All posts filed under: Celoteh

Mencibir Korban Bencana Alam

In which I condemn people who yell “it was divine punishment!!” in the strongest term. And whoever share the video.

Iklan

Saraba… Nomor telponku…

Saya sudah di Jepang hampir lima tahun. Tentu saja saya punya nomor telepon selular Jepang sendiri, karena sangat tidak praktikal untuk tetap memakai nomor telpon Indonesia. Namun, selama ini nomor telpon Indonesia itu tetap saya biarkan hidup. Well, karena semua orang yang saya kenal di Indonesia tahunya nomor itu. Sejak SMA saya pakainya itu. Jadi alangkah elegan kalau nomor tersebut terus saya pakai sampai saya pulang lagi ke Indonesia dan terus selama saya hidup. What a romantist thought. Cara Bertahan Hidup Sebelum berangkat ke Jepang, saya bertanya ke Grapari Telkomsel. Gimana caranya supaya ini nomor hidup terus tapa dipakai di Jepang… Konversi ke Halo aja, katanya… Tapi kalau dari As nggak bisa pakai nomor yang sama, harus ganti yang awalnya 0812 (etc)… -.- Well, that defeat’s the purpose. Ada cara lain nggak? Nggak ada, katanya… Pff… Untungnya, Kartu As itu kalau dipakai sejumlah tertentu, masa aktifnya akan bertambah sebulan. Ya udah manfaatkan gitu aja. Saya isi pulsa terkecil, Rp25.000 dan setiap bulan saya kirim SMS nge-junk satu ke random person. Karena roaming, satu SMS itu aja memakan …

Nan ya?!

Di dalam semangat nuansa makna, saya baru saja diperkenalkan oleh teman Jepang saya satu komik yang sangat lucu berikut. Hampir semua dialog di komiknya cuma bilang “nan ya” atau variasinya. Dan tentu saja, artinya, atau lebih tepatnya arti dan nuansa di dalamnya berbeda-beda. Komik ini bukan dalam bahasa Jepang standar, melainkan dalam dialek Kansai. Mari kita cek. Kalau di artikan ke bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan kesan yang ada di bahsa aslinya, mungkin kira-kira seperti berikut. Patut di catat bahwa komik bahasa Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri. “Ih, apaan nih?” *ngejek “Apaan loe!?” *nggak terima “Apaan gan… Nggak apa-apa gan….” *menenangkan “Apaan sih?!” *bingung “Loe yang apa??” *nantangin “Apa loe ha!?” *balik nantang “Apa juga ha!?” *gelut “Apa-apaan ini kalian!” *kesel “Ngapa!!???” *nantangin juga loe? “Apaan toohh—-!!” *nggak mudeng “Eh apa tuh?” *nanya sesuatu “Apaan?” *konfirmasi pertanyaan balik “Apaan sih apaan?” *yang lain ikut penasaran “Apa, gelut katanya…”  *terjawab “Oh, kirain apaan.” *kecewa Tamat.

Scam Menang Undian

Pas jaman SMP, saya dan keluarga menerima sebuah scam yang cukup besar dan pintar. Kami tidak menyadarinya waktu itu. Namun, setelah dipikir-pikir besar kemungkinan kalau itu penipuan atau setidaknya trik marketing amoral. Saya tidak begitu ingat detail kejadian. Kira-kira seperti berikut lah ceritanya. Suatu pagi, seorang ada yang mengetuk pintu rumah. Saya pun mem-pause game Empire Earth dan keluar menyambut sang pengetuk pintu. “Ibunya ada dek?” “Mama lagi tidur kayaknya om. Kenapa?” “Oh… Ini mau nitip surat. Kasihin ke Ibunya ya…” “Surat apa ini om?”‘ “Undangan buat ambil undian. Ajak ibunya ke toko ya dik… Siapa tahu dapat hadiah lho.” “… Nanti ya om. Bilang papa dulu. …” Surat pun saya berikan ke ibu saya dan kemudian dibaca oleh ayah malam harinya. Keesokan hari, karena tidak ada kerjaan, sambil jalan-jalan kami pun mengecek si toko. Pengen tahu, undian kayak apa sih… “Ting teng ting teng,,,, Selamat Adik dapat hadiah peringkat tiga. Microwave terbaru merek XYZ! Hanya seperempat harga! Wow!! Gimana nih bapak ibu? Ajaib banget tangan anaknya nih…” “Microwave ini canggih bapak-ibu. Coba lihat, disini ada 11 …

Re:Zero, A Masterpiece

Saya bukan mau menulis review atau resensi tentang anime Re:Zero Kara Hajimaru Isekai Seikatsu (Re:ZERO Memulai Hidup di Dunia Lain dari Nol). Mungkin untuk bahan tulisan lain kali. Namun sebenarnya review anime cerita Re:Zero ini cukup dengan satu kata: MASTERPIECE!! Atau kalau kurang jelas reviewnya, saya mengutip reviewer Corny632 dari MAL: IT IS SO AWESOME THAT IT’S BEYOND YOUR IMAGINATION! Yeah, you got it right, I had to write it in caps because YOU CAN NOT COMPREHEND IT’S AWESOMENESS!!! Yup, cukup gitu doang. Mungkin ada yg kurang biasa dengan review dengan cuma satu kata atau maksimal dua baris. Pasti ada yang masih nggak yakin dengan review tersebut. Tapi itu faktanya… Padahal belum selesai tayang, masih on going saat tulisan ini ditulis! Akan tetapi, seperti yang saya bilang di paragraf pertama, saya bukan mau mereview. Cuma mau menumpahkan perasaan saya yg diubek-ubek oleh anime ini. Saya termasuk veteran penonton anime. Hampir Pasti tiap hari nonton. Saya sebenarnya penggemar story telling secara general, bukan cuma anime. Kenapa saya lebih sering “mendengar” cerita dari medium anime alias Japanese animation dibanding medium lain (Drama, TV …

