All posts filed under: Jadi Ceritanya…

Scam Menang Undian

Pas jaman SMP, saya dan keluarga menerima sebuah scam yang cukup besar dan pintar. Kami tidak menyadarinya waktu itu. Namun, setelah dipikir-pikir besar kemungkinan kalau itu penipuan atau setidaknya trik marketing amoral. Saya tidak begitu ingat detail kejadian. Kira-kira seperti berikut lah ceritanya. Suatu pagi, seorang ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pun mem-pause game Empire Earth dan keluar menyambut sang pengetuk pintu. “Ibunya ada dek?” “Mama lagi tidur kayaknya om. Kenapa?” “Oh… Ini mau nitip surat. Kasihin ke Ibunya ya…” “Surat apa ini om?”‘ “Undangan buat ambil undian. Ajak ibunya ke toko ya dik… Siapa tahu dapat hadiah lho.” “… Nanti ya om. Bilang papa dulu. …” Surat pun saya berikan ke ibu saya dan kemudian dibaca oleh ayah malam harinya. Keesokan hari, karena tidak ada kerjaan, sambil jalan-jalan kami pun mengecek si toko. Pengen tahu, undian kayak apa sih… “Ting teng ting teng,,,, Selamat Adik dapat hadiah peringkat tiga. Microwave terbaru merek XYZ! Hanya seperempat harga! Wow!! Gimana nih bapak ibu? Ajaib banget tangan anaknya nih…” “Microwave ini canggih bapak-ibu. Coba lihat, disini ada 11 …

Re:Zero, A Masterpiece

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali. Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!! Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL: IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION! Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!! Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya… Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis! Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini. Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV …

Tanjungbalai, 4 Agustus 2013, Malam 27 Ramadhan: Festival Kembang Api

Dear diary Blog Kemaren Siang, Desing peluru. Bau mesiu. Dentum ledakan. Di ujung horizon utara, tampak rinai-rinai cahaya. Bersuar… Kerlap kerlip menyeruak putih dari gelapnya malam. Itulah yang akan didapati hampir semua warga Tanjungbalai ketika ia menjejakkan kaki ke luar rumahnya pada malam 27 Ramadhan ini. Entah siapa yang merencanakan non-event ini. Atau memang sudah tradisi (entah siapa yang memulai). Seolah-olah semua warga sudah tahu dan sepakat untuk menyalakan kembang apinya bersama-sama*. Mulai dari maghrib malam ke 27 Ramadhan. Hasilnya lumayan seru. Desing merecon roket siing siing dan rentetan ledakan kecil seperti peluru. Bau asap bekas ledakan kembang api. Dentum ledakan merecon yang agak lebih elit sedikit. Beruntut-runtut tanpa henti. Benarlah kata adikku ri, malam ini seolah-olah sedang berada di kawasan latihan militer**. Menurutku, dibanding orang menyalakan merecon sendiri-sendiri, kemudian mengganggu tetangga. Bikin ribut saja. Kalaupun memang rela membakar-bakar uang untuk merecon, mendingan sekalian ramai-ramai begini. Lebih seru! Jadi event atau non-event yang disepakati bersama. Seperti festival, sehingga semua orang menyalakan kembang api bersama-sama. Jadinya Semarak… Terasa semangatnya… Apalagi kalau festivalnya diadakan oleh pemerintah sebagai daya …

22 Juni 2013, SNF

Hari ini, seorang sahabat melaksanakan sebuah mitsaqan ghaliza, menaiki sebuah milestone batu tolakan, dan menempuh hidup baru. Mencapai target yang sudah ditetapkan dan diimpikan sejak lama.   Sebagai teman serumah selama beberapa tahun belakang, saya tentu turut senang dengan pencapaian target ini. Walaupun pada akhirnya, teman serumahnya dia bakal berbeda from this point on. Jadi kayak ngerasa ngelepas anak, hehe. Agak nggak rela juga dan tentunya iri juga, haha. Apapun itu, dengan artikel ini saya bersama seluruh jajaran kosan KIPAN mengucapkan: Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma bikhayr. Semoga Allah SWT memberikan berkah kepadamu dan memberikan berkah atasmu serta menyatukan kamu berdua didalam kebaikan Berikut adalah kado yang kami berikan. Sederhana. Sangat-sangat sederhana. Ortodox pula, nggak ada bagus-bagusnya ya… Ya mau gimana lagi. Soalnya nggak ada duit, yg sokongan cuma dua orang sih. Harap maklum… Meskipun begitu, kami sangat berharap bahwa objek di atas dapat dimanfaatkan benar-benar dalam kehidupan. Tidak hanya dijadikan simpanan di gudang di dalam kardus aslinya. Semoga… Filosofinya dari disain yang tertera di objek tersebut, seperti tampak pada ilustrasi di samping, adalah bahwa …

Selamat Datang Nyamuk. Selamat Datang Jerawat.

