Bulan: Juni 2013

Kahfi

Ah, lemas sekali rasanya badan ini. Sepertinya sudah lama sekali saya tertidur. Tertidur… Hmm, tunggu dulu. Kok, rasanya kata itu kurang pas menggambarkan keadaan aku. Sebentar. Ada yang aneh. Rasa empuk tempat tidur yang tidak familiar. Seingatku, kasurku tidak seempuk ini. Harum bunga yang tidak ku kenal. Mana ada bunga di kamarku. Cahaya silau lampu kamar yang mampu menerobos kelopak mata diriku yang sedang tertidur pulas ini. Bagaimana bisa, lampu kan selalu kumatikan sesaat sebelum tidur. Rasa dingin malam yang tidak pernah kurasakan. Dan Hening. Terlalu hening. Sebenarnya di mana aku sekarang? Aneh, aku tidak ingat. Ah, bagaimana sih. Tinggal bangun saja bukan? Apa susahnya… Aku coba membuka mata yang tertutup erat ini. Susah sekali rasanya. Ayo, kenapa… Selelah itukah aku sampai sulit sekali kelopak mata ini bergerak. Tapi aku harus tahu, apa yang terakhir kulakukan, sehingga aku berada di tempat asing ini. Dan apa tempat asing ini? Setelah berjuang sepenuh jiwa selayaknya memperjuangkan bangun setelah tidur dari bergadang mengerjakan tugas besar berhari-hari, bukannya hilang butir-butir keanehan tadi, malah bertambah satu demi satu. Aku tidak …

Cerita Pak Kimura: Pernikahan Orang Jepang

Sebagai penutup seri dua tema bulan ini, saya menyampaikan artikel yang menyilangkan keduanya: jejepangan dan ninikahan. Sebelum masuk ke cerita inti yg saya dengar dari Pak Kimura, mungkin ada baiknya kita simak sekilas info tentang masalah yg dihadapi di jepang saat ini. Jepang sedang mengalami yang namanya bencana populasi. Jepang adalah negara yang sangat makmur dan kaya yg salah satu indikator utamanya adalah rata-rata umur, hingga 80 tahun untuk pria. Peringkat yg sepertinya paling tinggi seluruh dunia. Akan tetapi, tingkat kelahiran Jepang kian tahun selalu mencetak rekor, terendah. Peringkat kelahiran Jepang hanya 10.3 dari 1000 orang di tahun 1993 [1] dan sekarang lebih rendah lagi, hanya 1.75%. Akibatnya, jumlah populasi produktif Jepang sangatlah sedikit. Katanya, jumlah orang tua di atas umur 65 tahun mencapai 20% populasi disana, bahkan tahun 2010 pun Jepang kehilangan 212.000 penduduk [2]. Kalau tren ini terus begini, populasi Jepang hanya akan setengah dari sekarang 70 tahunan lagi. [3] Itulah mengapa Jepang banyak impor pelajar dan pekerja ke negaranya. Proyek terbarunya saja, Global 30, menargetkan 300.000 pelajar asing yang studi di kelas …

Hobiku Dulu : Membuat Ambigram

Waktu saya masih muda dulu (baca: masih TPB), saya suka sekali mengotret-otret buku binder. Waktu itu kebetulan lagi zamannya Angels&Demons. Sebuah novel Dan Brown yang sangat memukau dan diisi oleh berbagai ambigram. Nah, salah satu yang suka saya otret-otret adalah ambigram. Asyik rasanya membuat ambigram. Oh ya, ambigram adalah sebuah kata atau bentuk yang jika dilihat dari sisi, dengan cara, dan melalui sudut lain tetap mempertahankan maknanya atau memiliki makna lain. Misalnya kata suns dibalik juga bisa dibaca suns. Kasur Nababan Rusak yang berupa palindrome bisa dibilang termasuk dalam ambigram. Namun, biasanya ambigram yang cantik tidak memiliki susunan huruf yang palindrom. Meskipun begitu tetap bisa dibaca sama, jika dibaca terbalik, dicerminkan, atau dengan sudut persepsi tersentu. Logo perusahaan SUN, yang muter empat kali itu juga termasuk ambigram. Ambigram juga tidak mesti sebuah kata dibalik menjadi kata yang sama ya. Bisa juga menjadi kata yang berbeda, berpadanan, atau bertentangan. Contohnya, ambigran EL-IF, dua kubu bertentangan pada Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Logo di atas juga sedang populer pada saat saya masih TPB. Contoh ambigram yang saya buat …