Tanjungbalai, 4 Agustus 2013, Malam 27 Ramadhan: Festival Kembang Api

Dear diary Blog Kemaren Siang, Desing peluru. Bau mesiu. Dentum ledakan. Di ujung horizon utara, tampak rinai-rinai cahaya. Bersuar… Kerlap kerlip menyeruak putih dari gelapnya malam. Itulah yang akan didapati hampir semua warga Tanjungbalai ketika ia menjejakkan kaki ke luar rumahnya pada malam 27 Ramadhan ini. Entah siapa yang merencanakan non-event ini. Atau memang sudah tradisi (entah siapa yang memulai). Seolah-olah semua warga sudah tahu dan sepakat untuk menyalakan kembang apinya bersama-sama*. Mulai dari maghrib malam ke 27 Ramadhan. Hasilnya lumayan seru. Desing merecon roket siing siing dan rentetan ledakan kecil seperti peluru. Bau asap bekas ledakan kembang api. Dentum ledakan merecon yang agak lebih elit sedikit. Beruntut-runtut tanpa henti. Benarlah kata adikku ri, malam ini seolah-olah sedang berada di kawasan latihan militer**. Menurutku, dibanding orang menyalakan merecon sendiri-sendiri, kemudian mengganggu tetangga. Bikin ribut saja. Kalaupun memang rela membakar-bakar uang untuk merecon, mendingan sekalian ramai-ramai begini. Lebih seru! Jadi event atau non-event yang disepakati bersama. Seperti festival, sehingga semua orang menyalakan kembang api bersama-sama. Jadinya Semarak… Terasa semangatnya… Apalagi kalau festivalnya diadakan oleh pemerintah sebagai daya …

22 Juni 2013, SNF

Hari ini, seorang sahabat melaksanakan sebuah mitsaqan ghaliza, menaiki sebuah milestone batu tolakan, dan menempuh hidup baru. Mencapai target yang sudah ditetapkan dan diimpikan sejak lama.   Sebagai teman serumah selama beberapa tahun belakang, saya tentu turut senang dengan pencapaian target ini. Walaupun pada akhirnya, teman serumahnya dia bakal berbeda from this point on. Jadi kayak ngerasa ngelepas anak, hehe. Agak nggak rela juga dan tentunya iri juga, haha. Apapun itu, dengan artikel ini saya bersama seluruh jajaran kosan KIPAN mengucapkan: Barakallahu laka, wa baraka ‘alaika, wa jama’a baynakuma bikhayr. Semoga Allah SWT memberikan berkah kepadamu dan memberikan berkah atasmu serta menyatukan kamu berdua didalam kebaikan Berikut adalah kado yang kami berikan. Sederhana. Sangat-sangat sederhana. Ortodox pula, nggak ada bagus-bagusnya ya… Ya mau gimana lagi. Soalnya nggak ada duit, yg sokongan cuma dua orang sih. Harap maklum… Meskipun begitu, kami sangat berharap bahwa objek di atas dapat dimanfaatkan benar-benar dalam kehidupan. Tidak hanya dijadikan simpanan di gudang di dalam kardus aslinya. Semoga… Filosofinya dari disain yang tertera di objek tersebut, seperti tampak pada ilustrasi di samping, adalah bahwa …

Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Sabtu kemaren, tanggal 08 Juni 2013, Bandung dilanda hujat hebat. Bukan lebat tapi hebat. Sudah naik tingkat lah dari l ke h, bentar lagi d mungkin. Saya kebetulan waktu itu sedang berkendara dari arah selatan ke utara. Hari itu gelap. Langit di kejauhan utara berwarna agak aneh, kelabu jingga. Kelabu dengan rona oranye sedikit. Semakin ke utara suasana semakin mencekam. Semakin gelap. Hingga sampai saya di jalan Riau, masuk arena distro dan mau keluar ke jalan dago di Dukomsel, hujan itu pun tiba. Kebetulan saya juga terjebak oleh mobil aneh yg entah kenapa parkir menghalangi jalan meskipun di pinggir, saya pun berhenti sejenak memakai ponco. Jalan Santo Yusuf Maulana Yusup saat saya memakai ponco dan perempatan ke Jalan Juanda kemudian belok kanan perempatan di bawah Jembatan Layang Pasupati sebenarnya tidak jauh. Hanya 40 meter dan 40 meter. Namun, ketika saya sampai di bawah Jembatan Cikapayang tersebut, jalan raya sudah menjadi danau. Itu belum seberapa, setidaknya danau disana alirannya tenang dan masih sangat sedikit. Maju sedikit, tampak Jalan Juanda ke arah simpang dago melewati perempatan jalan Ganesha …