Dua hal yang sudah lama tak saya jumpai beberapa tahun belakangan: nyamuk dan jerawat. Entah kenapa dua objek yang banyak dijauhi orang tersebut kembali menghantui saya di akhir tahun ini. Kenapa ya? Nyamuk. Bandung, seperti yang diketahui semua orang, adalah kota dataran tinggi dan beriklim dingin. Ada mitos bahwa nyamuk tidak bisa hidup setelah ketinggian tertentu [Al Gore, An Inconvenient Truth]. Memang tidak ada bukti bahwa nyamuk tidak bisa hidup di daerah dataran tinggi atau daerah dingin [1][2]. Bahkan ada studi yang membuktikan bahwa mitos itu salah[3]. Akan tetapi, saya hampir tidak pernah menemui nyamuk dalam 4 tahun belakang ini. Setidaknya di sekitar daerah tempat saya tinggal. Hmm… Akhir-akhir ini, Bandung sering mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Tidak jarang (baca: 99 dari 100 hujan) menyebabkan banjir di beberapa daerah. Sebut saja depan kosan saya. Pemerintah (baca: Kadin Pengairan Bandung) sih bilangnya “drainase sudah baik, hanya curah hujannya yang tinggi, jadi tak tertampung di drainase“. Err… Dengan definisi curah hujan tak tertampuk drainase, itu artinya drainase buruk pak. [tepuk jidat] Saya setuju dengan Pak Dada yang …

Keseimbangan: Rakus Peluang dan Tahi Kucing?

Waktu saya tingkat satu, cisitu dipenuhi dengan banyak tikus. Tikus dalam artian harfiah loh ya. Tikusnya besar-besar pula, hampir sebesar anak kucing. Jika kita berjalan malam-malam, di setiap gang peluang melihat ada tikus yang sedang maraton sangatlah besar. Waktu itu, kondisi jalan cisitu masih lumayan nyaman, setidaknya jika kita jalan kaki di siang hari. Ada tikus yang lewat itu mah biasa. Paling jijik atau serem doang saat mereka lewat. Kita maklum bahwa got disini kotor dan saling terhubung satu sama lain. Sekarang, sepertinya ada cat-boom di kawasan Cisitu Lama ini. Berangsur-angsur, populasi kucing bertambah. Entah siapa yang memulai kok bisa begini. Sepertinya, tiap beberapa blok rumah punya piaraan kucing sendiri. Perlahan, di setiap gang kita bisa melihat hewan unyu itu sedang jalan, berkelahi, atau sekedar bersantai. Tentu saja, jika harus memilih, manusia manapun [citation needed] akan memilih kucing dibanding tikus. Banyak tikus berkeliaran atau banyak kucing berkeliaran? Lebih terkesan menyenangkan yang kedua yak… Namun, jalanan di gang-gang dalam Cisitu Lama sekarang menjadi kurang nyaman. Bau, kotor. Tidak hanya dari comberan yg memang dari sananya terkadang agak …

Masuk Buletin STEI

Alhamdulillah, setelah kembali aktif mengeblog selama dua bulan, akhirnya saya mendapat buahnya juga. Bulan lalu salah satu dosen saya, Bapak Rinaldi Munir, memilih salah satu tulisan saya untuk dimuat di buletin STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, salah satu fakultas di ITB). Tulisan saya tersebut berjudul Facebook dan Google+: Mengapa Google+ Terlihat Sepi. Tulisan ini dimuat pada Buletin STEI Tahun 2 Vol.2 (April-Mei 2012). Buletin STEI merupakan media internal dari fakultas STEI yang terbit dua bulan sekali. Buletin ini dibagikan kepada lab-lab di STEI dan beberapa pihak yang memiliki kerja sama dengan STEI. Pada buletin ini terdapat rubrik “Dari Blog ke Blog” yang menampilkan tulisan dari blog yang ditulis keluarga STEI. Kebetulan, setelah blogwalking, Pak Rin menemukan tulisan saya tersebut. Saya memang belum merasa tulisan saya sudah bagus untuk dimuat di media lain selain blog. Akan tetapi, saya sangat ingin memiliki kemampuan seperti teman-teman yang tulisannya bisa tembus ke majalah, koran, atau media elektronik. Dengan demikian, tawaran dari Pak Rin sangat membahagiakan. Walaupun buletin STEI ini hanya media terbatas, ini mungkin awal dari jalan saya menuju …

Kurma, Madu, dan Arum Manis

Sepuluh September pagi, sayup-sayup takbir bersahutan di langit sana menandakan bahwa hari ini adalah hari raya, hari raya kembali. Menandakan pula kalau aku telat bangun dan shalat subuh di masjid. Setelah kemarin ku kira takkan ada kumandang takbir, ternyata ada pula sesahutan takbir di malam lebaran Bandung ini. Sebenarnya takbirnya mulai setelah shalat isya di malam sebelumnya, diiringi dentuman-dentuman dan percikan di langit tentunya. Aku tidak yakin apakah itu petasan atau bom beneran.

