Cerita Jepang
Comments 2

Bungkus iPhone Itu Bahannya Apa Yak?

Saya termasuk orang yang eman membuang sampah kardus khususnya untuk barang elektronik. Waktu di Bandung, bungkus mouse, headset, hape, charger universal, bahkan sampai kardus dispenser pun tersimpan dengan rapi di suatu tempat. Mau dibuang kok rasanya nggak tega. Seolah nanti masih bisa dipakai lagi, untuk apaaa gitu.

Sayangnya di Jepang nggak bisa begitu. Soalnya, “apato” (kosan) disini sempit-sempit. Anda bisa googling sendiri bagaimana konsep rumah jepang yang mungil tapi sangat efisien.

Orang Jepang juga punya kebiasaan berbeda dengan orang Indonesia tentang barang-barang. Barang kuno sedikit, rusak sedikit, ya lembiru saja: lempar beli baru. No hard feeling. Beda banget dengan kita kan? Kardusnya aja sayang. Makanya gomi-senta (pusat sampah) di kampus sini bisa dibilang adalah toserba bagi orang asing, khususnya saat bulan-bulan kelulusan bagi mahasiswa Jepang (sekitar Maret-April). Dari sepatu, lemari, sampai laptop atau kulkas bisa diperoleh. Yup, orang jepang juga males bawain barang-barangnya saat kuliah balik ke rumah/ ke tempat kerja. Nggak kayak kita yang barangnya digotong atau bahkan dibagi-bagi di FJB ITB (saya). Dan budaya Jepang tadi dimanfaatkan oleh mahasiswa asing untuk menambah aksesori kosan.

Setidaknya begitulah sampai tahun kemaren yg mengubah segalanya. Orang asing mengambil sampah besar (mesin cuci kali ya, ndak tahu) yang sudah ditandai akan diambil petugas. Tanda itu bermakna kalau si pemilik sampah besar membayar untuk membuang sampah tersebut. Universitas ngamuk deh… Not to mention, beberapa oknum tidak merapikan lagi kotak sampah tersebut setelah membongkar-bongkarnya. Hm.. hm…

Sekarang crime untuk mengambil dan membuang sampah disana, bagi non-penghuni asrama. Hiks, jadinya saya belum pernah merasakaan belanja gratis di toserba gomi-senta deh.

Akhirnya nulis lagi…. Hore!! Udah lama pengen lanjut tapi mandeg karena cerpen yg satu lagi, suplemen dari artikel terpos sebelum ini: Kilas, nggak selesai-selesai. Nulis cerpen susah buanget loh walau di kepala sudah jelas terbayang. Move-on, disela artikel lain nggak apa deh. Toh, sudah jauh lewat jadwal. Even pelatar cerita sudah berlalu. Cari tanggal lain.

Ehm. Kembali ke topik artikel.

Jadi, karena apato saya sempit (nggak sebegitunya juga sih, mahalan apato yg ini ^^), saya sedikit merapikan almari kloset. Ada teman yg mau titip barang soalnya; nggak kira-kira, 4 tas. Beberes, saya nemu deh banyak kardus elektronik begituan, nggak sebanyak di Bandung tentunya.

Di Jepang, sampah harus dipilah-pilah sebelum dibuang. Jadi kalau bungkus earphone kan ada bagian yang plastik ada yang kertas. Nah itu dipisah dan dibuang ke kotak sampah yang berbeda. Wajib. Saya nemu 2 atau 3 kardus semacam ini.

Menyerong dari topik lagi, saya juga nemu sampah kuitansi belanja. Saya dulu punya kebiasaan nyimpenin ginian, pembukuan keuangan pribadi. Bahkan sampai instal Wally di iPhone, buat nyatetin tadi belanja apa. Akhir bulan ketahuan deh berapa total pengeluaran. Sayang, setelah 6 bulan kok makin males.

Benda lain yang saya nemu bersamaan dengan sampah kuitansi belanja tadi adalah bungkus iPhone. Bagi yang nggak tahu kayak apa, bisa dilihat pada gambar di atas dan di bawah.

Yang bingung adalah benda ini sampah apa ya? Kok keras-keras kayak kayu atau plastik gitu.

Sedikit googling bisa ketemu sih, katanya bahannya berupa fiberboard 121g, polysterene 25 g, dan plastik lain-lain 2 gram. Cuma tetep aja nggak ngerti jadi itu sampah apa? Buang ke gomi jenis apa enaknya…

By the way, ini bungkus super durable bro… Ditimpuk pake ini sakit seriusan. Kalau kena ujungnya bisa luka kayaknya. Bahkan, kotak ini bisa tahan dengan berat manusia di bidang vertikalnya. Hm…

Enaknya dibuang kemana ya? Moeru (terbakar) atau moenai (tak terbakar)? Plastik atau sampah kertas? Atau malah PET, ada polysterene nya lho! Atau disimpan, dijadikan ganjel pintu / celengan aja?

By the way 2.0, ini nemu di situs sebelah.

5 juta bungkus iPhone = 11.000 pohon

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s