Cerita Jepang, Sosial Politik
Tinggalkan sebuah Komentar

Kongres-Pormas PPIJ dan Mock-up Politik

Proyektor harus dua!

Nggak tahu ya kalau negara lain. Kalau orang Indonesia, setiap ngumpul pasti ada aja organisasinya. Ngumpul bola, buat paguyuban futsal. Ngumpul naik gunung, grup pecinta alam. Ngumpul makan-makan, tim investigasi makanan halal. Ngumpul maganger, ikatan saudara trainee. Ngumpul mahasiswa, sudah barang tentu persatuan pelajar.

Serunya, hampir setiap organisasi itu bakal memiliki ring yang lebih besar dan lebih besar lagi, hingga sampai senegara (se-Jepang misal) atau sedunia. Soal persatuan pelajar tadi, di Jepang namanya PPIJ ~ Persatuan Pelajar Indonesia (di) Jepang.

Oh ya, jangan salah ya… PPI di Jepang, P yang pertama itu persatuan bukan perhimpunan, sesuai dengan AD/ART PPIJ. Walaupun, mayoritas negara lain memakai kata perhimpunan.

Saya tidak tahu persis hitam di atas putih organisasi nasional ini. Namun yang pasti, KBRI Jepang mengakui keberadaan PPIJ ini. Secara struktural, setiap universitas atau gabungan universitas (kalau mahasiswanya dikit) tergabung dalam PPIJ di satuan terkecil, namanya Komsat alias komisariat. Beberapa komsat kemudian bersekutu menjadi satuan regional, namanya Korda alias koordinator daerah. Di bawah PPIJ, terdapat 9 korda, yang detailnya dapat dilihat di web PPIJ.

PPI-J

Secara organisasi, pengurusan PPIJ diurus rembuk oleh semua korda. Ketua dipilih oleh badan tertinggi PPIJ yakni Kongres PPIJ yang diadakan satu tahun sekali. Kongres diisi oleh utusan tiap korda.

Meskipun begitu, secara praktikal yang berpengaruh di kehidupan Mahasiswa Indonesia di Jepang sebenarnya adalah komsat. Korda dan Pusat tidak ngepek apa-apa untuk mahasiswa biasa… Di kampus saya, komsatnya bernama PPI-TY alias PPI Jepang komisariat Toyohashi atau disingkat PPI Toyohashi. Komsat ini berada di bawah Korda Chubu. Mekanisme pemilihan ketua komsat dan korda diserahkan ke masing-masing yang bersangkutan. Kebetulan saya pernah apes terpilih jadi ketua PPI-TY.  x.x

Kenapa cuma komsat yang ngepek, korda dan pusat nggak? Karena jarak, kesibukan, dan kepentingan. Orang-orang komsat kan sekampus, ya ketemu terus… Jadi gampang koordinasi, kalau mau makan-makan, kumpul-kumpul, buat acara, atau menghadiri event/festival tertentu.

Saya pernah mendapat pertanyaan sulit dari mapres ITB yang kebetulan lagi ada program internasional seminggu di TUT. Berikut pertanyaannya:

Urgensi ada organisasi PPI pusat se-Jepang apa ya mas? Kan kayaknya komsat aja udah cukup.

Biasa, mahasiswa S1 bahasannya seputar urgensi dan idealisme mulu…

Jujur sih saya bingung jawabnya. Kayaknya dulu saya jawab kira-kira:

Ya buat tukar pikiran aja dengan komsat lain, ttg. kegiatan dan mungkin riset. Dan juga supaya koordinasi lebih efisien ke kedutaan, organisasi lain, dll… Minimal buat nambah temen senasib seperjuangan.

Namun, jawaban ngasal diplomatis ini kayak belum memuaskan, setidaknya bagi saya. Saya juga nggak punya kapasitas buat jawab. Mungkin Pak Ketua PPIJ, Candra Wirawan bisa menjawabnya. ^^v

Oke, udah cukup premis dan world building-nya? Sekarang masuk ke cerita yang mau diomongin.


