Tahun: 2018

Mencibir Korban Bencana Alam

In which I condemn people who yell “it was divine punishment!!” in the strongest term. And whoever share the video.

Iklan

Alert Gempa

Jadi, tadi malam pukul 24.15 saya sedang akan meninggalkan meja komputer saya menuju kasur. Sebenarnya sudah agak mengantuk, dan merencanakan tidur dari pukul 23.30. Ngantuk karena obat juga sih. Cuma saya terjebak oleh rewatch 3 episode finale dari anime Overlord season I. Jadi agak tanggung, tinggal 5~10 menit lagi beres. Habiskan urusan, baru kita menghadapi kerjaan di hari esok! Ketika tiba-tiba hape saya meringkik keras dengan volume penuh. Suara yang sangat menggelikan di telinga dan leher. Membuat syaraf kita awas, melebihi musik alarm apa pun. Ringkik itu diiringi oleh peringatan berbahasa Jepang: Jishin Ga Kimasu! Kira-kira suaranya kayak di Youtube di bawah ini. Persis. (30 detik pertama). Terakhir saya dapat early warning seperti ini adalah di hari pertama saya menginjak dunia kerja. Nagoya, 1 April 2014. Waktu itu lagi orientasi kerja. Tiba-tiba hape di kantong dan meja para pekerja berdering bersamaan seperti di atas. Tidak lama kemudian, getaran pun terasa. Plafon lantai dua tersebut bergetar. Gelas dan perabotan tergantung di dinding berdenting. Beberapa puluh detik, reda. Aman… Di Tokyo bukannya jarang gempa. Sering. Kayak gitu juga, terasa …

Hore 500 Artikel!

Blog ini sudah mempublikasikan lebih dari 500 artikel! Wow! Mengingat blog ini sudah berumur 10 tahun, agak wajar juga sih 500 artikel. Setahun 50 artikel. Tapi tetep aja wow!! Nulis apa aja tuh? Saya juga nggak ingat apa aja topik yang ada di blog ini. Informasi yang bisa diekstrak tentang saya. Atau opini apa yang entah masih saya pegang atau nggak… 500 artikel boi… Pastinya kalau saya nyalon presiden, bakal banyak yang mengutek-utek blog ini buat mencari-cari titik kesalahan, kekonyolan, atau inkonsistensi pandangan politik saat kampanye. Misalnya menunjukkan artikel ini kalangan oposisi menuduh “wah, itu, si calon pernah memain-mainkan uang negara!!!” Terus belum tentu saya sadar kalau itu beneran saya yang nulis. Jadi saya menyangkal tuduhannya. “Saya tidak pernah memegang uang dalam bentuk apapun, apa lagi memain-mainkannya!” Haha… 500 artikel… Masih merasa wow… Yup! Yosh!! Next up, 1000 artikel! Semoga nggak butuh 10 tahun untuk mencapai target selanjutnya ini.

Kelupaan Uang di ATM

Suatu hari saya pergi ke ATM SMBC. Saya tarik uang 10.000 yen, pencet-pencet-pencet, kartu ATM keluar bersama dengan receipt. Oke, saya ambil dan kemudian pergi, naik ke kantor. Waktu itu bulan puasa. Malamnya saya buka di warung India dekat kantor. Makan malam mutton briyani. Saat selesai dan mau bayar, saya cek dompet. Lho, kok nggak ada uang? Perasaan tadi siang ambil uang kan ya… Hmm… (Untung recehan yang ada masih pas untuk bayar) Keluar toko saya penasaran. Bener kan? Tadi siang ambil uang. Bukan ilusikan? Terus habis itu kaga belanja apa apa… Buka dompet juga mungkin kagak. Masa uang kertas bisa jatuh… Perasaan terganjal. Jangan-jangan ketinggalan di ATM. Jadi saya pergi ke ATM lagi. Siapa tahu ada yang naruh uangnya disana… Pas dicek, ya nggak ada lah ya… Saya masih rahu, tapi kayaknya bener kalau ketinggalan. Lupa ngambil itu uang kertas… Entah apa yang saya pikirkan waktu itu. Kalau bener ketinggalan, mau lapor, tapi ke mana ya. Di ATM kebetulan ada telpon. Di bawahnya ada nomor telpon emergency. Ya udah dicoba telpon pake ini aja, ternyata …

Top-Up: Praktik Menggandakan Uang?

