All posts filed under: North Sumatera

Story about tourism in North Sumatera and my visit there, especially my hometown!

Berwisata dan Keliling Taman Simalem Resort | Menikmati Pemandangan Danau Toba

Melanjutkan artikel sebelumnya, artikel ini akan menceritakan ttg keseluruhan area Taman Simalem Resort yang saya jelajahi waktu itu. Simpulannya, taman simalem ini cukup worth untuk dikunjungi cuma masih banyak pengembangan disana-sini dan beberapa fitur yang masih hilang. Mahal pula!

Iklan

Indahnya Danau Toba di Taman Simalem Resort, Merek, Tanah Karo

Lebaran kali ini saya diberi kesempatan oleh Allah untuk merayakan Idul Fitri pada hari H di rumah. Ini lebaran saya bersama keluarga di Tanjungbalai setelah 4 tahun sebelumnya saya masih berkesempatan lebaran bersama keluarga di Metro. Dua tahun disela-selanya saya “libur”. Karena lebaran kali ini cukup spesial, keluarga saya pun menyempatkan diri untuk jalan-jalan pascalebaran. Mumpung di Sumatera Utara, tentu saja tempat wisata paling wah yang mampu dipikirkan adalah Danau Toba. Tahun kemaren sih saya sudah mengunjungi situs populer untuk danau toba yaitu Pantai Parapat. Karena sudah pernah kesana, kami mencari alternatif lain. Dengar-dengar ada tempat wisata yang relatif baru yang juga sangat menarik untuk dikunjungi. Namanya Taman Simalem Resort. Lokasinya di Karo, jadi ujung danau toba paling utara nih. Dilihat dari gambar googling-googling, tempat ini sangat menjanjikan. Berikut link-link review yang saya baca dan situs ini juga punya situs web juga loh http://tamansimalem.com/ dan Facebook fanpage https://www.facebook.com/TamanSimalemResort. Disini katanya sering dibuat untuk foto pre-wedding (contohnya liat di page). Ah, jadi pengen… Oh ya, jangan salah sebut ya. Namanya bukan taman semalem. Kalau “semalem”, di dearah sini itu …

Mengintip Bandara Kualanamu Dari Dekat (bagian 2 dari 2)

Sebelum ini, saya melaporkan hasil intipan saya ke Bandara Internasional Kualanamu alias KNIA pada saat saya datang ke sana (untuk pulang kampung. Laporan tersebut difokuskan kepada landasan saat mendarat, garbarata dan anjungan kedatangan, dan situasi taman dan tol di luar bandara. Waktu itu saya datang siang pukul 13 jadi fotonya cerah. Kali ini saya akan melaporkan hasil intipan saya pada saat saya pulang. Dengan demikian, fokus laporan ini adalah anjungan keberangkatan dari KNIA. Waktu itu pesawat saya berangkat jam 5 subuh, jadi maklum kalau fotonya gelap-gelap. Sebelum itu saya juga ingin sedikit menceritakan situasasi jalan (dan daerah) sekitar bandara. Terutama jalan (arteri) yang meghubungkan antara bandara ke dunia luar. Seperti artikel sebelumnya, akan ada banyak foto di artikel ini. Jadi harap maklum kalau lambat di-load. Tapi tenang, fotonya sudah dikecilkan semua kok jadi harusnya sih cepet.

Mengintip Bandara Kualanamu Dari Dekat (bagian 1 dari 2)

KNIA adalah bandara teranyar Indonesia yang sempat heboh karena disainnya yang super apik, bandara dengan jalur kereta terintegrasi pertama di Indonesia, bandara dengan area check in terbuka pertama di Indonesia, dan bandara terbesar kedua di Indonesia dan akan diplot sebagai bandara hub penghubung regional ke Asia Selatan. Saya sempat mengunjungi bandara ini saat saya pulang kampung libur lebaran yang lalu.

