Bulan: Mei 2016

Orang Jepang itu Demonya Demo-demoan

Jadi, saya menceritakan ttg Demo di Sakae ttg menolak perang dan menurunkan PM Shinzo Abe ke seorang teman Jepang lain. Saya bilang ini kejadiannya “kemarin, hari rabu atau kamis yak…”. Respon pertamanya adalah: Harakeyo… Omaera… Kerja oi… Waktu itu demonya hari kerja sih memang. Sore. Saya juga kebetulan pulang kerja saat lihat mereka lagi pawai. Saat saya tanyakan ttg ini demonya ttg apa sih, kok tolak-tolak perang. Kan Jepang nggak lagi perang. Beliau bilang, “emang orang-orang yang demo ini aja yang bodoh” katanya. Menurut beliau, PM Abe ini niatnya baik, pengen membuat Jepang lebih kuat. Apalagi sekarang Korut sama China makin hari makin serem. Kok malah ditentang. Dasar orang aneh, kata beliau. Yang unik, orang Jepang yang saya ceritakan ini berpendapat ttg demonya orang Jepang. Kalau menurut kita, orang asing, Jepang itu nggak suka demo kan? Jarang dengar demo. Terus kalau demo juga, tenang, atau malah kayak pawai dubsteb biasa, tertib lah. Kok Indonesia nggak bisa gitu ya… Menurut kita-kita. Nah menurut teman saya tadi, Orang Jepang kalau demo ya gitu… Nggak beneran atau Cuma demo-demoan. …

Yamato, Kuroneko Itu Bukan Mail-Service

Suatu hari saya membalas email di kantor. Mengirim laporan bahwa CD sudah saya kirim via pos. Saya menulis dengan kalimat bahasa Jepang berikut. CDは郵送いたしました。 CD sudah saya kirim. Saya menulis begitu karena mengopi paste aja dari yang meminta kirim filenya di CD via pos. 郵送でCDを頂けますでしょうか。 Bisakah mengirim CDnya via pos. Dalam pengertian saya, “kirim via pos” itu ya pengiriman surat konvensional. Yang nggak pake jaringan, fax, dropbox, atau elektronik lainnya. Mau ngirim via Tiki kek, JNE kek, DHL kek, mengirim surat via pos itu ya nggak mesti pake Pos Indonesia. Iya nggak sih? Terus setelah saya lakukan pengiriman via jasa pengiriman Yamato yang (kayaknya) jadi langganan kantor, saya laporan deh, kopas aja kata kerja 郵送 yang mbaknya pake. Soalnya pas ngetik email lupa bahasa jepangnya kirim itu apa. Terus saya diketawin bos saya. Beliau cerita, ngirim sesuatu pakai Yamato atau jasa pengiriman selain JP Post nggak bisa memakai kata  郵送. Yamato nggak termasuk “pos”. Atau lebih strict-nya, mereka bukan layanan surat. Dalam hukum Jepang, mail atau surat cuma boleh dilakukan oleh JP Post saja. Jadi walaupun banyak …

Lampu Merah, Tapi Hijau

Terkadang saya bingung dengan sistem lampu merah di Jepang. Ya ya, kadang dibutuhkan sinyal yang berbeda untuk menunjukkan nggak boleh jalan terus dan boleh belok kanan misalnya. Jadi ada set lampu hijau dengan panah ke kanan nyala di bawah lampu merah utama. Di Indonesia juga ada lampu lalu linta model begini. Nah kalau nyalanya kayak gambar di atas bijimana tuh? Ini perempatan loh ya, jadi semua kemungkinan (lurus, belok kanan, belok kiri) udah tercakup di lampunya. Nggak ada belok serong jadi. Nggak mending pake lampu ijo aja sekalian ya…

Takut Ketemu Agan Lagi

Saat saya S1, saya memiki agan yang sangat unik. Sudah Profesor dan isinya wisdom semua mungkin. Jadi unik. Soalnya jarang profesor di Indonesia kan. Saya bangga dibimbing beliau. Ada plusnya banyak minusnya. Sangat terkenang dalam ingatan. Namun, itu bukan bahasan artikel kali ini. Sebelum wisuda, saya ditawari untuk submit makalah di konferensi di Malaysia. Agak ribet urusan administrasi waktu itu, soalnya udah hampir lulus kan. Konferensi setelah saya lulus. Jadi agak sulit kalau mau dibilang membiayai mahasiswa konferensi. Yap, Indonesia dan birokrasinya yg ga fleksibel juga meliputi ITB. Singkat cerita, saya akhirnya bisa menghadiri konferensi tersebut. Satu dua bulan kemudian, saya ingat hari itu saya di Saraga, lagi nonton pembukaan orientasi mahasiswa sebelum saya dan teman ngumpul makan-makan di bebek garang, tepat sebelum saya menulis artikel kontroversial “OSKM 2013: Jadi Tadi Malam Mahasiswa Baru Itu Shalat Magrib Nggak?“. Agan nelpon. Tumben bangen. Nah, agan ingin paper tersebut disubmit ulang ke jurnal. Oh okee.. Bisa gitu ya… Nggak semudah itu ternyata. Kontennya tentu harus beda, harus lebih komprehensif dan meyakinkan. Tulis ulang seperempat, coba ganti bagian klasifier …

Apato Ini Berpenghuni Ngga Sih?

