Pos-pos Terbaru

“Person x left the chat-room” di Thread yg Udah Seabad Nggak Aktif

Akhir-akhir ini saya juga agak ziingg dengan fenomena ini. Thread obrolan yang sudah sejak entah kapan ga dibuka tiba-tiba muncul kembali di atas daftar chat. Ternyata isinya adalah seseorang yang niat-niatnya membuka thread tersebut dan mengklik leave. Niat buanget ya…

Saya heran. Satu. Ngapain tuh orang ngutek-ngutek daftar chat sampai buaawah banget. Kurang kerjaan ya… Dua. Sampe niat buka dan klik leave pula. Nyakitin mata kah kalau entri grup-chat itu ada di daftar, kan udah di buaawah banget. Atau takut di mesej lagi? Sampe-sampe harus leave. Segitunya kah…

Hasilnya adalah hal ngeselin yakni grup no-longer relevant tadi naik ke atas daftar di daftar chat anggota yang ditinggalkan. Memenuhi ruang chat dengan isi terbaru hanya sebuah pesan “person xxx has left this group“…

Ilustrasi Left Chat

Ilustrasi Left Chat
(pesan asli dihapus)

Solusinya sangatlah guampang! Ikutan left-chat juga lah. Toh grup-nya udah nggak kepake kan? Namun, dengan potensi membuat kesal anggota lain yang belum left di thread tersebut. Solusi yang nggak begitu saya sarankan.

Alternatif usulan saya adalah Archive! Kalau emang nyakitin mata itu entri dan nggak mau menuhin daftar chat, bisa disembunyikan dengan fitur ini. Terus bisa kita buka lagi kalau-kalau masih diperlukan. Mantab kan? Paling rekomen solusi yg ini.

Hampir semua aplikasi messaging sekarang kayaknya punya fitur Archive ini deh. Bedanya kalau line entah chat arsip itu disimpan dimana, ngaksesnya tidak tahu (di iOS ada fiturnya, di Windows kaga). Situs help-nya line nggak membantu. Kalau whatssapp, ada di atas kotak search, tersembunyi. Kalau messenger Facebook bisa di search atau cek di web.

Atau Delete! Saya pribadi belum eksperimen bedanya leave conversation sama delete conversation apa. Dugaan saya sih kalau leave ya keluar dari grup dengan konsekuensi semua pesan hilang dan anggota grup lain diberi tahu kalau kita keluar. Kalau delete semua pesan cuma hilang di mesin kita. Akan tetapi, kita masih dalam grup dan anggota lain tak tahu. Lumayan kan, nggak mengganggu orang lain. Kalau si grup aktif lagi kita dapat pesan barunya saja.

Kocaknya Masyarakat Modern dan Instansi Pemerintah dalam Memilih Jalur Komunikasi

Di era internet ini, komunikasi bukan lagi hal yang sulit dilakukan. Jarak. Waktu. Bukan sebuah halangan. Informasi bertebar luas. Jalur komunikasi banyak pilihan. Tiga di antaranya adalah telepon, email, dan messaging. Dan yang lain tak kalah pentingnya adalah sosial media (Fesbuk, Twiter, dkk).

Saking banyaknya jalur, saya pikir masyarakat modern sekarang sudah kehilangan sense ttg cara berkomunikasi itu sendiri. Membuat komunikasi di era komunikasi ini agak membingungkan.

Tidak. Artikel ini tidak akan membicarakan ttg kurangnya interaksi orang dalam dunia nyata. Tidak juga tentang maraknya kesalahpahaman dan tendensi buruk dalam komunikasi via teks. Hal itu bisa dibahas di artikel panjang terpisah.

Saya ingin mengeluhkesahkan tentang cara orang modern dalam memilih jalur untuk berkomunikasi. Penekanannya ada pada dua kata: memilih dan jalur.

Ikon sosial media di atas oleh Martz90, diunduh dari Iconspedia – Circle Icons set.

Catatan: Judul yang sangat panjang di atas muncul karena ada dua atau tiga ide tulisan yang mirip dan kalau ditulis jadi tiga artikel berbeda akan redundan dan cuma bikin pusing penulis saja.


Tidak Semua Media Komunikasi Diciptakan untuk Tujuan yang Sama

Jalur komunikasi yang sangat banyak itu menurut saya bisa dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Menurut ruang lingkup: pribadi, kelompok, umum. Menurut urgensi: mendesak dan tidak.

Wall dan status? Umum. Instant messaging? Pribadi. Group, milis, atau chat-room yang kebetulan juga ada di instant messaging? Kelompok. Mudah kan identifikasinya…

Hal Pribadi Jadi Konsumsi Publik

Sayangnya, kok hal ini masih terjadi juga. Contoh yang paling kocak bisa didapati di news feed lah ya. Suami yang ngirim pesan ke dinding Facebook istrinya atau pacar ke pacar minimal hmf…

Suami Istri

Dulu yang semacam di atas sering lihat sih. Sekarang sudah jarang. Mungkin karena media sosial sudah semakin lumrah digunakan, orang-orang sudah pada sadar cara menggunakannya. Atau kemungkinan kedua adalah, algoritma filter Facebook telah menyaring pos seperti itu sehingga tidak muncul di umpan berita saya.

Yang sering akhir-akhir ini adalah salah satu pasangan mengepos link url ke sebuah artikel berita atau tips ttg keluarga ke wall sang pasangan (entah suma/istri atau masih calon). Secara publik…

Tidak mesti pasangan. Non-kapel juga bisa jatuh ke fenomena ini. Misal menanyakan lokasi dimana… Atau bagi yang udah lama tak ketemu, menanyakan kabar di jalur publik tadi. Apa ya nggak bisa via PM yak…

Kejadian Unik Seputar Chat-room

Hal baru yang suka terjadi belakangan ini adalah memanggil orang tertentu di chat-room. Misal, di sebuah grup chat-room messenger di Facebook ada anggota bernama Mawar. Mentari kemudian mengepos ke chat-room itu:

Mawar Baca Line Dong!

Asumsinya grup mesej tadi lebih sering dibaca dibanding Line kali ya. Padahal kan, kalau keduanya di-instal di  hape, mesej di kedua IM bakal sampai bersamaan. Kalau ngeliat notif si chat-room ya Line juga keliatan. Mungkin asumsi si Mentari, bakal ada anggota grup lain yg kebetulan ada di tempat yg sama dengan si Mawar kali ya, untuk memberi tahu Mawar.

Di Grup: Dul, japri yak…

Hmm Hmm…

Hari gini…. DVD dong, lebih bagus

Kejadian lain: omongan berdua/sifat pribadi tetapi diomongi di grup. Yang orang lain nggak tahu mau nanggapi-nya gimana. Hmm…

Misalnya kejadian fiktif pada grup diskusi menguasai dunia yang ada di sebelah kiri. Apa nggak bisa langsung PM si Sinta gt yak…

Lain cerita kalau itu bercanda atau memang mau menarik perhatian / komentar / jawaban dari anggota lainnya.

Kejadian lain lagi yg agak gimana gt adalah tidak memakai grup sesuai tujuan dipakainya. Teman cerita, dia punya sebuah grup yang isinya orang Indonesia ingin koordinasi studi tur sesekolahan ke Jepang. Yang di Jepang membantu mereka yg datang dari Indonesia, memesankan bus, penginapan, acara, dll. Namun, bukannya si grup diisini koordinasi atau aktif bertanya, malah si orang Indonesia ini mengirim cem pesan nasihat atau kisah inspiratif dari sekolahnya atau apalah. Sekali dua kali mungkin tak apa. Tapi itu rutin, searah, dan berkelanjutan. Akhirnya membuat grup tidak efektif dan koordinasi tak tercapai.

Akhirnya si teman saya tadi cuma me-mute si grup dan koordinasi sama si orang Indonesia via email.

Teks Panjang di Pesan Singkat

Teks Panjang di Pesan Singkat

Soal pesan berisi nasihat, kisah, atau berita ini juga; banyak orang yang mengirim semacam itu ke grup mesej. Isinya puanjangggg parah… Nggak muat di jendela mesej/ layar hape. Padahal kan nama si media: Pesan Singkat. Kok ngirim artikel… Kalau link sih ga masalah. Biasanya kalau ada yg kirim beginian di IM, nggak akan pernah saya baca, siapapun dia.

Banyak sih kejadian yg ada. Akhir-akhir ini, grup messaging semakin prevalen, semakin diandalkan untuk banyak hal. Kejadian aneh tadi semakin bisa teridentifikasi. Kesadaran orang ttg perbedaan pemilihan jalur komonukasi juga mungkin semakin besar seiring kebiasaan grup messaging semakin lumrah.

Terakhir, ada pengalaman yang membuat saya lebih kesal lagi. Mirip sih dengan di atas.

Suatu hari ada seseorang yang membutuhkan bantuan saya. Saya pun deal akan membantu. Beliau akan menjemput saya di asrama. Nah, sampai di jam perjanjian kok belum ada kabar juga. Ternyata, beliau sudah datang di bawah dan memberi kabar di grup. Dan kebetulan grup tersebut pagi itu sedang saya mute. Saya tahunya ketika saya tanyakan “kenapa nggak kasih kabar?” di grup tersebut, seseorang yang lain dengan sombongnya memberi skrisyut pesan kabar di dalam tumpukan chatting grup itu.

Susah ya memilih jalur PM?

Sangatlah valid untuk me-mute sebuah grup apalagi kalau grup itu tidak esensial dan bukan organisasial. Kalau jalur pesan pribadi, nggak mungkin lah di-mute. Kecuali kalau emang sengaja diblok per orangan.

Mendesak dan Tidak: Telpon Berbayar vs VoIP Gretong

Oh ya, selain mesej ada juga tilpon via internet. Kenapa nggak tilpun coba? Waktu kejadian terakhir, telp via messenger Facebook sudah tersedia tetapi kayaknya orang belum banyak pakai. Masih pada gandrung line.

Saya agak kesal saat orang yang membutuhkan komunikasi yang bersifat time critical tetapi melakukannya dengan kirim mesej via messenger. Sebenarnya, juga kesal kalau melihat orang itu telpon dengan gratisan line atau VoIP lain.

Lah, ada yang gratis kenapa pilih yang bayar?

Saya bilang saat kegiatan time critical kan. Komunikasi yang butuh target menjawab secepat mungkin. Fitur VoIP di aplikasi pesan seperti messenger atau line tadi punya kelemahan. Ketika hape di silent, penerimaan tilpun dari VoIP gratisan tadi jadi kurang bergetar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Dulu sih, sekarang iOS/apps udah diupdate jadi sudah sama bergetarnya. Karena artikel ini adalah artikel yg sudah dari tahun lalu ingin ditulis, bagian “Telpon vs VoIP” ini kayaknya sudah tidak valid lagi.

Namun masih ada juga kelemahan. Saat mengangkat si tilpun VoIP harus beberapa tahap dulu. Buka lock screen, navigasi ke apps, baru deh angkat. Kadang lupa mencet tombol angkat. Keburu mati tilpunnya. Tidak menghitung hal-hal lain, misal apps tidak ada di hape atau lagi puasa sms atau internet over quota yg membuat VoIP ini makin tidak cocok untuk pilihan dikala mendesak.


Saya tidak memungkiri bahwa semua contoh di atas juga pernah saya lakukan. Hal-hal yg dituang disini juga hanyalah nit-picking belaka. Namun, saya pribadi ingin ke depan tidak melakukan hal-hal di atas, yang mungkin bisa membuat orang lain berkeluh kesah yang sama seperti saya.

Instansi Pemerintah Harusnya Bertindak Layaknya Sebuah Instansi Pemerintah

Suatu hari, saya duduk-duduk dengan bapak-bapak diktiers. Salah satu bapak memberi tahu bapak lainnya kalau Dikti meminta dokumen ini-itu. Deadline pengumpulan hari ini. Bapak satunya kaget, “lho dimana pengumumannya, kok aku ga tahu?” Di jawab oleh si bapak, “itu lho ada di grup fesbuk yang XXX”. Tambahan lagi di ujung jawaban “katanya sih”. Masih katanya toh, rupanya.

Padahal, Dikti punya laman web resmi. Juga punya forum studi penerima beasiswa dikti, yang harus login. Namun, simpang siur apakah dikti minta pengumpulan dokumen ini-itu sering terjadi. Pernah benar. Pernah tidak. Tidak menghitung juga kadang mereka meminta isian penting, pribadi, atau sensitif via GoogleDocs.  Dan diset bisa dilihat umum (you know, GoogleDocs yg mode bisa diedit siapa aja itu). Waduh, waduh…

Jadi ingat. Waktu saya mendaftar beasiswa LPDP dahulu, semua komunikasi memakai gmail. Kocak… Jadi inget berita anggota dpr beralamat mail yahoo. Kayaknya semua instansi pemerintah punya masalah yg sama soal email gratis ini.

Kenapa hal-hal tadi tidak bagus? Yang penting kan ada jalur komunikasi? Informasi “sampai”. Fasilitas gratis. Handal pula. Toh itu kan bisa dipake semua dengan lancar!

Jawabannya karena:

itu bukan tindakan sebuah instansi pemerintah atau instansi apapun.

Saya tidak akan membahas sisi keamanan, kebocoran informasi, dll. Tentu saja saya lebih percaya keamanan server Gmail dibanding mail-server Instansi Pemerintah manapun. Lebih reliable pula (UI bagus, nggak bakal down di DDOS, spam filter mantab, dll-dll). Bocor informasi negara ke perusahaan/intel asing? Bah… Kayaknya negara ini nggak peduli gituan.

Yang saya sayangkan adalah staf di dalam instansi itu tidak punya sense bahwa pekerjaaannya itu mewakili instansi pemerintah. Hanya dengan bekal pengetahuannya ttg fasilitas populer di internet, mereka langsung memakai layanan gratisan itu untuk menghubungi klien (misal: penerima beasiswa). Akibatnya, sesuatu yang harusnya resmi malah jadi simpang siur. Sumber menjadi tidak meyakinkan. Berindukkan gmail atau malah fanpage Facebook.
Kan lucu kalau instansi pemerintah setinggi dikti atau lpdp kirim email via moderator.lpdp[at]gmail.com (seriusan ini, dulu di-email via ini, nggak tahu sekarang). Kalau saya buat email baru di gmail, dengan alamat moderator.lpdp.2015[at]gmail.com dan mengirim email ke para penerima beasiswa, minta data ini itu, bijimana coba?

Oh ya, saat saya menulis paragraf ini, akun email tersebut masih available untuk diklaim. Sudah saya klaim tapi saya isi password super ngasal, ntah apa jadinya.

 

Moderator LPDP

Masih dipake rupanya

Google aja mencurigai:

MilisLPDP dicurigai Google

Sebuah informasi resmi juga sebaiknya diumumkan ke orang perorangan (telpon atau via milis atau kirim ke email masing-masing, atur-atur lah). Seperti di universitas gitu.

Setelah itu baru dipajang di portal web. Lebih resmi, kan situs berita sang instansi. Atau forum resmi yang disepakati misal sistem web khusus untuk kegiatan (e.g.program beasiswa) tersebut. Jadi klien pemerintah bisa tahu keaslian berita sampe ke wording-nya.

Nggak kayak dikti yang berita suruh mengumpulkan dokumen sesuatu malah via grup fesbuk. Entah siapa pula member itu grup. Berita pun kemudian menyebar via mulut ke mulut. Hmf…

Lebih parahnya lagi adalah tadi, formulir isian pribadi di GoogleDocs yang bisa diakses umum. Sampai pernah – kata bapak diktiers – seseorang sensei di Jepang dikerjai oleh orang iseng yang berpura-pura sebagai mahasiswanya. Hmf…

Kesalahan fatal pemilihan jalur ini mungkin karena kurang paham tujuan setiap platform. Kurang gahul kayaknya stafnya. GoogleDocs itu dibuat untuk kolaborasi. Satu dokumen bisa dilihat dan disunting bersamaan oleh banyak orang. GoogleForms untuk survey. Orang cuma bisa isi, pembuat form yang bisa lihat.

Apakah tidak bisa minta data begituan ke orang per orangan. Email kek satu-satu. Atau minimal pake GoogleForm yang hasil rekap akhirnya cuma bisa diakses oleh admin (dengan catatan username password gmail si akun form itu cuma diketahui admin dan Two-factor authentication-nya aktif, walaupun masih agak lucu juga sih).

Atau yaaa yang paling bagus, kalau pemerintahnya canggih, bikin lah sistem web untuk para penerima beasiswa gitu. Toh dua minggu jadi kan?!



P.S. Fasilitas super mantab milik Google (Gmail, GoogleDocs, Form, Drive, dll) bisa dikustomasi menjadi ….@domainaing.com dengan mudah dan murah meriah via Google Apps for Bussiness. Cuma 5 dolar sebulan gan! Ada juga Google Apps for Goverment, cuma saya belum nanya bisa di luar US atau kaga.

Shakaijin: Rakyat Kelas Satu Jepang

Ada istilah khusus di Jepang bagi orang yang sudah tidak belajar/kuliah lagi: shakaijin. Biasa dikontraskan dengan kata gakusei (pelajar). Harfiah berarti masyarakat atau kelompok manusia yang tergabung dalam society. Namun, istilah ini biasa ditujukan (hanya) untuk golongan pekerja, sampai mereka pensiun. Arti sebenarnya mungkin, anggota produktif dari masyarakat.

Jadi, istilah ini juga sering digunakan dalam makna diskriminatif yang menganggap golongan pekerja adalah first-class citizen. Sedangkan golongan lainnya seperti pelajar, ibu rumah tangga, NEET, freeter, dan pensiunan yang tidak ada kewajiban membayar pajak dan kewajiban sipil lainnya adalah second-class karena tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Mentalitas menjunjung tinggi pekerjaan dan perusahaan tempat bekerja memang unik di Jepang. Masyarakat Jepang sangat hobi bekerja. Sampai-sampai mati karena terlalu banyak bekerja memiliki istilah khusus disini, Karōshi (過労死)Baca Selengkapnya

Menyederhanakan Seluruh 34 Lambang Provinsi di Indonesia

Berjalan di kota Jepang, bertemu dengan halte bus di pinggir jalan, atau penutup selokan di trotoar, atau papan pengumuman, atau bendera yang berkibar di depan kantor pemerintah, terukir logo kota ataupun provinsi tempat kita berjalan tersebut. Fasilitas umum yang dimiliki oleh pemerintah pasti memiliki tanda daerah.

Aichi Flag waving
Bendera Aichi Prefecture

Logo-logo di Jepang sangatlah sederhana. Bukan cuma hinomaru nya saja, logo provinsi dan kota juga begitu. Simpel. Biasanya hanya satu warna. Atau dua tiga warna maksimum. Silakan buka artikel Design in Flags: The Beauty Found in Japan’s Flags untuk melihat indahnya dan sederhannya logo prefektur di Jepang. Beberapa diturunkan dari kanji dengan style!

Dengan kesederhanaan seperti di atas, lambang itu mau ditaruh di mana saja cocok. Bendera. Iklan. Kop surat. Cap. Website. TV. Kaos. Dengan lambang yang keren seperti itu, kota dan daerah dapat dengan bangga mempertontonkan benderanya di tempat-tempat umum. Bersanding dengan bendera negara misalnya.

