All posts tagged: Liburan

Killing the Holy Day

Seperti yang saya janjikan, walaupun agak lama juga terlambatnya akan saya ceritakan rangkuman perjalanan tidak jelas keliling bandung ku di waktu di hari nan fitri (baca: holy day) yang lalu. Seperti yang telah kuceritakan, perjalanan ini dilakukan sekedar ngabuburit alias menghabiskan waktu liburan menghilangkan kebosanan dan beratnya liburan lebaran. Btw itu, Emang Idul Fitri ada Bahasa Chinanya ya? (Gambar ditemukan di dekat Jalan AA) Iklan

Kurma, Madu, dan Arum Manis

Sepuluh September pagi, sayup-sayup takbir bersahutan di langit sana menandakan bahwa hari ini adalah hari raya, hari raya kembali. Menandakan pula kalau aku telat bangun dan shalat subuh di masjid. Setelah kemarin ku kira takkan ada kumandang takbir, ternyata ada pula sesahutan takbir di malam lebaran Bandung ini. Sebenarnya takbirnya mulai setelah shalat isya di malam sebelumnya, diiringi dentuman-dentuman dan percikan di langit tentunya. Aku tidak yakin apakah itu petasan atau bom beneran.

Flowers in the Holy Night

Sore ini hari terakhir ramadhan. Aku masih di Bandung, di kosan ku sendiri. Seminggu terakhir selalu hujan cukup deras di luar sana, membuatku buka seadanya di kosan atau nekat menunggangi superbit menembus cucuran air untuk sekedar mencari es pisang hijau yang telah lama ku dambakan. Tetapi sore ini, aku terkurung di kosan malas beranjak dari novel Negeri 5 Menara yang sedang ku baca. Meskipun esok lebaran, aku belum – atau tidak bisa – bertemu keluargaku. Meskipun esok lebaran, suasana sore ini sama seperti sore-sore sebelumnya. Magrib ku berbuka dengan kurma, madu, dan arum manis, terlambat ke masjid dan ketinggalan jamaah di masjid super cepat An-Nur. Meskipun esok lebaran, tiada yang berbeda di masjid. Tidak ada takbir bada magrib, tidak ada kumpul-kumpul atau sensasi meriah lainnya. Sepi, semua* telah kembali ke rumah masing-masing.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.2 – Tragedy

Selang kemudian, kami melaju di Jalan Baros (ukuran sedang, padat anjir) setelah melewati rel kereta api untuk ketiga kalinya. Mulai berangkat sekitar 50 menit telah berlalu. Setelah Baros, jalan mulai menanjak dan tampak gunung di depan. Di bundaran bada Baros, kami belok ke kanan menuju Nanjung. Ternyata disinilah akhir dari Jalan Lebar di perjalanan kami. Jalan di Nanjung kecil selayaknya jalan di dalam kompleks kelurahan. Jalan kecil dan padat ini pun menurun. Saat menuruninya, hal yang tak terduga terjadi.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.3 – Turning Point

Perjalanan yang cukup panjang ini terasa cukup melelahkan. Satu seperempat jam lebih sudah kami berjalan tanpa henti. Motto kami saat itu, hanya dua hal yang bisa menghentikan kami: sampai atau nabrak orang. Setidaknya banyak hal unik yang terjadi di perjalanan ini, apalagi segarnya udara plus asrinya pemandangan kanan dan kiri jalan. Memang, hal terbaik dari petualangan adalah pemandangan yang unik dan kondisi yang tak terperikan.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.4 – Readvance

Perjalanan pun kami lanjutkan. Ciwidey tujuan kami. Kabar dari satpam situs sebelumnya, tidak jauh dari situ sekitar satu kili ada tempat wisata. Kami pun melaju. Bambang dibelakang memegang kamera dan memfoto sekeliling sambil jalan. Sesampai disana, ternyata tempat wisata dimaksud adalah Stadion Sepakbola. Di depan stadion banyak penjual baju bola. Uniknya hampir (jika tidak) semua baju yang dijual adalah kaos kesebelasan persib. Perjalanan kami lanjutkan. Tujuh kilo rasanya tidak sebanding dengan perjalanan kami sampai disini. Jalan yang kami lalui cukup berkelok-kelok dan naik turun, meskipun tidak mengalahi kelokan jalan di Bukit Kemuning.

Strange Adv. “Cililin//Ciwidey”, Part.5 – Return to Base

Tanpa pernah mencapai tujuan final, kami melakukan immediate respon terhadap kondisi. Prosedur Return To Base kami lakukan dengan terpaksa. Setelah tiga jam setengah perjalanan panjang tanpa hasil, kami dipaksa pulang oleh alam. Perjalanan tanpa arti ini setidaknya memberi beberapa pesan dan ilmu yang cukup menggugah. Juga memberi kami suatu perjalanan yang sangat panjang yang belum pernah kami capai dengan mengendarai motor.

Liburan (Lebaran ver)

Lebaran seharusnya hepi bukan? Tapi setelah mengalami 2 minggu liburan (baca: lebaran) hatiku terasa hampa. Rasanya ada beban dan sesal yang terperangkap di diri. Libur kali ini agak kurang berguna dan menyakitkan. Bukan hanya karena kurang ketemu relasi, tapi juga karena terlalu sering menghadap TV-Komputer-Laptop plus tidur.

Hasil Observasi TV selama liburan

Liburan ini akhirnya aku melakukan (lagi) hal yang sudah lama kutinggalkan. Nonton TV atau teve (bukan tivi atau tipi ya karena melanggar PPEYD nanti). Di kosan di bandung bukannya saya gak punya tipi (contoh penulisan yang salah), tapi males menonton karena tidak tertarik dengan acaranya dan televisiku burek. Akhirnya, liburan ini intensitas itu meningkat tajam dan aku berhasil mengamati beberapa sisi dari pertelevisian saat ini. Karena saya nonton dirumah, tentu seperti biasa tv didominasi oleh antek-antek setia sinetron. Sinema Elektronik a.k.a. sinetron emang acara paling andalan di tv kita. Sinetron hampir setara dengan dorama di Asia Timur sana atau Telenovela di Amerika Latin. Bedanya, di kita lebih norak. Jumlahnya pun lebih banyak dari biasanya tampaknya sekarang. Lihat saja, mulai dari siang pukul 2 an sudah ada sinetron yang siap Anda tonton di layar kaca. Untuk pengetahuan saya, stasiun yang gemar menayangkan sinetron adalah R**I, S**V, dan Indo****. Kebetulan mereka bertiga memang yang paling besar dan tua (dan mungkin paling berpengalaman) dibanding stasiun lain.

Liburan

Liburan seharusnya hepi bukan? Tapi setelah mengalami 2 minggu libur di bulan Juni ini hatiku terasa hampa. Rasanya ada beban dan sesal yang terperangkap di diri. Libur kali ini agak tidak berguna dan membebani.  Bukan (hanya) karena psikologiku lagi menurun, tapi tidak ada kerjaan memang beban fisik yang cukup berat. Inilah laporan kegiatanku saat liburan. Mayoritas aktifitas adalah memegang touchpad di laptop. Tujuannya macam-macam, mulai dari membaca database eBook yang kuantitasnya sudah mencapai taraf tak mungkin terbaca lagi, memahami kembali manga Tsubasa Chronicle yang jalan ceritanya sekompleks sejarah kalkulus,  dan aktifitas paling sering nonton anime baik yang sudah pernah maupun belum. Aktifitas lain standar, makan, sholat, tidur, dan ke WC. Aktivitas tambahan adalah nonton teve (akhirnya bisa nonton lagi).