Pos-pos Terbaru

Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang

Saya ingin membahas tentang lebarnya pendapat komunitas muslim tentang halal dan haram makanan di Jepang. Tujuan artikel ini bukan untuk memberi petunjuk atau bahkan fatwa seperti: makanan halal itu yang seperti ini-ini dan haram itu-itu. Melainkan, lebih berfokus ke realitas di lapangan. Bahwa banyak perbedaan pendapat ttg batasan makanan yang boleh dikonsumsi muslim di Jepang.

Pembaca bisa menimbang antar pendapat satu dan pendapat yang lain di artikel ini kemudian mencari lebih lanjut dalil-dalil pendukungnya. Artikel ini juga tidak akan mengutip dalil atau kaidah halal haram dalam islam karena penulis tidak memiliki kapasitas disana. Sekali lagi, fokus artikel ini adalah lebarnya spektrum pendapat di lapangan.

Juga di luar scope artikel ini untuk memberi daftar produk/merek snack yang halal dan produk/merek yang haram. Jika Anda mencari hal tersebut, saya sarankan untuk membaca artikel dari KMI Sendai dan PPI Tokodai berikut. Atau situs yang sering menjadi acuan teman-teman, halaljepun. Untuk kaidah yang lebih ilmiah, silakan kunjungi ustadz terdekat.

Sekali lagi yang harus dicatat bahwa pendapat-pendapat disini bukanlah pendapat saya dan saya tidak meng-endorse-nya. Saya juga akan berusaha untuk bersikap netral dan menyembunyikan yang mana yang pendapat saya atau yang biasa saya/teman-teman lakukan agar tidak ada judgment kepada pemegang pendapat seberangnya. Juga yang mana pendapat yang “mainstream”, karena mainstream bagi lingkungan saya mungkin berbeda bagi lingkungan lain.

Artikel ini pada akhirnya bertujuan sebagai pengaya dan titik diskusi, bukan sebagai pendakwa atau titik acu.


Konsensus: Daging Babi dan Minuman Alkohol itu Haram

Dari lebarnya spektrum yang akan kita bahas, terdapat satu konsensus utama yakni daging babi dan minuman beralkohol itu haram. Dengan demikian, artikel ini dengan sengaja mengesampingkan pendapat orang yang katanya islam tetapi entah kenapa masih makan daging babi dan minum alkohol.

Penekanan yang ada di dalam konsensus ini adalah kata daging dan kata minuman. Daging dalam artian, babi masih berwujud otot atau gilingan. Minum dalam artian, alkohol masih berwujud cairan nyata yang dapat diminum. Makan daging babi yang masih tampak seperti daging dan minum alkohol yang masih dalam bentuk minuman tidak termasuk dalam bahasan artikel ini. Jelas HAROM.

Namun, turunan dari kedua zat ini, masih fair game. Karena penekanan dari dua benda tadi berbeda, bahasan keduanya dalam artikel ini bisa berbeda. Dengan penekanan di daging, turunan babi  yang berupa daging (e.g. bacon, ham) tidak akan masuk dalam bahasan ini. Dengan penekaan di minum, tidak akan ada bahasan tentang minuman beralkohol, tetapi akan ada bahasan ttg turunan alkohol yang bukan minuman disini.


Daging Biasa: Yang Dijual dan Dimakan Orang Jepang

Perbedaan pendapat dimulai dari daging supermarket biasa. Dengan kata lain daging sapi dan ayam yang dijual dan dimakan oleh orang Jepang.

niku-di-supa

Pendapat pertama mengatakan bahwa sama seperti di negara manapun (Indonesia misalnya), kita tidak bisa memastikan kalau si hewan yang udah jadi daging itu dipotong dengan cara islami atau tidak. Pendapat ini memegang prinsip “kalau tidak tahu, ya bole-bole aja…“. Di Indonesia pun, siapapun yang menjual, apakah dia orang Tionghoa, Batak, Sunda, atau Jawa, tidak pernah ada yang mempertanyakan atau menelusuri detail sejarah si daging, atau latar belakang sang penjual.

Pendapat lain mengatakan bahwa Jepang adalah negara non-muslim. Bahkan non-ahli kitab alias politeis. Dari fakta tersebut ditambah deduksi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar daging yang dijual bebas disini tidak dipotong dengan cara islami, alias tidak halal. Memang tidak semua, tetapi pemegang pendapat ini lebih berhati-hati dengan daging dan menjauhi semua makanan lokal yang mengandung daging. Persis seperti vegetarian.

Orang dengan pendapat pertama tidak akan ragu untuk masuk ke restoran Jepang dan memandang orang dengan pendapat kedua menganiaya/mendzalimi diri sendiritidak menikmati hidup, atau fanatik mungkin. Sebaliknya, orang dengan pendapat kedua tidak akan memakan bahkan madu kalau ada kanji daging di komposisinya dan memandang pendapat pertama sebagai ceroboh atau ignorant.

Efek dari kedua pendapat ini sangat besar. Sebagian besar diskusi atau kontroversi pendapat di artikel ini tidak akan berlaku bagi pemegang pendapat pertama. Sebaliknya orang dengan pendapat kedua akan memburu kanji 肉 pada setiap produk berkemasan dan mengeliminasinya.


Daging Australia

Saizeriya Aussie Menu

P.S. Menu Saizeriya yg paling atas ada bacon-nya, jadi tetep aja ga boleh dimakan

Perpanjangan dari topik sebelumnya, terdapat juga perbedaan pendapat antara daging ahli kitab daging yang diimpor dari negara ahli-kitab (baca: barat i.e. Benua Australia, Benua Eropa, Benua Amerika).

 

Saya belum pernah mengunjungi negara ahli-kitab (baca: negara dengan mayoritas penduduk beragama kristiani), jadi saya tidak tahu bagaimana komunitas muslim disana membedakan antara daging sapi halal dan tidak halal. Kami yang di Jepang ini penasaran juga. Mungkin ada yang bersedia menulis?

Yang jelas, dua pendapat yang berbeda mencuat.

Satu pendapat, negara ahli-kitab? OK. Negara politeisme? NOK.

Satu pendapat lain, mau ahli mau pakar, tunjukkan dulu logo halalnya baru OK.

Konsekuensinya adalah saat pergi ke restoran. Misalnya, beberapa tahun lalu Sukiya – restoran sashimi daging dan ikan – rumornya mengimpor daging dari Australia. Dengan demikian, sebagian orang makan disana. Sebagian yang lain, kalau diajak nggak mau karena tetap nggak jelas dari Australianya agen halal atau agen biasa. Sayangnya, Sukiya kabarnya tidak memakai daging Australia lagi saat saya datang ke Jepang, sehingga saya tidak mengalami langsung konflik tersebut.

Contoh yang lebih modern (2017) adalah adanya menu dengan Daging Australia di Saizeriya. Nah, boleh dimakan nggak tuh?


Daging Ayam Brazil Halal

Daging ayam berlogo halal yang paling mainstream di Jepang adalah produk impor dari Brazil. Biasanya bermerk Seria atau Sadia. Daging ayam ini dijual di toko-toko halal. Toko Jepang mainstream seperti Gyoumu Supa dan Amica juga menjualnya. Terkadang saya juga nemu ayam utuh ini dijual di random warung atau supermarket yang nggak ada bau-bau toko halalnya.

Daging ini ada logo halalnya. Jadi, halal?

brand-seara

Tidak menurut sebagian brader dari Pakistan dengan alasan yang tidak saya pahami. Yang jelas, mereka agak nggak suka kalau disuguhi daging ayam yang diolah dari ayam utuh Brazil berlogo halal ini.

Mereka -brader- tidak percaya bahwa logo halal di produknya itu valid. Brazil gitu loh? Emangnya siapa yang kepikiran orang islam kalau dengar kata “Brazil”? ^^ Saya tidak begitu mengerti tapi isu yang saya dengar adalah sebagai berikut. Rumornya ada syekh dari brader-brader tersebut menanyakan entah ke supliernya atau importirnya atau perusahaan di Brazilnya dan pas ditanya (atau dikunjungi? entahlah) jawaban yang mereka beri tidak meyakinkan.

Begitulah. Update 2017.03.26 Ada skandal suap, pemalsuan sertifikat, dan kelalaian standar kebersihan di Brazil mencuat. Ternyata isu brader… ada benarnya. Skandal ini juga mencakup produsen Seara dan Sadia, namun sepertinya lebih ke masalah keuangan dibanding kebersihan. Meskipun begitu, sepertinya reaksi pemerintah Jepang adl. membatasi impor daging dari Brazil.

Jadi brader makan daging mana? Para brader beli daging halal yang disembelih di Jepang. Mungkin karena yang punya tokonya adalah brader juga, jadi mereka kenal dan yakin atau gimana gitu.

Saya menemukan banyak logo halal yang unik-unik di Gyomu Supa, misal halal Denmark, Eropa, Filipin. Negara-negara yang nggak kita pikirkan kalau bakal ada lembaga sertifikasi halalnya lah. Dan logo halal adalah tanda paling mudah bagi kita untuk mempercayai kehalalalan sebuah produk. Agak ragu juga sebenarnya dengan logo halal yang nggak pernah dengar sebelumnya tersebut. Kemudian ada berita juga di Korea, kasus pemalsuan logo halal ini sangat mewabah.

Topik ini mencuatkan pertanyaan apakah logo halal itu sendiri bisa dipercaya? Namun, kalau kita tidak mempercayai tanda halal di produk ini, apa lagi dong yang bisa kita percaya ya…

Hal yg terkait dengan ini adalah kasus berikut. Kalau kita datang ke sebuah restauran dan bertanya, ini dagingnya halal tidak (sering dilakukan orang ke resto India/Nepal) lalu dijawab “iya”, apa yg membuat kita percaya? Bisa jadi mereka bahkan ga tahu konsep halal itu bijimana.

Mirin, Seperti di Sushi atau Udon atau lain-lain

Topik selanjutnya: Mirin. Zat yang belum pernah saya denger pas di Indonesia ini adalah bumbu dapur berupa cairan yang mengandung alkohol berkadar tinggi, biasa dipakai untuk tumisan atau makanan berkuah. Hal yang sangat menyebalkan karena muslim di Jepang hobi makan sushi, soba, dan udon. Karena, well, makanan tersebut adalah makanan Jepang buanget yang tidak mengandung daging sama sekali.

Toko udon favorit di toyohashi.jpg

Toko udon favorit di Toyohashi.

Ditambah lagi banyak rumor ttg toko sushi sana boleh, toko sushi sini ada mirinnya, toko sushi situ cuma menu tertentu bertebaran hampir secara periodik, membuat komunitas flip-flop dan bingung menyikapi sushi. Hal inilah yang membuat kasus spesifik ini patut dicatat di artikel ini.

Beberapa orang mengabaikan apakah sushi mengandung mirin atau tidak. Sebentar… Mengabaikan mungkin kata yang terlalu kasar. Lebih tepatnya, membuat asumsi by default sushi itu boleh dimakan sampai ada bukti (atau rumor) kalau dia mengandung mirin.

