In Indonesia
Tinggalkan sebuah Komentar

Dua Hari Di Jakarta – Day Two: 26 Juni 2011, PRJ. Part I.

DSC00057_resize

Disclaimer : Artikel ini dibuat hanya untuk menggambarkan pengalaman, atau kejadian yang dialami oleh sang penulis di hari minggunya yang tidak biasa. Segala macam nama, merek, dan penyebutan yang tercantum dalam artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendeskriditkan pihak yang bersangkutan. Segala objek yang disebutkan dalam artikel ini adalah nyata, meskipun kejadian yang dituliskan bisa subjektif, sebelah pandangan penulis.

Otanjoubi omedeto, kata-kata pertama yang sepertinya ku dengar saat bangun tidur di hari ini. Atau saat shalat shubuh ya dengernya? Lupa. Tentu saja ucapan selamat ini bukan ditujukan untukku. Penghuni kosan ini mungkin sedang membuka gadget mahalnya, atau laptop mahalnya saat menuliskan dan mengucapkan ‘mantra’ tadi ke user agent yang bertindak sebagai pengirim pesan ke orang yang dituju.

Aku yang tidak mendengar tentu saja tidak mengungkit-ngungkit pengucapan selamat tadi. Aku juga tidak ikut nimbrung untuk mengucapkan kata-kata yang sama. Well, jangan salah sangka. Bukan masalah prinsip, agama, atau apa. Aku sih memang tidak terlalu mengistimewakan ulang tahun, untukku, untuknya, atau untuk siapapun. Meskipun begitu, aku juga menganggap perlu mengucapkan selamat jika seseorang sedang berharga, apalagi… Meskipun aku juga setuju perkataan “Maaf, kami tidak merayakan maulid”. Ya sudah. Well, status YMku sudah berkata “omedeto” sepanjang bulan ini kurasa.

Dengan bertepatan pada ulang tahunnya, seharusnya hari ini menjadi hari yang indah kah? (Apa hubungannya!!) Ternyata tidak, jauh berbeda dengan kemarin, tidak ada kelancaran hari ini. Hari ini aku belajar sifat dasar manusia. Hari ini aku merasa dibohongi dan ditikam.

Ada yang sadar kalau kata tunjuk yang digunakan penulis berubah dari penulis, menjadi saya, lalu aku dalam tiga artikel ini. Ya sudahlah, itu tak penting. Empat jam pertama setelah bangun, kami bingung berkutat tak tentu mau kemana hari ini. Hal ini tak lain karena kami tidak mau mengambil resiko kecewa jika kami dating ke GJUI lagi. Khawatir kalau tidak ada perbedaan event yang cukup besar dari hari ini dan kemarin. Sebenarnya banyak yang menarik hari ini, hanya saja acaranya sore, dan sepertinya hanya sebentar. Setelah lama bingung, sambil main SPORE, kami memutuskan untuk ke Jakarta Fair di saat-saat terakhir.

Seperti biasa, perjalanan dimulai dari busway mampang prapatanTujuan akhir busway kami kali ini adalah halte di dekat monas. Mengingat masa-masa liburan, kendaraan yang kami naiki ini cukup penuh sesak. Banyak juga orang yang menuju ke pusat-pusat hiburan liburan seperti PRJ ini.

Mengapa ke monas? Salah satu informan kami mengatakan bahwa di monas ada bus shuttle yang disediakan panitia khusus untuk mengangkut pengunjung PRJ. Kebetulan memang arena PRJ tidak dilewati jalur bus trans Jakarta mana pun. Well, sesampainya di area monas, rupanya kami turun di halte yang salah sehingga kami harus memutar separuh lingkaran luar area monas itu dari samping sampai ke gerbang depan. Belum cukup pada siang bolong alias jam 12 tepat ini, demi mencari bus yang diragukan kebenarannya tadi itu, kami harus melintasi diameter monas dari depan ke belakang, mengitari cincin tengah monas untuk mencari dimana area parker berada, dan masih juga belum mendapatkan sosok bus yang kami cari-cari. Monumen Nasional hanya dipenuhi oleh bus-bus WC, dan bus pengunjung peringatan Hari Narkoba Nasional disana.

Menyerah, kami malah menemukan plang petunjuk dimana area parkir berada. Kami pun menuju pinggiran dan keluar pagar melalui celah cempit yang ada di pagar. Untuk melewati celah sempit ini, kami harus antri hampir 10 menit.

