Sosial Politik
Comments 2

Dear Tribun

Tribun Featured Image

Sudah lama mau awak tanyakan dari dulu. Apa lah ini rupanya? Dimana-mana awak jumpanya bènda ini.

Gaya kali macamnya surat kabar ini. Panjang bètul rupanya artikèl awak ya? Sampai berderet-deret nombor halaman kow itu. Tak capèk rupanya reportèr awak tulis sepanjang itu.

Tapi kutèngok, tak pula panjang-panjang artikèl kow itu. Apa pulanya bah? Tiga ampat paragraf sudah awak potong. Paragraf pun kau pendek-pendek! Tak ada lah bobotnya kutèngok. Kupaksa baca pun, diulang-ulang rupanya isi berita kow. Tak ada kontennya pun.


Dear investor tribun,

Saya merekomendasikan Anda untuk mengaji ulang proposal konstiuen Anda tersebut. Sebaiknya jangan langsung mempercayai angka view count yang pihak redaksi Tribun presentasikan pada rapat investor. Ada harus punya pemahaman bahwa sublaman tadi adalah keputusan bodoh dan menjadi indikasi besar bahwa semua angka itu adalah mark-up. Tidak merepresentasikan realita pengunjung ke situs Anda yang sebenarnya. Mark-up yang sistemis demi membohongi diri sendiri. Atau membohongi Anda-anda ini.

Jika ingin mendekati angka sebenarnya, ada baiknya Anda bagi nilai yang mereka sampaikan dengan faktor tiga atau empat. Namun, jika ingin lebih tepat dan ilmiah, saya sarankan untuk membangun crawler sederhana untuk situs Tribun. Cukup satu fungsinya, yakni menghitung rerata jumlah paging per per laman di situs tersebut. Kemudian, Anda bisa memakai asumsi bahwa seluruh pengunjung berita multilaman mengunjungi semua sublaman tersebut. Atau buat asumsi sendiri yang lebih realistis. Nah, bagilah angka view count yang mereka sampaikan itu dengan nilai rerata yang Anda dapat. Karena memang lebih logis menghitung jumlah pembaca per berita, bukan per laman.

Artikel 2 halaman.png

Bagi dua tanpa tujuan

Sangat disayangkan saya punya keterbatasan waktu. Kalau ada waktu luang, mungkin saya bisa membantu menghitung rerata jumlah tautan sublaman tadi.


Dear koran-koran onlen yang tak berebda dengan blog macam kami ini,

Apakah kau tahu bedanya kolumnis dan jurnalis? Ataukah kau sudah lupa?! Kini artikel-artikelmu tidak lagi memegang prinsip jurnalisme. Tidak ada lagi istilah tajam dan teruji. Tak ada lagi objek, semua berganti subjek. Selayaknya tulisan level kolumnis, bias-bias kalian semakin mengemuka. Berita-berita kalian sudah bergeser menjadi opini-opini. Fakta-fakta menjadi kolom-kolom. Reputasi jurnal kau, koran kau, nil.

Apakah jurnalis-jurnalis Anda sudah beralih profesi semua? Atau editor-editor kalian sudah tidak pernah lembur lagi. Atau saking besarnya permintaan akan berita cepat saji, kalian punguti cecunguk-cecunguk yang biasa bermain topeng monyet di perempatan? Atau memang bos-bos kalian sudah pada melek teknologi, akhirnya selevel dengan anak SMP di Facebook.

Ini membuat aku jadi berpikir. Pantas saja banyak orang sekarang suka bagi artikel dari portal blog, atau kolom opini macam komposiana, atau comot-nama-koran-terkenal-luar-negeri-lalu-tambahi-Indonesia-di-belakangnya.com. Lalu menganggap bahwa “wah berita ini iyaaa banget….” Pantas saja banyak portal yang pandir, tak beredaksi, tak ada sistem tanggung jawab. Tapi memproklamirkan bahwa adalah media alternatif! Alternatif? Jika yang dimaksud alternatif adalah sampah, iya mungkin,

Bagaimana tidak. Jika penggawa saja tidak bisa diandalkan. Namanya saja yang besar. Kepentingan pun besar. Disetir penguasa. Disetir parpol pengusungnya. Bagai buah separuh busuk. Terang saja masuk tanah. Lalu pergilah ibu ke pasar pagi. Mencari gerbang opini kedua ketiga dan keempat.

