In Indonesia, Islam
Comments 3

Melancong ke Masjid Istiqlal

Isitiqlal dari gerbang depan

Masjid Istiqlal alias masjid kemerdekaan adalah masjid terbesar di Indonesia, atau bahkan Asia Tenggara? Tentu dengan gelar yang mengagumkan tersebut, kita sebagai warga biasa yg suka penasaran, penasaran dengan masjid sosok masjid ini. Minggu kemarin saya mendapat kesempatan untuk menjejakkan kaki ke masjid kenegaraan ini. Saya yakin sebagian besar pembaca  (yg umumnya teman kuliah-SMA saya) belum pernah kesana bukan? Wong yg di Jakarta saja belum tentu pernah, seperti kata orang.

Kalau tidak disempat-sempatkan, ya tidak akan pernah sempat.

Pada artikel ini, saya ingin membahas tentang arsitektur dan pemandangan yg saya dapatkan dari hasil berkeliling di Masjid Jantung Ibukota ini. Pada artikel berikutnya, saya akan menceritakan obrolan saya dengan seorang muallaf yang kebetulan bertemu saat sedang bersantai di ruang utama masjid.

Masjid Istiqlal bisa dibilang terletak di  jantung ibukota. Lokasinya persis di sebelah Monumen Nasional dan Statiun Gambir, dan juga disekitar pusat perkantoran pusat (udah pusat, pusat lagi). Pertamina pusat di seberang jalan ke utara, kementrian keuangan pusat juga disana, dan kantor-kantor pusat lainnya. Mungkin katedral besar di depannya pun suatu gereja pusat juga kali ya.

Kubah Masjid Istiqlal dapat dilihat dari jauh. Maklum, gedung ini memiliki lima tingkat di bangunan utamanya. Gedung non-utama sebelah timur yang juga menempel di gedung utama memiliki lantai yang lebih tinggi lagi, entah sepertinya lapan lantai ada kali.


Oh ya untuk masuk ke gerbang Masjid Isitiqlal, pejalan kaki harus menghadapi sebuah jalan super ramai yg tidak akan pernah berhenti, karena di perempatan sana tidak ada lampu lalu lintasnya. Tapi tenang saudara-saudara, tepat di seberang gerbang terdapat zebra-cross plus sepasang lampu merah terpancang. Yup, lampu ini akan selalu merah (bagian lampu yg menghadap ke arah zebra-cross). Saya sampai menunggu 5 menit berharap akan mengubah tanda hijau bebas jalan untuk kendaraan berubah menjadi merah secara ajaib. Udiknya saya, ternyata ada tombol di tiang lampu tersebut.

Namun, jangan juga banyak berharap sobat. Setelah saya pencet tuh tombol, memang lampu merah untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau (persiapan 4 detik, hijau selama 15 detik) dan lampu hijau yg mengarah ke jalan untuk kendaraan menjadi merah. Akan tetapi, ternyata yg udik bukan hanya saya. Yg nyupir di dalam kendaraan berkecepatan tinggi itu lebih udik lagi. Mereka lewat saja. Oblivious dengan merahnya lampu dan keberadaan pejalan kaki yg terseok-seok ingin menyeberang sambil mengeluarkan sumpah serapah. Saya tidak meyangka, orang Jakarta ternyata setolol itu. Udik!

Lampu merah (untuk pejalan kaki) aja nggak tahu!

Percuma ada lampu lalu lintas yg pencet-able ini

Percuma ada lampu lalu lintas yg pencet-able ini

No offense untuk orang Jakarta beneran ya, khususnya pengendara. Selama Anda belum membuktikan bahwa Anda cukup pintar untuk membedakan antara lampu lalu lintas pejalan kaki sedang merah atau hijau dan bertindak sesuai aturan lalu lintas tersebut. Sampai itu terjadi, saya akan mempertahankan generalisasi saya terhadap Anda orang Jakarta. Kenapa saya sebersikukuh ini? Well, dari sekian kali (sekitar 6 kali) saya menyeberang dengan fitur lampu merah penyeberangan itu, tidak ada tuh satupun kendaraan yg berniat baik mengurangi kecepatannya. Akhirnya, saya kembali ke cara lama, cara Indonesia, jalan dikit-dikit sambil menengadahkan tangan ke arah mobil dan harap-harap cemas supaya skenario yg rawan terjadi di sinetron tidak terjadi.


Okeh, kembali ke topik utama.