Genap satu setengah bulan saya pindah apartment ke Nagoya (setengah bulan kok genap). Setelah lulus dari Toyohashi, saya pindah ke Nagoya sini, untuk mencari nafkah. Walau belum ada yg mau dinafkahi sih. Eh. Ehm… Oh ya, apato yang di judul itu artinya apartement. Namun jangan salah, namanya aja yang keren, tapi sebenarnya levelnya sama dengan kosan di Indonesia. Cuma ada dapur dan kamar mandi dalam aja. Nggak sekeren apartement yang di Dago itu lah. Ngomong-ngomong keren, ada dua jenis kamar sewa disini. Apartment dan Mansion. Kocaknya, keduanya nggak sekeren makna kata dalam bahasa Inggris. Dua-duanya sama-sama kosan. Bedanya cuma di jumlah lantai (dan konstruksi) bangunan. Apato atau apartment itu cuma dua lantai maksimal. Dindingnya biasanya kayu. Kalau diketuk sebelah denger. Kalau atas jalan dikit aja, yang di bawah denger. Mansion itu gedung tinggi. Jadi ada beton nya dikit lah. Nggak mesti lebih gahul dari apato. Buktinya, kamar saya sekarang ini masuk kategori mansion tapi dari sisi ukuran dan fasilitas nggak lebih keren dari apato yang di Toyohashi. Apato lama dan mansion baru Dapur sempit. Kamar mandi …

Dokter Tulang di Jepang

Jadi saya cidera tangan saat lomba lari pada perhelatan hebat, War of 5 Kingdoms di Chubu Match kemaren. Detail cerita dari sisi “cidera”-nya sudah saya sampaikan di artikel sebelumnya. Pakai pembuka agak nyeleneh sedikit pula. Di artikel ini saya ingin menceritakan kekaguman saya dengan klinik tempat saya berobat. Saya ke dokter tulang empat kali. Sehari setelah hari H. Tiga hari kemudian. Kemudian dua minggu kemudian. Terakhir satu bulan setelah kejadian. Berkat hoken alias asuransi kesehatan, saya hanya membayar 30% dari harga aslinya. Tidak begitu mahal. Disini semua orang harus daftar asuransi kesehatan (kayaknya sih nggak harus, cuma kok pada daftar semua). Kayak BPJS gitu. Nanti, kalau ke dokter kita dapat potongan. Kalau setahun nggak kepake, nanti dapat cashback kupon belanja. Yang paling mahal yang pertama, saya membayar 4230 yen. Namun, waktu itu saya mendapat periksa rontgen, gips dan perban, plus obat tiga jenis. Jadi wajar agak mahal. Kalau di lihat di bawah, kita bisa menebak pembagiannya. Di tabel ada angka kemudian kani point 点. Tebakan saya sih tiap point itu harganya 10 yen. Coba aja …

Forum 3 Orang 3 Bahasa, 4 Orang 4 Bahasa

Asyiknya berada dalam komunitas internasional adalah bertemu dan berinteraksi dengan warna negara asing. Merasakan bedanya budaya, watak, dan pola pikir berbeda. Juga logat bahasa Inggris yang berbeda. Bahasa Inggris. Yap. Dalam komunitas internasional bahasa Inggris tentu menjadi lingua franca kan, supaya forum bisa saling mengerti satu sama lain. Namun, ternyata dalam praktiknya hal ini tidak selalu jadi patokan. Saya pernah (atau sering) mengalami hal seperti ini. Ada tiga orang beda negara ketemu, tapi tidak punya satu common language. Namun untungnya setiap subset dua orang dari set tiga orang tadi mengerti bahasa satu sama lain. Jadi walaupun cuma tiga orang, ngobrol harus pakai tiga bahasa. Jadi kasusnya begini. Saya orang Indonesia. Imam masjid Toyohashi orang Malaysia. Amir (mantan) masjid orang Pakistan. Saya bisa bahasa Malay, Jepang, dan Inggris, tapi nggak bisa Urdu. Imam bisa bahasa Malay, Urdu, dan Arab tapi nggak bisa Inggris lancar dan zero Jepang. Amir bisanya Urdu dan Jepang. Dan jadilah, Saya-Amir ngobrol Jepang. Saya-Imam cakap Malay. Amir-Imam pake Urdu. Agak repotnya kalau pas becanda jadi ada delay. Harus diulang joke nya dengan tiga bahasa berbeda. …