Sosial Politik
Comments 11

Korban Pemerkosaan dan Pakaian Provokatif versus Bank dan Konten Provokatif

Beberapa waktu lalu, saya melihat sebuah gambar lewat di umpan berita akun Facebook saya. Gambar yang hanya berisi tulisan ini cukup menarik isi tulisannya untuk dibahas. Tentu saja, sampainya kutipan dalam gambar tersebut di dunia nyata karena ada banyak orang yang setuju dengan tulisan tersebut. Saya juga menganggap kutipan tersebut ada benarnya juga. Saya setuju dengan kutipan tersebut. Hanya saja kalau berhenti sampai disitu saja, saya tidak akan membuat tulisan ini bukan.

Sebuah teks yang memiliki unsur kebenaran tetapi lucu dan dangkal

Sebuah teks yang memiliki unsur kebenaran tetapi dangkal

Kutipan di atas memang memiliki unsur kebenaran. Makanya banyak yang setuju dan melakukan reshare. Namun, harus saya tunjukkan bahwa teks tersebut adalah lucu dan dangkal. Yang pada intinya, mereka terlalu menyederhanakan sebuah masalah kompleks dan menggampangkan situasi. Terlebih melupakan fitrah dan dorongan yang ada pada manusia.

Berikut penjelasan pendapat saya. Tidak ada argumen agama disini. Jadi apapun aliran Anda, Anda bisa tenang.


Adalah murni kesalahan sebuah bank jika ia meletakkan uang dan emas yang ia simpan di depan etalase bank. Transparan. Tampak lemah tak terjaga. Kemudian bank tersebut dirampok. Pasca kegiatan, kemudian bank diaudit, pasti manajemen bank (bisa dikatakan bank itu sendiri bukan?) akan disalahkan.

Kenapa itu kesalahan bank? Karena bank tersebut bodoh. Ia tahu bahwa konten dia miliki berharga. Ia tahu bahwa mencegah kejahatan itu sangat-sangat penting. Ia dapat melakukannya, karena pasti ia punya dana. Tapi entah karena alasan apa, bank tersebut tetap memancing penjahat dengan provokasi yang seterang matahari di siang bolong. Penjahat mana yang tidak tertarik? Manajemen bank mana yang tidak akan dipecat atau bahkan dituntut jika mereka melakukan hal tersebut?

You get my point?

Bank dengan segala fungsi yang ia miliki mesti bertanggung jawab melindungi konten (yang sebagian besar milik nasabah bukan miliknya). Hal ini biasanya dilakukan dengan menyimpan rapat-rapat konten yang ia punya. Entah surat berharga, uang, emas. Biar enak kita sebut konten itu perhiasan lah. Hanya orang tertentu yang memiliki previlege khusus untuk perhiasan tersebut yang dapat mengambil atau bahkan mengakses secuil informasi dari perhiasan itu. Jangan lupa tambahkan gembok dan baja sembilan lapis di depannya. Taruh di bawah bunker. Dan pasang satpam, alarm, serta rencana taktis jika ada pembobolan dan perampokan.

Now, that’s a bank.

Wanita pintar juga harusnya seperti bank. Pasang keamanan berlapis, perlindungan super ekstra, lapisan super tertutup untuk menyembunyikan “perhiasan”. Untuk melindungi dari kejahatan. Dan perhiasan sang wanita tentu hanya untuk orang berprevilege khusus. Suami misalnya. Baru itu namanya profesional.

Dengan segala penutupan, perlindungan, dan rencana sebegitu hebat kok masih ada yang merampok juga? Itulah manusia bung. Tidak semua manusia baik. Apakah Anda tidak tahu fakta tersebut?

Oleh karena itu, orang pintar harus menghindar dari kemungkinan terburuk. Janganlah perhiasan disebar-sebar di lantai teras. Siapa yang tidak tertarik mengambilnya coba. Nggak diambil pun, orang tetap ingin megang pasti. Jangan pula memancing dengan memasang emas pada etalase transparan. Apakah Anda menutup mata dari fakta lapangan bahwa manusia itu memiliki emosi bukan hanya rasionalitas. Memiliki kecenderungan untuk berpikiran jahat jika diberi kesempatan.