Saya yang orang Indonesia membandingkan dengan situasi di kota Indonesia. Di Indonesia logo daerah sangatlah rumit. Banyak ornamen. Sistem Coat of Arms soalnya. Cem militer gitu kali yak…. Logo daerah di Indonesia biasanya hanya ditemukan di kop surat dan percetakan saja. Bendera juga hanya beberapa daerah yang punya. Di Indonesia nasionalisme sangat kuat kali ya, cuma bendera Indonesia saja yang dikenal rakyat kita.

Jepang di sisi lain, punya lambang yang senapas dengan lambang-lambang perusahaan yang bermunculan/bergantian beberapa tahun belakangan ini. Modern. Flat. Tapi di mata itu, kok ya asyik rasanya.

Jika melihat ke belakang (sejarah), dari dulu memang keluarga atau klan di Jepang punya lambang masing-masing. Untuk ukuran masa lampau, lambangnya menurut saya memenuhi standar lambang modern. Sederhana tapi unik. Menarik dan mudah diingat. Cuma satu warna pula. Misalnya saja lambang klan yang terkenal, klan Uchiha Tokugawa. Atau lambang-lambang klan seperti di bawah ini.

Japan Clan

Kemudian, suatu hari saya mendapati video bagus dari TED yang membahas soal bendera-bendera di United States of America. Tentang bagaimana desain bendera yang bagus dan banyaknya bendera daerah di USA yang norak-norak.

Mengingat juga sekarang Selandia Baru sedang melakukan referendum untuk mengganti bendera negaranya. Yang sekarang well, katanya terlalu kolonialis dan mirip Aussie. Menimbang, Olimpiade Tokyo 2020 juga sedang melakukan sayembara pembuatan logo (setelah logo lamanya dikasus plagiarisme).

Memutuskan, halah… 

Poin-poin di atas membuat saya jadi ingin menyederhanakan logo provinsi di Indonesia. Dari gaya coat of arms resmi yang dipakai sekarang menjadi sesuatu yang lebih modern, simple, flat. Dan tentunya yg bisa dipasang di bendera.

Bendera Kota Nagoya dan Bendera Hinomaru Jepang
Bendera Kota Nagoya dan Bendera Hinomaru Jepang

Setelah melihat ke-34 logo provinsi secara keseluruhan saya mendapati banyak sekali corak umum yang muncul. Bentuk perisai segi lima. Bintang. Rantai. Padi kapas. Hampir seluruh lambang pasti ada kayak gitunya. Adopsi dari pancasila mungkin.

Perisai segi lima, padi-kapas, dan rantai sering muncul sbg elemen lambang provinsi. Kalau golkar dan pdi nggak ada, mungkin beringin dan banteng juga.

Padahal lambang provinsi harusnya kan unik. Pilih satu simbol yang paling mencerminkan provinsi itu. Atau setidaknya berbeda dari provinsi lain. Sehingga kalau liat itu lambang langsung kepikiran hal-hal yg kaitannya dengan si provinsi.

Namun, setelah dilakukan sulit juga menyederhanakan lambang provinsi ini. Banyak lambang super kompleks. Kayaknya desainer lambangnya dahulu tidak bisa memilih yang mau ditonjolkan dari provinsi itu apa, jadi ya dipasang semua. Pabrik, pelabuhan, kapal, gunung, sawah. Semua jadi satu. Ya cem-cem yg dibilang di video atas.

Beberapa lambang malah isinya wake-wakaranai; entah apa yang disimbolkan. Mana situs pemprov kaga menjelaskan. Banyak pemprov yang tidak mencantumkan makna dari si logo provinsi mereka itu. Ada yg bahkan merefer ke wikipedia. Dan tidak satupun pemprov yang memberikan versi hi-res dari lambang mereka. KE. CE. WA.

Sebagian besar lambang versi sederhana yg saya tampilan di seri artikel ini dibuat dengan cara menyomot vektor grafis dari SVG pada wikipedia, yg berlisensi Creative Common. Lambang yang tidak ada SVG-nya, saya pasrah dengan JPG/PNG-nya dan  trace komponen lambang yang ingin diambil.

Logo versi sederhana yang saya buat kebanyakan diambil dari komponen lambang asli provinsi. Bagian yang paling menarik, unik, atau keren. Jadi sebenarnya tidak ada hal baru disini. Namun, ada beberapa logo yang sangat berbeda dari logo asli. Terpaksa mengarang bebas karena lambang asli emang kaga adoptable dari sananya.


Seluruh lambang yang disederhanakan dirangkum pada artikel utama seri Logo Provinsi Sederhana. Detail penyederhanaan dipublikasi pada 6 artikel terpisah. Sesuai gugus wilayah berikut.

  1. Pulau Sumatera
  2. Pulau Jawa
  3. Kepulauan Nusa Tenggara
  4. Pulau Kalimantan
  5. Pulau Sulawesi
  6. Dangkalan Sahul

Setiap artikel di atas memberikan penjelasan singkat makna lambang dan mengapa komponen desain itu yang diambil. Review singkat tentang situs pemprov juga saya berikan, dengan kriteria ketersediaan halaman “Makna Lambang” pada situs.


Berikut daftar yang gambar desain hasil iseng saya. Silakan tebak yang mana provinsi apa….

Ayo tebak… Yang mana provinsi apa??

Setelah menebak, kunjungi halaman utama seri Logo Provinsi Sederhana untuk mengetahui jawaban Anda dan melihat seluruh logo provinsi, berdasarkan abjad.

Atau cek artikel per wilayah untuk membaca makna lambang dan melihat versi bendera dari setiap lambang provinsi.


Disclamer: Saya bukan ahli vexillology. Bukan budayawan Indonesia. Bukan desainer. Dan juga tidak dibayar untuk ini. Jadi desain yang dibuat pastinya banyak yang maksa dan tidak akan disukai semua orang. Desain dibuat hanya untuk iseng dan tidak disertai riset budaya ataupun konsultasi dengan pihak lokal/pemprov atau profesional manapun.


Tidak ada maksud pelanggaran hak cipta ataupun penghinaan budaya dalam sebagian maupun keseluruhan desain yang saya pos di seri artikel ini. Sebagian besar desain juga hanya diadopsi dari desain yang sudah ada. Jika ada yang merasa tersinggung dengan alasan apapun, saya mohon maaf di muka.


Anda dapat mengubah atau menggunakan desain yang pada seri artikel ini untuk kepentingan apapun. Hanya saja kalau bisa tolong beri komentar di bawah, karena saya juga penasaran dengan hasilya. Semoga aja ada yang bisa memberikan desain yang lebih baik.


Semua komentar, kritik, saran, dan desain tandingan sangat diharapkan.

Memperkenalkan “Go·Blok”, Layanan Terpadu untuk Gojek Haters

Anda tukang ojek pangkalan? Cemas karena keberadaan Gojek akhir-akhir ini? Dan tentu saja Iri dengan pendapatan mereka yang lebih besar bukan? Resah? Geram? Kesal? Benci? Tapi males ngapa-ngapain?

Tidak perlu khawatir. Kami hadirkan GoBlok. Solusi tepat bagi Anda para Gojek-Haters.

GoBlok didisain easy to use dan hassle free. Dua istilah tadi itu dalam bahasa Inggris. Artinya mudah digunakan dan bebas repot. Cocok bagi Anda yang malas mikir dan malas gerak. Tidak perlu susah apalagi repot. Anda tetap akan bisa meneruskan ritual suci turun temurun bermain poker di pangkalan Anda tanpa ada gangguan apa pun.

Go-Blok AppsUI

Layanan kami sangat lengkap dan terpadu. Kami memiliki empat layanan utama yang dirancang khusus agar Anda tetap bisa menikmati hari santai di pangkalan.

Surveillance – Intai Jalan

Dengan layanan ini, kami bisa memata-matai jalan atau RT tempat Anda mangkal. Anda tidak perlu sibuk-sibuk patroli. Tim kami yang akan memantau jalan. Kami pastikan, jika ada ijo-ijo lewat di daerah sana, sebelum kopi dan pisang goreng di pangkalan Anda dingin, Andalah yang pertama kali tahu.

Put Banner – Pasang Spanduk

Kadang-kadang, RT Anda memerlukan spanduk “Gojek Dilarang Masuk” di gerbang depan supaya mereka tidak berani kesana dan pengunjung tidak berani memanggil. Namun itu artinya Anda harus capek mikir disain spanduk dan juga capek memanjat tiang listrik untuk memasangnya.

Jangan kuatir. Dengan layanan “Pasang Spanduk”, tim kami akan menghandel disain, perizinan, sampai pemasangan akan kami lakukan di titik-titik yang Anda tandai. Semua akan beres itu semua selama Anda meneruskan pertandingan catur di pangkalan.

Roadblock – Blok Jalan

Jika diperlukan, tim kami dapat membuat Penghalang Jalan yang akan otomatis memblok ijo-ijo bermotor. Dengan layanan ini, kami akan memfilter (artinya menyaring) tukang Gojek pada penghalang jalan tersebut sehingga merea tidak bisa lewat.

Beberapa setting tersedia dalam layanan ini.  Setting “Seleksi Ukuran” akan menyaring ijo-ijo yang besar dan membiarkan yang berukuran kecil. Setting ini diperlukan supaya tidak terlalu merusak ekosistem. Namun jika Anda bukan aktifis lingkungan, Anda bisa menonaktifkan setting ini dan kami akan menyaring ijo-ijo dalam semua ukuran.

Layanan ini pun memiliki dua mode. Kesatu adalah mode “Catch and Release”, ini juga bahasa Inggris yang berarti tangkap dan lepaskan. Prinsip ini bagus untuk Anda yang suka mancing. Kedua adalah mode “Keeping”, bahasa Inggris juga nih. Artinya menyimpan. Mode ini baik digunakan untuk pengguna layanan kami yang terakhir.

Drop Hit – Gebuk Rame2

Supaya kapok, ijo-ijo tadi perlu Anda beri peringatan keras. Namun, jika Anda dan teman sepangkalan harus turun tangan, kehidupan mangkal di pangkalan Anda dan teman-teman akan terganggu. Bisa jadi Anda akan melewatkan sebuah taruhan gaplek atau bahkan lebih buruk jatah saat ada pelanggan butuh ojek datang ke pangkalan.

Tidak perlu risau. Kami dan tim bisa mengatur semuanya. Tinggal gunakan layanan kami ini, set posisi target peringatan Anda atau gunakan dengan layanan “Roadblock”, kami akan mengirim tim monyet terlatih pada posisi tersebut.

Go-Blok Banner

GoBlok memberikan layanan memuaskan. Tim kami sangat ramah. Aplikasi pun dirancang mudah untuk digunakan. Tidak perlu pintar untuk memakai GoBlok. Orang goblok pun cocok untuk memakai aplikasi GoBlok ini.

Tunggu kehadirannya di kota Anda.








By this point, you should realize that the above ad is a joke. Joke aside, ada video yang bagus dari Crash Course Economy ttg apa yang menentukan GDP sebuah negara.

Productivity vs Growth: Kenapa Ada Negara yg Kaya, Ada Yang Miskin

Dalam video tersebut dijelaskan bahwa yang membuat sebuah negara lebih kaya dari negara lain bukanlah sumber daya alamnya. Singapura dan Jepang gak punya tuh sumber daya alam. Bukan juga demografi. Indi. Hal itu memang berpengaruh, tetapi yang paling menentukan adalah gabungan dari semuanya. Dan hal itu disebut produktivitas.

Bagaimana suatu negra dapat mengelola seluruh yang dimilikinya dengan baik. SDA, SDM, regulasi dalam negeri, diplomasi dengan luar negeri, dan waktu.

Dalam konteks Gojek dan Ojek Pangkalan tadi, yang dipermasalah oleh ojek pangkalan adalah “seolah” Gojek merebut pelanggan setia ojek pangakalan. Dalam arti lain, menurunkan minat pembeli ke ojek pangkalan. Sebenarnya sih memang begitu, by design Gojek memang ingin meniadakan konsep ojek pangkalan.

Mengingat ojek pangkalan senangnya mangkal,  produktivitas ojek pangkalan sangat rendah. Kayaknya emang jarang yang make jasa ojek pangkalan. Mesti datang ke pangkalannya dulu, nego harga, belum tentu jadi pula. Buat urusan remeh-temeh misal mengantar bento papi ke kantor kan tidak mungkin lari ke pangkalan dulu. Jadi sebenarnya (lagi), Gojek juga ga begitu mengganggu pasar ojek pangkalan.

Sedikit Usul untuk Ojek Pangkalan

Menurut saya, jika ojek pangkalan itu mau mikir dan gerak sedikit mereka bisa meningkatkan produktivitas mereka. Dengan catatan tentunya, mereka harus merelakan gaya hidup berleha-leha di pangkalan sambil menunggu jatah penumpang.

Tidak tidak. Usul saya bukan gabung dengan Gojek. Nggak sedrastis itu.

Kalau niat bikin seragam dan pangkalan bersponsor seperti ini,
keknya hal publikasi atau berkongsi dengan pangkalan lain masalah kecil lah… Lanjutkan.

Gampangnya gini nih: iklan. Melihat maraknya gojek, saya lihat di berita-berita para ojek pangkalan ini pada masang spanduk anti-gojek kan? Nah! Harusnya mereka bisa kan masang spanduk iklan ttg ojek pangkalan mereka di RT terdekat. Atau poster kek. Pasang di beberapa tiang listrik strategis. Kasih kontak nomor hape disana. Call Service gitu… Lalu, jangan pasang harga yang maho. Standardisasi sesuai jarak/aktivitas.

Dengan publikasi sedikit gini kan warga sekitar bisa liat itu kontak dan nelpon ke pangkalan kalau ada perlu. Kaga perlu jalan ke pangkalan. Asal niat.

Atau mereka bisa buat asosiasi ojek pangkalan, bikin database yang bagus (cukup lokasi, member, dan nomor kontak) dan buat deh web-blog yang isinya peta pangkalan dan kontak. Lebih sip lagi… Apps lebih bagus tapi gak perlu sekeren gitu juga.

Contoh simpel yang bagus nih. Lanjutkan…

Legalitas

Tentu saja regulasi tentang hal ini sama sekali tidak disinggung dari artikel ini. Apakah ride-sharing sudah diatur oleh hukum atau tidak itu tentu masalah yang lain lagi. Di USA saja, Uber dengan layanan semua-orang-bisa-jadi-taksi nya sangatlah kontroversial dan mengundang debat hukum dan sidang terus menerus.

Hanya saja, disana gak ada tuh main ngeblok suatu area lalu main gebuk-gebukan kalau ada yang melanggar larangan bisnis di daerah tersebut. Cem yakuja aja, pake daerah kekuasaan segala.

Disclaimer

Penulis bukan bagian dari tim Gojek, bukan simpatisan Gojek, tidak pernah ketemu founder atau pegawai manapun dan tidak pernah memakai jasanya. Bahkan melihat dengan mata kepala langsung juga belum pernah. Penulis juga bukan ahli ekonomi, bukan ahli sosial masyarakat, dan juga bukan jurnalis. Penulis juga belum pernah mengalami rasanya menjadi tukang ojek. Memakai jasa ojek pun cuma ingat 2x seumur hidup.

Penulis hanya concern terhadap perkembangan teknologi dan start-up di Indonesia dan sangat senang dengan keberadaaan Gojek ini. Kayaknya ia start-up pertama yang dikenal oleh kalangan luas masyarakat Indonesia. Kan keren, mengingat perusahaan rintisan jenis serupa dari luar negeri (terutama silikon valley dengan Ubernya) juga akan merambah ke negara-negara berkembang.

Penutup

Bagaimana pengaruh Gojek ke Ojek Pangkalan pun sepertinya perlu dibuat riset tersendiri hanya klaim sepihak dari semua pihak, termasuk yg ditulis disini. Silakan kalau ada yg mau jalanin, lumayan buat tugas akhir kan.

Apapun akhir dari perhelatan Gojek vs Republik Indonesia ini sangat ditunggu dari Gojek. Agak penasaran juga, apakah teknokrat-teknokrat Indonesia dan masyarakat Indonesia bisa bersaing dengan sistem pasar terbuka yang makin dekat ini.

Perang e-Commerce yang terjadi di Indonesia 5 tahun silam sepertinya dimenangi oleh stakeholder luar negeri (baca: Lazada). Bagaimana dengan lini lain. Penulis sangat-sangat menunggu episode selanjutnya.

Lamaran Kerja di Jepang: Alur dari Kenalan sampai Tunangan

Pencarian kerja di Jepang alias shukatsu belaku seperti layaknya pencarian universitas di Indonesia. Ya, tidak seperti lazim di negara lain, Job Hunting di Jepang dilaksanakan secara serentak oleh semua perusahaan di Jepang. Ada periode tertentunya. Tahun 2015, periodenya dimulai serentak pada tanggal 1 Maret 2015. Sedikit lebih lambat dari tahun-tahun sebelumnya yang dimulai dari Desember. Akhir dari periode Shukatsu adalah sekitar bulan Oktober.

Pada periode ini, semua mahasiswa tingkat akhir baik S1, S2, S3 tidak hanya sibuk menyiapkan disertasi tetapi juga sedang sibuk-sibuknya ber-shukatsu ria. Betul, di Jepang mahasiswa mencari kerja satu tahun sebelum lulus.

Istilahnya adalah Shinsotsu-Ikkatsu-Saiyou atau Rekrutmen Fresh Graduate Bersama. Bisa baca lebih lanjut di wikipedia.

Keren yak?

Namun, bagus nggak-nya nggak tahu ya. Sebelumnya saya menganggap itu bagus, karena informasi ttg pekerjaan terbuka lebar dan mahasiswa mudah untuk memilih kerja. Pas diskusi dengan sensei – as expected from professor, beliau ragu. “Saaa…. Dou darou… Bagus sih untuk yg keterima. Kalau belum keterima? Tertinggal jauh mereka kalau setelah lulus baru shukatsu. Minimal poinnya jatuh di mata penyeleksi. Tidak sering itu berarti akhir dari hidup mereka. 

Hmm… Betul juga. Bayangkan, kalau S1 berarti mereka harus cari kerja sebelum tugas akhir bahkan dimulai! Hmf. Dan kalau mereka pertukaran pelajar ke luar negeri, atau sekadar sibuk riset mendewa, atau sakit

Ada beberapa tahapan seleksi yang umum disini. Secara lengkap kira-kira:

  1. Seminar pengenalan perusahaan, alias setsumeikai
  2. Entri, kadang dibagi menjadi dua: pre-entri dan entri-beneran
  3. Tes tertulis, umumnya disebut SPI
  4. Wawancara, bisa dua sampai tiga tahap tergantung perusahaan
  5. Nainaitei, intinya kita lolos seleksi akhir perusahaan dan kita diberi waktu untuk berpikir apakah benar jatuh cinta ke perusahaan ini atau menunggu jodoh lain
  6. Naitei, jabat tangan ke perusahaan janji tahun depan kerja disana dan sering berhubungan dengan perusahaan sambil menunggu kelulusan

Baca Selengkapnya

Cari Kerja di Jepang: Psikotes dan Psikopas

Salah satu yang menyebalkan saat cari kerja di Jepang adalah pada saat ujian tertulis. Ujian tertulis disini atau biasa disebut SPI Test oleh para pencari kerja di Jepang terdiri dari beberapa komponen: bahasa, matematika-logika (semacam tes IQ gitu), dan tes kepribadian. Semuanya menyebalkan (matematikanya gampang sih) tetapi yang agak reseh dan jadi fokus artikel ini adalah tes kepribadiannya.

