All posts tagged: Bandung

Perapihan Bandung yg Mulai Marak: Proyek Siapa Hayo? | Kuning-kuning di trotoar: Maksudnya Apa Hayo?

Sebulan ini banyak perkembangan dan pembangunan yang tampak di Bandung. Pembatas jalan diperbaiki (sekitar jalan dago simpang). Trotoar diganti (di Jalan Siliwangi dan sekitar kampus ITB). Jalan ditambal dan marka dicat ulang (beberapa ruas di dago). Lampu jalan dipasang (Cisitu). Yang saya agak bingung adalah ini proyek siapa ya? Walikota yang mana… Kalau walikota yang baru rasanya nggak mungkin deh, wong belum dilantik. Kalau yang lama? Kan masih “masa” pemerintahan dia? Nggak yakin juga saya… Kalau saya parlemen mungkin saya sudah menjatuhkan mosi tidak percaya kok sama walikota penanam pohon ini. Tapi memang yang paling logis ya proyek pemerintah yang lama lah. Herannya ya masa sudah akhir gini baru mulai membangun. Wong selama 10 tahun belakang kayak nggak ada gerakan.  Dananya baru cairkah, baru ingetkah, atau emang memanfaatkan kesempatan terakhir untuk penebusan dosa (atau meningkatkan citra)? Ya sudahlah, setidaknya Bandung mulai berbenah. Btw, saya juga baru sadar kalau jalan yg markanya baru itu nampak lebih seger gimana gitu. Kayak lebih luas atau lebih mulus. Bersyukur, bersyukur. Oh ya, ngomong-ngomong soal trotoar yang baru dibangun. Luas …

Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Sabtu kemaren, tanggal 08 Juni 2013, Bandung dilanda hujat hebat. Bukan lebat tapi hebat. Sudah naik tingkat lah dari l ke h, bentar lagi d mungkin. Saya kebetulan waktu itu sedang berkendara dari arah selatan ke utara. Hari itu gelap. Langit di kejauhan utara berwarna agak aneh, kelabu jingga. Kelabu dengan rona oranye sedikit. Semakin ke utara suasana semakin mencekam. Semakin gelap. Hingga sampai saya di jalan Riau, masuk arena distro dan mau keluar ke jalan dago di Dukomsel, hujan itu pun tiba. Kebetulan saya juga terjebak oleh mobil aneh yg entah kenapa parkir menghalangi jalan meskipun di pinggir, saya pun berhenti sejenak memakai ponco. Jalan Santo Yusuf Maulana Yusup saat saya memakai ponco dan perempatan ke Jalan Juanda kemudian belok kanan perempatan di bawah Jembatan Layang Pasupati sebenarnya tidak jauh. Hanya 40 meter dan 40 meter. Namun, ketika saya sampai di bawah Jembatan Cikapayang tersebut, jalan raya sudah menjadi danau. Itu belum seberapa, setidaknya danau disana alirannya tenang dan masih sangat sedikit. Maju sedikit, tampak Jalan Juanda ke arah simpang dago melewati perempatan jalan Ganesha …

Selamat Datang Nyamuk. Selamat Datang Jerawat.

Dua hal yang sudah lama tak saya jumpai beberapa tahun belakangan: nyamuk dan jerawat. Entah kenapa dua objek yang banyak dijauhi orang tersebut kembali menghantui saya di akhir tahun ini. Kenapa ya? Nyamuk. Bandung, seperti yang diketahui semua orang, adalah kota dataran tinggi dan beriklim dingin. Ada mitos bahwa nyamuk tidak bisa hidup setelah ketinggian tertentu [Al Gore, An Inconvenient Truth]. Memang tidak ada bukti bahwa nyamuk tidak bisa hidup di daerah dataran tinggi atau daerah dingin [1][2]. Bahkan ada studi yang membuktikan bahwa mitos itu salah[3]. Akan tetapi, saya hampir tidak pernah menemui nyamuk dalam 4 tahun belakang ini. Setidaknya di sekitar daerah tempat saya tinggal. Hmm… Akhir-akhir ini, Bandung sering mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Tidak jarang (baca: 99 dari 100 hujan) menyebabkan banjir di beberapa daerah. Sebut saja depan kosan saya. Pemerintah (baca: Kadin Pengairan Bandung) sih bilangnya “drainase sudah baik, hanya curah hujannya yang tinggi, jadi tak tertampung di drainase“. Err… Dengan definisi curah hujan tak tertampuk drainase, itu artinya drainase buruk pak. [tepuk jidat] Saya setuju dengan Pak Dada yang …