Dan kembali ke bahasan yang sebenarnya, wanita pintar seharusnya bisa melihat hal yang baik dirinya dan menghindar dari kemungkinan terburuk. Menjaga diri. Pakailah pakaian yang baik dan santun bukan yang mengundang dan provokatif. Tutupi perhiasan Anda.

Quote dari teman saya: “Siapa yang bodoh coba kalau pakai hot pants tapi ketika dilihat orang marah.”

Memang pakaian tertutup sempurna tidak menjamin keamanan seorang wanita seratus persen. Memang. Ada juga yang pakaiannya seperti ninja, wajah pun tak kelihatan, tapi masih diperkosa orang. Kembali lagi ke faktor manusia, ada yang jahat ada yang baik. Dan kebetulan keamanan selevel itu kurang untuk mencegah niat jahat sang pelaku. Terlalu canggih pelakunya.

Memang keamaan tidak menjamin terhindarnya kejahatan. Tapi mana yang lebih baik, bank kebobolan karena  memasang konten yang provokatif, mengundang, dan mudah dibobol atau bank kebobolan setelah memasang perisai pertahanan mutakhir. Yang pertama namanya bodoh, yang kedua namanya nasib. Toh bank walaupun kemungkinan dibobol SELALU ADA, bank selalu punya keamanan tingkat tinggi kan?

Ambil juga kasus lain. Siapa yang salah jika orang tidak menutup pintu rumah saat pergi lalu ada maling masuk. Tentu saja malingnya yang salah. Tapi yang punya rumah juga salah karena teledor tidak menutup pintu. Kalau dia sudah menutup pintu tapi maling masih masuk, baru cuma malingnya yang salah. Tapi tentu saja, dalam kacamata hukum harus benar memandang ini. Jangan sampai negara menghukum orang yang tidak menutup pintunya. Dalam kasus ini, biarkan saja keluarganya saja yang mendamprat penteledor yang membiarkan pintu itu terbuka. Tapi pasti penteledor akan dianggap salah, oleh keluarga salah satunya.

Ambil lagi kasus laptop nggak di-lock. Terus ada teman yang jahil membajak akun Facebook. Yang salah siapa? Yang bajak kan. Tapi yang punya laptop juga salah dan bodoh, ngapain laptop ditinggal-tinggal. Tahu temen ada yang iseng gini.

Ambil lagi kasus baju, pakai celana yang pantatnya kelihatan. Di pasar ternyata dicolek orang. Yang salah siapa? Tentu saja si molester. Tapi yang punya pantat juga salah dan tolol nggak intelek. Udah tahu di pasar itu banyak cowok, preman, dan objek bergravitasi besar terhadap pantat tak berpakaian. Kok malah sengaja dipasang?

Dan terakhir selalu ingatlah petuah bang napi.

Kejahatan itu bukan hanya terjadi karena niat pelakunya, tetapi juga karena kesempatan.

Maka,

waspadalah! Waspadalah!!


Simpulan.

Kenapa kutipan memiliki unsur kebenaran? Karena yang disampaikannya benar menurut hukum. Penegakan hukum ya harus tegas. Jika terjadi kejahatan, yang pantas “disalahkan” (dan dihukum) ya hanya yang berbuat kejahatan tersebut saja. Tetapi kutipan tidak menceritakan semuanya. Terutama saat kejadian itu belum terjadi.

Dengan demikian, kenapa lucu? Karena kutipan tersebut tidak membuat sebuah perbandingan apple to apple. Tidak seimbang antara dua hal yang dibandingkannya. Misalnya, bagaimana sesuatu dikatakan provokatif?

Kenapa dangkal? Karena analisis yang dibuat teks itu hanya sebatas “bodoh orang yang menyalahkan ini dan itu karena ini dan itu”. Tidak membahas kecenderungan manusia, persiapan menghadapi kejahatan, dan fakta lapangan. Bahkan setelah dianalisis, teks tersebut justru memberikan contoh yang bertolak belakang dengan pesan yang ingin ia sampaikan.