Masjid Istiqlal dikeliling oleh sungai kecil (atau ledeng (atau lebih tepatnya Sungai Ciliwung)). Saking besarnya Masjid Istiqlal, sungai kecil selebar mungkin 20 meteran yang mengelilingi Istiqal di tiga arah mata angin tidak terasa ada apa-apanya. Yah, seandainya sungai ini berwarna biru dan mengalir dengan tenah, syahdu, dengan riak-riak ikan kecil berwarna-warni yg berenang-renang di bawahnya dan pepohonan hijau yg sedikit-sedikit menutupi jernihnya air dengan dedaunannya yg berwarna coklat. Seandainya begitu, masjid ini akan sangat sempurna di mata saya. Perfecto patronum!

Faktanya:

Pemandangan Indah di Sekitar Istiqlal

Pemandangan Indah di Sekitar Istiqlal

Pancuran, Monas, dan Sampah

Pancuran, Monas, dan Sampah

Yup, Masjid ini dikelilingi oleh sungai sampah. Tentu bukan salah arsiteknya merancang (walaupun dia orang nasrani). Tentu juga bukan juga salah Ir. Soekarno yg memvisikan masjid kebanggaan ini. Entah salah siapa, orang Jakarta yg tolol itu mungkin (yg tolol ya, yg pintar sih tidak).

Di arah utara masjid ke arah pintu yg menghadap ke Gedung Pertamina dan Monas sebenarnya terdapat pula air mancur raksasa. Bangunan air mancur ini duduk gemulai di tengah danau kecil dengan riak-riak kekhusuannya, seandainya air itu berwarna biru. Sayang airnya berwarna hitam pekat, tidak beriak, dan berisi banyak sekali plastik, kaleng, bungkus-bungkus, dan mungkin kotoran manusia di dalamnya. Entah siapa yg bisa disalahkan dari kondisi suram ini.


Okeh, kembali lagi ke Masjid Istiqlal yg megah.

Masjid berkapasitas 200 ribu jemaah ini memiliki lima gerbang dan tujuh pintu utama, setidaknya itu menurut wikipedia. Yang berhasil saya temui hanyalah tiga pintu (dan satu gerbang) di antaranya, yakni Pintu Al Fatah (yg pertama ditemui saat masuk dari gerbang utama), Pintu Al Malik (bersebarangan dengan mimbar, VVIP katanya, Malik getoh), dan Pintu Al Ghaffar (menghadap ke pancuran black-hole tadi).

Setiap pintu ada penjaganya. Dan dengan penjaga, yg saya maksud adalah dua orang satpam dengan garret dan pintu deteksi logam yg sering kita lihat di bandara itu loh. Serem ya… Sasuga masjid kenegaraan.

Sebelah kiri adalah tangga menuju tangga utama.

Sebelah kiri adalah tangga menuju tangga utama.

Well, sebenarnya tidak setiap pintu dijaga. Ketika saya kesana, hanya dua pintu utama (pintu Al Fatah dan pintu sebelahnya Al Ghaffar, lupa liat namanya) yg terbuka dan ada satpamnya. Beberapa pintu lain sepertinya tertutup rapat. Itupun saya bisa memfoto pintu Al Malik yg VVIP karena ada pintu kecil yg terbuka ke sisi barat masjid tersebut. Mungkin karena itu hari biasa dan sepi pengunjung, jadi penjaganya juga tidak terlalu ketat.

Ketika masuk dari pintu Al Fattah, kita akan mendapati tempat penitipan sepatu yg besar. Gratis pula, kayak di Salman. Di sebelah kiri, berderet tempat wudhu dan lorong panjang menuju peturasan (urinoir) dan toilet. Nah, disini sedikit keanehan terjadi.

Lantai dasar - depan pintu Al Falah

Depan penitipan sepatu, kiri tempat wudhu dan toilet, dan kanan (mungkin) ruang seminar

Saya datang saat adzan dzuhur tiba. Itu artinya sedang ramai-ramainya (di hari itu). Masuk, titip sepatu, dan ke lorong yg di sebelah kirinya tempat wudhu tadi. Loh, kok ini tempat wudhu wanita tapi terbuka gini. Ibu-ibu dan mbak-mbak dengan santainya berwudhu sambil orang-orang melintasi lorong. Memang sih, disitu tulisannya “Tempat Wudhu Wanita (Alternatif)”. Cuma, ini kan tempat wudhu terdekat pintu utama (Al Fattah). Pasti kesini dong wanita-wanita. Kalau istri saya kesini, mana rela saya kalau dia disuruh wudhu di tempat wudhu itu.

