Cerita Jepang
Comment 1

Alert Gempa

Jadi, tadi malam pukul 24.15 saya sedang akan meninggalkan meja komputer saya menuju kasur. Sebenarnya sudah agak mengantuk, dan merencanakan tidur dari pukul 23.30. Ngantuk karena obat juga sih. Cuma saya terjebak oleh rewatch 3 episode finale dari anime Overlord season I. Jadi agak tanggung, tinggal 5~10 menit lagi beres. Habiskan urusan, baru kita menghadapi kerjaan di hari esok!

Ketika tiba-tiba hape saya meringkik keras dengan volume penuh. Suara yang sangat menggelikan di telinga dan leher. Membuat syaraf kita awas, melebihi musik alarm apa pun.

Ringkik itu diiringi oleh peringatan berbahasa Jepang: Jishin Ga Kimasu!

Kira-kira suaranya kayak di Youtube di bawah ini. Persis. (30 detik pertama).

Terakhir saya dapat early warning seperti ini adalah di hari pertama saya menginjak dunia kerja. Nagoya, 1 April 2014. Waktu itu lagi orientasi kerja. Tiba-tiba hape di kantong dan meja para pekerja berdering bersamaan seperti di atas.

Tidak lama kemudian, getaran pun terasa. Plafon lantai dua tersebut bergetar. Gelas dan perabotan tergantung di dinding berdenting. Beberapa puluh detik, reda. Aman…

Di Tokyo bukannya jarang gempa. Sering. Kayak gitu juga, terasa getarannya. Pernah merasakan di apato saya yang tersusun dari kayu. Pernah juga merasakan di lantai 14 gedung tinggi. Namun, selama di Tokyo ini belum pernah saya dapat alarm kayak gini.

Sesuai dengan desainnya, early warning tersebut langsung membuat saya awas. Saya punya satu dua menit buat preparing the worst. Langsung mode brace for impact.

Terbesit, kalau gede banget, –dan mungkin gede soalnya biasanya pas getarnya kerasa agak keras juga kagak bunyi si warning-chan— , jadi saya juga ancang mode evacuate. Misalkan gede harus bersiap keluar gedung. Penghalang dari kamar ke luar ada dua pintu. Seenggaknya pintu sekat antara kamar dan dapur harus dibuka.

Lalu saya ambil jaket. Ambil hape dan dompet, masukkan kantong. Terus apa lagi… Apa lagi… Agak menyesal juga saya nggak punya tas emergensi. Selalu ada di benak kepala, saya harus menyiapkan satu tas emergency-ready yang berisi semua peralatan yg dibutuhkan untuk disaster level apapun. Kayak yg dijelaskan di video ini dan video ini. (Dua video ini saya simpan di playlist Favorit untuk instant reference)

Ini terkait juga dengan pengalaman saya di Toyohashi University of Tech. Disana saya diajari kalau Aichi-ken punya pergeseran titik ukur terbesar dari seluruh Jepang. Jadi ceritanya, para ahli gempa nih meletakkan alat ukur di suatu titik, lalu dilacak selama bertahun-tahu posisinya dengan GPS. Akurat sampe centimeter. Di Aichi, pergeserannya sampai beberapa senti paling besar. Mengingat pula gempa besar di Jepang terjadi siklus beberapa tahun, serta yang sudah kebagian jatah adalah Kanto (1923), Kobe (1995), Tohoku (2011) yang belum kebagian akhir-akhir ini adalah Aichi.

Let just say that I am concerned.

Atau begitulah cerita mereka di kampus Propinsi Aichi. Nggak tahu kalau di kampus Tokyo. Yang penting, ada pendapat berterbangan di hippocampus saya kalau bersiap seperti video di bawah ini, is not a bad investment…

Pada detik tersebut, saya menyesal belum sempat beli atau mungkin lebih tepatnya menyesal terlalu memikirkan cost-benefit untuk membeli barang super mahal yang kita harap takkan pernah digunakan tersebut. Kalau ada mungkin tas tersebut sudah sampai di bahu pada detik itu juga.

Kemudian, saya berdiri di dekat meja sambil awas untuk mengambil keputusan split second. Mau nyumput di bawah meja. Atau mau lari ke luar.

Agak ragu juga mau nyumput di meja, nggak ada barang yang lebih tinggi dari kepala soalnya di rumah ini. Kalaupun ada, ya atap. Kalau atap jatuh, mending keluar aja kan?

2 menit. 4 menit. Soro-soro kana? …

Hening. Nggak ada. Nggak kerasa sama sekali. Getar. Denyut pun kagak ada.

Cek lagi hape. Lalu mesej temen. Lalu cek JMA. Dan cek notifikasi si hape. Sekarang ada notifikasi seperti ini.

img_1530

Emergency Alert: Earthquake Buletin. Earthquake occurs at Chiba East Coast. Please expect strong shaking. (JMA)

Emergency Alert: Buletin Gempa. Telah terjadi gempa di pantai timur Chiba. Diperkirakan guncangan yang besar. (JMA)


Hm… Selesai kah? Cek Situs JMA, langsung ada rilisan gempanya. Ternyata `cuma` Magnitude 4.

Hmm… Agak aneh ini. Biasanya magnitud lebih dari itu di Chiba atau Tokushima terjadi, dan terasa getarnya sampe sini, tapi nggak ada bunyi-bunyi alaram.

Chiba 2018.10.04 00.17, M4.PNG

Kecil, sial. Lanjut nonton overlord lagi apa ya… Tanggung sisa lima menit lagi. Untung bukan pas battle seru-serunya…

Mungkin ngeliat situasi early warning failure, kegagalan sistem peringatan dini yang di Indonesia, terus si pemerintah Jepang menaikkan sensitivitas dari sistemnya kali ya.

Nggak papa juga sih, lebih bagus. Lebih awas jadi kitanya. Asal jangan terlalu sering juga, gempa kecil dikit, bunyi-bunyi. Bukan tidak suka karena bikin annoying ya… Kalau masyarakat terlalu sering mendengar false alarm lama kelamaan malah jadi kebal, dan tidak lagi menggubris si peringatan dini. Jadi harus diatur-atur dengan melihat psikologi masyarakat juga sih kayaknya ya… (sok tahu, bukan pegawai Departemen Penanggulanan Bencana juga)

Mungkin ya setahun sekali dibuat alarmnya bunyi saat gempanya kecil boleh juga. Biar masyarakat tetap ada rasa awasnya.

Iklan

1 Komentar

  1. Ping-balik: Mencibir Korban Bencana Alam | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.