Dunia Maya
Tinggalkan sebuah Komentar

I Love You, Ine…

Singkat cerita… Internet saya di apartemen (baca: kosan) mati. Dari hari Senin. Yah, saya gak bisa begitu banyak protes sih mengingat bahwa internet di apartemen ini gratis sebagai servis dari pemilik apato (baca: bu kos). Daya jual untuk menarik lebih banyak penghuni. Awal-awal saya pikir cuma sementara saja, eh ditinggal sampe Selasa kok masih ga mempan. Kabelnya kah, coba 4 kabel lain juga sama, ga nyala, maklum saya menyimpan banyak barang aneh-aneh komunitas PPI disini. Akhirnya Rabu masih juga, malamnya cek di kamar teman sebelah ternyata bisa! Jadi bukan salah laptop dan kabel saya. Ya udah, telp besok deh Kamis, mungkin 2 hari sembuh ya. Seenggaknya Sabtu udah bisa main lagi. Hmf,,

Don’t get me wrong. Of course, I can live without Internet. Maybe. Hanya saja rasanya ada yang kurang di hati. Tidak ada tempat merebahkan kepala, menenangkan hati, dan menghibur gundah. Mengingat background saya teknik informatika (atau komputer sains), Internet bisa dibilang darah dan daging. Mungkin seperti pelukis dan cat minyak atau pelari dengan ekstra joss kali ya. Namun, analogi ini tentu saja sangat tidak tepat karena ketergantungan thp internet tidak bergantung pada bidang kerja. It’s just a blatant lie. Saya mau akses internet di rumah buat nonton anime…

Kebiasaan di Jepang adalah menyingkat kata. Apartemen jadi apato. Television jadi terebi. Convenient store jadi konbini. Internet jadi netto, jadi panjang, 3 suku kata gara-gara Jepang ga punya akhirkan mati. Saya tulis disini ine saja lah yg lebih singkat dan terdengar lebih ‘seksi’.

Kamis siang sekitar jam 1 saya pun menelepon pengurus apato, Nisho. Mungkin harus diceritakan di artiken terpisah, tapi intinya, apato di Jepang pada umumnya menyerahkan segala urusan pemasaran, manajemen, dan administrasi ke agen. Apato saya nama agennya Nisho. Bilang dari Senin ga nyala, dah tes ini itu, enaknya gimana ya? Si agen yg menerima telp saya langsung kontak provider ine di apato ini (sebelumnya mamas Nisho meminta izin dulu tentunya nomor saya boleh di kasih tahu ke mbak-mbak ine nggak). Dan tidak sampai 30 menit, customer service dari provider ine tersebut menelpon saya.

Kemungkinan besar ‘kikai’ nya mesinnya yg bermasalah, katanya. Oh no, kikai saya nggak masalah kok. Langsung saya membela diri. Eh ternyata maksud beliau bukan mesin alias laptop/reuter/kabel saya tapi mesin yang ada di apato. Jadi mereka minta izin buat datang ke apato dan malam sekitar jam 10 cek ine nya sudah nyala belum. Tentu saja saya izinkan.

turn-on-sharing-e1348134785139

Malam sekitar jam 9-an, laptop secara default terhubung dengan kabel LAN tetapi tanpa koneksi. Saya lagi berusaha buka halaman di Chrome hape yg luambatnya minta ampun (Sama kayak 3G indonesia lah. Padahal LTE. Lambat karena hari Senin saya abuse buat buka Youtube, mgkn jatah 7GB nya habis). Eh, tiba-tiba pesan “Do you want to turn on sharing …” muncul. Waw,,, Waw,, Histeris saya…

Cek di luar juga, di dinginnya malam musim dingin hingga minus 5 derajat, di ujung gedung tampak mobil mencurigakan. Mobil minivan. Bak belakang terbuka (padahal kan dingin). Kayak lagi gulung kabel. Sekitar beberapa menit kemudian, si ine kembali mati dan hidup lagi. Sampai jam 10 akhirnya beliau stabil. Ah, yokatta…

Pelayanan di Jepang emang mantab. Salut. Setengah hari doang, respon kilat. Padahal ga bayar.

Oh, welcome back my cute ine. I love you…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s