di sekitarnya.

Syarat jadi mujtahid mutlak ini tidak sulit. Punya kecenderungan untuk peduli ttg halal dan haram. Jadi, minimal bukan omnivora-lah, apapun dimakan. Punya kecenderungan untuk update informasi. Nggak gaptek-gaptek dan kuper-kuper amat. Dan yg terpenting punya kecenderungan untuk bisa membaca kanji. Beres. Saya juga pernah menjadi mujtahid mutlak bagi anak-anak SMP Indonesia yang datang ke Jepang. Mereka belanja di kombini dan saya dengan otoriter men-dictate, ini boleh, ini jangan.

Biasanya tiap komunitas punya orang seperti ini, dan pendapatnya juga berbeda antata mutlaker di komunitas satu dan lain. Pernah dengar cerita juga, ada anak yang dianggap alim karena dia rajin sholat mengaji dsb, memiliki pendapat pertama di topik pertama artikel ini, jadi teman-temannya pun berpendapat yang sama.

Di internet, kaum penanya produsen tadi juga bisa direfer dan dipakai pendapatnya secara mutlak. Biasanya mereka mengepos di Facebook, group, atau blog-blog. Situs halal yang saya refer di awal artikel juga salah satu contohnya.

halal-japan-facebook.png

Mujtahid mutlak daring sedang beraksi.

 

Jika Anda bingung ttg suatu kasus halal haram suatu produk, membaca artikel ini mungkin akan tambah bingung. Untuk pembaca yang sudah membaca sampai paragraf ini, saya ucapkan: Selamat atas achievent Anda membaca artikel 3000 kata ini. Maaf karena mungkin saya tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membaca blog ini.



Penutup

Topik berikutnya, terdapat juga perbedaan pendapat dari bagaimana makanan tadi itu ditutup. Penutupnya turunan dari babi atau nggak.

Bercanda-bercanda…

Artikel ini sudah terlalu puanjang dan membahas hal yang cukup luasss…. Mau mengedit supaya lebih ringkas, kok capek ya. Jadinya, bingung deh mau menutupnya bagaimana.

Pokoknya gitu lah ya.

Di Jepang, halal haram itu pusing. Nggak gampang kayak di Indonesia. Namun, semoga tidak ada konflik dikarenakan perbedaan pendapat di atas. Tidak perlu keras mengoreksi dan berbantah-bantahan. Mari melembut dan tersenyum. Saling menghormati pendapat masing-masing, dan terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sepertinya itu lebih baik.

Sama-sama perantau kita di Jepang sini, mari kita saling bahu membahu.

Jika ada pertanyaan, pendapat, cerita silakan kasih komentar di artikel ini atau lebih baik lagi tulis di blogmu. Mungkin bisa memperkaya wawasan ttg topik ini lebih luas lagi.

^^.. Wassalamualaikum.

Mencibir Korban Bencana Alam

Akhir-akhir ini saya melihat tren aneh. Ketika ada bencana alam, ada yang bertanya… Kenapa ya akhir-akhir ini banyak bencana terjadi? Pertanyaan yang menurut saya, absurd.

Bencana alam: gempa, angin topan, gunung berapa, lagu baru Taylor Swit. Bencana ya bencana. Kejadiannya tidak bisa (atau setidaknya susah) diprediksi. Bisa dan telah terjadi kapan saja.

Wallahu ‘alam, kenapa akhir-akhir ini lebih sering. Mungkin karena global warming (dalam konteks bencana terkait iklim).

Atau mungkin karena internet dan cepatnya pertukaran informasi, jadi terkesan lebih sering walaupun tidak mesti beneran lebih sering.

Atau memang begitulah selera seni anak muda sekarang, sudah tidak bisa ditolong lagi.

Namun, topik tulisan kali ini bukan itu meskipun masih terkait. Lebih tepatnya, tentang mentalitas yang berkitar di pertanyaan itu. Nak levelnya satu atau dua.

Tentang hal yang saya sangat tidak suka dan artikel ini akan menentang sikap tersebut sekeras-kerasnya.

This article contains condemnation in the highest term. Proceed with caution!

Yakni, mengkait-kaitkan bencana alam dengan . Secara esensi, mencibir, atau lebih kerasnya menggibah (jika benar) dan memfitnah (jika salah) orang-orang yang dari korban bencana alam.

Jadi ceritanya, ada link ke video dibagikan ke grup. Plek link tok. Tanpa komentar apapun. Saya tidak akan mentautkan link ke video tersebut. Kalau bisa mah, saya akan hapus si itu video. Karena saya tidak ingin membuat video itu tersebar lebih luas lagi, juga tidak mau memberi view ke video itu.

Saya juga tidak menonton itu video sampai akhir. Cuma lihat 1 menit pertama, plus beberapa komentar teratas, lalu video saya tutup. Video nggak berguna pikir saya. Ngapain nonton belasan menit,, memaparkan diri ke resiko dianggap si algoritma rekomendasi situs bahwa saya ingin melihat video-video serupa. Gawat kan.

Well, inti dari video itu adalah seseorang “mewawancarai” warga lokal. Menanyakan pendapatnya… Kenapa sih ya si kota Y itu dapat musibah begitu?

(Yup saya juga tidak akan memberi nama si kota dan juga situs dimana video itu terjadi, karena beresiko Anda mencari si video dan memberikan view ke si video. Juga demi nama baik si kota dan korbannya.)

Bapaknya dengan yakin dan semangat menjawab. “Oh iya, saya sudah lama disini. Saya tahu banget penduduk di sana. Banyak maksiat A. B juga… Apalagi kelompok ini tuh, mereka itu C, D, E!! Pantas saja Allah melenyapkan mereka dari muka bumi… “

Komentarnya, senada dengan video. Seakan menjunjung pendapat si terwawancara, dan merayakan Azab Tuhan yang turun dengan nyata. Yakin mereka, tanpa ragu sedikitpun tentang asal muasal dari bencana alam tersebut.

To which I respond with…

iwkad22

A big effin’ facepalm :facepalm:

Saya tidak tahu kenapa video itu dibagi di grup. Tanpa komentar. Yang membagi termasuk orang yang saya hormati. Tetua bisa dibilang malah. Apa yang beliau pikirkan dengan membagi video itu. Saya heran! Heran…

Apa beliau sama kalau saya flabbergasted juga dengan si video. Ataukah berusaha mencerdaskan anggota grup tentang kenapa si bencana itu terjadi.

Kalau yang terakhir saya jujur, kecewa. Why oh why… Benar-benar kecewa. Meskipun niatnya mengingatkan anggota grup jangan bermaksiat ABCDE nanti bisa kayak si kota Y itu, saya kira itu bukan alasan yang tepat untuk setuju atau membagikan video sampah seperti itu. Ada banyak metode dakwah lain dibanding itu.

respectmeter.png

Kalau ternyata tujuannya yang pertama, ya mbok kasih satu dua kalimat kek. Lagipula lebih mudaratnya menyebar daripada nggak. Ngapain coba…

Jika Anda ketemu video yang sama, saya sarankan jangan sebar. Jangan, dengan alasan apapun. Segera tutup tab browser. Kalau terlanjur disebar ya hapus, atau report original video deh…

Oh. Belum ngerti juga kenapa saya tampar muka sendiri dan menulis artikel dengan nada hopelessness in humanity? Belum sadar juga masalahnya dimana…

Oke, telusuri dari awal.

