Haduh-haduh
Comments 3

Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Sungai Juanda Dago 2

Sabtu kemaren, tanggal 08 Juni 2013, Bandung dilanda hujat hebat. Bukan lebat tapi hebat. Sudah naik tingkat lah dari l ke h, bentar lagi d mungkin.

Saya kebetulan waktu itu sedang berkendara dari arah selatan ke utara. Hari itu gelap. Langit di kejauhan utara berwarna agak aneh, kelabu jingga. Kelabu dengan rona oranye sedikit. Semakin ke utara suasana semakin mencekam. Semakin gelap. Hingga sampai saya di jalan Riau, masuk arena distro dan mau keluar ke jalan dago di Dukomsel, hujan itu pun tiba. Kebetulan saya juga terjebak oleh mobil aneh yg entah kenapa parkir menghalangi jalan meskipun di pinggir, saya pun berhenti sejenak memakai ponco.

Jalan Santo Yusuf Maulana Yusup saat saya memakai ponco dan perempatan ke Jalan Juanda kemudian belok kanan perempatan di bawah Jembatan Layang Pasupati sebenarnya tidak jauh. Hanya 40 meter dan 40 meter. Namun, ketika saya sampai di bawah Jembatan Cikapayang tersebut, jalan raya sudah menjadi danau.

Sungai Juanda Dago 1

Sungai Dago, dipotret dari samping McD Dago

Itu belum seberapa, setidaknya danau disana alirannya tenang dan masih sangat sedikit. Maju sedikit, tampak Jalan Juanda ke arah simpang dago melewati perempatan jalan Ganesha sangat padat. Air yang turun kian mengamuk. Entah mengapa mereka tidak turun dengan lurus atau dengan sudut tertentu, melainkan berputar-putar dahulu. Seolah-olah, kecepatan angin yg membawa mereka sedang menggas-mengerem.

Lewat jalan ganesha, macet masih sangat terasa. Kayaknya memang sampai simpang dago nih. Itu berarti 1-2 km. Saya sebagai pengendara motor memang agak lucky, karena bisa menyelip lewat celah kecil di antara mobil paling kiri dan batas trotoar. Semakin lama, semakin terasa genangan air di jalan. Yang tadinya hanya sejung kuku sudah mulai menjadi seujung tangan.

Sampai di bekas Petronas hingga CK Dayang Sumbi, secara resmi air tadi mengatakan baaadaai, baaadaaaaai…. Jalan dago ruas ITB yang biasanya saya tempuh hanya dalam waktu 5 menit, kini entah sudah lebih dari 20 menit tanpa ada sedikitpun ruang yg tidak terisi mobil. Dan di bawahnya, air. Kami tidak berjalan di jalan dago, tapi di sungai dago.

Ya. Perkenalkan, Sungai Dago atau dikenal juga dg Sungai Juanda. Sungai Arus Deras Terbaru di Bandung.

Perempatan Juanda – Dayang Sumbi adalah sungai paling mengerikan yg pernah saya lihat. Mungkin karena saya berkendara di atasnya. Naik motor cina butut Zealsun Super Bit, rasanya sulit sekali mengendalikan stang. Ukuran gas biasa sudah tidak berlaku lagi. Mau digas kuat, takut numbur mobil di depan. Mau digas pelan, ini air di bawah bisa memundurkan motor.

Jalan Sungai dago ke utara memang agak menanjak. Dan kini, kami lewat di sungai berkedalaman sepaha itu dengan kendaraan bertumpah ruah. Sampai di Amanda, berkendara motor di pinggir kiri jalan sudah sama mengerikannya dengan menyeberang ledeng.  Arus sungai saat itu mungkin bisa menggelimpangkan Anda jika Anda berdiri biasa saja. Di pinggir kanan, tengah jalur dua juga sebenarnya sama mengerikannya. Hanya tampak agak sedikit lebih ramah arusnya.

Sampai di depan warung verde, motor saya pun mogok di tengah jalan. Memang dari tadi sudah naik turun nyawanya. Saya engkol tidak hidup juga. Mobil di belakang, entah tidak mengerti bahwa naik motor di sungai lebih sulit dari naik mobil, sudah marah-marah.

