Bulan: Mei 2015

N.U.R.I

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham.  Profesor Ilham…” Suara itu lirih menggema. Suara lembut yang sangat ia rindukan. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu. “Nuri…?” Ia  mengigau. Terbaring di kasur, Ilham merasa masih lemas. Masih ingin melanjutkan tidur. Ilham perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih tampak kabur. Samar-samar ia melihat di hadapannya kamar yang begitu penuh dengan kenangan, sudah sepuluh tahun dia tinggal disana. Ruangan penuh cinta penuh kenangan. Ilham meluruskan badan dan berbaring telentang. Samar menatap langit-langit bercorakkan kerlip cahaya bintang, hadiah spesial untuk ulang tahun istrinya tahun lalu. Tiba-tiba wajah Ilham basah. Entah langit-langit itu bocor atau hujan merembes lewat jendela, sehingga sekelompok tetes air hinggap di wajahnya. “Nura-nuri… Sudah jam berapa ini… Ayo bangun! Tumben-tumbennya…” Seorang wanita cantik berdiri di samping Ilham. Rambutnya tertutup kerudung putih. Mawar emas terukir di ujung segi empatnya. Wanita itu tidak tinggi dan tidak gemuk. Tidak, kurus pendek mungkin lebih tepat. Seperti masih remaja atau malah anak-anak. Namun, namanya anak-anak pastilah tampak menggemaskan. Sayangnya, sekarang ia tidak lagi mode gemas. Berkacak pinggang, si cantik tampak …