Lantai dasar - tempat wudhu wanita (alternatif)

Kebetulan pas moto saat datang kedua kali (Ashar), jadi udah sepi.
Nggak ada pria wanita yang lagi wudhu.

Itu belum cukup aneh. Kenapa? Karena tempat wudhu wanita (alternatif) ini juga dipakai bersama oleh para pria-pria. Jadi deh wudhu rebutan. Satu lingkaran (tempat wudhu-nya elit, berkumpul di lingkaran-lingkaran) bisa campur pria-wanita deh.

Sampai ke area peturasan dan kemudian area toilet lebih aneh lagi. Peturasan biasanya untuk pria, jadi wajarlah. Area ini dapat diakses duluan setelah area tempat wudhu wanita (alternatif) dan kemudian area tempat wudhu pria tadi. Setelah peturasan pria, terdapat deretan kamar mandi (alias toilet) pria dan kemudian deretan kamar mandi (alias toilet) wanita. Tanpa sekat. Yup, jadi nggak jelas sampai mana deretan yg pria dan yg wanita.

Sampai disitu memang belum cukup aneh. Yg aneh adalah saat saya masuk ke area deretan kamar mandi pria (plang bertanda wanita masih di ujung koridor sana), yg banyak mengisi justru wanita. Ibu-ibu dan mbak-mbak, baik yg sudah keriput maupun yg masih seger. Dan yg membuat saya syok dzuhur itu adalah, salah satu pintu kamar mandi tersebut tidak tertutup. Alhasil, sebuah paha mengangkang tampak sekilas dari luar. Hal itu membuat saya syok setengah mati. Astagfirullah… Kok bisa ada kayak gituan…

Deretan kamar mandi pria dan wanita

Tentu saja saya nunggu sepi saat foto.
Tidak mungkin kan saya memfoto rombongan ibu-ibu tadi.

Komentar saya ttg tempat wudhu dan WC-nya bagus sih. Rapih, simpel, terlihat elit dan bersih. Airnya berlimpah. Bahkan di tempat wudhu manapun di masjid ini, tidak ada bagian yg dimatikan aliran airnya. Toiletnya mode duduk sih. Dudukannya dari besi simpel tanpa tutup gitu. Tapi lumayan lah, setidaknya bersih.

Dekat Pintu Al Fattah terdapat tangga utama yang cukup besar. Pantas untuk tangga utama ke lantai utama sebuah masjid utama kenegaraan. Hal pertama yg kita dapati setelah mencapai lantai utama adalah tempat penitipan barang/ tas. Persis seperti tempat penitipan sepatu yang ada di lantai dasar tadi. Gratis juga. Dan di salah satu dindingnya bertuliskan “Tas/Barang WAJIB dititipkan”.

Lantai utama - penitipan tas

Bisa nitip tas juga!

Di sebelah kanan,  terdapat lorong menuju ruang utama Masjid Istiqal. Gerbang lorong tersebut dihiasi oleh jam digital penanda waktu shalat. Di depan lorong, terdapat bapak-bapak yg duduk di tengah-tengah sambil mencegat siapapun yg membawa tas. Beliau menyuruh pengunjung mematuhi peraturan: Tas/Barang WAJIB dititipkan. Wah kalau ada laptop? Harus juga ternyata, tapi dijamin aman katanya.

Lantai utama - koridor ke ruang utama

Bakal dicegat kalau masih bawa tas ke dalam.

Oh ya, berhadapan dengan tangga utama tadi sebuah koridor yg sangat besar dan panjang menjulang hingga ke pintu utara sana. Di kiri kanan koridor, terbentang lapangan luas beralaskan marmer. Lapangan tersebut memantulkan cahaya matahari terik siang itu. Saya agak heran dengan lantai luas ini. Kapan penuhnya ya?

Ruang utama langsung ditemukan sekitar 10 meter dari tempat penitipan barang tadi. Tidak seperti Masjid Raya Jawa Barat yg dari depan ke dalam seperti jauh sekali, disini terasa dekat. Padahal ini masjid terbesar kan? Namun jangan salah. Ruang utama masjid memang sungguh besar dan megah. Tampak di sekitar ruang utama balkon 5 lantai bersisian. Di tengah, kubah raksasa berukiran segitiga mengerucut ke puncak masjid berwarna emas. Di kejauhan, tampak mihrab masjid dihiasi oleh hiasan marmer tiga dimensi berukirkan bulatan-bulatan bertulisan arab, mungkin Asma ul-Husna.