22 Juni 2013, SNF

Hari ini, seorang sahabat melaksanakan sebuah mitsaqan ghaliza, menaiki sebuah milestone batu tolakan, dan menempuh hidup baru. Mencapai target yang sudah ditetapkan dan diimpikan sejak lama.   Sebagai teman serumah selama beberapa tahun belakang, saya tentu turut senang dengan pencapaian target ini. Walaupun pada akhirnya, teman serumahnya dia bakal berbeda from this point on. Jadi kayak ngerasa ngelepas anak, hehe. Agak nggak rela juga dan tentunya iri juga, haha. Apapun itu, dengan artikel ini saya bersama seluruh jajaran kosan KIPAN mengucapkan: Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma bikhayr. Semoga Allah SWT memberikan berkah kepadamu dan memberikan berkah atasmu serta menyatukan kamu berdua didalam kebaikan Berikut adalah kado yang kami berikan. Sederhana. Sangat-sangat sederhana. Ortodox pula, nggak ada bagus-bagusnya ya… Ya mau gimana lagi. Soalnya nggak ada duit, yg sokongan cuma dua orang sih. Harap maklum… Meskipun begitu, kami sangat berharap bahwa objek di atas dapat dimanfaatkan benar-benar dalam kehidupan. Tidak hanya dijadikan simpanan di gudang di dalam kardus aslinya. Semoga… Filosofinya dari disain yang tertera di objek tersebut, seperti tampak pada ilustrasi di samping, adalah bahwa …

Yuzu – REASON

居るよ そばに 一番近く Iru yo soba ni ichiban chikaku 今はただそれだけでいいから Ima wa tada sore dakede īkara いつかそっと言いかけた Itsuka sotto ii kaketa 夢の続きを聞かせてよ Yumenotsudzuki o kika sete yo Ku disini, sedekat mungkin di sampingmu Itu saja sudah cukup bagiku Suatu hari maukah kau memberitahuku Kelanjutan dari mimpi-mimpimu 僕らにどんな世界が Bokura ni don’na sekai ga 道なき未知の先に待ってる? Michi naki michi no saki ni matteru? 声なき声はこのまま何処にも届かずに消えてゆくの? Koe nakigoe wa kono mama doko ni mo todokazu ni kiete yuku no? Dunia seperti apakah Yang menanti kita di akhir jalan tak bernama ini Akankah suara senyapku menghilang tanpa dapat mencapai manapun? 忘れない(昨日の記憶) Wasurenai (kinō no kioku) 消せない(今日の後悔も) Kesenai (kyō no kōkai mo) 投げ捨て(がむしゃらに明日を目指す) Nagesute (gamushara ni ashita o mezasu) 朝日に照らされた傷 笑いあって Asahi ni terasa reta kizu warai atte 終わることない旅を続けよう Owaru koto nai tabi o tsudzukeyou Jangan lupakan.. (Kenangan masa lalu) Tak terhapuskan.. (Penyesalan hari ini juga) Buanglah.. (Dan gegaslah memandang hari esok) Tersenyumlah pada luka yang bersinar karena mentari pagi Dan lanjutkan perjalananmu yang tiada akhir… 向かい風と知っていながら Mukaikaze to shitte inagara それでも進む理由がある Soredemo susumu riyū ga aru だから友よ Dakara tomoyo 老いてく為だけに生きるのは Oite …

S.U.A.M.I. & I.S.T.R.I.