Beberapa benar-benar mengabaikan rumor tersebut. Wong sushi gini… Mana bisa mabuk makan sushi banyak-banyak, walaupun ada mirin-nya.

Beberapa yang lain agak paranoid, menjauhi sushi yang pernah terdengar rumor bahwa ia berimirin, barang sedikitpun. Atau bahkan semua jenis sushi.

Ada yang bertanya, orang Jepang memakai mirin untuk minum-minum nggak? Kemudian dilanjutkan, kalau diminum banyak-banyak memabukkan nggak? Kalau nggak kan berarti ya boleh aja, bermirin atau tidak.

Pertanyaan yang pertama jawabannya iya, zaman dulu kala [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era … Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

Untuk pertanyaan kedua, entahlah. Karena dulu dipakai untuk minum-minum, ya kemungkinan besar memabukkan juga kali ya. Sehingga bisa disimpulkan karena banyaknya memabukkan thus haram, ergo, sedikitnya pun haram.

2302_03

Sumber: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

Setidaknya itu pendapat sebagian orang. Sebagian komunitas lainnya melihat, produknya atau makanannya, bukan komposisinya. Dengan kata lain, sushinya bukan mirinnya. Hal yang membawa kita ke topik berikutnya.

Makanan Ber-(senyawa)-alkohol

Bagaimana kalau makanan tersebut disiram alkohol, kemudian 1 detik kemudian ia menguap lalu hilang sama sekali?

Bagaimana kalau makanan tersebut berkadar alkohol yang sangat sedikit? Alkohol dari alam? Durian, tape, legen beralkohol tetapi undoubtly halal kan?, sekali lagi bagi sebagian besar pendapat.

Bagaimana kalau makanan itu tadinya berbahan alkohol, tapi sekarang bukan berwujud alkohol? Cuka aja boleh…

Semua variasi ini bisa memiliki spektrum pendapat masing-masing, pendapat sejumlah kepala yang ada. Perbedaan ini dikarenakan beda interpretasi antara khamr dan alkohol. Khamr, memabukkan. Hampir semua alkohol memabukkan. Yap, hampir tapi tidak semua.

Tidak cuma kita-kita yang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, para ahli pun sepertinya tidak bisa memberikan jawaban yang simpel, jelas dan konsisten. Titik temunya sulit disepakati. Setiap sertifikasi halal pun punya standar persentase alkohol maksimal masing-masing. Nah, apalagi orang-orang yang dibawah kayak kita. Pasti eksekusinya juga pusing dan tidak konsisten.

Contoh tidak konsisten misalnya, sebut saja si A* sangat suka durian. Kan halal. Namun, choco-chips yang ada kanji 酒 sake-nya, menjauhi. Padahal mungkin persentase alkohol di durian lebih besar dari pada di snack tersebut dan nggak pernah dengar tuh ada orang mabuk makan choco-chips banyak-banyak. But who knows…

*) Siapa itu si A. Karena batasan netralitas pendapat di artikel ini, saya tidak akan memberitahu siapa itu A. Wink.. wink..

Tidak hanya soal alkohol tadi, soal perubahan senyawa molekuler juga sepertinya masih menjadi perdebatan para ahli. Molekul ini dari babi, tapi udah berubah, atau cuma untuk dimakan bakteri dan bakteri menghasilkan molekul lain. Topik sulit yang tidak akan dibahas di artikel ini. Hal ini terkait dengan zat-zat komposisi yang akan menjadi topik selanjutnya. Yap, bahan makanan jadi bahan pertimbangan buat makan di Jepang disini. Nggak kayak di Indonesia. Ada zat yang meragukan dan ada yang tidak.

Minuman “Keras” Alkohol Nol Persen

Sebelum membahas lebih lanjut ttg zat meragukan tersebut pada komposisi makanan dan zat turunannya, mumpung lagi membahas Alkohol, mari kita sisipkan topik ttg minuman tidak beralkohol.

Es teh manis?

Bukan lah. Misalnya, bir non-alkohol atau wishkey zero alkohol, dan semacamnya. Katanya di arab banyak yang kayak ginian.

0-00_abv_beers

Foto dari Non-alcoholic beverage [Wikipedia]. Saya nggak beli lho!

Kalau saya, kok ragu kalau itu boleh diminum. Alkohol nol persen ya apa sama dengan tidak memabukkan? Yang jelas ada muslim yang yakin kalau minuman tersebut boleh diminum.

MUI sendiri menfatwakan bahwa makanan dengan nama haram (misal: teh merek Whiskey) atau makanan yg direkayasa supaya jadi berasa seperti rasa makanan yang haram (bumbu perasa babi yg nggak dari babi), jadi haram juga (Fatwa MUI 4/2003).

Meskipun masalah legalitas seperti hukum, fatwa, dan dalil di luar bahasan artikel ini, terkait dengan fatwa tadi, bagaimana dengan bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Balik ke Jepang. Disini bir dan semacamnya dijual bebas di mana saja, di warung pun buanyak variasinya. Saya sih jarang mendengar eksistensi minum keras zero alkohol disini, dan kayaknya komunitas disini juga tidak terlalu peduli dg eksistensinya. Well, move on ke topik selanjutnya.

Zat Turunan pada Ingredients

Nah, saatnya membahas gajah di ruangan. Nggak gajah juga sih, kan senyawa zat kecil-kecil. Zat turunan yang saya maksud ini ditemukan di bahan makanan, tertulis di daftar komposisi di balik kemasan makanan.

o0604040313218925372

Sumber: ameblo.jp. Coklat tanpa nyukazai. Pernah dapat coklat ini dari anak SMP Jepang pas pertemuan pertama Aichi Scholarship. Mereka jualan coklat ini untuk charity katanya.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

Daftar ini bisa melebar luas, termasuk tetapi tidak terbatas pada: lemak, gelatin, shortening, jelly, nyuukazai (emulsifier), margarin, butter, karamel, cream, yeast, asam amino, soyu (soy sauce), white vanili, dll.

Bahan-bahan makanan yang dijauhi tersebut biasanya karena tidak jelasnya asal muasal mereka. Kebanyakan dari keluarga turunan babi, misalnya emulsifier dari babi dan seterusnya. Namun ada juga emulsifier yang bukan dari babi. Karena tidak tahu yang mana, jadi tidak jelas lah.

Setiap item di watch out list itu bisa menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Nah menyikapi hal ini secara umum pun bisa menjadi pendapat yang berbeda juga. Kaum kalau tidak tahu tidak apa-apa, tidak akan melihat eksistensi tulisan tersebut di komposisi. Kaum paranoid akan memburu semua kanji dan kana dari daftar list mereka dan menjauhi semua makanan bertuliskan kanji-kana tersebut. Kaum takut tapi penasaran rasanya kayak mana akan menelpon si pembuat makanan untuk memastikan bahan makanan tadi terbuat dari apa.

Kaum yang terakhir saya sebut tadi biasanya akan dipandang jadi hero (atau jadi villain?) ketika mengumumkan produk ini boleh-tidak boleh karena alasan ini ana itu. Yang akan dibahas pada dua topik terakhir.

Double Derivative: Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan

Namun sebelum membahas dua topik tadi, mari sedikit mengekstensi topik sebelumnya sedikit. Mungkin sudah jelas di judul yak, ttg.  “Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan”.

Maksud loehh?

Lihat kembali di daftar “watch-out”-items pada topik sebelumnya. Dua item terakhir adalah soyu dan white vanili. Ekstrak kedelai dan vanila putih. Hal yang kalau dilihat dari namanya, tidak ada bau-bau mencurigakan. Bukan? Namun, ada beberapa orang yang menjauhinya dengan argumen sebagai berikut.

Jadi, soyu itu soy sauce alias saus kedelai. Soyu sebagai produk di supermarket, botolan, satuan ada yang mengandung alkohol (kanji 酒) dan ada yang tidak. Jadi ada yang boleh ada yang tidak. Are you with me?

Nah, ada produk makanan lain tuh. Misal apa deh, roti kek atau snack. Eh, dilihat di belakang bungkusnya ada tulisan soyu. Jeng-jeng-jeng…. Nah lho, nah lho. Boleh nggak tuh?

Karena fakta di lapangan yang bisa kita saksikan sendiri (di supermarket, misal) bahwa ada soyu yang boleh dan nggak boleh, meragukan, ergo si roti tadi juga meragukan sampai diketahui si soyu ini komposisinya bagaimana. Jadi, rotinya mending dijauhi.

Yang lain berpendapat, chotto matte! soy sauce ya soy sauce. White vanili ya white vanili. Jangan menyetarakan produk bahan dan produk jadi. Produk pabrik dan produk konsumen. Logikanya, pabrik kalau memesan dan mencantumkan bahan ya bahan murni. Bukan bahan turunan. Kalau turunan berarti bahannya bahan tadi juga merupakan bahan dan harus dicantumkan juga, bukan? Kalau begitu, produk yang mengandung coklat semua meragukan karena ada coklat yang mengandung alkohol ada juga yang tidak.

Argumentasi pada topik terakhir ini cast doubt, apa lagi ini indonesianya, memancarkan bayang keraguan pada daftar komposisi itu sendiri. Bisa dipercaya atau tidak kah?

Untung saja ada kaum takut tapi penasaran pengen nyoba yang terdepan dalam mengonfirmasikan hal-hal tersebut ke produsen langsung. Bisa nunggu laporan mereka lah. Eh.. Tapi kalau daftar komposisi di kemasan nggak bisa dipercaya,  konfirmasi dari produsen bisa dipercaya nggak ya? Hm…



Halal Berbatas: Waktu/Serial Number/Tempat/Bungkus

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

Bahasan gajah di ruangan (ttg zat turunan dalam komposisi) ini merujuk kepada satu kesimpulan. Kehalalan di sini sifatnya limited dan temporer.

 

Bertanya “ttg kit-kat itu halal apa nggak?” jawabannya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menjawab. Dan macam-macam lagi tergantung kapan, kit-kat yang mana, yang dijual dimana, bahkan yang serial numbernya dengan akhiran apa.

Ada juga produk milk-tea yang as bizzare as it sounds, um, seaneh kedengarannya, berbeda status kehalalannya bergantung pada ukuran botol. Yang sedang boleh, yang kecil nggak. Padahal produk yang sama dengan tulisan komposisi yang sama.

Hal tersebut sangat biasa di kehidupan komunitas muslim di Jepang.


Makanan Dari Teman

Artikel ini memperlihatkan bahwa setiap ada topik pasti ada pendapat yang berbeda di antaranya. Nah, kalau makanan itu untuk diri sendiri sih nggak masalah. Namun, di dalam komunitas tentu interaksi, tukar pikiran, dan tukar makanan pasti akan terjadi. Bagaimana dengan spektrum pendapat yang berbeda-beda tadi?

