Bulan: Juli 2017

Sssssttt…

Setiap pagi saya mendengar orang Jepang yang baru datang di kantor berdesis ria. Datang satu orang. Ssssttt…. Satu orang lagi… Sssttttts…. Nggak semua sih. Sebagian… Ngapa lah ini orang Jepang pikir saya… Rupanya itu singkatan dari “Selamat Pagi”. Jadi kalau ditulis full begini nih. [Ohayogozaima]sssssttsu. Mungkin karena malu atau gimana jadi awal kalimatnya diucap sirr sama mereka. Atau mungkin biar efisien atau gimana kali. Kalau di Indonesia dibuat seefisien begitu, mungkin kira-kira jadi begini… giii….. Atau begini.. likummm….. Kali yak. Di kantor saya dulu di Nagoya, orang yang berdesis gitu kalau ketahuan Shacho (CEO) bakal dimarahi dan disuruh ulang masuk kantornya. Di depan pintu harus salam pakai teriak, cem tentara. OHAYOUGOZAIMASU! Gitu… Jangan sampe deh.

Justifikasi

Awal-awal penulisku mengisi diriku ini, perataan paragraf yang dia gunakan adalah justifikasi. Entah apa itu bahasa Indonesianya? Perataan kiri kanan? Atau perataan aja? Dulu kayaknya dia berpikir kalau justifikasi itu membuat artikel jadi bagus. Kayak koran gitu. Rapih. Cantik. Mungkin lebih mudah dibaca kali ya. Namun ada banyak kelemahan dalam perataan justifikasi paragraf di web. Beberapa malah jadi antitesis dari alasan penggunaan justifikasi di koran. Pertama tengok paragraf yang diset dengan perataan kanan kiri di bawah ini. Paragraf ini diambil dari artikel Logo Provinsi yang merombak seluruh logo provinsi di Indonesia. Cek tengah paragraf, rentang spasinya jadi nggak rata. Aku tadinya mau memdemonstrasikan live dengan paragraf di atas, tapi kan justifikasi di web ini bergantung pada lebar jendela, jadi susah deh ngasih liat sisi jeleknya. Blob di tengah teks ini tentu saja tidak membuat teks lebih mudah dibaca. Pinggir-pinggir rapih sih kesannya cakep, tapi tengah itu lebih penting karena mata manusia mengalir di dalamnya saat membaca. Bukan terpaku di pinggir. Di contoh di atas sih cuma sebaris. Kalau yang muncul berbaris baris? Misal kata yang muncul panjang-panjang. …