Cerita Jepang, Sosial Politik
Tinggalkan sebuah Komentar

Irama Merah Hijau di Jalan Raya Jepang

Salah satu yang membuat saya kagum di jalan raya Jepang selain taatnya pengemudi dan penumpang dengan aturan lalu lintas, jarangnya klakson dibunyikan, dan tidak menantangnya menyetir di sini adalah irama lampu merah dan hijau.

Jepang memiliki jaringan transportasi kereta yang sangat mengakar hampir ke seluruh bagian negaranya. Ditambah lagi di kota besar, setiap titik keramaian dan kependudukan pasti memiliki stasiun yang dapat dijangkau dengan kaki. Dengan demikian, penduduk terutama orang asing akan sangat jarang berada di jalan raya baik sebagai pengemudi atau penumpang. Bus? Enakan kereta lah yaw… Oleh karena itu, kami atau setidaknya saya tidak tahu seberapa liar negara ini memelihara yg namanya “macet”. Mungkin ada, tapi tidak pernah terasa bagi kami. Negligible.

Meskipun demikian, bagi orang yang hidup sedikit jauh dari keramaian kota, seperti Toyohashi misalnya, mobil menjadi cukup vital. Daerah dengan kepadatan penduduk rendah seperti ini tidak memiliki jaringan kereta seekstensif kota besar. Bus menjadi transportasi publik utama. Sayangnya di Toyohashi, pusat jaringan bus adalah di pusat kota tepatnya di Stasiun Toyohashi. Jadi, untuk berjalan dari titik satu ke titik lain di dalam kota yang jalur busnya berbeda harus melewati dan transfer di stasiun dulu. Mahal! Mobil itu sangat vital disini, apalagi jika ada acara makan-makan atau kegiatan PPI. Ndak ada mobil, acara bisa terancam.

Intinya, orang asing yang tinggal di “desa” seperti kami lebih pengalaman dengan lalu lintas Jepang di banding orang asing di kota.

Kembali ke topik, di kota-kota di Jepang ada banyak sekali persimpangan jalan. Tentu saja hampir di setiap simpang ada zebra cross nya. Jika ada lampu merah, itu berarti pejalan kaki dan pengendara harus tunduk pada rambu. Jika tidak ada, pengendara harus tunduk pada pejalan kaki.

Nah, yang saya kagum adalah walaupun simpang sangat banyak, hal ini tidak terlalu menghambat laju kendaraan. Hal ini berkat rentetan lampu lalu lintas di setiap persimpangan yang secara ajaib berkolusi satu sama lain sehingga irama merah hijau indah terlihat.

Ehm, maksud saya, perhatikan gambar di bawah. Kalau satu merah, sampai ke lampu merah di cakrawala sana juga merah.

Merah Berturut

Merah Berturut

Kemudian, kalau satu hijau, lampu lalu lintas setelahnya hingga di ujung sana juga hampir dapat dipastikan juga hijau. Dengan demikian, kalau tujuan Anda adalah lurus tinggal tancap gas sedalam-dalamnya saja.

Special Note: Orang sini kalaupun lampunya hijau tapi kalau melihat ruas jalan di depan tidak memiliki ruang yg cukup untuk mobil/busnya tidak akan maju. Kalau orang kita, pasti udah menghalangi perempatan tuh.

Fun Note: Street car juga tunduk pada rambu lalu lintas. Makanya mendingan busway di Jakarta itu dikonvert jadi trem aja semua biar ga ada pengendara lain yg berani make jalurnya. Berani gitu? Nyetir di atas rel kereta api…

Sesaat kemudian, hijau berturut

Sesaat kemudian, lampu hijau hingga ujung mendominasi

Nah, yang saya heran kenapa hal sederhana tetapi sangat membantu ini tidak diterapkan di Indonesia. Saya tidak tahu, mungkin juga sudah diterapkan tetapi saya saja yang tidak pernah liat. Atau sudah diterapkan tetapi pengendara tidak ada yang patuh atau jumlah kendaraan yang ada sudah tidak mempan lagi dengan strategi beginian.

Yang jelas, selama saya di Bandung saya pakai motor, saya tidak pernah melihat ada teknologi seperti ini. Misalnya saja, di bawah jembatan pasopati dengan persimpangan D.A.G.O, ada tiga perempatan berturut yang masing-masing punya lampu lalu lintas. Nah, sangat jarang disana saya dapati ketiga lampu disana hijau atau ketiganya merah. Pasti kena trap salah satu deh.

Pastinya, konsep seperti ini harus ada riset yang mendalam ttg irama yg pas dan tentunya integrasi lampu merah satu kota. Apakah karena risetnya susah ya? Atau mungkin topologi jalan di Jepang umumnya grid “kotak-kotak” murni, kalau di Indonesia lebih rumit kesana kemari? Entahlah… Ada yang tahu?

Yang jelas, kalau disini melihat pergantian deretan merah menjadi deretan hijau layaknya bidak otello kita dimangsa dari ujung ke ujung, sederhana tetapi mengagumkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s