Bayangkan, Anda hidup dan nyaman… Sebut saya di kota Shiganshina, sampai suatu saat terjadilah bencana di kota Shiganshina ini. Kongkretnya tidak penting. Apalah… Bilang aja, kota ini diserang raksasa. Dinding kota hancur. Gedung-gedung luluh lantak. Ribuan orang meninggal. Ada yang kena debris, ada yang dimakan Titan. Ribuan. Temasuk tetangga Anda, keluarga Anda, anak istri Anda. Namun, setidaknya Anda selamat!

Mungkin harga anda hilang. Rumah hancur. Semua orang yang Anda kenal, tiada. Kota pun sudah tidak bisa ditinggali lagi. Anda harus mengungsi. Tidak tahu harus tinggal dimana. Apalagi makan apa. Atau harus ngapain. Namun, Anda selamat!

Sedang berjuang dalam kondisi pasca-bencana tersebut, tiba-tiba sampailah sebuah komentar ke telinga Anda. Katanya,

“… Shiganshina! They’re bringing drugs. They’re bringing crime. They’re rapists. And some, I assume, are good people … Build a wall around Shiganshina! …

Salah quote, tapi nggak terlalu melenceng juga sih.

“… Woh iya! Durhaka itu mereka. Saya tahu itu. Saya sudah belasan tahun tinggal disini. Ada sebagian orang Shigan yang dia itu suka main judi. Pekerja seks. Maling, mabuk-mabuk. Drugs. Rapist. Pokoknya parah itu orang sana. Pantas aja mereka kena ….” 

Bagaimana perasaan Anda kemudian?

Kalau saya mungkin teriak: “Pantas?! Semua kejadian tersebut pantas loe bilang??!!”



Sedikit disclaimer tambahan. Kali aja ada orang, yang kalau bahasa Jepangnya sih, “manuke”, nggak tahu bahasa Indonesianya apa.

Saya disini bukan mau membela quote pemain judi, pekerja seks, dan maling mabuk unquote. Juga bukan menafikan adanya teguran Tuhan yang diturunkan di muka bumi. Saya juga tidak mau mengklaim saya suci atau yakin kalau kota saya tidak akan kena hal serupa. Juga tidak mengatakan bahwa saya tidak takut dengan bencana seperti. Takut saya, itulah kenapa satu menit setelah J-Alert berbunyi adalah kondisi tercemas yang pernah saya ingat dalam recent memory.

Saya juga tidak ingin membawa-bawa hadits tentang “dosa penyebab datang azab” atau tentang “pembinasaan kaum” apalagi tentang “mengkaitkan kejadian alam dengan kekuatan supranatural” dalam diskusi ini.

Juga tidak membatasi orang yang bermuhasabah dan menempatkan kejadian tersebut sebagai ujian atau titik untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Kalau mau introspeksi diri, apakah kejadian yang terjadi pada Anda itu ujian atau teguran, silakan. Lakukan dalam hati! Atau bersama-sama dengan doa, oke juga…

Tapi introspeksi diri bukan introspeksi orang!

Yang saya tekankan disini cuma satu:

Jangan-lah tambahi beban para korban bencana alam tersebut.

I don’t know man.

Kalau tidak bisa menjadi bagian dari solusi, jangan menjadi bagian dari masalah?!

Iklan

Alert Gempa

Jadi, tadi malam pukul 24.15 saya sedang akan meninggalkan meja komputer saya menuju kasur. Sebenarnya sudah agak mengantuk, dan merencanakan tidur dari pukul 23.30. Ngantuk karena obat juga sih. Cuma saya terjebak oleh rewatch 3 episode finale dari anime Overlord season I. Jadi agak tanggung, tinggal 5~10 menit lagi beres. Habiskan urusan, baru kita menghadapi kerjaan di hari esok!

Ketika tiba-tiba hape saya meringkik keras dengan volume penuh. Suara yang sangat menggelikan di telinga dan leher. Membuat syaraf kita awas, melebihi musik alarm apa pun.

Ringkik itu diiringi oleh peringatan berbahasa Jepang: Jishin Ga Kimasu!

Kira-kira suaranya kayak di Youtube di bawah ini. Persis. (30 detik pertama).

Terakhir saya dapat early warning seperti ini adalah di hari pertama saya menginjak dunia kerja. Nagoya, 1 April 2014. Waktu itu lagi orientasi kerja. Tiba-tiba hape di kantong dan meja para pekerja berdering bersamaan seperti di atas.

Tidak lama kemudian, getaran pun terasa. Plafon lantai dua tersebut bergetar. Gelas dan perabotan tergantung di dinding berdenting. Beberapa puluh detik, reda. Aman…

Di Tokyo bukannya jarang gempa. Sering. Kayak gitu juga, terasa getarannya. Pernah merasakan di apato saya yang tersusun dari kayu. Pernah juga merasakan di lantai 14 gedung tinggi. Namun, selama di Tokyo ini belum pernah saya dapat alarm kayak gini.

Sesuai dengan desainnya, early warning tersebut langsung membuat saya awas. Saya punya satu dua menit buat preparing the worst. Langsung mode brace for impact.

Terbesit, kalau gede banget, –dan mungkin gede soalnya biasanya pas getarnya kerasa agak keras juga kagak bunyi si warning-chan— , jadi saya juga ancang mode evacuate. Misalkan gede harus bersiap keluar gedung. Penghalang dari kamar ke luar ada dua pintu. Seenggaknya pintu sekat antara kamar dan dapur harus dibuka.

Lalu saya ambil jaket. Ambil hape dan dompet, masukkan kantong. Terus apa lagi… Apa lagi… Agak menyesal juga saya nggak punya tas emergensi. Selalu ada di benak kepala, saya harus menyiapkan satu tas emergency-ready yang berisi semua peralatan yg dibutuhkan untuk disaster level apapun. Kayak yg dijelaskan di video ini dan video ini. (Dua video ini saya simpan di playlist Favorit untuk instant reference)

Ini terkait juga dengan pengalaman saya di Toyohashi University of Tech. Disana saya diajari kalau Aichi-ken punya pergeseran titik ukur terbesar dari seluruh Jepang. Jadi ceritanya, para ahli gempa nih meletakkan alat ukur di suatu titik, lalu dilacak selama bertahun-tahu posisinya dengan GPS. Akurat sampe centimeter. Di Aichi, pergeserannya sampai beberapa senti paling besar. Mengingat pula gempa besar di Jepang terjadi siklus beberapa tahun, serta yang sudah kebagian jatah adalah Kanto (1923), Kobe (1995), Tohoku (2011) yang belum kebagian akhir-akhir ini adalah Aichi.

Let just say that I am concerned.

Atau begitulah cerita mereka di kampus Propinsi Aichi. Nggak tahu kalau di kampus Tokyo. Yang penting, ada pendapat berterbangan di hippocampus saya kalau bersiap seperti video di bawah ini, is not a bad investment…

Pada detik tersebut, saya menyesal belum sempat beli atau mungkin lebih tepatnya menyesal terlalu memikirkan cost-benefit untuk membeli barang super mahal yang kita harap takkan pernah digunakan tersebut. Kalau ada mungkin tas tersebut sudah sampai di bahu pada detik itu juga.

Kemudian, saya berdiri di dekat meja sambil awas untuk mengambil keputusan split second. Mau nyumput di bawah meja. Atau mau lari ke luar.

Agak ragu juga mau nyumput di meja, nggak ada barang yang lebih tinggi dari kepala soalnya di rumah ini. Kalaupun ada, ya atap. Kalau atap jatuh, mending keluar aja kan?