Bagian tes kepribadian ini sebenranya nggak ada istilah jawaban benar dan jawaban salah. Soalnya juga mirip-mirip tes kepribadian abal-abal yang tersebar di internet itu. Pertanyaannya juga klise ttg sehari-hari. Namun mungkin bedanya fokus tentang pekerjaan dan konteks kantor gitu.

Yang bikin reseh sebenarnya adalah jumlah soal. Dari tiga subjek uji tadi, tes kepribadian yang memiliki jumlah terbanyak. Tak jarang, tes kepribadian ini terdiri dari 2 bagian yang per bagiannya berjumlah 200 soal. Total 400 soal dong…

Contoh soal tes kepribadian (Bahasa Jepang)

Contoh soal tes kepribadian (Bahasa Jepang)

Yang ditanyakan ya standar dan klise. Misalnya saya artikan soal pada gambar di atas aja yak.

81. Akrab dengan orang seperti apa pun.
82. Butuh waktu untuk berteman dengan orang.
83. Pekerjaan yang lebih sulit itu lebih asyik dan menantang.
84. Jika orang lain berekspektasi tinggi, diri merasa terbebani.
85. Jika ada pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seseorang, diri akan inisiatif mengerjakannya.

86. Saat bekerja dengan kelompok, sering menjadi pengarah kegiatan.
87. Tidak bisa memulai sesuatu yag baru jika tidak membuat rencana detail
88. Jika ada jadwal pagi-pagi, saya jadi tidak semangat.
89. Sampai sekarang, tidak pernah kehilangan kepercayaan diri sekali pun.
90. Meskipun dikritik orang, kalau saya merasa benar akan saya lakukan.

91. Jika ditanya iya atau tidak, saya akan menjawab: sangat suka terhadap umat manusia.
92. Jika orang sadar ttg perilaku buruk diri, saya menerima dengan lapang dada.
93. Sekali memutuskan sesuatu, tidak akan pernah mundur.
94. Jika tertarik kepada satu hal, lebih baik tidak melihat hal yang lain.
95. Setelah tidur malam, hal yang dibenci semua terlupakan.

96. Mudah bertanya kepada orang lain tentang hal apa pun.
97. Senang berpartisipasi pada beragam kegiatan kantor.
98. Apapun yang terjadi, perasaan tidak ingin kalah sangat kuat.
99. Jika melihat perilaku diri di masa lalu, kadang-kadang malu sendiri.
100. Tujuan hidup yang diinginkan sampai detik ini tercapai semua.

Pertanyaan yang sebenarnya seintrik kadang ditanyakan dua tiga empat kali. Misalnya yang poin 98 tadi. Kadang diulang dengan parafrase “Harus memberikan hasil yang terdepan” atau “Dalam kompetisi selalu berjuang hingga menang”.

Terkadang juga diberikan dua kata sifat dan peserta ujian harus memilih kata mana yang lebih dekat dengannya. Misalnya:

  • Memimpin vs Melaksanakan
  • Kompetisi vs Kolaborasi
  • Mandiri vs Kerja sama
  • Mudah akrab vs Menjaga hubungan profesional
  • Semua harus sesuai rencana vs Harus bisa fleksibel

Dan sama juga, kayak semua kata yang mirip diulang lagi dengan lawan kata yang juga mirip. Terus begitu untuk ratusan soal.

Inti dari mata uji ini adalah untuk melihat kecenderungan kepribadian kita, apakah cocok dengan orang yang dicari perusahaan. Lalu petunjuk soalnya, setiap pertanyaan katanya tidak boleh terlalu dipikir. Satu soal satu detik itu sudah lebih dari cukup.

Mudah tapi nyapekin tangan.

Apalagi kalau setiap perusahaan yang dilamar masing-masing ngasih tes kepribadiannya. Beratus soal juga. Nggak bisa dites sekali terus hasilnya dibagi kemana-mana apa yak (mungkin harus ujian di test-center kalau gitu). Mending kalau perusahaannya punya soal berbahasa pengantar bahasa Inggris. Kalau Jepang, waduh modyaar.

Huh…

Beberapa waktu silam, ilmuwan dari Universital Drexel, Philadelphia mengkonfirmasi adanya neuron yang bertugas untuk mengolah informasi lokasi. Dengan kata lain, mereka berhasil melokalisasi bagian yang berfungsi sebagai GPS di kepala kita. Yang nyimpen sekarang kita di rumah atau di kampus terus peta ke mana itu gimana, dll yang kalau ga berfungsi dg baik manusia bisa jatuh pada kondisi yg biasa disebut dengan “Nyasar”.

Seperti diketahui, ternyata proses pengolahan di dalam otak itu terjadi secara modular dengan bagian otak tertentu atau sekelompok neuron tertentu memiliki fungsi yang berbeda dari bagian lain. Yang sudah diketahui sejak lama misalnya adalah visual kortex di occipital lobe, persepsi sentuh dan pengenalan wajah di parietal lobe, koordinasi dan kesetimbangan di cereblum, konsentrasi dan empati di frontal lobe, memori di temporal lobe dan individu neuron, dll.

Meskipun sebenarnya yang disebut “bagian” atau “sekelompok” neuron tadi tidak mesti fix pada lokasi tertentu pada otak sih. Misalnya penglihatan, sesuai penjelasan pada kuliah Visual Cognitive Science yang saya ambil sebenarnya diproses di otak bukan cuma di bagian otak belakang. Itu hanya primary vision (V1), sebagai proses primitif pengolahan sinyal cahaya aja misalnya untuk melihat posisi cahaya dimana, bergerak atau nggak, orientasinya gimana, atau warnanya apa. Setelah itu pada tahap pengolahan info visual selanjutnya, ditangani oleh bagian otak di tengah lalu bercabang kedua ke bawah dan atas yang cukup rumit. Tahapnya misal itu benda apa, dalam kondisi apa, posisi relatif dengan objek lain, dll.

Long story short: Penemuan terakhir dari Universitas Drexel tentang pengolahan informasi lokasi melengkapi “peta” otak yang ada.

Nah seiring berkembangnya pengetahuan kita tentang otak ini alangkah lebih asyik ada penelitian tentang peta otak lain. Sangatlah seru kalau nanti diketahui bagian otak yang berfungsi mementukan tingkat kompetitif pemilik otaknya. Atau bagian mana yang mengolah apakah orang tersebut mudah menyerah atau tidak. Bagian yang mendikte apakah orang itu insiatif?

Tinggal diadakan riset masing-masing kan. Jurusan neuro-science di universitas apa bertugas untuk mencari tahu tentang neuron keakraban. Kampus lain tentang neuron malu. Badan riset lain tentang neuron self-esteem.

Kemudian, kalau sudah berhasil dilokalisasi bisa diukur satu-satu tentang daftar perilaku manusia tadi. Nilai hasil pengukuran tadi bisa diriset lagi keterkaitannya dengan perilaku kemanusiaan lain. Bisa juga dipasang threshold atau pass sehingga dari nilai tentang ambisi seseorang bisa dilihat dia itu cocok dengan pekerjaan seperti apa.

Nah, jika semua komponen perilaku manusia tadi sudah dikuantifikasi sedemikian rupa, saat cari kerja tidak perlu tes repot-repot. Di masa depan, tinggal ukur sinyal otak sekali dua kali, ada deh print-out kepribadian yang lebih akurat. Lembar nilai psikologi alias Psikopas kita pun tercetak.

Digabung dengan sebuah sistem informasi milik Kementrian Tenaga Kerja, Kesehatan, dan Kesejahteraan yang bisa menghubungkan kepribadian apa cocok kerja dimana, kita bisa memetakan formasi kerja nasional dengan sangat efisien. Manusia bisa bekerja sesuai dengan bakatnya. Kantor dapat orang yang tepat dengan sangat mudah.

Sibyl_System

System ini kemudian tinggal dipasang dengan jaringan internet kecepatan tinggi dan super komputer. Kalau perlu analisa lebih lanjut, misalnya dengan pola pikir dan kepribadian seperti ini apakah dia bisa berbuat jahat atau nggak. Simulasi dengan komputer, atau kalau nggak kuat dengan simulasi dengan otak manusia lain. Nah! Akhirnya, selesai juga lah.

Selamat datang Sybil System.

Orang Jepang Tidak Semuanya Suci

Satu tendensi bagi orang asing di Jepang adalah menganggap bahwa orang Jepang itu maksum alias tidak pernah melakukan pelanggaran hukum. Toh cerita dan berita yang kita sering dengar mengatakan demikian. Sekian banyak blog berkata bahwa di Jepang itu disiplin, orangnya taat hukum, penegak hukumnya bagus, dll. Hal ini menyebabkan ketika ada suatu kasus yg terjadi, orang kita (non-orang Jepang) akan langsung mengasumsikan bahwa pelakunya adalah bukan orang Jepang alias orang asing.

Mari saya beri contoh untuk memahami lebih dalam. Artikel ini akan berfokus pada area kosan saya, Circle K di depannya, dan masjid. Bertema tentang transportasi dan aturan lalu lintas. Pada satu kasus spesifik.

Berikut adalah peta tkp. Sebelah kiri bawah adalah kosan saya sekeluarga, Esteem Tempaku. Yang berpin dan betuliskan Toyohashi Mosque itu adalah Masjid Toyohashi. Di antara kosan dan masjid ada CircleK, berikon tas belanja kecil warna biru. Diantara ketiganya ada perempatan (yg bisa dibilang juga pertigaan). Posisi kiri atas dari perempatan adalah kampus saya, TUT.

Seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya berjudul Toyohashi Masjid dan Meriahnya Ramadhan, komunitas muslim Toyohashi beruntung memiliki masjid yg sangat dekat kampus dan dikelilingi hutan/tanah lapang. Meskipun spiker cuma ditaruh di dalam gedung, suara bisa terdengar sampai kosan saya. Nah, karena di sekitarnya sepi, nggak ada yg terganggu…! Hore… Setidaknya, sampai artikel ini ditulis.

Hal beruntung lainnya adalah keberadaan kombini (baca: convenience store) di depan masjid. Ruang di depan masjid sangatlah sempit. Untuk parkir mobil, di halaman depan cuma cukup 4 mobil. Di pelataran lantai 1, paling kalau dijejalkan 5-6 mobil. Di tanah kosong barat masjid, bisa 5 mobil. Masalahnya kalau ramadhan, ruame nya minta ampun. Ga muat. Syukurnya, mobil-mobil yg nggak cukup tadi bisa parkir sementara di CircleK depan.

Sebenarnya hal tersebut tidak etis dalam norma Jepang. Bagi orang Jepang, kalau parkir di kombini berarti ya mau ke kombini. Masa parkir dimana perginya kemana. Namun, karena kami sering dan kadang pihak amir minta izin juga ke tencho (empunya) warung, masalah parkir CircleK dan Masjid ini mungkin sedikit dimaafkan. Toh, Toyohashi kota kecil; dan kombini disini punya parkir besar-besar; parkir lowong mudah ditemukan.

Jadi dimaafkan. Kecuali pada kasus tertentu.

Jika kita lihat tempat parkit lebih dekat, kita bisa tahu kalau ada kolom parkir (garis putih) yg besar dan kecil. Yang kecil untuk mobil biasa. Yang besar untuk truk dan tronton.

Toyohashi Masjid - peta parkir

Nah, suatu hari, ketika Indonesia mengadakan buka bersama, tambahan 50-an tamu orang Indonesia dari luar Toyohashi datang ke masjid. Nambah deh 5-8 mobil dari biasanya. Jeng-jeng… Yang biasa parkir di CircleK (kotak biru di atas) merembet sampai ke area parkir truk (lingkaran merah). Kebetulan apes kali ya, pas maghrib polisi dateng, dan kena deh itu satu mobil yg parkir disono. Tanpa gubris, 7000 yen melayang.

Namun, bukan itu poin utama artikel ini. Yg itu tadi baru konteks. Inti baru akan diceritakan setelah ini.  Baca Selengkapnya

7 Contoh Berita Hoax Islami || Genre Berita yang Masuk Daftar yang Tidak Saya Suka

Salah satu yang ranking teratas berita yang paling tidak saya suka adalah berita tentang sains dalam islam. Atau islam dalam sains. Atau sains dan islam. Atau yaa… Kombinasinya lah. Setiap lewat di news feed, perasaan yang muncul adalah bad feeling. Kenapa? Tentu saja karena sebagian besar dari berita itu adalah hoax.

Banyak sekarang hal-hal yang berlabel islami. Perbankan islami. Perumahan islami. Novel islami. Kisah cinta islami. Namun, kayaknya istilah ini gak baik untuk dipakai dalam sembarang kata benda deh. Pacaran islami misalnya? Atau hoax islami?

Yang pertama, pacaran islami, mungkin masih banyak pendukungnya. Yang kedua, hoax islami, konsensus kalau itu aneh, bukan? Hanya saja, masih banyak muslim yang sembarangan membuat atau menyebarkan berita-berita islami tapi hoax ini. Kok bisa ya, saya heran. Dengan era informasinya internet, mendapati berita seperti itu menjadi sangat gampang. Tentu saja, mencari lebih dalam tentang kebenarannya harusnya tidak kalah gampang. Mungkin cuma beda dua tiga klik lagi saja.

Saya tahu, muslim punya keinginan besar untuk meyakinkan dirinya atau orang disekitarnya ttg kebenaran dan keindahan jalan hidup bernama islam ini. Ketika ada berita yang sedikit memuji islam atau sesuai dg keyakinannya, muslim yg tak awas akan jatuh pada confirmation bias, dan langsung men-share berita tersebut. Dengan dalih inspirasi, dakwah, berita pengimbang, bla3. Toh, banyak sekali berita media mainstream yang memojokkan islam pada zaman ini.

Namun sayang, berita ‘dakwah’ itu ternyata tipuan. Bukannya mengangkat nama islam tapi malah menjatuhkannya. Anda akan membuat fitnah kepada dunia bahwa taqiya itu bagian dari akidah islam. Atau membuat orang di luar sana mentertawakan betapa bodohnya muslim (dan islam).

Terus...?

Iya lingkaran. Terus…?

Tema yang paling sering dari hoax islami ini ada dua. Satu, sains. Beberapa murni tipuan. Beberapa tebak-tebakan alias pseudo-sain, misalnya tentang faedah shalat terus dikaitkan dengan posisi matahari lah, gerakan tubuh dan peredaran darah lah, magnet bumi lah. Whatever… Sampai ada yang mengangkat shalat jadi olahraga meditasi cem yoga baru tahu rasa. Dua, tentang konversi agama atau kesaksian dari seorang ahli non-muslim ttg kebenaran islam. Hmm…

Artikel ini akan membahas beberapa contoh dari hoax islami tersebut. Klaim berita versus apa yang sebenarnya. Berita hoax ini hanyalah yang saya dapati dalam news feed belakangan. Bahkan banyak berita lama yang sudah pernah saya lihat sejak sma, masih ada rupanya yg baru baca. Untuk Anda yang menyebarkan berita ini akhir-akhir ini, salam tepok jidat dari saya dan istighfarlah.

Artikel ini bukanlah exhaustive list.  Masih banyak sekali berita dakwah/islami yang pantas mendapat face-palm di luar sana. Artikel ini juga tidak bertujuan untuk menyebarkan hoax ini lebih jauh lagi. Namun, lebih ke arah menunjukkan kalau berita di bawah ini adalah tidak benar. Dengan demikian, Anda bisa menepok jidat saat menemukan berita ini di news feed Anda, karena sudah tahu kalau itu hoax.

Artikel ini dengan sengaja mengecualikan bahasan berita hoax islami yang bernuansa politik, konflik, genocida, apalagi konspirasi. Padahal berita serupa tidak kalah banyaknya.

Note: Banyak yg sudah membahas ttg hoax islami ini di internet dan kebanyakan framing-nya memojokkan islam. Meskipun artikel saya ini bertema sama, tetapi bukan itu yang saya tuju. Saya ingin mengajak kita sesama muslim untuk lebih kritis dalam menerima setiap informasi, meskipun itu sesuai dengan keyakinan kita.


1. Profesor Israel Mengakui Sejarah Islam

Diceritakan oleh berita hoax islami: Professor sejarah universitas Hebrew, Prof. Moshe Sharon, di Israel mengakui bahwa hanya pada dasarnya hanya satu agama di alam semesta dari zaman dahulu kala, yakni islam. Sejarah dunia dan agama-agama merupakan sejarah islam. Tentang pembebasan bukan penaklukan. dst, dst…

Video dapat dilihat pada: Link yutub tentang dakwah berikut ini (kalau belum ilang)

Moshe Sharon

Berita ini (dan banyak berita dalam artikel ini) bahkan masuk ke Republika. Tampar jidat.

Yang sebenarnya: Yang harus digarisbawahi adalah kata mengakui. Jika diperhatikan dengan seksama, dalam video pak prof mengawali penjelasan dengan: There is a question about the attitude of islam to history. And in face, what we find, basic attitude is…

So, surprise. Beliau ini bukan sedang mengakui. Tetapi sedang menjelaskan (menjawab) pertanyaan ttg attitude atau pandangan orang islam terhadap sejarah. Yang tentunya sudah kita ketahui bahwa pandangan kita thd. sejarah ya sesuai penjelasan beliau di video – semua sejarah agama dan tokoh sejarah/agama adalah orang islam.

Apakah berarti beliau mengakui hal itu? Misal nih, saya menjelaskan ttg di orang Jepang itu berpandangan bahwa PD-II itu Jepang sedang membebaskan dunia dari cengkraman barat. (ini cuma misal lho ya) Apa itu maksudnya saya setuju dg. pandangan mereka? Bisakah dibilang hal itu “menurut saya”? Ya. Hanya karena yg saya jelaskan (atau yg Moshe Sharon jelaskan) sesuai dengan pendapat Anda, bukan berarti hal itu diakui dan kemudian worthy to be shared.

Terlebih lagi, sebenarnya sang profesor sedang menjelaskan dengan nada sedih atau menyindir. This is what I mean by islamisation of history, katanya. Bahwa mentalitas untuk mengislamkan (membuat islam yg sebenarnya bukan) sejarah itu ada. Hal yg sangat disayangkan, katanya.

Tahukah Anda, di situs dakwah kristen luar sana, ada video tersebar Ustadz Ahmad Deedat sedang menjelaskan bible dengan judul kira-kira begini “Ahmad Deedat masuk kristen”. Yup, dengan menyebar video Moshe Sharon ini, Anda sedang jatuh dalam plot-device tepok-jidat-able yang sama.

2. Istri Kaisar Austria Berhijab

Diceritakan bahwa: Gambar/video ini merupakan bukti bahwa pengaruh islam dan khalifah utsmaniyah masuk hingga keluarga kerajaan barat. Sebagaimana muslimah yang menjaga aurat, Ratu Kaisar Austria memakai niqab saat berkunjung ke bla bla….

Video dapat dilihat pada: Artikel dakwah (atau banyak tersebar di link lain, sila googling dewe)

Das Begr‰bnis von Kaiser Franz Joseph I. Kaiser Karl I mit Kaiserin Zita und Kronprinz Otto beim Trauerzug vor dem Stephansdom. Handkoloriertes Glasdiapositiv. 30. November 1916. Emperor Franz Joseph¥s funeral. Emperor Karl I., Empress Zita, crown prince Otto at the funeral procession in front of the St. Stephen's Cathedral. Hand-colored lantern slide. November 30th 1916.

