Penulis: Albadr Nasution

Gimana cara Thanos menyetengahkan populasi??

Seperti yang sudah Anda ketahui, Thanos ingin menyetengahkan jumlah penduduk dunia alam semesta untuk menghindari atau setidaknya meredakan overpopulasi. Dengan demikian, sisa penduduk yang hidup bisa menikmati alam dan kekayaannya lebih baik. Yang saya penasaran adalah, gimana cara si Thanos melakukan hal tersebut. :Lho kok bingung? Kalau lu nonton pilemnya kan jelas, pake inpiniti ston, terus snap! Bukan, bukan. Bukan itunya, tapi bagaimana cara si Thanos memilih siapa yang hidup siapa yang harus mati. :Random kan? Yaaa random, tapi random yang kayak mana gitu loh? Misalnya nih yang paling sederhana aja. Setiap penduduk di alam semesta punya peluang yang sama. P(selamat) = 0,5 Kelihatan adil kan? Tapi dengan begini, apa bisa thanos mencapai tujuannya? When I’m done, half of humanity will still be alive. Di skenario satu ini, peluang hanya setengah penduduk yang dimusnahkan sangatlah kecil. Misalnya nih penduduk dunia ada 2n, kalau dihitung peluangnya adalah: P(separuh selamat) = C(2n,n) / 4^n asymptotic to 1/sqrt(n) Jadi, kalau Thanos tidak hati-hati, bisa jadi lebih dari atau kurang dari separuh yang selamat. Asumsikan Thanos berhasil mengatasi masalah pertama di …

Kenapa Nggak Tutup Puasa Aja?

Sebenarnya udah jelas sih di judul dan gambar di atas. Nggak perlu ditulis artikel lagi sebenarnya. Intinya, saya bertanya-tanya kenapa di bahasa Indonesia disebutnya buka puasa. Bukan tutup puasa. Ada yang tahu? Kalau acara, saat dimulai ada pembukaan, saat berakhir ada penutupan. Kalau film, ada tema pembuka di awal, ada tema penutup di akhir. Kalau manusia, awal hari buka mata, akhir hari tutup mata; lahir buka masa, meninggal tutup usia. Kalau puasa, mulainya namanya sahur, akhirnya eh namanya berbuka. Apa ini maksudnya mulutnya mulai dibuka, boleh dimasukkan makanan. Atau karena setelah maghrib itu, dibukalah batasan yang harus ditahan agar puasa tidak batal? Atau puasa itu ibarat barang baru dibeli gitu ya… Batal (garansinya) kalau dibuka (segelnya). Soalnya Bahasa Inggris kan jelas tuh,break fast, puasanya dirusak/dibatalkan. Atau karena berbuka itu bukan bagian dari puasa? Bukan titik akhir dari puasa, tetapi rentang waktu yang ada setelah titik akhir itu sendiri, yang dipakai untuk makan, makan-makan, dsb. Tidak seperti pembukaan acara dan penutupan acara yang termasuk dari acara itu sendiri. Ini di luar rentang utama puasa, Wah berarti fokus utamanya …

Issuer = Problem Maker??

One time at work, I got a translation question from a colleague. Hey, what is 起票者 [kihyosya] in English? I am working in an ERP company and building a kind of accounting software. The term he mentioned is used for journaling system, roughly means as person who create/fill out/record/prepare a journal entry. If you open Google Translate for 起票者 it will translate to Slip issuance person. So, issuer for short… So I said to them, isn’t it issuer? He (and his other colleague) were staring at me in disbelieve. Issuer? People who make problems?? I was rolling my eyes. Here is the deal. The word issue is also commonly used in Japanese, which means a problem. We are also using redmine internally for ticketing system which uses the word issue in its URL. If anything is managed in redmine, it is problem, only problems. It is quite similar in Indonesian language, right? We have the word isu, and the meaning is near the word problem, though not exactly. In Indonesian isu means gossip or rumor. Interestingly, this nuance is not present from the English word issue. …

Quartz itu bukan merk jam

Di Indonesia, saya sering lihat jam dinding bertuliskan QUARTZ. Dari kecil saya kira itu merk… Setahun belakangan saat saya riset buat beli jam tangan, baru tahu kalau Quartz itu jenis teknologi jam. Jadi ada dua teknologi jam. Quartz atau automatic. Teknologi quartz mengandalkan jumlah getaran pada mineral quartz untuk menggerakkan jarum jam. Supaya bisa bergetar, mineral ini mesti dikasih listrik. Sebaliknya, teknologi “automatic” hanya memerlukan energi potensial dari pegas; namanya automatic tapi sebenarnya mechanical. Jadi kalau punya jam tangan non-Quartz kita harus memutar knop-nya beberapa hari sekali. Nah, jam dinding dengan tulisan QUARTZ itu sebenarnya tak bermerk. Generik. Sama kayak obat. Karena kata “quartz” keren aja, ditaruh disitu.