Sekelebat Ruang Utama

Sekelebat Mewahnya Ruang Utama

Pada posisi sepertiga ruang utama dari kiri terdapat deretan pembatas antara jemaah akhwat dan ikhwan. Sebelah kiri adalah tempat shalat wanita dan sebelah kanan (yg lebar dan menempel ke tempat imam) adalah tempat shalat pria. Pembatas keduanya hanya sekadar besi bertirai pendek setinggi bahu. Oh ya, wanita yg masuk ke ruang utama masjid ini tidak diperbolehkan membuka aurat loh. Jadi kalau yg belum berhijab tidak boleh melepas/memakai mukena di ruang utama. Sebelum masuk ruang utama, terdapat semacam kamar ganti lebar untuk melepas/memakai mukena. Semua persiapan non-hijaber untuk shalat harus dilakukan disana.

Pokoknya, pelayanan di Masjid Istiqlal ini emang cukup top. Dan kemewahannya, jangan ditanya lagi. TV layar lebar dimana-mana euy, kagak tahu buat apa. Tentang ke-wah-an ruang utama ini mungkin akan dijelaskan lebih banyak di artikel selanjutnya.


Tidak lupa saya mengunjungi kantin Masjid Istiqlal pada kesempatan tersebut. Maklum, tujuan utama saya kesini ada tiga istirahat, sholat, makan alias ishoma.

Kantin terletak di sebelah kiri gerbang utama Masjid Salman di seberang katedral. Gerbang satu-satunya yg dibuka pada hari biasa. Kantin berwujud seperti warung makan di pinggir jalan saja. Di sebelah kiri jalan ada bangunan utama yg menyediakan tempat duduk di teras dan ruangan makan ber-AC. Di ujung dekat gerbang terdapat sebuah toko buku kecil, tidak lebih besar dibanding ISTEK Salman. Separuhnya malah. Di ujung bangunan sana terdapat kantin utama yg menjual makanan touch screen, alias sejenis warteg. Namun, saya agak heran. Kalau dibandingan, makanannya (dan ukuran kantin utamanya) masih lebih besaran di Masjid Salman ITB loh. Disana cuma dikit pilihan makanannya, entah perasaan saya saja atau gimana.

Area kantin - warung istiqlal

Menunya dikit. Kantinnya kecil. Agak nggak yakin kalau ini Istiqlal.

Di sebelah kanan jalan, tepat di seberang jalan terdapat tenda-tenda putih seperti yg ada di festival-festival itu. Di bawah masing-masing terdapat meja-meja yg bisa dipakai bersama. Boleh duduk di bawah kantin, di dalam ruang AC, atau di tenda ini yg cenderung dekat dengan ruang terbuka.

Area kantin - tenda kanan jalan

Tenda-tenda putih… Putih putih melati…

Di ujung jalan sana, masih sebelah kiri jalan, terusan si kantin utama, terdapat warung-warung lain yg berjualan juga di bawah tenda. Saya lihat sebentar sepertinya mereka menjual sop, mie ayam, bakso, dan sejenisnya gitu. Tidak begitu mengecek satu-satu penjualnya sih saya.

Saya akhirnya makan di kantin touch screen  dan duduk di depan ruang makan ber-AC. Foto di bawah adalah makanan yg saya beli, yaitu nasi, sayur pare, kikil, telor, tempe, dan Nu Green Tea. Harga semuanya adalah Rp18.000,- Cukup mahal yak…

Makan Siang Saya di Hari Itu

Rp18.000,-

Yup, segitu dulu yg bisa diceritakan pada artikel kali ini deh. Simak juga kelanjutan kisahnya di artikel besok ya.

3 Comments

  1. Ping-balik: Mezase! JAPAN | Blog Kemaren Siang

  2. saya teman SMA mu, saya kuliah di Jakarta, dan saya pernah ke Masjid Istiqlal. dan saya pernah mencoba lampu merah khusus pejalan kaki, dan berhasil.

    • Wah keren berhasil. Semua kendaraan benar-benar berhenti selama 15-20 detik itu? Seriuss?
      Tergantung tempat/waktu dan yg nyebrang juga berarti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s