Pos-pos Terbaru

Spektrum Halal Haram Makanan di Jepang

Saya ingin membahas tentang lebarnya pendapat komunitas muslim tentang halal dan haram makanan di Jepang. Tujuan artikel ini bukan untuk memberi petunjuk atau bahkan fatwa seperti: makanan halal itu yang seperti ini-ini dan haram itu-itu. Melainkan, lebih berfokus ke realitas di lapangan. Bahwa banyak perbedaan pendapat ttg batasan makanan yang boleh dikonsumsi muslim di Jepang.

Pembaca bisa menimbang antar pendapat satu dan pendapat yang lain di artikel ini kemudian mencari lebih lanjut dalil-dalil pendukungnya. Artikel ini juga tidak akan mengutip dalil atau kaidah halal haram dalam islam karena penulis tidak memiliki kapasitas disana. Sekali lagi, fokus artikel ini adalah lebarnya spektrum pendapat di lapangan.

Juga di luar scope artikel ini untuk memberi daftar produk/merek snack yang halal dan produk/merek yang haram. Jika Anda mencari hal tersebut, saya sarankan untuk membaca artikel dari KMI Sendai dan PPI Tokodai berikut. Atau situs yang sering menjadi acuan teman-teman, halaljepun. Untuk kaidah yang lebih ilmiah, silakan kunjungi ustadz terdekat.

Sekali lagi yang harus dicatat bahwa pendapat-pendapat disini bukanlah pendapat saya dan saya tidak meng-endorse-nya. Saya juga akan berusaha untuk bersikap netral dan menyembunyikan yang mana yang pendapat saya atau yang biasa saya/teman-teman lakukan agar tidak ada judgment kepada pemegang pendapat seberangnya. Juga yang mana pendapat yang “mainstream”, karena mainstream bagi lingkungan saya mungkin berbeda bagi lingkungan lain.

Artikel ini pada akhirnya bertujuan sebagai pengaya dan titik diskusi, bukan sebagai pendakwa atau titik acu.


Konsensus: Daging Babi dan Minuman Alkohol itu Haram

Dari lebarnya spektrum yang akan kita bahas, terdapat satu konsensus utama yakni daging babi dan minuman beralkohol itu haram. Dengan demikian, artikel ini dengan sengaja mengesampingkan pendapat orang yang katanya islam tetapi entah kenapa masih makan daging babi dan minum alkohol.

Penekanan yang ada di dalam konsensus ini adalah kata daging dan kata minuman. Daging dalam artian, babi masih berwujud otot atau gilingan. Minum dalam artian, alkohol masih berwujud cairan nyata yang dapat diminum. Makan daging babi yang masih tampak seperti daging dan minum alkohol yang masih dalam bentuk minuman tidak termasuk dalam bahasan artikel ini. Jelas HAROM.

Namun, turunan dari kedua zat ini, masih fair game. Karena penekanan dari dua benda tadi berbeda, bahasan keduanya dalam artikel ini bisa berbeda. Dengan penekanan di daging, turunan babi  yang berupa daging (e.g. bacon, ham) tidak akan masuk dalam bahasan ini. Dengan penekaan di minum, tidak akan ada bahasan tentang minuman beralkohol, tetapi akan ada bahasan ttg turunan alkohol yang bukan minuman disini.


Daging Biasa: Yang Dijual dan Dimakan Orang Jepang

Perbedaan pendapat dimulai dari daging supermarket biasa. Dengan kata lain daging sapi dan ayam yang dijual dan dimakan oleh orang Jepang.

niku-di-supa

Pendapat pertama mengatakan bahwa sama seperti di negara manapun (Indonesia misalnya), kita tidak bisa memastikan kalau si hewan yang udah jadi daging itu dipotong dengan cara islami atau tidak. Pendapat ini memegang prinsip “kalau tidak tahu, ya bole-bole aja…“. Di Indonesia pun, siapapun yang menjual, apakah dia orang Tionghoa, Batak, Sunda, atau Jawa, tidak pernah ada yang mempertanyakan atau menelusuri detail sejarah si daging, atau latar belakang sang penjual.

Pendapat lain mengatakan bahwa Jepang adalah negara non-muslim. Bahkan non-ahli kitab alias politeis. Dari fakta tersebut ditambah deduksi, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar daging yang dijual bebas disini tidak dipotong dengan cara islami, alias tidak halal. Memang tidak semua, tetapi pemegang pendapat ini lebih berhati-hati dengan daging dan menjauhi semua makanan lokal yang mengandung daging. Persis seperti vegetarian.

Orang dengan pendapat pertama tidak akan ragu untuk masuk ke restoran Jepang dan memandang orang dengan pendapat kedua menganiaya/mendzalimi diri sendiritidak menikmati hidup, atau fanatik mungkin. Sebaliknya, orang dengan pendapat kedua tidak akan memakan bahkan madu kalau ada kanji daging di komposisinya dan memandang pendapat pertama sebagai ceroboh atau ignorant.

Efek dari kedua pendapat ini sangat besar. Sebagian besar diskusi atau kontroversi pendapat di artikel ini tidak akan berlaku bagi pemegang pendapat pertama. Sebaliknya orang dengan pendapat kedua akan memburu kanji 肉 pada setiap produk berkemasan dan mengeliminasinya.


Daging Australia

Saizeriya Aussie Menu

P.S. Menu Saizeriya yg paling atas ada bacon-nya, jadi tetep aja ga boleh dimakan

Perpanjangan dari topik sebelumnya, terdapat juga perbedaan pendapat antara daging ahli kitab daging yang diimpor dari negara ahli-kitab (baca: barat i.e. Benua Australia, Benua Eropa, Benua Amerika).

 

Saya belum pernah mengunjungi negara ahli-kitab (baca: negara dengan mayoritas penduduk beragama kristiani), jadi saya tidak tahu bagaimana komunitas muslim disana membedakan antara daging sapi halal dan tidak halal. Kami yang di Jepang ini penasaran juga. Mungkin ada yang bersedia menulis?

Yang jelas, dua pendapat yang berbeda mencuat.

Satu pendapat, negara ahli-kitab? OK. Negara politeisme? NOK.

Satu pendapat lain, mau ahli mau pakar, tunjukkan dulu logo halalnya baru OK.

Konsekuensinya adalah saat pergi ke restoran. Misalnya, beberapa tahun lalu Sukiya – restoran sashimi daging dan ikan – rumornya mengimpor daging dari Australia. Dengan demikian, sebagian orang makan disana. Sebagian yang lain, kalau diajak nggak mau karena tetap nggak jelas dari Australianya agen halal atau agen biasa. Sayangnya, Sukiya kabarnya tidak memakai daging Australia lagi saat saya datang ke Jepang, sehingga saya tidak mengalami langsung konflik tersebut.

Contoh yang lebih modern (2017) adalah adanya menu dengan Daging Australia di Saizeriya. Nah, boleh dimakan nggak tuh?


Daging Ayam Brazil Halal

Daging ayam berlogo halal yang paling mainstream di Jepang adalah produk impor dari Brazil. Biasanya bermerk Seria atau Sadia. Daging ayam ini dijual di toko-toko halal. Toko Jepang mainstream seperti Gyoumu Supa dan Amica juga menjualnya. Terkadang saya juga nemu ayam utuh ini dijual di random warung atau supermarket yang nggak ada bau-bau toko halalnya.

Daging ini ada logo halalnya. Jadi, halal?

brand-seara

Tidak menurut sebagian brader dari Pakistan dengan alasan yang tidak saya pahami. Yang jelas, mereka agak nggak suka kalau disuguhi daging ayam yang diolah dari ayam utuh Brazil berlogo halal ini.

Mereka -brader- tidak percaya bahwa logo halal di produknya itu valid. Brazil gitu loh? Emangnya siapa yang kepikiran orang islam kalau dengar kata “Brazil”? ^^ Saya tidak begitu mengerti tapi isu yang saya dengar adalah sebagai berikut. Rumornya ada syekh dari brader-brader tersebut menanyakan entah ke supliernya atau importirnya atau perusahaan di Brazilnya dan pas ditanya (atau dikunjungi? entahlah) jawaban yang mereka beri tidak meyakinkan.

Begitulah. Update 2017.03.26 Ada skandal suap, pemalsuan sertifikat, dan kelalaian standar kebersihan di Brazil mencuat. Ternyata isu brader… ada benarnya. Skandal ini juga mencakup produsen Seara dan Sadia, namun sepertinya lebih ke masalah keuangan dibanding kebersihan. Meskipun begitu, sepertinya reaksi pemerintah Jepang adl. membatasi impor daging dari Brazil.

Jadi brader makan daging mana? Para brader beli daging halal yang disembelih di Jepang. Mungkin karena yang punya tokonya adalah brader juga, jadi mereka kenal dan yakin atau gimana gitu.

Saya menemukan banyak logo halal yang unik-unik di Gyomu Supa, misal halal Denmark, Eropa, Filipin. Negara-negara yang nggak kita pikirkan kalau bakal ada lembaga sertifikasi halalnya lah. Dan logo halal adalah tanda paling mudah bagi kita untuk mempercayai kehalalalan sebuah produk. Agak ragu juga sebenarnya dengan logo halal yang nggak pernah dengar sebelumnya tersebut. Kemudian ada berita juga di Korea, kasus pemalsuan logo halal ini sangat mewabah.

Topik ini mencuatkan pertanyaan apakah logo halal itu sendiri bisa dipercaya? Namun, kalau kita tidak mempercayai tanda halal di produk ini, apa lagi dong yang bisa kita percaya ya…

Hal yg terkait dengan ini adalah kasus berikut. Kalau kita datang ke sebuah restauran dan bertanya, ini dagingnya halal tidak (sering dilakukan orang ke resto India/Nepal) lalu dijawab “iya”, apa yg membuat kita percaya? Bisa jadi mereka bahkan ga tahu konsep halal itu bijimana.

Mirin, Seperti di Sushi atau Udon atau lain-lain

Topik selanjutnya: Mirin. Zat yang belum pernah saya denger pas di Indonesia ini adalah bumbu dapur berupa cairan yang mengandung alkohol berkadar tinggi, biasa dipakai untuk tumisan atau makanan berkuah. Hal yang sangat menyebalkan karena muslim di Jepang hobi makan sushi, soba, dan udon. Karena, well, makanan tersebut adalah makanan Jepang buanget yang tidak mengandung daging sama sekali.

Toko udon favorit di toyohashi.jpg

Toko udon favorit di Toyohashi.

Ditambah lagi banyak rumor ttg toko sushi sana boleh, toko sushi sini ada mirinnya, toko sushi situ cuma menu tertentu bertebaran hampir secara periodik, membuat komunitas flip-flop dan bingung menyikapi sushi. Hal inilah yang membuat kasus spesifik ini patut dicatat di artikel ini.

Beberapa orang mengabaikan apakah sushi mengandung mirin atau tidak. Sebentar… Mengabaikan mungkin kata yang terlalu kasar. Lebih tepatnya, membuat asumsi by default sushi itu boleh dimakan sampai ada bukti (atau rumor) kalau dia mengandung mirin.

Beberapa benar-benar mengabaikan rumor tersebut. Wong sushi gini… Mana bisa mabuk makan sushi banyak-banyak, walaupun ada mirin-nya.

Beberapa yang lain agak paranoid, menjauhi sushi yang pernah terdengar rumor bahwa ia berimirin, barang sedikitpun. Atau bahkan semua jenis sushi.

Ada yang bertanya, orang Jepang memakai mirin untuk minum-minum nggak? Kemudian dilanjutkan, kalau diminum banyak-banyak memabukkan nggak? Kalau nggak kan berarti ya boleh aja, bermirin atau tidak.

Pertanyaan yang pertama jawabannya iya, zaman dulu kala [1].

Mirin was originally meant for drinking, but has been used as a seasoning since the end of the Edo Era … Chiba, Machiko, J. K. Whelehan, Tae Hamamura, Elizabeth Floyd (2005).
Japanese Dishes for Wine Lovers. Kodansha International. p. 12.

Untuk pertanyaan kedua, entahlah. Karena dulu dipakai untuk minum-minum, ya kemungkinan besar memabukkan juga kali ya. Sehingga bisa disimpulkan karena banyaknya memabukkan thus haram, ergo, sedikitnya pun haram.

