All posts filed under: Sosial Politik

Diskusi serius tentang sosial dan politik yang terjadi di negeri Indonesia.

Despair (for the US) and Maybe Conviction (for the World)

Technically, starting yesterday. January 20th, 2017. The start of reigning era of the exalted beloved great emperor, Donald Trump. The era of despair. Just like the stage of a screenplay, the three act, we start the adventure act with HOPE. Eight years ago. When the protagonist get the initiative and the reader, the world, feels hope. But, this act usually ends with a low note. The villain gets the upper hand. The reader fears and the hero despairs. Just like that, now we are in the stage of DESPAIR. However, if this follows the three act structure, the hero will stand up again. He will get his CONVICTION. And in the final stage, justice will prevail. Kidding aside. Saya mengikuti berita politik di US dua tahun belakang, bahkan lebih dari berita politik dari negeri saya sendiri. Yah, meskipun saya melihatnya lebih banyak dari kacamata late show comedy, seperti The Late Show with Stephen Colbert dan The Daily Show with Trevor Noah. Atau biasa dikena dengan perspektif libtards oleh orang-orang Amrik. Perspektif orang liberal retards. Yup saya orang liberal, …

Dear Tribun

Sudah lama mau awak tanyakan dari dulu. Apa lah ini rupanya? Dimana-mana awak jumpanya bènda ini. Gaya kali macamnya surat kabar ini. Panjang bètul rupanya artikèl awak ya? Sampai berderet-deret nombor halaman kow itu. Tak capèk rupanya reportèr awak tulis sepanjang itu. Tapi kutèngok, tak pula panjang-panjang artikèl kow itu. Apa pulanya bah? Tiga ampat paragraf sudah awak potong. Paragraf pun kau pendek-pendek! Tak ada lah bobotnya kutèngok. Kupaksa baca pun, diulang-ulang rupanya isi berita kow. Tak ada kontennya pun. Dear investor tribun, Saya merekomendasikan Anda untuk mengaji ulang proposal konstiuen Anda tersebut. Sebaiknya jangan langsung mempercayai angka view count yang pihak redaksi Tribun presentasikan pada rapat investor. Ada harus punya pemahaman bahwa sublaman tadi adalah keputusan bodoh dan menjadi indikasi besar bahwa semua angka itu adalah mark-up. Tidak merepresentasikan realita pengunjung ke situs Anda yang sebenarnya. Mark-up yang sistemis demi membohongi diri sendiri. Atau membohongi Anda-anda ini. Jika ingin mendekati angka sebenarnya, ada baiknya Anda bagi nilai yang mereka sampaikan dengan faktor tiga atau empat. Namun, jika ingin lebih tepat dan ilmiah, saya sarankan untuk membangun crawler sederhana untuk situs Tribun. Cukup satu …

Internet, Presiden, Anak Presiden, dan … Babi Enak?

Jadi saya baru update berita ttg anak presiden menulis babi enak. Agak konyol memang berita-berita sekarang, satu kalimat di blog bisa jadi berita. Beberapa “media” menambahi bahwa dia menghina makanan kesukaan rasul, ketara ingin menjatuhkan kelompok tertentu. Duh, duh, duh… Tahun lalu saya membayangkan situasi ini untuk pemilu 2030. Xkcd juga pernah membuat komik yg membahas hal serupa untuk pemilu 2032. Nggak nyangka baru setahun, di Indonesia sudah ada aja yang memakai plot device seperti ini.

SBY and then Naruto: It’s The End of An Era

Jika dihitung dari masa akil baligh saya, mungkin bisa dianggap setelah SD, sekitar umur 13 tahun kali ya, hingga sekarang umur 24 tahun, hanya 11 tahun berlalu. Meskipun saya ingat sekali saat Suharto turun (saya sedang dalam perjalanan bus tiga hari tiga malam dari Lampung ke Medan waktu itu), sepertinya umur melek politik saya belum sampai, terbukti tidak terkenangnya pengganti setelahnya. Namun, sebagian besar di antara masa itu, sekitar 10 tahun, dihabiskan oleh pucuk yang sama. Presiden? Saya tahunya Presiden Indonesia ya SBY. Sayang sekali, sekarang beliau sudah tiada tidak menjabat lagi. Masa ini tiba pula. Rasanya sulit dipercaya… Dari zaman yang sama pula, sekitar SMP kelas satu, saya mulai mengenal Naruto dari kawan-kawan. Semenjak itu, hampir setiap minggu saya ditemani oleh lanjutan cerita beliau. Tidak disangka sisa dua chapter lagi cerita legendaris ini. Namun, akhirnya waktu ini datang jua. Rasanya sulit dipercaya… Sulit dipercaya… It’s truly the end of an era.