Suatu hari, pak ustadz bercerita. Pernikahan itu ibarat mengarungi samudera. Saat ini, kita seperti sedang berdiri di pantai. Melihat ke arah laut sana, semua tampak indah. Langit biru, cahaya mentari senja, dan hamparan laut yang jernih menyibakkan karang dan ikan berenang-renang. Padahal, ketika kita mengangkat sauh dan pergi ke tengah laut sana, tidak di pinggir pantai lagi, keindahan yg kita lihat tadi perlahan-lahan akan memudah. Yang ada adalah perjuangan. Ombak dan badai. Supaya bahtera rumah tangga dapat tersebut dapat dikemudikan dengan baik, sebaiknya kita memahami apa itu SUAMI dan ISTRI. S.U.A.M.I. S – Sabar. Sepertinya halnya berlayar dalam sebuah kapal, kita harus sabar dan tenang dalam menghadapi segala hal. Laiknya berlayar, pernikahan tidaklah berisi taman-taman indah semata. Banyak sekali problematika yang akan dihadapi. U – Usaha. Seorang suami harus berusaha. Berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, karena memang itu kewajibannya. Berusaha untuk memberikan nafkah yang halal dan thayyib. Berusaha untuk memasukkan keluarganya ke surga. Kalau suami tidak bisa usaha, nanti sulit ditaati istri. Misal motor dibelikan istri. Kalau mau memakai motornya kan repot, harus izin …

Resensi Buku: Udah Putusin Aja!

Judul Buku: Udah Putusin Aja! Penulis: Felix Y. Siauw Visual: Emeralda Noor Achni Penerbit: Mizania Harga Buku: di bawah Rp. 50.000,- Tebal Buku: 180 halaman Sekitar dua bulan lalu, saya membeli buku berwarna pink yang katanya sedang naik daun ini. Tadinya saya tidak berniat beli (karena tidak tahu eksistensinya). Saya diajak teman untuk ke toko buku dan kami menemukan buku ini tergeletak. Seru loh, laris, beli sana. Kata teman saya. Sudah lama tidak membeli buku dan sedikit keinginan untuk mulai membaca buku “aneh-aneh” begini, saya pun setengah niat membelinya. Dorongan, rayuan, dan motivasi teman saya tersebut meyakinkan saya untuk membeli ini buku, alhamdulillah. Tentu, pada akhirnya dia tertawa dan katanya *membercandai saya* ingin memberitahu orang-orang kalau saya beli buku seperti ini. Saya sebenarnya ingin membuat resensi buku ini beberapa saat setelah baca. Namun, entah mengapa telat dan telat. Tapi nggak papa, sepertinya pada tanggal ini lebih tepat mengingat dua tema blog di bulan Juni ini, hmm.. Minggu kemaren jejepangan minggu ini ninikahan. Akan tetapi, karena buku pink ini sudah saya hadiahkan ke adik perempuan saya seminggu setelah baca, …

Cerita Pak Kimura: Keluarga dalam artian Family dan Household

Kata Pak Kimura, family adalah sekumpulan orang yang tinggal serumah dan memiliki hubungan darah (atau pernikahan) langsung. Sedangkan household adalah sekumpulan orang yang tinggal serumah atau sekompleks rumah. Sudah, titik. Tidak ada prasyarat lain seperti family atau keluarga yang kita pahami. Jadi, household tidak harus memiliki hubungan darah, tetapi bisa juga hubungan perguruan, perusahaan, yakuza, atau sekedar penginapan.

