Bulan: April 2015

The Drink Menu in Japan is So Boooring

I didn’t go to restaurant much in Japan for obvious reason. There are hardly any menu that I can eat for I can only eat halal menu. Therefore, I don’t have any position to write this articles. However, as far for my experience visiting any restaurant in Japan, Japanese – Italian – whatever, halal friendly or not, all you can drink or not, they have very bland drink menu. One should note that, for one who able to drink alcoholic menu, it maybe a heaven. I don’t know for other country, but here is the “standard” menu for drink in any Japanese restaurant. They provide many kind of alcohol. There are chuhai, beer, wine, cocktail, sake, western, and eastern and much more alcohol categories. I don’t even know what they mean or how they differentiate. One of the categories is soft drink, a small category on the corner of the menu. Usually it has only five or so menus. It includes oolong tea, orange juice, cola, and kalpis. Sometimes it has a non-alcohol category besides soft drink. However, it is suspicious …

Satu Buah Mangga dan Bungkusnya

Jadi saya membeli satu buah mangga. Di Jepang, harga mangga tidak wajar. Satu biji bisa mencapai 3000 yen (setara Rp300.000,-). Yang saya nemu ini nggak begitu ‘mahal’, cuma 800 yen saja. Sekali-kali beli lah ya, satu, udah lama nggak makan mangga soalnya. Yang juga agak beda dari Indonesia adalah gaya membungkus si buah. Berikut laporannya. Ngomong-ngomong, kalau Anda belum dengar, katanya orang Jepang saat bungkus membungkus agak overkill. Saya agak kurang bisa membuktikan dan merasakan hal ini sih, agak lebay emang tapi nggak segitunya juga. Misalnya kalau beli gantungan kunci, satu-satu dibungkusi kertas terus dimasuki plastik kecil sendiri-sendiri lalu baru dimasukkan ke kresek bersama. Setidaknya sampai saya membeli satu buah mangga ini. Di kiri atas adalah gambar satu buah mangga yang saya beli di dalam keresek. Kanan atas adalah isi dari kesek tersebut, bungkusan kertas dari mangga yang mungkin saya beli. Singkat cerita, berikut gambar setelah mangga menyeruak total dari sarangnya. Bungkus dari paling luar ke dalam: Kantong keresek plastik untuk membawa Kantong kertas Singgasana Kertas tisu lembut supaya empuk Pembungkus berjarik yang biasa membungkus buah, supaya lebih …

Semua Poster Iklan Jepang Punya Kotak Pencarian (Search Box)

Jika Anda jalan-jalan di Jepang, pastinya dengan kereta (atau bus), silakan mengamati poster iklan yang tertempel disana. Semua poster, atau setidaknya hampir semua, ada kotak search-nya. Ciyus ini… Saya tidak pernah melihat hal ini di iklan cetak Indonesia. Mungkin sayanya yg jarang naik moda transportasi publik di tanah air sih (emg ada transportasi publik disana? angkot?). Yang saya ingat, beberapa tahun terakhir elemen desain yang mulai bermunculan di iklan tanah air adalah logo facebook, diikuti logo twitter, dan disampingnya ada nama username FB/TW dari laman profil perusahaan tersebut. Sama url web dan nomor telpon customer service lah, biar lengkap. Namun, elemen design tadi agak jarang diterumakan di Jepang dan yang wajib bagi iklan cetak disini justru kotak search. Kenapa ya? Menurut saya sih biar gampang mencari info lebih lanjut / website tentang iklan tersebut. Dengan tersedianya kata kunci pencarian unik, calon pelanggan lebih mudah menemukan kembali informasi iklan tersebut di Internet. Apalagi kalau kata kunci didukung SEO terbaik yg membuat web produk pertamax di hasil pencarian. Daripada harus memaksa calon pelanggan mengingat url website, atau telpon, atau nama akun facebook/twitter …

Bungkus iPhone Itu Bahannya Apa Yak?

Saya termasuk orang yang eman membuang sampah kardus khususnya untuk barang elektronik. Waktu di Bandung, bungkus mouse, headset, hape, charger universal, bahkan sampai kardus dispenser pun tersimpan dengan rapi di suatu tempat. Mau dibuang kok rasanya nggak tega. Seolah nanti masih bisa dipakai lagi, untuk apaaa gitu. Sayangnya di Jepang nggak bisa begitu. Soalnya, “apato” (kosan) disini sempit-sempit. Anda bisa googling sendiri bagaimana konsep rumah jepang yang mungil tapi sangat efisien. Orang Jepang juga punya kebiasaan berbeda dengan orang Indonesia tentang barang-barang. Barang kuno sedikit, rusak sedikit, ya lembiru saja: lempar beli baru. No hard feeling. Beda banget dengan kita kan? Kardusnya aja sayang. Makanya gomi-senta (pusat sampah) di kampus sini bisa dibilang adalah toserba bagi orang asing, khususnya saat bulan-bulan kelulusan bagi mahasiswa Jepang (sekitar Maret-April). Dari sepatu, lemari, sampai laptop atau kulkas bisa diperoleh. Yup, orang jepang juga males bawain barang-barangnya saat kuliah balik ke rumah/ ke tempat kerja. Nggak kayak kita yang barangnya digotong atau bahkan dibagi-bagi di FJB ITB (saya). Dan budaya Jepang tadi dimanfaatkan oleh mahasiswa asing untuk menambah aksesori kosan. Setidaknya begitulah …