Festival Takbir dan Bedug Tanjungbalai

Sudah menjadi tradisi di Indonesia bahwa malam sebelum hari raya Idul Fitri diisi dengan takbiran. Jadilah sebutan malam takbiran. Tidak hanya di masjid (karena kalau cuma di Masjid, sebutan tadi tidak akan ada) tetapi juga di jalan-jalan dan keliling kota. Biasanya pakai mobil, truk, atau bahkan motor. Setiap kota biasanya ada semacam festivalnya sendiri. Kalau di Bengkulu (kalau saya tidak salah ingat) ada yang namanya festival tabot, jadi mobil-mobil dihias sedemikian rupa saat keliling takbiran ini. Kalau di Tanjungbalai, ada yang namanya festival bedug dan takbir. Tanggal 7 Agustus 2013 malam, suasana jalanan kota Tanjungbalai (yang memang biasanya sudah sesak oleh motor dan betor) disesaki oleh banyak orang lebih dari biasanya. Motor, betor, dan mobil-mobil pick-up berisi anak-anak kecil dengan speaker. Mereka berteriak-teriak takbir, menabuh gendang, dan bahkan ada anak di sebuah truk yang membaca surat Ar-Rahman. Namun, di alun-alun kota, lapangan Sultan Abdul Jalul Rahmatsyat atau biasa disebut lapangan pasir, ada keramaian yang berbeda. Di bawah satu-satunya bangunan berbentuk kerang terbuka yang terletak di pinggir barat lapangan, sebuah panggung cantik terhias kain-kain dan ornamen …

Informasi Singkat tentang Tanjungbalai, Asahan

Jika akan pulang kampung, entah kenapa orang selalu menyebut “kapan pulang ke Medan?”. Yah, mereka yang menyebut seperti itu sebenarnya tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebenarnya mental seperti ini muncul akibat sentralisasi peradaban Republik Indonesia di salah satu pulau di negeri ini, sebut saja Pulau Jawa. Orang yang bertempat tinggal di pulau jawa bisa dengan percaya dirinya menyebut “Besok saya pulang ke Klaten”, “Yo, pamit ke Sukabumi dulu”, “Saya kerja di Gresik”, atau “Saya masih di Cianjur euy”. Sangat jarang yang menyebut “saya mau ke Jawa dulu” atau “saya mau ke Surabaya dulu” padahal tujuan akhirnya Probolinggo.
Dengan demikian, demi propaganda, saya ingin memberikan beberapa informasi singkat untuk memberikan bibit nama kota di luar jawa selain nama ibukota provinsi sekaligus mengedukasi pembaca mengenai kota tempat saya tinggal sekarang.

Pelabuhan Nelayan, Panton, Tanjungbalai

Panton adalah pelabuhan nelayan di dekat Kota Tanjungbalai. Meskipun begitu, dari kota jarak tempuhnya hampir mencapai satu jam. Ya, pelabuhan ini bukan lagi ada di Kota Tanjungbalai tetapi masih di Kecamatan Tanjungbalai, Bagan Asahan. Pelabuhan panton berbentuk segi empat lebar dengan jalan kecil berbeton di atas perairan. Di atas jalan ini banyak sekali pedagang yang membuka lapak sebagaimana yang sering kita lihat di taman kota atau sekitar masjid saat jumatan. Pelabuhan ini seolah-olah menjadi tempat wisata sendiri bagi masyarakat sekitar, padahal bukan. Banyak juga yang mancing disini. Meskipun begitu, masuk kesini biasanya dicegat anak muda setempat yang berlaku seperti penjaga gerbang tempat wisata pada umumnya: minta ongkos masuk.

