Penulis: Albadr Nasution

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya. Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut: English Formal Informal Informal Possesive I Saya Aku -ku You Anda Kamu -mu He/She/It Beliau Dia -nya We (inclusive) Kita Kita Kita We (exclusive) Kami Kami Kami You (Plural) Kalian Kalian Kalian They Mereka Mereka Mereka Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral. Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya… Jika saya disuruh merevisi tabel …

Diglosia dan Dialog dalam Tulisan

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung sedikit bahwa Bahasa Indonesia dengan mengalami Diglosia dan menyebabkan obrolan dalam tulisan menjadi aneh. Tema untuk lain kali kata saya waktu itu, inilah lain kali tersebut. Pertama-tama, apa itu Diglossia? Saya tidak akan membahas mendalam disini. Semoga dua paragraf ringkas berikut cukup untuk menjelaskan. Intinya, Diglosia adalah kondisi dimana sebuah bahasa memiliki dua ragam yang dipakai secara bersamaan. Umumnya dinamakan dua prestige yang berbeda. Yang satu prestis tinggi, disingkat H. Yang lain prestis rendah, disebut L. Di Bahasa Indonesia bisa dibilang bahasa baku vs bahasa sehari-hari. Saya tidak ingin menyakiti hatimu vs Gue nggak pengen nyakitin hati loe. Bahasa Indonesia masuk ke definisi cetusan Fergusson [1959]. (1) Dua ragam H dan L bahasa Indonesia memiliki fungsi yang berbeda, ragam H untuk yang resmi seperti pendidikan, berita, dan pemerintahan sementara L untuk percakapan kasual seperti ke teman, keluarga, dan masyarakat. (2) Ragam H, dianggap superior, distandarkan, dan diangkat tinggi oleh yang berwenang sementara L dengan cap Bahasa Yang Baik dan Benar, sementara L dianggap bahasa pasar dan haram diajarkan di sekolah. (3) …

Al-al, Bed-bed, Der-der

Bahasa Indonesia punya satu fitur yang unik tentang nama. Di bahasa kita, nama bisa disingkat menjadi hanya satu dua suku kata. Dan ini dilakukan dengan spontan, hampir ke seluruh nama-nama apapun, dan tanpa harus minta izin dulu ke yang punya nama. Misalnya nih, ada orang namanya Yulianto.  Sangat-sangat lazim di orang kita memanggil dia dengan kata “Yul”. Eh Yul-yul, Pak Is ada PR nggak? Hal ini sepertinya juga tidak peduli dengan gelar sebutan Pak Bu Mas Mbak. Memanggil langsung ke orangnya atau ke orang ketiga. Misal di percakapan di atas, Pak Ismadi menjadi Pak Is. Namun, jelas yang paling kerasa adalah kalau memanggil ke orangnya langsung. Anton Ton. Udah makan belum? Fitriana Kemana aja nggak pernah kedengeran Na? Heni Hen, paper udah disubmit belum. Butet Tet, disana tadi saya liat Robert lho. Fikri Fik, kapan maneh beranak lagi? Heru/Heri/Hero Her-her, boleh pinjam Go Pro nggak? Dwi Wi, akhir pekan main ke monas yuk… Yang namanya udah singkat satu kali napas aja masih bisa disingkat tuh, di contoh terakhir. Nama-nama di atas cenderung nama Indonesia sih, tapi …

Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi

Beberapa tahun lalu, saya mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam tulisan. Baik dan benar disini dipandang dari sisi purist kemurnian. Jangan sampai tercampur dengan bahasa Inggris, takut-takur di masa depan jadi Indolish ntar. Kalau ada padanan kata Indonesianya, pakai! Kalau tidak ada, cari! Atau buat! Misalnya beberapa tulisan berikut ini. Pilih Kata yang Indonesiawi bukan Indolish Biasakan Pakai Bahasa Indonesia yang Indonesiawi Di artikel pertama di atas bahkan saya memberi banyak contoh substitusi penyulihan dari beberapa kategori golongan kata. Namun, sekarang setelah saya menjadi ekspat di Jepang, hal itu menjadi sangat sulit dilakukan. Super duper sulit hard chou-muzukashi parah. Sering kali saat soudan konsultasi atau diskusi atau debat, semua bahasa campur baur. Parah. Ada sentence kalimat berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Jepang. Di pikiran juga begitu. Segala konsep di kepala lebur semua di satu wadah, susah dipisahkan lagi. Mendokusai Repot lah ngaturnya. Hal ini juga bisa dilihat di tulisan-tulisan saya dua tahun belakangan. Sekarang saya mengerti titik kritik saya dahulu kala. Kenapa sih pejabat-pejabat itu kalau pidato campur-campur indonesia-inggris? Satu dua kata pakai …

Haimu, Haitsu, Apato, dan Mansion

Saya bingung dengan nama apato saya sekarang. Namanya, サウスハイム, yang kalau diromajikan, yup! Gimana coba? Disitu bingungnya…. Kalau per silabel Jepang sih jadinya SA-U-SU-HA-I-MU. Tiga bulan disini, misterius gimana romajinya. Masih belum kepikiran untuk nyari tahu. Sering kalau nulis alamat saya memakai romaji. Soalnya malas kan nulis kanji, corat coretnya banyak. Tokyo. Meguro. Begitu sampai ke nama apato ini, jeng-jeng… Masa Sauce Hyme, Sausu Haimu, atau Saus Haim. Coba tebak gimana? Karena bingung balik lagi deh saya ke katakana サウスハイム, selalu begitu. Sampai tiga bulan kemudian, saya googling-googling. Pertama googling pakai frasa Inggris yg saya curigai, Sauce Hyme. No good. Keluarnya Sauce Rhyme, itupun nyampah isinya. Terus saya coba pakai yang paling normal, Saus Haim. Muncul kandidat yang sangat bagus. Ada nama kota di utara Perancis, dekat Jerman. Namanya Sausheim. Wah, kandidat yang bagus! Tapi kok ragu kalau yg punya apato ngasih nama dengan kota ini, pernah kesana apa si nenek. Googling lagi deh pakai katakana, biar lebih ketahuan. Banyak ternyata yang pakai nama tersebut. Ratusan. Dari puluhan laman google, cuma satu link yang memberi hint ttg tulisan …

