Month: Mei 2018

Gimana cara Thanos menyetengahkan populasi??

Seperti yang sudah Anda ketahui, Thanos ingin menyetengahkan jumlah penduduk dunia alam semesta untuk menghindari atau setidaknya meredakan overpopulasi. Dengan demikian, sisa penduduk yang hidup bisa menikmati alam dan kekayaannya lebih baik. Yang saya penasaran adalah, gimana cara si Thanos melakukan hal tersebut. :Lho kok bingung? Kalau lu nonton pilemnya kan jelas, pake inpiniti ston, terus snap! Bukan, bukan. Bukan itunya, tapi bagaimana cara si Thanos memilih siapa yang hidup siapa yang harus mati. :Random kan? Yaaa random, tapi random yang kayak mana gitu loh? Misalnya nih yang paling sederhana aja. Setiap penduduk di alam semesta punya peluang yang sama. P(selamat) = 0,5 Kelihatan adil kan? Tapi dengan begini, apa bisa thanos mencapai tujuannya? When I’m done, half of humanity will still be alive. Di skenario satu ini, peluang hanya setengah penduduk yang dimusnahkan sangatlah kecil. Misalnya nih penduduk dunia ada 2n, kalau dihitung peluangnya adalah: P(separuh selamat) = C(2n,n) / 4^n asymptotic to 1/sqrt(n) Jadi, kalau Thanos tidak hati-hati, bisa jadi lebih dari atau kurang dari separuh yang selamat. Asumsikan Thanos berhasil mengatasi masalah pertama di …

Quartz itu bukan merk jam

Di Indonesia, saya sering lihat jam dinding bertuliskan QUARTZ. Dari kecil saya kira itu merk… Setahun belakangan saat saya riset buat beli jam tangan, baru tahu kalau Quartz itu jenis teknologi jam. Jadi ada dua teknologi jam. Quartz atau automatic. Teknologi quartz mengandalkan jumlah getaran pada mineral quartz untuk menggerakkan jarum jam. Supaya bisa bergetar, mineral ini mesti dikasih listrik. Sebaliknya, teknologi “automatic” hanya memerlukan energi potensial dari pegas; namanya automatic tapi sebenarnya mechanical. Jadi kalau punya jam tangan non-Quartz kita harus memutar knop-nya beberapa hari sekali. Nah, jam dinding dengan tulisan QUARTZ itu sebenarnya tak bermerk. Generik. Sama kayak obat. Karena kata “quartz” keren aja, ditaruh disitu.

Saraba… Nomor telponku…

Saya sudah di Jepang hampir lima tahun. Tentu saja saya punya nomor telepon selular Jepang sendiri, karena sangat tidak praktikal untuk tetap memakai nomor telpon Indonesia. Namun, selama ini nomor telpon Indonesia itu tetap saya biarkan hidup. Well, karena semua orang yang saya kenal di Indonesia tahunya nomor itu. Sejak SMA saya pakainya itu. Jadi alangkah elegan kalau nomor tersebut terus saya pakai sampai saya pulang lagi ke Indonesia dan terus selama saya hidup. What a romantist thought. Cara Bertahan Hidup Sebelum berangkat ke Jepang, saya bertanya ke Grapari Telkomsel. Gimana caranya supaya ini nomor hidup terus tapa dipakai di Jepang… Konversi ke Halo aja, katanya… Tapi kalau dari As nggak bisa pakai nomor yang sama, harus ganti yang awalnya 0812 (etc)… -.- Well, that defeat’s the purpose. Ada cara lain nggak? Nggak ada, katanya… Pff… Untungnya, Kartu As itu kalau dipakai sejumlah tertentu, masa aktifnya akan bertambah sebulan. Ya udah manfaatkan gitu aja. Saya isi pulsa terkecil, Rp25.000 dan setiap bulan saya kirim SMS nge-junk satu ke random person. Karena roaming, satu SMS itu aja memakan …