Apakah kita harus mengecek kalau semua parameter di atas sama nilainya dengan teman yang memberi kita makan tadi? Tentu saja pada topik ini juga ada perbedaan pendapat lagi. Ada yang nanya banget, ada yang nanya secukupnya, ada yang cuek.

Misal yang soal brader tadi, katanya sampai ngamuk dan menolak kalau disuguhi daging halal brazil. Saya sih tidak menyaksikan langsung gimana cara mereka menolaknya. Katanya sih beberapa tahun lalu terjadi, dan sepertinya mereka sudah mulai melunak akhir-akhir ini.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

SONY DSC

Nobody will refuse or question the halal status of rendang. Sumber foto: Rendang [wikipedia].

Menurut saya, burden of proof, duh apa lagi ini Indonesianya, beban pembuktian kehalalalan jatuh kepada dia yang membuat dan memberi makanan tersebut. Dan sebagai muslim, kita cukup percaya dengan keislamannya dan yakin dia tidak berniat mencelakakan. Ini juga sebagai penghormatan terhadap pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat, muslim tetap bersaudara.

Meskipun begitu, dua paragraf terakhir di atas nggak jelas juga tuh dengan klausa “kecuali sangat-sangat mencurigakan”. Mencurigakan itu yang bijimana? Duh duh duh…



Mujtahid dan Mujtahid Mutlak

Pada akhirnya, setiap pendapat adalah milik pribadi masing-masing. Setiap pribadi harus berijtihad, memutuskan bahwa saya berpendapat begini untuk topik ini dan begitu untuk ropik itu.

Ada prinsip bagus dari ustadz yang menjadi imam di Masjid Toyohashi (atau yang datang dari Indonesia untuk pengajian? saya lupa siapa).

Wara’ itu untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain.

Dan bagi yang bingung memutuskan pendapat, selalu ada mujtahid mutlak di sekitar kita. Ini sebenarnya istilah guyon yang dicetuskan oleh salah satu bapak-bapak di Toyohashi. Jadi bukan mustahid mutlak kayak imam syafii gitu bukan. Disini maksudnya, orang-orang yang kalau “berfatwa” roti merek ini itu boleh, chiki ini itu nggak, dan memakannya, pendapat itu bakal mutlak dipakai oleh komunitas di sekitarnya.

Syarat jadi mujtahid mutlak ini tidak sulit. Punya kecenderungan untuk peduli ttg halal dan haram. Jadi, minimal bukan omnivora-lah, apapun dimakan. Punya kecenderungan untuk update informasi. Nggak gaptek-gaptek dan kuper-kuper amat. Dan yg terpenting punya kecenderungan untuk bisa membaca kanji. Beres. Saya juga pernah menjadi mujtahid mutlak bagi anak-anak SMP Indonesia yang datang ke Jepang. Mereka belanja di kombini dan saya dengan otoriter men-dictate, ini boleh, ini jangan.

Biasanya tiap komunitas punya orang seperti ini, dan pendapatnya juga berbeda antata mutlaker di komunitas satu dan lain. Pernah dengar cerita juga, ada anak yang dianggap alim karena dia rajin sholat mengaji dsb, memiliki pendapat pertama di topik pertama artikel ini, jadi teman-temannya pun berpendapat yang sama.

Di internet, kaum penanya produsen tadi juga bisa direfer dan dipakai pendapatnya secara mutlak. Biasanya mereka mengepos di Facebook, group, atau blog-blog. Situs halal yang saya refer di awal artikel juga salah satu contohnya.

halal-japan-facebook.png

Mujtahid mutlak daring sedang beraksi.

 

Jika Anda bingung ttg suatu kasus halal haram suatu produk, membaca artikel ini mungkin akan tambah bingung. Untuk pembaca yang sudah membaca sampai paragraf ini, saya ucapkan: Selamat atas achievent Anda membaca artikel 3000 kata ini. Maaf karena mungkin saya tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membaca blog ini.



Penutup

Topik berikutnya, terdapat juga perbedaan pendapat dari bagaimana makanan tadi itu ditutup. Penutupnya turunan dari babi atau nggak.

Bercanda-bercanda…

Artikel ini sudah terlalu puanjang dan membahas hal yang cukup luasss…. Mau mengedit supaya lebih ringkas, kok capek ya. Jadinya, bingung deh mau menutupnya bagaimana.

Pokoknya gitu lah ya.

Di Jepang, halal haram itu pusing. Nggak gampang kayak di Indonesia. Namun, semoga tidak ada konflik dikarenakan perbedaan pendapat di atas. Tidak perlu keras mengoreksi dan berbantah-bantahan. Mari melembut dan tersenyum. Saling menghormati pendapat masing-masing, dan terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sepertinya itu lebih baik.

Sama-sama perantau kita di Jepang sini, mari kita saling bahu membahu.

Jika ada pertanyaan, pendapat, cerita silakan kasih komentar di artikel ini atau lebih baik lagi tulis di blogmu. Mungkin bisa memperkaya wawasan ttg topik ini lebih luas lagi.

^^.. Wassalamualaikum.

Cafeteria Plan

Di kantor saya sekarang (Works Applications, Tokyo) ada yang namanya cafeteria plan. Benda ini termasuk dalam paket kesehatan tambahan yang jadi employee benefit dari kantor. Kongkretnya, kami pegawai bakal dapat 32.000 point per tahun, dibagikan pada 1 April setiap tahun.

Satu point setara dengan satu yen, bisa dibelanjakan di beberapa merchant atau klinik kesehatan yang berafiliasi dengan kantor. Tapi beda dengan medical check-up standar ya, karena medical check-up rutin (gratis dari perusahaan) dan asuransi kesehatan adalah wajib di Jepang. Beda paket/sistem. Meski begitu, kalau mau tambahan medical check-up dari plan ini ya boleh juga…

Si point juga bisa “dibelanjakan” di suatu web yang disediakan oleh トーマツ健康保険組合. Kayak amazon gitu, cuma situsnya jadul kaya tahun 90an. Isinya macam-macam sih, tetapi terkait kesehatan. Klinik-klinik, check-up ini itu, obat kosmetik, alat kesehatan aneh-aneh, dll. Ada elektronik dan benda besar macam-macam juga sih, tapi terkait kesehatan. Misal humidifier, oven, sepeda, tread mill, atau Apple Watch. Sayangnya harga disini lebih mahal dari harga standar di luar.

Luyaman juga, setahun dapat 32.000 yen pesangon non-gaji, karena bukan gaji jadi nggak dipajaki!

Situs tukar poin di kantor.PNG

 

Saya baru tahu kalau ternyata cafeteria plan ini diadopsi dari USA dan sudah diterapkan di Jepang semenjak 1995. Artinya di perusahaan lain juga ada sistem employee benefit yang sama, tapi mungkin beda besar point yang diperoleh, atau variasi komponen yang didapat bukan cuma point aja tetapi ada jasa lain, bla-bla-bla.

Tapi kok, di perusahaan saya yang lama di Nagoya kok nggak ada ya… Atau saya aja yang kuper, soalnya di perusahaan ini aja baru tahu tahun ini, lebih dari satu tahun setelah masuk. Begitu tahu, cek ada jatah poin sebesar 64.000! Diapaain ya, Apple Watch aja kah?!


Eh, btw, ini berarti bisa jadi komponen negosiasi kalau lagi cari kerja ya. “Okay deh, gaji dan bonus boleh segini segitu tapi saya minta cafeteria plan setahunnya ditambahin segini, gimana?” gitu… Hmm…


Ada artikel menarik juga tentang cafeteria plan di Jepang: An Overview of Japanese Cafeteria Plans -Objectives and Results (1998, Tamie Matsuura)


Btw, penasaran, di Indonesia ada nggak?

Iklan

Iklan Wordpress yang Baik, Sesuai Kebutuhan

Jadi kemaren saya menulis blog tentang bongkar pasang kamera yang udah jarang dipakai, dan akhirnya si kamera jadi nggak bisa dipakai lagi.

Saat preview si artikel, liat bawah iklan dari si WordPress. Jeng-jeng…

Ironis, iklan kamera di artikel bongkar kamera.PNG

The irony is strong here!


[What? It is not an irony! you say??]

[Achievement Unlocked] Bongkar Kamera dan Lensa

Saya punya pocket camera Nikon Coolpix S9500 yang dibeli sejak saya sampai di Jepang. Jadi sudah berumur lima tahun. Kamera ini sudah lama tidak dipakai, karena ada debu yang menempel di lensanya.

Pernah sih mengalami kejadian yang sama pas awal-awal punya, tapi setelah didiamkan nggak berapa lama hilang sendiri. Tapi debu yang terakhir ini persisten. Sudah setahun lebih dia mengendok di lensa.

Until one day, its master calls upon this item. And it wakes up from its deep slumber and descends from its shelves to the mortal world.


Googling-googling cara membersihkan lensa kamera, katanya disedot pakai vacuum cleaner aja. Woke… Pantas dicoba! Cek-cek comment section pada positif. Pada mempan, dan banyak thank you berselebaran.

Worth it, kayaknya.

Setelah dicoba, jeng-jeng hasilnya adalah sebagai berikut:

Berbagai sudut dicoba, si debu yg kecil-kecil gerak sih. Tapi bukan gerak ke luar lensa, cuma pindah posisi. Si debu yang gede, hanya bergeming di tempatnya.

All hope is lost! Menyerah… Nggak jadi dipakai deh si kamera.


Namun, esok paginya masih terasa ganjalan di dada. Tertantang buat membersikan tu debu. Terperciklah sebuah ide, gimana kalau depan lensanya direndam air? Ntar kan debu yang lengket di kaca lensa bakal tergenang tuh! Habis itu disedot, beres kan!!!

Semangat menggebu. Ambil gelas dan isi air panas. Celupkan depan moncong si kamera ke air, goyang-goyang, lalu cabut dan sedot dengan vacuum. Jeng-jeng, hasilnya?? Si debu tetep ada plus ada genangan air di kaca.

-╯□╯  ︵-┻━

Di titik ini, rasa gemes memuncak. Pengen banget ngelap si kaca itu langsung rasanya. Penasaran. Akhirnya, cari cara bongkar itu kamera. Ketemu situs berikut yang cukup membantu. (www.ifixit.com) Nikon COOLPIX S9500 Lens Replacement

Kamera terbongkar, now what

Kamera terbongkar, now what?

Akhirnya, terbongkarlah si Coolpix dan saya peroleh si lensa. Sayangnya tautan di atas cuma bongkar kamera doang, nggak menjelaskan sampai cara membongkar lensa. Stuck hampir satu jam.

Sayang banget kan sampai disini menyerah, akhirnya saya teguhkan diri. Dimulai dari membuka baut yang dapat ditemukan dan mencongkel sela-sela yang ada di lensa. Sedikit demi sedikit. Urai untaian pita kabel dari tempatnya. Satu per satu komponen akhirnya bisa dibuka. Sampai semua bagian kamera dan lensanya ter

Lensa terbongkar.JPG

Yes! Bisa bongkar lensa… Achiement Unlocked! Kebanggan muncul pada diri.

