North Sumatera
Comments 5

Mengintip Bandara Kualanamu Dari Dekat (bagian 2 dari 2)

Suasana Ruang Tunggu Kualanamu. Cozy.

Sebelum ini, saya melaporkan hasil intipan saya ke Bandara Internasional Kualanamu alias KNIA pada saat saya datang ke sana (untuk pulang kampung. Laporan tersebut difokuskan kepada landasan saat mendarat, garbarata dan anjungan kedatangan, dan situasi taman dan tol di luar bandara. Waktu itu saya datang siang pukul 13 jadi fotonya cerah.

Gerbang depan bandara kualanamu di malam hari

Gerbang depan bandara kualanamu di malam hari

Kali ini saya akan melaporkan hasil intipan saya pada saat saya pulang. Dengan demikian, fokus laporan ini adalah anjungan keberangkatan dari KNIA. Waktu itu pesawat saya berangkat jam 5 subuh, jadi maklum kalau fotonya gelap-gelap. Sebelum itu saya juga ingin sedikit menceritakan situasasi jalan (dan daerah) sekitar bandara. Terutama jalan (arteri) yang meghubungkan antara bandara ke dunia luar.

Seperti artikel sebelumnya, akan ada banyak foto di artikel ini. Jadi harap maklum kalau lambat di-load. Tapi tenang, fotonya sudah dikecilkan semua kok jadi harusnya sih cepet.

Meninggalkan dan Menuju Kualanamu

Jalan Tol Medan Kualanamu baru dicanangkan operasional tahun 2014. Lalu, bagaimana cara keluar dari Kecamatan Kualanamu ini? Di depan bandara, jalan yang menyatu ke tol bandara, adalah jalan menuju jalur lintas di Deli Serdang sana. Sebut saja jalan ini jalan arteri (Begitu kata media-media, walaupun setelah saya lihat tidak sekecil namanya kok. Arteri kan kecil. Tapi ini jalannya besar, jalur dua pula).

Jalan arteri ini cukup mulus selayaknya jalan tol. Jalur ini adalah jalur dua walaupun sempat menyatu tepat di depan gerbang tol Kualanamu. Jalur ini panjangnya 16km, sampai ke luar ke jalur lintas menuju Kota Medan atau keluar Medan.

Sayangnya, jalur dua di arteri ini masih belum 100% rampung. Banyak sekali titik-titik dimana hanya ada satu jalur yang sudah siap, jadi terpaksa dua jalur yang ada menyatu menjadi satu jalur. Mending kalau jalur yang belum jadi ada disisi yang sama, misal kanan semua. Ini ada yang kanan jadi kiri belum, lalu tiba-tiba kiri jadi kanan belum. Jadi sedikit pindah-pindah jalur.

Dan sayangnya, lampu jalan di sepanjang jalan arteri ini belum menyala.

Jalan arteri yang sunyi

Jalan arteri yang sunyi

Di suatu titik di jalan arteri ini, terdapat area terbuka sangat luas yang sepertinya dipersiapkan untuk jalan tol Medan-Kualanamu. Baru diratakan tanahnya.

Di sepanjang jalur ini, telah terdapat rumah-rumah penduduk. Masjid juga banyak bertebaran (tidak tahu di bandara ada majid atau tidak). Juga terdapat banyak rumah makan dan warung disini. Hanya saja, mungkin karena masih baru, belum ada toko-toko besar. Saya juga belum melihat ada plang atau iklan hotel atau penginapan di dekat bandara.

Dan yang lebih sayang lagi, tidak ada kafe atau rumah makan yang buka 24 jam. Waktu saya pulang, pesawat tinggal landas pukul 5. Saya harus berangkat dari Tanjungbalai pukul 10.30 malam. Alhamdulillah, jalan lancar dan pukul 2.30 pagi saya sudah sampai, jauh lebih cepat dibanding waktu perkiraan. Nah, laper kan. Nyari-nyari kafe atau warung lah di jalan arteri ini sampe depan gerbang nggak ada yang buka. Belum ada rupanya yang mengambil kesempatan bisnis tersebut. Jadi kami harus keluar lagi ke jalan lintas tadi (yg jaraknya 16km dari bandara).

Di luar kami menemukan warung tenda yang menjual nasi goreng, mie goreng, bandrek, dan kerang. Lumayan lah.

