All posts filed under: Bahasa

60 Sapi Apa Yang…

Entah kenapa, joke tebak-tebakan tentang sapi ini yang paling banyak ditemui dan gampang dibikin. Kok bisa ya? Berikut saya mendaftar beberapa yang berhasil saya temukan / pikirkan. Mulai dari yang paling mainstream. Untuk jawaban silakan di-higlight kata setelah pertanyaan. 1. Sapi apa yang jalannya merayap? ::Sapidermen:: 2. Sapi apa yang bisa terbakar? ::Sapiritus:: 3. Sapi apa yang bisa nulis? ::Sapidol:: 4. Sapi apa yang jadi kekasih gelap? ::Oh Sapia…:: 5. Sapi apa yang jalannya cepat? ::Saprint:: 6. Sapi apa yang jalannya lebih cepat? ::Sapida Balap:: 7. Sapi apa yang jalannya lebih cepat tapi nggak capek? ::Sapida Motor:: 8. Sapi apa yang supercepat? ::Sapid Boat:: 9. Sapi apa yang pelit? ::Sapiring Berdua:: 10. Sapi apa yang romantis? ::Sapiring Berdua Sama Kamu:: 11. Sapi apa yang warna-warni? ::Sapidol warna:: 12. Sapi apa yang ada di semua mobil? ::Sapion:: 13. Sapi apa yang menular? ::Sapilis:: 14. Sapi apa yang bau pesing? ::Sapitank:: 15. Sapi apa yang bau tahi? ::Kotoran sapi:: 16. Sapi apa yang bisa untuk bersih-bersih? ::Sapi lidi:: 17. Sapi apa yang bisa nyanyi? ::Sapiul Jamil:: 18. …

Aku dan Engkau

Minggu lalu saya membahas tentang kelemahan bahasa Indonesia akibat diglosia. Singkat diglosia menyebabkan dialog yang merupakan ragam lisan menjadi canggung ketika ditulis di literatur. Dialog yang harusnya memakai bahasa sehari-hari tanpa memerhatikan tata bahasa (grammar), sampai di teks tiba-tiba lengkap dengan me-kan, di-kan, pe-an. Kali ini saya ingin membahas kebalikannya. Karena diglosia, bahasa Indonesia jadi kaya. Salah satu poinnya adalah kata ganti orang alias pronoun. Wikibooks mendaftar pronoun di bahasa Indonesia sebagai berikut: English Formal Informal Informal Possesive I Saya Aku -ku You Anda Kamu -mu He/She/It Beliau Dia -nya We (inclusive) Kita Kita Kita We (exclusive) Kami Kami Kami You (Plural) Kalian Kalian Kalian They Mereka Mereka Mereka Well… That’s bullshit. Kata aku juga bisa dipakai dalam situasi formal. Bentuk kepemilikan -ku, -mu, dan -nya juga bukan ekslusif milik bahasa formal. Dia, itu netral. Namun hal ini wajar karena dalam “Bahasa Indonesia” yang diajarkan oleh pemerintah, artinya ragam H dalam spektrum diglosia, cuma kata-kata di atas lah yang ada di dalam kamus. Kata yang lain tidak dikenal. Bukan bahasa Indonesia, kasarnya… Jika saya disuruh merevisi tabel …

Diglosia dan Dialog dalam Tulisan

Pada artikel sebelumnya, saya menyinggung sedikit bahwa Bahasa Indonesia dengan mengalami Diglosia dan menyebabkan obrolan dalam tulisan menjadi aneh. Tema untuk lain kali kata saya waktu itu, inilah lain kali tersebut. Pertama-tama, apa itu Diglossia? Saya tidak akan membahas mendalam disini. Semoga dua paragraf ringkas berikut cukup untuk menjelaskan. Intinya, Diglosia adalah kondisi dimana sebuah bahasa memiliki dua ragam yang dipakai secara bersamaan. Umumnya dinamakan dua prestige yang berbeda. Yang satu prestis tinggi, disingkat H. Yang lain prestis rendah, disebut L. Di Bahasa Indonesia bisa dibilang bahasa baku vs bahasa sehari-hari. Saya tidak ingin menyakiti hatimu vs Gue nggak pengen nyakitin hati loe. Bahasa Indonesia masuk ke definisi cetusan Fergusson [1959]. (1) Dua ragam H dan L bahasa Indonesia memiliki fungsi yang berbeda, ragam H untuk yang resmi seperti pendidikan, berita, dan pemerintahan sementara L untuk percakapan kasual seperti ke teman, keluarga, dan masyarakat. (2) Ragam H, dianggap superior, distandarkan, dan diangkat tinggi oleh yang berwenang sementara L dengan cap Bahasa Yang Baik dan Benar, sementara L dianggap bahasa pasar dan haram diajarkan di sekolah. (3) …