Ternyata ada 5 lensa si kamera ini. Setiap lensa punya penyangga yang tergantung di pemegang badan lensa. Silinder pemegang ini punya lubang berlir sehinga masing-masing lensa bisa bergerak sesuai dengan rute ulir yang ada. Jenius juga…

Satu per satu saya lap deh si lensa. Target captured.

Sekarang masalah besarnya adalah, gimana cara masangnya lagi… Dan benar juga ini masalah yang lebih besar dari cara membongkar. Mana tadi lupa memfoto setiap tahap bongkar lensanya pula. Saya akhirnya menghabiskan sisa hari mencari tahu cara menyusun si lensa.

Setelah uji coba berkali-kali, pasang dan bongkat, akhirnya lensa bisa kembali disusun dengan benar. Dengan benar disini maksudnya, setiap lensa tetap bisa berjalan di ulir penyangganya, sehingga sistem lensa memanjang dan memendek saat mengatur zoom. Harus dilakukan berkali-kali soalnya sekali pasang eh ada debu yang baik, atau eh si lensa macet ga bisa bergerak. Satu yang membuat sulit adalah ternyata si ulir itu tidak punya simetri rotasi. Jadi ketika penyangga ada enam dan mulut ulir ada enam, tidak ada enam kombinasi, cuma ada satu kombinasi yang benar. Nggak bisa acak masukin penyangga ke mulut ulir.

Sampai isya, akhirnya terpasanglah seluruh sistem lensa ke badan utama kamera. Woh.. Rasanya puas… Walaupun pusing juga sih seharian main puzzle kamera. Satu jari jadi korban luka-luka juga karena masang ulir yang salah.

Saat mau memasang casing, eh, lho… Wait what? Sejak kapan?! Akhirnya ditemukanlah satu fakta yang menggagalkan semuanya. Ada satu kabel pita yang putus!

Pita Kabel Putus

Hmm… Not wanted to be discouraged, saya lanjutkan pemasangan casing dan battery. Lalu menghidupkan si kamera.

Now the moment of truth… Dan ternyata saudara-saudara:

Lens Error!.jpg

Moment of silence.

Ya sudahlah… Setidaknya punya pengalaman bongkar dan pasang lensa.

Si kamera pun akhirnya kembali ke tempatnya dengan kondisi yang berbeda. “Berbeda” karena ternyata casing-nya susah dipasang karena badannya kurang rapat atau gimana, jadi dia separuh terbongkar. Tanpa ada baut yang dipasang, jadi kalau mau experiment bongkar pasang puzzle lagi bisa dipanggil dengan gampang.


And the item is back to its deep slumber.

Gimana cara Thanos menyetengahkan populasi??

Seperti yang sudah Anda ketahui, Thanos ingin menyetengahkan jumlah penduduk dunia alam semesta untuk menghindari atau setidaknya meredakan overpopulasi. Dengan demikian, sisa penduduk yang hidup bisa menikmati alam dan kekayaannya lebih baik. Yang saya penasaran adalah, gimana cara si Thanos melakukan hal tersebut.

:Lho kok bingung? Kalau lu nonton pilemnya kan jelas, pake inpiniti ston, terus snap!

Bukan, bukan. Bukan itunya, tapi bagaimana cara si Thanos memilih siapa yang hidup siapa yang harus mati.

:Random kan?

Yaaa random, tapi random yang kayak mana gitu loh? Misalnya nih yang paling sederhana aja. Setiap penduduk di alam semesta punya peluang yang sama.

 P(selamat) = 0,5

Kelihatan adil kan? Tapi dengan begini, apa bisa thanos mencapai tujuannya? When I’m done, half of humanity will still be alive.

Di skenario satu ini, peluang hanya setengah penduduk yang dimusnahkan sangatlah kecil. Misalnya nih penduduk dunia ada 2n, kalau dihitung peluangnya adalah:

P(separuh selamat) = C(2n,n) / 4^n
 \approx  asymptotic to 1/sqrt(n)

Jadi, kalau Thanos tidak hati-hati, bisa jadi lebih dari atau kurang dari separuh yang selamat.


Asumsikan Thanos berhasil mengatasi masalah pertama di atas. Yaa, simpelnya dengan cara menghitung jumlah yang sudah dia bunuh, kalau sudah sampai setengah tinggal berhenti aja.

Masalah dua yang juga harus diperhatikan oleh Thanos adalah distribusi dari penduduk di seluruh dunia alam semesta. Adalah fakta lapangan bahwa setiap tempat tidak memiliki jumlah penduduk yang sama.

Ada kota planet yang padat penduduk. Ada desa planet yang masih sangat lengang. Terus bagaimana cara menyetengahkan penduduk supaya jika dipandang dari sudut pandang individual tempat tersebut, semuanya terasa adil.

Skenario 1. Pure random, plain and simple

Ini skenario terburuk menurut saya. Acak murni berarti ada kemungkinan bahwa si desa (yang tidak mengalami overpopulasi) mendapatkan jatah lebih banyak dari si kota. Atau bahkan musnah sama sekali. Dengan demikian, overpopulasi di kota tidak teratasi dan desa tidak dapat berkembang.

Menyetengahkan penduduk dengan acak murni.png

Satu kemungkinan akhir dari metode acak murni

Oke…

Skenario 2. biar adil bagaimana kalau kita hitung penyetengahan manusia per planet. Planet A, penduduk sekian pilih setengah. B sekian, pilih setengah. Dan seterusnya…

Saya masih ragu kalau ini adil. Planet C (planet ketiga di artikel ini) tidak terlalu overpopulated. Jumlahnya masih sedikit. Tidak perlu disetengahkan.

Menyetengahkan penduduk dengan setengah per planet.png

Sebaliknya, Planet A sangatlah sangatlah padat. Disetengahkan sekalipun, planet tersebut masih dalam keadaan overpopulasi.

Skenario 3. Yang banyak ambil banyak, yang dikit ambil dikit, jangan lupa totalkan agar seluruh alam hanya setengah yang musnah

Mungkin ini bisa jadi skenario yang bagus. Tapi apakah adil antar planet… I don’t know… Lagipula pas Thanos bilang ke Tony Stark, Thanos menjanjikan kalau penduduk bumi (half of humanity) akan sisa setengah. Bukan penduduk galaxy sisa setengah. Hm…

Namun, ada juga flaw dari skenario 3 ini. Misalkan saja, teknologi dari komunitas di planet tersebut, jumlah kekayaan alam, kapabilitas komunitas untuk berkembang dan bertahan hidup, dan lain sebagainya.

Dapat dilihat bahwa Planet C agak lebih gersang. Jadi jumlah kekayaaan alam disana tidak cukup untuk jumlah populasi awalnya. Jadi terhadap sumber daya alam, planet ini mengalami overpopulasi. Planet A, meskipun penduduk per meter persegi sangat buanyak memiliki kekayaan yang melimpah. Jadi masih sangat aman.

Bisa jadi Planet B juga punya angka kelahiran yang sangat tinggi jadi harus dibunuh agak banyak supaya nggak beranak-pinak dengan cepat.

Bisa jadi Planet C butuh warga segitu untuk mensustain dirinya. Setiap warga sudah punya peran spesifik untuk kelangsungan hidup masyarakat secara utuh. Kalau dikurang sedikit saja, penduduk Planet C bisa tidak lagi memiliki kapabilitas untuk survive dan justru akan punah semuanya.

Bisa jadi Planet A lebih banyak pria dibanding wanita.

Bisa jadi Planet B punya gen pool lebih banyak.

Bisa jadi Planet C bla-bla-bla…

Detail. Detail. Detail.

Jadi saya benar-benar penasaran nih, Thanos gimana cara eksekusinya ya.

Kenapa Nggak Tutup Puasa Aja?

Sebenarnya udah jelas sih di judul dan gambar di atas. Nggak perlu ditulis artikel lagi sebenarnya.

Intinya, saya bertanya-tanya kenapa di bahasa Indonesia disebutnya buka puasa. Bukan tutup puasa. Ada yang tahu?

Kalau acara, saat dimulai ada pembukaan, saat berakhir ada penutupan.

Kalau film, ada tema pembuka di awal, ada tema penutup di akhir.

Kalau manusia, awal hari buka mata, akhir hari tutup mata; lahir buka masa, meninggal tutup usia.

Kalau puasa, mulainya namanya sahur, akhirnya eh namanya berbuka.

Apa ini maksudnya mulutnya mulai dibuka, boleh dimasukkan makanan. Atau karena setelah maghrib itu, dibukalah batasan yang harus ditahan agar puasa tidak batal?

Atau puasa itu ibarat barang baru dibeli gitu ya… Batal (garansinya) kalau dibuka (segelnya). Soalnya Bahasa Inggris kan jelas tuh,break fast, puasanya dirusak/dibatalkan.

Atau karena berbuka itu bukan bagian dari puasa? Bukan titik akhir dari puasa, tetapi rentang waktu yang ada setelah titik akhir itu sendiri, yang dipakai untuk makan, makan-makan, dsb. Tidak seperti pembukaan acara dan penutupan acara yang termasuk dari acara itu sendiri. Ini di luar rentang utama puasa, Wah berarti fokus utamanya itu malam Ramadhan-nya dong, dibuka saat matahari terbenam. Selesai saat fajr menyingsing.

Tapi kalau begitu, kenapa disebutnya buka puasa ya. Buka disini fokus ke puasanya. Puasanya dibuka, hmm…

Hm….

Waktu Saya yang Hilang di Bank MUFG

Suatu hari saya iseng ingin membuat akun bank baru di MUFG. Saya datang ke MUFG di Stasiun Meguro dan mendatangi mbak-mbak yang menunggu di meja isian formulir di depan deretan kasir teller. Mau bikin akun baru mbak! Kata saya. Tak terduga, hal pertama yang ditanyakan oleh si mbak adalah.

Rumahnya dimana?

Saya bilang di dekat stasiun Ookayama. Mbaknya langsung bermuka masam. Wah, kaga bisa dek! Kalau rumahnya di Okayama harus dateng ke cabang yang di Jiyugaoka, soalnya yang terdekat disana.

What the!

Lalu saya lobi bahwa cabang yang disana di luar jangkauan commuting rumah-kantor saya dan sangat tidak convenient kalau mau kesana, soalnya nggak searah ke kalau ke kantor. Patut dicatat bahwa saat itu saya sedang istirahat makan siang, kalau mau ke cabang Jiyugaoka sono ya mana cukup waktunya. Lagipula zaman gini kan!

Mbaknya tetap leng-geleng. Peraturan ya peratuan mas.

Mbaknya kemudian mengarahkan saya supaya mendaftar pakai mesin. Kayak di bawah ini nih mesinnya. Di dalam ruang sempit bilik untuk satu orang. Bilik ini juga buka malam dan hari sabtu kabarnya…

587bd7d5-0d20-44bb-acb9-6c9b78f0bdb8

Saya nggak ngerti harus takjub atau kesal dengan dialihkan permintaan saya dari manusia ke mesin ini.