2 menit. 4 menit. Soro-soro kana? …

Hening. Nggak ada. Nggak kerasa sama sekali. Getar. Denyut pun kagak ada.

Cek lagi hape. Lalu mesej temen. Lalu cek JMA. Dan cek notifikasi si hape. Sekarang ada notifikasi seperti ini.

img_1530

Emergency Alert: Earthquake Buletin. Earthquake occurs at Chiba East Coast. Please expect strong shaking. (JMA)

Emergency Alert: Buletin Gempa. Telah terjadi gempa di pantai timur Chiba. Diperkirakan guncangan yang besar. (JMA)


Hm… Selesai kah? Cek Situs JMA, langsung ada rilisan gempanya. Ternyata `cuma` Magnitude 4.

Hmm… Agak aneh ini. Biasanya magnitud lebih dari itu di Chiba atau Tokushima terjadi, dan terasa getarnya sampe sini, tapi nggak ada bunyi-bunyi alaram.

Chiba 2018.10.04 00.17, M4.PNG

Kecil, sial. Lanjut nonton overlord lagi apa ya… Tanggung sisa lima menit lagi. Untung bukan pas battle seru-serunya…

Mungkin ngeliat situasi early warning failure, kegagalan sistem peringatan dini yang di Indonesia, terus si pemerintah Jepang menaikkan sensitivitas dari sistemnya kali ya.

Nggak papa juga sih, lebih bagus. Lebih awas jadi kitanya. Asal jangan terlalu sering juga, gempa kecil dikit, bunyi-bunyi. Bukan tidak suka karena bikin annoying ya… Kalau masyarakat terlalu sering mendengar false alarm lama kelamaan malah jadi kebal, dan tidak lagi menggubris si peringatan dini. Jadi harus diatur-atur dengan melihat psikologi masyarakat juga sih kayaknya ya… (sok tahu, bukan pegawai Departemen Penanggulanan Bencana juga)

Mungkin ya setahun sekali dibuat alarmnya bunyi saat gempanya kecil boleh juga. Biar masyarakat tetap ada rasa awasnya.

Kenal

I am wondering, is there such concept as “kenal” in English.

Tiba-tiba penasaran, konsep “kenal” itu ada nggak ya di Bahasa Inggris.

For example, this conversation is very common in Indonesian language.

Misalnya saja, percakapan ini sangatlah umum di Bahasa Indonesia.

[Conversation 1]

A: “Kamu kenal dia?”
B: “Eh? Tahu aja sih, nggak kenal…”

Which does not make any sense in English.

Yang agak aneh kalau di bahasa Inggris-kan.

A: “Do you know him?”

B: “Eh? No, I just know him. Not ‘know’ him…”

Well, this is because “kenal” entails something further than just know or “tahu”. This word implies that B and him at least speaking to each other and has the knowledge of each other name (has introduced each other? or something like that. ??)

Ini karena “kenal” memiliki kesan yang lebih jauh dari “tahu”. Dengan kata ini, ada makna tersirat bahwa B pernah bercakap dengan dia beberapa kali dan tahu nama satu sama lain (pernah berkenalan, duh keluar pula kata kenal saat menjelaskan kata kenal).

Furthermore, it also does not make sense to translate it this way. Using the word “friend” for example. It is not correct simply because “tahu”, “kenal”, and “teman” has different depth in the human relationship level. Furthermore, the question sentences from A also will become very strange using this translation: “Are you his friend?”

Juga tidak logis menerjemahkan seperti berikut, menggunakan kata “teman” sebagai kontras dari “tahu”. Karena, dalam bahasa Indonesia konsep “teman” juga punya kedalaman yang berbeda dari sekedar “kenal”. Lagipula, pertanyaannya si A jadi nggak cocok dengan terjemahaan di bawah.

B: “Eh? No, I just know him. But, not his friend…”

Because this conversation is also possible and common.

Karena percakapan ini juga mungkin dan umum.

[Conversation 2]

A: “Teman?”
B: “Ah, nggak cuma kenal. Tetangga… Harusnya loe kenal kan, C?”
C: “Tahu doang. Nggak kenal!”

The most sensible word to word translation of word “kenal” is “be acquainted with”. However, it also does not solve the conceptual difference demonstrated in the simple conversation above.

Kata yang paling masuk akal untuk terjemahan perkata dari kata “kenal” adalah “be acquainted with”. Namun, tetap saja ini tidak bisa jadi solusi dari perbedaan konsep yang didemonstrasikan di percakapan sederhana di atas.

B: “Eh? No, I just know him. But, not be acquainted with him…”

So, does English have a concept or word like the word “kenal” in Indonesia.

Jadi, ada nggak ya konsep atau kata padanan “kenal” di Bahasa Inggris?

Jadi, Poin Itu Mata Uang Juga. Mata Poin!

Saya pernah menulis tentang kartu poin dan beragam jenisnya. Pendeknya hampir setiap merchant menyediakan sistem kesetiaan pelanggan ini baik restoran kecil, mall besar, situs belanja online Amazon, sampai maskapai penerbangan juga (walaupun namanya bukan point tapi mileage).

Saya juga pernah cerita tentang kafeteria health plan yang memberi poin sebagai employee benefit. Saya juga pernah (baca: akan, suatu saat nanti) cerita tentang kartu kredit di Jepang dan manfaatnya yang melebihi debit atau tunai. Salah satunya adalah poin ini.

Semua sistem yang berbeda itu intinya sama. Lakukan suatu aksi (umumnya: belanja dengan quota tertentu), merchant akan menghadiahi kita poin. Poin ini nantinya bisa dijadikan diskon saat kita ingin menggunakan jasa si merchant lagi di masa depan.

Disini saya akan cerita tentang poin lebih dalam.

Tukar Poin

Pernahkan kalian berandai-andai? Bisa nggak ya poin ini dituker gitu, bukan diskon. Jadi tanpa harus belanja.

Well, poin yang ada di kartu kredit harus dituker ke objek lain. Soalnya kartu kredit kan bukan merchant, tapi penghubung antar kita dan merchant, jadi agak nggak logis kalau mereka memberi diskon berdasarkan poin tadi. Sebaliknya, mereka memberikan semacam katalog barang untuk membelanjakan si poin yang kita kumpulkan dari pemakaian kartu kredit. Setiap barang ada tag harga, dengan mata uang P, poin.

Kayak di Time Zone aja!

Katalog belanja VPASS.PNG

Katalog tukar poin dari VPASS, ada yg lebih murah ada yg lebih mahal dari pasaran

Well, tuker bukan gitu maksud gue sih! Pengen tukar dari satu merchant ke merchant lain gitu… Atau ditukar jadi duit keras nyata dan beneran lebih mantab…!

Well, you are in luck!


Broker Poin

Berikut adalah salah tiga dari contoh jasa penukaran koin. Bisa dibilang broker atau bursa kali ya…

Dengan bursa poin di atas kita bisa menukar poin kita punya ke poin apapun. Kurang lebih dengan tiga syarat, 1) poin asal punya fitur transfer ke bursa di atas, 2) akun tujuan ada di daftar si bursa, 3) rela membayar biaya transfer, walaupun banyak juga yang gratis sih.

Nah, syarat yang pertama yang paling sulit. Itu tergantung dari merchant yang memberi kita poin. Dalam kasus VPASS, perusahaan manajemen kartu kreditnya SMBC, mereka memberi beberapa opsi untuk menukar ke mata poin lain.

