Pos-pos Terbaru

ReZero

Re:Zero, A Masterpiece

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali.

Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!!

Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL:

IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION!

Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!!

Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya…

Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis!

Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini.

Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV Series, Sinetron, Film, Novel, VN, etc.) bisa buat seri artikel sendiri. Mungkin bisa diringkas dengan tiga kata: variasi, kedalaman, dan eksekusi. Namun itu bahasan untuk lain kali.

Intinya, saya sudah banyak nonton anime. Udah muak lah… Pahamlah sama semua klise, trope, dll. Namun, banyak hal yang baru saya alami setelah saya menonton Re:Zero di musim ini.

  • Pertama kali saya merasakan zetsubou (putus asa) yang mendalam setelah menonton episod dan masih terngiang hingga beberapa jam setelahnya. Harus nonton video kucing dulu supaya bisa tidur.
  • Pertama kali saya menonton episod yang sangat-sangat spektakuler, yang saya nggak bakal mau nonton ulang. Ehm, episod 15 ehm… Kenapa? Karena well, cek poin sebelum ini.
  • Pertama kali saya spontan teriak F word ke layar. Teriak lho… Teriak! You know, it’s not in my character to say that. Yes, the author of this series is a troll (reddit, point 3) .
    Note: by F word of course I mean: Friends!
  • Pertama kali saya tertawa ngakak melihat super panjangnya list kekuatan dari seorang tokoh super duper imba (ehm, Reinhart, ehm….) dan sangat bersyukur bukan dia yang jadi MC.
  • Pertama kali saya merasa nggak nyaman ngeliat MC yang lemah, pathetic, membohongi diri sendiri dan sekelilingnya, terus hampir gila kena trauma alias PTSD, tapi masih tetap lanjut nonton.

Dan belakangan, di episod 18.

  • Pertama kali saya menangis, literally meneteskan air mata. Bukan cuma mata haru, benar-benar merembas deras. Deras! Sepanjang episod!! Yang isinya padahal cuma dua orang berdiri di tempat yang sama. Separuh isinya monolog dan separuh laginya dialog.

Mungkin kira-kira kayak ini lah raut wajah waktu saya nonton.

Don’t get me wrong. Ada banyak contoh episod anime/ tv series yang isinya cuma dialog tapi sangat menarik untuk ditonton. Contoh konret: Bakemonogatari. Hampir semua episod malah! Ada banyak juga contoh anime/ tv series yang membuat saya terharu dan mengabutkan mata. Clannad, Tokyo Tower, AnoHana, Shigatsu Kimi no Uso, One liter of tears, dan banyak seri lainnya.

Namun, episod 18 Re:Zero ini… Is in a whole different dimension. 

Episod 18 ini saja, bisa mengalahkan semua romance di J-Drama, K-Drama, sinetron, holiwut atau boliwut manapun… Saya yakin nggak bakal ada drama live action itu bisa mengubek-ubek emosi melebihi episod ini.

Episod yang sangat-sangat super, sampai saya ragu mau nonton lagi. Nggak tahan sama emosi gan…

Supaya ngerti, bagi yang belum tahu ttg anime ini, sedikit overview. Premisnya, ttg seorang NEET bernama Subaru yang tiba-tiba nyasar ke dunia fantasy yang well kejam. Disini eh dia punya kekuatan seperti karakter di game. Dia punya save point, kalau mati bakal reset lagi ke save point tersebut. Starting from zero.

Nah, cerita Re:Zero ini mengisahkan bagaimana reaksi manusia biasa, manusia beneran kayak saya yang nulis blog ini dan Anda pembaca, dengan segala pola pikir dan psikologinya, saat ditaruh ke dunia fantasy dengan kekuatan absurd kayak premis di atas. Menghadapi rentetan tragedi. Didorong sampai ke titik nadir…

Sebuah story telling akan berusaha menempatkan tokoh utamanya (MC) sebagai seseorang yang relatable dengan pembacanya. Jadi pembaca bisa menempatkan diri di sepatunya si MC. Empati… Cerita yang bagus bakal membuat kita lebih dari empati. Membuat pembaca merasakan yang dirasakan oleh si MC, berpikir wajar kalau aing kena kejadian gini, aing akan berbuat, dan bereaksi demikian. And Re:Zero have an excellence job at it!!

Sangat rekomendasi untuk nonton episod ini. Namun, kayaknya kalau nggak nonton dari episod 1 ya nggak akan kena emosinya deh… Soalnya episode 18 ini puncak dari seluruh episode sebelumnya, dan akhir dari prolog cerita Re:Zero. Akhirnya, cerita sebenarnya dimulai juga.

Re:Zero asalnya dari web novel yang bisa dibaca disini (URL: http://ncode.syosetu.com/n2267be). Setelah musim ini selesai pengen banget baca, tapi kanjinya itu…

Featured Image Nagoya Mosque

Trade-off between Kamejima Station and Honjin for Reaching Nagoya Mosque

Abstract. Nagoya mosque is located almost in the exact middle between Kamejima-station and Honjin station. Many people thought that Honjin-station is the nearest and thus the most convenient station to get off from and on to the city subway. Challenging this idea, we measure the travel time taken from both stations. Both stations is comparable in walking time. Finally, we argue that actually Kamejima-station is the better access for Nagoya mosque, considering topology, terrain, train schedule, and also the travel time itself.

Albadr Lutan Nasution (m.ln.albadr[at]gmail.com)

1. Background

The center of Islamic activity in Nagoya city is undoubtedly the Nagoya Muslim Mosque, located between Kamejima and Honjin station on Higashiyama Line in Nakamura-ku. It is the only mosque in Nagoya city center. Established in 1937, this mosque actually predates the city subway itself, even though current building are rebuilt in 1998 after the original mosque burnt down by US raid on World War II [1]. As redundant as it seems, the phrase “muslim mosque” in the mosque’s name may serve as disambiguation to other mosque in Nagoya city that not exactly fit as “Muslim”, i.e. Ahmadiyya etc. Though, it may be only the author’s bias and falls outside of the scope of this paper.

Being a new resident of Nagoya city and a muslim, the author will have to travel to the Nagoya Muslim Mosque frequently. Especially in Ramadan, maybe it will be almost everyday. The most convenient is public transportation notably Nagoya municipal subway. The muslim resident of and traveler to Nagoya is quite lucky, because the mosque is only one or two stations after the city center, Nagoya station.

Figure 1. Higashiyama Line.png

Figure 1. Position of Nagoya Mosque on Higashiyama Line

The subway station topology of Higashiyama Line from Nagoya station until Honjin station is presented in Figure 1. We can see that the Nagoya mosque is only one station away if we get off at Kamejima station and two stations away at Honjin station. Selecting between these two stations for hub to reach the mosque is the main concern of this paper.