2302_03

Sumber: japanguide.com. Basic for Muslim Travelers in Japan.

Setidaknya itu pendapat sebagian orang. Sebagian komunitas lainnya melihat, produknya atau makanannya, bukan komposisinya. Dengan kata lain, sushinya bukan mirinnya. Hal yang membawa kita ke topik berikutnya.

Makanan Ber-(senyawa)-alkohol

Bagaimana kalau makanan tersebut disiram alkohol, kemudian 1 detik kemudian ia menguap lalu hilang sama sekali?

Bagaimana kalau makanan tersebut berkadar alkohol yang sangat sedikit? Alkohol dari alam? Durian, tape, legen beralkohol tetapi undoubtly halal kan?, sekali lagi bagi sebagian besar pendapat.

Bagaimana kalau makanan itu tadinya berbahan alkohol, tapi sekarang bukan berwujud alkohol? Cuka aja boleh…

Semua variasi ini bisa memiliki spektrum pendapat masing-masing, pendapat sejumlah kepala yang ada. Perbedaan ini dikarenakan beda interpretasi antara khamr dan alkohol. Khamr, memabukkan. Hampir semua alkohol memabukkan. Yap, hampir tapi tidak semua.

Tidak cuma kita-kita yang tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya, para ahli pun sepertinya tidak bisa memberikan jawaban yang simpel, jelas dan konsisten. Titik temunya sulit disepakati. Setiap sertifikasi halal pun punya standar persentase alkohol maksimal masing-masing. Nah, apalagi orang-orang yang dibawah kayak kita. Pasti eksekusinya juga pusing dan tidak konsisten.

Contoh tidak konsisten misalnya, sebut saja si A* sangat suka durian. Kan halal. Namun, choco-chips yang ada kanji 酒 sake-nya, menjauhi. Padahal mungkin persentase alkohol di durian lebih besar dari pada di snack tersebut dan nggak pernah dengar tuh ada orang mabuk makan choco-chips banyak-banyak. But who knows…

*) Siapa itu si A. Karena batasan netralitas pendapat di artikel ini, saya tidak akan memberitahu siapa itu A. Wink.. wink..

Tidak hanya soal alkohol tadi, soal perubahan senyawa molekuler juga sepertinya masih menjadi perdebatan para ahli. Molekul ini dari babi, tapi udah berubah, atau cuma untuk dimakan bakteri dan bakteri menghasilkan molekul lain. Topik sulit yang tidak akan dibahas di artikel ini. Hal ini terkait dengan zat-zat komposisi yang akan menjadi topik selanjutnya. Yap, bahan makanan jadi bahan pertimbangan buat makan di Jepang disini. Nggak kayak di Indonesia. Ada zat yang meragukan dan ada yang tidak.

Minuman “Keras” Alkohol Nol Persen

Sebelum membahas lebih lanjut ttg zat meragukan tersebut pada komposisi makanan dan zat turunannya, mumpung lagi membahas Alkohol, mari kita sisipkan topik ttg minuman tidak beralkohol.

Es teh manis?

Bukan lah. Misalnya, bir non-alkohol atau wishkey zero alkohol, dan semacamnya. Katanya di arab banyak yang kayak ginian.

0-00_abv_beers

Foto dari Non-alcoholic beverage [Wikipedia]. Saya nggak beli lho!

Kalau saya, kok ragu kalau itu boleh diminum. Alkohol nol persen ya apa sama dengan tidak memabukkan? Yang jelas ada muslim yang yakin kalau minuman tersebut boleh diminum.

MUI sendiri menfatwakan bahwa makanan dengan nama haram (misal: teh merek Whiskey) atau makanan yg direkayasa supaya jadi berasa seperti rasa makanan yang haram (bumbu perasa babi yg nggak dari babi), jadi haram juga (Fatwa MUI 4/2003).

Meskipun masalah legalitas seperti hukum, fatwa, dan dalil di luar bahasan artikel ini, terkait dengan fatwa tadi, bagaimana dengan bir pletok? Ginger ale? Wine (Wine is not emulator)?

Balik ke Jepang. Disini bir dan semacamnya dijual bebas di mana saja, di warung pun buanyak variasinya. Saya sih jarang mendengar eksistensi minum keras zero alkohol disini, dan kayaknya komunitas disini juga tidak terlalu peduli dg eksistensinya. Well, move on ke topik selanjutnya.

Zat Turunan pada Ingredients

Nah, saatnya membahas gajah di ruangan. Nggak gajah juga sih, kan senyawa zat kecil-kecil. Zat turunan yang saya maksud ini ditemukan di bahan makanan, tertulis di daftar komposisi di balik kemasan makanan.

o0604040313218925372

Sumber: ameblo.jp. Coklat tanpa nyukazai. Pernah dapat coklat ini dari anak SMP Jepang pas pertemuan pertama Aichi Scholarship. Mereka jualan coklat ini untuk charity katanya.

Saya tidak pernah paham the extend of “watch-out”-items in the ingredients, gimana tuh Indonesianya, ttg lebar/jangkauan/cakupan zat-zat yang harus diawasi di daftar komposisi. Kadang saya main ke komunitas/orang lain yang saya jarang berinteraksi, ternyata mereka menjauhi bahan-bahan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan harus diawasi.

Daftar ini bisa melebar luas, termasuk tetapi tidak terbatas pada: lemak, gelatin, shortening, jelly, nyuukazai (emulsifier), margarin, butter, karamel, cream, yeast, asam amino, soyu (soy sauce), white vanili, dll.

Bahan-bahan makanan yang dijauhi tersebut biasanya karena tidak jelasnya asal muasal mereka. Kebanyakan dari keluarga turunan babi, misalnya emulsifier dari babi dan seterusnya. Namun ada juga emulsifier yang bukan dari babi. Karena tidak tahu yang mana, jadi tidak jelas lah.

Setiap item di watch out list itu bisa menimbulkan pendapat yang berbeda-beda.

Nah menyikapi hal ini secara umum pun bisa menjadi pendapat yang berbeda juga. Kaum kalau tidak tahu tidak apa-apa, tidak akan melihat eksistensi tulisan tersebut di komposisi. Kaum paranoid akan memburu semua kanji dan kana dari daftar list mereka dan menjauhi semua makanan bertuliskan kanji-kana tersebut. Kaum takut tapi penasaran rasanya kayak mana akan menelpon si pembuat makanan untuk memastikan bahan makanan tadi terbuat dari apa.

Kaum yang terakhir saya sebut tadi biasanya akan dipandang jadi hero (atau jadi villain?) ketika mengumumkan produk ini boleh-tidak boleh karena alasan ini ana itu. Yang akan dibahas pada dua topik terakhir.

Double Derivative: Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan

Namun sebelum membahas dua topik tadi, mari sedikit mengekstensi topik sebelumnya sedikit. Mungkin sudah jelas di judul yak, ttg.  “Makanan Berkomposisi Bahan yang Produk Pasaran/Satuannya Berkomposisi Meragukan”.

Maksud loehh?

Lihat kembali di daftar “watch-out”-items pada topik sebelumnya. Dua item terakhir adalah soyu dan white vanili. Ekstrak kedelai dan vanila putih. Hal yang kalau dilihat dari namanya, tidak ada bau-bau mencurigakan. Bukan? Namun, ada beberapa orang yang menjauhinya dengan argumen sebagai berikut.

Jadi, soyu itu soy sauce alias saus kedelai. Soyu sebagai produk di supermarket, botolan, satuan ada yang mengandung alkohol (kanji 酒) dan ada yang tidak. Jadi ada yang boleh ada yang tidak. Are you with me?

Nah, ada produk makanan lain tuh. Misal apa deh, roti kek atau snack. Eh, dilihat di belakang bungkusnya ada tulisan soyu. Jeng-jeng-jeng…. Nah lho, nah lho. Boleh nggak tuh?

Karena fakta di lapangan yang bisa kita saksikan sendiri (di supermarket, misal) bahwa ada soyu yang boleh dan nggak boleh, meragukan, ergo si roti tadi juga meragukan sampai diketahui si soyu ini komposisinya bagaimana. Jadi, rotinya mending dijauhi.

Yang lain berpendapat, chotto matte! soy sauce ya soy sauce. White vanili ya white vanili. Jangan menyetarakan produk bahan dan produk jadi. Produk pabrik dan produk konsumen. Logikanya, pabrik kalau memesan dan mencantumkan bahan ya bahan murni. Bukan bahan turunan. Kalau turunan berarti bahannya bahan tadi juga merupakan bahan dan harus dicantumkan juga, bukan? Kalau begitu, produk yang mengandung coklat semua meragukan karena ada coklat yang mengandung alkohol ada juga yang tidak.

Argumentasi pada topik terakhir ini cast doubt, apa lagi ini indonesianya, memancarkan bayang keraguan pada daftar komposisi itu sendiri. Bisa dipercaya atau tidak kah?

Untung saja ada kaum takut tapi penasaran pengen nyoba yang terdepan dalam mengonfirmasikan hal-hal tersebut ke produsen langsung. Bisa nunggu laporan mereka lah. Eh.. Tapi kalau daftar komposisi di kemasan nggak bisa dipercaya,  konfirmasi dari produsen bisa dipercaya nggak ya? Hm…



Halal Berbatas: Waktu/Serial Number/Tempat/Bungkus

1001045_560233460693901_1985745834_n

The taste doesn’t bother interest me anyway.

Bahasan gajah di ruangan (ttg zat turunan dalam komposisi) ini merujuk kepada satu kesimpulan. Kehalalan di sini sifatnya limited dan temporer.

 

Bertanya “ttg kit-kat itu halal apa nggak?” jawabannya bisa bermacam-macam tergantung siapa yang menjawab. Dan macam-macam lagi tergantung kapan, kit-kat yang mana, yang dijual dimana, bahkan yang serial numbernya dengan akhiran apa.

Ada juga produk milk-tea yang as bizzare as it sounds, um, seaneh kedengarannya, berbeda status kehalalannya bergantung pada ukuran botol. Yang sedang boleh, yang kecil nggak. Padahal produk yang sama dengan tulisan komposisi yang sama.

Hal tersebut sangat biasa di kehidupan komunitas muslim di Jepang.


Makanan Dari Teman

Artikel ini memperlihatkan bahwa setiap ada topik pasti ada pendapat yang berbeda di antaranya. Nah, kalau makanan itu untuk diri sendiri sih nggak masalah. Namun, di dalam komunitas tentu interaksi, tukar pikiran, dan tukar makanan pasti akan terjadi. Bagaimana dengan spektrum pendapat yang berbeda-beda tadi?

Apakah kita harus mengecek kalau semua parameter di atas sama nilainya dengan teman yang memberi kita makan tadi? Tentu saja pada topik ini juga ada perbedaan pendapat lagi. Ada yang nanya banget, ada yang nanya secukupnya, ada yang cuek.

Misal yang soal brader tadi, katanya sampai ngamuk dan menolak kalau disuguhi daging halal brazil. Saya sih tidak menyaksikan langsung gimana cara mereka menolaknya. Katanya sih beberapa tahun lalu terjadi, dan sepertinya mereka sudah mulai melunak akhir-akhir ini.

Saya akan melanggar batasan netralitas artikel ini khusus untuk topik ini. Kalau saya, asal saya tahu yang memberi makanan atau minuman tadi muslim, kecuali makanan tadi sangat-sangat mencurigakan, saya tidak akan menanyakan ini halal nggak? atau lebih parahnya lagi parametermu bagaimana?.

SONY DSC

Nobody will refuse or question the halal status of rendang. Sumber foto: Rendang [wikipedia].

Menurut saya, burden of proof, duh apa lagi ini Indonesianya, beban pembuktian kehalalalan jatuh kepada dia yang membuat dan memberi makanan tersebut. Dan sebagai muslim, kita cukup percaya dengan keislamannya dan yakin dia tidak berniat mencelakakan. Ini juga sebagai penghormatan terhadap pendapat masing-masing. Meskipun berbeda pendapat, muslim tetap bersaudara.