Bulai Makin Banyak Bertebaran di Bandung

Saya heran. Akhir-akhir ini kok saya selalu melihat “orang asing” kemana pun saya pergi ya. Padahal kan saya jarang keluar rumah. Entah itu saat di kampus, di pusat perbelanjaan, atau bahkan hanya makan ke pasar simpang depan sana. Selalu saja minimal berpapasan dengan satu-dua muka luar. Kadang muka Eropa. Kadang muka Cina. Muka Arab juga banyak. Jepang pun tak jarang. Eh, jepang mukanya sama dengan cina ya. Saya tahu itu orang asing karena mereka biasanya berkomunikasi dengan bahasa aneh gitu. Yang muka Cina tadi juga saya ‘agak’ bohong. Orang Cina kan memang banyak di Indonesia dan mereka kebanyakan bisa berbahasa China, jadi belum tentu bule. Hmm.. Hmm.. Orang China pun banyak yang di Singapur dan Malaysia. Hmm.. Hmm.. Tapi bener loh. Makin banyak dibandingkan beberapa tahun lalu. Yang Eropa dan Arab gitu juga makin banyak. Setidaknya perasaan saya mengatakan demikian? Tiap keluar aja nemu satu-dua kepala. Menurut Anda? Saat mengunjungi Open House Rektor ITB juga, saya dikagetkan dengan kerumunan bule dari berbagai negara. Tanpa terlihat mahasiswa pribumi satu pun pula. Kasihan sekali saya. Well, sebenarnya …

Weekly Photo Challenge: Fleeting Moment

Fleeting moment on the street. Sure it’s hard to find picture like that. This picture below is taken last Sunday in Bandung. Yeah, on Sunday horse and delman (we called this type of vehicle delman, not sure what it is in English) is allowed on streets. It’s a fun moment to see this traditional vehicle running around side by side with car. Just like Bandung tempo doeloe (Bandung classic’s time).

A-Z Archive: U! Challenge ~ Umbrella

This week is letter U. U can be ukhti, unicorn,  underwear, or umbrella. But I don’t have yet saw any unicorn and I will never post my or anyone underwear here in this blog. Because I haven’t married yet, posting a photo of ukhti (religious muslim women) here will probably make me suffer in real life with gossip, rumor, jealousy, and dead sentence roaming around me. So probably umbrella is the best choice.

Unik di Bandung

Setelah beberapa hari menulis tulisan berupa laporan perjalanan (baca: jalan-jalan) dengan disertai sejumlah foto yang tak tanggung-tanggung, saya berniat untuk menggenapi tulisan satu minggu ini dengan tema serupa. Sayangnya, saya tidak mendapatkan wangsit untuk menulis hal tersebut. Ada perjalanan yang mungkin bagus tetapi kurang informasi dan foto yang terkait. Tidak ada fotonya tidak seru kan. Ada perjalanan yang punya banyak foto tetapi ceritanya biasa saja, tidak kepikiran narasinya, atau terlalu timpang ke kejadian tertentu. Sepertinya saya mengalami  kebuntuan penulis “writer’s block“. But the show must go on. Kalau tidak, bisa-bisa  blog ini bisa terlantar lama lagi. Oleh karena itu, kali ini saya memutuskan untuk menyatukan beberapa foto yang diambil di sekitar Bandung yang saya anggap cukup menarik. Tidak semenarik itu sih sebenarnya, tapi ya apa boleh buat. Namanya juga lagi buntu. Saya harap teman-teman bisa menikmatinya. Saya memulai dengan sebuah buku yang saya temukan di Gramedia. Maklum, lagi masa-masanya jadi saya dahulukan foto buku ini. Masa-masa tugas akhir atau lebih dikenal skripsi di sebagian besar perguruan tinggi. Buku ini menawarkan trik cepat menyelesaikan tugas akhir. …

Weekly Photo Challenge: Sun | and Climbing Photographers

Today, I and my friend Sidik tried to make a time lapse video. What is time lapse video you say? Just watch some video on top of my blog, that is time lapse video. We try to make time lapse video of  Car Free Day on Juanda Street, Bandung. We failed. When we started, suddenly our camera got condensed. The image blurred then. Other than that, maybe our first spot is not good. It’s just too few people there. So after half hour we tried to find another spot. We found a great spot in front of SMA N 1 Bandung, on the overpass. It has great view there. Many photographers reside there when we arrived. Well, it was our first time to make time lapse video. We just amateur that don’t  have a camera or tripod after all. That camera before is borrowed from friend and we tied the camera to some pillar in the middle of street to get the image stable. Furthermore, we don’t even google  “how to make time lapse video” at …

Ngeteng 2011 : Metro-Bandung

Perjalanan ngeteng biasanya lebih lancar dari bus langsung. Faktor utamanya biasanya di pelabuhan. Antrian kendaraan bisa sangat panjang, sehingga anda harus menunggu sangat lama. Macet di pelabuhan. Kalau anda jalan kaki tentu saja bisa menghemat waktu lebih besar. Well, kelancaran sebenarnya hal yang relatif. Terakhir saya melaju dari Metro ke Bandung, ada ‘insiden’ sedikit. Saya mulai jalan dari Metro pukul 17.30. Dengan waktu sesore ini, bus di Metro masih ada tapi hanya sedikit. Tak beruntungnya, saya mendapat bus kecil. AC sih, tapi biasanya lebih besar, yang ini ukuran 25 kalau tak salah kernetnya bilang. Mungkin karena masih lebaran ke 6 hari Senin, bus itu penuh. Tak dapat kursilah awak. Mau tak mau berdiri pula saya di bus. Untung ada koper yang cukup besar, bisa diduduki.