Tidak seperti kebanyakan share ttg hoax ini, saya mencantumkan foto berwarna bukan hitam putih. Sumber gambar: gettyimages

Yang sebenarnya: Satu video yang diambil di luar konteks tidaklah cukup sebagai bukti. Dan seseorang yang memakai pakaian setipe hijab/niqab dalam suatu waktu tidak berarti dia orang islam dan belum tentu berarti dia pakai hijab terus-terusan.

Konteks yang sebenarnya dalam video itu adalah pemakaman. Baju dalam foto/video adalah Funeral Protocol Dress Code. Sedikit googling dan baca-baca tentang baju pemakaman di Eropa atau liat-liat gambar dg keyword “Funeral Europe” kita bakal tahu bahwa sangat wajar pemakaman disana pake hitam-hitam berkerudung untuk wanita. Atau kalau mau lebih josh, googling “Funeral Veil”, langsung deh keliatan kayak apa.

Jadi mau dia Ratu Austria atau kembang desa di Hungary kek, mereka pake kerudung itu biasa, ga perlu di-framing dalam kerangka dakwah islami. Toh, si Ratu Austria tadi kagak pakai niqab loh di hari-hari biasa. So?

Istri Presiden US John F. Kennedy juga memakai kerudung tuh saat pemakamaan. Apakah itu berarti Amerika…? Wow! Siapa sangka??? Ayo sebarkan… (this is sarcasm, if you didn’t notice it)

3. Masjid Haram dan Masjid Nabawi Bercahaya

Berita yang satu ini sudah beredar sejak jaman friendster mungkin. Dimuat dibanyak berita dakwah dan juga berita mainstream. Biasanya disertai foto tampilan udara dari kedua masjid. Dari foto tampak bahwa masjid haram dan masjid nabawi lebih terang, lebih putih dibanding sekitarnya. Kadang biar lebih meyakinkan dibubuhi nama orang astronot, atau nama badan antariksa kayak NASA, atau nama satelit/ teleskop/ ISS, dsb.

Contohnya adalah foto di bawah ini.

Fakta tadi sebenarnya benar. Bahwa kedua masjid tersebut tampak putih bersinar dalam foto udara. Ga perlu satelit, bisa di cek di GoogleMap. Namun, penjelasan yang mengiringinya yg kadang berlebihan. Maksud saya yg bagian “cahaya malaikat” bla bla bla…

Apa sebab? Kejadian bangunan putih tampak bersinar dari atas adalah kejadian biasa. Terutama kalau si bangunan memakai marble sehingga lebih memantulkan cahaya. Contoh saya foto-foto yang saya ambil dari GoogleMap berikut ini. Misalnya: Monas dan Istiqlal, Taj Mahal, dan Askhar Dham. Dan yang paling putih: Greenland. So, hal ini sama sekali bukanlah hal yang spesial. Kebetulan aja Masjid Haram dan Nabawi ukurannya besar dan seluruhnya lantai/atap putih (wong masjid, space polos untuk shalat dari atas keliatan luas).

Sayangnya, pada foto yang tersebar agar lebih dramatis, foto masjid haramain bersinar ini dibuat daerah sekitarnya lebih gelap dari foto aslinya. Sehingga lebih kontras. Menyedihkan kan, untuk dakwah harus dipalsuin didramatisir dulu. ..T.T.. Mana watermark dari foto tersebut masih ada pula (perhatikan dengan detail ada garis putih watermark di foto atas). Nggak kuat beli foto aslinya kali.

Oh ya, cek foto asli dan terbaru dari mekah dan medinah di spaceimagingme.com. Super keren! Ngeliatin foto daratan dari langit emang sip. Cek juga geo-airbusds.com.

Btw, ada foto gelap yang lebih valid dari yg digelapin tadi (soalnya diambil saat malam). Diambil oleh astronot Anton Shkaplerov di akun twitter (astronot beneran dan akun twitter beneran [sepertinya]).

Anton Skaplerov Mecca Medina Photos

Mekah dan Madinah oleh @AntonAstrey

Alharam

Penjelasannya: saa… Lampu sorot kali? Terus mantul ke keramiknya… Kalau cek foto masjid haram dari dekat terlihat banyak lampu dari sana kemari. Yang jelas dua foto di atas valid (saya tidak berhasil menemukan penyangkal di internet).

Tambahan: Cek koleksi foto oleh ISS di ArcGis dan terutama foto HiRes Jeddah di  eol.jsc.nasa.gov.

Mengingat foto Jeddah di tautan jsc.nasa tadi (dan juga foto kota lain kalau niat nyari) terdapat juga titik putih paling terang di salah satu lokasi, jadi kemungkinan juga foto putih di Mekah dan Madinah itu juga disebabkan oleh lampu sorot paling banyak ada di kedua masjid. Toh kayaknya dua masjid itu titik paling ramai di kota.

Occam’s Razor mengatakan bahwa untuk memilih di antara anternatif hipotesis, pilihlah yang memiliki asumsi paling sedikit alias lebih sederhana. Kayaknya pantulan lampu pada dinding putih lebih simpel dibanding cahaya malaikat.

4. Nasa Membuktikan Bulan Terbelah

Saya tidak perlu berkata banyak lagi ttg topik ini. Artikel ini sudah sangat panjang. Cukuplah pembaca membaca artikel dari muslim and the world berikut yg berjudul NASA confirms that Muslims are Idiots untuk keterangan lebih lengkap.

Moon-Split

Dangkal yak, bekas pecahan satu planet bulan padahal

Sedikit keterangan untuk memberikan konteks. Foto di atas beredar dengan tambahan berita lengkap berisi klaim bahwa NASA membuktikan bulan pernah terbelah. Well, hal yang tak pernah dirilis di portal resmi NASA manapun. Ckckck…

5. Si Anu Masuk Islam

Ada banyak variasi tentang sub-genre berita ini. Namun, yang saya lihat berita semacam ini populer dan tersebar luas JIKA subjek “Anu” yang menjadi tokoh adalah satu dari tiga profesi berikut: astronot, artis, atau ilmuwan. Beberapa contoh muncul dalam news feed saya beberapa bulan belakangan.

Astronot, studi kasus:  Neil Amstrong dan Sunnita Williams

Yang Neil Amstrong kayaknya udah berita dari jaman altavista ya. Ke bulan, denger azan, masuk islam. Entah bukti apa yg bisa menyokong cerita ini. Situs islamqa ini lumayan menjelaskan lebih detail.

Yang Sunnita Williams ini agak baru. Juga berhubungan dg bulan. Beritanya berhubungan dengan berita mekah madinah bercahaya yg sudah dibahas di atas. Katanya, saat beliau di bulan, beliau mengamati bumi yang gelap kecuali dua pusat islam tadi yang bercahaya. Lalu tiba-tiba dia mendapat hidayah.

Padahal, Sunnita Williams nggak ke bulan. Bukti-bukti wawancara setelah misi dia ke ISS juga menunjukkan kalau dia masih mengagumi Dewa Ganesha.

Artis, studi kasus: Rowan Atkinson dan Will Smith

Mr. Beans? No. Just no. Muslim mengangkat jari saat shalat. Tapi orang yang ngangkat jari dengan gerakan yang sama, belum tentu muslim. [1][2] Belum lagi mengingat sumber dari berita ini adalah portal lawak [ori], sengaja mereka nulis hoax untuk melihat bagaimana reaksi umat islam [3]tepok jidat, mereka sukses!

Will Smith? Ini dari jaman kapan ya, terus reuse dan reuse lagi berita lama dan tak jarang muncul lagi dg bukti tambahan baru. Cuma sayang, saya sulit menemukan berita valid untuk dijadikan rujukan resmi ttg bukti mendukung/menolak berita Will Smith masuk islam ini. Yang jelas, ketidakjelasannya jelas. Yg banyak justru ttg scientology. Berita hoax beliau yang terakhir muncul adalah ttg beliau ke Dubai. Yap, meskipun Om Will dan Tyrese Gibson berfoto dengan jubah arab, bukan berarti dia juga mualaf. [4]

And this is embarassing. For me. Saat artikel ini dirancang, nama Tyrese Gibson tidak masuk dalam lingkup bahasan artikel. Jadi, ketika tengah Juni saat artikel di-draft pertama kali, merebaklah berita ttg mualafnya Tyrese Gibson. Kadang disandingkan dengan murtadnya siapa gt artis Indonesia. Not my bussiness. Lalu saya quick fact checking atas bukti yg dipaparkan berita-berita: beliau ngetwit video islam [5], bahkan ada video panjang Tyrese berkata dg mulut beliau sendiri kalau beliau sepaham dengan islam [6]. Bahkan BBC juga menjurus ke arah sana tanpa kalimat pembantahan [7]. Jadi saya gak terlalu banyak mikir, saya cuma sabet nama Tyrese Gibson dan menambahi keterangan “(mualaf beneran)” pada paragraf sebelum paragraf ini. Ya cuma seuprit (dua kata) tambahan doang.

Eh untung tiga minggu setelahnya sebelum artikel dirilis, saya meminta teman untuk review artikel dulu. Ternyata ada bantahan resmi dari Tyrese sendiri ttg ini [9]. Sekarang tambahan dalam kurung tadi udah di hapus. Fakta dua kata dalam kurung tadi salah.

Intinya, meskipun banyak bukti yg mendukung bahwa sebuah tokoh tidak memusuhi islam, atau lebih hebatnya lagi, dekat dengan dunia islam, bukan berarti dia beragama islam. Kalau dia gak baca syahadat di depan publik dan bilang “saya islam“. Sudah bagus sekali mereka dekat dengan dunia kita, sayang kan kalau kita sakiti hati mereka dengan berita palsu.

But the ultimate truth is: we don’t know. Bisa jadi mereka beneran islam, rumornya dari orang dalam tapi mereka tidak mengakui secara publik. Kenapa? Ndak tahu… Atau bisa jadi nanti suatu saat mereka benar-benar mendapat hidayah. Who knows? Kita doakan saja… Yang jelas, sekarang bukti-bukti itu belum kuat.

Mari kita tunggu berita yg sama ttg Niam Leeson eh Liam Neeson tersebar di kalangan kita [9][10]. Ada isunya, tapi kok ga nyampe-nyampe di news feed saya ya…

Ilmuwan, studi kasus: Demitry Bolikov dan Robert Guilhem

Yang satu katanya karena sains ttg keakuratan orbit planet dalam quran. Yang satu lagi katanya karena kajian genetika ttg masa iddah. Berita ini dimuat di banyak media mainstream Indonesia.

Dua kasus yang terakhir ini lebih parah dibanding kasus-kasus sebelumnya. Karena ternyata dua nama yang dicatut murni fiksi. Cuma di Indonesia pula. Nama tersebut nggak ada dicari dalam literatur. Bahkan berita mainstream dan non-mainstream berbahasa inggris juga.

6. Tulisan Ayat Quran di Kulit / di Hewan / di Langit / d.t.l.

Yang ini juga kayaknya gak perlu dibahas terlalu banyak.

Kok tulisannya beda-beda ya? Ganti-ganti kah, atau bayinya yg banyak??
Terus lengkap dengan tanda baca sampe tanwin dan sukun pula…

Diceritakan: Sebuah mukjizat muncul pada seorang anak. Pada gambar dapat dilihat tulisan arab tertulis di kulit anak itu. Kadang berupa ayat Quran atau tahlil.

Yang sebenarnya: Dermatographic Urticaria atau …

Berita ini banyak tersebar luas di media mainstream tahun 2009, media islam maupun barat. Tv lokal rusia, telegraph, guardian, abcnews, republika, buanyak yg “bahas”. Jadi, cukup kredibel? Prooobably legitimate

Namun, media mainstram tadi menulis fakta belaka: ada kejadian begini, kata berita lokal orang pada heboh, asal usul kejadian tidak diketahui, ahli menyatakan ada penjelasan logis (atau ahli menyatakan penjelasan logis tadi tidak sesuai dg keluarga, tergantung yg melaporkan). Sedangkan media jejaring sosial di kalangan muslim menyebarkan kejadian ini seolah-olah ini tanda suci dari langit yang punya kebenaran mutlak. Hm… Itu yg jadi masalah…

Kalau menurut saya sih, tidak perlu menunggu ada tato yg secara ajaib muncul pada kaki bayi di belahan bumi lain untuk takjub pada mukjizat quran. Sekarang yg saya penasaran, kalau hal ini benar, si bayi sekarang kayak apa ya?

Oh ya selain yang di atas ada lagi yg mirip. Diceritakan: Wow, awan bertasbih. Dengan gambar awan berbentuk lam-jalallah. atau Mukjizat! Pohon bertuliskan ini, sapi bertuliskan itu.

Yang sebenarnya: Pareidolia. Hm…

Supaya berimbang dan gak bosen, saya tampilkan yang dari lapak sebelah

7. Azab Maksiat Ditelan Bumi/ Club Disco Runtuh Ketika Sedang Berpesta

Diceritakan bahwa: Video ini bukanlah sengaja menakut2 kan saudara sekalian, tetapi sekadar untuk renungan semoga bertambah keimanan kita pada ALLAH Azza wa Jalla yg tidak pernah mungkir janji dalam perkara baik maupun pekara buruk.

Kemudian disisipkan sebuah video, kadang dibilang diambil di Eropa, US, atau barat secara umum. Klaim pada teks/judul video, itu adalah klub disko atau kelompok sedang maksiat, dsb. Isi video adalah orang keramaian, beberapa sedang berdansa, kemudian tiba-tiba lantai mereka runtuh dan korban berjatuhan.

Video dapat dilihat di: Link berjudul sama

Wedding Disaster

Yang sebenarnya: Kejadian ini memiliki nama, Versailles Wedding Hall Disaster. Terjadi di Israel, bukan Eropa. Tahun 2001.

Dan yap. Bukan klub disko, bukan maksiat. Pernikahan bro.

Kejadian ini disebabkan structural failure pada lantai tiga gedung tempat pesta pernikahan dilaksanakan. Sebabnya karena kesalahan dalam konstruksi. Dalam disain, gedung harusnya sebagian berlantai dua dan sebagian berlantai tiga. Namun, setelah konstruksi diputuskan kalau gedung punya tinggi lantai sama. Jadi dibuat lantai tiga baru di sisi yang pendek. Nah, lantai baru ini gak kuat karena bukan disain dari awal.


Tidak Menafikan Berita Non-Hoax

Artikel ini tentu saja tidak menafikan berita bermodel sama yang berisi fakta. Misalnya islamnya Muhammad Ali dan Prof. Jeffrey Lang atau list di Wikipedia. Asal setelah dikonfirmasi banyak bukti yang menunjukkan kalau berita itu benar, ya tidak ada masalah kan?

Di Quora banyak kok cerita tentang bagaimana orang memeluk agama islam. Langsung dari yang mengalaminya. Bagus-bagus ceritanya. Memang gak heboh karena bukan “artis”, atau “astronot”, atau “ilmuwan”. Namun, ada efek tambahan apakah yang kita harapkan dengan titel tersebut bagi para mualaf kita?

Atau berita tentang sains Qur’an, tidak menafikan banyak juga yang kredibel. Misalnya tentang sejarah Quran. Bahasa Quran. Atau bahkan dikaitkan dengan penemuan sains modern. Ketepatan bahasa Quran dengan bentuk janin sebelum lahir. Kalau memang tingkat kredibilitasan tinggi atau tidak terlalu maksa ya tidak ada masalah.

Walaupun ttg tema yang terakhir saya agak setengah-setengah sih, banyak yang maksa juga soalnya.

Gampangnya Hoax-Test

Artikel ini sih memakan waktu tulis lebih dari total 7 jam dalam rentang 3 minggu. Karena harus tulis ini itu dan cari info ini itu biar agak meyakinkan, kan. Namun, sebenarnya gampang mengecek apakah sebuah berita yang lewat di news feed Anda itu hoax atau bukan. Anda gak perlu menghabiskan waktu bermenit-menit untuk meriset satu topik doang.

Saya berikan cara praktis untuk para pemalas. Skenario:

  • Nemu berita asyik / menggugah iman / menantang nalar di news feed. Share? Tunggu dulu. 
  • Kopi kata kuncinya. Googling.
  • Tambahkan kata “hoax“. Googling lagi.
  • Bandingkan kedua halaman pertama dari hasil pencarian.

Misalnya nih, berita ttg “Sunnita Williams masuk islam” lewat. Sebelum share, googling aja kata kunci itu, atau singkat aja “Sunnita Williams hoax”. Berita beginian pasti udah banyak kok yang bahas. Internet gituh, apa yg nggak ada…

lmgtfy

Click to search

Syukurnya (atau celakanya) di luar sana banyak situs yg pura-puranya menjelaskan islam padahal mengejek/ mencari-cari kesalahan. Nah, mereka gak akan melepaskan kesempatan untuk membahas ttg hoax islami ini. Lengkap deh mereka kasih referensi. Enak kan kita, mereka yg pusing cari data. Namun, saya tidak akan kasih link mereka di sini. Emoh, wong isi tulisan mereka banyak yg menertawakan islam.

Nah makanya, daripada kita menamah bahan tertawaan untuk mereka, jadi muslim kritis sedikit lah.

Tapi memang, saat berita yang muncul adalah baru, bukan berita reuse, sangat sulit untuk menjadi kritis. Harus mencari klue berjam-jam atau menunggu berminggu-minggu supaya info yang ada menumpuk. Yang ada di Internet baru berita hoaxnya aja, belum ada yg bahas faktanya. Inilah kasus artikel ini dan Tyrese Gibson… Untung ada teman-teman super yg mereview artikel ini sebelum rilis.

Nah itu dia, siapa pun bisa tertipu. Meskipun sudah berusaha kritis. Termasuk saya. Makanya, mungkin lebih baik kalau kita tidak menyebarkan berita apapun kali ya. Atau setidaknya tunggu mengendap beberapa lama, cek lagi, kalau level kebenaran meningkat baru dipos. Namun, zaman internet yg serba cepat dan instan ini, mana ada yg mau ketinggalan tren dan berita kayak gt. Hmm…

Penutup

Begitulah. Saya yakin Anda pernah membaca satu kalau bukan semua dari berita di atas. Apa yg Anda rasakan ketika melihat berita itu untuk pertama kali? Sama seperti saya mungkin, takjub. Namun, semakin lama entah karena saya kebanyakan mikir atau hati mulai terkikis, saya berpikir dua tiga kali untuk mempercayai lalu menyebarkan berita tersebut.

Oh ya, jika pembaca memerhatikan, hoax yg dibahas belum tentu murni berita tidak benar. Ada spektrumnya. Ada yang full bohong, ada yang salah memahami alias kecele, ada yang benar tapi sengaja diselewengkan, dan ada yang benar tapi dibesar-besarkan.

And here’s the debate: Bolehkah kita mengutip sebuah cerita, gambar, rekaman lalu membawanya dalam konteks lain yang kurang tepat, semua demi tujuan suci dakwah?

Membelokkan fakta demi menggugah iman, validkah?

Saya tidak yakin apakah pertanyaan diatas bisa dikategorikan retoris atau debatable.

Misal dalam video yang terakhir. Pernikahan dibilang disko atau maksiat. Bencana dibilang azab. Memang sih dalam video tampak orang menari-nari dan musik terdengar. Tapi bukannya pernikahan orang Indonesia juga begitu?

Sudah dikasih tahu ttg kejadian sebenarnya ttg video pun, masih ada orang yang bilang berargumen “ambil aja ibrahnya” atau “jangan sampe kena azab begitu deh” atau komentar sejenis. Yang intinya, fakta ga penting. Framing lebih penting. Lalu, apa bedanya kita dengan orang-orang barat yang membelokkan berita demi menperburuk citra islam?