Meskipun begitu, dua paragraf terakhir di atas nggak jelas juga tuh dengan klausa “kecuali sangat-sangat mencurigakan”. Mencurigakan itu yang bijimana? Duh duh duh…



Mujtahid dan Mujtahid Mutlak

Pada akhirnya, setiap pendapat adalah milik pribadi masing-masing. Setiap pribadi harus berijtihad, memutuskan bahwa saya berpendapat begini untuk topik ini dan begitu untuk ropik itu.

Ada prinsip bagus dari ustadz yang menjadi imam di Masjid Toyohashi (atau yang datang dari Indonesia untuk pengajian? saya lupa siapa).

Wara’ itu untuk diri sendiri. Bukan untuk orang lain.

Dan bagi yang bingung memutuskan pendapat, selalu ada mujtahid mutlak di sekitar kita. Ini sebenarnya istilah guyon yang dicetuskan oleh salah satu bapak-bapak di Toyohashi. Jadi bukan mustahid mutlak kayak imam syafii gitu bukan. Disini maksudnya, orang-orang yang kalau “berfatwa” roti merek ini itu boleh, chiki ini itu nggak, dan memakannya, pendapat itu bakal mutlak dipakai oleh komunitas di sekitarnya.

Syarat jadi mujtahid mutlak ini tidak sulit. Punya kecenderungan untuk peduli ttg halal dan haram. Jadi, minimal bukan omnivora-lah, apapun dimakan. Punya kecenderungan untuk update informasi. Nggak gaptek-gaptek dan kuper-kuper amat. Dan yg terpenting punya kecenderungan untuk bisa membaca kanji. Beres. Saya juga pernah menjadi mujtahid mutlak bagi anak-anak SMP Indonesia yang datang ke Jepang. Mereka belanja di kombini dan saya dengan otoriter men-dictate, ini boleh, ini jangan.

Biasanya tiap komunitas punya orang seperti ini, dan pendapatnya juga berbeda antata mutlaker di komunitas satu dan lain. Pernah dengar cerita juga, ada anak yang dianggap alim karena dia rajin sholat mengaji dsb, memiliki pendapat pertama di topik pertama artikel ini, jadi teman-temannya pun berpendapat yang sama.

Di internet, kaum penanya produsen tadi juga bisa direfer dan dipakai pendapatnya secara mutlak. Biasanya mereka mengepos di Facebook, group, atau blog-blog. Situs halal yang saya refer di awal artikel juga salah satu contohnya.

halal-japan-facebook.png

Mujtahid mutlak daring sedang beraksi.

 

Jika Anda bingung ttg suatu kasus halal haram suatu produk, membaca artikel ini mungkin akan tambah bingung. Untuk pembaca yang sudah membaca sampai paragraf ini, saya ucapkan: Selamat atas achievent Anda membaca artikel 3000 kata ini. Maaf karena mungkin saya tidak menjawab pertanyaan Anda. Dan terima kasih telah meluangkan waktumu untuk membaca blog ini.



Penutup

Topik berikutnya, terdapat juga perbedaan pendapat dari bagaimana makanan tadi itu ditutup. Penutupnya turunan dari babi atau nggak.

Bercanda-bercanda…

Artikel ini sudah terlalu puanjang dan membahas hal yang cukup luasss…. Mau mengedit supaya lebih ringkas, kok capek ya. Jadinya, bingung deh mau menutupnya bagaimana.

Pokoknya gitu lah ya.

Di Jepang, halal haram itu pusing. Nggak gampang kayak di Indonesia. Namun, semoga tidak ada konflik dikarenakan perbedaan pendapat di atas. Tidak perlu keras mengoreksi dan berbantah-bantahan. Mari melembut dan tersenyum. Saling menghormati pendapat masing-masing, dan terus berusaha belajar dan memperbaiki diri. Sepertinya itu lebih baik.

Sama-sama perantau kita di Jepang sini, mari kita saling bahu membahu.

Jika ada pertanyaan, pendapat, cerita silakan kasih komentar di artikel ini atau lebih baik lagi tulis di blogmu. Mungkin bisa memperkaya wawasan ttg topik ini lebih luas lagi.

^^.. Wassalamualaikum.

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya.

Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut:

English Formal Informal Informal Possesive
I Saya Aku -ku
You Anda Kamu -mu
He/She/It Beliau Dia -nya
We (inclusive) Kita Kita Kita
We (exclusive) Kami Kami Kami
You (Plural) Kalian Kalian Kalian
They Mereka Mereka Mereka

Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral.

Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya…

Jika saya disuruh merevisi tabel di atas, kira-kira hasilnya seperti berikut. Kolom terkanan saya biarkan apa adanya soalnya lagi nggak kepikiran. Kalau ada ide silakan bagi tau…

English H Form L Form Informal Possesive
I Saya, Aku Gue, Gua, Aing, Beta,
Nyong, Diriku, Eike,
Ana, Ane,
-ku
You Anda, Kamu Engkau, Kau, Dikau, Kow,
Loe, Lu, Maneh,
Sampeyan, Situ,
Antum, Ente,
-mu
He/She/It Beliau, Dia Anak itu, Orang itu, -nya
We (inclusive) Kita Kita orang, Torang, Kita
We (exclusive) Kami Kami orang, Kita, Kami
You (Plural) Kalian Kamu orang, Lorang, Lupada Kalian
They Mereka Dia orang, Mereka

Ah itu kan bahasa daerah. Ah itu kan bahasa gaul. Mungkin itu yang ada di benak kalian.

Jawabannya sederhana. Jadi bukan bahasa Indonesia ya? Kalau begitu, kita kalau ngobrol itu gak pake bahasa Indonesia dong. Dan native speaker bahasa Indonesia jadinya NOL dong.

Hal ini juga di bahas oleh Sneddon di makalahnya “Diglossia in Indonesian”. Pemerintah mempromosikan bahasa Indonesia yang baru sebagai “bahasa yang baik dan benar”, sedemikian sehingga bahasa yang diucapkan sehari-hari itu dikucilkan. Tidak dianggap. Seolah-olah bahasa gaul itu bukan bahasa Indonesia.

Namun kalau kita mengadopsi teori diglosianya Fergusson, semua bisa dianggap bahasa Indonesia! Cuma ya ragamnya aja (bukan dialek) yang berbeda…

Dan jika kita sudah sepakat bahasa gaul dan ucapan sehari-hari itu tidak-lain dan tidak-bukan jugalah bahasa Indonesia, kita bisa masuk ke kesimpulan. Bahasa Indonesia itu kaya!

Tidak hanya kosakata dari bahasa ibunya – Bahasa Melayu, Bahasa Indonesia pun disokong kosakata yang diserap dari bahasa daerah. Dan dipakai oleh orang-orang daerah tersebut untuk berbicara ke orang daerah lain. Beberapa kata sifatnya sudah jadi nasional, kayak gue loe yang dari daerah Jakarta. Beberapa masih regional. Namun itu tidak membatasi kayanya kita akan ragam pronoun.

Tidak hanya itu juga, kita biasa mengganti kata “kamu” dengan euphemisme seperti saudara, bapak, ibu, mas, mbak, adek, abang, dan lain-lain. Makin banyak pilihan kan tuh!

Setidaknya kalau mau nulis novel nih, kita bisa mengasosiasikan karakter dengan penggunaan kata ganti orangnya. Misal satu tokoh ngomongnya selalu Anda/Sodara dan Saya kayak pengacara gitu. Tokoh lain Aku dan Engkau. Tokoh yang sono ngomongnya eike dan ente. Eh pas berhadapan dengan orang tertentu atau saat diskusi dengan topik tertentu, si tokoh sono tadi balik ke Kamu dan Saya. Nah lho – nah lho, ada apa itu? #subtle

Jauh lebih seru bukan dibanding semua karakter memakai You and I.

Saya juga tergantung orangnya beda-beda memakai pronoun. Ada orang yg saya selalu memakai aku. Ke keluarga selalu manakai nama. Ke teman depat maneh-aing. Sisanya baru saya. Bukan cuma aing kan yang gini?

Oh ya, di Jepang juga ada cukup banyak varian pronoun.
Saya: 私 watashi、私 watakushi, 我 ware, わし washi, 自分 jibun, うち uchi, 僕 boku、俺 ore.
Kamu: あなた anata、あんた anta, 君 kimi、おまえ omae, てめえ temee、貴様 kisama.
Dia: 彼 kare、彼女 kanojyou、やつ yatsu、そいつ soitsu、あいつ aitsu.

Lengkapnya bisa dilihat di wikipedia Japanese Pronoun berikut.

Btw, kata ganti orang ketiga tunggal “dia” itu netral yak di Indonesia maupun Jepang. Kurang ada variasinya.

Yang saya paling suka itu  てめえ temee dan 貴様 kisama. Secara harfiah sih arti aslinya “kamu”, tapi punya konotasi merendahkan serendah-rendahnya, dan bisa dijadikan umpatan juga. Di bahasa Indonesia ada nggak ya?

 


Referensi.

Ferguson, CA. 1959 ‘Diglossia’, Word 15:325-40. [Reprinted in 1972 in Pier Paolo Giglioli (ed.), Language and social context; Selected readings, pp. 232-51. Harmondsworth: Penguin.]

Sneddon, J. (2003). Diglossia in Indonesian. Journal of the humanities and social sciences of Southeast Asia and Oceania, 159(4), 519-549.

Iklan

Diglosia dan Dialog dalam Tulisan

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung sedikit bahwa Bahasa Indonesia dengan mengalami Diglosia dan menyebabkan obrolan dalam tulisan menjadi aneh. Tema untuk lain kali kata saya waktu itu, inilah lain kali tersebut.

Pertama-tama, apa itu Diglossia? Saya tidak akan membahas mendalam disini. Semoga dua paragraf ringkas berikut cukup untuk menjelaskan.

Intinya, Diglosia adalah kondisi dimana sebuah bahasa memiliki dua ragam yang dipakai secara bersamaan. Umumnya dinamakan dua prestige yang berbeda. Yang satu prestis tinggi, disingkat H. Yang lain prestis rendah, disebut L. Di Bahasa Indonesia bisa dibilang bahasa baku vs bahasa sehari-hari. Saya tidak ingin menyakiti hatimu vs Gue nggak pengen nyakitin hati loe.

Bahasa Indonesia masuk ke definisi cetusan Fergusson [1959]. (1) Dua ragam H dan L bahasa Indonesia memiliki fungsi yang berbeda, ragam H untuk yang resmi seperti pendidikan, berita, dan pemerintahan sementara L untuk percakapan kasual seperti ke teman, keluarga, dan masyarakat. (2) Ragam H, dianggap superior, distandarkan, dan diangkat tinggi oleh yang berwenang sementara L dengan cap Bahasa Yang Baik dan Benar, sementara L dianggap bahasa pasar dan haram diajarkan di sekolah. (3) H dipakai di dalam literatur dan syair sementara L hanya untuk percakapan informal.  (Sneddon, 2003).

Sebenarnya, Mas Sneddon membahas lengkap tuh ttg bedanya H dan L-nya Bahasa Indonesia. Ada lebih dari 10 item. Bagi yang tertarik, silakan cari paper PDF-nya di perpus terdekar Anda. It is a good read!

Yang saya ingin curhatkan di artikel ini lebih menekan ke poin ketiga di atas. Ragam L kita itu tidak dipakai untuk literatur!

Hal ini membuat saya kesal kalau membaca dialog (atau menulis dialog!) di novel-novel. Soalnya, penggunaan kata di dialognya tidak realistis. Nggak bakal ada orang Indonesia yang ngomong kayak gitu di dunia nyata.

Misalnya saja kutipan dari novel Ketika Cinta Bertasbih, oleh Habiburrahman el Shirazy berikut.

Bayangkan dialog di atas dimainkan plek leterlek. Apa nggak awkward parah tuh?

Yang lebih natural (di dunia nyata), mungkin kira-kira begini kali ya… Bisa setuju bisa nggak sih.

“Kak Tiara nangis? Maafin saya kak, kalo ada katakata saya nggak berkenan.”

Nggak papa Dik. Kakak cuma ngerasa berat ngadepin masalah ini. Kakak pengen cepetan jelas, pengen cepetan konsen ujian. Akhir-akhir ini Kakak susah tidur. Tapi kamu bener, dua hari lagi, nggak lama. Atau kakak ambil keputusan aja tanpa nunggu saran kakakmu. Suatu saat nanti, kamu bakal tahu kenapa kakak nangis.”

