All posts tagged: For export

Kenapa Nggak Tutup Puasa Aja?

Sebenarnya udah jelas sih di judul dan gambar di atas. Nggak perlu ditulis artikel lagi sebenarnya. Intinya, saya bertanya-tanya kenapa di bahasa Indonesia disebutnya buka puasa. Bukan tutup puasa. Ada yang tahu? Kalau acara, saat dimulai ada pembukaan, saat berakhir ada penutupan. Kalau film, ada tema pembuka di awal, ada tema penutup di akhir. Kalau manusia, awal hari buka mata, akhir hari tutup mata; lahir buka masa, meninggal tutup usia. Kalau puasa, mulainya namanya sahur, akhirnya eh namanya berbuka. Apa ini maksudnya mulutnya mulai dibuka, boleh dimasukkan makanan. Atau karena setelah maghrib itu, dibukalah batasan yang harus ditahan agar puasa tidak batal? Atau puasa itu ibarat barang baru dibeli gitu ya… Batal (garansinya) kalau dibuka (segelnya). Soalnya Bahasa Inggris kan jelas tuh,break fast, puasanya dirusak/dibatalkan. Atau karena berbuka itu bukan bagian dari puasa? Bukan titik akhir dari puasa, tetapi rentang waktu yang ada setelah titik akhir itu sendiri, yang dipakai untuk makan, makan-makan, dsb. Tidak seperti pembukaan acara dan penutupan acara yang termasuk dari acara itu sendiri. Ini di luar rentang utama puasa, Wah berarti fokus utamanya …

Nan ya?!

Di dalam semangat nuansa makna, saya baru saja diperkenalkan oleh teman Jepang saya satu komik yang sangat lucu berikut. Hampir semua dialog di komiknya cuma bilang “nan ya” atau variasinya. Dan tentu saja, artinya, atau lebih tepatnya arti dan nuansa di dalamnya berbeda-beda. Komik ini bukan dalam bahasa Jepang standar, melainkan dalam dialek Kansai. Mari kita cek. Kalau di artikan ke bahasa Indonesia, tanpa menghilangkan kesan yang ada di bahsa aslinya, mungkin kira-kira seperti berikut. Patut di catat bahwa komik bahasa Jepang itu dibaca dari kanan ke kiri. “Ih, apaan nih?” *ngejek “Apaan loe!?” *nggak terima “Apaan gan… Nggak apa-apa gan….” *menenangkan “Apaan sih?!” *bingung “Loe yang apa??” *nantangin “Apa loe ha!?” *balik nantang “Apa juga ha!?” *gelut “Apa-apaan ini kalian!” *kesel “Ngapa!!???” *nantangin juga loe? “Apaan toohh—-!!” *nggak mudeng “Eh apa tuh?” *nanya sesuatu “Apaan?” *konfirmasi pertanyaan balik “Apaan sih apaan?” *yang lain ikut penasaran “Apa, gelut katanya…”  *terjawab “Oh, kirain apaan.” *kecewa Tamat.

Batas Privasi Orang Indonesia

Pertama jumpa dengan seseorang, tentu kita tidak punya info apa-apa thd orang tersebut. Orang Indonesia, yg kebanyakan suka ngobrol, biasanya banyak bertanya macam-macam tuh. Dari mana asalnya? Rumahnya? Oh di bagian sananya itu ya? Loh, dulu katanya SMA di sana, jadi bukan orang sana? Oh keluarga pindah. Kenapa? Sekarang kuliah? Jurusan? Wah, bentar lagi lulus dong. Kok nggak masuk ke [UNIV LAIN] aja? Apa lagi kalau bertemu dengan yg sedikit lebih tua. Bapak-bapak gitu. Sampai jumlah anak, pekerjaan, kegiatan istri, prestasi gitu bakal diceritakan. Umur, lingkungan kerja, berat badan, politik, agama, dll juga bisa jadi obrolan. Hal tersebut juga kadang orang Indonesia terapkan saat bertemu (entah tidak sengaja atau memang kolega/teman dari teman) dengan orang asing. Bisa lebih banyak tuh pertanyaannya. Padahal, sepertinya menurut orang asing bombardir pertanyaan seperti itu seperti melanggar privasi ya. Misalnya, di artikel Discussion Indonesian Men and Their Obsession with me Marrying Their Women, ada bule yg sedang tinggal di Indonesia mengeluhkan mengabarkan hal ini. Ternyata beda negara memang beda budaya ya. Tapi di Indonesia ada yg aneh. Nama, yg biasanya paling penting, …

Blog Berbahasa Inggris atau Indonesia?