The main motivation of this “research” is for author’s convenient. As the author travel to the mosque frequently, optimizing this travel will be very helpful in the long run. At the very least, this is simply a matter of curiosity and habit for him. For example, in the first month residing in Nagoya, the author took many different bicycle routes to go to work in order to find all possible paths. Thus, in the instance of a path is blocked due to traffic light, the author can immediately switch to the other path in which the traffic light is green. On the grand, it will improve the travel time to work tremendously.

2. General Consensus

It seems that there is a general consensus regarding the matter of which station is nearest to the Nagoya Muslim Mosque. This can be seen in the Figure 2 and most of maps available online. The author also observe that most worshippers will take the Honjin station to travel to and from the mosque.

Maps Kamejima-Honjin.PNG

Figure 2. Honjin station (left), Nagoya mosque (middle), and Kamejima station (right) on Wikimapia map [2]. North side is in the top.

Challenging this notion, the author tries to measure the walking distance and time from Nagoya mosque to both stations. The distance measurement can be done simply by Google map. The walking time (and possibly distance) can be measured by directly visiting and walking along the routes. The estimation is presented in the Table 1. This measurement is taken from the entrance of the mosque until the nearest entrance of both stations.

Table 1. Distance and time from Nagoya Muslim Mosque to nearest station entrances

Route to mosque Distance Walking Time
Kamejima 4th Entrance 443 meter around 6 min
Honjin 3th Entrance 337 meter around 4 min

From the Table 1, it is clear that Honjin station is the nearest station from Nagoya mosque and thus the general consensus to use this station for travel hub has a reason.

3. Further Measurement

The rest of this paper will assume the same constrain as the author for traveling to the mosque, which is the travel is to and from Nagoya station side or east side not Nakamura-ku side or the west side. This assumption probably hold for most muslim residing in Nagoya city.

In order to make fair judgement upon that assumption, the author then measure the travel distance to Nagoya mosque both using Kamejima station and using Honjin station from the platform of Kamejima station.

Therefore, if we choose Kamejima station as hub, the author will get off the train in Kamejima station, start the timer, exit the station using entrance 4th, and the walk eastward to Nagoya mosque.

Choosing Honjin station as hub, the author will NOT get off the train on Kamejima station. Instead, the author will start the timer approximately as the train depart from Kamejima station, then get off on Honjin station, exit using Honjin station entrance 3th, and walk westward to Nagoya mosque.

The measurement is done thrice. The average results are presented in Table 3. As a supporting evidence, video of each experiment is presented on Figure 3 and 4. The video is the same rate as recording, therefore the seeker’s elapsed time can be used as measurement time for this experiment.

Table 2. Time measurement of getting off at Kamejima station or Honjin station

Route to mosque Travel Time
Platform – Kamejima station 4th Entrance – mosque 7 min 23 s
Platrorm – Honjin station 3th Enrance – mosque 7 min 21 s

Figure 3. Kamejima station as hub

4. Discussion

We can see on Table 3 that actually the travel time are comparable for both hubs. The difference between travel time for the three experiments are not exceeded 30 seconds. The train’s travel time from Kamejima to Honjin is exactly* 1 min 30 seconds. Taking this travel time and not only walking time into account, this result may serve as evidence that it does not matter which station to choose to get off from.

*by “exactly” I mean to the last second

The variance of this travel time mainly because of the existence of big junction on the Kamejima station route, as we can see in Figure 2. This is probably the other reason that most people choose to get off in Honjin instead of Kamejima, as waiting the traffic light can be perceived to lengthen the travel distance and time to the mosque. In the experiments, the author blocked with the big junction’s traffic light twice. However, it takes only around maximum 30 seconds. When we are lucky to get the green light, we actually can arrive at the mosque faster than getting off from Honjin station.

The terrain inside both stations are also notable to mention. Honjin station has a complex terrain from the 3th Entrance. We have to descend very long stairs and then ascend another stairs again. We can see this on video on Figure 4 .Contrary to it, Kamejima station has very simple terrain. The platform gate can be found right after descending the first stairs from the entrance. Not to mention that there is an elevator on Kamejima station which is not exist on Honjin station.

Figure 4. Honjin station as hub

Travel time between the two station can also become a concern. In the case of going home and catching a train, choosing Kamejima station may be much better. Because that means that we can have the advantage of spare time around 1 minute and 30 seconds for waiting the train. An experienced traveler by train in Japan may realize that this is a tremendous amount of time.

5. Conclusion

We presented some evidence that getting off from Kamejima station to reach Nagoya mosque and conversely getting on Kamejima station to go home from the mosque is way better than Honjin station. This strips the general consensus that Honjin station is nearer to the mosque and thus more convenient.

The travel time itself, including train travel time, walking time, and waiting the traffic light time are comparable. However, considering many other variables such as topology, terrain, and time schedule, Kamejima station is the better choice.

Reference

[1] Nagoya mosque history (URL: en.nagoyamosque.com/nagoyamosque/history)
[2] Wikimapia Map – 名古屋モスク (URL: wikimapia.org/2130855/ja/名古屋モスク)

IMG_2309-001

Lebaran di Nagoya

Ied Mubarak, 皆さん。

Hari ini saya shalat idul fitri untuk pertama kali di Nagoya. Shalat ied disini tidak di masjid. Masjid Nagoya soalnya super sempit sekali. Untuk shalat jumat saja sudah penuh sesak tiga lantai. Maklum, ukuran satu ruangnya mungkin hanya sebesar ruangan apartemen sedang.

Shalat dialihkan ke Port Messe Nagoya. Sebuah hall internasional di dekat stasiun Kinjo Futo. Pelabuhan Nagoya sana. Dengan kata lain: jauuuhh…

Harus naik Aonami-line yang mahal, dari ujung ke ujung. Dari stasiun Nagoya memakan waktu sekitar 30 menit, seharga 350 yen.

Shalat dimulai pukul 10 pagi. Agak beda dari yang lain nih. Mungkin karena jauhnya itu kali ya. Dan spot ini ternyata aggregat untuk wilayah yang cukup luas. Seluruh Kota Nagoya saja sudah sangat luas untuk ditampung di hanya satu hall internasional.

Dan ternyata, memang sangat sesak sekali. Hall yang seluas ini aja tidak cukup. Shafnya harus berhemat. Kalau bisa sujud di sela-sela kaki shaf depannya.

Di dalam hall, penuh sesak.JPG

Malah dengar-dengar, di masjid Shin-Anjo malah shalatnya dua kloter. Saking gak muatnya… Ndak tahu juga sih, harus klarifikasi dulu sama penghuni disana.

Namun, suasanya tadi keren juga. Banyak sekali orang islam. Bukan cuma orang asing, tidak sedikit juga muka-muka perisai penduduk lokal berseliweran memakai baju koko. Seolah bukan di negeri non muslim.

Ketika naik kereta dari stasiun Nagoya, Aonami line, kereta dipenuhi muslim. Duduk kiri kanan depan bisa dijumpai muka-muka jawa. Di stasiun akhir, saat keluar kereta dan turun ekskalator, orang Jepang jadi minoritas. Agak lucu juga ngeliat sign-sign stasiun kanji tapi orang-orang yg lewat pake gamis, batik, jenggotan, jilbaban. Sayang saya tidak sempat memfoto.