Cetak miring menandakan yang berbeda dari tulisan asli. Susunan kata dan kalimat sengaja dibuat sama dengan aslinya untuk mempertahankan alur pikir dan mungkin karakter tokoh. Namun, kalau dibuat bebas mungkin bisa lebih natural lagi.

Ngerti kan, titik frustasi saya dimana?

Masalahnya kalau dialog natural bayangan saya di atas tadi yang tertulis di novel, yang ngamuk mungkin lebih banyak lagi. Editor satu hal. Pembaca mungkin yang lain. Novel jadi tampak, well, unrefined atau unintellect. Tuh, bermain H vs L-nya Ferguson.

Jadi sepertinya dialog di novel-novel Indonesia itu bukan dialog yang diutarakan karakternya benar-benar kata per kata, melainkan hanya standar garis besar yang bisa saja pilihan katanya berbeda saat kalimat itu diucapkan memakai mulut. Hm… Hm… Hm…

Kalau gitu caranya, susah bedain satu dan lain karakter di novel. Karakter 1 dan karakter 2 di dunia nyata pasti punya gaya ngomong yang beda, pemilihan kata yang beda, dan struktur kalimat yang beda. That’s real world.

Kalau pakai cara sekarang, dialog patuh dengan aturan me-kan, di-kan, ber-kan dan semuanya, semua karakter persis dengan pembawa berita ngomong deh jadinya…!! Atau politisi yak? Robot? Atau syahdan melayu?

Contoh lain adalah ketika Muslim’ Show menerjemahkan komiknya ke Bahasa Indonesia. Mereka memberikan dua alternatif seperti berikut. Gambar 1 adalah alternatif H, memakai bahasa (cenderung) baku yang suka dipakai di literatur. Gambar 2 adalah alternatif L, walaupun lebih condong ke orang Jakarte.

Ragam H, Bahasa Baku Bahasa Indonesia

Ragam L, Bahasa Sehari-hari (Daerah Jakarta)

Sumber Gambar: Facebook Page The Muslim Show Indonesia, Agustus 2014

Saya sangat menyayangkan Gambar 1 yang menang polling. Saya ingin memperjuangkan naturalisasi percakapan sehari-hari ke literatur. Tapi emang itu Gambar 2 nya kebanyakan kata Gw dan spamming Bro. Jadi agak geli juga dengernya…

Namun, kalau terjemahan mungkin memang lebih baik di Gambar 1 (ragam H) si kali ya. Biar lebih netral. Juga kadang susah menangkap nuansa satu bahasa ke bahasa lain, jadi yang paling aman ya yang paling netral. Agak serem juga bayangin baca komik Conan dengan ragam L.

Pengen nulis dialog yang lebih alami! Yang sebenar-benarnya karakter ucapkan kalau di dunia nyata. Tapi gimana ya… Hmf…

Referensi.

Ferguson, CA. 1959 ‘Diglossia’, Word 15:325-40. [Reprinted in 1972 in Pier Paolo Giglioli (ed.), Language and social context; Selected readings, pp. 232-51. Harmondsworth: Penguin.]

Sneddon, J. (2003). Diglossia in Indonesian. Journal of the humanities and social sciences of Southeast Asia and Oceania, 159(4), 519-549.

Al-al, Bed-bed, Der-der

Bahasa Indonesia punya satu fitur yang unik tentang nama. Di bahasa kita, nama bisa disingkat menjadi hanya satu dua suku kata. Dan ini dilakukan dengan spontan, hampir ke seluruh nama-nama apapun, dan tanpa harus minta izin dulu ke yang punya nama.

Misalnya nih, ada orang namanya Yulianto.  Sangat-sangat lazim di orang kita memanggil dia dengan kata “Yul”.

Eh Yul-yul, Pak Is ada PR nggak?

Hal ini sepertinya juga tidak peduli dengan gelar sebutan Pak Bu Mas Mbak. Memanggil langsung ke orangnya atau ke orang ketiga. Misal di percakapan di atas, Pak Ismadi menjadi Pak Is.

Namun, jelas yang paling kerasa adalah kalau memanggil ke orangnya langsung.

Anton Ton. Udah makan belum?
Fitriana Kemana aja nggak pernah kedengeran Na?
Heni Hen, paper udah disubmit belum.
Butet Tet, disana tadi saya liat Robert lho.
Fikri Fik, kapan maneh beranak lagi?
Heru/Heri/Hero Her-her, boleh pinjam Go Pro nggak?
Dwi Wi, akhir pekan main ke monas yuk…

Yang namanya udah singkat satu kali napas aja masih bisa disingkat tuh, di contoh terakhir.

Nama-nama di atas cenderung nama Indonesia sih, tapi sepertinya hal ini juga tidak terbatas nuansa asal nama deh.

Robert Bert, ada episod gundam yang baru lho di TV One.
Mustafa Mus, gomen saya nggak pernah balas line. Sibuk nih.
Jasmine Jas! Jasmin! Sini geh… Ada yg mau gue omongin.
Fuji Ke restoran sushi yuk, Ji… Udah lama nggak kesana.
Einarsson Piye Son kabare?
Patricia Ca-ica. Gimana Tangkuban Perahu kemaren? Aman?
Abraham Bi-abi (atau Be-Abe). Ajarin main DLSR dong.

Sekarang coba bayangin orang barat nyingkat nama dengan gaya Indonesia tadi. Satu dua suku kata. Aneh jadinya.

Rebbeca, can I borrow your car for a little while, Reb?

Mit, Smith… Where are you last Sunday?

Memang ada juga nama barat yang “secara tradisi” memiliki nama singkat universal. Misalnya Bill dari William. Dick dari Richard.  Jess/Jessie dari Jessica. Wiktionary mendaftar nama-nama tersebut dan singkatannya di artikel “Appendix:English given names” ini.

Namun hal di atas bersifat diminutive. Artinya pet name, jadi sepertinya penggunannya terbatas untuk teman terdekat atau keluarga.

Misalnya lagi di Jepang, bayangkan orang Jepang ngomong…

り、ひかり。。。遊ぼう。。。
Ri, hikari… Asobou…
Ri, hikari… Main yuk.

Kayaknya nggak mungkin deh. Kalau di bahasa Indonesia masih kedengeran alami, kalau bahasa aslinya… Hm…

Nama singkat bukan berarti nggak ada di Jepang. Ada tapi dibuat-buat dulu. Misal Reina jadi Renchon. Takeru jadi Takki. Nggak tambah pendek -.-, tapi jadi lebih terasa akrab sih emang. Biasanya harus tanya dulu ke orangnya, boleh nggak dipanggil begitu… Kecuali well, dia emang osananajimi teman masa kecil jadi sejak jaman bejot emang manggilnya kayak gitu.

Di Indonesia, semua nama. Semua orang tahu cara memotongnya. Tanpa ada kamus yang menentukan. Tanpa harus izin ke orangnya. Dan tanpa melihat level atas-bawah.

Mungkin nih ya, mungkin karena di Indonesia hampir nggak ada yang punya Family Name. Semua orang pasti memanggil dengan first name. Universal, teman-dosen-anak buah. Manggil dengan satu nama. Jadi tidak awkward kalau nama itu dipotong pojok-pojoknya. Berbeda dengan Inggris dan Jepang,

Jika hipotesis di atas benar, bahasa lain yang tidak mengindahkan Family Name bakal punya fitur yang sama dengan Bahasa Indonesia ini. Saya cuma tahu Bahasa Inggris dan Jepang sih. Ada yang tahu Bahasa Lain?


Sekarang masuk ke judul artikel.

Nama saya Albadr. Nama ini cenderung susah untuk dipotong depan atau belakang. Potong depan, Al, bisa sih. Dan beberapa orang ada yang memanggil saya begitu, tapi bisa dihitung jari tangan (di Indonesia, di Jepang hampir semua).

Ada juga yang memanggil dengan der-der. Dari dua huruf terakhirnya Albadr. Ada juga yang bed-bed, dari korupsisasi kata Albad menjadi Albed (supaya gampang). Ada juga yang memanggil bader (tanpa disingkat lagi), cuma satu orang yg saya inget manggil gini nih.

Nah, jadi deh saya bisa dipanggil Al. Bed. atau Der.

Al-al, udah makan belum… Ini aku buatin sop.

Bed-bed, kirimin revisi bisnis plan yang baru ditulis kemaren dong.

Der-der, tumben rajin ngeblog?

Atau Bader bagi yang pengen.

Bader-bader… Mm… Eh, nggak jadi.

Duduk Dimana?

Sebelum membaca lebih lanjut, saya ingin bertanya ke pembaca. Saya pensaran. Kalian pada duduk dimana nih?

Saya bisa ngecek di statistik web wordpress dari peta pengunjung sih. Namun, lebih seru kayaknya kalau interaktif artikel nanya, yg baca jawab di komen, kan…

Eh, ngerti nggak pertanyaannya? Jadi, duduk dimana?


Dari pertanyaan ini, saya menemukan satu contoh bahwa bahasa Indonesia itu tidak logis ataupun konsisten. Masih lebih bagus bahasa Malaysia…

Jadi, suatu hari sekian tahun silam… Saya melancong ke Bangi, Selangor. Sambil ikut konferensi, saya bertemu dengan sanak saudara yg tinggal di sana. Adalah peri kecil saya Batrisya bertanya dengan lucunya.

Abang abed duduk dimane?

Duduk? Kebetulan waktu itu lagi duduk di taman sih kayaknya. Terus saya jadi bingung… Ini… Lagi duduk… Disini… Di kursi taman ini…

Prosesor saya ngehang, saya pun menatap ke ibunya Batrisya, bibi saya. Help me…! 

Ternyata maksud pertanyaan si Ica tadi itu:

Abang tinggal dimana?

Huh. Bahasa Malaysia. Lucu…

Itu perasaan saya waktu itu, di tengah euforia juga kali pertama ke Malaysia dan melihat banyak papan pengumuman yg bikin ngakak di pesawat, bandara, kampus, dll. Mungkin mereka gitu juga kalau ke Indonesia kali ya.

Namun, tunggu dulu! Kalau dipikir, soal kasus duduk ini mereka lebih logis loh.

Tahu kartu apa yang dimiliki setiap orang Indonesia? KTP. Kartu Tanda Penduduk. Yup, penduduk. Artinya orang yang duduk di suatu tempat.

Kata turunan lain juga memiliki makna tentang lokasi / wilayah. Misal menduduki, pendudukan. Bukanlah artinya menaruh pantat di suatu benda (menduduki, ada juga sih arti kesana), atau peristiwa penaruhan pantat (pendudukan). Namun tentang penguasaan wilayah tempat duduk, tempat tinggal orang. Orang lain menetap dengan paksa di tempat duduk tadi.

Sekarang kita cek kata tinggal. Nggak mungkin kan kita menyebut KTP jadi Kartu Tanda Peninggal… Di KBBI juga ada 12 arti kata tinggal dan yang sesuai dengan kata tempat tinggal cuma ada di nomor 11. Itu pun harus ikuti dengan kata rumah- dan tempat- di depannya.

Peninggalan juga artinya agak beda dengan nuansa yang ada di kata “tempat tinggal”. Peninggalan itu yaaa artinya sesuatu yang ditinggalkan orang. Orangnya justru pergi, bukan menetap. Meninggal, well, subjeknya pergi ke dunia lain. Tertinggal, yang harusnya ikutan pergi eh tidak sengaja tidak ikut pergi. Meninggalkan, sengaja menaruh sesuatu di suatu tempat sebelum kita pergi. Tinggal kelas, tidak bisa lanjut ke kelas berikutnya. Semua ada konteks sesuatu yang pergi di kata tinggal ini.

Jadi tempat tinggal atau rumah tinggal hanyalah tempat atau rumah yang nggak kita bawa-bawa kalau kita pergi. Hmm…

Jadi bahasa Indonesia itu aneh dan inkonsisten kalau memakai “Tinggal dimana?” dalam pertanyaan. Tinggal? What the heck are you asking about… Saya ikut kok, nggak tinggal…

“Duduk dimana?” itu lebih logis. Saya duduk di Meguro, Tokyo, sepuluh menit dari Stasiun Oookayama.