Jadi ternyata, kita bakal nelpon operator pakai mesin ini. Terus operator itu yang akan melayani pembuatan akun bank kita. Itu di mesin ada monitor dan kameranya. Jadi kayak video call sama CS di pusat.

Di lubang bawah mesin juga ada kameranya. Jadi nanti formulir tetap diisi disana. Formulirnya kalau nggak salah inget keluar dari mesinnya. Isi formulir, lalu arahkan ke lobang di bawah layar. Nanti terpindai deh si formulir.

Hal yang saya dengan persyaratan lainnya seperti KTP, cap stempel, dll. Nanti difoto sama kamera menghadap lobang.

Setelah agak lama ngisi ini itu dan menjawab interogasi si mbak, akhirnya selesai juga proses pendaftaran akun baru.

Nah, terus kan kartu bank sama ATM nya nggak bisa diambil disitu tuh. Nggak bisa keluar dari si mesin. Nanti bakal di kirim via pos katanya. Satu minggu sampai sepuluh hari kemudian. Dan, kebetulan satu minggu setelah hari itu saya tidak lagi di Jepang! Dousiyo!

Harusnya gampang kan? Tinggal ditunda aja ngirim posnya sampai saya balik lagi ke Jepang. Kan saya tahu saya baliknya kapan.

Nyet nyet nyet… Nggak bisa begitu мой брат!

Di luar prosedur. Nggak bisa melanggar peraturan. Bla-bla-bla… Standar ngeles birokrasi Jepang. Nanti daftar lagi aja kalau udah balik ke Jepang lagi ya? Yang ini dikansel aja,,,

Yeah, sure. Bakal daftar lagi kok… Dalam mimpi!

Dan begitulah kisah saya membuang-buang waktu 30 menit ~ satu jam saya. Mungkin harus menunggu satu dua tahun agar respect saya ke bank yang satu ini tumbuh lagi.

Herannya, buka akun bank itu kan saya bakal ngasih uang ke si bank kan ya… Kok nggak ngekeh meyakinkan saya supaya nggak kecewa, nggak fleksibel gitu, atau mencari solusi gimana biar uang saya tetap masuk ke kantong mereka.


Bonus fact.

Kadang ini bank disebut MUFJ, pake J; Kadang MUFG, pakai G. Kenapa tuh? Saya juga bertanya-tanya.

Cek di wiki sih MUFG itu Mitsubishi UFJ Financial Group, dan UFJ itu merek. Singkatan dari United Financial of Japan pas entitas awalnya merger jadi satu.

Jadi, ama bank-nya sekarang yang bener yang mana?

Saa…. ¯\_(ツ)_/¯

Issuer = Problem Maker??

One time at work, I got a translation question from a colleague. Hey, what is 起票者 [kihyosya] in English? I am working in an ERP company and building a kind of accounting software. The term he mentioned is used for journaling system, roughly means as person who create/fill out/record/prepare a journal entry.

If you open Google Translate for 起票者 it will translate to Slip issuance person. So, issuer for short…

So I said to them, isn’t it issuer?

He (and his other colleague) were staring at me in disbelieve. Issuer? People who make problems??

I was rolling my eyes.

Here is the deal. The word issue is also commonly used in Japanese, which means a problem. We are also using redmine internally for ticketing system which uses the word issue in its URL. If anything is managed in redmine, it is problem, only problems.

It is quite similar in Indonesian language, right? We have the word isu, and the meaning is near the word problem, though not exactly. In Indonesian isu means gossip or rumor. Interestingly, this nuance is not present from the English word issue.

To be clear, check the Cambridge Dictionary for the meaning of issue in English. There are so many, but I will highlight some here.

a subject or problem that people are thinking and talking about

I think this is the nuance which presents in Japanese. It is also similar to the one in Indonesian but we use it strictly for rumor which is not the case here.

a group or series, or one of a group or series, of things that are supplied, made available, or printed at the same time

This meaning above and below is the one that I provide to them.

to produce or provide something official

Journal is a record of financial transactions, which is recorded regularly and used officially although only for internal bookkeeping. So I think issuer is quite accurate.

Well, I am not familiar with the terms of accounting domain so I may be wrong. Maybe it is booker or something. Or the book user, one that they ultimately use.

> Note: the correct term probably a bookkeeper. CMIIW.

Quartz itu bukan merk jam

Di Indonesia, saya sering lihat jam dinding bertuliskan QUARTZ. Dari kecil saya kira itu merk… Setahun belakangan saat saya riset buat beli jam tangan, baru tahu kalau Quartz itu jenis teknologi jam.

Jadi ada dua teknologi jam. Quartz atau automatic. Teknologi quartz mengandalkan jumlah getaran pada mineral quartz untuk menggerakkan jarum jam. Supaya bisa bergetar, mineral ini mesti dikasih listrik. Sebaliknya, teknologi “automatic” hanya memerlukan energi potensial dari pegas; namanya automatic tapi sebenarnya mechanical. Jadi kalau punya jam tangan non-Quartz kita harus memutar knop-nya beberapa hari sekali.

Nah, jam dinding dengan tulisan QUARTZ itu sebenarnya tak bermerk. Generik. Sama kayak obat. Karena kata “quartz” keren aja, ditaruh disitu.

Saraba… Nomor telponku…

Saya sudah di Jepang hampir lima tahun. Tentu saja saya punya nomor telepon selular Jepang sendiri, karena sangat tidak praktikal untuk tetap memakai nomor telpon Indonesia. Namun, selama ini nomor telpon Indonesia itu tetap saya biarkan hidup. Well, karena semua orang yang saya kenal di Indonesia tahunya nomor itu. Sejak SMA saya pakainya itu. Jadi alangkah elegan kalau nomor tersebut terus saya pakai sampai saya pulang lagi ke Indonesia dan terus selama saya hidup. What a romantist thought.

Cara Bertahan Hidup

Sebelum berangkat ke Jepang, saya bertanya ke Grapari Telkomsel. Gimana caranya supaya ini nomor hidup terus tapa dipakai di Jepang… Konversi ke Halo aja, katanya… Tapi kalau dari As nggak bisa pakai nomor yang sama, harus ganti yang awalnya 0812 (etc)… -.- Well, that defeat’s the purpose. Ada cara lain nggak? Nggak ada, katanya…

Pff…

Untungnya, Kartu As itu kalau dipakai sejumlah tertentu, masa aktifnya akan bertambah sebulan. Ya udah manfaatkan gitu aja. Saya isi pulsa terkecil, Rp25.000 dan setiap bulan saya kirim SMS nge-junk satu ke random person. Karena roaming, satu SMS itu aja memakan biaya Rp7.000. Satu kali SMS sudah cukup pemakaian untuk memperpanjang masa aktif.

Hal ini berhasil dilaksanakan selama 3 tahun di Jepang. Aman.

Pulsa Tersedot Tiba-tiba

Awal Januari 2017, saya upgrade kartu SIM saya dari kartu jebot ke kartu yang support 4G. Saya juga kebetulan upgrade ponsel dari HTC Wildfire S ke Motorola Z Play. Karena, si api liar sudah melewati masa bergunanya. Kecil. Tombol rusak. Android nggak bisa diapdet. Susah dipakai lah.

Saya tidak tahu ini penyebabnya atau bukan. Sejak pergantian divais itu, entah kenapa pulsa yang saya isi selalu tersedot tiba-tiba. Tanpa SMS. Tanpa telpon. Ponsel selalu terhubung wifi, dan data selular di non aktifkan. Saya isi 50.000 via My Telkomsel app (yup, minimal pengisian entah kenapa naik) eh seminggu kemudian nol. NOL!

Saya cek *887# yang buat liat pemakaian pulsa terakhir, isinya GPRS 10kb sekian ribu. What??? Data selular non-aktif loh bro…

Unreliable CS Telkomsel

Karena kejadian ini berulang terjadi, sekitar bulan Mei 2017 saya bertanya ke cs@telkomsel.com. Udah dibalasnya lama, jawabannya standar jawaban customer service. Sama sekali tidak membantu.

(15/05/17) Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami, agar dapat saya bantu pengecekan lebih lanjut, silakan informasikan data berikut:
1. Tanggal dan jam kejadian,
2. Jumlah pulsa terpotong,
3. Jumlah sisa pulsa,
4. Lokasi detail.

Walaupun pertanyaannya absurd (Mana saya tahu tanggal dan jam kejadian! Justru saya yang pengen tahu!) ya saya balas. Sayangnya tidak digubris. Juli, karena kejadian sedot pulsa ini terjadi lagi, saya kirim email komplain lagi.

Terus dia minta Nomor KTP, nama ibu kandung, dan tanggal lahir. Via email. What!!! Bukannya nomor KTP sakral ya?

Sebulan kemudian, Agustus, balasannya hanya begini.

(23/08/17) Terima kasih atas data yang diberikan. Saya cek nomor 085280854471 tidak memilik paket data sehingga terpotong GPRS normal. Apabila menggunakan WiFi, pastikan menonaktifkan mobile data dan data roaming pada HP yang digunakan. Hal ini bertujuan untuk menghidari pemotongan pulsa.

Argghh… Do you think I am that stupid?!!

Okay, sabar. Saya kasih tahu kalau saya udah nonaktifkan segala macam setting ttg data. Dan ini tidak terjadi 3 tahun sebelumnya, hanya terjadi awal tahun ini setelah saya ganti upgrade kartu SIM dan hape. Itukah penyebabnya? Apa solusinya?

Terima kasih atas konfirmasinya. Tidak hanya setting-an mobile data yang di-OFF-kan saat penggunan layanan WiFi di luar negeri, namun juga data roaming/while roaming sebab ke dua setting-an tersebut harus dalam keadaan tidak aktif secara bersamaan. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari akses GPRS roaming meskipun menggunakan WiFi. Apabila tetap bermasalah, silakan konfirmasi data berikut:
1. Waktu kejadian,
2. Jenis HP yang digunakan,
3. Nomor yang bisa dihubungi.

Sampah! Oke sabar… Masih saya layani, walaupun into di atas udah saya kasih di email-email sebelumnya. Entah mbaknya ganti atau Telkomsel nggak punya sistem ticketing yang bagus. Saya juga bilang lagi kalau ini kejadian sudah berkali-kali, komplain balasan emailnya lama, dan info di atas sudah pernah saya berikan. Dan saya sudah cek semua setting, sampai saya kasih skinsyut settingnya.

(30/08/17) Terima kasih telah menunggu, Bapak Albadr. Saya cek data di nomor 085280854471 tidak terdapat pemakaian pulsa pada tanggal 10 sampai 11 Juli 2017. Namun pada tanggal 12 Juli 2017 penggunaan telah sesuai karena terdapat pemakaian pulsa untuk akses data internet dengan tarif normal Rp17.500 saat berada di negara Jepang. Saya sarankan agar Bapak aktivasi paket Roaming jika berada di luar negri dengan dial ke *266# sehingga saat penggunaan akses data tidak dikenakan tarif normal GPRS Roaming. Info lengkap paket Roaming Telkomsel bisa cek di www.telkomsel.com/paketroaming.