Terkadang kita dalam mengurusi blog suka gamang dalam memilih bahasa pengantar: bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Hal ini kadang menjadi dilema yang sangat mengganggu. Di satu sisi kita ingin blog kita ramai dikunjungi orang. Di sisi lain kita terkadang ingin blog kita selokal mungkin dan seramah mungkin untuk pembaca satu bangsa atau bahkan teman sendiri. Beberapa teman saya amati lebih memilih bahasa Inggris sebagai pengantar blognya. Mungkin blogger seperti ini memang ingin mengasah keahlian bahasa Inggrisnya terus atau memang ingin Go Global. Teman yang lain memiliki tiga blog yang ditulis dalam tiga bahasa yang berbeda: bahasa Jepang, bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia. Seperti kebanyakan blogger dan juga blog ini, tujuannya untuk memisahkan target pembaca, topik, dan pengasahan kemampuan bahasa. Uniknya di teman saya yang itu, blognya yang aktif hanya yang bahasa Jepang karena dia lebih jago berbahasa Jepang dibanding Inggris (dan mungkin Indonesia?). Blog Kemaren Siang ini sendiri memakai sistem pertengahan, jika kira-kira pembacanya umum saya tulis dengan bahasa Inggris, jika tidak ya Indonesia. Toh, saya cuma mengisi blog ini for fun dan  melatih kemampuan menulis . …

6 Blog tentang Blog

Blogging merupakan aktifitas yang cenderung dengan hobi bukan? Terserah lah mau bagaimana melakukannya. Tidak tidak. Blog tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana pengekspresian diri saja. Banyak sekali perusahaan (dan personal) di luar sana yang sangat mengantungkan hidupnya pada blog. Konten blog, ramai tidaknya blog, kerapian blog, dan ketersampaian pesan sangat krusial bagi mereka. Dengan demikian, mau tidak mau mereka harus mengetahui state-of-art tentang dunia perblogan ini. Hal ini bisa dilakukan dengan eksperimen, mencari mitra pakar, atau ya informasi gratis di Internet. Berikut adalah beberapa blog yang fokus utamanya adalah tentang blogging. Daftar blog dan isi artikel ini sebagian besar disadur dengan sedikit perubahan dari artikel pada zemanta oleh Nenad Senic. Oh ya, Blog Kemaren Siang ini dalam dua minggu ini juga sedang bertopik seputar dengan tag blog yang membahas tentang dunia perbloggingan menurut saya dan ringkasan dari beberapa artikel luar. Tentu saja, topik ini hanya sementara saja dan saya tidak bermaksud untuk memfokuskan diri ke hanya tema tersebut. Saya juga kan masih belajar dalam hal ini dan hanya ingin berbagi beberapa pelajaran yang didapat dari tautan luar sana. 1. Zemanta Blog Zemanta adalah mesin yang menawarkan sugesti …

Apa yang salah dengan kultwit?

Originally posted on >280 characters:
A note to my readers who don’t speak Indonesian (probably there are less than 6 of you out there, but I respect you): I’m sorry this time I have to write in the language you don’t understand. But I have to do it because firstly I suppose kultwit (means lecturing via tweets) is mostly an Indonesian phenomenon —at least I’ve never seen it done by non-Indonesian people in my timeline. Secondly, I attempt to reach a wider audience in Indonesia regarding this topic, and I suspect using English deters this. Thank you for your patience and understanding. Di Indonesia mungkin susah menemukan pengguna tetap Twitter yang tidak kenal kultwit, yakni rentetan twit yang membahas satu topik. Tujuan kultwit bisa untuk mengajukan suatu pemikiran (misalnya “industri film di Indonesia masih pekat diwarnai praktek monopoli”), melukiskan kembali suatu hal atau peristiwa (“gejolak dalam KPK di balik penetapan Miranda Gultom sebagai tersangka”), atau mengubah pendapat orang lain (“mengapa sebaiknya Anda tidak lagi mendukung rencana mempertahankan subsidi BBM”). Tujuan satu kultwit dengan yang lain…

Apakah Blog Masih Relevan?

Kita lihat masa sekarang banyak sekali layanan jejaring sosial betebaran. Mereka adalah tren baru dan gaya masa kini. Teknologinya paling terdepan. Sebaliknya blog merupakan media kuno yang sudah ada semenjak web dikenal orang. Perkembangannya ya begitu-begitu saja, tidak sepesat layanan “jejaring sosial” (walaupun terkadang blog juga dianggap sebagai salah satu jejaring sosial). Pemakainya jangan-jangan cuma orang-orang tua 40 tahunan ke atas. Belum lagi, beberapa jejaring sosial tersebut memiliki fasilitas serupa weblog. Di Facebook misalnya sudah menjadi gaya untuk menulis nasihat, hikmah, atau sekedar puisi di notes dan disebarluaskan ke seluruh friends yang ada. Pada grup pun ada fasilitas doc yang bisa dijadikan catatan bersama. Twitter sering disebut-sebut sebagai sarana microblogging. Kecepatan pesebaran informasinya katanya melebihi kecepatan gempa. Google+ apalagi, dengan jumlah karakter nyaris tak terbatas pada satu posnya, ia nyaris bisa digunakan sebagai catatan web seperti blog. Hal ini menimbulkan pertanyaan, masih zaman kah blog? Masih relevan gitu? Jawaban singkatnya : SANGAT MASIH LAH!! Memang, banyak orang yang sangat nyaman dengan jejaring sosialnya. Nyaman bisa menspam umpan berita teman-temannya dengan ocehan mundannya. Nyaman juga bisa berbagi …