Sesampainya di parkiran kami melihat kerumunan orang yang berebut tiket. Rupanya, untuk naik bus PRJ tadi, penumpang harus memiliki sejenis kupon/ tiket yang dibagikan gratis. Well, saya memang menyebutkan ‘dibagikan’, tetapi dari apa yang kami lihat mungkin istilah yang lebih tepat adalah ‘saling diperebutkan’. Seperti anak kecil yang berebut kue atau uang lebaran atau surat cinta, ibu-ibu disana saling tarik-menarik tiket yang entah dari siapa itu. Ada yang berebut sambil menggendong atau menggandeng anaknya. Beberapa orang yang beruntung dapat langsung lari, ada yang mengejar. Ada yang marah-marah.

Betapa tidak elegannya Negara ini pikirku waktu itu. Kapan negeri ini akan sedikit saja mengaplikasikan apa yang dibanggakanya, keramahan rakyatnya. Menyesal telah melihat keburukan masyarakat sendiri kami memilih naik taksi. Sambil menyetop taksi, kami masih melihat ibu-ibu tadi berebutan masuk bis yang baru dating yang ternyata bukan bus tujuan arena PRJ.

Naik taksi sampai arena PRJ tidak memakan waktu lama. Hanya 25.000 rupiah saja argo kami meminta. Supir taksi kebetulan juga ramah dan baik sehingga kami diturunkan di tempat terdekat sehingga tidak perlu membayar argo saat macet dan memutar jalur dua depan arena PRJ. Masih ada orang baik ternyata di negeri ini, pikirku.

Karena lapar, kami pun memutuskan untuk mendatangi salah satu warung makan yang ada di sepanjang jalan jalur dua depan arena PRJ. Kami tidak tahu, bahwa ini adalah keputusan paling menyesalkan dalam perjalananan ini.  Warung ini memang mirip dengan warung gerobak pinggir jalan dekat kosan, di balubur, atau ayam pinggir jalan. Akan tetapi, harganya itu. Sesaat setelah kami memesan ayam bakar, ibu pengunjung lain disebelah marah-marah ke penjualnya. Sate yang beliau makan dihargai Rp5000 rupiah per tusuk. Sup dihargai Rp30.000 lebih. Belum lagi jus dan kawan-kawan. Ditotal-total, ibu itu menghabiskan Rp250.000 sekali duduk dengan suaminya di warung itu.

Lemas, kami menghabiskan Rp50.000 per orang untuk makanan sekedar ayam goring/bakar plus jus jeruk. Kami pun menuju ke depan pintu PRJ hanya untuk mendapati bahwa masuk ke arena PRJ itu bayar. Pembayaran dilakukan dengan mengantri selayaknya membeli karcis kapal, dan setelah memberikan uang Rp75.000 (kalau tidak salah) kami mendapatkan kartu untuk masuk ke arena. Terlanjur basah sampai ke lokasi, apa boleh buat pikirku. Hanya dalam hati aku terheran-heran, PRJ adalah acara yang dilaksanakan untuk merayakan ulang tahun ibu kota. Kenapa untuk menikmatinya kami harus mengeluarkan uang?

Setidaknya kami mendapat pengalaman bagus. Kartu dipakai selayaknya kartu-kartu pada stasiun jepang. Di koridor menuju interior arena PRJ, terdapat alat pembaca kartu yang menghalangi jalan. Anda tinggal memasukkan kartu ke slot yang ada, plank pembatas pada mesin tersebut dapat dilewati oleh satu orang saja. Tapi lucunya, alat otomatis yang ditujukan supaya orang mudah dan tidak perlu pengawas ini dikelilingi oleh banyak mbak-mbak penuntun cara memakai kartu tadi. Well, memang tidak semua orang tahu caranya, tapi jadi apa fungsinya ini alat.

Anda juga bisa melihat alat yang sama di beberapa tempat publik. Misal di pelabuhan, atau stasiun. Akan tetapi disana, alat tersebut hanyalah aksesori. Kartu yang dibeli dari loket hanya diserahkan kembali ke petugas di dekat alat. Tidak ada pembatas apa-apa yang diaktifkan oleh alat tadi. Satu-satunya penghalang efektif, adalah petugas pengambil kartu. Apa gunanya kartu tadi, pikirku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s