Atau malah membuat-buat berita/cerita bohongan demi dakwah?

Jadi benar-benar murni tidak ada kebenaran di dalamnya kecuali framing bahwa itu bertujuan menyebarkan… islam? Kalau dibilang dengan kalimat di atas semua akan menjawab waduh, ya jangan lah! kayaknya ya. Wording yg seperti ini mungkin lebih acceptable.

Bagaimana dengan kisah agamis inspiratif yang murni fiksi?

beyond-beliefLebih bagus kan kalimatnya? Yang terakhir ini kayaknya aman-aman aja ya, kisah inspiratif, novel islami juga banyak kan. Kenapa cerita/berita sedikit nggak boleh… Tapi kalau jawabannya boleh pertanyaan lain muncul, dimana batasnya?

Dan apa bedanya dengan orang israil yang gemar membuat cerita israiliyat?

Bagaimana pendapat Anda?

Yang jelas menurut saya pribadi apapun hasil debatnya, saya meyakini kalau muslim itu harus kritis. Jangan menerima sesuatu apa adanya. Jangan men-share sesuatu sembarangan. Apalagi berita dari internet. Kritis. Berfikir. Cari tahu. Konfirmasi. Bedah. Pakai logika. Gigit erat kebenaran. Baru kembalikan ke Yang Maha Kuasa.

Sampaikan kebenaran meskipun itu pahit. (HR. Ahmad 5: 159)

Banyak orang tidak paham kalau pahit di hadits di atas adalah untuk orang yang menyampaikan. Bukan target penyampaian.


Artikel Terkait

Artikel ini adalah bagian dari seri Muslim Kritis yang terdiri dari empat artikel.

Senada dengan artikel ini, saya juga pernah menulis artikel yang sama. Mungkin stub dari artikel ini. Fokusnya tentang video yang menampilkan orang pingsan di depan kamera tetapi judul videonya “setiap orang akan mati”. Deskripsinya mengutip ayat Alquran tentang kematian. Padahal…

JLPT di Jepang: Cek Muka, Kartu Kuning/Merah, dan Hape di Amplop

Minggu kemaren saya ikut JLPT. Ini kali kedua saya ikut tes bahasa Jepang langsung di negaranya. Dibanding Indonesia terdapat beberapa perbedaan mencolok dalam melaksanakan ujian ini. Selain lebih mahal (Jepang: 5500 yen, Indonesia: 135.000 rupiah), alur ujian di dalam ruang kelas jauh lebih strict. Sangat berbeda dari ujian manapun yg pernah saya rasakan.

Pengawas dalam ujian ini satu kelas bisa ada 5-6 orang. Kelas yang saya datangi berisi sekitar 140 peserta ujian, pengawas ada lima orang. Satu pengawas menjadi pemimpin kelas. Tugas pemimpin ini adalah memberikan pengumuman-pengumuman dan mengatur jalannya ujian. Sisanya menjaga setiap baris meja-meja kelas, ada empat baris meja panjang.

1. Waktu

Ujian dimulai pukul 12.30 tetapi kelas dibuka dari 12.00. Soalnya setelah 12.30, peserta tidak boleh masuk lagi (dan juga gak boleh kelar). Dari jam 12 tadi, pengawas sudah mulai memberi pengumuman-pengumuman. Cocokkan nomor peserta dengan di meja. Dll. Saya masuk kelas pukul 12.10, soalnya dzuhuran dulu kan, dan peserta sudah pada rapi duduk di dalam kelas.

Penjelasan dan pengecekan kesiapan kelas ini sangat detail, namun mereka melakukan dengan sangat efisien. Hanya 15 menit. Berikut poin-poin yang dicek dan agak unik (berdasarkan pengalaman saya ikut ujian).

2. Telanjangi Pensil dan Penghapus, Hape ke Amplop

Salah satu pengumuman yang diberikan adalah keluarkan alat tulis dari kotak pensil. Yang boleh di atas meja cuma pensil, pensil mekanik, penghapus, dan jam tangan. Penghapus gak boleh punya baju. Bungkus pensil baru juga gak boleh. Kotak pensil haram. Peruncing juga kayaknya haram, kalau bentuknya mencurigakan.

Hape harus dimatikan. Manner mode (istilah jepang untuk silent) juga gak boleh. Lalu, hape harus dimasukkan ke amplop yg udah disediakan di meja masing-masing dan dimasukkan ke tas. Tas harus diletakkan di bawah kursi yang sedang diduduki.

IMG_0419

Foto diambil saat jam istirahat di antara ujian grammar dan listening.

3. Pengecekan Muka

Jam 12.30 ujian dimulai. Namun, belum boleh mengerjakan soal. Wong belum dibagi. Pengawas mengecek meja masing-masing, masih ada penghapus berbaju kah? Lalu di loker bawah meja masih ada sesuatu kah? Tas ditaruh di bawah kursi kah?

Lalu terakhir sebelum mereka membagikan lembar soal dan jawaban, mereka mengecek muka masing-masing. Cocok nggak dengan foto yang disubmit/diupload saat pendaftaran. Kalau cocok, baru diberikan lembar soal.

# Btw, yg ini saya agak penasaran. Bedain muka untuk di antara orang non-etnis kita kan susah. Pas saya nonton film Omar awal-awal, bingung, tokohnya orang Arab mukanya kayak sama semua. Orang filipin juga keliatan mirip-mirip. Gak ketuker ya pengawas saat ngecek muka ini? 

4. Kartu Kuning/Merah

unnamedSatu hal yang agak unik dari ujian JLPT disini adalah keberadaan kartu kuning dan merah. Kayak main bola aja. Jadi sebelum soal boleh dibuka, mereka menjelaskan peraturan-peraturan. Kalau pengawas merasa curiga dengan peserta, atau peraturan yang tadi tidak diindahkan, bakal ada kartu kuning. Dua kali kartu kuning sama dengan kartu merah. Kalau dapat kartu merah, peserta harus keluar kelas saat itu juga dan berkas jawaban tidak akan dinilai.

Pada saat listening, jika peserta membuat suara (dari hape, alarm jam, dll) akan langsung dapat kartu merah.

Saat pemimpin pengawas menjelaskan tentang poin ini, pengawas yang lain langsung mengangkat kartu yang masing-masing mereka pegang. Suasana waktu itu merinding lah. Padahal keren, ngeliat pelajar-pelajar duduk di kelas terus di antara deretan meja ada pengawas berjas rapi mengangkat kartu merah. Pemandangan yg luar biasa. Pengen kufoto.

Cuma nggak berani. Ntar pelanggaran pula…

5. Staf Pengawas di Luar Kelas

Oh ya, yang aneh dan agak beda lagi adalah adanya staf pengawas di luar kelas. Tugasnya buka tutup pintu kelas. Memberi petunjuk bagi peserta di luar kelas (di mana ruang ujiannya, apakah masih boleh masuk, dll). Juga bertugas membawa papan bertuliskan:

Lagi ada ujian, jangan ribut.

Pengawas ini juga ada di setiap puteran tangga dan lantai hingga keluar gedung.

Oh ya, setelah ujian, sebelum peserta boleh keluar kelas, pengawas di dalam kelas mengecek kelengkapan lembar soal dan lembar jawaban. Apakah jumlahnya sesuai dengan peserta yang ada. Sekitar 10 menit setelah ujian barulah peserta boleh keluar ruangan.


Penutup

Begitulah pengalaman saya ikut JLPT. Saya sudah bawa kamera padahal waktu itu. Pengen ambil foto sebanyak-banyaknya. Entah kenapa, kok sampai di lokasi nggak berani. Hehe… Sayang sama 5500 yen kayaknya.

By the way, saya membayangkan seandainya ujian nasional atau ujian masuk universitas di Indonesia juga dibuat sistem yang rapi dan detail seperti ini. Lebih bagus nggak ya?

In The Zenith

“Ah, berakhir sudah.” Leila hanya bisa pasrah. Membubung tinggi di angkasa, gravitasi tak lagi memberi mereka ampun. Mereka jatuh bebas tanpa ada pijakan lagi. Terhempas ke lapisan udara di bawahnya, terhantam angin keras ke wajah. Waktu seakan melambat bagi mereka. Lemas, tiada lagi tenaga tersisa. Tubuh Leila kian labil berguncang tak terkendali. Terjungkal, kadang kaki di atas, kepala di bawah.

Dari jauh, mereka tampak seperti dua titik yang bergerak cepat. Menembus awan. Menuju permukaan samudra. Ditambah satu lagi garis hampir horizontal turut mencakar biru sang langit. Kondensasi udara membuat lintasannya terlihat di angkasa. Benda aneh menggantung di ujung jejak itu, berbentuk seperti bolpoin raksasa, panjang dua tiga meter, berbahan besi, dengan logo nuklir terukir di badannya. Rudal antar benua yang ikut jatuh bersama mereka itu mulai berkelip. Lalu berkelip lebih kencang. Pada akhirnya, cahaya menyilaukan dan kemudian api keluar secara beringas. Seperti semburan naga ke segala arah, bercabang selayaknya dahan pohon, perlahan tapi pasti, akan melahap mereka.

Lei sudah kehilangan semua harapan. Masa hidupnya terlintas di depan matanya. Juga tentang sahabat terdekatnya. Lei hanya bisa bergumam. “Sepertinya loe bener Fa… Manusia tak selamanya punya kesempatan untuk berakhir dan bersemayam di bumi. Ada yang ditenggelamkan di air. Ada yang dibuang abunya di udara. Sekarang gue sedang menuju akhir itu Fa. Karmakah ini? Ah, tidak. Benar yang loe bilang. Akhir di kobaran api gak mesti akhir yang buruk. Loe belum pernah kan? Biar gue yang ngerasain. Nanti gue cerita saat kita bertemu…”

Ayumi mulai tersadarkan diri. Ia melayang sedikit lebih jauh dari Leila. Meskipun gravitasi juga mengundangnya ke pangkuan sang bumi, posisinya lebih manusiawi. Tubuhnya pun masih cukup terkendali. Ia berusaha mengangkat tangan kanannya ke arah Leila dan benda berkobar itu. Dengan sekuat tenaga. Ia tak punya pilihan lain. Hanya saja, mungkin ini adalah batas terakhirnya.

“Maaf Lei. Kuharap aku takkan gagal lagi…”

Dengan mengucapkan itu, Ayumi menutup matanya dan menggenggam kedua tangan di depan dadanya. Darah keluar dari bibirnya, menetes ke pipi, dan terbang tertiup angin.

Baca Selengkapnya

Toyohashi Masjid dan Meriahnya Ramadhan

Tahun lalu ketika Ramadhan berakhir, kalimat berikut tertulis di entri buku harian saya.

Finally the festivity days has ended. What’s left now are plain days with nothing to look forward to. Not even you.


Toyohashi Masjid: Deskripsi dan Sejarah

Pelajar muslim di Kota Toyohashi, Prefecture Aichi, Jepang sangat beruntung. Terdapat masjid yg begitu dekat dengan kampus. Naik sepeda sekitar lima menit dari gedung kampus. Jalan kaki mungkin lima belas menit. Kalau disetarakan dengan skala kampus ITB, masjidnya ada di Boromeus. Dekat. Sangat dekat.

Masjid Toyohashi kami menyebutnya. Karena, duh… ada di Toyohashi.

Ketika saya baru datang kesini, Oktober 2013, masjid ini sedang mengalami renovasi pertamanya. Masjid ini dahulunya adalah bengkel. Sekitar tahun 2012, komunitas muslim Toyohashi berhasil membeli gedung bengkel ini dan mengalihfungsikan menjadi tempat ibadah.

Masjid berlokasi di Tempakucho, tepat di depan CircleK, dekat perempatan. Cukup strategis. Tapi memang jauh dari pusat kota. Setidaknya dekat dengan kampus. Gedungnya besar. Sangat besar. Bahkan bisa diperdebatkan kalau masjid ini termasuk terbesar di Jepang. Kalau bukan yang terbesar.

Ia tiga tingkat. Ruang shalat utama ada di lantai dua, beserta kamar imam, kantor, gudang futon, dan ruang sedang untuk tidur-tiduran. Lantai tiga dapur, ruang makan, dan ruang shalat utama cadangan yang gak kalah besar dibanding ruang shalat utama di lantai dua. Ruang shalat utama (2F dan 3F) memiliki delapan shaf dengan satu shaf bisa dipenuhi oleh 35 orang.

Note: bayangkan ukuran orangnya standar Arab ya, bukan Indonesia

Lantai satu umumnya tempat parkir. Kalau dipaksa cukup untuk enam mobil. Dahulunya mungkin bekas ruang ngoprek mobil. Di halaman depan dan samping juga cukup untuk tambahan enam mobil lain. Tapi sesak.

Di lantai satu, tempat wudhu dan delapan toilet terpasang, juga warung halal, dan ruang untuk mengakses markas rahasia khusus perempuan shalat di lantai 1.5 untuk shalat biasa. Kalau lebaran, pria akan menempati ruang shalat lantai tiga dan wanita ruang shalat utama lantai dua.

Renovasi Akbar I Akhir 2013 – Fokus 3F dan 1F

Gedung ini dibeli seharga 20 juta. Renovasi pertama befokus pada lantai 3 (dapur), lantai 1 (tempat wudhu), dan lantai 1.5 (tempat wanita). Biaya dikeluarkan sekitar 20 juta juga. Tahun lalu ada renovasi mendadak karena atap/dinding masjid bocor. Harus dicat ulang dengan no-drop. Biaya: 2 juta. Barusan sebelum Ramadhan sekarang, ada renovasi kecil untuk merobohkan ruang tak berguna di lantai dua bekas kantor bengkel dahulu. Yup, hanya merobohkan. Biaya: hampir 1 juta. Segala biaya dalam yen.

Di Jepang, apa-apa mahal. Terlebih berkaitan dengan tenaga manusia.

Semua pengeluaran tadi ditanggung oleh komunitas sini. Jadi tak jarang kalau pelajar disini dimintai tolong untuk menyumbang sepuluh ribu per orang. Mungkin setahun sekali atau dua kali. Bisa untuk kurban tuh kalau di Indonesia. Alhamdulillah, semua rela. Namun, the real money berasal dari para pekerja bisnisman disini. Rata-rata orang Pakistan. Mereka tinggal disini dan beristri Jepang. Mereka sangat mudah mengeluarkan uang untuk masjid.

Legenda mengatakan bahwa pelopor masjid Toyohashi ini adalah mahasiswa. Sebelum ada masjid, shalat jumat harus dilakukan berdesakan di common room asrama internasional. Shalat biasa di ujung tangga di lantai atap sebuah gedung. Dan keduanya barely legal. Cerita untuk lain kali.

Tahun 2012, Pre-Masjid. Acara: Muslim Gathering Di International House

Tahun 2012, Pre-Masjid. Acara: Muslim Gathering Di International House

Dalam cerita legenda itu, fraksi pelajar muslim di TUT bertahun-tahun menggalang dana dan informasi untuk membuat masjid. Mereka ingin nyaman beribadah. Namun, fraksi pekerja/bisnisman Pakistan tadi katanya kurang setuju dengan ide itu. Karena akan sulit merawat, butuh dana besar, pelajar ganti-ganti, etc-etc. Dan ada juga masjid dekat dari Kota Toyohashi yakni di kota sebelah, Hamatsu, cuma 40 menit naik mobil.

Setelah bertahun-tahun dana pun terkumpul. Lokasi dicari sana-sini tapi tak ketemu. Soalnya kalau dekat permukiman warga nanti ribut diprotes gawat kan. Pernah hampir deal di satu gedung yang agak jauh dari kampus, 10 menit . Namun sayang, dibatalkan dalam detik akhir. Nggak jodoh. Eh, ternyata Allah Maha Berencana. Akhirnya dapat gedung yang lebih baik, lebih besar, lebih dekat dari kampus, dan sekitarnya sepi. Jadilah bengkel berubah menjadi Masjid Toyohashi. Bahkan pemilik bengkelnya jadi mualaf lho!

Legenda melanjutkan fraksi bisnisman yang tadinya menolak pembangunan masjid menjadi penolong pertama masalah manejemen dan finansial. Ketika dibutuhkan, entah darimana mereka bisa mendapat uang 20 juta yen.

Kini masjid ini sudah bagus. Sangat luas. Nyaman. Fasilitas kulkas, heater, kompor lengkap. Josh lah. Toko halal ada, sistem kantin kejujuran… Cuma bisa karena di Jepang keknya. Dan saya tencho-nya ^^. Cerita untuk lain kali.

Tempat Wudhu (1F),  Ruang Shalat Cadangan/Ruang Istirahat (2F), dan Lantai 3 (3F) [2012|2013]

Keragaman Negara, Watak, dan Mahzab

Demografi muslim disini sudah barang tentu orang asing semua. Mungkin cuma satu dua orang Jepang. Yang paling umum adalah dari tiga negara. Pelajar dari Indonesia, pelajar Malaysia, dan bisnisman Pakistan. Sisanya ada yang dari timur tengah, bangladesh, afgaishtan, afrika, jerman, dan lain-lain.

Dari demografi tersebut, mahzab yang mendominasi adalah Hanafi dan Syafii. Kadang agak clash dalam perbedaan negara, watak, dan mahzab keduanya. Pekerja yang rata-rata Pakistan, berwatak keras, bermahzab Hanafi. Dan pelajar yang rata-rata Indonesia-Malaysia, berwatak lembut [dubious], bermahzab Syafii. Pengelola dan tim pengembangan masjid rata-rata dari bisnisman, brother Pakistan. Jadi, gaya dan aturan masjid sesuai budaya sana. Namun, jemaah keseharian adalah pelajar.

Oleh karena itu, kadang ada perbedaan pendapat. Beberapa isu yg dulu pernah jadi pertengkaran adalah masalah wanita datang ke masjid dan shalat witir. But, that’s for another story.

Intinya, muslim disini banyak belajar untuk bertoleransi lebih dibanding di negaranya. Asyik rasanya. Tegang-tengang manis. Setidaknya itu yang saya rasakan. Mengambil kesetimbangan antara watak dan pendapat tadi, titik tengah cara ibadah dua mahzab, belajar bersabar dan saling percaya terhadap sesama muslim. Pengalaman yang bagus.

Nggak kayak di Indonesia yang subuh qunut vs ga qunut aja bikin masjid sendiri-sendiri. Belum tahu mereka kalau Hanafi qunutnya sebelum ruku. Heboh lagi kalau mereka tahu.

Lantai Dua Masjid – Ruang Shalat Utama [2015]

Oh ya, harakah yang paling umum disini adalah Jamaah Tabligh. Jadi kalau ada rombongan datang dari daerah lain terus melakukan pengajian/datang ke rumah, ukuran kesholehan yang dibicarakan bukanlah sudah liqo belum atau berapa banyaknya mentee antum. Bukan juga berapa kali turun demo atau kapan terakhir menghadiri muktamar khilafah. Bukan. Namun, sudah berapa hari kamu udah pergi keluar. Setiap bayan, ujung ceritanya pasti kesana. Niat berapa hari? Sampai-sampai Pak Subhan membawa jawaban “Tiga hari?”, seraya bercanda ke konteks apapun, akibat keseringan mendengar pertanyaan tersebut tersebut.