Pukul 3 lewat sedikit, kami masuk lagi ke Kualanamu. Karena malam dan jalan lengang, dari luar ke bandara hanya memakan waktu sekitar 15 menit.

Tarif masuk bandara

Tarif masuk bandara

Gerbang Kualanamu malam-malam tampak angker (lihat gambar teratas). Sepi, nggak ada mobil lain. Dan nggak ada penjaganya! Jadinya gerbangnya tampak seperti tutup semua, padahal tidak.

Terus nggak ada penjaganya gimana dong? Kita tinggal dateng dan pencet tombol, kayak masuk ke parkiran mall gitu. Terus tiketnya keluar deh. Sayangnya tombol tiket ini agak jauh dari mobil, jadi supir harus keluar dahulu untuk memencetnya. Kemudian, karena angin malam cukup kencang, tiket ini bisa terbang sesaat setelah keluar dari sarangnya.

Bandara Kualanamu dari Jauh

Bandara Kualanamu dari Jauh

Kualanamu dari jauh malam-malam cukup indah. Lampu-lampunya asyik.

IMAG4746 - Drop off Bandara

Drop off bandara sudah ramai

Karena saya mau berangkat, saya langsung ke lantai dua ke anjungan keberangkatan. Tampak di daerah drop off penumpang sudah ramai oleh mobil-mobil. Padahal waktu itu menunjukkan pukul 3.30 pagi.

 Drop off bandara disainnya asyik

Drop off bandara disainnya asyik

Anjungan Keberangkatan

Malam begini sudah ramai pengunjung di lantai keberangkatan. Maklum, pagi ini kayaknya minimal ada dua keberangkatan pesawat AirAsia, ke Bandung dan Jakarta [entah kenapa AirAsia iseng banget masang jam subuh betol]. Namun, sayangnya sepertinya menginap di bandara KNIA ini belum merupakan sebuah pilihan yang dapat diambil. Saya lihat-lihat pojokannya belum nyaman untuk ditiduri, apalagi di terus luar begini! Tidak saya temukan backpacker yang sedang melakukan aktivitasnya (tidur gratis) di sana.

Teras Keberangkatan

Teras Keberangkatan dan Eksalator dari Teras Lantai Kedatangan

Salah satu informasi yang saya dapat dari berita adalah Bandara Kualanamu memiliki sistem check in terbuka. Apa maksudnya? Ini artinya wilayah konter check in dan pencatatan bagasi dapat dikunjungi oleh semua orang, baik penumpang maupun pengantar. Coba perhatikan bandara mana saja di Indonesia. Pasti pengantar hanya dapat mengantar sampai teras kan? Begitu masuk ke ruang check in dan anjungan keberangkatan, langsung ada penjagaan dan pemeriksaan X-Ray.

Nah, KNIA katanya tidak seperti itu. Jadi pengantar bisa lebih lama bersama orang yang akan berangkat. Sistem seperti ini sudah banyak diterapkan di bandara internasional luar negeri. Jadi ya keluar masuk ruang check in bebas saja. Mau ngampar dan tidur di dalam juga bisa.

Nah, anehnya, pada waktu itu pintu masuk ke area check in dihadang oleh petugas. Pintu pun dipenuhi orang yang hanya berdiri-berdiri saja, tidak masuk. Hanya melongok-longok ke dalam. Namun, petugas yang menjaga itu hanya mengecek beberapa orang apakah ada tiket atau tidak. Tidak tampak adanya alat pemindai X-Ray untuk memeriksa bagasi dan tubuh.

Gerbang masuk bandara, dijaga petugas

Gerbang masuk bandara, dijaga petugas

Saya lama menunggu Bapak saya muncul. Beliau kan memarkir mobil terlebih dahulu di bawah. Kami menunggu di tangga eksalator luar tapi tidak muncul-muncul batang hidungnya. Selang beberapa saat, Bapak menelpon “Dimana kau bet? Kok tak ada di dalam?” dan bilang beliau sudah di ruang check in. Loh?

Ternyata, dari bawah bisa naik masuk langsung ke dalam area check in boi. Ada ekalatornya dari dalam lantai kedatangan. Bapak saya pun keluar ke pintu gerbang (pintu yang sebelah kanan terbuka dan tidak terjaga, tapi tidak ada yg berani menerobos) dan melambai tangan. Ibu saya pun masuk lewat pintu sini diajak Bapak saya yang tadi keluar lewat sini juga.