Al-al, Bed-bed, Der-der

Bahasa Indonesia punya satu fitur yang unik tentang nama. Di bahasa kita, nama bisa disingkat menjadi hanya satu dua suku kata. Dan ini dilakukan dengan spontan, hampir ke seluruh nama-nama apapun, dan tanpa harus minta izin dulu ke yang punya nama. Misalnya nih, ada orang namanya Yulianto.  Sangat-sangat lazim di orang kita memanggil dia dengan kata “Yul”. Eh Yul-yul, Pak Is ada PR nggak? Hal ini sepertinya juga tidak peduli dengan gelar sebutan Pak Bu Mas Mbak. Memanggil langsung ke orangnya atau ke orang ketiga. Misal di percakapan di atas, Pak Ismadi menjadi Pak Is. Namun, jelas yang paling kerasa adalah kalau memanggil ke orangnya langsung. Anton Ton. Udah makan belum? Fitriana Kemana aja nggak pernah kedengeran Na? Heni Hen, paper udah disubmit belum. Butet Tet, disana tadi saya liat Robert lho. Fikri Fik, kapan maneh beranak lagi? Heru/Heri/Hero Her-her, boleh pinjam Go Pro nggak? Dwi Wi, akhir pekan main ke monas yuk… Yang namanya udah singkat satu kali napas aja masih bisa disingkat tuh, di contoh terakhir. Nama-nama di atas cenderung nama Indonesia sih, tapi …

Sulitnya Bercakap dan Menulis Indonesiawi

Beberapa tahun lalu, saya mengkampanyekan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, terutama dalam tulisan. Baik dan benar disini dipandang dari sisi purist kemurnian. Jangan sampai tercampur dengan bahasa Inggris, takut-takur di masa depan jadi Indolish ntar. Kalau ada padanan kata Indonesianya, pakai! Kalau tidak ada, cari! Atau buat! Misalnya beberapa tulisan berikut ini. Pilih Kata yang Indonesiawi bukan Indolish Biasakan Pakai Bahasa Indonesia yang Indonesiawi Di artikel pertama di atas bahkan saya memberi banyak contoh substitusi penyulihan dari beberapa kategori golongan kata. Namun, sekarang setelah saya menjadi ekspat di Jepang, hal itu menjadi sangat sulit dilakukan. Super duper sulit hard chou-muzukashi parah. Sering kali saat soudan konsultasi atau diskusi atau debat, semua bahasa campur baur. Parah. Ada sentence kalimat berbahasa Inggris, ada yang berbahasa Jepang. Di pikiran juga begitu. Segala konsep di kepala lebur semua di satu wadah, susah dipisahkan lagi. Mendokusai Repot lah ngaturnya. Hal ini juga bisa dilihat di tulisan-tulisan saya dua tahun belakangan. Sekarang saya mengerti titik kritik saya dahulu kala. Kenapa sih pejabat-pejabat itu kalau pidato campur-campur indonesia-inggris? Satu dua kata pakai …

Re:Zero, A Masterpiece

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali. Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!! Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL: IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION! Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!! Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya… Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis! Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini. Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV …

Pengen Nulis Jurnal

Saya lagi penasaran dengan aplikasi, kalau bisa mobile, buat nulis jurnal. Ada gak ya yang bagus? Belum nyari bener-bener sih, tapi sekilas liat kok jelek semua. Jurnal? Bukan-bukan, bukan jurnal yang itu. Yang saya ngutang dua agan itu, bukan lah! Maksudnya jurnal disini buku harian. Tapi dibilang buku harian kok kayaknya gmn gt. Pertama, kayak kesan norak atau melankolis, kan kata jurnal lebih elegan, hehe. Kedua, nggak nyari yang harian juga. Apps yg saya sekilas lihat tadi itu yg mode harian, makanya jelek. Jadi, saya dulu sebenarnya juga sempat meniatkan diri untuk menulis jurnal/ buku harian/ atau apalah itu. Pokoknya, catatan pribadi untuk diri di masa depan yang bersifat rahasia. Blog pribadi lah. Saya dulu nulis di buku beneran. Hitung-hitung melatih tulisan tangan, sama mencurahkan keluh kesah. Cie… Saya dulu memulainya karena membaca sebuah buku ttg menulis, saya lupa judulnya. Disarankan oleh Mbak Ilmi Hapsari Dewi, istrinya kak Bachtiar, kakaknya Annas. (ada yg kenal?) Setelah kurang lebih setahun, makin lama makin jarang. Akhirnya, kejarangannya makin melebar dan tertinggal lah jurnal hitam itu. Memang hal yang bersifat rutinitas …

Yamato, Kuroneko Itu Bukan Mail-Service

Suatu hari saya membalas email di kantor. Mengirim laporan bahwa CD sudah saya kirim via pos. Saya menulis dengan kalimat bahasa Jepang berikut. CDは郵送いたしました。 CD sudah saya kirim. Saya menulis begitu karena mengopi paste aja dari yang meminta kirim filenya di CD via pos. 郵送でCDを頂けますでしょうか。 Bisakah mengirim CDnya via pos. Dalam pengertian saya, “kirim via pos” itu ya pengiriman surat konvensional. Yang nggak pake jaringan, fax, dropbox, atau elektronik lainnya. Mau ngirim via Tiki kek, JNE kek, DHL kek, mengirim surat via pos itu ya nggak mesti pake Pos Indonesia. Iya nggak sih? Terus setelah saya lakukan pengiriman via jasa pengiriman Yamato yang (kayaknya) jadi langganan kantor, saya laporan deh, kopas aja kata kerja 郵送 yang mbaknya pake. Soalnya pas ngetik email lupa bahasa jepangnya kirim itu apa. Terus saya diketawin bos saya. Beliau cerita, ngirim sesuatu pakai Yamato atau jasa pengiriman selain JP Post nggak bisa memakai kata  郵送. Yamato nggak termasuk “pos”. Atau lebih strict-nya, mereka bukan layanan surat. Dalam hukum Jepang, mail atau surat cuma boleh dilakukan oleh JP Post saja. Jadi walaupun banyak …

Forum 3 Orang 3 Bahasa, 4 Orang 4 Bahasa

Asyiknya berada dalam komunitas internasional adalah bertemu dan berinteraksi dengan warna negara asing. Merasakan bedanya budaya, watak, dan pola pikir berbeda. Juga logat bahasa Inggris yang berbeda. Bahasa Inggris. Yap. Dalam komunitas internasional bahasa Inggris tentu menjadi lingua franca kan, supaya forum bisa saling mengerti satu sama lain. Namun, ternyata dalam praktiknya hal ini tidak selalu jadi patokan. Saya pernah (atau sering) mengalami hal seperti ini. Ada tiga orang beda negara ketemu, tapi tidak punya satu common language. Namun untungnya setiap subset dua orang dari set tiga orang tadi mengerti bahasa satu sama lain. Jadi walaupun cuma tiga orang, ngobrol harus pakai tiga bahasa. Jadi kasusnya begini. Saya orang Indonesia. Imam masjid Toyohashi orang Malaysia. Amir (mantan) masjid orang Pakistan. Saya bisa bahasa Malay, Jepang, dan Inggris, tapi nggak bisa Urdu. Imam bisa bahasa Malay, Urdu, dan Arab tapi nggak bisa Inggris lancar dan zero Jepang. Amir bisanya Urdu dan Jepang. Dan jadilah, Saya-Amir ngobrol Jepang. Saya-Imam cakap Malay. Amir-Imam pake Urdu. Agak repotnya kalau pas becanda jadi ada delay. Harus diulang joke nya dengan tiga bahasa berbeda. …