Bahasa Malaysia: 1.
Bahasa Indonesia: 0.

Jubah

Saya merasa menulis dalam bahasa Indonesia itu lebih banyak tantangannya. Seperti yang saya bilang kemaren di artikel Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi. Lebih-lebih kalau mau menulis fiksi atau cerita.

Membuat dialognya susah, karena bahasa Indonesia sedang mengalami diglossia, punya dua variasi berbeda. Satu formal untuk tulisan. Satu informal, untuk ngobrol. Nah, ketika menulis obrolan alias dialog di teks, hasilnya aneh! Well, tema untuk lain kali.

Membuat deskripsi latar juga susah minta ampun. Bingung memilih kata-kata, atau bingung karena nggak ada kata yang cocok di Bahasa Indonesia itu sendiri. Nuance-nya itu… Karena mungkin saya kurang familiar dengan konsep-konsep fundamental di kepala orang Indonesia. Udah jarang baca literatur berbahasa Indonesia sih. Lebih sering nonton anime/film barat juga soalnya akhir-akhir (satu dekade belakang?) ini.

Case in point, saat saya ingin menulis deskripsi pakaian sebuah karakter. Dan ini berkutat di satu kata: mantel atau jubah atau apapun itu lah.

Gen_Bou_Kingdom

Gen Bou (Kingdom)
Sumber Gambar: wikia.com

Biar gampang saya kasih contoh gambar. Yang ada di kepala saya kira-kira seperti tokoh di samping ini. Saya ingin menarasikan lembar yang merah-merah itu. Atau kalau masih kurang jelas, kayak yang dipakai sama Altair, dari Assassins Creed (Sumber Gambar: screenrant.com).

Kayak gitu lah. Terus dijogress dengan pakaian yang biasa dipakai oleh biksu-biksu tibet.

Kebayang?

Kayaknya itu sejenis mantel deh.

Terus saya coba googling mantel di Google Images. Lho kok, hasilnya beda… Malah per•api•an yang keluar. Bahasa apa itu yak…

Ada lagi kata yang lain Indonesianya: jubah. Cuma kan banyak jenis jubah tuh. Harus didetailkan gimana bentuk jubahnya.

Eh, emang jubah itu yang kayak mana toh?

Karena bingung, saya pun coba bertanya ke KBBI. Di luar sangkaan, jawaban yang saya dapat seperti ini.

ju.bah

n baju panjang (sampai di bawah lutut), berlengan panjang, seperti yang dipakai oleh orang Arab, padri, atau hakim: perutusan dari Saudi Arabia itu semuanya mengenakan — putih

Terus, kalau saya coba cari di Google entah kenapa yang keluar cakep-cakep bikin ngiler kayak di bawah ini nih.

Hasil pencarian Google Image dengan kueri “Jubah”

Ngomong-ngomong, sejak kapan Google Image jadi kayak toko online begitu? Bisa pilih warna segala kalau nyari pakaian. Ngomong-ngomong lagi, itu yg kanan bawah kok kayaknya pencilan…

Yang kayak gitu itu bukannya gamis yak?

Baru kali ini ada asosiasi antara jubah dengan jilbab cewek di kepala saya. Baru tahu…


Kalau memakai bahasa Inggris kok kayak lebih mudah. Kayaknya doang sih, belum dicoba. Nggak tahu, mungkin karena kosa katanya lebih banyak kali ya…

Misalnya ada kata cape yang cuma terbang-terbang di bagian belakang badan doang. Paling pol ya menyelubungi sampai samping.

Ada lagi coat yang mirip jaket tapi lebih panjang dan dipakai di luar jaket. Kayaknya ini Indonesianya mantel. Terus bedanya sama yang inggris mantle Mantle itu dalam ruangan kalau coat luar ruangan.

Ada lagi cloak yang seperti cape tapi lebih kayak selimut dan punya kupluk. Nggak punya lobang buat tangan.

Dan lain sebagainya, seperti robe, tunic, poncho (bukan jas hujan), capote, etc.

Mungkin perbedaan di atas cuma sekadar pedantik. Namun, yang penting adalah banyak pilihan kata… Jadi lebih lancar, variatif, dan spesifik kalau mau membuat deskripsi teks.

Harus banyak ngarang kata-kata baru nih, pusat bahasa…


Setelah empat jam berjuang, berikut lah satu dua paragraf deskripsi karakter yang mau saya tulis tadi.

Rambut acak-acakan dan janggut panjang Raja Vinh sudah perak mengkilat, kontras dengan tiga pemimpin muda di hadapannya. Pakaiannya tebal berupa lapisan kain hijau dan kuning. Harmonis bak langit kuning di atas pematang. Meililit di badan dan menjuntai hingga tumit. Pinggangnya terikat dengan sehelai kain merah. Lebar menutupi separuh perut. Ikatannya tak tampak, disembunyikan di panggul. Kain berbentuk jubah tak berlengan berwarna sama terhampar dari bahu hingga ke betis. Menutupi seluruh punggung di belakang hingga tepi depan badan.

Beliau duduk di kursi tinggi berselimuti kain, berusaha menyamakan titik pandangan mata dengan lawannya. Kaki kirinya tergeletak di lutut kanan. Tangan kanannya memegang tongkat kayu yang sepertinya lebih panjang dari tubuhnya. Tangan kiri tergenggam di pinggang. Badan kurusnya tegap dengan sedikit condong ke depan. Ia menyengir lebar, memberi salam hormat kehormatan kepada forum perdamaian.

Entahlah, gimana jadinya tuh. Apa pembaca bisa membayangkan sesuai dengan di kepala saya atau tidak.

Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi

Beberapa tahun lalu, saya mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam tulisan. Baik dan benar disini dipandang dari sisi purist kemurnian. Jangan sampai tercampur dengan bahasa Inggris, takut-takur di masa depan jadi Indolish ntar. Kalau ada padanan kata Indonesianya, pakai! Kalau tidak ada, cari! Atau buat!

Misalnya beberapa tulisan berikut ini.

Di artikel pertama di atas bahkan saya memberi banyak contoh substitusi penyulihan dari beberapa kategori golongan kata.

Namun, sekarang setelah saya menjadi ekspat di Jepang, hal itu menjadi sangat sulit dilakukan. Super duper sulit hard chou-muzukashi parah.

Sering kali saat soudan konsultasi atau diskusi atau debat, semua bahasa campur baur. Parah. Ada sentence kalimat berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Jepang. Di pikiran juga begitu. Segala konsep di kepala lebur semua di satu wadah, susah dipisahkan lagi. Mendokusai Repot lah ngaturnya.

Hal ini juga bisa dilihat di tulisan-tulisan saya dua tahun belakangan.

Sekarang saya mengerti titik kritik saya dahulu kala. Kenapa sih pejabat-pejabat itu kalau pidato campur-campur indonesia-inggris? Satu dua kata pakai bahasa Inggris yg padahal ada bahasa Indonesianya, dan bahkan mungkin lebih bagus dan rapi.

Ternyata emang karena kebiasaan. Bukan karena biar sok keren nginggris, atau biar terkesan pinter… Karena kebiasaan. Vocab kosa kata yang bahasa Inggris lebih familiar akrab dipakai sehari-hari, terutama di lingkungan kuliah/kerja mereka dahulu. Jadi ketika balik ke Indonesia dan pidato berbahasa Indonesia, tetap saja shouganai (waduh, apa ini bahasa Indonesianya?).

Lihat aja artikel ini. Yang kata-kata biasa aja udah susah, apalagi kalau ngobrolin soal teknis.

Jadi apa point inti artikel ini?

Nggak ada. (^^) Hanya kalau ternyata manifesto pernyataan saya dulu berlawanan dengan aksi saya sekarang, terutama di blog ini ya saya mohon maaf saja.

Haimu, Haitsu, Apato, dan Mansion

Saya bingung dengan nama apato saya sekarang. Namanya, サウスハイム, yang kalau diromajikan, yup! Gimana coba? Disitu bingungnya….

Kalau per silabel Jepang sih jadinya SA-U-SU-HA-I-MU. Tiga bulan disini, misterius gimana romajinya. Masih belum kepikiran untuk nyari tahu.

Sering kalau nulis alamat saya memakai romaji. Soalnya malas kan nulis kanji, corat coretnya banyak. Tokyo. Meguro. Begitu sampai ke nama apato ini, jeng-jeng… Masa Sauce Hyme, Sausu Haimu, atau Saus Haim. Coba tebak gimana?

Karena bingung balik lagi deh saya ke katakana サウスハイム, selalu begitu.

Sampai tiga bulan kemudian, saya googling-googling. Pertama googling pakai frasa Inggris yg saya curigai, Sauce Hyme. No good. Keluarnya Sauce Rhyme, itupun nyampah isinya.

Sausheim

Terus saya coba pakai yang paling normal, Saus Haim. Muncul kandidat yang sangat bagus. Ada nama kota di utara Perancis, dekat Jerman. Namanya Sausheim.

Wah, kandidat yang bagus!

Tapi kok ragu kalau yg punya apato ngasih nama dengan kota ini, pernah kesana apa si nenek.

Googling lagi deh pakai katakana, biar lebih ketahuan. Banyak ternyata yang pakai nama tersebut. Ratusan. Dari puluhan laman google, cuma satu link yang memberi hint ttg tulisan romaji dari サウスハイム. Di link tertulis, south-haim.

Hm,,, “South”. That makes sense… Saya juga sudah menduga kalau ハイム itu rumah.

Cek dan ricek, itu ternyata bahasa Jerman. Heim, yang memang artinya rumah. Dan sangat sering dipakai untuk nama apartment di Jepang. Entah kenapa…

Jadi サウスハイム itu kalau ditulis di tulisan latin jadi “South Heim”, rumah selatan.

Ada satu kata lagi yang umum dipakai di nama rumah, ハイツ Haitsu. Kalau yang ini dari bahasa Inggris, Heights. -.-!

Jadi ceritanya, kalau Heights si rumah bakal lebih tinggi, katanya. Lantainya agak banyak. Namun, pada prakteknya kagak juga. Apato teman saya bernama OOハイツ tapi dua lantai juga. Jadi keknya gak bisa ambil patokan tipe kamar dari nama bangunan deh.

Yang juga umum adalah メゾン, kali ini diambil dari bahasa Perancis “maison“.

Apato

Ngomong-ngomong, bangunan tempat tinggal di Jepang itu umumnya ada dua tipe: Apato dan Mansion. Apa bedanya?

Kalau apato itu dari bahasa Inggris apartment. Kalau di bahasa aslinya sih artinya ya rumah susun lah ya… Bangunan yang kamar per kamarnya dijadikan tempat tinggal. Tinggi bangunan, bahan, dan kemewahan tidak termasuk dalam nuance kata apartment.

Kalau di Jepang apato itu hanya diperuntukkan untuk bangunan yang rendah. Low rise building… Maksimal dua lantai mungkin dan kemungkinan berbahan dasar kayu.

Mansion

Mansion juga berasal dari bahasa Inggris, yang artinya rumah besar atau mewah. Di Jepang, well, kamar sempit juga bisa disebut mansion. Pokoknya bangunannya asal tinggi aja… Biasanya si bangunan punya cor-coran, bukan berbatang kayu.

Apato biasanya lebih murah dan berkesan low profile dibanding mansion di Jepang.

Tahun lalu di Nagoya sih saya tinggal di mansion, tapi sekarang di Tokyo saya memilih low profile…  ^^v

*Bilang aja kamar di Tokyo mahal-mahal!

Telepon Umum

Saya kadang menemukan telepon umum di jalan, terawat dan masih berfungsi. Di depan kampus saya TUT ada. Di halaman gedung kantor sekarang juga ada dua.

Di dalam kayak gini bentuknya. Retro banget, tapi bersih dari debu. Dan yang penting fungsional, layarnya masih nyala-nyala. Mesin teleponnya menerima kartu telepon dan koin. Saya nggak pernah liat sih seumur-umur kartu telepon itu yang kayak mana. Udah punah kayaknya. Tapi ada lobang koin 10 dan 100 yen, boleh juga.

