Bandung
Tinggalkan sebuah Komentar

Ngeteng 2011 : Metro-Bandung

DSC00054_macet_res

Perjalanan ngeteng biasanya lebih lancar dari bus langsung. Faktor utamanya biasanya di pelabuhan. Antrian kendaraan bisa sangat panjang, sehingga anda harus menunggu sangat lama. Macet di pelabuhan. Kalau anda jalan kaki tentu saja bisa menghemat waktu lebih besar.

Well, kelancaran sebenarnya hal yang relatif. Terakhir saya melaju dari Metro ke Bandung, ada ‘insiden’ sedikit. Saya mulai jalan dari Metro pukul 17.30. Dengan waktu sesore ini, bus di Metro masih ada tapi hanya sedikit. Tak beruntungnya, saya mendapat bus kecil. AC sih, tapi biasanya lebih besar, yang ini ukuran 25 kalau tak salah kernetnya bilang. Mungkin karena masih lebaran ke 6 hari Senin, bus itu penuh. Tak dapat kursilah awak. Mau tak mau berdiri pula saya di bus. Untung ada koper yang cukup besar, bisa diduduki.

Karena aku duduk (pada koper) ditengah bus dekat pintu, aku pun dapat ekslusivitas ngobrol dengan kernet. Makanya aku bisa tahu kalau bis ini ukuran 25. Aku juga tahu kalau bus ini bus terakhir kedua yang jalan dari Metro sore itu. Jalan dari Metro ke Bandar Lampung sampai kemarin juga sangat ramai, padat sehingga di sore hari kemacetan bisa sampai 4 jam. Wuih, perjalanan Metro-Balam yang tadinya 1 jam, jadi 5 jam dong.

Duduk tanpa sandaran, membuat guncangan mobil sangat kencang. Tak pelak, mentalku yang lemah di dalam mobil membuat kadar pusing di kepala lambat laun meningkat. Obrolan dengan kernet mungkin membantu, tetapi hanya sementara. Beruntunglah sesaat (sekitar 10 menit) sebelum sampai ke terminal aku dapat tempat duduk normal. Untuk menenangkan kepala. Tapi memang kurang beruntung, beberapa saat setelah turun dari bi situ keluarlah Mie Rebus yang kumakan di tempat Syaiful sore tadi. Maaf ya ipul.

Dalam keadaan pusing ria aku mencari bus ke Bakau. Ternyata layout Rajabasa sudah berubah. Tempat mangkal bus sudah berubah posisi, termasuk yang ke Bakau. Diberitahu kernet tadi aku menuju ke daerah deretan bus. Naiklah aku ke bus paling kanan, yang tampaknya sudah mau berangkat. Kernetnya yang semangat mencari penumpang rupanya tak melihatku. Cukup lama baru dia menyadari aku ada di dekat pintu bus itu. “Ada kursi kan bang?”, tanyaku memastikan. Aku tak mau tiga jam berdiri kali ini.

“Iya duduk kok.”, kata abangnya. Koper disimpan ke bagasi, aku pun naik. Ternyata tempat dudukku paling belakang, dan sudah padat dengan penumpang. Kursi panjang itu muat enam orang, dan aku orang ke empat. Yah, walaupun orang ke empat tapi karena ada penumpang “Orang Indonesia” di kursi panjang itu yang memakai 1,5 porsi tempat duduk (tasnya juga duduk di kursi), space yang ada tidaklah banyak. Untung aku tidak ditengah, karena disana tak ada senderan. Duduk tanpa menyender sama saja seperti bus sebelumnya tadi. Setengah senderan cukuplah membuatku bersyukur.

Beberapa saat kemudian aku melihat ke depan dan ke jendela. Kagetlah diriku. Bus itu sempit, kursi 2-3. Jendela dibiarkan terbuka. Beberapa kursi tempel ditengah. Bus ekonomi ku naiki. Jyah, salah naik bus. Sudah duduk berhimpitan, koper sudah dimana, mau bagaimana lagi. Pasrah, aku pun mencari posisi senyaman mungkin.

Konsekuensi naik bus ekonomi adalah lama. Bus ini terkenal tidak akan jalan jika tidak penuh penumpang. Ngetem dimana-mana. Mencari penumpang yang rela memenuhi koridor tengah. Tapi ada untungnya juga rupanya. Karena jendela dibuka, udara dalam bus sama dengan udara di luar. Dengan demikian, sifat mabuk atau pusingku bisa diredam. Meskipun ini menimbulkan masalah lain, jika terlalu lama aku bisa masuk angin.

Target sampai di Bakau jam 9 tertunda 45 menit. Untung saja kawanku dari kalianda, Abdurrisyad Fikri bersedia menunggui. Kami pun membeli tiket kapal. Melewati penjaga di mesin pembatas nonaktif yang meminta kartu yang hanya dibawa sejauh 3 meter saja. Masuk ke dermaga tiga dan menunggu kapal.

Setengah jam kemudian Panorama Nusantara datang. Kapal ini sangat besar. Punya dua buah café. Sepertinya memang digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Deck yang dimilikinya dua puluhan. Kebanyakan ekonomi. Ada area bertempat tidur pula, tapi tidak dibuka saat itu. Dan as usual, WC yang ada banjir dan berbau sangat pesing. Kami memilih ke ruangan paling mewah, ruang Kelas I yang hanya merupakan perombakan dari café yang tidak sedang dipakai. Banyak matras dimana-mana. Kami memilih kursi café dipojokan, sambil melihat ruangan dipenuhi keluarga-keluarga, anak rewelnya, dan ibu bawelnya. Ruang kelas I pun berubah menjadi pondok pengungsian. Dingin sih, tapi gelap, dan berisik.

Setelah hampir satu jam bersandar, kapal berangkat. Karena besar mungkin goyangan ombak tidak begitu berefek terhadap Panorama Nusantara ini. Dua jam perjalanan kami diisi dengan mengobrol ngalor ngidul, dan istirahat malam dengan porsi 50:50. Cerita selanjutnya adalah cerita biasa setiap ngeteng. Masuk dermaga Merak. Naik bis Arimbi. Beli popmie. Subuhan di Bus. Jam enam sampai di Leuwi Panjang. Naik Damri ke Dago. Sampai kosan langsung cek internet. Maklum anak IF.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s