11 Kata Indonesia yang Sulit Dicari Padanan Bahasa Inggrisnya

Terkadang saat menerjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, banyak sekali kata yang tepat sulit ditemukan. Bukan karena nggak jago vocab, tetapi memang penerjemahan dari satu bahasa ke bahasa lain hampir selalu tidak mampu mencakup seluruh makna yang dimiliki bahasa aslinya. Ini juga bukan karena bahasa Indonesia kekurangan kosa kata. Hal yang sama juga bisa terjadi saat mau menerjemagkan dari Indonesia ke Inggris. Berikut saya tuliskan beberapa kata yang terpikir oleh saya, yang kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris tidak ada padanan katanya. Mesti dijelaskan dengan kalimat super panjang atau terpisah menjadi beberapa konsep dalam bahasa Inggris. Kebelet Super susah sekali kalau mau mengartikan kata yang satu ini. Mungkin yang paling dekat adalah frasa cukup panjang berikut. 

In The Zenith

“Ah, berakhir sudah.” Leila hanya bisa pasrah. Membubung tinggi di angkasa, gravitasi tak lagi memberi mereka ampun. Mereka jatuh bebas tanpa ada pijakan lagi. Terhempas ke lapisan udara di bawahnya, terhantam angin keras ke wajah. Waktu seakan melambat bagi mereka. Lemas, tiada lagi tenaga tersisa. Tubuh Leila kian labil berguncang tak terkendali. Terjungkal, kadang kaki di atas, kepala di bawah. Dari jauh, mereka tampak seperti dua titik yang bergerak cepat. Menembus awan. Menuju permukaan samudra. Ditambah satu lagi garis hampir horizontal turut mencakar biru sang langit. Kondensasi udara membuat lintasannya terlihat di angkasa. Benda aneh menggantung di ujung jejak itu, berbentuk seperti bolpoin raksasa, panjang dua tiga meter, berbahan besi, dengan logo nuklir terukir di badannya. Rudal antar benua yang ikut jatuh bersama mereka itu mulai berkelip. Lalu berkelip lebih kencang. Pada akhirnya, cahaya menyilaukan dan kemudian api keluar secara beringas. Seperti semburan naga ke segala arah, bercabang selayaknya dahan pohon, perlahan tapi pasti, akan melahap mereka. Lei sudah kehilangan semua harapan. Masa hidupnya terlintas di depan matanya. Juga tentang sahabat terdekatnya. Lei hanya bisa bergumam. “Sepertinya …

N.U.R.I

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham.  Profesor Ilham…” Suara itu lirih menggema. Suara lembut yang sangat ia rindukan. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu. “Nuri…?” Ia  mengigau. Terbaring di kasur, Ilham merasa masih lemas. Masih ingin melanjutkan tidur. Ilham perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih tampak kabur. Samar-samar ia melihat di hadapannya kamar yang begitu penuh dengan kenangan, sudah sepuluh tahun dia tinggal disana. Ruangan penuh cinta penuh kenangan. Ilham meluruskan badan dan berbaring telentang. Samar menatap langit-langit bercorakkan kerlip cahaya bintang, hadiah spesial untuk ulang tahun istrinya tahun lalu. Tiba-tiba wajah Ilham basah. Entah langit-langit itu bocor atau hujan merembes lewat jendela, sehingga sekelompok tetes air hinggap di wajahnya. “Nura-nuri… Sudah jam berapa ini… Ayo bangun! Tumben-tumbennya…” Seorang wanita cantik berdiri di samping Ilham. Rambutnya tertutup kerudung putih. Mawar emas terukir di ujung segi empatnya. Wanita itu tidak tinggi dan tidak gemuk. Tidak, kurus pendek mungkin lebih tepat. Seperti masih remaja atau malah anak-anak. Namun, namanya anak-anak pastilah tampak menggemaskan. Sayangnya, sekarang ia tidak lagi mode gemas. Berkacak pinggang, si cantik tampak …