Kenapa menyederhanakan sebuah masalah kompleks dan  menggampangkan situasi? Interaksi antar manusia, kecenderungan baik buruk hati, dan fitrah manusia adalah masalah kompleks. Pemberantasan kejahatan itu masalah kompleks. Kalau hanya disederhanakan dengan sebuah prinsip demokrasi sederhana “gue bisa suka-suka pamer badan, tapi bukan berarti elo boleh lihat-pegang gue”, mungkin pemerkosa sudah hilang pada zaman purba dulu.  Tapi ternyata manusia itu tidak bisa dibegitukan. Hukum saja tidak cukup. Makanya perlu ada aturan agama etika moral sopan santun dan istilah lainnya itu, kesepakatan keluarga, dan langkah sistematis dari diri sendiri untuk mencegah adanya niat dan kesempatan para pelaku kejahatan. Jika kejahatan terjadi karena kebodohan sendiri, tentu itu adalah kesalahan Anda sendiri.

Kenapa melupakan fitrah dan dorongan yang ada pada manusia? Sudah jelas. Lihat kembali quote bang napi tadi.

Sekali lagi. Penegakan hukum memang harus tegas. Jika terjadi kejahatan, yang pantas “disalahkan” (dan dihukum) ya hanya yang berbuat kejahatan tersebut saja. Tidak perlulah korban ditambah bebannya dalam situasi yang tidak diinginkannya tersebut. Ketika melihat kejahatan terjadi di jalan, ya langsung tindak pelakunya. Jika sudah ada tindakan, baru nasihati korban atas kebodohannya sehingga “kesalahan” tersebut tidak terulang. Juga keluarga Anda supaya tidak melakukan “kesalahan” (baca: kebodohan) yang sama.


And yes, you are sir -the one who made that picture-, the fucking idiot I mean.

11 Comments

  1. mitra says

    Kalau mengikuti logika seperti itu, sepertinya perempuan tetap diposisikan sebagai obyek seksual (seksual objectification). Dianggap sebagai “benda” berharga yang harus dijaga dan kalau perlu ditaruh di lemari besi dengan pengamanan tinggi. Mungkin jauh lebih aman sih, tapi tetap sebuah “benda”, bukan manusia yang sejajar dengan laki-laki. Selama seorang perempuan (ataupun laki-laki, serta makhluk hidup manapun) dianggap sebagai “benda”, tidak peduli bagaimana “kemasan”nya, ia akan diperlakukan seenaknya karena dia dianggap tidak bisa merasakan apa-apa dan hanya sebagai alat pemuas kebutuhan. Memang sih pemerkosa secara profil psikologis dasarnya adalah pengecut, sehingga mencari target/korban yang lebih mudah diakses, namun ini adalah alasan umum yang sering digunakan untuk melempar kesalahan kepada si “korban”. Didukung dengan budaya yang melihat perempuan sebagai “benda”, banyak orang sering melewatkan faktor terbesar dari kasus pemerkosaan bahwa pada dasarnya pikiran si pemerkosa sudah tidak beres. Jadi saya tidak mau mengikuti logika para pemerkosa, karena kalau begitu berarti ada yang tidak beres dengan pemikiran saya juga.

    • bunga says

      Disini sebenernya dy menggambarkan betapa berharganya seorang wanita, yang jauh lebih dr sekedar emas uang ataupun surat berharga
      Bukan berarti disamakan bentuknya
      Tapi katakanlah ‘nilai’nya harga diri dan moral kaum wanita, betapa mahal dan mulianya wanita dalam artikel ini sehingga perlu sekali dijaga dan super di perhatikan, mahal dan nggak ada duanya apalagi tiganya
      Kalo diislam saking mulianya sampe tiga kali pengucapan ibu ibu ibu baru ayah
      Tergantung dr sudut mana kita melihat sama bacanya sih semoga ga ada makna yg gelap dan jahat terselip sama artikelnya hhe (Y)

      • Terima kasih Bunga sudah komen dan menjelaskan maksud saya. Setuju 1000 persen sama komenmu.
        Semoga saja tidak ada makna yg tidak saya maksudnya tak sengaja tersisip… Kalau ada silakan diperjelas saja. Artikel ini agak tidak menyerempet konteks agama apapun biar fokus membahas si quote tadi dan masalah sekitarnya… Kalau mau dilihat dari kacamata islam ya sudah sangat jelas lagi itu, wanita sangat dijunjung tinggi. Tidak ada keraguan lagi InsyaAllah, kecuali org2 yang salah paham dalam beberapa detail pelaksanaan.