Setiap merchant lain punya peraturan pemberian poin yang berbeda, sehingga secara esensi poin dari merchant ke merchant itu beda mata poin. Sehingga, kalau mau menukar ke poin lain pasti ada exchange rate-nya. Seperti gambar berikut ini.

From VPASS.PNG

Beragam titik tujuan tranfer poin dari SMBC, beserta kursnya

Kalau punya AU Wallet, penukaran dari kartu kredit SMBC ini enak banget. Jadi kayak menukar ke uang tunai. Hard cold cash!

SMBC juga punya exit point ke tiga bursa poin yang saya sebut di atas. Sedemikian sehingga, secara efektif poin kartu kredit ini bisa ditukar ke (hampir) mata poin manapun di Jepang.

Nah, dengan adanya broker poin disini, ada sesuatu yang agak aneh. Mari sedikit saya jelaskan…

Misal kita ingin tujuan akhir kita Amazon Gift Card. Kalau kita transfer langsung dari konsol si VPASS, kurs yang berlaku adalah sebagai berikut.

VPASS >--(1 P -> 5 Yen)-->  Amazon Gift Card

Gift Card adalah salah satu konsep yang harus dijelaskan terpisah. Intinya kayak kartu top-up gitulah, tapi isinya fix tidak bisa ditambah. Dan cuma bisa dipakai di tempat tertentu, dalam kasus Amazon Gift Card ya di amazon. Karena top-up berisi uang tunai, menukar 200 P dari kartu kredit ke Amazon Gift Car akan memberikan kita 1000 yen.

Nah, disini titik anehnya. Gimana kalau kita transfer dulu ke PeX, sebelum transfer ke Amazon Gift Card.

VPass >--(1 P -> 50 P)--> PeX  
PeX   >--(990 P -> 100 Yen)--> Amazon Gift Card

Note:

  • P -> P maksudnya adalah  poin di layanan kiri ditukar ke poin layanan kanan. Jadi beda mata poin P kiri beda dengan mata poin P kanan.
  • Di atas sama ambil control via PeX, soalnya via PointExchange ada transfer fee nya (50 PeX point).

Nah, transfer dengan perantara PeX tadi bisa buat kita untung 1% tuh.

VPASS >--[Via PeX](1 P -> 5.050505 Yen)-->  Amazon Gift Card

Keren kan!

The only downside, adalah setiap transfer biasanya membutuhkan waktu proses yang cukup lama. Satu dua minggu, tergantung titik awal dan akhir transfer.


Point Farming

Oh ya, broker di atas bisnis utamanya bukan jadi perantara penukaran poin. Mereka juga bertindak sebagai hub untuk promosi dari merchant-merchant lain. Mereka menyediakan daftar promosi dari beragam merek, kartu, dll. Lakukan aksi ini, dan kamu akan mendapat poin berikut!

Saya sih bisa membayangkan, kita sebagai petani poin bisa mendapat banyak poin dengan memantengi situs broker poin di atas. Cek aksi yang nggak begitu merugikan, misal daftar kartu kredit satu tahun pertama gratis. Atau buat akun membership di toko/gym mana. Atau beli/pakai jasa apa.

Bertani Poin.PNG

Bertani poin: daftar AU Hikari dapatkan poin 220.000P, diskusi tempat tinggal ke Fudosan OneRoomOwner dan dapatkan kan 12.000P, invest di kondominium dan dapatkan 300.000P

Asalkan rajin melototi promosinya, dan hati-hati dengan syarat dan ketentuan. Serta berdedikasi untuk menghafal layanan mana yang udah dipakai dan tidak menguntungkan lagi, sehingga menghindari risiko after the fact. Misalnya setelah dapat si poin, kita tutup si kartu kredit atau membership tadi. Sedikit keraguan saya untuk bisa panen poin banyak disana.

But, it sounds work! A chore!^^
Tapi kayaknya bikin capek. Jadi males, haha.


Jadi, intinya Poin itu mata uang juga! Dan karena jenisnya banyak, jadi mata poin!

Mirip-mirip dengan e-coin kali ya…

Coba-coba invest di poin kali ya. Poin yang lagi ngehit apa yak…

(Dan ternyata R-Poin dari rakuten bisa buat beli/dijadikan investment mutual fund, dll. Oh god…)

Hore 500 Artikel!

Blog ini sudah mempublikasikan lebih dari 500 artikel! Wow!

Mengingat blog ini sudah berumur 10 tahun, agak wajar juga sih 500 artikel. Setahun 50 artikel. Tapi tetep aja wow!!

Nulis apa aja tuh?

Saya juga nggak ingat apa aja topik yang ada di blog ini. Informasi yang bisa diekstrak tentang saya. Atau opini apa yang entah masih saya pegang atau nggak…

500 artikel boi…

Pastinya kalau saya nyalon presiden, bakal banyak yang mengutek-utek blog ini buat mencari-cari titik kesalahan, kekonyolan, atau inkonsistensi pandangan politik saat kampanye. Misalnya menunjukkan artikel ini kalangan oposisi menuduh “wah, itu, si calon pernah memain-mainkan uang negara!!!”

Terus belum tentu saya sadar kalau itu beneran saya yang nulis. Jadi saya menyangkal tuduhannya. “Saya tidak pernah memegang uang dalam bentuk apapun, apa lagi memain-mainkannya!” Haha…

500 artikel… Masih merasa wow…

Yup! Yosh!!

Next up, 1000 artikel!

Semoga nggak butuh 10 tahun untuk mencapai target selanjutnya ini.

Kelupaan Uang di ATM

Suatu hari saya pergi ke ATM SMBC. Saya tarik uang 10.000 yen, pencet-pencet-pencet, kartu ATM keluar bersama dengan receipt. Oke, saya ambil dan kemudian pergi, naik ke kantor.

Waktu itu bulan puasa. Malamnya saya buka di warung India dekat kantor. Makan malam mutton briyani. Saat selesai dan mau bayar, saya cek dompet. Lho, kok nggak ada uang? Perasaan tadi siang ambil uang kan ya… Hmm…

(Untung recehan yang ada masih pas untuk bayar)

Keluar toko saya penasaran. Bener kan? Tadi siang ambil uang. Bukan ilusikan? Terus habis itu kaga belanja apa apa… Buka dompet juga mungkin kagak. Masa uang kertas bisa jatuh…

Perasaan terganjal. Jangan-jangan ketinggalan di ATM. Jadi saya pergi ke ATM lagi. Siapa tahu ada yang naruh uangnya disana… Pas dicek, ya nggak ada lah ya…

Saya masih rahu, tapi kayaknya bener kalau ketinggalan. Lupa ngambil itu uang kertas… Entah apa yang saya pikirkan waktu itu.

Kalau bener ketinggalan, mau lapor, tapi ke mana ya.

Di ATM kebetulan ada telpon. Di bawahnya ada nomor telpon emergency. Ya udah dicoba telpon pake ini aja, ternyata bisa nyambung.

Laporan deh… Kayaknya tadi tarik uang tapi kagak diambil tunainya. Si petugas pun bertanya-tanya. Jam berapa? Dimana Berapa besarnya? Setelah jelas, berita gembira datang. Oh ya tadi ada yang melapor ke kantor manajemen bank. Tapi si kantor sudah tutup, telpon aja ke kantornya langsung besok ya. Ini nomornya…

Tipikal ATM SMBC

Bukan ATM yang di kantor. Tapi mirip lah, ada telponnya.

Wow, masih ada harapan untuk uangnya kembali! Canggih juga sistemnya kalau uang lupa diambil, bisa diamankan, pikir saya.