 

Salah satu hal yang diamanahi ke saya selama di Jepang (dan belajar di Toyohashi) adalah menyelenggarakan pormas dan kongres PPIJ 2015.

Yup, Kongres PPIJ terakhir kemarin diadakan di Komsat Toyohashi, 21-22 September 2015. Kampus aing!! ^^ Semula kaget juga sih tiba-tiba ditodong oleh Pak Ketua Korda Chubu. Karena kegiatan Chubu Match tahun itu jatuh di giliran Toyohashi dan host Kongres-Pormas 2015 pun ditetapkan untuk diselenggarakan di Korda Chubu, jadi daripada ada kegiatan dua kali, mending digabung aja. Jadi bukan Chubu Match, tapi Japan Match di Toyohashi.

Okay… Setidaknya penodongan dilakukan satu tahun sebelum acara. Dan udah bukan di masa jabatan saya… Kan saya diganti Maret. Hore!! Little I knew that I have to hold the burden of that fateful day.

 

Just kidding! Karena Toyohashi cuma berperan sebagai pelaksana hari H, kami cuma harus memastikan tempat dan alat-alatnya siap saja. Dan yang penting pas hari H cukup orang dan makanan! Horee… Saya akhirnya cuma perlu bolak-balik ke Student Affair aja selama H-6 bulan. Dibantu juga oleh bos Mahlil penerus saya dan kroco-kroconya stafnya tentunya…

Yang lain-lain yang sifatnya perencanaan seperti undangan, proposal, cari sponsor, cetak spanduk kaos dll, alias semua pekerjaan super mendokusai lainnya dihandel dengan kekuatan nakama no kizuna para bos komsat-komsat lain di Chubu. Mantab…

nakama

Forever…

Pormas alias pekan olahraga masmas masyarakat mahasiswa, yaa gitu lah ya. Karena Korda Chubu tuan rumah pasti nggak lawan lah yang lain… Paling banyak atlitnya sih. Panitia pula. Juara umum pastilah.

Yang penting diomongin disini adalah kongresnya. Baru kali ini saya ikut sesuatu semacam kongres ini. Membicarakan politik atau berdebat bahasa hukum. Intinya kayak sidang DPR gitu. Bener-bener ngerasain gimana para dewan itu berada di ruang sidang…

Saya jadi berempati dg para wakil rakyat kita. Orang-orang yang mengkritik anggota dewan habis-habisan itu harus mencoba dulu deh rasanya ikutan sidang kayak gini.

Seharian di dalam ruangan besar. Di depan ada ketua sidang. Ngomongin topik bahasan satu. Bacain pleno kayak baca term and condition software, satu-satu dibaca verbatim. Bosennya…

Kemudian berbantahan dengan korda lain yang nggak sepaham. Muter itu-itu aja yang dibahas. Interupsi ngasih pendapat. Interupsi tidak setuju. Iterupsi nggak mau diinterupsi.

Dua jam cuma berdebat kusir masalah wording satu kalimat. Atau masalah arti dari istilah badan khusus, semi-independen, atau independen. Atau masalah sebaiknya nama Radio-PPIJ dicantumkan secara tekstual di AD/ART atau tidak. Bla-bla…

Belum hal yang udah dijelasin panjang lebar eh dibahas lagi oleh lawan yang sepertinya nggak ngerti. Belum lagi orang yang bahas nggak to the point, pake napak tilas sejarah dan kenangan. Berkali-kali pula.

Namanya aja puluhan orang ditaruh di satu ruangan ya. Terus bisa berpendapat masing-masing pula. Bisa puanjang lah bahasan…

Sehari aja udah capek buanget loh. Pagi buta sampai malam picek. Padahal bahasannya kecil. Apalagi parlemen ya, kan bisa tiap hari mereka kayak gitu. Nggak heran deh kalau orang-orang di parlemen itu bisa tidur terlelap atau nonton yutub red atau brain-dead. Atau malah gontok-gontokan pas nggak setuju. Justru harusnya apresiasi deh! Yg gontok-gontokan itu kan berarti mereka aktif dan peduli dengan alur sidang.