Penasaran, orang Jepang yg minoritas tadi kepikiran apa ya pas dia keluar stasiun.

Di lokasi, mungkin ada sekitar 2000-an orang lebih kali.

Sayangnya, mungkin karena saya masih baru di kota ini, jarang ada yang kenal. T.T. Lebaran tapi nggak bisa silaturahim. Orang yg disapa di lokasi hari ini bisa dihitung dengan jari dua tangan.

Pulang shalat saya kembali ke Nagoya station, makan disana nyobain restoran India baru, terus langsung ke kantor. Giri-giri jam 1. Back to work… Haha… Hiks.

Btw, saya penasaran dengan manajemen masjidnya. Sewa hall sebesar itu berapa ya? Darimana dananya? Gimana cara mesennya, publikasi event ke seluruh Nagoya?

Terus pengelola masjid sebelum soal ied cerita/curhat ttg. banyak banget mualaf tiap hari di sini, sayangnya mereka nggak bisa masuk masjid. Kenapa? Karena kalau masuk, ngobrol sama muslim “senior” mereka diwanti-wanti nggak boleh ini nggak boleh itu. Nggak ramah lah. Sedih, para senior itu terlalu strict untuk keluarga barunya sendiri. Tanpa memikirkan perasaannya, situasi keluarga, kondisi iman, dll. Don’t be too hard man! Dan juga, kata Pak Pengeola, masalah lain-lain. Cerita untuk lain kali.

Semoga bisa dimudahkan urusan mereka, kami, dan kita komunitas muslim di Jepang ini untuk masa depan.

 

Jurnal featured image

Pengen Nulis Jurnal

Saya lagi penasaran dengan aplikasi, kalau bisa mobile, buat nulis jurnal. Ada gak ya yang bagus? Belum nyari bener-bener sih, tapi sekilas liat kok jelek semua.

Jurnal? Bukan-bukan, bukan jurnal yang itu. Yang saya ngutang dua agan itu, bukan lah! Maksudnya jurnal disini buku harian. Tapi dibilang buku harian kok kayaknya gmn gt. Pertama, kayak kesan norak atau melankolis, kan kata jurnal lebih elegan, hehe. Kedua, nggak nyari yang harian juga. Apps yg saya sekilas lihat tadi itu yg mode harian, makanya jelek.

Jadi, saya dulu sebenarnya juga sempat meniatkan diri untuk menulis jurnal/ buku harian/ atau apalah itu. Pokoknya, catatan pribadi untuk diri di masa depan yang bersifat rahasia. Blog pribadi lah. Saya dulu nulis di buku beneran. Hitung-hitung melatih tulisan tangan, sama mencurahkan keluh kesah. Cie… Saya dulu memulainya karena membaca sebuah buku ttg menulis, saya lupa judulnya. Disarankan oleh Mbak Ilmi Hapsari Dewi, istrinya kak Bachtiar, kakaknya Annas. (ada yg kenal?)

Setelah kurang lebih setahun, makin lama makin jarang. Akhirnya, kejarangannya makin melebar dan tertinggal lah jurnal hitam itu. Memang hal yang bersifat rutinitas gini gak boleh ditinggalkan barang sehari, kalau nggak hilang kebiasaannya.

Malu ah, Jangan diliat!

Kuliah di Jepang, mahasiswa dibiasakan untuk membuat catatan pribadi. Nggak juga sih sebenarnya. Cuma karena ada GROUP MEETING tiap minggu, jadi harus membuat slide presentasi laporan progress ke grup riset tiap minggu. Biasanya isinya:

  • Rencana minggu ini
  • Hal yang dilakukan dan hasil capaian/ masalah
  • Rencana selanjutnya

Kemudian tiap sebulan sekali, ada ZENTAI MEETING yang mengharuskan grup tertentu presentasi kemajuan untuk bulan kemaren. Jadi, suka nggak suka, tiba-tiba punya jurnal ttg riset sendiri aja deh.

Btw, mayoritas mahasiswa Jepang menyebut meeting disini dengan kata ZEMI. Bisa dikatakan mutlak “semua” mahasiswa Jepang. Kata ini begitu dewa yg jika disebut bisa digunakan untuk menolak tawaran, event, ajakan, atau minta tolong apapun. APAPUN!!! Namun, di lab saya kata ZEMI ini sama sekali tidak dikenal. Agak aneh ya? Mungkin karena kata ini nggak begitu presisi digunakan, apalagi sebagai one phrase to catch them all. Cerita untuk lain kali.

Nah, saat saya mulai kerja, satu hal yang pertama diajarkan oleh bos saya adalah membuat 日報 (nippou) alias laporan harian. Templat yang beliau beri adalah sebagai berikut:

  1. Planned Tasks
    Rencana hari ini, sebaiknya pikirkan 30 menit di awal hari
  2. Results
    Apa aja capaian, semua rencana berhasil kah? Gagal kah?
  3. Learned Items
    Hari ini pasti ada hal baru yang dipelajari. Tulis!
  4. Thoughts
    Ini bagian yg paling penting. Atasan biasanya baca bagian ini doang. Untuk diri sendiri di masa depan juga penting buat refleksi.
Laporan Progress

Tipikal Slide Laporan Progress

Selama tiga bulan ini, saya menulis jurnal harian tersebut. Awal-awal saya menyisakan waktu sebentar di akhir hari untuk menulis, setengah sampai satu jam. Lama kelamaan, setiap saya menyelesaikan sesuatu, ada hasil (buruk/baik), atau ada pikiran tertentu saya langsung tulis tanpa harus menunggu akhir hari. Lebih enak gini, nggak berat mikir/mengingat sebelum pulang dan catatannya lebih lengkap.

Hasilnya seru juga. Saya jadi ingat oh waktu itu pernah melakukan hal itu, eksperimen parameter ini hasilnya gini. Semua detail ada catatannya di email. Benri!

Begitulah ceritanya. Saya jadi tertarik lagi buat menulis buku harian jurnal untuk keseharian. Mungkin bisa berguna di masa depan kelak.

Lagi jalan, tiba-tiba liat ada toko bagus, catet-foto-simpan. Eh, ketemu orang baru, catet lagi entri sedikit. Kepikiran sesuatu, pengen beli itu, atau lagi galau nih, atau ada ide blog! Buka apps bentar, ketika satu kalimat, beres. Simpel kayaknya ya.

Kalau di anime mungkin jadinya kayak si Yuki di Mirai Nikki deh. Hehe… Nggak separah itu juga sih.

1715_phone

Nah, kembali ke aplikasi hape tadi, belum nemu yg kayak gitu. Kebanyakan harus membuat entri harian, pilih tanggal, terus tulis puanjang. “Today I met…”

Nggak ada ya yang UI-nya cuma kotak teks polos satu, kayak mesej. Terus tulis, enter deh. Si apps langsung catat tanggal nulis, tempat (opsional), atau ada pilihan tag di bawah. Simpel kan. Masak nggak ada sih??