IMG_20170622_124614660

Saya coba iseng nyobain tadi. Masukin koin 10 yen, udah bisa manggil. Nomor yang tertampil di layar No Caller ID. Hmmm…. Sarana bagus buat ngerjain orang?

Berarti telepon umum itu nggak di-assign nomor telepon kah ya? Kirain ada lho nomor teleponnya. Di film-film kan sering tuh orang di telpon via telepon umum, disuruh pergi ke telepon umum mana gitu buat kontakan. Film mata-mata sih. Atau itu di barat doang yak?

Mencoba memanggil

Kalau menurut biro turisme nasional jepang, pakai telepon umum ini 10 yen bisa 57 detik. Lama juga ya… Murah kan berarti yak?

 

Kartu Poin

Awal-awal di Jepang, saya pergi ke mall ingin membeli terminal listrik. Karena saya masih cupu, saya ditemani oleh tutor saya. Kemana-mana sang tutor ini mengantarkan saya pakai mobilnya, sekaligus menjadi alih bahasa pribadi saya. Saat membayar, petugas kasir ngomong pakai bahasa Jepang cepat. Goco-goco-goco-goco…. Saya nggak ngerti….

Wichi-wizu-wataw-kaado arimasuka?

Si tutor kemudian mengambil alih. Ia pun memberikan semacam kartu miliknya dan menyerahkan ke kasir. Kasir memindai kartu tersebut dan memberikan kembali ke dia. Saya yang bingung, pulangnya berterima kasih ke dia. Entah kenapa saya merasa dia memberikan sesuatu dengan kartunya itu… Si tutor kemudian tertawa…

Haha… Kagak,,, Bukan-bukan, aing yang harusnya terima kasih…

Kira-kira begitu jawaban dia.

Fast-forward dua tahun kemudian, saya mengayomi gerombolan anak SMP yang studi tour ke Jepang. Mereka menginap di masjid, dan apato saya di depan masjid waktu itu. Jadi saya jadi terus ketemu dengan mereka. Saya juga dimintai tolong jadi pemberi fatwa halal saat mereka belanja di mini market. Karena mereka rame, 30-an orang kali, saya juga kewalahan. Untung mereka cukup pintar. Salah satu dari mereka bilang.

Udah bilang hai-hai aja… Kalau ditanyain credit card bilang aja nggak ada. Terus bayar cash

Saya jadi ingat kejadian waktu awal saya beli terminal dahulu. Masih nggak ngerti kaado (card/kartu) yang ditanyain mbak-mbak kasir itu apa sih.

Itulah kartu poin, bukan kartu kredit atau semacamnya. Kartu ini bisa dikatakan kartu memberi dari merchant atau toko tersebut. Kalau punya kartu, setiap pembelian kita bisa mendapat poin. Biasanya 100 yen dapat 1 poin, atau 1000 yen dapat 1 poin, bergantung pada kartunya. Mangkanya si tutor tadi ketawa lalu berterima kasih ke saya.

Jadi ini semacam insentif pelanggan untuk selalu belanja di toko tersebut. Poin menumpuk di kartu dan bisa dicek setiap saat di kasir. Biasanya 1 poin bernilai 1 yen (kalau ditukar balik). Cara menggunakannya adalah saat kita belanja, untuk mengurangi nilai belanjaan yang harus kita bayar.

Kartu poin yang paling sering saya pakai (dulu) adalah R Point Card dari Circle-K (dan Rakuten), soalnya si mini market ini ada di depan rumah (dan depan masjid).

Gaya pakai saya adalah sebagai berikut. Kalau belanjaan 1237, saya pakai poin 37 jadi biar nggak dapat kembalian receh koin satu atau sepuluh yen.

Hidup agak lama disini, kartu poin yang kita punya semakin menumpuk. Lihat saja kartu poin saya di gambar di atas.

Intinya: Ayo… Lampiaskan nafsu konsumerisasi Anda di kami! Nanti dapat hadiah lho, yang bisa dipake untuk belanja lagi… Di kami lagi!!!

Oh ya, nggak semua kartu poin gratis lho. Ada yang bayar pas pertama kali buat. Kartu poin buar JA harganya 300 yen… Saya nggak ngerti sih kenapa harus capek-capek bayar buat bikin kartu poin, kan intinya kartu ini buat menarik pelanggan buat belanja ke mereka kan? Kok ya disuruh bayar juga di awal (walaupun bayaran tadi juga ditransfer jadi poin sebagian)…

Sebenarnya, kalau nggak punya kartu poin di atas kita juga dapat poin lho. Namun karena tidak ada divais yang mengakumulasikannya, jadi poin nya ya terbuang percuma. Biasanya poin yang kita dapat ini tertulis di nota belanjaan seperti di bawah.

Saya sih tidak begitu memperhatikan, apakah ini semua berlaku untuk semua toko atau tidak. Mungkin cuma toko yang memiliki sistem poin saja. Dan toko yang bikin kartu poinnya nggak bayar.

Dugaan saya juga, nota belanjaan ini bisa dikumpulin dan dipakai seperti kartu poin di atas. Namun saya belum pernah mencobanya. Ada yang pernah?

Bukan cuma kartu point, kartu kredit juga ada point-nya. Kartu top-up untuk di kereta seperti Suica, Passmo, Manaca juga ada poinnya. Setiap penggunaan nanti dapat poin, dan nanti bisa ditukar lagi ke yen.

Saya pernah sampai dapat poin bernilai 2000 poin alias 2000 yen dari Manaca, dan saat poinnya di-“klaim” via mesin pengisi ulang di stasiun, si kartu langsung pindah ke mode poin. Selanjutnya biaya naik kereta otomatis diambil dari poin sampai si poin habis. Seru,,,…


Selain kartu yang menyimpan poin, terdapat juga kartu yang namanya stamp card. Bukan poin yang disimpan, tapi cap. Biasanya yang menyediakan kartu ini adalah restoran atau toko yang menjual makanan. Toko roti, es krim, mie ayam, gitu-gitu.

Namun, saya pernah juga dapat kartu semacam gitu dari toko baju.

Kalau kita makan disana pertama kali, kita dapat kartunya. Kesana kedua kali, kartunya dicap. Yang saya nggak ngerti jumlah cap per kunjungan, apakah itu per orang, per menu yang kita pesan, atau gimana. Setiap restoran, nggak, setiap mamang kasir, salah juga, setiap kejadian kayaknya punya perlakuan yang berbeda deh.

Sampai kalau kartunya penuh kita bisa dapat bonus tertentu. Misal satu roti Choco Ring gratis. Beberapa restoran juga memberi bonus kalaupun kartunya cuma penuh setengah. Dikasih bertahap, semacam milestone gitu.

Oh ya, sekarang zaman canggih. Kartu semacam di atas udah nggak mesti berbentuk fisik. Yamada Denki menyediakan point apps, aplikasi di hape yang memiliki barcode. Mamangnya tinggal memindai barcode di hape itu aja. Kita bisa juga main di apps dan dapat poin tambahan di luar belanja, misalnya baca iklan apa atau gimana gitu.

Sayangnya, apps ini lama-lama jadi nyepam email dan notifikasi di hape. Bikin jengkel…

Dan sayangnya lagi, belum ada apps yang menyatukan seluruh point-point semua toko di satu atap. Kalau ada seru kan tuh… Nggak harus bawa-bawa kartu poin banyak-banyak. Nggak harus instal apps poin banyak-banyak.

Lahan bisnis tuh kawan-kawan.

Btw, di Indonesia apa kabar ya? Ada kayak ginian nggak disana sekarang?

Susahnya Manajemen Awan

Melanjutkan seri susahnya manajemen berkas dan foto, sekarang saya berlanjut ke awan. Ada banyak layanan penyimpanan web di luar sana. Yang paling terkenal adalah Dropbox, Google Drive, dan One Drive. Tentu saja saya punya akun di ketiganya. Lebih tepatnya, punya beberapa akun di setiap layanan tersebut.

Sayangnya, akun yang saya punya akun gratisan, sehingga akunnya memiliki batas. Kalau tidak terbatas, mungkin tidak akan ada masalah manajemen awan untuk dibuat artikelnya. Karena terbatas itu jugalah saya punya beberapa akun di satu layanan… Mungkin.

Yang jadi poin utama dari manajemen awan ini adalah akun yang mana enaknya dipakai buat apa. Saya sih umumnya memakai layanan web storage ini untuk back-up file. Namun, karena akun terpisah-pisah, saya jadi bingung file apa ada dimana.

Saya harus mereview kembali akun-akun saya tersebut untuk menulis artikel ini. Mungkin di masa depan saya bakal membaca artikel ini supaya tahu file apa ada dimana.

onedrive

Pertama saya punya dua akun OneDrive. Satu pakai email gmail dan yang satu email live. Yang pertama besarnya 15GB dan yang kedua 5GB. Akun yang gmail lebih besar karena dapat loyalty bonus 10GB akibat daftar di awal-awal mereka keluar (masih SkyDrive waktu itu namanya).

Yang OneDrive Gmail (15GB, 50% penuh) isinya lebih ke File TA dan Tesis. Segala data lab dari GAIB dan AISL ada di akun ini. Yang OneDrive Live (5GB, 90% penuh) lebih ke foto-foto lama.

Kedua, saya punya dua akun Google Drive. Lebih tepatnya dua email gmail sih, email utama dan email alay. Google memberikan 15GB gratis ke setiap akun, seinget saya mereka nggak pernah kasih bonus apa-apa.

Akun gmail utama saya (17GB) dipenuhi email separuhnya. Saya nggak ngerti kenapa ada ekstra 2 GB disitu.  Isi Drive non-emailnya kacau, segala macam berkas ada. Dan manajemennya tentu saja memiliki kesulitan yang sama dengan folder biasa.

gmail_main

Gmail Utama

Akun gmail kedua saya (15GB), sangat kosong karena well jarang dipakai. Lumayan keknya buat diisi, tapi diisi apa ya.

Terakhir, saya punya dua akun Dropbox. Masing-masing memakai email gmail utama dan sekunder tadi. Yang utama punya besar 27.21 GB, banyak bertambah dari default 2GB yang diberikan dropbox berkat ikut Campus Cup. Intinya banyak-banyakan mahasiswa yang daftar ke dropbox pakai email kampus. Dahulu banget pernah ikut Campus Cup juga, 2011 kali tapi sudah hilang storage yang didapat. Expired! Super pening tuh saat migrasi datanya waktu itu. Yang Campus Cup 2015 ini nggak tahu kapan basinya.

Dropbox utama ini terpakai 5.5GB. Nggak mau dipakai banyak-banyak, takut penih buat migrasi data lagi kalau si ruangnya kadaluarsa. Isinya keknya file-file super lama, segala macam file tugas dan kuliah saat di ITB dan file proyekan.

Yang sekunder punya besar 2.5GB, yakni dari 2GB yang standar + referal ke diri sendiri ^^. Isinya kosong. Terlalu kecil buat diisi apa-apa.

dropbox.PNG

Dahulu saya juga punya akun Copy dari Barracuda. Mereka menjanjikan memori 20GB dulu. Menggiurkan banget kan? Saya pakai semua untuk backup sebagian repertoire foto saya. Sampai akhirnya tahun lalu (2016) pesan berikut muncul.

Copy is discontinued

Btw, logo si Copy ini keren banget yak

Dan pening kepala pun muncul lagi. Terpaksa harus diunduhi tuh foto dan disimpan ke lokal kembali. Dan sebagian ditrasfer ke OneDrive Gmail tadi. Hmf…

Ngomong-ngomong, itu pada layanan web storage secara dasar menyediakan space gratis kan yah tuh. Masa nggak ada ya layanan agregat yang bakal membuatkan akun ke belasan layanan web storage, otomatis. Jadi bisa dapat Giga yang buanyak kan tuh?? Terus kalau saya nyimpen file di agregat ini, mereka langsung otomatis mendistribusikan ke para web storage tadi. Super asyik kan tuh.

Ide bisnis tuh. Cuma nggak tahu etis/legal nggak ya…


Jadi apa yang saya butuhkan dari web storage?

Pertama, saya ingin mem-backup foto dan video, cadangan kalau-kalau disk bermasalah. Ada beratus giga foto di komputer dan mungkin bakal bertambah beratus giga lagi dalam waktu dekat kalau saya lagi iseng main GoPro.