Saya masuk lewat pintu yang dijaga dan – untuk memastikan – bertanya ke petugas “Pak keluarga boleh masuk kan pak? Pengantar“. Suasana gerbang waktu itu sepi. Dijawab oleh bapaknya “Aduh, nggak boleh bang. Penumpang aja…“. Saya membalas “Loh, bukannya Kualanamu sistemnya open check in area pak?” Dibalas lagi sambil melihat boarding pass saya dengan malas “Nggak bisa bang….“.

Cemana lah ini, onde mande tuesde…

Area Check In dan Pencatatan Bagasi

Masuk ke dalam, area luas untuk check in langsung ditemui. Terdapat empat deretan konter check-in, dengan abjad A sampai D. Saya mencari-cari konter check in AirAsia dimana harus muter-muter. Rupanya menghadap kebalikan kalau dari gerbang depan. Ada di deretan dengan abjad B.

Anjungan keberangkatan dipotret dari gerbang

Anjungan keberangkatan dipotret dari gerbang

Konter checkin AirAsia sudah ramai. Antrian ada empat baris walaupun setelah diamati ternyata cuma ada tiga konter AirAsia yang dibuka. Ya sudah, supaya aman jangan ambil barisan yang muara konternya didomplengi barisan lain.

Antrian checkin dan drop bagasi

Antrian checkin dan drop bagasi

Yang saya heran kok konter untuk drop bagasi dan check in tidak dipisah. Saya kan sudah melakukan web check in, harusnya tinggal mencatat bagasi saja sih. Tetapi tidak ada antrian khusus untuk saya. Jadi mau web check in atau manual sama saya statusnya.

Oh ya, pajak bandara tidak memiliki konter khusus. Langsung dibayar saat pencatatan bagasi/ check in. Harganya untuk penerbangan domestik adalah Rp35.000,- Namun saya tidak tahu apakah hal ini (bayar pajak bandara di konter check in) berlaku untuk maskapai AirAsia saja atau konter lain juga. Yang jelas saya tidak melihat antrian untuk pajak bandara. Lumayan, nggak usah antri dua kali. Bagus nih sistemnya.

Jejeran toko coming soon

Jejeran toko coming soon

Di sekitar area check in, banyak pusat perbelanjaan tetapi kebanyakan masih belum buka. Banner opening soon beterbaran dimana-mana.

Konter checkin dan rel otomatis untuk mengantar bagasi

Konter checkin dan rel otomatis untuk mengantar bagasi

Oh ya, di belakang konter check in ada rel yang berjalan. Bagasi kita langsung jalan dari konter ke rel itu dan tiba-tiba ada di pesawat. Hebat ya? Jalurnya otomatis gitu.

Dua lantai bandara, bisa naik ke atas anjungan keberangkatan dari dalam anjungan kedatangan

Dua lantai bandara, bisa naik ke atas anjungan keberangkatan dari dalam anjungan kedatangan

Nah ini dia tangga tempat Bapak saya naik dari anjungan kedatangan di lantai bawah sana. Dapat dilihat bahwa disini tidak ada penjagaan apapun! Jadi kalau habis parkir kemudian masuk ke lantai kedatangan dan naik ekskalator, kita bisa mengunjungi area check in yang tidak bisa dimasuki dari gerbang depan karena dijaga petugas. Wow ya?

Hal ini bisa dijawab dengan mengungkit kembali konsep Kualanamu yakni bandara dengan area check in terbuka sehingga pengantar juga boleh menemani penumpang saat antri check in. Jadi penumpang tidak perlu lama sendirian di dalam, karena pengantar juga menemani.

GATE

GATE – Kiri Internasional Kanan Domestik

Nah, dari tengah bandara langsung ada keterangan kemana kita harus berjalan. KNIA memiliki 12 Gate. Gate nomor 1-4 untuk penerbangan internasional dan 5-12 untuk domestik. Saya pun berjalan belok kanan di lorong pada gambar di atas.

Batas pengantar aslinya, orang tua saya sampai disini saja

Batas pengantar aslinya, orang tua saya sampai disini saja

Nah, setelah sampai di pojok area check in barulah batas pengantar yang sebenarnya ditemui. Kenapa saya bisa tahu? Karena untuk melewati batas ini, seseorang harus memiliki barcode yang diberikan saat menukar tiket di konter tadi. Satu orang satu barcode. Kalau ditempelkan, nanti palang penghalangnya terbuka. Cem-cem di stasiun canggih di luar negeri itu.