Zuma! Mugabe! Trump!

Hilanglah semua harapan. Saya tidak lagi mengandalkan si CS. Saya sepertinya sudah terbiasa dengan customer service di Jepang. Masalah gini disini saya bayangkan bisa terselesaikan kurang dari satu jam. Paling lama satu minggu mungkin, dan mereka yang aktif mencari penyebab dan solusi masalah kita lalu menghubungi. Bukan sebaliknya.

Setelah itu, saya menerima nasib bahwa setiap bulan saya harus isi pulsa. Dan pulsa minimal itu akan langsung hilang lenyap. Demi nomor yang jarang saya gunakan ini tetap hidup.

Toh, cuma 500 yen per bulan. Small chip, right? Ya kalau minimal pengisiannya nggak naik lagi.

Solusi Penyebab Kelalaian

Awal tahun 2018, saya pulang lagi ke Indonesia. Sistem pembelian paket data ternyata sudah berubah drastis dari yang saya ingat waktu kuliah di Bandung. Dari tahun lalu pun juga beda.

Saya beli paket internet seminggu berapa giga, eh ternyata dapat kartu khusus paket data. Bukan paket ke kartu yang sekarang saya udah punya.

Untungnya Motorola Z Play support Dual SIM. Jadi, saya pasang kartu lama saya dan kartu paket data ini. Setting selular data-nya di set ke kartu paket data.

Wait…

Jadi punya ide! Asumsikan hape ini (atau applikasi My Telkomsel, atau apapun) dengan sampahnya mengirim paket GPRS tanpa izin, bahkan dengan setting data selular non-aktif. Berarti kalau koneknya ke kartu paket data yang baru, kartu lama nggak bakal masalah kan? Nggak ada sedot pulsa tiba-tiba lagi…

Balik ke Jepang, cek sebulan. Woop… Bener gan! Pulsa yang diisi ke kartu lama masih tetap ada sampai luama… Jenius! Satu masalah bisa dilupakan.

Saya pun terjebak rutinitas kantor. Beberapa lama kemudian, awal April…

Saya ngecek hape Motorola. Cek pulsa… Oh iya, dual SIM ya… Cek pulsa ke kartu lama. Hmm, kok aneh… Oh masa tenggang kali belum isi pulsa. Coba isi deh, kok aneh… Nggak bisa. Hmm…

Kartu Anda sudah tidak aktif lagi. Wait what!!

Saya hubungi orang tua di rumah buat konfirmasi ke Grapari. Yup, sudah lewat masa tenggang katanya.

 

Joseph-oh-my-god.jpg

Oh! My! Goddo!

 

Bisa direkoveri? Kagak! Udah diblok sama sistem. What the f***!!

Jadi gimana, ada cara lain nggak? Udah kagak bisa, di sistem udah nggak diterima lagi… What a stupid system.

Okey. Just like that. Nomor yang sudah saya bina selama sepuluh tahun, mati. Lenyap. Hilang selamanya… Sampai mungkin nanti direuse oleh Telkomsel dan dipakai oleh bapak-bapak gendut di suatu pulau antah berantah.

Moral of the Story

Apa ya…  Nggak ada kali… Customer service di Indonesia itu masih banyak ruang untuk lebih baik (baca: tidak bisa diandalkan)? Jangan terjebak rutinitas kantor segitu parahnya? Pasang alarm dan jangan lalai?

Sebenarnya tidak ada kerugian yang saya alami dari kejadian ini. Hanya sedih saja, idealisme dan romantisme satu nomor seumur hidup, lenyap!

Satu hal yang saya syukuri adalah, tengah tahun lalu saat kejadian sedot pulsa tiba-tiba itu terjadi, saya melalukan audit ttg akun online saya. Hampir semua service terutama sistem otentikasi dua faktor-nya saya redirect atau duplikat ke nomor Jepang. Jadi tidak ada akun saya yang terblok. Hanya akun mobile banking saja yang tidak bisa diakses lagi.

Dari lama sih saya ingin membuat Contingency Plan secara formal buat merekap semua koneksi antara akun email, webservice, hape, dan komputer. Serta risk assessment ttg apa saja threat factor dan akibatnya kalau salah satu komponen rusak, hilang, dan tidak bisa diakses. Apa tindakan pencegahan dan apa yang harus dilakukan kalau terjadi beneran.

Namun tidak ada waktu untuk membuatnya.

Penting ini. Harus dibuat… Jadi nggak bingung dan nggak harus cek akun satu-saku kalau beneran terjadi. Dan beneran terjadi kan!

Moral of the story? Buat sistem yang robust dan kalau perlu contingency plan untuk kehidupan akun online Anda.

Sssssttt…

Setiap pagi saya mendengar orang Jepang yang baru datang di kantor berdesis ria. Datang satu orang.

Ssssttt….

Satu orang lagi…

Sssttttts….

Nggak semua sih. Sebagian… Ngapa lah ini orang Jepang pikir saya… Rupanya itu singkatan dari “Selamat Pagi”. Jadi kalau ditulis full begini nih.

[Ohayogozaima]sssssttsu.

Mungkin karena malu atau gimana jadi awal kalimatnya diucap sirr sama mereka. Atau mungkin biar efisien atau gimana kali.

Kalau di Indonesia dibuat seefisien begitu, mungkin kira-kira jadi begini…

giii…..

Atau begini..

likummm…..

Kali yak.

Di kantor saya dulu di Nagoya, orang yang berdesis gitu kalau ketahuan Shacho (CEO) bakal dimarahi dan disuruh ulang masuk kantornya. Di depan pintu harus salam pakai teriak, cem tentara.

OHAYOUGOZAIMASU!

Gitu… Jangan sampe deh.

Nan ya?!

Di dalam semangat nuansa makna, saya baru saja diperkenalkan oleh teman Jepang saya satu komik yang sangat lucu berikut. Hampir semua dialog di komiknya cuma bilang “nan ya” atau variasinya. Dan tentu saja, artinya, atau lebih tepatnya arti dan nuansa di dalamnya berbeda-beda.

Komik ini bukan dalam bahasa Jepang standar, melainkan dalam dialek Kansai. Mari kita cek.

nanya

Sumber: Sayangnya nggak ada yang tahu pengarang asli dari komik di atas. Udah terlanjur terkenal. Best case: Osakaaruaru Twitter

Kalau di artikan ke bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan kesan yang ada di bahsa aslinya, mungkin kira-kira seperti berikut.

Patut di catat bahwa komik bahasa Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri.

nanya baris 1

“Ih, apaan nih?” *ngejek

“Apaan loe!?” *nggak terima

“Apaan gan… Nggak apa-apa gan….” *menenangkan

“Apaan sih?!” *bingung

“Loe yang apa??” *nantangin

nanya baris 3

“Apa loe ha!?” *balik nantang

“Apa juga ha!?” *gelut

“Apa-apaan ini kalian!” *kesel

“Ngapa!!???” *nantangin juga loe?

“Apaan toohh—-!!” *nggak mudeng

nanya baris 4

“Eh apa tuh?” *nanya sesuatu

“Apaan?” *konfirmasi pertanyaan balik

“Apaan sih apaan?” *yang lain ikut penasaran

“Apa, gelut katanya…”  *terjawab

“Oh, kirain apaan.” *kecewa

Tamat.

Justifikasi

Awal-awal penulisku mengisi diriku ini, perataan paragraf yang dia gunakan adalah justifikasi. Entah apa itu bahasa Indonesianya? Perataan kiri kanan? Atau perataan aja? Dulu kayaknya dia berpikir kalau justifikasi itu membuat artikel jadi bagus. Kayak koran gitu. Rapih. Cantik. Mungkin lebih mudah dibaca kali ya.

Namun ada banyak kelemahan dalam perataan justifikasi paragraf di web. Beberapa malah jadi antitesis dari alasan penggunaan justifikasi di koran. Pertama tengok paragraf yang diset dengan perataan kanan kiri di bawah ini. Paragraf ini diambil dari artikel Logo Provinsi yang merombak seluruh logo provinsi di Indonesia. Cek tengah paragraf, rentang spasinya jadi nggak rata.

Contoh efek buruk justifikasi

Aku tadinya mau memdemonstrasikan live dengan paragraf di atas, tapi kan justifikasi di web ini bergantung pada lebar jendela, jadi susah deh ngasih liat sisi jeleknya.

Blob di tengah teks ini tentu saja tidak membuat teks lebih mudah dibaca. Pinggir-pinggir rapih sih kesannya cakep, tapi tengah itu lebih penting karena mata manusia mengalir di dalamnya saat membaca. Bukan terpaku di pinggir.

Di contoh di atas sih cuma sebaris. Kalau yang muncul berbaris baris? Misal kata yang muncul panjang-panjang. Misal nih ya.

Pertanggungjawaban mantan Presiden Republik Indonesia yang dipertanggungjawabkan di rapat pleno nasional pertanggungjawaban menyebarluasnya  Pneumonoultramicroscopicsilicovolcanoconiosis afterthefact alias hanya pascainsiden mempermasalahkan permasalahan yang diada-adakan. Pertanggungjawabannya Presiden yang memempertanggungjawabkannya pascakepresidenan tersebut ditolak mentah-mentah oleh komisi Dewan Perwakilan Rakyat.

Geser-geser jendela browser dan lihat perubahan paragraf di atas deh. Aneh!

Jadi kenapa spasi itu bisa muncul? Karena teknologi perataan justifikasi milik HTML dan CSS masih cupu. Cuma if kata-kata nggak muat gedein spasi di baris ini dan lanjut ke baris berikutnya.

Kalau Latex, dengan setting rata kiri kanan paragraf secara otomatis akan memenggal kata sehingga saat ada kata super panjang seperti kata “mempertontonkan” di contoh di atas, kata tersebut tidak seluruhnya jatuh ke baris berikutnya dan menciptakan ruang-ruang kosong di tempat tinggal sebelumnya.

Cek contoh hasil dari Latex berikut. Garis strip di kata mempertontokan automagically appear berkat si Latex.

latex justifikasi.PNG

Memang sih masih ada kasus yang mau diapain aja tetap serba salah. Kayak baris kedua contoh di atas, mau dipisah “lam-bang” juga nggak muat di baris atasnya. Jadi tetap ada spasi agak besar disana. Ini shouganai…  atau bahasa indonesia: ya piyee….

Setidaknya, spasi liar ini terminimasi oleh Latex.

Di koran juga begitu. Cuma aku nggak tahu mereka memotong-motong kata pakai typeset dari Latex juga atau manual itu. Penulisku juga kayaknya nggak tahu.

Di web? Justify masih cupu dan sepertinya tidak usah dipakai banyak-banyak dulu. Untunglah akhir-akhir ini si dia nggak pernah menjustifikasi diriku ini lagi.