Flowers in the Holy Night

Sore ini hari terakhir ramadhan. Aku masih di Bandung, di kosan ku sendiri. Seminggu terakhir selalu hujan cukup deras di luar sana, membuatku buka seadanya di kosan atau nekat menunggangi superbit menembus cucuran air untuk sekedar mencari es pisang hijau yang telah lama ku dambakan. Tetapi sore ini, aku terkurung di kosan malas beranjak dari novel Negeri 5 Menara yang sedang ku baca. Meskipun esok lebaran, aku belum – atau tidak bisa – bertemu keluargaku. Meskipun esok lebaran, suasana sore ini sama seperti sore-sore sebelumnya. Magrib ku berbuka dengan kurma, madu, dan arum manis, terlambat ke masjid dan ketinggalan jamaah di masjid super cepat An-Nur. Meskipun esok lebaran, tiada yang berbeda di masjid. Tidak ada takbir bada magrib, tidak ada kumpul-kumpul atau sensasi meriah lainnya. Sepi, semua* telah kembali ke rumah masing-masing.

My 14th Feb Day, The Cake Day

Hariku hari ini penuh dengan kelelahan. Bukan dengan valentainan atau jalan-jalan atau perayaan ulang tahun atau apapun tentunya. Sebaliknya, hari ini kuhabiskan penuh dengan kegiatan Gamais, setidaknya itu secara kasarnya terjadi. Dan hari ini aku hampir tidak makan nasi, melainkan aku terpaksa menyantap kekuean dengan total nilai mungkin melebihi 10.000 rupiah dan gratis, pagi sampai sore.

Guidance??

Tadi (barusan) saya laper. Karena bosen makan yang aneh-aneh, akhirnya saya memutuskan untuk makan di Balubur, di Warung Pecel Lele Jawa Timur yang sering saya singgahi. Jaraknya dari kosan cukup jauh, sekitar 1 – 2 km melewati ITB ke selatan. Entah mengapa perasaan ini timbul dengan kuat, padahal biasanya paling males keluar malem apalagi jauh dan cuma untuk makan. Akan tetapi, keinginan kuat itu tak dapat ditahan. Motor pun dikeluarkan dan aku pun capcus ke sana. Sampai di sana ku bilang “mas biasa satu” ke mas-masnya dan pesanan pun datang. Telor+tempe+tempe+kol goreng terhidang di hadapan. Selesai makan, aku pun pulang. Entah mengapa punglor yang biasanya memungut pungli kepada motor yang parkir di jalan balubur sebagai tukang parkir di pojok sana tidak menyambangiku. Aku pun cabut cepat-cepat sambil mengetes motor yang baru diservis (setelah 3 bulan + 3 kali per tiga minggu naik gunung). Sesampai di simpang dago dekat kosan aku kaget. Ternyata para pedagang kaki lima di sana lenyap. Jalanan sepi namun polisi dimana-mana. Padahal tadi pas berangkat lewat sini aku tak menyadari apa-apa. Hm, …

Jumat dan Kompas Kiblat

Hari ini aku mengalami kejadian yang cukup aneh. Mungkin aku ditegur oleh Yang Mahakuasa karena keteledoranku. Mungkin juga ini pertanda aku memang sedikit pelupa dan ceroboh. Jum’at ini, Gamais 2008 berencana mengadakan suatu aksi pembenahan arah kiblat mushala se ITB. Seperti yang diketahui, beberapa mushala ITB memiliki arah kiblat yang agak (beberapa lagi sangat) melenceng dari yang seharusnya. Salah satu contoh adalah mushala Basement Campus Center Barat yang parah melencengnya. Arah shaf mushala ini sudah 2x kali “update”, tetapi entah mengapa terus kembali ke posisi semula.

Tempe Fosil

Pulang dari Lampung bawaanku cukup banyak. Semua bawaan itu terkompilasi dalam satu koper kecil merk President yang sudah tak terhitung seringnya menemaniku mudik. Kebanyakan bawaan ini adalah ‘souvenir’ lebaran yang sebenarnya tidak begitu penting. Diantaranya adalah 3 toples kue untuk cemilan di Bandung kelak, salah satunya –kue keju– disiapkan untuk ibu kos.