Ada gan! Namanya: Twitter. <.<

Oh. My.

Jitensha no Byouin

Sepeda Bocor Halus

Tunggangan saya mengalami cidera. Kaki belakangnya entah kenapa mengalami pengurangan tekanan secara berangsur-angsur. Sehingga airnya kosong angin. Kebetulan saat itu lagi dalam perjalanan menuju Masjid Nagoya untuk Shalat Jumat. Terpaksa dorong deh… Untuk belum masuk puasa. Hampir…

Pulangnya minjam pompa ke Ghandara, toko briyani yang di belakang masjid. Mempan! Or so I thought… Setelah 5-10 menit, baru separuh jalan kumat lagi… Dorong lagi deh…

Istirahat hari Jumat yang biasanya cuma 2 jam mepet, waktu itu jadi 2 setengah jam. Hiks…

Jitensha no Byoun

Malamnya pulang jalan. Perjalanan yang harusnya 15 menit sampe rumah, jadi 45 menit. Namun, hari ini hari Jumat, seperti biasa mampir ke Sama-sama dulu. Saya disarankan ke Jitensha Byouin, alias Rumah Sakit Sepeda di Osu Kannon.

Akhirnya, saya tinggal sepeda di parkir sepeda subway terdekat Osu Kannon malam itu. Besoknya ambil lagi dan bawa ke si Rumah Sakit.

Sesampainya disana, saya bilang mau nambal ban. Sesaat Pak Dokter memeriksa kaki si Dolphie, terus dia bilang “harus amputasi nih”…

Mengingat kondisi ban yang sudah begitu, ya sudah lah… Apa boleh buat.

Ganti ban dalam dan ban luar menghabiskan uang 6000 yen plus ongkos pemasangan 480 yen. Lahamnya… Di amazon ada ban bagus, putih, cuma 3000-an kalau nggak salah.Cuma karena ini ban belakang, kalau buka pasang sendiri susah dong. Alatnya pun harus beli di 100en shop dulu. Ribet dan yg amazon tadi pun ban luarnya doang, akhirnya OK deh.

Amputasi, dan ganti kaki prostetik lain…

Tunggu 30 menit, sambil ngobrol dengan Pak Dokter, akhirnya Dolphie kembali pulih. Walaupun kaki depan dan belakangnya jadi beda warna…

Dolphie Ban Baru

Tunggangan saya sekarang, successor Suprabit, Dolphie setelah ganti ban belakang

War is over!

Orang Jepang itu Demonya Demo-demoan

Jadi, saya menceritakan ttg Demo di Sakae ttg menolak perang dan menurunkan PM Shinzo Abe ke seorang teman Jepang lain. Saya bilang ini kejadiannya “kemarin, hari rabu atau kamis yak…”. Respon pertamanya adalah:

Harakeyo… Omaera…
Kerja oi…

Waktu itu demonya hari kerja sih memang. Sore. Saya juga kebetulan pulang kerja saat lihat mereka lagi pawai.

Saat saya tanyakan ttg ini demonya ttg apa sih, kok tolak-tolak perang. Kan Jepang nggak lagi perang. Beliau bilang, “emang orang-orang yang demo ini aja yang bodoh” katanya. Menurut beliau, PM Abe ini niatnya baik, pengen membuat Jepang lebih kuat. Apalagi sekarang Korut sama China makin hari makin serem. Kok malah ditentang. Dasar orang aneh, kata beliau.

Yang unik, orang Jepang yang saya ceritakan ini berpendapat ttg demonya orang Jepang. Kalau menurut kita, orang asing, Jepang itu nggak suka demo kan? Jarang dengar demo. Terus kalau demo juga, tenang, atau malah kayak pawai dubsteb biasa, tertib lah. Kok Indonesia nggak bisa gitu ya… Menurut kita-kita.

Nah menurut teman saya tadi, Orang Jepang kalau demo ya gitu… Nggak beneran atau Cuma demo-demoan. Beliau pun mengagumi demo di negeri lain, yang kadang berujung rusuh itu…

“Kalau di Eropa atau Asia Tenggara, orang demo itu bertaruh nyawa. Mereka demo dengan keyakinan.”, katanya.

“Kalau di Jepang, yaaa begitu… Ala kadarnya. Nggak bisa dibilang demo sih itu. Pura-pura demo…” Beliau melanjutkan.

Jadi ternyata begitu…  Kontras dengan kita yang despise dengan petarung demo.

Menariknya bertemu bangsa lain adalah ketika bertukar pikiran seperti ini. Apa yang kita kagumi ttg mereka, belum tentu mereka kagum, dan malah mungkin mereka kagum dengan apa yang kita tidak suka.


Catatan: pendapat ini belum tentu dimiliki oleh umumnya orang Jepang. Karena sampel yg mengemukakan cuma satu orang. Boleh jadi tidak bisa digeneralisir.

War is over!

WAR IS OVER!!! TURUNKAN ABEE…!!!!!!

Tolak Perang… TOOLAAK PEERAANG!! Tolak Perang… TOOLAAK PEERAANG!! Pertahankan Konstitusi… PEERTAHAANKAN KONSTITUUSI!! Turunkan PM yang inkonsitusional. TURUNKAN PM YANG INKONSTITUSIOONAALL…!! Adakan Pemiluuu…. ADAKAN PEMILU…

Baca Selengkapnya

Soufu vs Yuuso

Yamato, Kuroneko Itu Bukan Mail-Service

Suatu hari saya membalas email di kantor. Mengirim laporan bahwa CD sudah saya kirim via pos. Saya menulis dengan kalimat bahasa Jepang berikut.

CDは郵送いたしました。
CD sudah saya kirim.

Saya menulis begitu karena mengopi paste aja dari yang meminta kirim filenya di CD via pos.

郵送でCDを頂けますでしょうか。
Bisakah mengirim CDnya via pos.

service_shop_yamato2Dalam pengertian saya, “kirim via pos” itu ya pengiriman surat konvensional. Yang nggak pake jaringan, fax, dropbox, atau elektronik lainnya. Mau ngirim via Tiki kek, JNE kek, DHL kek, mengirim surat via pos itu ya nggak mesti pake Pos Indonesia. Iya nggak sih?

Terus setelah saya lakukan pengiriman via jasa pengiriman Yamato yang (kayaknya) jadi langganan kantor, saya laporan deh, kopas aja kata kerja 郵送 yang mbaknya pake. Soalnya pas ngetik email lupa bahasa jepangnya kirim itu apa.

Terus saya diketawin bos saya.

Beliau cerita, ngirim sesuatu pakai Yamato atau jasa pengiriman selain JP Post nggak bisa memakai kata  郵送. Yamato nggak termasuk “pos”. Atau lebih strict-nya, mereka bukan layanan surat. Dalam hukum Jepang, mail atau surat cuma boleh dilakukan oleh JP Post saja.