Saya pun ke pinggir, dg sedikit ragu melewati arus super tadi. Mengengkol motor sekuat tenaga di pinggir dan alhamdulillah hidup. Trotoar, tempat pejalan kaki lewat, saat itu sangat menggiurkan. Sepi, tanpa sungai. Beberapa motor lain pun tadi lewat disana. Namun, saya memilih kembali ke kejamnya Jalan Juanda. Mana mau saya merendahkan diri dengan pelanggar peraturan yg bodoh itu.

Motor lewat trotoar? Jangan becanda. Gini-gini saya lulusan ITB.

Mau ada macet, mau ada sungai, atau keduanya, motor ya tetep jalannya di jalan bukan di trotoar. Huh. Anda juga anak ITB? Serius? Camkan itu. Mahasiswa kok maunya demo aja, tapi pas berkendara asal.

Singkat cerita, setelah menunggu lampu hijau tiga kali di tempat yg sama, dengan menggas motor sekencang-kencangnya di gigi normal dan berusaha stabil dan tenang saat menaikkan gigi, man tidak pernah saya merasakan naik motor sesulit waktu itu. Akhirnya saya berhasil sampai ke simpang dago.

Inklinasi di jalan di simpang itu agak meninggi, dan jelas arus sungai pun lebih parah lagi dan lebih dalam. Jadi inilah penyebab kenapa sudah lampu hijau 120 detik tadi, tetapi saya masih juga belum bisa bergerak. Mana disaat kacau begini, tak tampak sebatang hidung milik polisi pun. Mana kalian woy!

Saya berusaha melewati sungai di ruas terakhir sampai di belokan ke kosan saya ini. Ternyata susah. Ngeden. Mobil dan angkot saya bergerak sangat lambat. Maklum, roda dan aliran sungai bergerak ke arah yg berlawanan.

Akhirnya, motor saya pun mogok lagi. Untuk yg keterakhirkalinya di hari itu, karena yah tidak hidup lagi sampai keesokan hari.

Di atas, adalah koleksi foto pilihan yg saya ambil saat saya stand-by di kantor PLN menunggu sungai dago sedikit lebih jinak. Saat berdiri menggigil (karena ponco tidak membantu apa-apa), saya melihat plastik, karung, dan batu paping segienam lewat di sungai itu. Menggambarkan betapa derasnya air.

Kok yg di ruas antara dayang sumbi – simpang nggak di foto? Kan disitu yg super deras dan macet parah. Yah, saya mengendalikan motor saja sudah setengah mati. Gimana mau ngambil hape dan menjaganya agak tetap kering. Kalau jatuh ke aliran di bawah gimana?

Oh ya, saya pulang ke kosan dengan mendorong motor. Air sungai setelah menunggi kurang lebih setengah jam agak menjinak. Di Jalan Kidang Pananjung Dalam, depan kosan, air setinggi betis masih menggenang, bercampur dengan selokan di pinggir gang. Menurut ibu kos, pada waktu badai-badainya, air ini mencapai ketinggian 3/4 tembok PUSAIR yang mungkin kira-kira sampai ke pinggang atau dada kali ya. WAH. Kosan saya sih aman, tapi kasian juga yg kosannya lulus lantak oleh air yg tidak tahu asalnya dari mana ini.


Cih. Sebenarnya saya tidak berencana menulis artikel seperti ini. Merusak dua tema yg ditetapkan oleh artikel keluh kesah saya kemarin saja. Membuat cacat hati di bulan ini. Akan tetapi karena ini merupakan pengalaman yg sangat menyayat hati saya, saya akhirnya bersedia berbagi cerita menyenangkan ini.

Kepada pemerintah Bandung, saya ucapkan selamat atas sungai terbarunya. Saya juga sudah mengupdate peta pada artikel Perasaan Saya Saja atau Di Bandung Memang Kondisi Jalannya Jelek? ini dengan menambah sungai terbaru ke Jalan Dago.

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s