Bulan: Juni 2012

Apa yang salah dengan kultwit?

Originally posted on >140 characters:
A note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon —at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding. Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau mengubah pendapat orang lain (“mengapa sebaiknya Anda tidak lagi mendukung rencana mempertahankan subsidi BBM”). Tujuan satu kultwit dengan yang lain…

Resepsi Pernikahan Megah Nan Sederhana

Tanggal 9 Juni kemarin, saya dan teman-teman berkunjung ke Bekasi Timur pada acara resepsi pernikahan murabbi kami Aditya Satrya. Kisah perjalanan pergi dan pulang kami sudah saya ceritakan tetapi acara resepsinya sendiri belum saya sampaikan disini. Setelah melihat resepsi pernikahan kak Adit ini, saya jadi berfikir bahwa saya ingin resepsi pernikahan saya seperti ini. Acara yang terbalut dengan hiasan yang tampak mewah walaupun sebenarnya sederhana. Mungkin. Resepsi pernikahan Aditya Satrya dan Listya Citra S. ini diselenggarakan di Gedung OSO Sport, Bekasi Timur. Pertama sampai ke depan gedung ini saya merasakan kesan “wah” karena gedung ini memang cukup terlihat prestis. Di dalam pun, daerah resepsionis gedung tampak tertata rapi. WC gedungnya saja mirip WC di mall (kami langsung mencari toilet untuk cuci muka ketika kami sampai). Intinya saat baru masuk saya merasa masuk ke gedung yang mewah. Setelah mengisi buku tamu, kami masuk ke ruangan utama. Kami langsung disambut oleh hiasan kain berwarna-warni di dekat pintu dan dinding-dinding gedung. Di ruangan utama terdapat dua baris meja berisi makanan prasmanan memanjang mengikuti panjang ruangan. Di tengah terdapat …

Jalan-jalan ke Bekasi Timur ~ Perjalanan Pulang

Seperti layaknya makanan, bukanlah hidangan pembuka yang paling mengesankan. Akan tetapi, hidangan penutup lah yang paling ditunggu-tunggu. Siapa yang tidak menunggu-nunggu waktu pulang coba di dunia ini? Waktu pulang sekolah, pulang kerja, pulang kampung. Kami pun begitu, setelah hampir satu jam di lokasi resepsi kami pun pulang. Ya mau bagaimana lagi, resepsinya juga sudah selesai pukul 14.00 tersebut. Dari gedung OSO Sport kami pun berjalan kaki ke jalan utama tadi (jalan yang bersisian dengan sungai tadi). Cukup jauh. Ya, kayak berjalan mengelilingi kampus UI Depok lah, suasana dan jaraknya. Maklum tidak ada angkutan umum di daerah perumahan Grand Wisata ini. Ojek juga libur. Hal ini membuat kami berfikir: Apakah orang-orang yang merancang perumahan all in one itu tidak memikirkan sarana transportasi di kompleks perumahannya? Apakah mereka memiliki ekspektasi bahwa semua penghuni kompleks punya kendaraan masing-masing? Jangan-jangan bukan anak ITB nih arsiteknya… Kemudian, keadan perumahan yang sepi ini membuat kami bertanya-tanya. Penduduknya saling bersosialisasi nggak ya? Kan rumahnya jarang-jarang… Kayaknya lebih baik buat rumah di desa yang bisa berbaur dengan tetangga dibanding di perumahan mewah begini. …

Jalan-jalan ke Bekasi Timur ~ Perjalanan Berangkat

Hari Sabtu 9 Juni kemarin, saya dan teman-teman berangkat dari Bandung ke Bekasi Timur untuk menghadiri resepsi pernikahan murabbi kami Aditya Satrya. Tidak seperti undangan jauh lain, kami memilih untuk berangkat memakai kendaraan umum. Kenapa? Ya karena tidak bisa nyetir. Akan tetapi, untungnya walaupun capek, saya akhirnya sadar betapa asyiknya terjaga dalam perjalanan jauh seperti ini. Banyak hal dan kejadian yang bisa diamati dan dialami. Maklum, biasanya saya hanya tidur atau terkapar hampir seluruh waktu perjalanan. Kami menunggu bus pengantar kami di persimpangan depan pintu gerbang tol Pasir Koja. Seperti yang kita ketahui bersama, sekarang bus tidak boleh mengetem (menunggu penumpang) di ruas depan muara gerbang tol. Tentu saja supa tidak memacetkan muara tol dan tidak membuat penumpang menunggu lama. Akan tetapi, menaikkan penumpang dari persimpangan terutama saat berhenti lampu merah masih diperbolehkan. Kami memilih naik bus dari persimpangan Pasir Koja ini supaya tidak menunggu bus mengetem lama dibandingkan naik bus dari terminal Leuwi Panjang Bandung. Karena masih ada satu teman dari Cimahi yang belum datang, kami pun menunggu di trotoar persimpangan. Walaupun semua memakai …

Weekly Photo Challenge: Close ~ The Leaves

Close can be interpretated as literal close or close of relationship (as with friends or family). Sara Rosso on her dailypost’s weekly photo challenge’s post cover both aspect with one picture. For this theme, I decided to post photos about the former interpretation with leaves for the sub theme. I found a lot on my database. Well, I mostly taken inanimate object when photographing after all. Here’s some of them.

