Tahun: 2014

I Love You, Ine…

Singkat cerita… Internet saya di apartemen (baca: kosan) mati. Dari hari Senin. Yah, saya gak bisa begitu banyak protes sih mengingat bahwa internet di apartemen ini gratis sebagai servis dari pemilik apato (baca: bu kos). Daya jual untuk menarik lebih banyak penghuni. Awal-awal saya pikir cuma sementara saja, eh ditinggal sampe Selasa kok masih ga mempan. Kabelnya kah, coba 4 kabel lain juga sama, ga nyala, maklum saya menyimpan banyak barang aneh-aneh komunitas PPI disini. Akhirnya Rabu masih juga, malamnya cek di kamar teman sebelah ternyata bisa! Jadi bukan salah laptop dan kabel saya. Ya udah, telp besok deh Kamis, mungkin 2 hari sembuh ya. Seenggaknya Sabtu udah bisa main lagi. Hmf,, Don’t get me wrong. Of course, I can live without Internet. Maybe. Hanya saja rasanya ada yang kurang di hati. Tidak ada tempat merebahkan kepala, menenangkan hati, dan menghibur gundah. Mengingat background saya teknik informatika (atau komputer sains), Internet bisa dibilang darah dan daging. Mungkin seperti pelukis dan cat minyak atau pelari dengan ekstra joss kali ya. Namun, analogi ini tentu saja sangat tidak …

Internet, Presiden, Anak Presiden, dan … Babi Enak?

Jadi saya baru update berita ttg anak presiden menulis babi enak. Agak konyol memang berita-berita sekarang, satu kalimat di blog bisa jadi berita. Beberapa “media” menambahi bahwa dia menghina makanan kesukaan rasul, ketara ingin menjatuhkan kelompok tertentu. Duh, duh, duh… Tahun lalu saya membayangkan situasi ini untuk pemilu 2030. Xkcd juga pernah membuat komik yg membahas hal serupa untuk pemilu 2032. Nggak nyangka baru setahun, di Indonesia sudah ada aja yang memakai plot device seperti ini.

Bingung Domain Blog Baru: Albadr dan .ln

Jadi dari dulu saya pengen bikin domain baru dan ngeblog di hosting sendiri. Lihat-lihat di perusahaan hosting kayaknya ga begitu mahal. Mungkin yang 50.000 (rupiah) sebulan udah lumayan. Cuma buat blog doang kan, 500 yen. Kalau punya domain & hosting sendiri, bisa macem-macem. Pake tema wordpress yang keren. Atau malah upload situs / subdomain sendiri. Folder repo sendiri. Atau multi blog di bawah satu nama. Yang membuat hal itu hingga saat ini hanya berupa wacana salah satunya adalah nama domain. Enaknya apa ya? Di .id atau di .com atau dimana? .me? Melihat nama blog ini, kalau disamakan ya tinggal albadrln.com tapi kok kayaknya hmmm… Ada yang kurang. Atau albadrln.id? Hm…. Albadr.id? Albadr.me? Ada usulan? Yang paling ideal adalah kalau ada top level domain .ln, sayang belum ada negara dengan nama berhuruf l dan n. Ada satu situs yang entah benar atau tidak (menurut wiki) memberi domain .ln bagi pelanggannya. Situsnya ttg pembelian sertifikat tanah di bulan gitu -.-. Si .ln adalah domain bagi lunar, katanya. Cuma ini situs kayak hoax banget gitu… I mean. Mana …

Terkait Kasus Gaham Daring

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus online bullying terjadi di sekitar kita. Mulai dari orang yang rekues untuk menggaham individual tertentu atau netizen yang menyebarluaskan racauan yang diucapkan netizen lain. Biasanya berupa makian, perendahan terhadap golongan lain, tindakan kurang sosial. Entah kenapa orang senang sekali dengan berita seperti ini, bahwa ada orang di belahan bumi lain yang kurang bagus moralnya. Ngomong-ngomong (ini cuma keisengan saya cek KBBI sih, habis ga tahu padanan bahasa Indonesia): Gaham/Sakat Daring = Online Bullying Dan yang saya maksud dengan istilah di atas adalah mengejek, menghina, atau mencemooh dalam dunia maya individu menulis status pribadi dengan nuansa asosial dalam dunia maya. Atau mengeluarkan pernyataan turut iba/malu bahwa ada orang seperti ini. Atau turut menyebarkan, memberi akses, atau tautan kepada teks asli atau teks gahaman. Huh, susah mendefinisikannya. Harus mendefinisikan pula ‘asosial’ itu yang kayak mana. Let’s go by example. Ada banyak kasus contoh. Pada saat saya masih di ITB, ada sesama civita academica yang di-DO gara-gara nonton bola dan menulis status flaming. Beberapa waktu lalu ada kasus mbak-mbak curhat nggak jelas tentang kursi prioritas di kereta. Yang terakhir antri bensin pertamax. Hal-hal ini memang …

SBY and then Naruto: It’s The End of An Era

Jika dihitung dari masa akil baligh saya, mungkin bisa dianggap setelah SD, sekitar umur 13 tahun kali ya, hingga sekarang umur 24 tahun, hanya 11 tahun berlalu. Meskipun saya ingat sekali saat Suharto turun (saya sedang dalam perjalanan bus tiga hari tiga malam dari Lampung ke Medan waktu itu), sepertinya umur melek politik saya belum sampai, terbukti tidak terkenangnya pengganti setelahnya. Namun, sebagian besar di antara masa itu, sekitar 10 tahun, dihabiskan oleh pucuk yang sama. Presiden? Saya tahunya Presiden Indonesia ya SBY. Sayang sekali, sekarang beliau sudah tiada tidak menjabat lagi. Masa ini tiba pula. Rasanya sulit dipercaya… Dari zaman yang sama pula, sekitar SMP kelas satu, saya mulai mengenal Naruto dari kawan-kawan. Semenjak itu, hampir setiap minggu saya ditemani oleh lanjutan cerita beliau. Tidak disangka sisa dua chapter lagi cerita legendaris ini. Namun, akhirnya waktu ini datang jua. Rasanya sulit dipercaya… Sulit dipercaya… It’s truly the end of an era.

Lima Menit Yang Begitu Berharga

Jepang dikenal sebagai bangsa yang cepat jalannya dan begitu tepat waktu. Hal ini tercermin dari sistem transportasinya yg menitan. Jadwal kereta tertera sampai ke menit dan dijamin berangkat di menit itu. Hanya topan dan orang bunuh diri aja yg bisa membuat kereta terlambat. Bus masih banyak kemungkinan (untuk halte bukan ujung rute) karena macet misalnya. Saya sebenarnya agak ragu sih apakah karena orang Jepang “punctual” sehingga mereka membuat teknologi seakurat itu atau sebaliknya karena teknologi yg begitu canggih, perlajan-lahan mereka jadi belajar tepat waktu. Well, by the way. Menurut Anda, seberapa lama waktu dihabiskan sehingga bisa disebut berharga? Mungkin salah satu jawabannya adalah 5 menit. Jika jadwal Anda adalah naik kereta 8.03, pastkan jangan naik kereta yang 8.01 karena Anda bisa nyasar. Dengan sistem yang ketat waktu seperti ini, kita bisa memprediksi dengan ketelitian tinggi kapan kita sampai kantor, kapan akan naik transportasi berikutnya, kapan kita bisa ketemu dimana, berapa lama kita harus menunggu, seberapa cepat kita harus lari. Dua minggu ini saya harus magang di kota sebelah, jam ngantor mulai dari 8.30. Saya harus ambil paling tidak bus …