Pantai Bunga Batubara, Ramai dan Berpasir Putih tapi Tak Terurus

Sekitar satu jam dari Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara terdapat sebuah tempat wisata yang cukup digemari masyarakat sekitar. Pantai Bunga namanya. Pantai ini terletak di wilayah pesisir timur Sumatera Utara dan berada di daerah Kabupaten Batubara. Pantai Bunga memiliki tanah berpasir yang sangat putih. Akan tetapi, pantai ini sangat kecil dan minim wahana-wahana wisata. Tempatnya pun terasa kurang terurus meskipun relatif bersih dibanding pantai terkenal lain. Panjang lokasi wisata hanya sekitar 100-200 meter saja. Di sekitar Pantai Bunga sebenarnya ada objek wisata pantai-pantai lain loh seperti Pantai Sejarah dan Pantai Datuk, tetapi yang saya dan keluarga kunjungi waktu itu adalah Pantai Bunga ini. Masuk pantai ini dari jalan raya luar juga cukup jauh, belasan kilometer. Di jalan ini kita disuguhi pemandangan pepohonan sawit dan daerah perkebunan. Jalannya juga cukup bagus dan lancar.

Samosir District's Map

Jalan-jalan ke Danau Toba: Bagian 2/2 – Pulau Samosir

Pulau Samosir adalah pulau terbesar di tengah danau toba. Sama seperti danau toba, wilayah pulau ini tidak mungkin bisa dijamahi dalam waktu sebentar. Bandar di seberang pantai wisata Parapat adalah desa Tomok. Desa ini hanyalah satu dari desa-desa wisata yang ada pada pulau Samosir tentu saja. Gambar di atas: Peta Samosir pada pelabuhan Tomok Untuk dapat menyeberang ke Tomok dari pantai wisata Parapat, kita harus menggunakan kapal penumpang kecil berukuran 20-30 orang. Terdapat cukup banyak kapal hilir mudik menyediakan jasa penyeberangan atau sekedar berputar-putar di perairan Toba dekat parapat. Penyeberangan memakan waktu 30-45 menit. Ongkos penyeberangan berbeda-beda menurut tanggal. Pada waktu saya menyeberang, tanggal 1 Januari 2011, ongkosnya Rp20.000,- per orang  sekali jalan (kalau tidak salah ingat). Ketika menyeberang, kita tidak langsung dibawa ke pelabuhan kecil di Tomok. Kapal akan berputar haluan sebentar untuk memanjakan penumpang dengan suasana danau. Selain itu, kapal akan mengunjungi sebuah tebing batu gantung. Ya, di tebing ini terdapat batu seukuruan satu meter berbentuk manusia. Batu ini bergantung di sisi bawah tebing yang menjorok ke danau. Konon katanya, batu ini jelmaan seorang gadis …

Jalan-jalan ke Danau Toba : Bagian 1/2 – Kota Parapat

Awal tahun 2011 kemarin, saya dan keluarga pergi berwisata ke Danau Toba. Perjalanan ke danau ini memakan waktu sekitar 6 jam dari Tanjung Balai dan sekitar 4 jam dari Medan. Kami sekeluarga tujuh orang berangkat dari rumah pukul tiga pagi dengan menggunakan mobil pick-up yang dirancang sedemikian rupa sehingga bak mobil berubah menjadi tempat yang nyaman untuk duduk dan tidur-tiduran. Di atas bak dipasangi terpal yang tentu saja sudah dipasangi tulang dari kayu resplang agar kuat, di bak dipasangi kasur supaya nyaman untuk disinggahi. Tidak lupa kami membawa dispenser dan makanan untuk menambah ke asyikan di dalam bak mobil pick-up tadi. Danau Toba adalah danau yang sangat luas. Tempat yang kami tuju hanyalah satu kota yang menempati satu iris kecil dari tubuh toba yang bahana: Kota Wisata Pantai Parapat. Sesampai di wilayah parapat ini, kita bisa merasakan udara sejuk seperti di kawasan Lembang, Bandung. Udara yang dingin dan segar. Foto di atas diambil dari salah satu warung di pinggir jalan menuju pantai parapat. Seperti yang bisa dilihat di foto atas, danau toba sangatlah indah dan sangatlah luas.