Jadi walaupun banyak juga orang mengirim dokumen via bukan JP Post, sejatinya itu bukan mengirim via pos. Bukan pula menggunakan layanan surat. Karena nggak boleh make pengiriman surat, mail service, selain JP Post. Melanggar hukum. Meskipun semua orang melakukannya sih. Seenggaknya, nggak make perangko.

Jadi, kalimat yang benar adalah:

送付いたしました。
Sudah saya kirim.

“Mengirim” yang normal.

Btw, bahasa Jepang dan kanjinya itu memang menjengkelkan dengan kata yang mirip-mirip tapi cuma bisa dipakai dengan spesifik konteks, kayak begini. Bikin susah tes JLPT aja.

郵送、送付、送信、通信、送る

hm hm hm。。。

Lampu Merah Aneh

Lampu Merah, Tapi Hijau

Terkadang saya bingung dengan sistem lampu merah di Jepang. Ya ya, kadang dibutuhkan sinyal yang berbeda untuk menunjukkan nggak boleh jalan terus dan boleh belok kanan misalnya. Jadi ada set lampu hijau dengan panah ke kanan nyala di bawah lampu merah utama. Di Indonesia juga ada lampu lalu linta model begini.

Nah kalau nyalanya kayak gambar di atas bijimana tuh? Ini perempatan loh ya, jadi semua kemungkinan (lurus, belok kanan, belok kiri) udah tercakup di lampunya. Nggak ada belok serong jadi.

Nggak mending pake lampu ijo aja sekalian ya…

Takut Ketemu Agan Lagi

Saat saya S1, saya memiki agan yang sangat unik. Sudah Profesor dan isinya wisdom semua mungkin. Jadi unik. Soalnya jarang profesor di Indonesia kan. Saya bangga dibimbing beliau. Ada plusnya banyak minusnya. Sangat terkenang dalam ingatan. Namun, itu bukan bahasan artikel kali ini.

Sebelum wisuda, saya ditawari untuk submit makalah di konferensi di Malaysia. Agak ribet urusan administrasi waktu itu, soalnya udah hampir lulus kan. Konferensi setelah saya lulus. Jadi agak sulit kalau mau dibilang membiayai mahasiswa konferensi. Yap, Indonesia dan birokrasinya yg ga fleksibel juga meliputi ITB.

Singkat cerita, saya akhirnya bisa menghadiri konferensi tersebut. Satu dua bulan kemudian, saya ingat hari itu saya di Saraga, lagi nonton pembukaan orientasi mahasiswa sebelum saya dan teman ngumpul makan-makan di bebek garang, tepat sebelum saya menulis artikel kontroversial “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?“.

Agan nelpon. Tumben bangen. Nah, agan ingin paper tersebut disubmit ulang ke jurnal. Oh okee.. Bisa gitu ya… Nggak semudah itu ternyata. Kontennya tentu harus beda, harus lebih komprehensif dan meyakinkan. Tulis ulang seperempat, coba ganti bagian klasifier cari yang lebih bagus.

… Kerjaan baru. Udah lulus padahal. Duh, masa .

Satu dua bulan kemudian saya mendapat info lulus beasiswa ke Jepang. Dan beban itu perlahan menghilang karena sempat galau dan juga saking excited nya-mau ke Jepang.

Kemudian, saya S2. Punya profesor baru. Komunitas Indonesia di lab menyebut dengan kode “agan” dari juragan, biar kalau ngobrol sesama nggak perlu nyebut kata sensei. Kesibukan pun dimulai dan jurnal dari agan sebelumnya itu kayaknya nggak mungkin bisa diselesaikan. Udah lupa juga kali.

Setahun kuliah, saya presentasi paper di konferens Bandung. Dan ketemu deh dengan si agan lagi. Dan masih ingat rupanya janji jurnal itu. Ampun gan…

Singkat cerita, saya selesai S2. Agan saya di Jepang ini baik banget, padahal menurut isu-isu dari sempai agan termasuk yang kibishi. Mungkin karena saya masih master, bukan doktor. Atau mungkin karena topik riset saya gitu-gitu doang. Aplikasi, bukan fundamental.

Karena paper yang dipresentasi di Bandung tadi baru preliminary report, mestinya ada paper full report kan ya. Niatnya sih gitu. Sebelum lulus, submit paper lagi jalan-jalan ke konferens mana gitu. Eh ga sempat karena sistem kebut sebulan, hehe…

Dan… Agan bilang, oke. Kamu tulis jurnal aja. Jeng jeng… Okelah dicoba. Waktu itu akhir Februari atau awal Maret. Tepat setelah sidang akhir. Masih ada sekitar satu bulan kan, buat mengekstrak tesis jadi enam halaman.

Kemudian, kejadian itu terjadi. Tangan saya cidera, saat lomba lari. Satu bulan baru pulih… Terakhir ketemu agan, senyum aja. Beliau berkata ramah:

Chikai uchi ni…

Kaga apa,” Katanya. Dalam waktu dekat, suatu saat.

Kemudian, dua bulan kemudian. Saya disini. Nggak tahu mau ngapain. Dan takut kalau ketemu agan lagi. Dua-duanya…

Kamar baru, kosongan

Apato Ini Berpenghuni Ngga Sih?

Genap satu setengah bulan saya pindah apartment ke Nagoya (setengah bulan kok genap). Setelah lulus dari Toyohashi, saya pindah ke Nagoya sini, untuk mencari nafkah. Walau belum ada yg mau dinafkahi sih. Eh. Ehm…

Oh ya, apato yang di judul itu artinya apartement. Namun jangan salah, namanya aja yang keren, tapi sebenarnya levelnya sama dengan kosan di Indonesia. Cuma ada dapur dan kamar mandi dalam aja. Nggak sekeren apartement yang di Dago itu lah.

Ngomong-ngomong keren, ada dua jenis kamar sewa disini. Apartment dan Mansion. Kocaknya, keduanya nggak sekeren makna kata dalam bahasa Inggris. Dua-duanya sama-sama kosan. Bedanya cuma di jumlah lantai (dan konstruksi) bangunan.

Apato atau apartment itu cuma dua lantai maksimal. Dindingnya biasanya kayu. Kalau diketuk sebelah denger. Kalau atas jalan dikit aja, yang di bawah denger.

Mansion itu gedung tinggi. Jadi ada beton nya dikit lah. Nggak mesti lebih gahul dari apato. Buktinya, kamar saya sekarang ini masuk kategori mansion tapi dari sisi ukuran dan fasilitas nggak lebih keren dari apato yang di Toyohashi.