Besoknya telpon deh. Ke kantor yang memanajemen ATM-ATM SMBC. Saya lupa nama lembaga dan cabangnya.

Yang menerima bapak-bapak. Dia kemudian bertanya macam-macam. Sama kayak kemaren sih. Jam berapa? Dimana? Berapa besarnya?

Terus juga berusaha mengestablish identitas saya. Standar nama dan nomor rekening. Juga si bapak bertanya, kemaren pake baju apa? Celana apa? Ada aksesori lain, oh pake gantungan nama ya?

Hm… Hm..

Untung saya inget kemaren pake baju apa. Kebetulan juga kemaren pakai baju yang jarang dipakai, kemeja warna hitam. Ternyata, ada yang melihat saya kemaren. Orang yang antri di belakang. Setelah saya pergi, dia masuk ke bilik ATM dan mendapati si 10.000 saya tercinta, terbengkalai. Karena saya sudah menghilang, dia ambil si 10.000, menyelesaikan bisnisnya, kemudian pergi ke kantor manajemen ATM tadi buat laporan kehilangan.

Bukan sistemnya yang canggih ternyata.

Si bapak kemudian menjelaskan kalau uangnya bakal di transfer balik oleh pihak bank via rekening satu minggu kemudian. Kagak apa-apa kan ya, katanya. Kemudian, si bapak mengakhiri telepon dengan, Untung ya… Ada orang yang baik…

Iya pak… Terima kasih banget saya orang baik itu.

Top-Up: Praktik Menggandakan Uang?

Misalnya nih, dunia kita cuma satu desa, dengan tiga komponen: penduduk, pemerintah, dan perusahaan. Desa berisi 100 orang penduduk. Setiap orang punya uang 10.000 yen. Total  satu juta yen. Uang di pemerintah dan perusahaan mesin top-up ada masing-masing satu juta yen lagi. Jadi total uang di ekonomi adalah tiga juta yen.

Masing-masing penduduk mengisi kartu top-upnya 5000 yen. Mereka pergi ke mesin top-up, masukin selembar 10.000 tadi dan dapat kembalian 5000 yen. Uang masing-masing penduduk tetap, 5000 tunai dan 5000 di dalam kartu. Jadi satu juta yen milik penduduk tetap kan ya?

Sampai disini masih logis.

Pemerintah nggak ngapa-ngapain di skenario ini. Jadi uang mereka tetap.

Nah, buat mengisi kartu tadi pendudukan ngasih uang ke mesin tuh 10.000 dan dapat kembalian 5.000. Artinya si mesin bakal ketambahan uang 5.000 yen dikali 100 orang. Yup, tunai yang dimasukkan ke mesin kan nggak tiba-tiba terbakar dan lenyap.

Cek lagi total uang di ekonomi:
Uang penduduk: 1 juta yen
Uang pemerintah: 1 juta yen
Uang perusahaan: 1 juta yen
Uang yang dimasukkan ke mesin: 500.000 yen

Jeng-jeng-jeng… Uang di ekonomi sekarang ada tiga setengah juta. Bertambah dari titik awal, tanpa harus ngapa-ngapain.

Top Up Penggandaan Uang

Apa nggak cepet inflasi tuh ya? 500.000 per  3 juta = 17% inflasi!

Tentu saja, penduduk akan menggunakan kartunya buat belanja. Uang dalam kartu kan cuma catatan, kalau dipakai belanja catatan di penduduk akan lenyap. Pindah ke catatan di toko, Sebagai gantinya, si perusahaan akan membayar toko dari uang yang dimasukkan ke mesin tadi.

Namun bayaran ini kan entah kapan tuh, jadi sebelum itu terjadi uang di ekonomi bakal tetap berganda dong yak? Uang yang dimesin bisa dipakai oleh siapapun pemilik mesin, dan uang di kartu bisa dipakai oleh pemilik kartu.

(Hmm… Nyimpen uang di bank, kayaknya berefek sama??)

Jadi sampai itu terjadi, ini dianggap double sirkulasi nggak ya?

Disitu saya nggak mudengnya. Mungkin bagi yang mempelajari ekonomi bisa mencerahkan saya. Regulasi di perpindahan antara uang nyata ~ virtual ini bagaimana. Saya googling-googling kok nggak nemu.

Apa ya nanti ketika si pemerintah mendapat uang dari pajak, mereka bakal melenyapkan uang itu dari ekonomi. Atau bijimana…

Ada ekonomis yang bisa menjelaskan?

[Hehe… “Ekonomis”…]

Free Software itu harus bisa dipakai untuk kejahatan!

Mungkin kalian pernah dengar, ada yang namanya free software. Software gratis? Bukan cuma itu. Software bebas, bebas kita apakan saja. Bebas dipakai sekenanya, bebas, diubah-ubah kodenya, bebas dijual lagi, bebas lah pokoknya. Secara formal, ada empat pilar yang harus dipatuhi oleh sebuah program supaya bisa dianggap sebagai piranti lunak bebas [GNU/FreeSW]:

  • Kebebasan menjalankan program, untuk tujuan apapun (Freedom 0)
  • Kebebasan mempelajari detail kerja program dan mengubahnya supaya sesuai dengan keinginan (Freedom 1)
  • Kebebasan mendistribusikan kembali kopi dari piranti lunak (Freedom 2)
  • Kebebasan mendistribusikan kembali kopi dari gubahan piranti lunak (Freedom 3)

Biasanya, untuk menjamin kebebasan di atas berlangsung selamanya, penulis perangkat lunak akan mencantumkan deklarasi lisensi di source code-nya. Intinya sama kayak produk-produk komersial biasa sih, misal Copyright 2018 by Albadr Enterprise. Namun, karena copyright bertujuan untuk mengekang kebebasan, biasanya lisensi ini disebut dengan copyleft.

Deklarasi lisensi ini singkat jelas padat. Intinya cuma:

  1. ini software lu mau apain terserah
  2. kalau ada apa-apa gua nggak tanggung

Juga biasanya ada klausa untuk mencantumkan deklarasi lisensi yang sama kalau kopi atau gubahan kopi si software mau disebar ulang. Sehingga menjamin kalau sekali bebas, softare tersebut akan tetap bebas.

Lisensi yang paling banyak dipakai adalah Lisensi MIT.

Nah, ada teknologi (atau standard) yang namanya JSON, JavaScript Object Notation, yang menjadi salah satu benang penyusun internet (dibikin oleh salah satu dewa dunia IT, Douglas Crockford). JSLint, library pendukung teknologi ini adalah open source, dengan deklarasi lisensi berbasis Lisensi MIT. Hanya saja penulis menambahkan satu klausa:

The Software shall be used for Good, not Evil.

Mau berbuat jahat? Nggak boleh pakai library JSON ini!

Satu kalimat di atas bikin pusing banyak orang. Secara definisi, klausa tersebut membatasi penggunaan software pada tujuan tertentu, sehingga menyebabkan library tersebut (dan semua proyek yang menggunakannya) tidak free! Sehingga, tidak kompatibel dengan perangkat lunak lain yang berlisensi bebas.

1280px-three_wise_monkeys2ctosho-gu_shrine

Do no evil?

Ada cerita si Douglas diemaili oleh pengacara dari sebuah perusahaan. Kata Douglas, nggak etis menyebutkan nama perusahaannya, jadi dia bilang inisialnya aja: IBM. Mereka pengen make itu library, mereka yakin kegunaannya bukan buat kejahatan, tapi mereka kan nggak bisa menjamin kelakuan setiap dan masing-masing pelanggan mereka. Jadi, mereka pengen lisensi khusus, gitu. Jadi si Douglas balas deh:

Dengan ini saya memberi izin kepada IBM, serta pelanggan, kroni, dan keroconya untuk menggunakan JSLint dalam kejahatan.