外れ

残念だけど。。今日ポストはありません。私がこの日を外れしました。ー。- くやしだけど、しかたないです。 過去ものが過去に残されましょ。仕事がまだいっぱいです。だからまえにすすもしよ。。 

Weekly Photo Challenge: Friendship (2) ~ The Friendship Monument

This is my second submission for this week’s WordPress’ weekly photo challenge themed friendship. For the first submission, please head to Weekly Photo Challenge: Friendship that feature my candid picture with friends in various group. This picture below is a monument located in the center of my college’s campus: Bandung Institute of Technology. The monument is called “Friendship Monument”. The text in the monument read “Sekali Teman Tetap Teman” which mean “Once Friend, Forever Friend” in English. Near the monument, there is a pond called Indonesia Tenggelam “sinking Indonesia”. It is featured in my first friendship submission here. Some time ago, we have tradition to throw off a friend to the pond called on his birthday. Everyone catch the birthday person and bring him to the center of campus and swing him off the pond. A truly friendship. You can’t be friend before you play prank to each other, can you? 

Travel Theme: Oceans | Pantai Panjang, Bengkulu

Earth consists water up to it’s 60% area. The water area is called oceans. So, everywhere you go travelling, visiting a nearby oceans (or beach) is a must. In this blog, I have posted almost all of beach (and water body) pictures that I have visited. Because of that, I really really want to go to beach now. Arrghh… Well, maybe these picture below are one of selected few and not so great picture that I left. Pantai Panjang, literally translated be “long beach”, is a tourism site on Bengkulu city, Bengkulu province, Indonesia. Maybe it is called like that because Bengkulu is a long thin province and the beach is extend from end point to end point of the city. Pantai Panjang is facing the Hindian Ocean. That way, the wave here is very big. However, the sight of someone swimming and playing in the water is not that rare. Swimming too far from the land is not recommended though. Inside the beach, there is many attraction. You can find standard beach property such …

Weekly Photo Challenge: Friendship

We have friends everywhere.  Their structure is very complex. There is a group of friends here and there and both of them don’t really have incision. We go with our different persona in front of them. Their purpose and interest maybe different from each other groups but  they are person that always be there when we need them. And of course, we have a bunch of photo to capture our moment and have it last for eternity. In this post, I attach some photo from my different groups of friends for the weekly photo challenge this week. This is I and my friends on the Indonesia Tenggelam (sunken Indonesia) pool on our campus. They are my college friends that came from same region: Lampung. Beneath the pool, we can see a map of South East Asia with Indonesia in green tiles. This is I and my friends when we take a tour to National Monument Indonesia. They are my upperclassmen from my college. I am the person floating in front of the picture.

Reset Data Pabrik

HTC Wildfire S adalah ponsel saya yang ketiga selama hidup saya. Ponsel pertama dan kedua masing-masing bertahan selama 3 dan 5 tahun setelah saya serong ke yang lain. Nah, ponsel yang terakhir ini adalah ponsel pintar pertama saya. Secara spesifikasi, ponsel ini sudah cukup hebat dan memuaskan bagi saya. Layar, kamera, dan sistem operasi Androidnya (+antarmuka pengguna HTC Sense-nya) mantab. RAM, dan prosesor ya lumayan lah. Memang ukurannya yang mungil (hanya 3.2 inch) terasa agak tanggung. Banyak pula kawan yang menyatakan ukurannya tak cocok dengan muka saya (padahal saya kan lumayan imut juga ya? :D). Akan tetapi, kelemahan terbesar ponsel ini adalah kapasitas memori internalnya. Besarnya hanya 150MB. Sebenarnya nilai yang tertulis pada kotak adalah 512MB tetapi setelah dipakai sistem operasi, cache, dll hanya segitulah jatah untuk aplikasi. Ruang ini diperkecil lagi dengan adanya aplikasi bawaan HTC menjadi hanya 120MB. Ukuran memori yang terbatas ini sangat mengganggu terutama karena sebagian besar aplikasi Android dipasang pada memori internal. Secara default begitu. Memang beberapa aplikasi bisa dipindah ke memori luar (eksternal). Akan tetapi, aplikasi tadi juga tetap …

Internet: Three, Axis, Smartfren dan Operator Lain

Sebagai penghuni dunia modern dan mahasiswa Informatika, Internet hampir menjadi kebutuhan primer saya, minimal sekunder lah. Banyak keperluannya misalnya untuk berkomunikasi, mencari berita dan referensi, membuat web, seneng-seneng, dan yang terpenting untuk menulis blog ini. Nah, orang yang ingin berinternet itu mau tidak mau harus punya modem (KBBI : modulator dan demodulator yg terpasang pd telepon untuk mengubah informasi digital ke dl bentuk suara dan sebaliknya). Pertama saya hanya mengandalkan internet di kampus. Jaringan disana sangat memuaskan. Kecepatannya koneksi ke luarnya rata-rata dunia (sekitar 3 Mbps). Maklum jaringan internet ITB konek langsung ke Jepang sana. Ditambah lagi banyak konten bagus di situs internal kampus. Siap unduh bergiga-giga layaknya kopi dari harddisk ke harddisk. Film, anime, dan manga tontonan mingguan. Mantab! Smart Namun, saya merasa lama-kelamaan repot juga mesti ke kampus kalau mau menikmati akses internet. Akhirnya sekitar tahun 2009 akhir saya membeli modem CDMA. Waktu itu CDMA khususnya operator SMART lagi populernya. Jaringan baru lebih cepat. Di web internal kampus (sebut saja rileks) ada tawaran modem Haier CE100 dari sesama mahasiswa. Beberapa yang sudah mencoba …

Mana Komunitas Blog ITB?

Saya agak heran. Kenapa ya di ITB tidak pernah terdengar adanya komunitas para blogger ITB? Apalagi di STEI. Tidak ada aggregator penghubung portal-portal milik keluarga ITB umumnya STEI khususnya. Jangan itu, website atau setidaknya blog IF (atau HMIF) saja tidak ada. Informatika padahal, yang paling dekat dengan dunia web. Sebegitu malaskah anak ITB menulis?