Telepon Umum

Saya kadang menemukan telepon umum di jalan, terawat dan masih berfungsi. Di depan kampus saya TUT ada. Di halaman gedung kantor sekarang juga ada dua. Di dalam kayak gini bentuknya. Retro banget, tapi bersih dari debu. Dan yang penting fungsional, layarnya masih nyala-nyala. Mesin teleponnya menerima kartu telepon dan koin. Saya nggak pernah liat sih seumur-umur kartu telepon itu yang kayak mana. Udah punah kayaknya. Tapi ada lobang koin 10 dan 100 yen, boleh juga. Saya coba iseng nyobain tadi. Masukin koin 10 yen, udah bisa manggil. Nomor yang tertampil di layar No Caller ID. Hmmm…. Sarana bagus buat ngerjain orang? Berarti telepon umum itu nggak di-assign nomor telepon kah ya? Kirain ada lho nomor teleponnya. Di film-film kan sering tuh orang di telpon via telepon umum, disuruh pergi ke telepon umum mana gitu buat kontakan. Film mata-mata sih. Atau itu di barat doang yak? Kalau menurut biro turisme nasional jepang, pakai telepon umum ini 10 yen bisa 57 detik. Lama juga ya… Murah kan berarti yak?  

Kartu Poin

Di Jepang kartu poin itu banyak dan sangat menyebar. Setiap toko punya sendiri-sendiri. Di Indonesia ada nggak ya….
Oh ya, awal-awal saya nggak tahu ini kartu buat apa. Pas tutor nyodorin kartunya ke kasir, saya kira dia bayarin saya atau ngasih saya diskon atau gimana gitu. Jadi saya bilang terima kasih deh.

Susahnya Manajemen Awan

Melanjutkan seri susahnya manajemen berkas dan foto, sekarang saya berlanjut ke awan. Ada banyak layanan penyimpanan web di luar sana. Yang paling terkenal adalah Dropbox, Google Drive, dan One Drive. Tentu saja saya punya akun di ketiganya. Lebih tepatnya, punya beberapa akun di setiap layanan tersebut. Sayangnya, akun yang saya punya akun gratisan, sehingga akunnya memiliki batas. Kalau tidak terbatas, mungkin tidak akan ada masalah manajemen awan untuk dibuat artikelnya. Karena terbatas itu jugalah saya punya beberapa akun di satu layanan… Mungkin. Yang jadi poin utama dari manajemen awan ini adalah akun yang mana enaknya dipakai buat apa. Saya sih umumnya memakai layanan web storage ini untuk back-up file. Namun, karena akun terpisah-pisah, saya jadi bingung file apa ada dimana. Saya harus mereview kembali akun-akun saya tersebut untuk menulis artikel ini. Mungkin di masa depan saya bakal membaca artikel ini supaya tahu file apa ada dimana. Pertama saya punya dua akun OneDrive. Satu pakai email gmail dan yang satu email live. Yang pertama besarnya 15GB dan yang kedua 5GB. Akun yang gmail lebih besar karena dapat …

Susahnya Manajemen Foto

Foto terurut yg disimpan kamera biasanya kita pindah dan ketegori manual lagi ke komputer supaya mudah diakses di masa depan. Yg umum adalah dengan logika event atau lokasi. Namun, bagaimana kalau fotonya nggak masuk ke event atau lokasi manapun? Bagaimana kalau eventnya terlalu besar jadi kebanyakan folder, dan malah susah mencari foto secara logis?

Scam Menang Undian

Pas jaman SMP, saya dan keluarga menerima sebuah scam yang cukup besar dan pintar. Kami tidak menyadarinya waktu itu. Namun, setelah dipikir-pikir besar kemungkinan kalau itu penipuan atau setidaknya trik marketing amoral. Saya tidak begitu ingat detail kejadian. Kira-kira seperti berikut lah ceritanya. Suatu pagi, seorang ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pun mem-pause game Empire Earth dan keluar menyambut sang pengetuk pintu. “Ibunya ada dek?” “Mama lagi tidur kayaknya om. Kenapa?” “Oh… Ini mau nitip surat. Kasihin ke Ibunya ya…” “Surat apa ini om?”‘ “Undangan buat ambil undian. Ajak ibunya ke toko ya dik… Siapa tahu dapat hadiah lho.” “… Nanti ya om. Bilang papa dulu. …” Surat pun saya berikan ke ibu saya dan kemudian dibaca oleh ayah malam harinya. Keesokan hari, karena tidak ada kerjaan, sambil jalan-jalan kami pun mengecek si toko. Pengen tahu, undian kayak apa sih… “Ting teng ting teng,,,, Selamat Adik dapat hadiah peringkat tiga. Microwave terbaru merek XYZ! Hanya seperempat harga! Wow!! Gimana nih bapak ibu? Ajaib banget tangan anaknya nih…” “Microwave ini canggih bapak-ibu. Coba lihat, disini ada 11 …