Pengacaranya membalas “Terima kasih banyak, Douglas!”.


To be fair, klausa “Kebaikan, bukan Kejahatan” itu niatnya sih baik. Sayangnya susah diterapkan! Apalagi konsep baik dan jahat itu sulit ditentukan secara pasti. Relatif pada pelakunya. Jadi ya betul, kalimat di atas melanggar prinsip-prinpsi software modern, dan lebih bikin susah dibanding bikin gampang.

Karena satu kalimat ini banyak orang yang mengembangkan alternatif dari JSLint, dan sengaja menghindari segala library yang berkaitan/ mengandung JSLint di dalamnya. Beberapa harus ngecek secara utuh software yang mereka bangun dan menghapus semua bagian yang memakai JSLint. Demi menjamin free software tetap free.

Jadi ya gimana ya… Membatasi kejahatan itu tidak baik untuk kebebasan!

!??

Cafeteria Plan

Di kantor saya sekarang (Works Applications, Tokyo) ada yang namanya cafeteria plan. Benda ini termasuk dalam paket kesehatan tambahan yang jadi employee benefit dari kantor. Kongkretnya, kami pegawai bakal dapat 32.000 point per tahun, dibagikan pada 1 April setiap tahun.

Satu point setara dengan satu yen, bisa dibelanjakan di beberapa merchant atau klinik kesehatan yang berafiliasi dengan kantor. Tapi beda dengan medical check-up standar ya, karena medical check-up rutin (gratis dari perusahaan) dan asuransi kesehatan adalah wajib di Jepang. Beda paket/sistem. Meski begitu, kalau mau tambahan medical check-up dari plan ini ya boleh juga…

Si point juga bisa “dibelanjakan” di suatu web yang disediakan oleh トーマツ健康保険組合. Kayak amazon gitu, cuma situsnya jadul kaya tahun 90an. Isinya macam-macam sih, tetapi terkait kesehatan. Klinik-klinik, check-up ini itu, obat kosmetik, alat kesehatan aneh-aneh, dll. Ada elektronik dan benda besar macam-macam juga sih, tapi terkait kesehatan. Misal humidifier, oven, sepeda, tread mill, atau Apple Watch. Sayangnya harga disini lebih mahal dari harga standar di luar.

Luyaman juga, setahun dapat 32.000 yen pesangon non-gaji, karena bukan gaji jadi nggak dipajaki!

Situs tukar poin di kantor.PNG

 

Saya baru tahu kalau ternyata cafeteria plan ini diadopsi dari USA dan sudah diterapkan di Jepang semenjak 1995. Artinya di perusahaan lain juga ada sistem employee benefit yang sama, tapi mungkin beda besar point yang diperoleh, atau variasi komponen yang didapat bukan cuma point aja tetapi ada jasa lain, bla-bla-bla.

Tapi kok, di perusahaan saya yang lama di Nagoya kok nggak ada ya… Atau saya aja yang kuper, soalnya di perusahaan ini aja baru tahu tahun ini, lebih dari satu tahun setelah masuk. Begitu tahu, cek ada jatah poin sebesar 64.000! Diapaain ya, Apple Watch aja kah?!


Eh, btw, ini berarti bisa jadi komponen negosiasi kalau lagi cari kerja ya. “Okay deh, gaji dan bonus boleh segini segitu tapi saya minta cafeteria plan setahunnya ditambahin segini, gimana?” gitu… Hmm…


Ada artikel menarik juga tentang cafeteria plan di Jepang: An Overview of Japanese Cafeteria Plans -Objectives and Results (1998, Tamie Matsuura)


Btw, penasaran, di Indonesia ada nggak?

Iklan Wordpress yang Baik, Sesuai Kebutuhan

Jadi kemaren saya menulis blog tentang bongkar pasang kamera yang udah jarang dipakai, dan akhirnya si kamera jadi nggak bisa dipakai lagi.

Saat preview si artikel, liat bawah iklan dari si WordPress. Jeng-jeng…

Ironis, iklan kamera di artikel bongkar kamera.PNG

The irony is strong here!


[What? It is not an irony! you say??]

[Achievement Unlocked] Bongkar Kamera dan Lensa

Saya punya pocket camera Nikon Coolpix S9500 yang dibeli sejak saya sampai di Jepang. Jadi sudah berumur lima tahun. Kamera ini sudah lama tidak dipakai, karena ada debu yang menempel di lensanya. Pernah sih mengalami kejadian yang sama pas awal-awal punya, tapi setelah didiamkan nggak berapa lama hilang sendiri. Tapi debu yang terakhir ini persisten. Sudah setahun lebih dia mengendok di lensa. Until one day, its master calls upon this item. And it wakes up from its deep slumber and descends from its shelves to the mortal world.
Googling-googling cara membersihkan lensa kamera, katanya disedot pakai vacuum cleaner aja. Woke… Pantas dicoba! Cek-cek comment section pada positif. Pada mempan, dan banyak thank you berselebaran. Worth it, kayaknya. Setelah dicoba, jeng-jeng hasilnya adalah sebagai berikut: Berbagai sudut dicoba, si debu yg kecil-kecil gerak sih. Tapi bukan gerak ke luar lensa, cuma pindah posisi. Si debu yang gede, hanya bergeming di tempatnya. All hope is lost! Menyerah… Nggak jadi dipakai deh si kamera.
Namun, esok paginya masih terasa ganjalan di dada. Tertantang buat membersikan tu debu. Terperciklah sebuah ide, gimana kalau depan lensanya direndam air? Ntar kan debu yang lengket di kaca lensa bakal tergenang tuh! Habis itu disedot, beres kan!!! Semangat menggebu. Ambil gelas dan isi air panas. Celupkan depan moncong si kamera ke air, goyang-goyang, lalu cabut dan sedot dengan vacuum. Jeng-jeng, hasilnya?? Si debu tetep ada plus ada genangan air di kaca. -╯□╯  ︵-┻━ Di titik ini, rasa gemes memuncak. Pengen banget ngelap si kaca itu langsung rasanya. Penasaran. Akhirnya, cari cara bongkar itu kamera. Ketemu situs berikut yang cukup membantu. (www.ifixit.com) Nikon COOLPIX S9500 Lens Replacement
Kamera terbongkar, now what

Kamera terbongkar, now what?