Apato lama dan mansion baru

Dapur sempit. Kamar mandi sempit. Dapur dan kamar nggak ada sekat. Jadi kalau kelewat hari Jumat dan lupa buang sampah harus nunggu Selasa dan menahan bau. Apalagi kalau ada ikannya. Untungnya bagian utama kamar ini keren, berkarpet, dan agak luas. Bisa untuk berdua lah setidaknya. Eh. Ehm. Kok lari ke situ lagi…

Waktu cari kamar, saya bilang “apato wo sagashiteiru no desuga…” yang artinya “nyari apato nih…”. Mamas agent menjawab: “heya wo sagashiteiru no desune.” Dibetulin, cari kamar ‘heya’ bukan apato. Hehe… Oh ya, kebanyakan kamar sewaan di Jepang harus cari via agen lho ya, jadi enak. Nggak kayak di Bandung yg agak ribet kalau nyari kosan, harus dateng ke kandidat satu per satu. Lebih lanjutnya, silakan googling ttg cara menyewa kamar di Jepang.

By the way, setelah enam minggu disini saya belum bertemu manusia lain di mansion ini loh. Sekali pun. Makanya saya jadi bertanya-tanya, ada orang lain yang tinggal di sini nggak ya. Hm Hm…

Tanda-tandanya sih ada. Ada suara-suara orang lewat di tangga gitu. Atau mesin cuci koin di bawah hidup. Di kotak sampah depan, plastik sampahnya bertambah di hari Selasa Jumat. Nah. Wujud manusianya aja yang belum pernah liat langsung.

Hm Hm…

Suatu malam seminggu sebelum pindah dari apato di Toyohashi, ada yang krusak-krusuk di atas kamar saya. Ternyata orang pindahan. Esoknya saya ketemu orang itu, bapak dan anak, mengetok pintu apato. Kayak video di Minna no Nihonggo, mereka berkenalan dan ngasih kado :

つまらないものですが。。。

“Ini barang membosankan, tapi…” kata si Bapak persis seperti di Minna no Nihonggo. Ini barang ga seberapa tapi mohon diterima sebagai token persahabatan. Begitulah…

Dua tahun setengah di Jepang, pas lulus baru deh dapat kejadian yg dipelajari saat les bahasa Jepang. Hmm… Kayaknya itu kalau nggak ada si bapak, si anak nggak bakal ngetukin pintu tetangganya deh.

Btw, barang yang diberi adalah handuk. Kayaknya handuk dari 100en shop atau 300en shop. Memang barang tsumaranai sih. Sekarang masih saya simpan. Niatnya mau saya kasih lagi ke tetangga di apato baru di Nagoya. Ikut-ikutan “tsumaranai mono  desuga…” Lumayan kan nggak usah beli kadonya haha.

Namun nggak tercapai, dan sekarang teronggok di meja. Ragu juga mau ngasih siapa, kamar tepat di bawah kamar saya kah. Atau kamar sebelah kah. Atau semua satu lantai ini harus dikasih ya… Karena malas, akhirnya nggak tercapai dah. Dan belum bertemu sosok penghuni lain di gedung lima lantai ini.

Semoga bukan cuma aing yang tinggal disini.

seiyukai_mukaiyama1

Dokter Tulang di Jepang

Jadi saya cidera tangan saat lomba lari pada perhelatan hebat, War of 5 Kingdoms di Chubu Match kemaren. Detail cerita dari sisi “cidera”-nya sudah saya sampaikan di artikel sebelumnya. Pakai pembuka agak nyeleneh sedikit pula. Di artikel ini saya ingin menceritakan kekaguman saya dengan klinik tempat saya berobat.

Saya ke dokter tulang empat kali. Sehari setelah hari H. Tiga hari kemudian. Kemudian dua minggu kemudian. Terakhir satu bulan setelah kejadian.

Berkat hoken alias asuransi kesehatan, saya hanya membayar 30% dari harga aslinya. Tidak begitu mahal. Disini semua orang harus daftar asuransi kesehatan (kayaknya sih nggak harus, cuma kok pada daftar semua). Kayak BPJS gitu. Nanti, kalau ke dokter kita dapat potongan. Kalau setahun nggak kepake, nanti dapat cashback kupon belanja.

Yang paling mahal yang pertama, saya membayar 4230 yen. Namun, waktu itu saya mendapat periksa rontgen, gips dan perban, plus obat tiga jenis. Jadi wajar agak mahal.

Kalau di lihat di bawah, kita bisa menebak pembagiannya. Di tabel ada angka kemudian kani point 点. Tebakan saya sih tiap point itu harganya 10 yen. Coba aja kalau di jumlah kemudian dikali 30%, hasilnya persis dengan uang yang saya bayar.

Yang paling murah yang kedua, saya cuma periksa doang. Terus dokternya komentar dikit.

“Oke, kamu pake lagi gips nya dua minggu… Ntar tanggal sekian check up lagi.”

“Sir! Yes, Sir!”

Untungnya murah, cuma 380 yen. Itu lah makanya, daftar BPJS yuk rame-rame.

Yang saya heran, pas datang keempat, hoken saya di Toyohashi sudah saya tutup. Hoken di Nagoya belum dateng si kartunya…  Jadi saya berada dalam posisi limbo.

Kebetulan jadwal main ke Toyohashi, saya mampir ke klinik lagi, walaupun nggak ada hoken. Ada sih memo dari City Hall Nagoya, cuma ternyata nggak bisa dipake juga. Hhahh… Bayar full deh. Namun mereka baik… Karena gak pake Hoken, akhirnya cuma periksa dokter aja. Nggak jadi rontgen dll, padahal mau check-up terakhir cek udah baikan belum si tulang.

Nah herannya, harganya langsung melonjak tajam. Periksa dokter doang yang tadinya cuma 380 yen, jadi 2630 yen. Mau naik haji! Point 点-nya sih 175 tapi dikalinya 150%. Apa-apaan yak….  Yuk lah, mari kita daftar BPJS.

Oh ya, perawatan disini super deh. Begitu kita datang, staf sudah tahu kita ini sakit apa dan dalam tahap apa periksa disininya. History kesehatan dan kedatangan sebelumnya lengkap. Jadi bisa tahu kalau datang ke tiga harus langsung ke ruang rontgen atau lepas gips atau apa gitu.

Rontgen juga kayak foto kamera aja. Tangan cuma ditaruh di kotak, terus dari atas ceklik. Begitu keluar ruang rontgen dan pindah ke ruang dokter, si foto tulang saya tadi sudah terpampang di layar komputer si dokter. Canggih…

Jadi inget nge-Xray di Bumi Medica Ganesha. Foto sekarang harus ambil besoknya (atau sorenya ya?). Harus ganti kamera tuh.

Sayang saya nggak minta softcopy nya.

Kemudian, sistem informasi disini juga rapi. Seingat saya di Indonesia kalau periksa dokter juga ikut ngurusi administrasi. Maksud aing, dokter juga nulis resep, ngotak-atik berkas, nyatet rekam medis. Kalau ada komputer, ya dokter juga.

Disini, dokter punya asisten. Si dokter cuma megang mouse dan melototin layar aja. Sisanya tugas asisten. Dokter tinggal bilang sesuatu “buatin obat ini itu, jadwalin check up lagi tanggal sekian kita check ini itu, bla bla”. Yang ngetik si asisten, dokter cuma cek akhir aja dan ngobrol ke pasien.

