Bulan: November 2013

Kyoto: Momiji di Arashiyama

Prolog Setiap penghujung musim gugur, PPI Toyohashi mengadakan acara momiji-an ke suatu tempat. Bareng-bareng sesama perantauan dari Indonesia, jalan-jalan melihat daun merah, bersama-sama mengakrabkan diri, bersenang-senang di tengah riuhnya jikken. Acara musim gugur kali ini sedikit spesial, karena pilihan lokasi jatuh ke situs terkenal yang cukup jauh dari Toyohashi. Arashiyama, sebuah distrik wisata di pinggiran ibukota 1000 tahun Jepang, Kyoto. Saya yang baru datang ini dimasukkan sebagai salah satu orang yg mengurusi jalannya acara. Panitia, sebutan kami. Orang baru, layaknya anak magang, diminta untuk berkontribusi dalam kepengurusan seperti ini. Namun, namanya juga magang, ya masih dituntun oleh para senior lah. Beberapa anak baru sudah dapat tugas ngurusin acara lain, saya dan Shofi-san kebagian dalam panitia ini sebagai karir pertama kami. Saya kebagian mengurusi pendaftaran dan Shofi yang menariki/menyimpan/membayar uang ongkos. Setelah diskusi alot dan menegangkan, kegalauan, perhelatan jiwa dan raga, pertarungan antara yang hak dan batil, sekian pilihan lokasi wisata dirumuskan: Arashiyama (嵐山), Ohara shiki Sakuramatsuri (小原四季桜まつり), dan Higashi Koen no Koyo (東公園の紅葉). Berdasarkan voting yang hanya dilakukan mungkin 1% dari anggota, Arashiyama, lokasi terjauh pun …

Nagoya: Nagoya Castle

Kami sampai di area Nagoya Castle pukul 3 sore. Sempat nyasar juga, salah turun stasiun. Jadi, pada peta, di sekitar area Nagoya Castle ini terdapat dua stasiun kereta bawah tanah yang tampaknya dekat. Satu, stasiun City Hall (tempat saya dulu tanda tangan beasiswa). Dua, stasiun taman Meijo (Meijo-Koen). Karena taman Meijo adalah bagian dari Kastil Nagoya, tentu saja wajar bila kami berpikir bahwa stasiun terdekat menuju gerbang kastil adalah stasiun taman Meijo ini. Ternyata…

Nagoya: Pusat Perbelanjaan Osu Kannon

Di ujung mulut lorong tidak jauh tempat makan burung, terdengar bunyi kerincing-kerincing. Setelah sampai ujung lorong, tampak pria berpakaian biksu berdiri di sana memegang mangkok kecil dan kerincingan. Pertama-tama, saya dan teman-teman (para daun) berpikir kalau ini biksu yang minta sumbangan. Kayak yg sering kita temui di tengah jalan besar di Indonesia itu loh, di depan masjid. Atau kemungkinan kedua adalah pengemis yang memakai kostum biksu mengambil kesempatan disana, mumpung dekat kuil, biar pas, pake kostum gitu.

Laporan Keuangan Sebulan Pertama di Jepang

Saya sering mendengar bahwa hidup di Jepang itu mahal. Yah, memang. Begitu sampai saya langsung merasakan. Namun, karena penasaran, saya ingin mengecek seberapa sih pengeluaran hidup disini. Artikel ini adalah laporan keuangan saya (hampir) sebulan belakang saya di Jepang. Saya cantumkan juga daftar barang yang saya beli berikut harganya untuk referensi. Misalnya untuk perbandingan antar kota di Jepang atau bahkan dengan indonesia. Beberapa hal yang perlu dicatat. Pengeluaran ini dilakukan di kota Toyohashi, sebuah kota countryside yang pastinya lebih murah dibanding ibukota atau ibukota provinsi. Tertanggal  09 Oktober 2013 – 02 November 2013, jadi belum genap sebulan. Kemudian, pengeluaran ini belum mencakup pengeluaran telepon dan tempat tinggal (saya tinggal di asrama internasional kampus). Karena memang belum saya keluarkan. Pengeluaran telepon saya (seharusnya) sebesar 7.155 yen per bulan mulai bulan depan. Saat saya datang saya membayar sekitar 39.000 yen untuk asrama (detail pada tabel di bawah, belum termasuk listrik air gas). Kedua hal ini tidak dicakup pada diagram di bawah. Nah, berikut laporan keuangan saya… Berikut adalah daftar barang yang saya beli, sebagai basis dari grafik di atas.