The Rubber Watch

I do not usually post a status in Facebook. When I do, it is probably because of one of these few reasons: publishing my blog post, sharing something nice from the web, showing of, or a kind of wondering/asking a question. This week (of December 25th, 2013) I posted a Facebook status below. Actually, I have about 5 articles in line for this blog but it is not finished yet. In this 25th December according to my calendar, I must post something in this date. My will now is full of this Facebook status. The reason publish this articles is because 1) that post is full of typing and grammar mistake (I wanted to edit it but Facebook won’t let me), 2) some sentences is not clear and probably reader won’t understand my true intent, 3) I don’t know how to feel about this matter and wish to get more feedback (globally). This status has been corrected and reworded because the original one is a little bit unclear. The correct one (I hope) should be this. Correction …

Batas Privasi Orang Indonesia

Pertama jumpa dengan seseorang, tentu kita tidak punya info apa-apa thd orang tersebut. Orang Indonesia, yg kebanyakan suka ngobrol, biasanya banyak bertanya macam-macam tuh. Dari mana asalnya? Rumahnya? Oh di bagian sananya itu ya? Loh, dulu katanya SMA di sana, jadi bukan orang sana? Oh keluarga pindah. Kenapa? Sekarang kuliah? Jurusan? Wah, bentar lagi lulus dong. Kok nggak masuk ke [UNIV LAIN] aja? Apa lagi kalau bertemu dengan yg sedikit lebih tua. Bapak-bapak gitu. Sampai jumlah anak, pekerjaan, kegiatan istri, prestasi gitu bakal diceritakan. Umur, lingkungan kerja, berat badan, politik, agama, dll juga bisa jadi obrolan. Hal tersebut juga kadang orang Indonesia terapkan saat bertemu (entah tidak sengaja atau memang kolega/teman dari teman) dengan orang asing. Bisa lebih banyak tuh pertanyaannya. Padahal, sepertinya menurut orang asing bombardir pertanyaan seperti itu seperti melanggar privasi ya. Misalnya, di artikel Discussion Indonesian Men and Their Obsession with me Marrying Their Women, ada bule yg sedang tinggal di Indonesia mengeluhkan mengabarkan hal ini. Ternyata beda negara memang beda budaya ya. Tapi di Indonesia ada yg aneh. Nama, yg biasanya paling penting, …

Kantor Pos Cisitu ~ Bagaimana Nasib Pos Indonesia?

Jumat dua minggu lalu, saya bertandang ke kantor pos. Ngapain? Mau ngenet, mau ngirim pos lah! Maklum, STNK saya harus diperpanjang di Lampung. Jadinya terpaksa saya kirim STNK+BPKB ke teman ibu saya di Metro, Lampung. Saya sudah cerita kan? Saya kesana jam 10. Sesampai disana saya kaget. Rame banget. Maksud saya, bagian depannya ramai pengunjung. Mau masuk ke ruangan teras depan meja petugas saja susah. Berdesakan. Kok bisa ya? Namun, di meja hanya ada satu petugas. Sepi. Sebagai pengunjung dan warga yang baik, saya pun menunggu. Memang tidak ada baris antrean disana. Kacau pada berdiri sesukanya. Juga tidak ada tanda-tanda nomor antrean disana. Tapi ya tunggu aja lah. Mau nanya bapaknya juga kayaknya itu bapak kepo banget. Sibuk. Cap sana-sini, geser lima langkah ke kiri, liat monitor, lari sana. Nggak efisien lah. Lima belas menit saya menunggu, saya baru menyadari pengunjung yg memadati ini keperluannya apa dan sistem antreannya bagaimana. Mereka ini kebanyakan (atau semua?) ingin membayar listrik/air/pajak/dll. Dengan demikian, mereka antre dengan memberi si bapak tadi kuitansi atau slip apa lah untuk pembayaran itu. …