Begitu rupanya rasanya berpolitik. Ribet!

Kongres ini pelajaran berharga sekali bagi saya/kami. Membuka wawasan dan merasakan bagaimana susahnya menentukan hukum, kata per kata. Harus mikir interpretasinya sesuai nggak, atau ada pasal lain yang bertentangan atau duplikasi nggak. Udah bahas banyak-banyak, eh ternyata udah diatur di pasal lain. Harus diperes sampai habis dulu si AD/ART lama, barulah semua pihak bisa merelakan.

Btw, belum tentu juga yang dibikin ngepek ke dunia nyata atau kalimat yg ditulis diinterpretasikan sama dengan pembaca lain (non-peserta kongres). Bummer.

Oh ya, salah satu hasil Kongres 2015 ini bisa dilihat disini nih… Tap 06: AD ART 2014-2015.pdf. Ada yang bisa ngasih perbedaan dengan yang 2013-2014?

Yang berbeda dengan sidang DPR adalah saat memilih pemimpin. Saling memberikan kesempatan ke yang lain… Mungkin karena mahasiswa, kesibukan riset dan zemi tiap minggu saja sudah luar biasa. Mau ngurusin umat se-Jepang.

Namun, akhirnya ada juga dua orang hebat yang melangkah ke depan untuk me-nakhodai kapal PPIJ setahun ke depan. Bos Chandra sebagai Presiden dan Bos Reesa sebagai ketua MPR. Keduanya adalah orang Korda Chubu. Akhirnya, usai juga rejim anak-anak Kanto di PPIJ. Geser peta politik ke tengah Jepang. Wuahahaha…. Saatnya political purge!!!

Ehm…

Anyway, dengan kekuatan bulan kebesaran hati mereka berdua kongres yang tadinya molor dua jam jadi selesai dengan tepat waktu.


Begitulah.

Akhir kata, proses politik itu sulit ternyata. Mock-up yang kami lakukan aja berjalan dengan penuh duri. Terbayang juga saat dulu di ITB terdengar wacana penghapusan Kabinet KM ITB (atau kongres ya?) karena ada yang merasa nggak suka atau nggak penting. Panas sekali saat isu itu mencuat waktu itu… Memang mau sebesar atau sekecil apapun kalau masalahnya masalah rakyat, bisa membara… Sayang dulu saya gak aktif di himpunan atau BEM, jadi artikel seperti ini baru ketulis sekarang.

Juga akhir-akhir ini masyarakat mulai melek dengan hal-hal hukum seperti ini. Ada kejadian dikit langsung cek undang-undang. Polisi nilang tukang parkir, baca langsung UU-nya. Rakyat langsung buat interpretasi sendiri yg menyelisihi interpretasi pelaksananya (pak pol). Dan seperti biasa, mereka langsung saling mem-bashing…

Oh ya, bingung juga dengan kementrian/departmen yang tiap tahun mengeluarkan keputusan pengganti yang baru diatur tahun sebelumnya. Apa ya nggak pusing gitu ya… Nggak di-marker pula yang beda dari versi sebelumnya apa gt. Nggak ada section What’s New! kayak software.

Btw, dengan meleknya masyarakat, belum ada tools yang membuat kita mudah mencari masalah X di bahas di UU mana. Biasanya cuma list urut sesuai tanggal penetapan doang, misalnya situs Kemenhub berikut. Lahan bagus tuh, untuk start-up dokumentasi kenegaraan atau topik riset information retrieval.

Kembali ke topik Pormas dan Kongres: Ya begitulah…

Apanya?

Sampai jumpa tahun depan di Hokkaido 2016.


 

Note: teknis pelaksanaan hari H dan beberapa wisdom yang didapat saat pelaksaaan 2015 ini, terutama biar nggak dimarahi satpam kampus dan satpam masjid, sudah tercantum pada laporan kegiatan Pormas Kongres. Silakan tagih ke Mbak Haya jika Anda membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s