Dapur dan Ruang Shalat (3F) dan Warung (1F) [2015]

Ramadhan dan Kemeriahan Masjid

Cukup bertolak belakang dengan kebanyakan tulisan yang Anda temukan tentang nasib muslim di negara lain, saya merasakan kemeriahan komunitas muslim disini. Naik sepeda bareng atau jalan kaki ke masjid, menikmati udara sore. Bahas hadits habis subuh dan ashar, bayan tiap rabu, bersih-bersih tiap kamis. Pengajian sering (tahun lalu). Ngobrol dengan teman sebangsa seiman dan beda bangsa beda iman. Tiap bulan musyawarah di muslim gathering plus mencicipi masakan dari berbagai negara. Suara adzan kadang kedengeran dari apartment (soalnya depanan masjid). Terus, akses ke orang alim pun mudah, dibanding dengan di Indonesia.

Masjid mengundang imam dari luar. Setiap tiga bulan sekali ganti. Imam biasanya dari Malaysia/ Indonesia/ Bangladesh. Umumnya lulusan sekolah di Afsel atau Pakistan. Bisa bahasa urdu, inggris, malay, arab. Kealiman high level lah, lebih high dari pengurus masjid belakang rumahmu. Tinggal mau mengakses mereka atau nggak itu urusan lain.

Terlebih soal ramadhan. Dua imam hafidz yang diundang. Target sebulan tarawih khatam satu juz. Dua imam yang sekarang dari Malaysia (Syafii) dan satu lagi dari Jepang (Half Jepang-Pakistan, umur 20 tahun, sedang kuliah di Afsel, ganteng, hafidz, lancar empat+ bahasa. Recommended! Ada yang mau dikenalin?).

Dan meriahnya lagi, mulai ramadhan tahun lalu, bapak-bapak Pakistan yang bisnisman itu libur sebulan. Mereka meluangkan waktu dan uang untuk menyiapkan makanan berbuka setiap hari. Masjid Toyohashi menjadi sangat-sangat ramai. Saya merasakan Ramadhan yang begitu meriah. 

Pemandangan Lantai 3 Masjid Setiap Maghrib Ramadhan

Tiap sore makan briyani. Nyicipi makanan Pakistan. Sayuran goreng (paprika, buncis segala) rasa rempah-rempah. Acar asem. Asinan cabe. Dll. Belum lagi dengerin lawakan pak Subhan cs. Akhir pekan, giliran siswa yang masak. Nyicipi gaya buka puasa dari Malaysia, Arab, dan Bangladesh. Apalagi saat mengundang orang Jepang secara umum, staf dan dosen kampus, intel dan pegawai balai kota, dan juga warga sekitar untuk ikut buka bareng dan mempersilakan mereka untuk nonton kita shalat. Wow… Feel the hype. Seru bangetz…

Itulah sebabnya tahun lalu ketika Ramadhan berakhir, kalimat tadi terlintas. Finally the festivity days has ended. What’s left now are plain days with nothing to look forward to. Tidak ada lagi briyani gratis tiap hari. Tidak ada lagi ramai-ramai di masjid. Canda tawa ketemu orang-orang. Tidak ada lagi yang dinanti-nanti. Hmf…

Namun, sekarang ramadhan itu kembali. Masjid kembali ramai. Kemaren, dua belas mobil parkir memenuhi lahan masjid. Mungkin banyak juga yang parkir di CircleK depan. Keluarga komunitas datang semua. Ibu-ibu sampai 40 orang dan bapak-bapak 40 lebih. Tarawih sudah lewat Al-Baqarah hanya di hari kedua. Habis shalat, ada pembahasan pula tentang surat yang tadi dibaca. Dan tentu yang paling ditunggu, Briyani… Mantab.

Looking forward to it. Hari-hari ke depan yang begitu meriah.

And there is also you. Here. ♡

Pilihan dalam Hidup

Hidup diwarnai dengan banyak pilihan. Semua orang harus melaluinya, hampir setiap saat. Namun, menurut saya hanya ada beberapa titik “penting” pilihan yang bisa mengubah jalan hidup 180 derajat. Bisa mengubah lingkaran sosial, kegiatan sehari-hari, kebiasaan, atau mungkin pola pikir. Dua hal itu adalah pendidikan dan pekerjaan.

Dalam dua hal ini, satu pilihan akan merembet hingga ke masa depan kita. Sekolah menentukan siapa teman kita, bagaimana kita bergaul-berpikir, bagaimana kita lanjut ke jenjang lebih tinggi, apa saja skill-set kita. Walaupun sebenarnya pilihan sekolah ini sudah sangat terfilter berdasarkan lokasi. Kebetulan lahir di pedalaman, ya sulit dapat sekolah yang bagus. Sekolah berkelas internasional atau akselerasi atau punya tim olimpiade solid atau akses ke universitas xyz misalnya, hanya ada di lokasi tertentu. Makanya saya memandang orang yang aksel dll tadi itu hanya orang yang beruntung.

Meskipun sudah terbatas pilihannya, tetap saja pilihan adalah pilihan. Pendidikan adalah pilihan, satu sekolah tak sama dengan lain. Kasus tadi juga, bisa saja kan memilih untuk sekolah ke tempat yang jauh, banyak teman saya yang begitu. Pekerjaan juga sama, sebuah pilihan yang besar yang akan merembet hingga akhir hayat.

Kebanyakan orang mungkin mulai memilih saat SMA. Pendidikan SD hingga SMP kebanyakan orang ditentukan oleh orang tua. Di Jepang, SD bahkan juga harus yang terdekat dari rumah. SMP juga, keknya rata-rata lanjut ke sekolah yang ada di kotanya, lagi-lagi balik ke location of advantage tadi deh. Jadilah artikel ini saya mulai dari SMA, karena saat SD dan SMP saya tidak mengingat pernah memilih. Mungkin itu sebabnya saya tidak terlalu ingat momen saat SD/SMP. Eh, nggak ding, itu memang sayanya aja yang nggak punya momen.

Sekolah Menengah Atas

Pilihan dimulai saat SMA. Waktu itu saya memiliki dua pilihan. Tetap di Metro, kota saya tinggal sejak kecil, atau pindah ke Bandar Lampung, ibukota Provinsi. Sulit sekali menentukan pilihan saat itu. Galau. Di Lampung, arguably SMA terbaik saat itu adalah SMAN 2 Bandar Lampung. SMAN 1 Metro, ya.. so-so lah (trying to be modest here). Saya dan ibu sudah sempat pergi ke ibukota untuk mengecek kondisi SMA sana. Galau. Kok gak yakin ya mau “merantau” (pisah dari ortu). Juga sayang sekali meninggalkan teman-teman gahul SMP.

Singkat cerita, saya memilih tetap di Metro dan bersama teman-teman lama. Jika saya waktu itu memilih merantau tentu saya yang sekarang akan sangat-sangat jauh berbeda. Teman. Koneksi. Gaya. Kuliah dimana. Merembet sampai seterusnya. Tidak tahu lebih baik atau lebih buruk.

Choose Metro-Balam

Kuliah

Selepas SMA, siswa harus memilih akan kuliah dimana. Entah kenapa waktu itu saya ingin masuk ITB. Terpengaruh dari kakak tingkat yang berhasil masuk kesana. Di SMA saya, ITB tidak populer. Universitas semacam ITB ini tidak populer di kebanyakan daerah “terpencil”, atau jauh dari jawa. Mungkin karena acceptance rate dari daerah itu rendah. Yang populer adalah semacam AKPOL, AKMIL, dan berbagai sekolah ikatan dinas lain. STAN yang paling menonjol, idaman anak dan keluarga, setidaknya di SMA saya. Mungkin karena pada departemen keuangan terdengar kata uangnya.

Waktu itu, ada perseteruan kecil antara universitas-universitas. SPMB diubah nama jadi SNMPTN. Ada yang “membelot” dan membuat ujian tandingan duluan, alias UMB dikepalai oleh UI. Saya mendaftar ke hampir semua kesempatan. Tujuan utama saya ya ITB, tapi untuk latihan saya juga mendaftar UMB. Waktu itu ke Teknik Elekto UI (atau informatika ya, saya lupa heehe). Bayar 100.000 tapi ya pantas untuk latihan nyata. Sebelumnya banyak try-out sebenarnya, tapi itu kan ga nyata. UMB, nah ini nyata… Terima kasih konflik antar universitas. ^^

Oh iya, saya juga daftar STAN, soalnya teman-teman pada daftar sih. Ya ikut lah ya. Lagipula, saya juga nggak pede dengan kemampuan jadi harus siapkan cadangan berlapis ganda.

Meskipun sebelum ujian kurang lebih saya sudah membuat pilihan, galau masih tentu ada. Galau milih jurusan misalnya. Galau dengan kemampuan. Dan lain-lain. Lulus UMB, galau, ambil nggak ya… Kan lumayan, UI gitu… Hmm,, Namun, setelah lama dipertimbangkan lagi, kan awalnya niat cuma latihan, jadinya mari optimis tujuan utama. Pada akhirnya, pengumuman SNMPTN tiba dan tiga hari kemudian saya sudah di Bandung dan berhasil menulis artikel ini sekarang. Mungkin jika pilihan saya lain, artikel ini bisa berbeda.

Lanjut Kuliah?

Selepas kuliah, beberapa pilihan terhampar. Kerja. Lanjut kuliah. Freelance. Atau start-up. Pilihan yang sulit, sangat sulit. Galau. Akhirnya semua diembat. Itung-itung ngabisin waktu, memundurkan kewajiban memilih. Dibilang “semua” sebenarnya gak juga sih, nggak sempat kerja soalnya, nggak melamar siapa-siapa. (Cuma satu dan gagal! Iya… Kamu♥…)

Saya punya keinginan untuk ke Jepang dari lama, ingin melihat dunia yang di drama/anime itu dengan mata kepala sendiri. Salah satu caranya dalah melanjutkan master di Jepang. Sambil mengolor waktu dengan freelance tadi, saya pun mencari beasiswa kesana. Semua saya daftar. Ada tiga kesempatan waktu itu, ya saya coba daftar semua. Namanya juga kesempatan, persis pas kayak mau kuliah dulu, coba semuanya!

Kayaknya saya sudah cerita agak banyak tentang beasiswa ini ya? Silakan dibaca di Mezase! Japan. Singkat cerita, dari tiga beasiswa, saya gagal di salah duanya. Namun akhirnya saya juga berhasil lolos di salah duanya. Hmm… Dua pilihan. Lagi-lagi berhadapan dengan pilihan besar. Satu dan lain bisa mengubah jalur masa depan. Galau lagi deh. Mungkin tiga tahun sekali siklus kegalauan manusia ya?

Sesuai artikel Mezase! Japan tadi saya pun memilih salah satunya dan berhasil menulis artikel ini.

Going to Japan

Ups… Wrong Genre…

Choose Aichi-LPDP

Pekerjaan (Job Hunting di Jepang)

Sekarang saya berhadapan dengan sesuatu yang berpotensi sebagai major pilihan hidup terakhir: pekerjaan. Yang tadinya saya tunda dengan freelance dan lanjut kuliah. Akhirnya datang. Karena dapat beasiswa yang harus cari kerja di Jepang, saya pun melaksanakan job hunting disini.

Budaya Jepang menuntut bahwa ketika masuk kerja ke suatu perusahaan, kita akan mengabdi disana hingga mati. Pindah/ganti pekerjaan itu sangat tidak lazim disini. Tentu saja, bagi orang asing (baca: non Jepang, termasuk saya) hal ini agak absurd. Tidak ada dalam benak kita saat memilih pekerjaan bahwa ini adalah pilihan hidup paling akhir. Ada separuh hati yang berkata bahwa peluang lain yg lebih besar nanti akan datang. Ini hanyalah sementara? Iya gak sih?

Walaupun pada kenyataannya di Indonesia sendiri ketika masuk kantor sebagai pegawai tetap, jarang yang pindah haluan ke perusahaan lain. Iya kan? Atau perasaan saya aja? Terutama untuk PNS dan pegawai BUMN, sangat diidolakan di Indonesia. Saya sendiri sebenarnya tidak suka dengan PNS, salah satu alasan kenapa saya nggak milih STAN padahal banyak keluarga menyuruh kesana.

Kenapa nggak suka? Kenapa ya, susah dijelaskan. Image di kepala saya, pekerjaan itu nggak baik, ngabisin apbd negara asyik aja. Namun, setelah di Jepang dan bergaul dengan banyak dosen dan calon dosen, saya tahu kalau dosen itu termasuk PNS juga. Dan lebih baik berpns dibanding dosen non. Banyak juga sih yang mengakui kalau pns itu bukan pekerjaan yang perfek, dan banyak plot-hole nya, tapi… Sebenarnya ya gak semuanya buruk juga. Sekarang, setidaknya pandangan saya terhadap pekerjaan ini membaik, yaa setidaknya keinginan jadi dosen pns sedikit tumbuh…

Back to laptop rpg game. Nah, sekarang saya sedang menghadapi shukatsu alias job hunting activity. Di Jepang, kegiatan mencari kerja tidak jauh berbeda seperti mencari universitas. Ada periode mencari kerja yang tetap dan tertentu tiap tahun. Pada periode ini, semua perusahaan di Jepang melakukan rekrutmen. Yup, pada waktu yang bersamaan!

Memang tiap perusahaan punya jadwal dan tahapan yang berbeda-beda. Ada yang tes berlapis-lapis (umum) ada yang sekali wawancara (kurang umum). Ada yang duluan (perusahaan kecil-menengah), ada yang belakangan (perusahaan gede). Tetapi semua itu berada dalam rentang periode shukatsu tadi. Jadinya ya main strategi penjadwalan kayak SNMPTN vs UM.

Informasi tentang perusahaan terkategorisasi rapi di satu (atau dua) web-database. Job hunting navigator, mereka menyebut website yang memberikan layanan tersebut. Navigator yang paling terkenal adalah rikunabi dan mynavi. Kebanyakan perusahaan mewajibkan pelamar mendaftar via salah satu dari dua website tadi. Sebagian malah memanajemen komunikasi, jadwal, dan seluruh tahapan seleksi di web ini. Siswa tinggal mendaftar di website tersebut dan bisa mencari lowongan dari perusahaan sesuai kriteria macam-macam. Hasil yang muncul bisa ribuan. Bingung-bingung tuh milihnya.

Detail ttg shukatsu mungkin saya akan cerita lagi lain kali. Singkat cerita, saya mengikuti apa aja seminar perusahaan yang ada dan submit form aplikasi di saat mereka minta. Semua, tanpa pandang bulu, yang saya dapat informasinya. Ya agak disaring dikit lah, kira-kira yang agak punya bidang IT, atau punya kesempatan ke luar negeri/Indonesia, atau punya kantor di Aichi.

Bulan lalu, dari 6 atau lebih perusahaan yang saya hadiri wawancaranya, dua perusahaan memikat hati. Satu karena dua perusahaan ini yang paling cepat jadwalnya (udah capek shukatsu dari Maret-Mei). Juga karena salah satu perusahaan mencari orang Indonesia untuk jadi sales/manajer di cabang yang mungkin akan dibuka di Indonesia tiga tahun mendatang. Jauh dari jurusan. Yang satu lagi adalah start-up yang cukup keren di bidang otomotif/IT dari para mantan orang Toyota/Bosch/Nissan. Kayaknya sukses dan seru gawenya, agak ngepas dengan jurusan pula.

Galau. Mei akhir si perusahan kedua melaksanakan wawancara berkali-kali dengan jarak singkat. Hingga selesai final interview. Yang perusahaan pertama juga sudah first interview duluan, tapi lama hasilnya. Galaunya saat ditanyakan oleh kedua perusahaan, kalau diluluskan beneran mau kesini nggak? Pertanyaan sulit nih, yang saya jawab apa adanya: masih galau. Galau antara meng-IT dan di Jepang atau pulang meng-sales. Hmmf…

Masuk Juni, pengumuman perusahaan pertama muncul dan ternyata tidak lolos kawan-kawan. Pengumuman perusahaan kedua muncul dan lolos. Dapat naite! Naite: janji tak resmi kalau boleh jadi pegawai disana. Jadi, tinggal satu pilihan kan?

Nggak juga, pilihan tentu selalu ada. Galaunya pindah menjadi: lanjut atau cukup sampai disini. Terus masih ada beberapa perusahaan lebih besar yang belum memberikan pengumuman. Ada juga perusahaan ketigamedium-big berposisi dekat kampus (nggak perlu pindah!) dan berpeluang pindah kerja ke Indonesia baru melaksanakan first interview dan saya lanjut ke final. Hm… Galau.

Sayang, periode masing-masing perusahaan gak pas. Satu harus ada jawaban kapan, satu baru wawancara kapan, satu pengumuman kapan. Jadi galau. Lanjut job hunting (perusahaan kedua stop, coba perusahaan ketiga, atau ambil peluang lain dg belum tentu keterima) or Ambil yang sudah pasti. Males juga sih lanjut shukatsu, capek, waktu terbuang dan muak dengar celotek berbahasa Jepang yang intinya menjelaskan hal yang sama hanya dg nama perusahaan berbeda. Perusahaan kedua ini not bad juga, nggak ada yang kenal namanya tapi ya bagus untuk tempat belajar. Kayaknya. Hmf. Apa cari yang lain ya, yang lebih ‘menjanjikan’, for whatever that means.

Pilihan yang kek-kek gini ni emang sulit, hmf.

Galau. Galau. Galau.

Lanjutkan atau Lebih Cepat Lebih Baik

Lanjutkan atau Lebih Cepat Lebih Baik

Nah yang sekarang, gimana mengatasinya ya? Saat mau masuk kuliah, pilihan saya adalah lanjut ujian demi menggapai universitas yang diinginkan. Saat ambil beasiswa, pilihan saya adalah lebih cepat lebih baik. Yang penting pasti. Sekarang? Take or throw? Argh..

Anda pasti langsung berpikir untuk memberi nasihat: Passionmu dimana. Kamu pengen kerja yang gimana. Nanti gede mau jadi apa. Tujuan hidupmu apa. Fyuh, nasihat yang bagus tapi menurut saya itu hanya menambah masalah. Kita nggak tahu masa depan, dan menjawab pertanyaan di atas tadi jadi menyempitkan peluang. Kalau passion, saya sih emoh kerja pengen di rumah aja nulis blog dan nonton. Pengen kerja gimana, apa aja yang penting seru. Gede mau jadi apa, jadi orang. Nggak menjawab kan? Ya mungkin kalau ada jawaban kongkret dan klir ttg pertanyaan2 tadi, kegalauan akan berkurang. Tapi, who knows the future??

Ada lagi pertimbangan lain keluar: Perusahaan gede aja, bonafit, ekonomi Jepang lagi anjlok loh, HITACHI aja minus terus berapa tahun ini. Perusahaan kecil aja, cari pengalaman, orangnya dikit jadi promosi gampang kan, toh ntar bisa pindah dan cari yang lain. Pulang ke Indonesia aja, berbakti kepada negara!!

Nggak tahu deh. Three days to reply, kayaknya 75% hati cenderung pasrah akan membalas, hmm…

Galau itu tiga tahun sekali. Dan itu wajar.

Penutup

Satu hal yang saya pelajari dalam hal milih-memilih ini adalah: jangan didikte orang lain. Buat pilihanmu sendiri.