Setiap proyek foto isinya bisa 1-2 GB. Dengan demikian, web storage gratisan yang cuma ada 5GB-an itu bukan solusi yang bagus. Masa cuma nyimpen satu folder di satu akun dropbox sekunder saya yang masih kosong itu.

Ada layanan backup foto gratis seperti Google Photos dan Flickr sih. Mantab lagi albumisasinya. Tapi mereka juga punya masalah yang mungkin akan saya bahas di artikel selanjutnya.

Kedua, saya ingin mem-backup berkas dokumen. Paket seperti source code dan database proyekan, filenya save game, tesis dan TA tadi, proyek blog, dll. Lebih mantab kalau semua di satu tempat supaya nggak bingung kalau mau nyari.

Oh ya, ada yang saya kesal dari web storage tadi yakni sotoi dengan file gambar. Gambar screenshot atau scan dokumen gitu dianggap foto, dikasih thumbnail, dan dikumpulkan jadi satu di kelompok foto sama mereka. Jadi tercampur dengan foto beneran. That’s very annoying. Seandainya ada yang manajemennya pintar tapi nggak sotoi, dan bisa agak liberal sedikit settingnya.

Ketiga, saya ingin menggunakannya sebagai jembatan dari antar satu devais ke devais lain. Yang ini saya justru jengkel kalau berkas cadangan by default ikut dibagika ke semua berkas. Masa bergiga-giga file yang ga dipake itu harus diunduh di hape/laptop lain juga. Buat kebutuhan ini mungkin sebaiknya sediakan satu akun web storage gratisan kali ya, kan ga perlu spasi besar-besar.

Keempat, kalau bisa folder di komputernya nggak perlu khusus i.e. folder “Dropbox” di bawah Documents. Jadi tinggal satu drive gitu, sehingga kalau mau nyimpen apa-apa yg pengen di back-up nggak perlu navigasi jauh-jauh ke Documents. Hehe…

Kelima, history dan conflict tetap terjaga. Jadi kalau file tertimpa (atau diupdate), yang lama bisa direstore lagi. Kalau konflik, bisa dipilih dua-duanya. Tapi kayaknya yang ini harus akun berbayar deh.


Jadi begitulah. Ada banyak akun web storage juga bukan bikin gampang, malah bikin susah manajemennya. Dan belum ada solusi yang bagus di lini ini, selain, well, beli ruang yang tera-tera.

Ada ide?

Susahnya Manajemen Foto

Foto di kamera digital atau foto dikumpulkan jadi satu di dalam folder Digital Camera Images (alias DCIM) dan diurutkan simply dengan nomor monoton ke atas. Tidak berapa lama setelah mengambil foto, kita harus memindahkan foto-foto tersebut ke komputer kemudian mengatur ulang kategorisasinya. Hal ini karena dua alasan. Pertama, karena keterbasan media simpan di kamera, kalau tidak terbatas mungkin nggak bakal ada yang mindahin foto ke disk. Kedua, untuk memudahkan akses ke foto tertentu di masa depan.

Saya -seperti biasa- bisa berkomplen ria, kenapa sih nggak bisa diatur otomatis sama si kamera! Namun, mari kita kesampingkan komplen tersebut di artikel ini. Lagipula, kalau ada pengaturan otomatis nanti muncul komplen yang lain lagi: sotoy kameranya!

Foto yang dikopi -kalau saya- dimasukkan ke folder yang dipisah menurut lokasi dan event. Di bawah folder Foto utama saya berisi folder-folder event general selevel linimasa bukan event spesifik. Beberapa contoh folder tersebut adalah “Jalan-jalan”, “Bandung”, “Itebe”, “Jepang”, dan “Tanjung Balai”.

Beberapa folder dipisah lagi sesuai tahun, seperti “Tanjung Balai 2011”, “Tanjung Balai 2012”, dan seterusnya. Folder tahunan ini terletak langsung di bawah folder Foto, karena saya lebih suka Flat Hierarchy dalam manajemen berkas.

Di bawah setiap folder event general tersebut barulah event spesifik. Misalnya foto saat saya jalan-jalan ke Tangkuban Perahu ada di dalam folder Jalan-jalan. Di akhir nama folder, biasanya saya bubuhi tanggal kejadian event.

Namun, sistem ini ada kelemahannya. Misalnya tadi, ada folder Jepang. Karena ini bagian dari salah satu life event saya, sekarang.  Dan juga event ini terbentang dalam masa yang cukup lama, bertahun-tahun, dan sepertinya sampai waktu yang belum di tentukan…

Ya gampang. Lakukan kayak si folder Tanjung Balai tadi aja, kasih label per tahun. Jepang 2014, Jepang 2015, gitu kenapa? Well, kembali ke tujuan kategorisasi foto tadi: supaya foto mudah diakses kembali. Sayangnya (atau syukurnya?), ada banyak sekali kejadian di dalam life event ini. Masa kita harus mengingat tahun kejadian event dulu baru bisa akses fotonya. Mengingat waktu kan lebih sulit dari mengingat kejadian.

Akhirnya, folder Jepang tadi saya pilah lagi dengan event general yang lebih spesifik. Sub-general. Misalnya PPI Toyohashi. Karena event PPI Toyohashi berulang setiap tahun, cukup logis untuk memberikan label tahun ke setiap foldernya.

Namun tetap aja ada yang tidak bisa dibuat event sub-general. Akibatnya, masih tetap ada file-file yang bercogok di folder “Japan” juga. Tetap tidak hilang folder Japan-nya. Hmf.

Folder lain, misalnya jalan-jalan di jepang. Terpisah dari folder Jalan-jalan sebelumnya (yang sebelumnya dibuat non-Jepang), soalnya lebih sering trip di Jepang akhir-akhir ini.

Saya paling bangga dengan folder di dalam Japan Trip ini, soalnya di dalamnya tertata rapi dengan logis. Penamaan ketat, Tahun – Musim – Tempat. Isi foldernya banyak dan strukturnya flat.

Kelemahannya, event jalan-jalan yang trivial nggak bisa masuk disini. Misal jalan-jalan ke restoran es krim atau ke taman naik sepeda atau keliling lari. Nggak keren kalau masuk folder elit di atas… Haduh-haduh…

Saya juga punya rencana buat memisahkan foto Jepang ini dari foto yang lain. Membuat hirarki folder yang lebih tinggi lagi, setara dengan folder “Foto” di atas. Soalnya sebagian besar foto ada di dia, agak lucu juga kalau semua folder ada prefix Japan-nya.

Namun, rencana tersebut terlalu radikal. Masa ada dua folder “Foto”. Lalu gimana kalau fotonya diambil di Jepang tetapi tidak bisa masuk ke super folder “Foto Jepang” tadi? Masalah pelik…

Repotnya juga, tidak semua foto punya event! Bisa jadi ada sedikit foto yang diambil random pas lagi pergi yang bukan jalan-jalan. Fotonya nggak banyak lho, kadang satu dua malah, jadi kalau mau dibuat folder event sendiri ya lucu. Nggak ada event-nya juga!!

Untuk foto seperti ini saya punya folder yang bagus. Unsorted. Semua misc foto masuk disini… Di dalamnya di kategori bebas, misalnya folder “Kereta” atau “Kucing” atau “Masak”.

Lucunya, di dalam folder Unsorted ini masih ada folder bernama Misc lagi. Foto yang sama sekali nggak bisa dikumpulin ke folder yang lain manapun lagi. Jadi semacam pencilan dari pencilan gitu… ^^

Dan jangan kaget kalau folder Misc ini ada dimana-mana. Di folder Bandung misalnya, ada Misc juga. Di folder Jepang juga ada. Saya juga bingung sendiri, enaknya gimana… Ada ide?

Kalau kalian gimana paradigma manajemen fotonya?

Susahnya Manajemen Berkas

Kemaren saya cerita ttg komputer saya yang sedang dalam kondisi tak terawat. Berkas berantakan dimana-mana, setidaknya dalam standar kategorisasi berkas yg saya punya. Sekarang saya akan mendetilkan dimana sih titik susahnya, mungkin dari satu (saya sendiri) bisa memahami, apa yang saya mau dari manajemen berkas komputer ini.

Gambar di atas adalah tangkapan layar dari folder “Blog” di komputer saya. Folder ini, idealnya, menyimpan segala berkas yang berkaitan dengan artikel di blog saya. Saat ini folder “Blog” berantakan dan membuat saya pusing file apa yang mana buat apa.

Yang menjadi bingung pertimbangannya adalah bagaimana cara mengelompokkan berkas-berkas tersebut. Seperti tampak di atas, paradigma sekarang adalah pengelompokan dengan judul artikel. Namun, dapat dilihat bahwa paradigma ini tidak terlalu bagus karena artikel itu bisa menjadi sangat banyak. Contohnya saya blog ini sekarang punya 470 artikel terpublikasi dan 25 artikel draft.

Saya tidak suka satu folder berisi terlalu banyak file/subfolder. Kenapa? Susah nanti nyari folder apa tentang apa.

Di tangkapan layar juga tampak ada folder _published untuk menyimpan berkas-berkas blog yang artikelnya sudah dipublikasi. Dimasukkan ke folder sendiri tujuannya supaya tidak mengganggu folder artikel yg masih draft. Biar yang draft bisa dikembangkan menjadi artikel beneran.

Beberapa file/folder harusnya masuk ke folder _published karena well, mereka udah dipublikasi. Adanya berkas berkaitan dg artikel terpublikasi yang tidak di folder _published, menunjukkan mood saya yg sedang malas beres-beres berkas.

Namun, ini menimbulkan masalah yakni ketidakseimbangan pohon folder. Maksudnya, si folder _published ini kan selevel sama folder artikel, terus di dalam folder _published ada lagi folder artikel lain. Nah kan nggak seimbang tuh! That irritates me…

Masalahnya kalau bikin folder _draft untuk menyeimbangkan pohon, jadinya folder blog ini cuma punya dua upafolder. Dan kedalaman level pohon juga bertambah untuk mengakses folder artikel draft. Saya lebih cenderung ke flat organisation, nggak suka dalam-dalam foldernya. That’s another problem…

By the way, nama foldernya dikasih underscore (_published) supaya dia terlihat berbeda dari folder-folder lain. Kan jelas beda tuh type foldernya, jadi kalau namanya “Published”, folder ini bakal ada di tengah-tengah dan bakal diluted di antara folder-folder draft.

Oh ya, nama si folder draft juga bukan judul artikel, lebih ke general idea artikel itu nanti ttg apa. Jadi disini agak rancu juga (soalnya judul artikel belum tahu, kan masih draft). Lagipula, kalau judul artikel nanti panjang dong.

Terakhir, dapat dilihat dengan jelas bahwa banyak stray file disana. File yang nggak masuk ke folder manapun. Saya sangat jengkel dengan hal tersebut. Contoh lain adalah skrinsyut Drive E di bawah berikut (yg saya pos di artikel sebelumnya).

Masa di Root Drive ada file!!!

Namun, kadang susah lho menentukan file ini masuk kemana. Kadang dibutuhkan dibeberapa folder. Kadang nggak ada folder yang butuh. Mau buat folder baru? Kok sayang, nanti tambah banyak foldernya dan kalau isi folder barunya cuma seumprit kok makin males.

Jadi dari analisis di atas bisa diketahui minimal tujuh kriteria manejemen berkas:

  1. Logical structure: berkas dikelompokkan berdasarkan paradigma tertentu, misal judul artikel, tema, event kejadian dll
  2. Minimum and aximum number: jangan kedikitan dan kebanyakan file/subfolder di dalam folder
  3. Balanced tree: setiap subfolder di folder peran atau cakupannya sama
  4. Flat structure: jangan dalam-dalam pohonnya
  5. Special naming: kalau ada folder spesial, harus mudah diketahui bahwa itu spesial
  6. Logical and brief naming: nama berkas harus sesuai paradigma tetapi singkat padat dan jelas
  7. No stray file: semua masuk ke dalam subfolder

Hm. Saya juga baru tahu kalau kriterianya sebanyak itu. Susah juga nih, makin malas mau bersih-besih. Haha…

Kriteria majemen berkasmu gimana?