Simpel. Jadi dokter, apalagi yang tuek-tuek itu, nggak perlu lagi ngapalin UI/UX software macem-macem buat isi dan liat rekam medis. Cukup mbak-mbak yang masih muda aja yang ngetiknya lebih jago.

Oh ya, obat yang dikasih tadi ada tiga jenis. Dan dikasih keterangannya lengkap coba, seperti gambar di bawah. Yg apa obat apa, manfaatnya apa. Rata-rata cuma obat penahan rasa sakit, sama obat penurun panas. Dibiarin alami sembuh sendiri, jadi lama deh sembuhnya. Emang denger-denger disini dokter ngasih obat langka dan dosisnya rendah. Nggak kayak kita dikit-dikit antibiotik. Nuklir langsung dikeluarin.

Daftar Obat

Begitu rupanya dokter di Jepang. Jadi bisa merasakan. Walaupun datasetnya cuma satu, saya terkesan dengan penanganan disini. Penangannya gesit. Sistemnya tertata rapi. Mbaknya cakep. Alatnya canggih. Dan biayanya murah. Kalau pake BPJS, tapi.

Namun kalau di Indonesia mungkin cuma butuh pemulihan seminggu dengan sangkal putung kali. Lebih canggih lagi.

Gips Featured

Lomba Lari, Cideranya Tangan

Halo, teman-teman panitia. Ini saya nggak tahu ya ide siapa. Nggak tahu nih ya. Lombanya lari estafet. Tari larinya harus bolak-balik. Terus batas baliknya adalah dinding seberang. Dindingnya harus dipegang. Nah… Siapa ini yang punya ide.

Emang nggak mikir ya… Yang namanya lari itu ya kecepatannya tinggi Pan. Cepet-cepetan. Masak iya disuruh pegang dinding. Ya sama aja nyuruh orang nabrak itu Pan. Nggak ada ide lain apa… Perpanjang jarak dong pan. Pakai sisi panjang dari gym nya. Jadi nggak perlu bolak-balik. Kan estafet pan? Atau bolak-baliknya di mana kek, asal jangan dinding.

Salah saya sih ya kali pan, lari kok nggak ngerem. Nggak pernah denger juga tuh ada pelari dunia yang “wow rekor ngerem terhebat, dalam setengah detik dari 100m/s jadi 3 m/s”. Kurang gahul kali ya. Tapi coba ada kejadian gini di US ya pan, ada kejadian gini. Walah, udah kena sue sana-sini. Sue ora jamu lah.

Saya lho Pan, dari kecil SD ini lomba lari sering Pan. Nih ya, kalau temen-temen saya dulu lomba lari di Lampung di sawah lho. Ya gimana, nggak ada gimnasium di SD saya. Maklum ndeso e. Di sawah sana saya itu jagungnya enak Pan! Bisa nyeser remis juga, kan deket kali. Berenang. Lompat dari atas jembatan. Naik lagi pake tambang. Seru pan!

Oh tambang. Tarik tambang pula nih pan… Bagaimana pula peraturannya. Mancla mencle. Tadinya harus menang dua kali, max 3 set. Toyohashi udah main, eh peraturan diganti menang satu kali, satu set. Macam mana pula itu, Pan. Terus mikir ya pan ya, tarik tambang itu capek. Capek Pan. Toyohashi udah maen 4 kali. Lawannya kuli dari Hokkaido, juara Pormas, nyamar jadi ketua PPIJ pula, ya mana menang pake separo tenaga pan.

Kalau mau fer ya Pan ya, kalau saya nih ya, diatur ulang peta pertandingannya dari awal. Kan pertandingan awal udah kadung pake sistem tiga set dua kali menang tuh pan, ya diatur ulang lah supaya nggak perlu main 4 kali.

Skema Pertandingan Tarik Tambang.png

Jadi sama-sama main tiga kali Pan!

Oh iya, itu tadi saya bilang kalau saya lho ya. Tapi ya nggak tahu ya pan ya. Namanya juga panitia. Keputusan panitia pasti bulat lah ya. Pastinya nggak bisa retak kayak tulang saya nih.

Ah jadi ngelantur. Ini kenapa pula gaya bahasa saya jadi ndeso begini. Dari lari ke tangan ke sawah jadi tarik tambang pula. Sudah ah, sudah. Daripada ada yang kebelenger. Ini pasti gara-gara ada surat yang viral dan kontroversial itu tuh. Jadi penasaran deh Pan pengen ngikutin…

Stop. Stop. Eh. Ehm… Stop. Sudah cukup parodi Surat Terbuka untuk Pak Dubesnya. Stop. Nggak pake pan-pan lagi. Stop. Hehe… Gomen teman-teman Gifu. ^^v Nggak segitunya kok. Santai… Bercanda. Cuma parodi kok hehe. Sama-sama belajar… Semoga nggak terulang di Chubu Match Shizuoka tahun depan. Semoga surat terbuka nggak intelek itu juga nggak terulang di kepengurusan mendatang. ^^v



Nah, melanjutkan update kondisi tangan yang cidera di lomba lari tadi. Mode biasa ON.

Tim Toyohashi, Chubu Match 2016.jpg

Bahkan dari foto jauh begini, bengkak tangannya terlihat

So, tangan saya mencium dinding. Dan sekitar satu jam kemudian ketika bengkak sudah sangat terlihat dan jari tak bisa bergerak, baru saya terasa ada yang salah dengan si tangan dan kemudian mencari penanganan ke panitia. Dikasih lah koyo. Namun menurut dokter satu-satunya di lapangan waktu itu, bengkak semacam itu harus dikompres dingin, bukan salonpas. Akhirnya ke panitia lagi dan dirawatlah saya oleh mbak-mbak baik disana. Dikompres dengan es dan dipegangin selama satu jam penuh. Hiks terharu…

Sayang bukan si bu dokter yang turun tangan. Eh. Coret-coret… Fyuh,,…

Nah es itu bersifat seperti bius. Sampai di Toyohashi pukul 11an, kompresan masih ada. Bengkak agak reda. Karena bius jadi ngga kerasa sakit. Kayaknya aman deh, menurut saya. Bisa tahan untuk besok pergi lab-graduation-trip ke Taiwan. Sebelum tidur saatnya masak dan mempersiapkan bento untuk ke Taiwan besok. Namun, saya belum menyadari hal itu. Tak pelak bius kan habis jua.

Sekitar jam 1 malam, saya merasakan sakit yang teramat sangat. Bukan cuma sakitnya pegal gt… Nggak bisa dibawa tidur, nonton, atau ngapain pun. Kayaknya lebih sakit dari sunat deh. Yang satu kulit, yang satu tulang soalnya. Begitu rupanya sakitnya tulang. Maknyos!