Akhirnya, terbongkarlah si Coolpix dan saya peroleh si lensa. Sayangnya tautan di atas cuma bongkar kamera doang, nggak menjelaskan sampai cara membongkar lensa. Stuck hampir satu jam. Sayang banget kan sampai disini menyerah, akhirnya saya teguhkan diri. Dimulai dari membuka baut yang dapat ditemukan dan mencongkel sela-sela yang ada di lensa. Sedikit demi sedikit. Urai untaian pita kabel dari tempatnya. Satu per satu komponen akhirnya bisa dibuka. Sampai semua bagian kamera dan lensanya ter Lensa terbongkar.JPG Yes! Bisa bongkar lensa… Achiement Unlocked! Kebanggan muncul pada diri. Ternyata ada 5 lensa si kamera ini. Setiap lensa punya penyangga yang tergantung di pemegang badan lensa. Silinder pemegang ini punya lubang berlir sehinga masing-masing lensa bisa bergerak sesuai dengan rute ulir yang ada. Jenius juga… Satu per satu saya lap deh si lensa. Target captured. Sekarang masalah besarnya adalah, gimana cara masangnya lagi… Dan benar juga ini masalah yang lebih besar dari cara membongkar. Mana tadi lupa memfoto setiap tahap bongkar lensanya pula. Saya akhirnya menghabiskan sisa hari mencari tahu cara menyusun si lensa. Setelah uji coba berkali-kali, pasang dan bongkat, akhirnya lensa bisa kembali disusun dengan benar. Dengan benar disini maksudnya, setiap lensa tetap bisa berjalan di ulir penyangganya, sehingga sistem lensa memanjang dan memendek saat mengatur zoom. Harus dilakukan berkali-kali soalnya sekali pasang eh ada debu yang baik, atau eh si lensa macet ga bisa bergerak. Satu yang membuat sulit adalah ternyata si ulir itu tidak punya simetri rotasi. Jadi ketika penyangga ada enam dan mulut ulir ada enam, tidak ada enam kombinasi, cuma ada satu kombinasi yang benar. Nggak bisa acak masukin penyangga ke mulut ulir. Sampai isya, akhirnya terpasanglah seluruh sistem lensa ke badan utama kamera. Woh.. Rasanya puas… Walaupun pusing juga sih seharian main puzzle kamera. Satu jari jadi korban luka-luka juga karena masang ulir yang salah. Saat mau memasang casing, eh, lho… Wait what? Sejak kapan?! Akhirnya ditemukanlah satu fakta yang menggagalkan semuanya. Ada satu kabel pita yang putus! Pita Kabel Putus Hmm… Not wanted to be discouraged, saya lanjutkan pemasangan casing dan battery. Lalu menghidupkan si kamera. Now the moment of truth… Dan ternyata saudara-saudara: Lens Error!.jpg Moment of silence. Ya sudahlah… Setidaknya punya pengalaman bongkar dan pasang lensa. Si kamera pun akhirnya kembali ke tempatnya dengan kondisi yang berbeda. “Berbeda” karena ternyata casing-nya susah dipasang karena badannya kurang rapat atau gimana, jadi dia separuh terbongkar. Tanpa ada baut yang dipasang, jadi kalau mau experiment bongkar pasang puzzle lagi bisa dipanggil dengan gampang.
And the item is back to its deep slumber.

Gimana cara Thanos menyetengahkan populasi??

Seperti yang sudah Anda ketahui, Thanos ingin menyetengahkan jumlah penduduk dunia alam semesta untuk menghindari atau setidaknya meredakan overpopulasi. Dengan demikian, sisa penduduk yang hidup bisa menikmati alam dan kekayaannya lebih baik. Yang saya penasaran adalah, gimana cara si Thanos melakukan hal tersebut.

:Lho kok bingung? Kalau lu nonton pilemnya kan jelas, pake inpiniti ston, terus snap!

Bukan, bukan. Bukan itunya, tapi bagaimana cara si Thanos memilih siapa yang hidup siapa yang harus mati.

:Random kan?

Yaaa random, tapi random yang kayak mana gitu loh? Misalnya nih yang paling sederhana aja. Setiap penduduk di alam semesta punya peluang yang sama.

 P(selamat) = 0,5

Kelihatan adil kan? Tapi dengan begini, apa bisa thanos mencapai tujuannya? When I’m done, half of humanity will still be alive.

Di skenario satu ini, peluang hanya setengah penduduk yang dimusnahkan sangatlah kecil. Misalnya nih penduduk dunia ada 2n, kalau dihitung peluangnya adalah:

P(separuh selamat) = C(2n,n) / 4^n
 \approx  asymptotic to 1/sqrt(n)

Jadi, kalau Thanos tidak hati-hati, bisa jadi lebih dari atau kurang dari separuh yang selamat.


Asumsikan Thanos berhasil mengatasi masalah pertama di atas. Yaa, simpelnya dengan cara menghitung jumlah yang sudah dia bunuh, kalau sudah sampai setengah tinggal berhenti aja.

Masalah dua yang juga harus diperhatikan oleh Thanos adalah distribusi dari penduduk di seluruh dunia alam semesta. Adalah fakta lapangan bahwa setiap tempat tidak memiliki jumlah penduduk yang sama.

Ada kota planet yang padat penduduk. Ada desa planet yang masih sangat lengang. Terus bagaimana cara menyetengahkan penduduk supaya jika dipandang dari sudut pandang individual tempat tersebut, semuanya terasa adil.

Skenario 1. Pure random, plain and simple

Ini skenario terburuk menurut saya. Acak murni berarti ada kemungkinan bahwa si desa (yang tidak mengalami overpopulasi) mendapatkan jatah lebih banyak dari si kota. Atau bahkan musnah sama sekali. Dengan demikian, overpopulasi di kota tidak teratasi dan desa tidak dapat berkembang.

Menyetengahkan penduduk dengan acak murni.png

Satu kemungkinan akhir dari metode acak murni

Oke…

Skenario 2. biar adil bagaimana kalau kita hitung penyetengahan manusia per planet. Planet A, penduduk sekian pilih setengah. B sekian, pilih setengah. Dan seterusnya…

Saya masih ragu kalau ini adil. Planet C (planet ketiga di artikel ini) tidak terlalu overpopulated. Jumlahnya masih sedikit. Tidak perlu disetengahkan.

Menyetengahkan penduduk dengan setengah per planet.png

Sebaliknya, Planet A sangatlah sangatlah padat. Disetengahkan sekalipun, planet tersebut masih dalam keadaan overpopulasi.

Skenario 3. Yang banyak ambil banyak, yang dikit ambil dikit, jangan lupa totalkan agar seluruh alam hanya setengah yang musnah

Mungkin ini bisa jadi skenario yang bagus. Tapi apakah adil antar planet… I don’t know… Lagipula pas Thanos bilang ke Tony Stark, Thanos menjanjikan kalau penduduk bumi (half of humanity) akan sisa setengah. Bukan penduduk galaxy sisa setengah. Hm…

Namun, ada juga flaw dari skenario 3 ini. Misalkan saja, teknologi dari komunitas di planet tersebut, jumlah kekayaan alam, kapabilitas komunitas untuk berkembang dan bertahan hidup, dan lain sebagainya.

Dapat dilihat bahwa Planet C agak lebih gersang. Jadi jumlah kekayaaan alam disana tidak cukup untuk jumlah populasi awalnya. Jadi terhadap sumber daya alam, planet ini mengalami overpopulasi. Planet A, meskipun penduduk per meter persegi sangat buanyak memiliki kekayaan yang melimpah. Jadi masih sangat aman.

Bisa jadi Planet B juga punya angka kelahiran yang sangat tinggi jadi harus dibunuh agak banyak supaya nggak beranak-pinak dengan cepat.

Bisa jadi Planet C butuh warga segitu untuk mensustain dirinya. Setiap warga sudah punya peran spesifik untuk kelangsungan hidup masyarakat secara utuh. Kalau dikurang sedikit saja, penduduk Planet C bisa tidak lagi memiliki kapabilitas untuk survive dan justru akan punah semuanya.

Bisa jadi Planet A lebih banyak pria dibanding wanita.

Bisa jadi Planet B punya gen pool lebih banyak.

Bisa jadi Planet C bla-bla-bla…

Detail. Detail. Detail.

Jadi saya benar-benar penasaran nih, Thanos gimana cara eksekusinya ya.

Kenapa Nggak Tutup Puasa Aja?

Sebenarnya udah jelas sih di judul dan gambar di atas. Nggak perlu ditulis artikel lagi sebenarnya.