Nuance dan Nuansa

Saya bingung, nuance ini bahasa Indonesianya apa ya?

Bukannya “nuansa” ya gan?

Iya sih itu… Tapi beda deh. Di artikel sebelumnya saya memakai kata nuance dalam bahasa Inggris walaupun saya tahu ada kata nuansa di bahasa Indonesia. Soalnya saya merasa ada nuance di kata nuansa yang membuatnya beda dari kata nuance.

Ehm. Maksud saya, kata nuance dalam bahasa Inggris dan kata nuansa dalam bahasa Indonesia itu punya arti yang sedikit berbeda. Mari kita lihat bedanya.

nuance

  1. subtle distinction or variationNuances of flavor and fragrance cannot be described accurately … — Scott Seegers… these terms have certain nuances of meaning … — Ben F. Nelms

  2. a subtle quality
  3. sensibility to, awareness of, or ability to express delicate shadings (as of meaning, feeling, or value)

(Merriam Webster Online)

nu.an.sa

  1. n variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dan sebagainya)
  2. n kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai)

(KBBI Daring Badan Bahasa Kemendikbud)

Hmm, kalau liat kamus di atas sama kayaknya gan!

Nyet nyet nyet.… Saya berani bertaruh kalau si bapak-bapak perumus KBBI itu cuma ngeliat arti nuance dalam bahasa Inggris kemudian memberi fatwa, inilah arti kata nuansa seharusnya.

Dalam percakapan sehari-hari, kata nuansa dalam bahasa Indonesia hampir tidak pernah diartikan sebagai subtle difference atau perbedaan halus. Tidak percaya, lihat aja daftar frasa berikut ini.

Nuansa Ramadhan. Nuansa Tahun Baru. Nuansa Jawa. Nuansa Tradisional. Nuansa Islami. Nuansa Sejuk. Nuansa Kemerdekaan.

Kalian bisa mendaftar sendiri pemakaian kata nuansa yang umum tersebut dan bisa disimpulkan kalau arti nuansa disana adalah tema atau suasana. Sama sekali bukan perbedaan halus. Kalau emang si KBBI tadi “benar”, kalimat berikut-lah yang harusnya lebih umum.

Ada nuansa di suara dan wajahnya ketika kami bertemu kembali.

Sayangnya, saat membaca kalimat di atas kita langsung berteriak. Nuansa di muka? Suara? Maksute? Nuansa apaan? Agak tuaan dikit kah gitu kah?

Menurut Samsudin Berlian (Kompas, 26 Mar 2010) yang kemudian artikelnya dicadangkan di rubrikbahasa, kata nuansa ini dipopulerkan oleh lagu Nuansa Bening oleh Keenan Nasution pada tahun 1970. Dan sejak itulah orang pada mengasosiasikan kata ini menjadi suasana, suasana bening…

Kita bisa aja berargumen kalau orang-orang yang memakai kata nuansa dengan arti suasana tadilah yang salah. Konyol. Nggak mutu. Namun, masa iya pemakai mayoritas bisa dicap salah dan bodoh semua.

Apa nggak lebih cocok kalau disepakati kalau ada “arti baru” atau “pergeseran makna” di kata nuansa tersebut, laiknya kata maskapai yang tadinya berarti perusahaan (sembarang) sekarang menyempit artinya menjadi perusahaan penerbangan. Jadi si KBBI yang harus direvisi tuh… Bukannya kamus itu tugasnya adalah merekam arti kosa kata sesuai yang dipakai oleh masyarakat? (Alinea ini memandang bahwa kamus itu deskriptif)

Namun saya juga agak sayang kalau kata nuance yang di bahasa Inggris itu tidak lagi memiliki padanan di bahasa Indonesia. Kalau kita tidak lagi memiliki kata untuk menggambarkan sebuah perbedaan yang halus dari suatu makna, kualitas, musik, warna, dll. Separuh diri saya masih percaya bahwa arti kata yang terekam di kamus itu adalah standar emas yang harus dijaga. (Alinea ini memandang bahwa kamus itu perskriptif)

Intinya saya galau. Untuk tujuan artikel ini, saya akan memakai arti nuansa yang tercantum dalam dua kamus terkutip di atas.


Suatu hari, ada yang mengklaim bahwa kita harus memahami bahwa bahasa Indonesia itu sering dirasa-rasakan melebihi makna leksikal kata itu sendiri. Misalnya tentang pemakaian istilah tabrakan, tubrukan, atau tumbukan. Itu artinya sama tapi beda di rasanya… Bernuansa.

Misalnya lagi kata seluruh dan semua. Artinya beda tapi sama, dan susah nentuin dimana bedanya. Kalau kata saya, kata seluruh itu dilihat dari atas sebagai satu kesatuan. Jadi sifatnya tunggal. Semua itu dilihat dari bawah, harus ada komponen-komponennya. Jadi kata semua bersifat jamak.

Jam itu jangka waktu, tetapi bisa juga menjadi saat tertentu. Pukul itu hanya bisa dipalai untuk saat tertentu.

Pencinta itu adalah orang yang mencinta. Pecinta itu adalah orang yang bercinta.

Meninggal. Mati. Mampus. Wafat. Gugur. Kayaknya ini pembaca bisa membedakan nuansa di dalamnya.

Membahas nuansa makna dari kata-kata itu sangat menarik. Di blog ini banyak banget bahasan seperti ini. Misalnya huruf × alfabet, makna × arti × definisi, hantar × antar, jubah, tabrakan × benturan, dan lain-lain. Di masa depan, tentu artikel seperti ini bakal bertambah.

Dengan demikian, saya sadar penuh dan setuju dengan pendapat di atas. Namun, saya tidak setuju bahwa itu hanya terjadi atau bahkan hanya umum terjadi di Bahasa Indonesia. No. Not even close…

Nuansa terjadi di bahasa manapun. Bukan karena orang indonesia itu suka merasa-rasa. Tapi karena orang itu suka merasa-merasa.

Misalnya nih bahasa Inggris. Really sama truly. Kalau really itu punya nuansa “yang sangat” kalau truly itu punya nuansa “sebenarnya”. Jadi kalau kita bilang a really crazy person, kita mengklaim bahwa dia itu sangat gila, gilanya nggak ketulungan. Kalau kita bilang a truly crazy person, kita mengklain bahwa dia itu gila beneran, nggak main-main atau bohongan. Harfiah. Mutlak. Gila segila-gilanya.

Illusion dan DelusionIllusion itu sesuatu yang tidak nyata, digunakan untuk memberikan kesan yang salah terhadap realita. Delusion itu kepercayaan, persepsi, bayangan pikiran, atau pendapat yang salah atau dibuat-buat alias bertentangan dengan fakta. Fatamorgana itu ilusi. Indonesia menang world cup itu delusi.

Postpone × delay × defer. Postpone itu sengaja menunda sesuatu yang sudah dijadwalkan, umumnya ke jadwal yang lain. Delay itu ada kesan tidak sengaja tertunda, di luar dugaan, dan belum tentu ada jadwal penggantinya. Meskipun bisa jadi umbrella term juga, dipakai umum untuk segala penundaan. Defer itu menunda sesuatu tapi belum tentu jadwalnya sudah ditentukan sebelumnya (sebelum dia ditunda).

Bahasa Jepang lebih banyak lagi. Rajanya nuansa keknya. Di JLPT seksi vocabulary justru mengetes pemahaman nuansa dibanding cuma makna kata. Saya sampai stress dan nggak lulus-lulus karenanya. Saya berikan contoh yang gampang aja disini.

Analisis: 分析 bunseki × 解析 kaiseki. Kalau bunseki itu analisis yang lebih menyeluruh, umum, atau ringkas. Kalau kaiseki itu lebih mendalam, metodik, bersifat numerik, dan butuh data yang spesifik.

Malam: 夜 yoru × 晩 ban. Kalau yoru itu lawannya 昼 hiru alias siang, kalau ban itu lawannya 朝 asa alias pagi. Tengah malam itu pakai 夜 yoru = 真夜中 mayonaka.

Marah: 怒る okoru, 叱る shikaru. Kata okoru itu marahnya karena ketidakpuasan subjek yang memarahi. Kata shikaru itu karena kesalahan yang harusnya umum diketahui kalau itu salah. Situasi “guru memarahi siswa karena tidak mengerjakan PR” itu memakai shikaru. Situasi “cewek marah sama cowoknya karena lupa ulang tahun” itu memakai okoru.

Hai aja bisa berarti macam-macam bergantung pada nuansa suaranya.

Kalau didaftar semua bisa-bisa melebihi kamus artikel ini. Sementara contohnya segini dulu. Sisanya simpanan artikel buat lain kali.


Karena ada nuansa ini jugalah kata dalam bahasa asing biasanya tidak bisa dicari padanan utuhnya di bahasa lain. Saya sempat membahas di 11 Kata Indonesia yang Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya. Ada yang komentar: bisa aja ah tuh gan dicari padanannya. Tinggal dibuat konteksnya, katanya.

Namun, mencari exact meaning termasuk nuansanya untuk beberapa kata itu mustahil lho. Misal mabuk dan drunk. Arti keduanya sama… Sayangnya konsepnya berbeda sehingga mereka bernuansa makna.

Mabuk itu konsepnya lebih ke pusing kepala yang sangat dan tiba-tiba karena objek luar sampai susah mikir. Kagak ada asosiasi sama alkohol. Makanya ada istilah mabuk yang bukan dari alkohol, misal dari kendaraan, laut, atau cinta. Konsep ini nggak ada di bahasa Inggris. Padanannya, drunk itu ya kejadian hilang syaraf karena minuman. Tok. Nggak ada istilah car-drunk, sea-drunk, atau love-drunk.

Harus hati-hati kalau nerjemahin sesuatu nih, khususnya novel.


Saya juga ingin membahas tentang keyakinan saya bahwa kalau menulis sesuatu, apalagi pendapat, itu harus memiliki nuansa. Nuanced article. Nuanced opinion. Sedemikian sehingga berbeda dari yang lain, walaupun bahasannya sama. Dengan demikian, ada sesuatu yang baru yang ditawarkan ke pembaca.

Misalnya saja artikel ini sama persis dengan artikel  Nuansa Makna (Samsudin Berlian, Kompas) tadi dan juga Blog Kutu Kamus berikut. Namun, saya setuju bahwa kata nuansa itu dipakai secara salah di masyarat luas, tetapi berbeda di titik argumen bahwa pemakai salah kaprah nuansa = suasana itu semuanya heresy, melainkan saya memandang kalau kamuslah yang harus dimutakhirkan. Saya juga memberikan contoh nuance dari bahasa lain dan antar bahasa.

Well, mungkin bisa juga didebatkan kalau semua hal itu, mau artikel, musik, karangan, masakan, makalah memiliki nuansa. Asal nggak plagiat plek 100% persis-sis kali yak.