    • Terima kasih sudah membaca dan komentar Mitra. Saya setuju, kalau perempuan tidak boleh diposisikan sebagai objek seksual atau alat pemuas kebutuhan belaka. Sangat setuju.

      Namun, ada anggapan yg menurut saya krg tepat di komen Anda shg pengambilan kesimpulannya aneh. Fundamentalnya, kata “benda”. Sesuatu yg berharga itu pasti “benda”? Jika kita menganggap sesuatu itu berharga dan harus dijaga, berarti kita menganggap sesuatu itu “benda”?

      Kemudian, apakah menghargai wanita dgn meminta ia berpakaian sopan (baca: tidak memancing) berarti kita menganggap dia sebagai benda?

      Maksudnya sejajar dengan laki-laki, apakah artinya sejajar dlm hal wanita boleh bertelanjang dada di ruang publik [seperti pendapat feminis itu]? Tentu bukan kan? Tentu saja beda antara konteks seksual dan konteks lain (pekerjaan misalnya), karena bedanya wanita dan pria ya seksnya (baca: jenis kelamin). Konteks lain ya setara lah…

      Kalau ada yg mau disebut benda, bukan wanitanya, tapi seksualitasnya. Itu yg harus dijaga, ditutup, dan disimpan rapat-rapat. Bukan diumbar untuk dilihat orang banyak. Kecuali kalau memang hal itu dianggap tidak berharga sih ya tidak masalah…

      Terakhir, di banyak tempat di artikel saya berulang-ulang menekankan bahwa JIKA ada yg kejadian kriminal, yg salah MUTLAK adalah pelakunya. Saya juga benci kalau liat ada berita yg juga menghukum korban. Sangat. Janganlah hukum memberatkan korban dg tuduhan kesalahan yg tak perlu. Namun, tergantung situasi dan detail kejadian, tentu saja akan ada yg menganggap bahwa itu salah si wanita kalau dia sendiri tidak menghargai seksualitas diri sendiri. Hanya saja, cukuplah musibah itu sebagai hukuman atas kesalahan tsb baginya, jangan ditambah lagi. Dan yg masih aman, mari ambil pelajaran, jaga diri sendiri, dan jgn sampai berbuat kesalahan yg mengarahkan orang berpikiran tidak beres untuk mengincar kita. Ada yg salah dengan pendapat ini?

      Duh. Kalau bingung -saya juga agak bingung dg paragraf di atas. Intinya: di dunia yg kejam ini, yg menjaga diri saja belum tentu aman, apalagi yg tanpa penjagaan.

  2. Tulisan yang sangat membuka pikiran, Mas!
    Saya sebenarnya suka membaca tulisan seperti ini, karena sadar atau tidak sekarang banyak pengguna internet itu bisa dikatakan cara berpikirnya kurang kritis dan kurang beretika dalam berbicara di dunia maya yang sangat luas ini. Dan jika yang berpikir kritis itu ada banyak, saya yakin mereka lebih memilih menjadi silent reader (alias pasif gak mau bicara), entah itu karena faktor globalisasi atau yang lain, sehinnga banyak bocah-bocah berkeliaran yang menyebarkan idealisme dan cara berpikir yang kurang baik dan tidak kritis, serta tidak beretika dalam berinternet ria apalagi terhadap orang yang tidak dikenal sama sekali.
    Dan (bisa jadi, sekali lagi bisa jadi) yang buat quote dan yang asal setuju dengan quote yang mas bahas ini adalah salah satu dari bocah-bocah yang sebutkan tadi.

    Saya tidak mengatakan tulisan ini seharusnya mereka terima atau membuat setuju dengan cara berpikir Mas, tapi setidaknya tulisan ini seharusnya membuat mereka mau merenung dan berpikir. Kecuali bagi orang yang malas membaca dan malas berpikir.

    • Terima kasih sudah membaca.

      Soal ninja, tolong cari gambar ninja. Ini artikel wikipedia kalau mau lihat http://en.wikipedia.org/wiki/Ninja. Miripkah? Deskripsi saya kan cuma bilang “yang seperti ninja”, cuma keliatan matanya… Tidak ada sentimen apapun.

      Lagipula ninja keren kok. Menghina darimananya. Menghina orangnya, pakaiannya, pun ninjanya tidak. Apalagi agama… Namun, maaf kalau memang ada yang merasa tersinggung dengan kalimat saya tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s