Masuk harus punya barcode.

Masuk harus punya barcode. Yang kiri kosong, padahal bisa dipake loh (tapi nggak ada tutornya)

Boarding pass akhir dengan barcode

Boarding pass dengan barcode

Sayangnya, bottle neck disini masih tampak. Sebagian penumpang bingung. Gimana cara masuknya? Terpaksa ada petugas juga yang berdiri di  samping alat canggih itu untuk mengajari penumpang cara memakai barcodenya.

Maklumlah, orang Indonesia belum biasa pakai ginian.

Walaupun otomatis, tapi tetap macet. Banyak yg gaptek. Indonesia...

Walaupun otomatis, tapi tetap macet. Banyak yg gaptek. Indonesia…

Ruang Tunggu dan Koridor Ruang Tunggu

Setelah melewati batas penumpang-pengantar, lantai bandara langsung berubah jadi cozy. Overall, semua perjalanan dari luar bandara sampai ke sini aman dan nyaman. Asyik lah, nggak kayak bandara Sutta atau Hussein.

Untuk menuju ruang tunggu (Gate), kita turun lagi ke lantai bawah Tapi sepertinya lantai ini terpisah dari lantai kedatangannya sih. Berikut koridor yang memisahkan antara ruang tunggu dan pertokoan bandara (+toilet).

Koridor menuju gate

Koridor menuju gate – Kiri adalah ruang tunggu, Kanan Pertokoan

Agak ke ujung, saya baru menemukan pintu ke Gate 5,6,7,8. Mungkin jalan sekitar 20 meter dari tangga.

Toko di kanan koridor entah karena pagi atau karena baru soft-opening jadi belum buka.

Pintu masuk ke ruang tunggu Gate 5-8

Pintu masuk ke ruang tunggu Gate 5-8

Oh ya, perlu saya beri tahu bahwa dari tadi sampai sekarang saya belum menemui mesin pemindai X-Ray. Pengalaman di Sutta, kalau tidak salah saya melewati pemindai ini sampai 3 atau 4 kali. Pertama saat baru mau masuk ke area check in. Kemudian sesaat setelah (atau sebelum?) membayar pajak bandara. Kemudian satu lagi saat naik masuk ke koridor menuju Gate. Di depan Gate ada juga atau tidak saya agak lupa.

Satu-satunya pemeriksaan X-Ray yang saya lewati di Kualanamu

Satu-satunya pemeriksaan X-Ray yang saya lewati di Kualanamu

Di Kualanamu, satu-satunya mesin pemindai yang saya lewati hanya satu. Tampak pada gambar di atas ini. Pada saat baru mau masuk ruang tunggu masuk ke pesawat. Asyik dan nyaman lagi. Nggak tau apanya. Mungkin karena ruangnya lebih luas dan penumpangnya belum ramai.

Atau mungkin karena bawaan saya yang besar-besar berupa koper tidak perlu dipindai juga. Kan sudah dicatatkan tadi. Berat kan ngangkat koper gede ke rel X-Ray. Apalagi yang barang bawaan untuk bagasinya banyak. Berarti area check in terbuka punya kelebihan satu lagi nih.

Suasana Ruang Tunggu Kualanamu. Cozy.

Suasana Ruang Tunggu Kualanamu. Cozy.

Anehnya, ruang tunggu ini ya hanya ruang tunggu aja. Polos. Sekelilingnya kaca. Cozy sih.  Nyaman. Asyik. Pemandangan ke area parkir pesawat di luar sana mantab. Hanya saja, kalau mau ke WC atau belanja dulu gimana?

Jawabannya simpel. Ya keluar lagi.

 Suasana di depan Gate

Suasana di depan Gate

Pintu keluar hanya ada satu dan kecil. Sulit di temukan. Di ruangan saya ini pintunya ada di depan Gate 5. Pintu ini juga dijaga satpam supaya tidak ada orang yang masuk ke dalam dari pintu ini. Kita keluar pun satpam bakal bertanya.

Saya keluar lagi waktu itu, untuk jalan-jalan, sekalian mau wudhu soalnya bentar lagi waktu subuh. Bakal shalat di pesawat kayaknya, jadi lebih baik saya wudhu dulu. Di pesawat kan gak bisa tayamum. Terpaksa saya membawa barang bawaan saya lagi (untuk cuma tas punggung dan plastik tenteng satu) ke luar. Huh, capek juga. Kalau pas bawa banyak gimana?