Saraba… Nomor telponku…

Saya sudah di Jepang hampir lima tahun. Tentu saja saya punya nomor telepon selular Jepang sendiri, karena sangat tidak praktikal untuk tetap memakai nomor telpon Indonesia. Namun, selama ini nomor telpon Indonesia itu tetap saya biarkan hidup. Well, karena semua orang yang saya kenal di Indonesia tahunya nomor itu. Sejak SMA saya pakainya itu. Jadi alangkah elegan kalau nomor tersebut terus saya pakai sampai saya pulang lagi ke Indonesia dan terus selama saya hidup. What a romantist thought. Cara Bertahan Hidup Sebelum berangkat ke Jepang, saya bertanya ke Grapari Telkomsel. Gimana caranya supaya ini nomor hidup terus tapa dipakai di Jepang… Konversi ke Halo aja, katanya… Tapi kalau dari As nggak bisa pakai nomor yang sama, harus ganti yang awalnya 0812 (etc)… -.- Well, that defeat’s the purpose. Ada cara lain nggak? Nggak ada, katanya… Pff… Untungnya, Kartu As itu kalau dipakai sejumlah tertentu, masa aktifnya akan bertambah sebulan. Ya udah manfaatkan gitu aja. Saya isi pulsa terkecil, Rp25.000 dan setiap bulan saya kirim SMS nge-junk satu ke random person. Karena roaming, satu SMS itu aja memakan …

Sssssttt…

Setiap pagi saya mendengar orang Jepang yang baru datang di kantor berdesis ria. Datang satu orang. Ssssttt…. Satu orang lagi… Sssttttts…. Nggak semua sih. Sebagian… Ngapa lah ini orang Jepang pikir saya… Rupanya itu singkatan dari “Selamat Pagi”. Jadi kalau ditulis full begini nih. [Ohayogozaima]sssssttsu. Mungkin karena malu atau gimana jadi awal kalimatnya diucap sirr sama mereka. Atau mungkin biar efisien atau gimana kali. Kalau di Indonesia dibuat seefisien begitu, mungkin kira-kira jadi begini… giii….. Atau begini.. likummm….. Kali yak. Di kantor saya dulu di Nagoya, orang yang berdesis gitu kalau ketahuan Shacho (CEO) bakal dimarahi dan disuruh ulang masuk kantornya. Di depan pintu harus salam pakai teriak, cem tentara. OHAYOUGOZAIMASU! Gitu… Jangan sampe deh.

Nan ya?!

Di dalam semangat nuansa makna, saya baru saja diperkenalkan oleh teman Jepang saya satu komik yang sangat lucu berikut. Hampir semua dialog di komiknya cuma bilang “nan ya” atau variasinya. Dan tentu saja, artinya, atau lebih tepatnya arti dan nuansa di dalamnya berbeda-beda. Komik ini bukan dalam bahasa Jepang standar, melainkan dalam dialek Kansai. Mari kita cek. Kalau di artikan ke bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan kesan yang ada di bahsa aslinya, mungkin kira-kira seperti berikut. Patut di catat bahwa komik bahasa Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri. “Ih, apaan nih?” *ngejek “Apaan loe!?” *nggak terima “Apaan gan… Nggak apa-apa gan….” *menenangkan “Apaan sih?!” *bingung “Loe yang apa??” *nantangin “Apa loe ha!?” *balik nantang “Apa juga ha!?” *gelut “Apa-apaan ini kalian!” *kesel “Ngapa!!???” *nantangin juga loe? “Apaan toohh—-!!” *nggak mudeng “Eh apa tuh?” *nanya sesuatu “Apaan?” *konfirmasi pertanyaan balik “Apaan sih apaan?” *yang lain ikut penasaran “Apa, gelut katanya…”  *terjawab “Oh, kirain apaan.” *kecewa Tamat.

