All posts tagged: Cerita Pak Kimura

Perapihan Bandung yg Mulai Marak: Proyek Siapa Hayo? | Kuning-kuning di trotoar: Maksudnya Apa Hayo?

Sebulan ini banyak perkembangan dan pembangunan yang tampak di Bandung. Pembatas jalan diperbaiki (sekitar jalan dago simpang). Trotoar diganti (di Jalan Siliwangi dan sekitar kampus ITB). Jalan ditambal dan marka dicat ulang (beberapa ruas di dago). Lampu jalan dipasang (Cisitu). Yang saya agak bingung adalah ini proyek siapa ya? Walikota yang mana… Kalau walikota yang baru rasanya nggak mungkin deh, wong belum dilantik. Kalau yang lama? Kan masih “masa” pemerintahan dia? Nggak yakin juga saya… Kalau saya parlemen mungkin saya sudah menjatuhkan mosi tidak percaya kok sama walikota penanam pohon ini. Tapi memang yang paling logis ya proyek pemerintah yang lama lah. Herannya ya masa sudah akhir gini baru mulai membangun. Wong selama 10 tahun belakang kayak nggak ada gerakan.  Dananya baru cairkah, baru ingetkah, atau emang memanfaatkan kesempatan terakhir untuk penebusan dosa (atau meningkatkan citra)? Ya sudahlah, setidaknya Bandung mulai berbenah. Btw, saya juga baru sadar kalau jalan yg markanya baru itu nampak lebih seger gimana gitu. Kayak lebih luas atau lebih mulus. Bersyukur, bersyukur. Oh ya, ngomong-ngomong soal trotoar yang baru dibangun. Luas …

Cerita Pak Kimura: Pernikahan Orang Jepang

Sebagai penutup seri dua tema bulan ini, saya menyampaikan artikel yang menyilangkan keduanya: jejepangan dan ninikahan. Sebelum masuk ke cerita inti yg saya dengar dari Pak Kimura, mungkin ada baiknya kita simak sekilas info tentang masalah yg dihadapi di jepang saat ini. Jepang sedang mengalami yang namanya bencana populasi. Jepang adalah negara yang sangat makmur dan kaya yg salah satu indikator utamanya adalah rata-rata umur, hingga 80 tahun untuk pria. Peringkat yg sepertinya paling tinggi seluruh dunia. Akan tetapi, tingkat kelahiran Jepang kian tahun selalu mencetak rekor, terendah. Peringkat kelahiran Jepang hanya 10.3 dari 1000 orang di tahun 1993 [1] dan sekarang lebih rendah lagi, hanya 1.75%. Akibatnya, jumlah populasi produktif Jepang sangatlah sedikit. Katanya, jumlah orang tua di atas umur 65 tahun mencapai 20% populasi disana, bahkan tahun 2010 pun Jepang kehilangan 212.000 penduduk [2]. Kalau tren ini terus begini, populasi Jepang hanya akan setengah dari sekarang 70 tahunan lagi. [3] Itulah mengapa Jepang banyak impor pelajar dan pekerja ke negaranya. Proyek terbarunya saja, Global 30, menargetkan 300.000 pelajar asing yang studi di kelas …

Cerita Pak Kimura: Keluarga dalam artian Family dan Household

Kata Pak Kimura, family adalah sekumpulan orang yang tinggal serumah dan memiliki hubungan darah (atau pernikahan) langsung. Sedangkan household adalah sekumpulan orang yang tinggal serumah atau sekompleks rumah. Sudah, titik. Tidak ada prasyarat lain seperti family atau keluarga yang kita pahami. Jadi, household tidak harus memiliki hubungan darah, tetapi bisa juga hubungan perguruan, perusahaan, yakuza, atau sekedar penginapan.

Cerita Pak Kimura: Sampah di Jepang

Pak Kimura bercerita tentang sampah di Jepang. Kalau disini, kita buang sampah bisa seenaknya. Saat saya bilang seenaknya, itu berarti seenak kita. Mau buang di kotak sampah, selokan, bawah kolong meja, dll. Bahkan saat buang di kotak sampah pun hampir tidak ada yg peduli untuk memisahkan yg mana yg organik mana yg anorganik. Padahal kategorisasi sampah disini hanya dua. Kalau mau buang sampah pun, disini bisa pakai plastik apa saja kan? Mau trash bag betulan merek apa saja, mau kantong bekas dari minimarket, atau kresek biasa. Bebas. Di Jepang, kata Pak Kimura kita tidak bisa bebas. Disana setiap rumah kalau mau buang sampah wajib berlangganan ke perusahaan pengelola sampah kota. Kalau nggak berlangganan, ya nggak bisa buang sampah. Simpen sendiri aja di rumah. Nah, kalau sudah berlangganan boleh tuh meletakkan sampah di tempat penampungan sampah. Kemudian, tidak seperti disini yg pakai kantong apapun boleh. Sampah yg dibuang di Jepang harus dikemas oleh kantong plastik khusus dari kota. Intinya, harus beli merek tertentu yg disediakan oleh pemerintah kota. Nggak bisa sembarangan. Cek dulu kantong di kota …

Cerita Pak Kimura: Universitas Sakura dan Bank Tomat

Dalam rubrik Cerita Pak Kimura ini, saya akan menceritakan cerita yg diceritakan kepada saya oleh Prof. Kimura, profesor dari Tohoku University yg tinggal di Indonesia mengepalai Tohoku University International Relation Office (TUIO) di ITB. Saya sudah bertemu dengan beliau kira-kira satu tahun untuk belajar bahasa Jepang. Beliau membuka kursus gratis di kantornya di atas IRO ITB, depan lapangan sipil. Kalau Anda mau ikutan, tunggu aja kira-kira Agustus/September. Semoga saja masih buka japanese language course-nya. Beliau mengajar bahasa Jepang dengan bahasa Jepang (+bahasa Inggris logat Jepang sikit-sikit). Dan beliau banyak menceritakan hal-hal trivial di Jepang sana yg mungkin disini agak terlihat aneh. Nah, cerita ini yg akan saya tulis sikit-sikit. Ceritanya beberapa berkaitan dengan kehidupan di Jepang. Saya sih belum pernah kesana. Tadinya ingin menulis cerita Prof Kim ini setelah dapat melihat langsung kebenaran cerita beliau. Namun, kayaknya butuh ngisi blog nih. Hitung-hitung juga mengisi hati di bulan ini. Jadi ya dipercepat publikasinya. Sekalian menyemangati diri kali ya, supaya cepat kesana. Aamiin. Nah, suatu ketika di buku Minna no Nihonggo, terdapatlah sebuah teks dengan tulisan Sakura Daigaku, alias …