Saya tahan sakit sampai jam 9 pagi. Sebenarnya jam 6-9 saya sempat tidur. Cara mengakalinya adalah memasukkan si tangan kanan tadi ke ember isi air. Maklum Maret suhu air disini masih kayak kulkas. Bisa tidur deh, akhirnya, sampai dibanguni oleh Mas Iwan yang menolong saya ke dokter tulang. Dan jeng-jeng, memang si tulang retak katanya.

Sebenarnya saya nggak ngerti tulang retak itu kayak apa. Diliatin rontgen, perasaan sama aja. Bentuk tulang gitu. Nggak berserpih. Tapi kata dokternya gitu. Akhirnya tangan aing di-gips dan dikasih obat pereda rasa sakit.

Taiwan? Bye-bye… Cuma bisa bilang “shikatanai” ke teman lab.

Hidup dengan tangan kiri doang ternyata cukup menantang. Makan, ngetik, pegang mouse, nyuci piring, cebok, semua pakai tangan kiri. Eh cebok memang pake tangan kiri ya… Lucunya si Abi, temanku. Yang sakit tangan kanan, pas jenguk yg ditanyakan pertama kali:

“Bisa cebok nggak mas?”

Hm… Yang paling repot nyuci piring kayaknya. Harus dua tangan soalnya.

Awal-awal susah berkidal. Setelah dua minggu, udah biasa. Akhirnya kayaknya saya jadi ambidekstral deh. Keren juga. Skill yang harus dilatih terus tuh, biar nggak lupa…

Perban WisudaOh ya, saya pikir bakal cuma dua minggu nasib tangan tersebut. Gips-perban sudah pernah saya copot sih, sehari. Tapi ternyata sehari nggak pake perban sama sekali ternyata membuat nyeri di malam senin waktu itu kembali lagi. Akhirnya menurut dokter harus dipakai perban sampai akhir Maret. Sebulanan deh diperban.

Pada akhirnya, ketika pindahan, farewell party, dan wisudaan saya pakai perban. Kenangan yang tak terlupakan. Kapan lagi coba…

Tepat dua bulan setelah hari H, kondisi tangan sudah membaik. Sudah sebulan saya paksakan nggak pake perban, hari pertama ngantor saya copot perban. Sampai sekarang ke kantor pakai sepeda juga sudah biasa.

Namun tanda-tanda cidera tadi masih ada lho… Coba pergelangan tangan Anda bengkokkan sampai 90 derajat. Biasa aja kan? Tangan kiri saya juga gitu. Namun, tangan kanan saya cuma bisa 120 derajat saja, kecuali kalau di-assist oleh tangan satunya. Harus banyak push-up kali biar tulang pergelangannya punya fitur berbunyi lagi kalau diadu ketika terasa pegal.

Begitulah cerita saya cidera tangan saat lomba lari. Hati-hati, dinding menghadang Anda.

Don’t try this at home!

Salam Bhinneka Tunggal Ika.

 

4 orang 5 bahasa

Forum 3 Orang 3 Bahasa, 4 Orang 4 Bahasa

Asyiknya berada dalam komunitas internasional adalah bertemu dan berinteraksi dengan warna negara asing. Merasakan bedanya budaya, watak, dan pola pikir berbeda. Juga logat bahasa Inggris yang berbeda. Bahasa Inggris. Yap. Dalam komunitas internasional bahasa Inggris tentu menjadi lingua franca kan, supaya forum bisa saling mengerti satu sama lain. Namun, ternyata dalam praktiknya hal ini tidak selalu jadi patokan.

Saya pernah (atau sering) mengalami hal seperti ini. Ada tiga orang beda negara ketemu, tapi tidak punya satu common language. Namun untungnya setiap subset dua orang dari set tiga orang tadi mengerti bahasa satu sama lain. Jadi walaupun cuma tiga orang, ngobrol harus pakai tiga bahasa.

Jadi kasusnya begini. Saya orang Indonesia. Imam masjid Toyohashi orang Malaysia. Amir (mantan) masjid orang Pakistan. Saya bisa bahasa Malay, Jepang, dan Inggris, tapi nggak bisa Urdu. Imam bisa bahasa Malay, Urdu, dan Arab tapi nggak bisa Inggris lancar dan zero Jepang. Amir bisanya Urdu dan Jepang.

Dan jadilah, Saya-Amir ngobrol Jepang. Saya-Imam cakap Malay. Amir-Imam pake Urdu.

Agak repotnya kalau pas becanda jadi ada delay. Harus diulang joke nya dengan tiga bahasa berbeda. Kayak minggu kemaren, ada mimbar baru di masjid. Si Amir nge-joke, “ini khusus dibuat untuk Badr tidur“, pake bahasa Jepang.  Imam nggak mudeng, jadi saya translate pake Malay, dan si Amir translate pake Urdu. Dua menit kemudian baru bareng-bareng ketawa.

Btw, di Masjid ini kayaknya hal ini sering terjadi. Setiap bulan di masjid ini ada Muslim Gathering, pakenya bahasa Inggris. Padahal nggak semua orang bisa mengerti full. Jadi harus ada rantai terjemah yang bisa dua tiga rangkap. Hal serupa juga kalau ada kajian atau ceramah.

Oh ya, khotbah Jumat disini tiga bahasa: Malay, English, dan Urdu. Plus Arab buat doa yang terakhir.

Tadi kan forum tiga orang, tiga bahasa. Kalau nambah satu lagi orang Mesir nimbrung jadi deh empat atau bahkan lima bahasa. Orang Mesir sedikit yang bisa Jepang. Jadi dia pake bahasa Inggris ke saya dan bahasa Arab ke Imam. Empat orang, Lima bahasa deh.

Pernahkah kamu mengalami hal demikian? Cerita dong, jangan baca doang…

1000px-KB_Japanese_Mac_-_Apple_Keyboard_(MB869JA).svg

I Hate Japanese Keyboard, and also Mac Keyboard

I covered that Japanese space is quite dangerous for programming in the previous post. But more than that, I hate the layout of the Japanese keyboard itself. The placement of symbols in Japanese keyboard are illogical! Especially the quotation mark. It’s all over the place. Who the heck design it.

The ◌’ and ◌” is logically placed on the top of another in the international layout. I used these two characters anytime I get involved with String type variable, which mean a lot of time.

In the Japanese layout,  single quotation mark ◌’ is above the 7 key, and double quotation mark ◌” is above 2? Incidentally, there is an accent mark  ◌` key–which is almost never used–and double accent or tenten ◌〃key–which is un-pressable–misleadingly near the good old location. Why Japanese peopleee??

Colon and semicolon now have their own room.

Slash and backslash is quite separated in international layout. But, good luck finding them in the Japanese layout. Especially for Mac.

By the way, I hate the Mac keyboard layout too. There are two too many switch keys in Mac layout. You know, there are shift, alt, ctrl, and the unused fn in Windows. In Mac, additionally command and option keys are present. Great, new functions!

Except, you know have to remember many many short-cut combination. Whether it used  button or button or whatever. I don’t even know what those symbols mean. I hate you.

And… Delete button is a backspace!!!