Justifikasi

Awal-awal penulisku mengisi diriku ini, perataan paragraf yang dia gunakan adalah justifikasi. Entah apa itu bahasa Indonesianya? Perataan kiri kanan? Atau perataan aja? Dulu kayaknya dia berpikir kalau justifikasi itu membuat artikel jadi bagus. Kayak koran gitu. Rapih. Cantik. Mungkin lebih mudah dibaca kali ya. Namun ada banyak kelemahan dalam perataan justifikasi paragraf di web. Beberapa malah jadi antitesis dari alasan penggunaan justifikasi di koran. Pertama tengok paragraf yang diset dengan perataan kanan kiri di bawah ini. Paragraf ini diambil dari artikel Logo Provinsi yang merombak seluruh logo provinsi di Indonesia. Cek tengah paragraf, rentang spasinya jadi nggak rata. Aku tadinya mau memdemonstrasikan live dengan paragraf di atas, tapi kan justifikasi di web ini bergantung pada lebar jendela, jadi susah deh ngasih liat sisi jeleknya. Blob di tengah teks ini tentu saja tidak membuat teks lebih mudah dibaca. Pinggir-pinggir rapih sih kesannya cakep, tapi tengah itu lebih penting karena mata manusia mengalir di dalamnya saat membaca. Bukan terpaku di pinggir. Di contoh di atas sih cuma sebaris. Kalau yang muncul berbaris baris? Misal kata yang muncul panjang-panjang. …

Nuance dan Nuansa

Saya bingung, nuance ini bahasa Indonesianya apa ya? Bukannya “nuansa” ya gan? Iya sih itu… Tapi beda deh. Di artikel sebelumnya saya memakai kata nuance dalam bahasa Inggris walaupun saya tahu ada kata nuansa di bahasa Indonesia. Soalnya saya merasa ada nuance di kata nuansa yang membuatnya beda dari kata nuance. Ehm. Maksud saya, kata nuance dalam bahasa Inggris dan kata nuansa dalam bahasa Indonesia itu punya arti yang sedikit berbeda. Mari kita lihat bedanya. nuance a subtle distinction or variationNuances of flavor and fragrance cannot be described accurately … — Scott Seegers… these terms have certain nuances of meaning … — Ben F. Nelms a subtle quality sensibility to, awareness of, or ability to express delicate shadings (as of meaning, feeling, or value) (Merriam Webster Online) nu.an.sa n variasi atau perbedaan yang sangat halus atau kecil sekali (tentang warna, suara, kualitas, dan sebagainya) n kepekaan terhadap, kewaspadaan atas, atau kemampuan menyatakan adanya pergeseran yang kecil sekali (tentang makna, perasaan, atau nilai) (KBBI Daring Badan Bahasa Kemendikbud) Hmm, kalau liat kamus di atas sama kayaknya gan! Nyet nyet nyet.… Saya berani bertaruh kalau si bapak-bapak perumus KBBI …

Collision

Beberapa waktu silam saat saya membahas Jubah, salah satu leluhur tetua daisenpai (bahasa Indonesianya pa ya?) saya berkomentar bahwa agensi pendidikan di Indonesia memaksa semua riset pakai bahasa Indonesia murni. Dan beliau bingung, riset beliau tentang collision analysis ini di Indonesianya apa? Apa ya tubrukan, tabrakan, tumbukan, atau benturan. Spontan saya waktu itu menanyakan balik ‘bukannya “analisa benturan” ya?” ke beliau. Namun setelah dipikir, saya bingung juga. Bisa jadi tabrakan. Di artikel ini saya mencoba membahas dua konsep dalam informatika yang dalam bahasa Inggris memakai kata “Collision”. Walaupun dalam bahasa inggris istilahnya sama, dalam bahasa Indonesia istilah ini harus diterjemahkan menjadi dua kata berbeda. Collision Detection Istilah ini sering dipakai di dunia game, atau lebih tepatnya di dunia grafis. Secara singkat bisa dijelaskan sebagai berikut. Dalam dunia nyata, objek bergerak yang bergerak bisa berinteraksi satu sama lain ketika bersentuhan. Aksi = reaksi. Namun, dalam grafis game hal tersebut tentu saja harus diprogram. Misalnya contoh gambar di bawah, ada kaki mau menendang bola. Si program harus bisa mementukan, dititik mana si bola bakal balik arah. Kotak jingga di bawah adalah …