Cerita Pak Kimura: Sampah di Jepang

Pak Kimura bercerita tentang sampah di Jepang. Kalau disini, kita buang sampah bisa seenaknya. Saat saya bilang seenaknya, itu berarti seenak kita. Mau buang di kotak sampah, selokan, bawah kolong meja, dll. Bahkan saat buang di kotak sampah pun hampir tidak ada yg peduli untuk memisahkan yg mana yg organik mana yg anorganik. Padahal kategorisasi sampah disini hanya dua. Kalau mau buang sampah pun, disini bisa pakai plastik apa saja kan? Mau trash bag betulan merek apa saja, mau kantong bekas dari minimarket, atau kresek biasa. Bebas. Di Jepang, kata Pak Kimura kita tidak bisa bebas. Disana setiap rumah kalau mau buang sampah wajib berlangganan ke perusahaan pengelola sampah kota. Kalau nggak berlangganan, ya nggak bisa buang sampah. Simpen sendiri aja di rumah. Nah, kalau sudah berlangganan boleh tuh meletakkan sampah di tempat penampungan sampah. Kemudian, tidak seperti disini yg pakai kantong apapun boleh. Sampah yg dibuang di Jepang harus dikemas oleh kantong plastik khusus dari kota. Intinya, harus beli merek tertentu yg disediakan oleh pemerintah kota. Nggak bisa sembarangan. Cek dulu kantong di kota …

Cerita Pak Kimura: Universitas Sakura dan Bank Tomat

Dalam rubrik Cerita Pak Kimura ini, saya akan menceritakan cerita yg diceritakan kepada saya oleh Prof. Kimura, profesor dari Tohoku University yg tinggal di Indonesia mengepalai Tohoku University International Relation Office (TUIO) di ITB. Saya sudah bertemu dengan beliau kira-kira satu tahun untuk belajar bahasa Jepang. Beliau membuka kursus gratis di kantornya di atas IRO ITB, depan lapangan sipil. Kalau Anda mau ikutan, tunggu aja kira-kira Agustus/September. Semoga saja masih buka japanese language course-nya. Beliau mengajar bahasa Jepang dengan bahasa Jepang (+bahasa Inggris logat Jepang sikit-sikit). Dan beliau banyak menceritakan hal-hal trivial di Jepang sana yg mungkin disini agak terlihat aneh. Nah, cerita ini yg akan saya tulis sikit-sikit. Ceritanya beberapa berkaitan dengan kehidupan di Jepang. Saya sih belum pernah kesana. Tadinya ingin menulis cerita Prof Kim ini setelah dapat melihat langsung kebenaran cerita beliau. Namun, kayaknya butuh ngisi blog nih. Hitung-hitung juga mengisi hati di bulan ini. Jadi ya dipercepat publikasinya. Sekalian menyemangati diri kali ya, supaya cepat kesana. Aamiin. Nah, suatu ketika di buku Minna no Nihonggo, terdapatlah sebuah teks dengan tulisan Sakura Daigaku, alias …

Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Sabtu kemaren, tanggal 08 Juni 2013, Bandung dilanda hujat hebat. Bukan lebat tapi hebat. Sudah naik tingkat lah dari l ke h, bentar lagi d mungkin. Saya kebetulan waktu itu sedang berkendara dari arah selatan ke utara. Hari itu gelap. Langit di kejauhan utara berwarna agak aneh, kelabu jingga. Kelabu dengan rona oranye sedikit. Semakin ke utara suasana semakin mencekam. Semakin gelap. Hingga sampai saya di jalan Riau, masuk arena distro dan mau keluar ke jalan dago di Dukomsel, hujan itu pun tiba. Kebetulan saya juga terjebak oleh mobil aneh yg entah kenapa parkir menghalangi jalan meskipun di pinggir, saya pun berhenti sejenak memakai ponco. Jalan Santo Yusuf Maulana Yusup saat saya memakai ponco dan perempatan ke Jalan Juanda kemudian belok kanan perempatan di bawah Jembatan Layang Pasupati sebenarnya tidak jauh. Hanya 40 meter dan 40 meter. Namun, ketika saya sampai di bawah Jembatan Cikapayang tersebut, jalan raya sudah menjadi danau. Itu belum seberapa, setidaknya danau disana alirannya tenang dan masih sangat sedikit. Maju sedikit, tampak Jalan Juanda ke arah simpang dago melewati perempatan jalan Ganesha …