Bulan: Maret 2016

Tottori Sand Dune Museum ala Rusia

Kalau bicara gurun, kita pasti teringat dengan negara satu ini. Yap! Mana lagi kalau bukan RUSIA! Itulah tema yang saya dapati ketika berkunjung ke museum buki pasir Tottori tahun baru 2015 silam. Jadi ya bukan karena deket gurun jadi temanya Russia. っていうか。。。Russia kan negeri es! Bukan gurun! Di museum ini ternyata tiap tahun ganti tema. Mungkin biar pengunjung tidak bosan-bosan datang kesini kali ya. Di setiap tema, pemahat pasir dari seluruh penjuru dunia diundang untuk membuat dan memamerkan karyanya disini. Pahatan pasirnya super-super… Sangat intricate… Udah bukan lepel bikin istana di tepi pantai lagi. Karena susah jelasin, saya beri cuplikan foto dengan minim penjelasan ya. Seeing is believing right? Galerinya sangat luas dan dipenuhi oleh pahatan pasir raksasa. Setiap pahatan ini nggak boleh dipegang lho ya… Namanya aja Rusia, nggak terlewatkan dongnya boneka yg satu ini. Wait, gambar di kanan itu apaan?   Kebanyakan bertema tentang kehidupan Rusia, sejarah Rusia, dan christianity. Eh ya jangan lupa, Rusia ya Yuri Gagarin!!! Dan Kremlin! Tidak lupa juga tentunya dengan Kolam di Kremlin. Oh ya di luar musem …

Tottori Sand Dune, Gurun di Pinggir Laut

Pengen liat onta? Pengen ke gurun tapi males merasakan panas? Tottori ini lah jawabannya…! Asal jangan datang kesini saat musim panas saja. Tottori Sand Dune adalah taman nasional di sisi utara kota Tottori, Prefektur Tottori. Kota Tottori sendiri lumayan rapi. Sekitar stasiun terdapat lorong-lorong pertokoan dan penjual makanan. Juga ada monumen yang lumayan untuk berfoto ria. Dari stasiun ke gurun harus menggunakan bus. Saya lupa berapa ongkosnya, tidak mahal. Perjalanan sekiat 20 menit. Kami berhenti di stasiun agak jauh dari lokasi gurun. Pinggiran lah… Harus jalan lagi 10 menit untuk mencapai “pintu masuk” si gurun. Kami menemukan museum sand dune dahulu dan mengecek pameran Pahatan Pasir Ala Rusia disana. Keren juga… Dari atas museum tampak gurun pasir terhampar hingga ke pantai di cakrawala. Wahh… Pengen kesana…Hari itu agak gerimis. Tapi kan ini gurun! Daijoubu daro… So, kami mencari “pintu masuk” terdekat. Cari aja gerbang yang banyak pasirnya… Lalu langsung berlarian di dalam gurun. Bersikap seperti seolah-olah kecapean, kepanasan, kurang air. Kayak di Lawrence of Arabia gitu… By the way, cek foto di atas. Banyak yang dilarang …

Kanazawa: Kastil Bersalju, Taman Kenroku, Museum Aneh, dan Stasiun Modern

Impresi saya setelah ke Kanazawa City adalah kota ini, keren. Benar-benar tempat wisata deh ini. Bus dilengkapi dengan GPS yang bisa dilihat lokasinya dari halte. Lokasi wisata tergambar jelas di peta kota dan jalur bus. Kastilnya rapi dan cantik. Tamannya hijau dan asri. Terdapat kota kuno dengan rumah-rumah tradisional Jepang zaman dulu. Stasiunnya modern. Kami padahal cuma sehari ke kota ini. Yang membuat kami agak menyesal karena tidak sempat menyusuri situs yang betebaran di peta jalur bus tadi. Btw, foto di atas adalah foto pintu masuk ke kawasan Kastil Kanazawa. Sayangnya, untuk mencapai Kanazawa dari daerah Aichi, ataupun Tokyo, cukup butuh perjuangan, apalagi untuk budget traveler seperti kami. Dengan tiket 18 kippu kami hanya bisa memakai kereta lokal yang sangat memakan waktu. Melewati daerah Nagano dan Toyama, kereta ini lambat. Kami waktu itu berangkat dari Matsumoto sore hari, sampai di Kanazawa sekitar jam 9 malam. Kereta JR lokal yang kami tumpangi interiornya tidak pernah kami lihat di Aichi ataupun Tokyo. Sekarang kalau tidak salah, jalur ini sudah bukan milik JR lagi. Sehingga, kalau mau ke …

Para Pengetuk Pintu

Di Jepang saya merasa banyak orang-orang mengetuk pintu saya. Tidak seperti di Indonesia. Yang saya ingat cuma pengemis dan pengamen saja. Ya mungkin tambahannya mbok jamu atau sales Tianshi. Berikut saya daftar para pengetuk pintu tersebut. Supaya teman-teman bisa bersiap-siap jika ada ketukan pintu atau dering bel. Catatan, tadinya mau ngasih judul Para Pengetuk Tobira, biar jadi PPT. Tapi kok alay ya… NHK Pengetuk pintu yang satu ini adalah yang paling ingin dihindari oleh semua orang. Terutama bagi pemilik televisi. Setara dengan rentenir, mereka ini akan memaksa Anda untuk bayar ‘upeti’ atas tivi yang Anda miliki. Ada dengar cerita dari teman Jepang, ada kasus bahwa memiliki komputer juga dikenai pajak pertelevisian. Jadi teman saya itu menyarankan, saat bertemu om-om NHK ini jangan juga mengaku punya PC. Memang dalam undang-undangnya cakupan si pajak ini sangat-sangat luas. Jadi hanya dengan punya alat yang bisa menerima saluran televisi, apapun alatnya, juga dilingkupi oleh undang-undang tersebut. Technically, kalau bisa akses tivi lewat internet hape pun bisa kena si pajak. What a stupid law. Setahu saya, Inggris dan Jepang yang masih …

Dear Tribun

Sudah lama mau awak tanyakan dari dulu. Apa lah ini rupanya? Dimana-mana awak jumpanya bènda ini. Gaya kali macamnya surat kabar ini. Panjang bètul rupanya artikèl awak ya? Sampai berderet-deret nombor halaman kow itu. Tak capèk rupanya reportèr awak tulis sepanjang itu. Tapi kutèngok, tak pula panjang-panjang artikèl kow itu. Apa pulanya bah? Tiga ampat paragraf sudah awak potong. Paragraf pun kau pendek-pendek! Tak ada lah bobotnya kutèngok. Kupaksa baca pun, diulang-ulang rupanya isi berita kow. Tak ada kontennya pun. Dear investor tribun, Saya merekomendasikan Anda untuk mengaji ulang proposal konstiuen Anda tersebut. Sebaiknya jangan langsung mempercayai angka view count yang pihak redaksi Tribun presentasikan pada rapat investor. Ada harus punya pemahaman bahwa sublaman tadi adalah keputusan bodoh dan menjadi indikasi besar bahwa semua angka itu adalah mark-up. Tidak merepresentasikan realita pengunjung ke situs Anda yang sebenarnya. Mark-up yang sistemis demi membohongi diri sendiri. Atau membohongi Anda-anda ini. Jika ingin mendekati angka sebenarnya, ada baiknya Anda bagi nilai yang mereka sampaikan dengan faktor tiga atau empat. Namun, jika ingin lebih tepat dan ilmiah, saya sarankan untuk membangun crawler sederhana untuk situs Tribun. Cukup satu …