Namun, ada juga argumen yang menentang nuance, khususnya di bidang akademik. Makalah berjudul Fuck Nuance (Kieran Healy, American Sociological Association 2017) berikut merupakaan bacaan yang bagus.

Yup, mungkin buat tema artikel lain kali.

Collision

Beberapa waktu silam saat saya membahas Jubah, salah satu leluhur tetua daisenpai (bahasa Indonesianya pa ya?) saya berkomentar bahwa agensi pendidikan di Indonesia memaksa semua riset pakai bahasa Indonesia murni. Dan beliau bingung, riset beliau tentang collision analysis ini di Indonesianya apa? Apa ya tubrukan, tabrakan, tumbukan, atau benturan.

Spontan saya waktu itu menanyakan balik ‘bukannya “analisa benturan” ya?” ke beliau. Namun setelah dipikir, saya bingung juga. Bisa jadi tabrakan.

Di artikel ini saya mencoba membahas dua konsep dalam informatika yang dalam bahasa Inggris memakai kata “Collision”. Walaupun dalam bahasa inggris istilahnya sama, dalam bahasa Indonesia istilah ini harus diterjemahkan menjadi dua kata berbeda.

Collision Detection

Istilah ini sering dipakai di dunia game, atau lebih tepatnya di dunia grafis. Secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut.

Dalam dunia nyata, objek bergerak yang bergerak bisa berinteraksi satu sama lain ketika bersentuhan. Aksi = reaksi. Namun, dalam grafis game hal tersebut tentu saja harus diprogram.

Misalnya contoh gambar di bawah, ada kaki mau menendang bola. Si program harus bisa mementukan, dititik mana si bola bakal balik arah. Kotak jingga di bawah adalah garis terluar dari sprite ehm… dari gambar si objek. Garis si kaki resolusinya bagus tetapi si bola resolusinya rendah. Algoritma collision detection yang jelek bakal memberikan sinyal ON saat si kedua kotak jingga berbenturan. Yang bagus bakal ON ketika si area hitam yang berbenturan.

Yup. Istilah yang ini, kalau di Indonesia seharusnya Deteksi Benturan. Mudah dipahami nuance-nya disini, soalnya saat kedua benda bersentuhan sedikit alias berbenturan, collision detection pun menyala.

Collision

Deteksi benturan dalam grafis

Hash Collision Probability

Kalau istilah yang ini dipakau di bidang keamanan informasi. Hash disini bukan tagar lho yak… Mungkin bisa dipahami sebagai ringkasan dari suatu informasi untuk memastikan keaslian dari informasi tersebut.

Misalnya nih, SMS itu kan isinya teks dan bisa direpresentasikan sebagai nol dan satu. Gimana cara kita tahu dengan singkat bahwa SMS ini masih asli? Kan kita meragukan teksnya tuh, utuh nggak… Yang paling gampang adalah jumlahin semua hurufnya dengan kesepakatan a=1, b=2, dst.

Jadi, pesan berikut ini memiliki hash 89.

jangan dibaca gan

Nah, algoritma hash sederhana di atas punya kelemahan yang cukup besar. Misalnya pesan di bawah ini memiliki hash yang sama persis, 89.

boleeh dibaca gan

Hal ini tentu saja sangat jelek ketika hash tersebut dipakai buat sekuriti. Soalnya gampang banget nyari cara buat mengubah pesan yang menghasilkan ringkasan yang sama. Yang menabrak hash pesan asli.

Yap, Hash Collision Probability ini menghitung peluang tabrakan dari ringkasan yang dihasilkan algoritma tersebut.

hash collision

Tabrakan hash: ketika dua input jatuh ke satu output yang sama atau mirip

Yup lagi, disini dipakainya tabrakan, karena kata tabrakan lebih ada nuance yang lebih besar dibanding benturan atau tumbukan.

Bukan dari sisi tingkat kepentingan istilahnya lho. Tapi dari luas penampang dua benda yang bersentuhan tadi. Kalau dalam Collision Detection, si dua benda cuma overlap sedikit sudah dianggap iya. Kalau disini, si dua hash harus memiliki overlap yang tinggi baru dianggap collision.

Alih Bahasa Istilah Teknis? Yang Bagus?

Jadi gimana membedakannya? Terus collision analysis di bidang fisika terapan tadi itu apa?

Ya nggak ada metode khusus untuk semua kata kayaknya gan. Harus dilihat dulu daftar pilihan kata dan nuance-nya.

Yang paling gampang ya melihat bagaimana konsensus telah mengalihbahasakan kata itu sebelumnya. Di makalah Indonesia diterjemahkannya bagaimana gitu, biar seragam.

Yang saya paling salut adalah di bidang Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi -setidaknya yang sama pelajari di SMA- istilah teknis bahasa Indonesianya sudah matang. Besaran. Gaya. Daya. Usaha. Kelembaman. Medan. Arus. Tegangan. Hambatan, Kumparan. Zat. Senyawa. Zarah. Ikatan. Galat. Gulma. Tungkai.

Saya sampe nggak tahu awal-awal bahasa Inggrisnya apa.

Kemudian yang akhir-akhir ini saya tahu. Aras. Deran. Buai. Malar. Tunak. Simpal. Catu. Ilian. Yang bahasa Indonesianya pun nggak ngerti, wkwk….

Oh ya, Pusat Bahasa mengeluarkan pedoman umum pembentukan istilah lho. Bagus buat bahan bacaan sebelum tidur tuh kayaknya.

Blog sebelah juga membahas ttg ide dia untuk membentuk kata-kata baru. Saya juga sangat tertarik tentang kata-kata bahasa Indonesia ini, if don’t notice it yet. Penasaran, kamu tahu istilah bidang tertentu berbahasa Indonesia yang jarang diketahui umum?


Atribusi

Gambar mobil tabrakan adalah buatan Adriana Danaila dan dipublikasi di The Noun Project dengan sedikit modifikasi.

60 Sapi Apa Yang…

Entah kenapa, joke tebak-tebakan tentang sapi ini yang paling banyak ditemui dan gampang dibikin. Kok bisa ya?

Berikut saya mendaftar beberapa yang berhasil saya temukan / pikirkan. Mulai dari yang paling mainstream. Untuk jawaban silakan di-higlight kata setelah pertanyaan.

1. Sapi apa yang jalannya merayap? ::Sapidermen::

2. Sapi apa yang bisa terbakar? ::Sapiritus::

3. Sapi apa yang bisa nulis? ::Sapidol::

4. Sapi apa yang jadi kekasih gelap? ::Oh Sapia…::

5. Sapi apa yang jalannya cepat? ::Saprint::

6. Sapi apa yang jalannya lebih cepat? ::Sapida Balap::

7. Sapi apa yang jalannya lebih cepat tapi nggak capek? ::Sapida Motor::

8. Sapi apa yang supercepat? ::Sapid Boat::

9. Sapi apa yang pelit? ::Sapiring Berdua::

10. Sapi apa yang romantis? ::Sapiring Berdua Sama Kamu::

11. Sapi apa yang warna-warni? ::Sapidol warna::

12. Sapi apa yang ada di semua mobil? ::Sapion::

13. Sapi apa yang menular? ::Sapilis::

14. Sapi apa yang bau pesing? ::Sapitank::

15. Sapi apa yang bau tahi? ::Kotoran sapi::

16. Sapi apa yang bisa untuk bersih-bersih? ::Sapi lidi::

17. Sapi apa yang bisa nyanyi? ::Sapiul Jamil::

18. Sapi apa yang bisa telepati? ::Sapikiran::

19. Sapi apa yang bisa membaca sapi lain? ::Sapikolog::

21. Sapi apa yang bunyinya indah? ::Kecapi::

22. Sapi apa yang kerjaannya ngurusi sapi gila? ::Sapikiater::

23. Sapi apa yang beranak tiga? ::Sapi betina::

24. Sapi betina apa yang jago acting? ::Sapia Latjuba::

25. Sapi apa yang bisa nangis? ::Bella Sapira::

26. Sapi apa yang alim? ::Imam Sapi-i::

27. Sapi apa yang alim dan cantik? ::Nur Sapiyah anaknya pak ustadz::

28. Sapi apa yang pintar? ::Homo Sapiens::

29. Sapi apa yang apes? ::Sapintar-pintarnya tupai melompat akhirnya jatuh juga::

30. Sapi apa yang bisa buat internetan? ::Telkom Sapidi…::

31. Sapi apa yang berbahaya kalau diinjak? ::Sapi Ranjau::

32. Sapi apa yang paling menggemaskan? ::Boneka Sapi::

33. Sapi apa yang enak dimakan? ::Sapiring Nasi Uduk::

34. Sapi apa yang bulat tengahnya kuning? ::Telur Mata Sapi::

35. Sapi apa yang harganya murah? ::Sapi glonggongan::

36. Sapi apa yang sering ditemukan di pinggir jalan? ::Pedagang Sapi Lima::

37. Sapi apa yang bisa diminum susunya? ::Sapi perah::

38. Sapi apa yang galau? ::Pria-pria Kesapian::

39. Sapi apa yang membuat galau? ::Cinta bertepuk sapilah tangan::

40. Sapi apa yang nggak suka lebaran haji? ::Sapi potong::

41. Sapi apa yang nggak punya duit? ::Sapir miskin::

42. Sapi apa yang sebaiknya dilakukan setelah dua tahun? ::Menyapih anak::

43. Sapi apa yang membuat damai? ::Guru sapiritual::

44. Sapi apa yang punya banyak ide? ::Insapirasi::

45. Sapi apa yang bisa membuat kulit luka? ::Sapirhan kaca::

46. Sapi apa yang sakitnya itu di dalam dada? ::Sapirhan hati::

47. Sapi apa yang jadi idaman banyak orang tua? ::Pegawai Negeri Sapil::

48. Sapi apa yang wajib dilakukan saat kemah? ::Sapi unggun::

49. Sapi apa yang suaranya keras? ::Sapiker::

50. Sapi apa yang bisa membuat film? ::Steven Sapilberg::

52. Sapi apa yang banyak ditemukan di film? Sapisial Effect::

53. Sapi apa yang bisa membuat bangunan? ::Sapil engineering::

54. Sapi apa yang muter-muter? ::Fidget sapinner::

55. Sapi apa yang kejang-kejang? ::Sapilepsi::

56. Sapi apa yang sering jadi korban pemerasan? ::Sapi perah::

57. Sapi apa yang kuliah? ::Sapitas Academia::

58. Sapi apa yang asli nusantara? ::Sapi bali::

59. Sapi apa yang bermuka dua? ::Sapi kembar siam di Kentucky ini ::

60. Sapi apa yang bisa menghentikan daftar sapi ini? ::Cukup sapihan dan terima kasih.

Fyuh… Banyaknya…


Bonus.

sapiosexual (comparative more sapiosexual, superlative most sapiosexual)

  1. Sexually attracted to intelligence or the human mind

Attribusi.

Gambar sapi paling atas buatan Chrystina Angeline dari The Noun Project.