Mohon maaf Tribun! Artikel ini harusnya didarmakan untukmu seorang. Sepertinya aku terjangkiti oleh tren masa kini kroni-kronimu. Pasang judul ke hulu. Tulis isi ke hilir. Namun aku juga gatal bun. Gatal dengan situasi “koran” atau “media” Indonesia ini. Mumpung yang aku singgung adalah kau! Salah satu anggota terdepan barisan itu.

Tidak perlu bersedih hati. Ini bukan salah engkau, Tribun. Bukan pula fokus artikel di blog kemaren sore ini.

Namun sayang. Andai salahmu hanya ada di si antarmuka bodoh itu. Aku akan cukupkan sampai disini. Sayang. Situs yang kau klaim sebagai pustaka para jurnalis itu pun, sebagian mirip seperti tembok depan apartemen-apartemen di Jepang. Kotak sampah.

Sumber: http://www.a-c-t.jp (agen apartement), lokasi gambar di Gunma. Kotak sampah memang umum dijumpai di depan apartement Jepang. Semakin bagus apartement semakin bagus kotak sampahnya. Tapi tetap saja, kotak sampah ya hanya untuk diisi sampah. Namun, di kota besar ia hampir selalu kosong, hanya terisi di hari tertentu, beberapa jam sebelum mobil sampah datang.


Dear teman-teman pembaca tribun,

Kok masih mau-maunya baca ya ini koran. Heran deh saya… Kalau saya sih biasanya langsung eneg kalau ada yang nge-share berita dari sini. Ih, kalau nggak terpaksa jangan sampe deh. Amit-amit…

Padahal ya, tribun ini masih lebih mending lho kan dari blog yang ngaku-ngaku berita itu. Ironisnya sebagian ngaku-ngaku sebagai beritanya islam. Padahal isinya, berita bukan, islam bukan. Si tribun masih mending lah, ada sistem redaksinya, walaupun kontennya tetap njilani.

Tapi yang nggak kesampean UI-nya itu lho. Ya ampun… Kayak nggak bisa nyewa desainer aja. Kotak paging-nya itu pula, membohongi diri kok bangga. Ngeliat ada page 2, 3, 4 gitu semenarik apapun judul dan page 1 nya, definitely langsung saya tutup. Sama aja kayak ngeliat ada mesej yang lebih panjang dari layar, siapapun pengirimnya, sebagus apapun semulia apapun mesejnya, nggak akan saya liat. Tapi bukan karena panjangnya loh ya. Kalau mereka nggak niat menulis berita lengkap di satu halaman, cuma memberikan berita cetek yang cuma dua tiga paragraf lalu harus pindah laman untuk membaca lebih yang akhirnya juga mengulang-ulang laman sebelumnya, cih mending nggak usah deh. Buang-buang view count.

Saya nih ya, kalau ngeliat orang share berita Indonesia, kadang, kadang banget, baca juga. Bukan tribun lah tentunya. Yang lain lah, yang termending dari yang masih mending. Cem-cem Kompos, Tempe, atau Repelikan. Tapi biasanya kalau isinya heboh, terutama tentang berita sains atau berita internasional, saya skeptis. Nyari dulu berita dari koran internasional. Kalau ada berita yang sama baru saya percaya.

Yang saya sayangkan adalah The Guardian, Telegraph, Independent, NYT, TWP, dan yang keren-keren itu nggak meliput berita Indonesia euy. Itu doang sih.

Halaman Selanjutnya ➧

Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 101112

2 Comments

  1. Ping-balik: Liburan Tahun Baru 2015: Hokuriku~Chugoku | Blog Kemaren Siang

  2. Besardana says

    Well said, Bung. Sudah gerah saya juga dari awal 2014 dengan situs tribun yang banyak fitnahnya itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s