Pintu keluar dari Gate, untuk ke toilet misalnya

Pintu keluar dari Gate, untuk ke toilet atau ke toko misalnya

Saya langsung mengecek toilet. Kayak apa sih toilet di Bandara Internasional Kualanamu?

Mengecewakan. Biasa aja ternyata, kayak toilet-toilet standar gitu. Kirain ada pintu geser otomatisnya atau gimana…

Toilet bandara. Biasa aja ya?

Toilet bandara. Biasa aja ya?

Setelah itu saya foto-foto sebentar di koridor kemudian masuk ke ruang tunggu lagi. Tentu saja harus melewati tempat pemindai X-Ray yang tadi lagi. Dua kali deh jadinya.

Oh ya, saya juga iseng menanyakan ada mushola atau nggak di lantai ini. Kata penjaga pintu keluar dari ruang tunggu, katanya ada. Dimana? Terus koridor, lewat imigrasi lalu belok kiri. Lalu saya cek dah kesana. Dan imigrasi yang ada beneran loket imigrasi. Musholanya di sisi bandara yang untuk penerbangan internasional lah.

Koridor menuju gate internasional dan imigrasi

Koridor menuju gate internasional dan imigrasi

Mushola kabarnya ada di depan sana. Tapi melihat ada penjaga imigrasi dan saya tidak bawa paspor, belum lagi saya tidak sedang ingin ke luar negeri. Saya urung untuk melewati imigrasi tersebut.

Yang menuju kesana pun bule-bule gitu. Apa musholanya untuk bule aja ya, yang domestik mesti shalat di luar.

Koridor menuju gate 1-4 (internasional)

Koridor menuju gate 1-4 (internasional)

Saya pun melewati koridor tadi dengan lambat sambil berfoto ria.

Tangga turun dari anjungan keberangkatan ke koridor gate

Tangga turun dari anjungan keberangkatan ke koridor gate

Keren kan tangga turun dari area check in ke area ruang tunggunya?

Koridor di depan gate

Koridor di depan gate. Kalau tokonya buka kayaknya makin asyik nih.

Koridor di depan gate ini juga kayaknya terbentang dari ujung ke ujung bandara, mengkover semua gate yang ada.

Setelah menunggu setengah jam, akhirnya panggilan untuk boarding itu tiba. Semua penumpang langsung bersiap. Saya pun masuk antrian dan keluar dari ruang tunggu. Gambar di bawah adalah gambar pintu keluar ruang tunggu menuju koridor untuk masuk ke pesawat.

Keluar dari ruang tunggu untuk boarding

Keluar dari ruang tunggu untuk boarding

Kualanamu punya 8 garbarata. Sepertinya, meskipun Low Cost Carrier seperti AirAsia, penumpang harus lewat garbarata juga. Jadi tidak naik tangga dari luar lagi. Yey, lebih nyaman.

Garbarata yang cozy kemaren

Garbarata yang cozy kemaren

Dan saya pun masuk ke pesawat meninggalkan Kualanamu. Lelah, saya pun langsung shalat subuh saat pesawat masih lepas landas. Kemudian langsung tidur mumpung di dalam kabin pesawat masih gelap.

Kecamatan Kualanamu dari udara

Kecamatan Kualanamu dari udara

Selamat Tinggal Kualanamu. Semoga cepat besar dan membanggakan negaramu.

Catatan: Pada fase dua pembangunan KNIA, ditargetkan kapasitasnya sudah 25 juta penumpang per tahun. Sekarang kapasitasnya 8,1 juta penumpang per tahun. Keren yak?

End.

5 Comments

  1. Asslmkum…;) Guys ada yg tau tdk, bysanya kalau naik air asia kalau kelebihan bagasi, biaya per kg nya brapa y? Share infrmsi y…🙂

  2. Kalau berangkat dari Jakarta dgn Lionair lalu nyampai di kualanmu mau cek in lagi dgn Garuda ke Lhokseumawe / Malikusaleh, cara yang mudah gmana ya?. Perkiraan saya apa keluar dulu, trus ke lantai 3 cek in konter B Garuda trus setelah boarding pass ke lantai dasar?

  3. puji says

    keren bandaranya,
    bandara di pekanbaru hampir mirip dengan kualanamu, cuma gg ada jalur kereta nya aja. kapan-kapan boleh lah main kesini😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s