Misalnya nih, dunia kita cuma satu desa, dengan tiga komponen: penduduk, pemerintah, dan perusahaan. Desa berisi 100 orang penduduk. Setiap orang punya uang 10.000 yen. Total  satu juta yen. Uang di pemerintah dan perusahaan mesin top-up ada masing-masing satu juta yen lagi. Jadi total uang di ekonomi adalah tiga juta yen. Masing-masing penduduk mengisi kartu top-upnya 5000 yen. Mereka pergi ke mesin top-up, masukin selembar 10.000 tadi dan dapat kembalian 5000 yen. Uang masing-masing penduduk tetap, 5000 tunai dan 5000 di dalam kartu. Jadi satu juta yen milik penduduk tetap kan ya? Sampai disini masih logis. Pemerintah nggak ngapa-ngapain di skenario ini. Jadi uang mereka tetap. Nah, buat mengisi kartu tadi pendudukan ngasih uang ke mesin tuh 10.000 dan dapat kembalian 5.000. Artinya si mesin bakal ketambahan uang 5.000 yen dikali 100 orang. Yup, tunai yang dimasukkan ke mesin kan nggak tiba-tiba terbakar dan lenyap. Cek lagi total uang di ekonomi: Uang penduduk: 1 juta yen Uang pemerintah: 1 juta yen Uang perusahaan: 1 juta yen Uang yang dimasukkan ke mesin: 500.000 yen Jeng-jeng-jeng… Uang …

Gimana cara Thanos menyetengahkan populasi??

Seperti yang sudah Anda ketahui, Thanos ingin menyetengahkan jumlah penduduk dunia alam semesta untuk menghindari atau setidaknya meredakan overpopulasi. Dengan demikian, sisa penduduk yang hidup bisa menikmati alam dan kekayaannya lebih baik. Yang saya penasaran adalah, gimana cara si Thanos melakukan hal tersebut. :Lho kok bingung? Kalau lu nonton pilemnya kan jelas, pake inpiniti ston, terus snap! Bukan, bukan. Bukan itunya, tapi bagaimana cara si Thanos memilih siapa yang hidup siapa yang harus mati. :Random kan? Yaaa random, tapi random yang kayak mana gitu loh? Misalnya nih yang paling sederhana aja. Setiap penduduk di alam semesta punya peluang yang sama. P(selamat) = 0,5 Kelihatan adil kan? Tapi dengan begini, apa bisa thanos mencapai tujuannya? When I’m done, half of humanity will still be alive. Di skenario satu ini, peluang hanya setengah penduduk yang dimusnahkan sangatlah kecil. Misalnya nih penduduk dunia ada 2n, kalau dihitung peluangnya adalah: P(separuh selamat) = C(2n,n) / 4^n asymptotic to 1/sqrt(n) Jadi, kalau Thanos tidak hati-hati, bisa jadi lebih dari atau kurang dari separuh yang selamat. Asumsikan Thanos berhasil mengatasi masalah pertama di …

Kenapa Nggak Tutup Puasa Aja?

Sebenarnya udah jelas sih di judul dan gambar di atas. Nggak perlu ditulis artikel lagi sebenarnya. Intinya, saya bertanya-tanya kenapa di bahasa Indonesia disebutnya buka puasa. Bukan tutup puasa. Ada yang tahu? Kalau acara, saat dimulai ada pembukaan, saat berakhir ada penutupan. Kalau film, ada tema pembuka di awal, ada tema penutup di akhir. Kalau manusia, awal hari buka mata, akhir hari tutup mata; lahir buka masa, meninggal tutup usia. Kalau puasa, mulainya namanya sahur, akhirnya eh namanya berbuka. Apa ini maksudnya mulutnya mulai dibuka, boleh dimasukkan makanan. Atau karena setelah maghrib itu, dibukalah batasan yang harus ditahan agar puasa tidak batal? Atau puasa itu ibarat barang baru dibeli gitu ya… Batal (garansinya) kalau dibuka (segelnya). Soalnya Bahasa Inggris kan jelas tuh,break fast, puasanya dirusak/dibatalkan. Atau karena berbuka itu bukan bagian dari puasa? Bukan titik akhir dari puasa, tetapi rentang waktu yang ada setelah titik akhir itu sendiri, yang dipakai untuk makan, makan-makan, dsb. Tidak seperti pembukaan acara dan penutupan acara yang termasuk dari acara itu sendiri. Ini di luar rentang utama puasa, Wah berarti fokus utamanya …

Issuer = Problem Maker??

One time at work, I got a translation question from a colleague. Hey, what is 起票者 [kihyosya] in English? I am working in an ERP company and building a kind of accounting software. The term he mentioned is used for journaling system, roughly means as person who create/fill out/record/prepare a journal entry. If you open Google Translate for 起票者 it will translate to Slip issuance person. So, issuer for short… So I said to them, isn’t it issuer? He (and his other colleague) were staring at me in disbelieve. Issuer? People who make problems?? I was rolling my eyes. Here is the deal. The word issue is also commonly used in Japanese, which means a problem. We are also using redmine internally for ticketing system which uses the word issue in its URL. If anything is managed in redmine, it is problem, only problems. It is quite similar in Indonesian language, right? We have the word isu, and the meaning is near the word problem, though not exactly. In Indonesian isu means gossip or rumor. Interestingly, this nuance is not present from the English word issue. …