Intinya, saya bertanya-tanya kenapa di bahasa Indonesia disebutnya buka puasa. Bukan tutup puasa. Ada yang tahu?

Kalau acara, saat dimulai ada pembukaan, saat berakhir ada penutupan.

Kalau film, ada tema pembuka di awal, ada tema penutup di akhir.

Kalau manusia, awal hari buka mata, akhir hari tutup mata; lahir buka masa, meninggal tutup usia.

Kalau puasa, mulainya namanya sahur, akhirnya eh namanya berbuka.

Apa ini maksudnya mulutnya mulai dibuka, boleh dimasukkan makanan. Atau karena setelah maghrib itu, dibukalah batasan yang harus ditahan agar puasa tidak batal?

Atau puasa itu ibarat barang baru dibeli gitu ya… Batal (garansinya) kalau dibuka (segelnya). Soalnya Bahasa Inggris kan jelas tuh,break fast, puasanya dirusak/dibatalkan.

Atau karena berbuka itu bukan bagian dari puasa? Bukan titik akhir dari puasa, tetapi rentang waktu yang ada setelah titik akhir itu sendiri, yang dipakai untuk makan, makan-makan, dsb. Tidak seperti pembukaan acara dan penutupan acara yang termasuk dari acara itu sendiri. Ini di luar rentang utama puasa, Wah berarti fokus utamanya itu malam Ramadhan-nya dong, dibuka saat matahari terbenam. Selesai saat fajr menyingsing.

Tapi kalau begitu, kenapa disebutnya buka puasa ya. Buka disini fokus ke puasanya. Puasanya dibuka, hmm…

Hm….

Waktu Saya yang Hilang di Bank MUFG

Suatu hari saya iseng ingin membuat akun bank baru di MUFG. Saya datang ke MUFG di Stasiun Meguro dan mendatangi mbak-mbak yang menunggu di meja isian formulir di depan deretan kasir teller. Mau bikin akun baru mbak! Kata saya. Tak terduga, hal pertama yang ditanyakan oleh si mbak adalah.

Rumahnya dimana?

Saya bilang di dekat stasiun Ookayama. Mbaknya langsung bermuka masam. Wah, kaga bisa dek! Kalau rumahnya di Okayama harus dateng ke cabang yang di Jiyugaoka, soalnya yang terdekat disana.

What the!

Lalu saya lobi bahwa cabang yang disana di luar jangkauan commuting rumah-kantor saya dan sangat tidak convenient kalau mau kesana, soalnya nggak searah ke kalau ke kantor. Patut dicatat bahwa saat itu saya sedang istirahat makan siang, kalau mau ke cabang Jiyugaoka sono ya mana cukup waktunya. Lagipula zaman gini kan!

Mbaknya tetap leng-geleng. Peraturan ya peratuan mas.

Mbaknya kemudian mengarahkan saya supaya mendaftar pakai mesin. Kayak di bawah ini nih mesinnya. Di dalam ruang sempit bilik untuk satu orang. Bilik ini juga buka malam dan hari sabtu kabarnya…

587bd7d5-0d20-44bb-acb9-6c9b78f0bdb8

Saya nggak ngerti harus takjub atau kesal dengan dialihkan permintaan saya dari manusia ke mesin ini.

Jadi ternyata, kita bakal nelpon operator pakai mesin ini. Terus operator itu yang akan melayani pembuatan akun bank kita. Itu di mesin ada monitor dan kameranya. Jadi kayak video call sama CS di pusat.

Di lubang bawah mesin juga ada kameranya. Jadi nanti formulir tetap diisi disana. Formulirnya kalau nggak salah inget keluar dari mesinnya. Isi formulir, lalu arahkan ke lobang di bawah layar. Nanti terpindai deh si formulir.

Hal yang saya dengan persyaratan lainnya seperti KTP, cap stempel, dll. Nanti difoto sama kamera menghadap lobang.

Setelah agak lama ngisi ini itu dan menjawab interogasi si mbak, akhirnya selesai juga proses pendaftaran akun baru.

Nah, terus kan kartu bank sama ATM nya nggak bisa diambil disitu tuh. Nggak bisa keluar dari si mesin. Nanti bakal di kirim via pos katanya. Satu minggu sampai sepuluh hari kemudian. Dan, kebetulan satu minggu setelah hari itu saya tidak lagi di Jepang! Dousiyo!

Harusnya gampang kan? Tinggal ditunda aja ngirim posnya sampai saya balik lagi ke Jepang. Kan saya tahu saya baliknya kapan.

Nyet nyet nyet… Nggak bisa begitu мой брат!

Di luar prosedur. Nggak bisa melanggar peraturan. Bla-bla-bla… Standar ngeles birokrasi Jepang. Nanti daftar lagi aja kalau udah balik ke Jepang lagi ya? Yang ini dikansel aja,,,

Yeah, sure. Bakal daftar lagi kok… Dalam mimpi!

Dan begitulah kisah saya membuang-buang waktu 30 menit ~ satu jam saya. Mungkin harus menunggu satu dua tahun agar respect saya ke bank yang satu ini tumbuh lagi.

Herannya, buka akun bank itu kan saya bakal ngasih uang ke si bank kan ya… Kok nggak ngekeh meyakinkan saya supaya nggak kecewa, nggak fleksibel gitu, atau mencari solusi gimana biar uang saya tetap masuk ke kantong mereka.


Bonus fact.

Kadang ini bank disebut MUFJ, pake J; Kadang MUFG, pakai G. Kenapa tuh? Saya juga bertanya-tanya.

Cek di wiki sih MUFG itu Mitsubishi UFJ Financial Group, dan UFJ itu merek. Singkatan dari United Financial of Japan pas entitas awalnya merger jadi satu.

Jadi, ama bank-nya sekarang yang bener yang mana?

Saa…. ¯\_(ツ)_/¯

Issuer = Problem Maker??

One time at work, I got a translation question from a colleague. Hey, what is 起票者 [kihyosya] in English? I am working in an ERP company and building a kind of accounting software. The term he mentioned is used for journaling system, roughly means as person who create/fill out/record/prepare a journal entry.

If you open Google Translate for 起票者 it will translate to Slip issuance person. So, issuer for short…

So I said to them, isn’t it issuer?

He (and his other colleague) were staring at me in disbelieve. Issuer? People who make problems??

I was rolling my eyes.

Here is the deal. The word issue is also commonly used in Japanese, which means a problem. We are also using redmine internally for ticketing system which uses the word issue in its URL. If anything is managed in redmine, it is problem, only problems.

It is quite similar in Indonesian language, right? We have the word isu, and the meaning is near the word problem, though not exactly. In Indonesian isu means gossip or rumor. Interestingly, this nuance is not present from the English word issue.

To be clear, check the Cambridge Dictionary for the meaning of issue in English. There are so many, but I will highlight some here.

a subject or problem that people are thinking and talking about

I think this is the nuance which presents in Japanese. It is also similar to the one in Indonesian but we use it strictly for rumor which is not the case here.

a group or series, or one of a group or series, of things that are supplied, made available, or printed at the same time

This meaning above and below is the one that I provide to them.

to produce or provide something official

Journal is a record of financial transactions, which is recorded regularly and used officially although only for internal bookkeeping. So I think issuer is quite accurate.

Well, I am not familiar with the terms of accounting domain so I may be wrong. Maybe it is booker or something. Or the book user, one that they ultimately use.

> Note: the correct term probably a bookkeeper. CMIIW.