Komputerku Kotor

Komputer bagai urat nadi bagi manusia modern, terutama yang jurusannya dan pekerjaannya di bidang ilmu komputer bagi saya. Laptop saya ini adalah benda paling penting dari semua benda yang saya punya, setara dengan ponsel mungkin. Dia adalah jendela kerja. Desktop, drive, dan direktori di dalamnya saya perlakukan seperti rumah. Harus dirawat, dirapikan, dan ditata ulang secara rutin.

Hal ini dapat dilihat dari drive komputer saya yang masing-masing foldernya punya icon sendiri-sendiri. Di bawah ini adalah skrinsyut Drive D laptop saya. Setiap file di dalamnya pun harus dikategorisasikan dengan baik, demi kemudahan saya sendiri.

DriveD

Saya juga sangat suka bersih-bersih, termasuk bersih-bersih berkas. Namun, manajemen berkas atau file ini memakan waktu. Mungkin seharian atau bisa sampai dua hari lah.

Setelah memasuki dunia kerja, saya sudah mulai jarang memakai komputer sendiri untuk “bekerja”. Untuk melakukan sesuatu… Ya mungkin cuma internet, nonton anime/youtube, dan ngeblog. Akibatnya, laptop saat ini jadi agak terlantarkan deh. File-file juga berantakan.

Misalnya aja drive E berikut ini, sudah agak tidak rapi. Kenapa? Itu ada teks yang nggak masuk folder. Ada duplikat folder photo. Ada dua folder work yang nggak jelas isinya apa… Ini aja udah agak rapi karena file-file nggak jelas di masukin ke folder work semua.

DriveE

Dan belum lagi berkas yang ada di drive-drive lain. Yang ada di level bawah gitu. Folder Downloads dan Documents. Dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini saya meng-upgrade disk saya dari HDD ke SSD. Dan guess what? Ada dua drive bekas backup yang belum saya atur-atur. Ada satu folder foto 63GB hasil recovery disk yang error pas migrasi disk, dan ada satu lagi satu folder foto 40GB hasil jalan-jalan ke Indonesia kemarin. Total 100GB foto yang harus di-manage gan dan dipilah satu-satu gan!

RecoveryF

63 Gigas of Madness

Belum lagi harus mikir supaya drive nya nggak merah-merah kalau diliat di My Computer. Kenapa? Ya biar biru lah! Biru kan cakep!!

Kapan ya ada waktu buat bersih-bersih. Bukannya sibuk sih… Setelah masuk dunia kerja ini justru kalau di rumah rasanya lega… Nggak ada PR. Nggak ada zemi. Nggak ada TA/Tesis. Hore…!

Cuma entah kenapa setelah 8+ jam kok pengennya nyantai-nyantai doang, nonton tivi streaming sambil makan.

Hmf… I am stuck. Nggak ada software buat ngerapiin berkas otomatis gitu ya…

Negeri Antah Berantah

Negeri antah berantah. Negeri nun jauh disana. Negeri yang tak dikenal. Saya sendiri sudah lama tidak mengamati perkembangan negeri sendiri. Begitu cek-cek, frasa ini cocok sekali diterapkan padanya. Banyak hal-hal yg bikin saya gatel untuk komentar. Banyak demo dan kounter demo yg sama-sama mengangkat alis saya sebelah. Banyak juga istilah-istilah mencuat di media (makar, persekusi) yg macam tak klop dengan pemahaman kepala saya. Negeri tersebut tiba-riba menjadi negeri antah berantah.

Namun bukan itu yang mau jadi bahasan kali ini. Pada artikel ini, saya ingin fokus ke istilah “Negeri Antah Berantah” itu sendiri. Saya penasaran dengan asal muasal frasa tersebut. Disini saya akan mengemukakan spekulasi/hipotesis saya. Saya coba googling-googling tapi macam ga ada yg bahas, malah banyak bahasannya senada dengan paragraf pertama di atas.

Istilah tersebut biasa diartikan menjadi negeri yang jauh, negeri tak dikenal, atau negeri dongeng. Suatu pagi, entah kepana saya bertanya-tanya… Kenapa antah berantah artinya in the middle of nowhere… Atau lokasi yang jauh/tak dikenal/dongeng? Dari mana tuh.

Tunggu dulu. Emang antah itu apaan… Bedanya sama berantah?

Cek di KBBI, antah itu adalah:

  1. n gabah (yang terdapat pada beras atau nasi)
  2. n ki orang yang tidak berguna (dalam masyarakat); sesuatu yang kurang baik

Saya kemudian fokus ke arti pertama. Kata antah itu, adalah sebutan untuk gabah yang ada di beras atau nasi. Minoritas. Sisa gitu dari asalnya. Atau kotoran / impurity.

Jadi tidak bisa disebut antah kalau dia tidak di nasi, misalnya sepiring gabah ya namanya gabah, bukan antah. Kalau ada beras semangkok dan ada kuning-kuning gabah disitu sebiji, nah itulah dia antah. Seperti gambar di bawah ini.

Terus, jika kita menerima makna tersebut, kita bisa menelaah istilah antah berantah.

Jadi disini, antahnya punya antah lagi. Nah lho? Gimana caranya tuh.

Antah kan impurity gabah yang nemplok di nasi. Pasti sangat dikit tuh jumlahnya. Kalau dia dipisah dari nasinya, ya dia jadi gabah aja. Namun di istlah tadi, antah-nya punya antah lagi di dalamnya. Bagaimana bisa? Antah biasa aja kan cuma impurity nemplok satu di nasi gitu. Di dalamnya ada antah lagi??? Wow…. How in the world??? Mind blowing!

Ergo: antah ber-antah itu mustahil.

Nah, akhirnya kita bisa tarik lagi kesimpulan dari frasa yang kita penasaran tadi: Negeri antah berantah. Di negeri tersebut, antah pun bisa punya antah lagi. Hal yang aneh atau mustahil disini, bisa jadi lumrah disana. Negeri tersebut punya hal-hal yang tidak masuk di nalar dan budaya kita.

Dimanakah negeri itu? Entahlah… Mungkin ada nan jauh disana. Mungkin ada di khayalan.

Jadi jelaslah sekarang kenapa negeri antah berantah itu berarti negeri yang jauh atau negeri dongeng.

Scam Menang Undian

Pas jaman SMP, saya dan keluarga menerima sebuah scam yang cukup besar dan pintar. Kami tidak menyadarinya waktu itu. Namun, setelah dipikir-pikir besar kemungkinan kalau itu penipuan atau setidaknya trik marketing amoral.

Saya tidak begitu ingat detail kejadian. Kira-kira seperti berikut lah ceritanya.


Suatu pagi, seorang ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pun mem-pause game Empire Earth dan keluar menyambut sang pengetuk pintu.

“Ibunya ada dek?”

“Mama lagi tidur kayaknya om. Kenapa?”

“Oh… Ini mau nitip surat. Kasihin ke Ibunya ya…”

“Surat apa ini om?”‘

“Undangan buat ambil undian. Ajak ibunya ke toko ya dik… Siapa tahu dapat hadiah lho.”

“… Nanti ya om. Bilang papa dulu. …”

Surat pun saya berikan ke ibu saya dan kemudian dibaca oleh ayah malam harinya. Keesokan hari, karena tidak ada kerjaan, sambil jalan-jalan kami pun mengecek si toko. Pengen tahu, undian kayak apa sih…

“Ting teng ting teng,,,, Selamat Adik dapat hadiah peringkat tiga. Microwave terbaru merek XYZ! Hanya seperempat harga! Wow!! Gimana nih bapak ibu? Ajaib banget tangan anaknya nih…”

“Microwave ini canggih bapak-ibu. Coba lihat, disini ada 11 mode masak. Tinggal mencet aja. Tunggu lima menit. Jadi makanan deh. Gampang bu?”

Kami yang belum pernah punya dan belum pernah melihat microwave terpesona dengan benda tersebut. Bayangan pun sudah mulai kemana-mana.

“Sebentar lagi kan puasa tuh bu, buat buka dan sahur lebih gampang kalau ada Microwave. Bisa ngangetin makanan cepet. Terus untuk lebaran juga pasti buat kue banyak kan? Lebih seru dan efisien pake ini!”

“Bisa untuk buat kue juga?”

“Ya bisa lah ibu. Ini kan Microwave canggih… Kalau beli baru mahal ibu, belasan juta. Ini karena menang undian cuma seperempatnya aja.”

“Kalau mikir-mikir dulu bisa nggak?”

“Waduh… Undiannya cuma bisa dipakai sekarang. Kalau nggak diambil hangus…”

Kami pun mikir-mikir. Ini kesempatan yang langka. Kalau diambil, puasa nanti bakal ada yang beda nih…

“Eh Ibu. Kami barusan dapat telepon dari pusat… Juara yang ini bisa dapat Vacuum Cleaner yang itu juga. Itu Vacuum yang besar itu. Karena ruang hampanya besar, sedotannya kuat. Kapasitasnya BLA BLA BLA BLA… Pokoknya canggih, Cukup tambah sejuta aja Bu…”

“Wah, bagus juga ya… Kalau bersih-bersih nggak capek lagi.”

“Betul Dik. Nyapu kan capek tuh… Apalagi kalau bersihin karpet, langit-langit. Pakai Vacuum asoy deh…”

Kami yang tak pernah punya dan melihat Vacuum Cleaner pun terpana dengan benda tersebut, besarnya seperti gentong, setingi lutut. Belalainya panjang melilit-lilit si badan besar. Dia tampak gagah dan sangar, siap menerjang segala debu-debu kotor di rumah.

Bapak Ibu saya menanyakan ke saya. Enaknya gimana? Waktu itu saya masih SMP sih, tapi mungkin saya-lah yang paling mengerti ttg teknologi di keluarga saya. Mungkin juga hal tersebut sebagai sarana untuk menyenangkan anak atau gimana.

“Gini aja deh bu. Kalau diambil nih, kami kasih tambahan satu lagi. Hadiah dari toko nih. Satu set blender. Gratis, nggak pake tambahan? Gimana? Jarang banget kan, aji mumpung kayak gini…

“Tuh adiknya juga kayaknya udah pengen nyicipi kue yang dimasak pakai Microwave canggihnya…”

Singkat cerita, kami pun jatuh ke bujuk rayuan mamas tersebut. Karena kami tidak bisa membawa, barang-barang di antar oleh toko dengan pick up sore harinya. Petugas toko pun memberi satu jam tutorial cara memakai benda-benda tersebut. Begitulah, kami pun memiliki tiga perabotan baru: Microwave, Vacuum Cleaner, dan blender.

Satu minggu. Dua minggu. Puasa pun tiba. Ibu saya mencoba-coba Microwave, tapi entah kenapa selalu gagal.

“Beeeddd…. Coba baca buku manualnya gih.”

Saya pun membaca bukunya pun nggak ngerti. Tombolnya terlalu banyak. Mode apa aja buat apa nggak ngerti. Ngatur panas buat masak kue gimana kagak paham. Akhirnya Microwave cuma teronggok di atas kulkas. Kadang untuk masak air. Kadang buat nyimpan makanan, kayak lemari.

Vacuum cleaner? Kegedan, males ngeluarin dari kardus. Nyedot listrik banyak. Suaranya keras. Kadang kaga mempan. Lebih cepat pakai sapu.

Dua bulan kemudian. Tetanggaku Ade (bukan nama sebenarnya) bercerita.

“Bed-bed, tahu nggak? Kami dapat hadiah undian kemaren.”

“Wuih? Dapat juga… Apaan?”

“Tivi boy! Gede tivinya, 27 inci!!”

Saya pun menyesal. Coba dapat “hadiah”-nya tivi.


Beberapa tahun kemudian, saya memikir ulang kejadian tersebut. Sepertinya -well, dengan probabilitas yang tinggi- toko tersebut melakukan penipuan. Mencoba menjual barang dengan mentrik pelanggan kalau mereka dapat “harga spesial” atau “hadiah yang sulit didapat”. Padahal mungkin barangnya tidak terlalu spesial, tidak canggih, dan tidak ada undian apapun.

Ada yang bisa mengkonfirmasi?

Ada yang pernah mengalami kejadian serupa?