60 Sapi Apa Yang…

Entah kenapa, joke tebak-tebakan tentang sapi ini yang paling banyak ditemui dan gampang dibikin. Kok bisa ya? Berikut saya mendaftar beberapa yang berhasil saya temukan / pikirkan. Mulai dari yang paling mainstream. Untuk jawaban silakan di-higlight kata setelah pertanyaan. 1. Sapi apa yang jalannya merayap? ::Sapidermen:: 2. Sapi apa yang bisa terbakar? ::Sapiritus:: 3. Sapi apa yang bisa nulis? ::Sapidol:: 4. Sapi apa yang jadi kekasih gelap? ::Oh Sapia…:: 5. Sapi apa yang jalannya cepat? ::Saprint:: 6. Sapi apa yang jalannya lebih cepat? ::Sapida Balap:: 7. Sapi apa yang jalannya lebih cepat tapi nggak capek? ::Sapida Motor:: 8. Sapi apa yang supercepat? ::Sapid Boat:: 9. Sapi apa yang pelit? ::Sapiring Berdua:: 10. Sapi apa yang romantis? ::Sapiring Berdua Sama Kamu:: 11. Sapi apa yang warna-warni? ::Sapidol warna:: 12. Sapi apa yang ada di semua mobil? ::Sapion:: 13. Sapi apa yang menular? ::Sapilis:: 14. Sapi apa yang bau pesing? ::Sapitank:: 15. Sapi apa yang bau tahi? ::Kotoran sapi:: 16. Sapi apa yang bisa untuk bersih-bersih? ::Sapi lidi:: 17. Sapi apa yang bisa nyanyi? ::Sapiul Jamil:: 18. …

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya. Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut: English Formal Informal Informal Possesive I Saya Aku -ku You Anda Kamu -mu He/She/It Beliau Dia -nya We (inclusive) Kita Kita Kita We (exclusive) Kami Kami Kami You (Plural) Kalian Kalian Kalian They Mereka Mereka Mereka Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral. Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya… Jika saya disuruh merevisi tabel …

Diglosia dan Dialog dalam Tulisan

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung sedikit bahwa Bahasa Indonesia dengan mengalami Diglosia dan menyebabkan obrolan dalam tulisan menjadi aneh. Tema untuk lain kali kata saya waktu itu, inilah lain kali tersebut. Pertama-tama, apa itu Diglossia? Saya tidak akan membahas mendalam disini. Semoga dua paragraf ringkas berikut cukup untuk menjelaskan. Intinya, Diglosia adalah kondisi dimana sebuah bahasa memiliki dua ragam yang dipakai secara bersamaan. Umumnya dinamakan dua prestige yang berbeda. Yang satu prestis tinggi, disingkat H. Yang lain prestis rendah, disebut L. Di Bahasa Indonesia bisa dibilang bahasa baku vs bahasa sehari-hari. Saya tidak ingin menyakiti hatimu vs Gue nggak pengen nyakitin hati loe. Bahasa Indonesia masuk ke definisi cetusan Fergusson [1959]. (1) Dua ragam H dan L bahasa Indonesia memiliki fungsi yang berbeda, ragam H untuk yang resmi seperti pendidikan, berita, dan pemerintahan sementara L untuk percakapan kasual seperti ke teman, keluarga, dan masyarakat. (2) Ragam H, dianggap superior, distandarkan, dan diangkat tinggi oleh yang berwenang sementara L dengan cap Bahasa Yang Baik dan Benar, sementara L dianggap bahasa pasar dan haram diajarkan di sekolah. (3) …

Al-al, Bed-bed, Der-der

Bahasa Indonesia punya satu fitur yang unik tentang nama. Di bahasa kita, nama bisa disingkat menjadi hanya satu dua suku kata. Dan ini dilakukan dengan spontan, hampir ke seluruh nama-nama apapun, dan tanpa harus minta izin dulu ke yang punya nama. Misalnya nih, ada orang namanya Yulianto.  Sangat-sangat lazim di orang kita memanggil dia dengan kata “Yul”. Eh Yul-yul, Pak Is ada PR nggak? Hal ini sepertinya juga tidak peduli dengan gelar sebutan Pak Bu Mas Mbak. Memanggil langsung ke orangnya atau ke orang ketiga. Misal di percakapan di atas, Pak Ismadi menjadi Pak Is. Namun, jelas yang paling kerasa adalah kalau memanggil ke orangnya langsung. Anton Ton. Udah makan belum? Fitriana Kemana aja nggak pernah kedengeran Na? Heni Hen, paper udah disubmit belum. Butet Tet, disana tadi saya liat Robert lho. Fikri Fik, kapan maneh beranak lagi? Heru/Heri/Hero Her-her, boleh pinjam Go Pro nggak? Dwi Wi, akhir pekan main ke monas yuk… Yang namanya udah singkat satu kali napas aja masih bisa disingkat tuh, di contoh terakhir. Nama-nama di atas cenderung nama Indonesia sih, tapi …