Satu senior saya pernah menyesal dengan jurusan yang dia pelajari. Ia memilih untuk DO dari ITB setelah tahun kedua, hanya karena dia sakit dan harus opname 2 bulan. Setelah itu, passionnya hilang. Tidak mau lanjut kuliah. Bahkan setelah dibujuk sekeluarga dan teman dekat. Entah paranoid dengan ketinggalan pelajaran atau muak dengan kuliah atau gimana. Dia akhirnya menyalahkan pilihannya pada masa lalu. Katanya milih jurusan ini dahulu itu dipengaruhi oleh pendapat temannya bahwa Farmasi lebih baik/potensial dari Tekim. Akhirnya setelah berbulan dan bertahun nggak kuliah, beliau pun di-DO oleh waktu. Kesempatan besar di ITB terbuang, berapa tahun terbuang, karena menyesal tidak memilih sendiri.

For me, I don’t regret every single thing of my past self’s decision.

Or so I hope.


Oh iya, ada lagi pilihan sulit selain di atas, yg bisa mengubah seluruh aspek hidup sampai akhir: pendamping. Apakah akan kembali terulang kegalauan memilih seperti titik titik penting sebelumnya? Situasi take or throw alias lanjut or cukup sampai disini terulang lagi? Wh♥ kn♥ws?

N.U.R.I

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham.  Profesor Ilham…”

Suara itu lirih menggema. Suara lembut yang sangat ia rindukan. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu.

“Nuri…?” Ia  mengigau. Terbaring di kasur, Ilham merasa masih lemas. Masih ingin melanjutkan tidur.

Ilham perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih tampak kabur. Samar-samar ia melihat di hadapannya kamar yang begitu penuh dengan kenangan, sudah sepuluh tahun dia tinggal disana. Ruangan penuh cinta penuh kenangan. Ilham meluruskan badan dan berbaring telentang. Samar menatap langit-langit bercorakkan kerlip cahaya bintang, hadiah spesial untuk ulang tahun istrinya tahun lalu.

Tiba-tiba wajah Ilham basah. Entah langit-langit itu bocor atau hujan merembes lewat jendela, sehingga sekelompok tetes air hinggap di wajahnya.

“Nura-nuri… Sudah jam berapa ini… Ayo bangun! Tumben-tumbennya…”

Seorang wanita cantik berdiri di samping Ilham. Rambutnya tertutup kerudung putih. Mawar emas terukir di ujung segi empatnya. Wanita itu tidak tinggi dan tidak gemuk. Tidak, kurus pendek mungkin lebih tepat. Seperti masih remaja atau malah anak-anak. Namun, namanya anak-anak pastilah tampak menggemaskan. Sayangnya, sekarang ia tidak lagi mode gemas. Berkacak pinggang, si cantik tampak berang. Alisnya yang tipis bertemu di tengah. Pipinya menggembung. Tidak. Setelah dipikir ulang, bisa jadi itu salah satu mode gemasnya.

Sebelum wanita itu sempat mengambil kembali gelas dari meja dan mencelupkan tangan, Ilham memaksa diri bangun. Ia mengelap wajah dan memulihkan kesadarannya.

“Emmm, iya-iya Ibu Doktor. Ini juga sudah bangun. Cuma ngerjain kamu aja kok…”

“Apaan sih… Bu Doktor? Aneh banget!”

“Lah, kamunya yang duluan manggil profesor segala.”

“Heiii, aku kan merayakan… Diangkatnya kamu jadi profesor bulan kemaren. Masak gak boleh…”

“Ya aku juga merayakan kamu wisuda doktor tahun kemaren. Masak gak boleh juga…”

“Nggak penting banget sih. Lagian aneh kali Bu Doktor. Bu Dokter iya juga. Kalau aku nggak sakit, paling aku duluan yang jadi profesor. Udah ah… Bangun gih! Makan dulu… Telat nanti.”

“Kalau kamu nggak sakit, mungkin aku nggak nikah denganmu.”

“Mm…” Ia tidak bisa menjawab.

“Eh kamu masak? Tumben banget… Ada kejadian apa nih, aku jadi profesor? Kok baru sekarang ngerayainnya…”

“Ye, yang bangun kesiangan siapa?”

Sambil memaksa bangkit, pandangan Ilham membayang. Ruangan indah itu membaur seperti baurnya bunga karang di dasar laut oleh ombak. Kepala agak berat. Pasti karena tidur terlalu larut, pikirnya. Ketika sadar, Ilham sudah duduk di depan meja kayu berulir di tengah ruangan.

Disebut meja makan sebenarnya kurang tepat. Ia mungil seperti meja kafe. Ia juga tidak hanya dipakai makan. Ngetik, nulis, main halma, dan motong bawang tentunya. Tak jauh dari meja itu, tempat tidur di kiri dan dapur di kanan. Ruang itu berukuran mungil laiknya apartemen pasaran di negeri ini.

Di seberang meja, istri tercinta sedang menata sendok yang baru diambilnya dari dapur. Lalu menuang sesuatu ke mangkuk. Sup hangat untuk sarapan katanya. Di seberang jendela tampak kuncup bunga mulai tumbuh di pepohonan gundul. Namun, dingin udara masih menggelitik kulit.

“Eh… Soal kerja sama dengan badan riset kerajaan itu gimana? Jadi bangun sistem pembaca yang lebih besar?” Nuri membuka obrolan pagi.

“Iya, hari ini mau finalisasi. Sejauh ini mereka setuju dengan desainnya. Aku juga sudah presentasi semua target fungsional dengan prototype yang ini. Tinggal cari relawan untuk dipindai otaknya. Kalau oke, kita tinggal MoU.”

Meja tersebut cukup kecil sehingga hidangan mereka tertumpuk satu sama lain. Bukan karena tidak mampu menyewa apartemen besar, tetapi rumah sederhana lebih mereka suka. Lagipula, mereka lebih sering berkutat di kampus.

“Wah sudah mau terwujud dong ya mimpimu, full virtual reality game seperti yang di film-film itu”

“Haha… Masih jauh lah itu, perlu banyak pengembangan lagi. Makanya kamu juga siap-siap. Bakal banyak kerjaan yang aku limpahkan ke kamu, Doktor Nuri…”

Wajahnya melengos sambil mementungkan sumpit ke arah kepala Ilham. “Ihh… Udah ‘Doktor’, ‘Nuri’ lagi… Nggak jelas banget” Gumamnya tak setuju. Tetapi tidak diragukan lagi, ia tampak lebih manis saat menahan senyum. Ilham hanya terkikik bahagia sambil menyumpalkan makanan ke dalam mulutnya. Nuri pun turut memulai sarapan pagi dengan sumpit yang tak jadi dilempar tadi.

“Ilham, udangnya untuk kamu aja deh… ” Nuri mengambil tempura udang dari udonnya dan dengan cepat memasukkannya ke mangkok Ilham.

Ehm… Ehm…” “Cie… Cie… Uhuy… Suara-suara muncul dari meja sebelah. Ruangan kedai itu hangat karena hidupnya heater dan canda tawa pengunjung. Tak ada yang ingat dinginnya hari pergantian tahun di luar.

Tahu alergi kenapa pesen yang itu.” “Emang khusus itu untuk Ilham… Diikuti tawa riang oleh mereka.

“Apaan sih, kalian…” Tersenyum malu, Nuri kembali fokus kepada udon yang kini polos itu.

“Cie yang panik duduk di depan Ilham. Suara dari kiri menggoda. Hush ga usah diganggu lah, urusi pasangan masing-masing… Hehe… Suara dari kanan tidak mau kalah.

Ilham pun ikut malu sesaat. Namun langsung tersadar, lalu berdiri tiba-tiba. “Kalian! Kenapa ada disini…”  Ia kemudian terdiam dan mengernyitkan dahi. Menengok ke kanan dan ke kiri, ke arah dapur dan tempat tidur. Tidak ada siapa-siapa. Kemudian, ke arah Nuri. Ilham merasa lelah.

“Sayang kamu kenapa?” Sang tercinta menatap Ilham dengan penuh heran.

“Ah..” Ilham sedikit mengusap dahi dan mengucek mata.

“Nggak… Aku cuma teringat…”

Lalu kembali duduk dan menenangkan diri. Sambil menopang dagu ia memusatkan perhatiannya ke gurat-gurat kayu di meja yang perlahan memudar putih. Pandangannya berbayang seperti karang dideru ombak. Ilham akhirnya mengusap wajah, kemudian kembali senyum ke hadapan Nuri.

“… waktu jalan-jalan kita akhir tahun…”

Nuri hanya bisa membalas senyum. “Waktu di meja makan kita diplot makan semeja sama teman-teman itu?” Nuri kemudian mengeluarkan mode gemasnya. “Kamu masih inget aja kayak gitu…”

“Ah, nggak kok aku… Entah kenapa agak pusi…” Kenangan manis saat mereka saat kuliah entah kenapa muncul tetiba, bersamaan dengan kaburnya penglihatan dan pendengaran ilham. Namun, hasilnya sangat membahagiakan Ilham. Melihat wajah malu istrinya itu melebihi segala yang ia harapkan.

Sesaat dua saat, Ilham menikmati rona tersepu yang terurat di pipi Nuri. Mereka berdua diam menunggu lawan bicara memulai, atau bisa jadi menunggu hal lain. Tiba-tiba terdengar suara dering dari objek hitam mengkilap yang biasa ia taruh di meja. Hanya saja, objek itu sedikit lebih pendek dari yang ia bayangkan. Benda itu hanya berupa spiker dan satu buah tombol. Nuri mengambil benda berdering itu dari meja putih.

“Eh ham, sudah jadi tuh pesanannya…” Nuri pun menekan tombol dan secara ajaib raungan kotak itu terhenti. “Ayuk ambil…” Kemudian ia berdiri dan menyodori benda itu ke Ilham.

“Eh? Oh iya…” Secara spontan Ilham mengambil kotak menjerit itu dan menuju ke counter untuk menukarnya. Sebagai ganti dari kotak berisik itu, mereka masing-masing mendapatkan gelas jus dari penjaga kafe. Kembali ke meja, mereka melanjutkan pembicaraan serius tadi.

“Ya ilham ya, pokoknya itu tadi ya. Aku kan mau rangkap karena tugasnya sudah spesifik. Aku males kalau ditambah.” Mode muka tajamnya kembali. Tangannya memainkan sedotan sambil mengaduk-aduk isi gelas. Sesekali, ujung sedotan ia turunkan tekanan udara sehingga isi gelas dapat mengalir melawan gravitasi.

“Ya aku pikir kan itu juga termasuk tugas bendahara.” Ilham ikut menyeruput jus dengan wajah pucat.

“Lho kan bisa dikasih ke eksternal. Donasi ke BEM luar ya urusan eksternal.” Ia menyedot kembali minuman itu.

“Hmf, iye ye… Oke deh.. Yang ini terlanjur, maaf ya. Lain kali nggak lagi. Janji.”

Nuri tersenyum lega setelah Ilham mengucap janji itu. Akhirnya mereka bisa kembali ke topik utama, mencoba kafe baru. “Betewe, pesen apa kamu tadi ham?”

“Ehm… Fruit mix, kamu? Jus mangga ya… Wah, cobain dong.”

Nuri menyodorkan gelas jusnya ke depan. Ilham sedang akan mencabut sedotan dari gelasnya sebelum tiba-tiba berubah pikiran. Tangannya pun menyambar sedotan dari gelas Nuri dan menyeruput jus mangga dari sana.

“Eeeeh… Ilham… Ngapain kamu?” Muka kesalnya kembali seketika. Ilham geli menahan tawa. “Iihh… Apaan sih!” Nuri pun berdiri sambil berkacak pinggang. Pipinya menggembung setengah malu setengah kesal. Ia pun menggeser kursi dan berbalik badan, ingin mengambil sedotan baru.

Nuri berjalan ke arah rak piring, gelas, dan peralatan di samping kasir sementara Ilham masih cekikikan. Namun, Ilham kemudian merasakan seolah seseorang menekan tombol slow motion. Langkah gadis itu seperti  film yang disorot dengan kamera berkecepatan tinggi. Ia dapat melihat detail gerakannya. Latar belakang pun memutih, dan objek-objek di kafe itu memudar. Seperti menyadari sesuatu, Ilham bergegas berdiri. Ia panik, menerabas meja dan berusaha mengejar Anya.

“Anya… Jangan pergi…”

Anya? Iham sendiri tidak mengerti kenapa dia mengucap nama itu. Nama yang rasanya penuh makna namun sudah lama tidak ia ucapkan. Anya berjalan sampai tepi rak kasir dan terus berjalan hingga kesudahannya, seolah-olah rak itu tidak ada semenjak awal. Ilham pun berusaha bergegas tetapi gerakan tubuhnya dan seluruh pemandangan sekitar seperti membeku.

Angin berhembus kencang. Suara debur ombak terdengar keras. Ranting pepohonan saling beradu. Bunga-bunga sakura merah muda beterbangan seperti tiada habisnya. Seperti surga, sejauh mata memandang di kiri dan di kanan menghampar laut, di antaranya berbaris pepohonan tumbuh di sejumput lahan memanjang dihiasi dua pantai. Sepatu ilham penuh dengan pasir putih. Ia berhenti di tengah tanah genting, kelelahan. Si mungil Anya sudah lari agak jauh lari kemudian jongkok mencoba air pantai satunya lagi.

“Ilham beneran deh, air yang sana tawar yang sini asin.” Anya melaporkan temuannya. Ilham hanya bisa garuk-garuk kepala dan sedikit khawatir dengan kehigienisan airnya. Anya yang sepertinya sudah puas bereksperimen dengan air laut, membersihkan kepala ilham dari satu dua kelopak sakura yang nyangkut. “Ayuk lanjut, sebentar lagi sampai seberang.” Ilham menyambut tangan Anya dan melanjutkan perjalanan.

Standar pantai, tanah genti itu pun berkelok-kelok sehingga terkadang angin menerpa dari arah depan. Anya melirik dan mengajak Ilham berlari menantang angin. Ilham tersenyum. Sudah lama dia nggak lari, pikir Ilham. Ia pun menerima tantangannya dan menarik tangan Anya. Berpegangan tangan, lari melawan angin.

Silir aroma laut menghebus wajah Anya dan Ilham, juga dada dan mengembang mereka. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, kesan bahagia tanpa beban terukir di wajah mereka. Tangan mereka bersatu, lepas dari setang. Kaki mereka berhenti mengayuh pedal. Samar tampak di kiri-kanan. Air masih tampak terhampar luas sejauh mata memandang. Namun, tergenang dalam petak-petak. Beberapa sudah ditumbuhi hijau bakal padi. Dan beberapa tampak petani sedang menanam benihnya. Hanya Ilham yang merasa sedikit janggal, tetapi ia riuh terbenam dengan indahnya keadaan saat itu. Juga bahaya saat itu.

Sesaat setelah turunan, jalanan sedikit melengkung. Di hadapan mereka, sepetak sawah dan lumpur menghadang, Ilham dan Anya saling bertatap pandang dan panik tiba-tiba muncul di antara senyumnya. Tangan mereka yang berpegangan bukannya terlepas malah tergenggam makin erat. Tangan yang lain berusaha meraih setang. Namun mereka terlambat dan juga akibat kurang koordinasi, terbang menerabas batas jalan.

Terhempas, Ilham jatuh ke dataran empuk. Tangannya menarik Anya sehingga mereka jatuh tak jauh satu sama lain. Wajah dan tubuh mereka tersiram dengan putihnya embun beku. Zat itu terasa dingin di kulit. Jaket tebal yang mereka kenakan pun tak cukup menahan suhu puncak gunung itu. Sejauh mata memandang hanya salju putih yang terlihat.

Sesaat terdiam, mereka lalu kembali tertawa lepas. Anya mengambil sejumput salju terdepat dan melempar ke Ilham. Hey. Ilham pun membalas dengan dua dan tiga lemparan. Anya mengembalikan lima sampai sebelas. Main sori yuk. Anya kembali menambah tantangan. Mereka pun kembali jalan menanjak ke atas sambil mengambil sori; kursi berbentuk kapal kecil yang bisa dipakai untuk perosotan di salju. Hanya versi kecil yang tersisa tetapi tetap mereka pakai juga untuk merosot berdua. Anya duduk duluan, di depan. Kakinya menahan ke dalam salju agar perosotan itu tidak jalan duluan. Ilham bersiap di belakang memegangi pundak Anya. Terbesit ide iseng oleh Ilham untuk mendorong sori tersebut kencang-kencang tanpa ikut naik. Sambil menahan tawa, Ilham bergerak perlahan. Ia pun memegang pegangan di belakang pundak Anya, dan bersiap.

Kembali Ilham merasakan apa yang dia rasakan berkali-kali sejak tadi. Mata sedikit blur, kepala mengernyit. Pemandangan salju sekitar yang putih sejauh cakrawala, makin memudar putih. Ilham pun berusaha menghilangkan perasaan aneh itu dengan sedikit mengibaskan kepala. Menghela nafas sejenak dan menatap punggung wanita yang sedang duduk di hadapannya. Ilham pun mengeratkan kepalan ke pegangan di belakang pundak Nuri. Ia pun berjalan maju dan mendorong kursi roda itu, perlahan dengan penuh hati-hati.

Koridor itu sepi hampir tidak dilalui orang. Jendela besar berderet menghiasi kiri kanan koridor tersebut. Tampak di luar jendela sebelah kanan dua tiga lajur jalan besar membentang hingga kedua sisinya bertemu di ujung pandang. Jalanan itu tampak gelap dan sepi, beberapa lampu sepertinya jalan tidak menyala. Sesekali satu dua kelebat cahaya merah kendaraan lewat dengan kencang. Di dekat jendela sebelah kiri, terdapat sebuah platform berjalan. Eskalator horizontal persis seperti yang biasa ditemukan di bandara. Segerombol anak muda berjalan di atasnya; sebagian pandangannya kosong, sebagian memegang pose, sebagian senyum memandangi Nuri dan Ilham. Pemandangan di luar jendela sebelah kiri begitu indah; hamparan hijau pematang sawah, biru sungai, dan cokelat perbukitan lewat silih berganti. Kadang diselangi oleh pedesaan, jembatan, tiang listrik, rel bercabang, dan tentu saja kereta lain dari arah berlawanan.

Koridor itu tidak hanya sepi tetapi juga sunyi. Ilham mendorong kursi roda setenang mungkin meskipun dengan hati tidak tenang. Nuri hanya diam tak berbicara. Atau tidak bisa berbicara lebih tepatnya. Sesekali terdengar suara interkom dari langit-langit, memanggil-manggil nama orang tertentu, diselingi ancaman panggilan terakhir, dan informasi gerbang sekian atau apalah. Mereka yang tidak berurusan dengan panggilan tersebut hanya cuek melakukan apapun yang sedang mereka lakukan.

Dari ujung koridor berlawanan, tampak rombongan berseragam rapi layaknya orang penting. Mereka membawa koper dan banyak peralatan. Berbaju putih beberapa berbaju hijau. Ilham pun sesaat berhenti dan memandang mereka. Meski terheran, Nuri hanya terdiam di kursi roda. Ia bergeming menghadap depan. Penahan di lehernya sepertinya bekerja seperti yang diharapkan, memaksa kepalanya untuk tak bergerak.

Dua orang di rombongan itu mendorong troli besar berbentuk dipan. Satu lagi berjalan di samping kasur roda itu sambil memegangi tiang bertabung. Terdapat kabel menjulur dari tabung itu ke tangan seseorang yang sedang tertidur di atasnya. Seorang wanita terkapar tak sadar diri. Ia mungil dan tampak lebih kurus dari biasa. Raut muka tipisnya menggemaskan mengundang rindu. Selendang putih kusam berulir mawar emas pun tampak tak asing. Ilham – masih memandang mereka – melemas. Satu orang berbaju putih seperti dokter balik memandang ilham. Tanpa bicara, dokter itu memberikan ekspresi tegar sambil mengangguk. Ilham hanya bisa mengencangkan kepalan. Ikut tegar mengawasi rombongan itu hingga berlalu.

Cahaya terang mulai terbit di jendela kanan. Pergantian di jendela kiri, tanda kereta telah sampai kereta tujuan. Di kejauhan, sesosok wanita sedang menunggu kereta berhenti total. Ia tampak sedih dan sendiri. Melihat Ilham memandanginya, ia melambaikan tangan ke arah Ilham. Lalu masuk ke pintu gerbong terdekat.

Tetiba Ilham merasa tarikan di lengan bajunya. Ia kaget dan kembali menghadap depan. Berdiri, Nuri menggenggam tangan Ilham. Ia menarik Ilham ke ujung lorong yang tinggal dua tiga langkah lagi. Di hadapan mereka, di luar koridor, taman berhias warna merah jingga terhampar. Semak kecil hingga pohon besar, bahkan dedaunan yang jatuh menutupi tanah seluruhnya berwarna keemasan.

“Sayang. Semua akan baik-baik saja…” Nuri berucap. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Ilham. Tangan kirinya menyentuh pipi ilham.

“Tidak Nuri. Aku takkan biarkan semua ini terjadi.” Ilham tidak rela. Ia bersumpah akan memperbaiki semuanya. “Pasti ada jalan.” Ia berfikir keras. “Ya aku tahu…” Ilham seperti mendapat ilham meskipun ia tahu bahwa ide tersebut sangatlah absurd. “Kalau dokter itu tidak bisa apa-apa, kita bisa gunakan NUR. Teorinya ada. Elisabeth pasti setuju.” Sampai akhirnya keabsurdan itu memuncak pada satu kalimat: “Kami akan membuatmu abadi.”

“Sayang. Aku…” Nuri memeluk Ilham dan meletakkan kepalanya di dada Ilham. “Kamu harus mengikhlaskan ham… Aku cinta kamu.”

Tiba-tiba suara lirih memanggil dari samping. Hey, Aku Anya. Seorang gadis cantik; ia tampak sedikit lebih muda dari Ilham. Namamu siapa? Dari lab mana? Sambil mengambil kursi di sebelah Ilham, gadis itu bertanya. Ilham kamu udah makan? Suara lirih lain memanggil dari belakang. Ilham kembali menoleh. Di depannya kasur putih ala rumah sakit memanjang. Gadis yang sama, duduk setengah berbaring disana. Meja makan lipat tertata di hadapannya. Mau bubur sayur? Setengah tertawa dia menawarkan, berusaha bercanda meski dalam keadaan demikian. Sayang, semua akan baik-baik saja. Menoleh lagi ke samping, gadis yang sama duduk di kursi roda. Lalu menghilang. Ilham memutar badan kesana kemari untuk mencari gadis itu. Hanya putih yang dapat ia temukan. Sampai akhirnya Ilham mendapati di kejauhan, tampak ia melambai dan tersenyum.

Lalu, terdengar suara kereta melaju dari belakang. Di jendela sebelah kiri tampak kereta tersebut akan menyalip kereta Ilham. Mendekat ke jendela, Ilham memandangi erat kereta tersebut. Sesaat kecepatan keduanya seimbang seolah keduanya tidak bergerak satu sama lain. Saat itu, Ilham melihat sosok gadis mungil berkerudung putih berulir mawar emas. Berdiri di gerbong kereta sebelah. Tersenyum. Dan melambaikan tangan. Hingga akhirnya rel keduanya tak lagi paralel, dan gerbong itu menjauh dari pandangan. Hingga hanya putih saja yang tersisa. Putih kosong sejauh mata memandang.

*************************************************

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham. Profesor Ilham…”

Suara itu lirih kembali menggema. Suara yang sangat ia kenal. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu. Namun, panggilan tersebut tidak lembut dan begitu tergesa-gesa.

“Nuri…?” Ia kembali mengigau nama yang sama.

Sekilas Ilham dapat mendengarkan gema suara. Seperti ada dua orang sedang bercakap-cakap di dekatnya.

“… dokter… kenapa? … apa yang …”

“… supaya bisa mengakses memori … prinsipnya … terfokus ke satu … termasuk untuk kembali ke kesadaran nyata … ”

“ … jadi? … ”

“… ada risiko subjek bisa koma … pemakaian dosis tinggi dapat … ”

“Nur….??” Ilham masih mengigau mencari-cari sosok yang ia sebut namanya.

“ … dokter Elis … persiapan kondisi darurat selesai … ” Suara lain muncul bersamaan dengan deru kaki gerombolan orang.

“ … syukurlah kalian tiba tepat waktu … tidak ada cara lain … laksanakan emergency lapse sequence… segera … ”

“Nuri?? Nuri?? Kaukah itu?” Meskipun suara percakapan itu kian jelas didengarnya, indra-indra ilham masih belum berhasil menangkap penuh kejadian yang ada di sekelilingnya. Pikirannya masih belum terkumpul jadi satu. Ia hanya bisa mengucap satu nama.

Dokter Elis tampak sangat risau. Ia menggigit ibu jari. Tatapannya kosong terbenam dalam pikiran kekhawatiran. Jaket putih laboratoriumnya tampak kusut. Rambut panjangnya pun tak teratur. Di hadapanya meja oval besar dipenuhi kabel. Beberapa lengkungan besar setinggi dua meter – bentuknya seperti mesin – MRI melingkupi meja tersebut. Dokter Elis menatap meja tersebut dengan wajah sangat menyesal. Tidak. Bukan meja tersebut yang ia pandangi, tetapi subjek yang ada berbaring di atasnya.

“Nurii, kau dimana…”

“…” Dokter Elis tersentak dari pikiran dalamnya. Ia kemudian mendekati meja tersebut. Ia seperti mendengar sesuatu.

 “Kalian, tunggu sebentar…” Tersenyum lega, ia pun mencabut perintahnya kepada tim darurat yang sedang tergesa-gesa menyusun dan memprogram entah peralatan apa. “Sepertinya prosedur itu tidak diperlukan lagi.  Profesor kita sudah kembali… Kita hanya tinggal menunggu saja.”

“Anda yakin sudah aman…?” Seorang lelaki setengah baya berpakaian serba putih atas bawah luar dalam. Namun, bukan putihnya jas lab yang menjadi perhatian dari orang itu. Di bawah jas lab yang ia pakai sekenanya, tampak pakaian selayaknya seragam elit kerajaan atau tentara penjaga istana. Warna kuning emas mengukir kerah, lis kancing, dan lis ujung lengan kemejanya. Sebuah bulan sabit emas nan elegan  menggantung dari sabuk celana putihnya. Sepertinya sengaja ia tidak mengancing jas lab untuk menunjukkan tanda resmi tersebut.

“Bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?” Pemuda itu meminta penjelasan  kepada Dokter Elis.

“Seperti yang saya jelaskan tadi… Kami tidak bisa membiarkan kalian bertemu dengan Prof. Ilham sekarang. Untuk sekarang prof sudah cukup aman. Namun kondisi kesehatan… tidak… kondisi mental profesor belum memungkinkan untuk memenuhi undangan Anda.”

“Mohon maaf dokter. Anda tahu situasi dunia sekarang bukan? Potensi perang sudah di depan mata. Negeri ini bisa jadi medan tempur. Kami butuh bantuan Anda.”

“Kami tidak ada urusan dengan itu. Kami tidak punya kewajiban untuk melindungi negara. Kami bukan organisasi kerajaan dan juga bukan tentara.”

“Tuan Putri secara pribadi memanggil Anda. Secara pribadi beliau menginginkan pertolongan Anda dan Profesor Ilham… Negeri ini butuh keahlian kalian. Bukankah kalian mentor dan sahabat lama Tuan Putri?”

“Kami tidak peduli dengan politik. Kami di sini punya masalah sendiri. Sampaikan ke Shabrina lain kali kalau ingin meminta tolong, silakan datang sendiri. Jangan mengutus wakil.”

“… Pihak kerajaan akan sangat mengapresiasi jika setidaknya anda tidak memanggil Tuan Putri dengan nama kecilnya.” Pria itu menaikkan nada bicaranya.

Elisabeth hendak akan mengeluarkan stres pendamannya ke tamu tak ramah itu ketika ia mendengar panggilan dari pria yang tertidur di meja.

“Elisabeth… ”Ilham telah membuka mata dan berhasil duduk. “Berapa lama aku ‘terjun’? Siapa dia?”

“Profesor. Dia, tidak penting. Hanya Shabrina yang mau titip salam via anak buahnya.” Sesaat mimik pria yang ditanyakan Ilham berubah kesal. “Yang penting adalah kondisi Anda prof. Ini pertama kalinya kita memecahkan rekor terjun lebih dari 12 jam. Memang kita dapat data terbagus dari percobaan selama ini, tetapi Anda tidak bisa melakukan hal ini terus menerus.”

“Bagus. Itu artinya metode ini tepat. Sesaat lagi singularity cita-cita kita akan tercapai. Nuri, semua akan baik-baik saja…”

Ilham kembali mengambil disk yang tergantung keluar dari salah satu lubang di mesin lingkaran tadi. Label NUR-1 tertulis di disk tersebut… Setelah mengecek kondisi disk itu sebentar, Ilham kembali memasukkannya ke lubang input dan memasang program sesuatu. Kemudian ia kembali ke atas meja baring.

“Profesor! Saya mohon prof, Anda tidak boleh gegabah. Meskipun demi istri Anda… Anda juga harus memikirkan kondisi Anda sendiri. Prof Anya pasti marah jika ia mengetahui apa yang…”

“Profesor Ilham. Saya Alif, utusan kerajaan. Anda paham kondisi geopolitik terakhir bukan? Perang akan datang. Kerajaan dan Tuan Putri Shabrina butuh bantuan Anda menghadapinya.” Pria tadi memotong pembicaran Elisabeth.

“Tidak, saya tidak membaca berita. Hoo.. Baru tahu juga, Shasha diangkat jadi Putri. Sampaikan ucapan selamat dan maaf ke dia. Saya sedang banyak pekerjaan.”

“Profesor… Saya yakin Anda cukup logis untuk menimbang mana yang lebih berat. Istri Anda atau dunia yang telah ditinggalkannya! Disana masih ada keluarga Anda yang lain, kemenakan Anda Sang Putri.” Pria tadi berusaha meyakinkan Ilham. Namun, sepertinya diksi pilihannya salah.

“Persetan dengan dunia kalian.” Ilham kemudian melanjutkan persiapan di meja baring, menginisiasi riset dengan kredensial yang ia miliki – sehingga Elisabeth tak dapat berkutik. Ia pun berbaring di meja tersebut dan memejamkan mata. Mesin pun membaca disk tersebut dan dilayar tertulis berbagai log status. Inisiasi peta memori. Akses dimulai. Dan ribuan baris laporan log lainnya hingga mesin itu menyala penuh…

Elisabeth hanya bisa menarik rambutnya sendiri dengan kekerasan kepala bosnya itu. Dalam hati, ia bersumpah akan mengikat dan melempar sang profesor jauh-jauh dari lab pada lapse berikutnya. Yap, akan ia lakukan. Ini demi kesehatan fisik mental Ilham sendiri, pikirnya. Namun, sebelum mempersiapkan jebakan dan jaring untuk mengagetkan Ilham saat bangun, ia harus mengusir si tamu yang tak ramah ini lebih dahulu.

“Kami tahu, riset kami dapat membantu Anda mengendalikan berjuta drone dan robot dalam perang mendatang dengan pilot minimal. Namun, seperti yang Anda lihat bos kami sedang tidak enak badan. Tim kami dapat memberi Anda arahan, hanya untuk implementasi yang lebih jauh kami memerlukan persetujuan dari pemimpin lab.”

“Prof Eli, menurut cerita Anda barusan, bisa dibilang Profesor Ilham setengah gila setelah ditinggal istrinya.  Anda kolega terdekatnya bukan. Apa Anda tidak bisa berbuat sesuatu untuk menenangkan beliau, membujuk beliau? Anda setuju bahwa mengabdi pada negara lebih penting dibanding meratapi orang mati, bukan? Di dunia ini setiap hari ratusan orang mati dalam perang, dan Anda dapat mencegahnya. Apalah arti satu orang yang telah tiada dibanding nyawa warga kerajaan ini? Dibanding melakukan hal tak berarti seperti ini, tim Anda akan lebih bermanfaat bergabung dengan kami.”

Elisabeth tersentak dengan komentar itu. Ingin rasanya melempar pria ini dari bulan. Sambil menahan letusan simpanan stresnya, ia berusaha menenangkan diri dan menjelaskan dengan tenang ke tamu ignoran ini.

“Atfisah Nur Anya. Salah satu pendiri institut riset ini. Cantik, mungil, ramah, visinya hebat. Nama mesin ini, Neurosignal Unifier and Repertoir, diambil dari nama beliau. Mesin masa depan dengan tujuan mengekstrak, menerjemahkan kemudian menyimpan dan mungkin menggabungkan sinyal otak dan memori manusia. Spesimen pertama peta memori, NUR-1, juga diambil dari beliau. Melalui spesimen ini, kami sekarang berusaha keras mewujudkan jiwa dan pikiran beliau kembali.

“Institut ini dibuat oleh dan didedikasikan untuk beliau. Yah, meskipun kini riset yang dilakukan Profesor Ilham sedikit melenceng dari tujuan semula; dari sekedar membaca memori ke memindahkan jiwa pikiran manusia ke mesin. Menurut beliau riset ini dapat menghidupkan kembali Nona Anya di dunia dijital. Hmf, memang sedikit delusional walau secara teori mungkin. Dan mungkin lebih tepat jika kutata ulang menjadi: menghidupkan kenangan beliau di dunia mimpi.

“Efek sampingnya, beliau menjadi kecanduan dengan memori. Bahkan ia tidak ingat siapa nama asli istrinya.

“Ya. Sama seperti Anda yang tidak suka mendengar tuan putri Anda dipanggil sembarangan, kami juga akan sangat mengapresiasi jika Anda tidak meremehkan Nona Anya. Apalagi di depan Profesor Ilham, di depan Profesor Ilham yang sekarang. Anya – atau Nuri seperti dipanggil Prof Ilham akhir-akhir ini, baginya dan bagi kami lebih berharga dibanding dunia dan seisinya.”

*************************************************

“…. Ilham…. Banguun…”

Suara itu kembali menggema. Nadanya terdengar kesal namun menggoda. Ilham membuka matanya. Terduduk di kursi meja makan di hadapannya, Nuri kembali memasang mode gemas versi kacak pinggang.

“Kok tidur lagi…”

Ilham tersenyum lega. Ya… Inilah yang seharusnya terjadi. This is the way it should be. Ilham terus mengucapkan kalimat itu ke dalam hatinya. Semua baik-baik saja.

“Nggak tidur ah, cuma kedip mata kok.” Ilham membela diri. Sepertinya Nuri tidak terima dengan alasan setengah ngasal itu.

“Eh, aku tadi teringat kamu waktu kita terpisah di beda kereta lho.” Ilham menimpali.

“Eh eh eh… Ngapain inget kayak gituan, kan malu-maluin.”

Pagi di ruang itu pun berlanjut seperti pagi-pagi biasanya. Masak-masak. Sarapan. Mandi dan memilih baju. Penuh canda tawa diselingi debat akademis dan nostalgia. Ruang itu memang ruang penuh cinta penuh kenangan.

“Sebelum berangkat, seperti biasa… Janji kita.”

“Iya nggak bakal lupa lah. Satu menit?”

Pintu kayu dengan pegangan emas berulir mawar membuka di depan ruang itu. Cahaya putih terang menyilaukan dari luar pintu. Setiap pagi di depan pintu itu, mereka selalu melaksanakan sebuah ritual suci. Ritual yang mereka mulai saat mereka menikah dan berjanji akan dilakukan hingga waktu memisahkan mereka.

Satu menit. Sebelum melanjutkan hari, sebelum beranjak ke luar ruang mungil itu, satu menit. Sebagai ungkapan ekspresi cinta, umat manusia kadang menciptakan hal aneh. Menempelkan bibir ke satu sama lain – aneh, entah bagaimana teori evolusi menjelaskannya – dapat mengobarkan api cinta. Dan karena itulah dari malam pertama mereka berjanji untuk menjaga api itu setiap hari. Minimal satu menit, adalah rutinitas wajib pembuka hari mereka. Awal-awal terasa sangat lama dan begitu canggung. Setelah 10 tahun, satu menit terasa seperti sekecup belaka.

Namun sekarang, Ilham tidak ingin melepaskan kecupan itu selamanya.


A short story (Cerpen) by Albadr Nasution. This story is a complement of another Short Story titled Kilas.

The Drink Menu in Japan is So Boooring

I didn’t go to restaurant much in Japan for obvious reason. There are hardly any menu that I can eat for I can only eat halal menu. Therefore, I don’t have any position to write this articles. However, as far for my experience visiting any restaurant in Japan, Japanese – Italian – whatever, halal friendly or not, all you can drink or not, they have very bland drink menu.

One should note that, for one who able to drink alcoholic menu, it maybe a heaven. I don’t know for other country, but here is the “standard” menu for drink in any Japanese restaurant. They provide many kind of alcohol. There are chuhai, beer, wine, cocktail, sake, western, and eastern and much more alcohol categories. I don’t even know what they mean or how they differentiate.

Japan Drink Menu

This alcohol (10 menus) and that alcohol (10 other menus) and other type (plus 10 menus).
Without alcohol? Normal menu? What is that?

One of the categories is soft drink, a small category on the corner of the menu. Usually it has only five or so menus. It includes oolong tea, orange juice, cola, and kalpis.

Sometimes it has a non-alcohol category besides soft drink. However, it is suspicious because it has similar names to some alcoholic menu. I guess it just a alcohol-has-been-extracted version of the original alcoholic menu. Whether it is still have the mind-altering and “take-away-your-composure&consciousness” effects like a normal version does and thus not halal, remains to be seen.

Even in the drink bar section of some family restaurant or karaoke which provide many varieties of soft drinks, they didn’t seems any different in my eyes. It just some varieties of branded teas and sodas. That’s all.  You can buy that in vending machine!

So boooring… At least for non-alcohol drinker, like me.

Comparing this to the norm in Indonesia is just like comparing the west and the east. This phenomenon make me think that drinking cultures takes away imagination from normal non-alcoholic drink. At least, menu that is being provided in restaurant.

Let me show you from some random picture of Indonesian drink menu I grabbed from internet. No mention in these menus about alcoholic drink. All menu is “normal”.

Menu 1

We have the luxury of many fruits and juices.

Menu 3

Even the tea section has more variations than the whole soft-drink-bar menu in family restaurant

These kind of menu can be found in many establishment, mind you… Not just certain fancy restaurant. Maybe even the street vendor have more normal drink-menus than any restaurant in Japan.

If you are wondering, I can assure you that coffee in this menu is cheaper but a lot more delicious than starb*cks.

Menu 2

5 or more categories for “normal” drinks is normal

Now, that is what you call an imagination. It is very norma in Indonesia to have that many drinks menu. Normal drinks menu, okay. We have many categories for it and many varieties. That is a heaven.

I guess it is a matter of culture difference. For them, maybe it’s me that do not have any imagination about what an alcoholic drinks mean. However, shouldn’t the non-alcoholic one be the norm? I mean, everyone everywhere in every culture know alcohol is bad for health. Not to mention that kids are forbidden from it.

What do you think?