Cerita Jepang
Comments 5

Orang Jepang Tidak Semuanya Suci

Toyohashi Masjid - peta parkir

Satu tendensi bagi orang asing di Jepang adalah menganggap bahwa orang Jepang itu maksum alias tidak pernah melakukan pelanggaran hukum. Toh cerita dan berita yang kita sering dengar mengatakan demikian. Sekian banyak blog berkata bahwa di Jepang itu disiplin, orangnya taat hukum, penegak hukumnya bagus, dll. Hal ini menyebabkan ketika ada suatu kasus yg terjadi, orang kita (non-orang Jepang) akan langsung mengasumsikan bahwa pelakunya adalah bukan orang Jepang alias orang asing.

Mari saya beri contoh untuk memahami lebih dalam. Artikel ini akan berfokus pada area kosan saya, Circle K di depannya, dan masjid. Bertema tentang transportasi dan aturan lalu lintas. Pada satu kasus spesifik.

Berikut adalah peta tkp. Sebelah kiri bawah adalah kosan saya sekeluarga, Esteem Tempaku. Yang berpin dan betuliskan Toyohashi Mosque itu adalah Masjid Toyohashi. Di antara kosan dan masjid ada CircleK, berikon tas belanja kecil warna biru. Diantara ketiganya ada perempatan (yg bisa dibilang juga pertigaan). Posisi kiri atas dari perempatan adalah kampus saya, TUT.

Seperti yang saya ceritakan pada artikel sebelumnya berjudul Toyohashi Masjid dan Meriahnya Ramadhan, komunitas muslim Toyohashi beruntung memiliki masjid yg sangat dekat kampus dan dikelilingi hutan/tanah lapang. Meskipun spiker cuma ditaruh di dalam gedung, suara bisa terdengar sampai kosan saya. Nah, karena di sekitarnya sepi, nggak ada yg terganggu…! Hore… Setidaknya, sampai artikel ini ditulis.

Hal beruntung lainnya adalah keberadaan kombini (baca: convenience store) di depan masjid. Ruang di depan masjid sangatlah sempit. Untuk parkir mobil, di halaman depan cuma cukup 4 mobil. Di pelataran lantai 1, paling kalau dijejalkan 5-6 mobil. Di tanah kosong barat masjid, bisa 5 mobil. Masalahnya kalau ramadhan, ruame nya minta ampun. Ga muat. Syukurnya, mobil-mobil yg nggak cukup tadi bisa parkir sementara di CircleK depan.

Sebenarnya hal tersebut tidak etis dalam norma Jepang. Bagi orang Jepang, kalau parkir di kombini berarti ya mau ke kombini. Masa parkir dimana perginya kemana. Namun, karena kami sering dan kadang pihak amir minta izin juga ke tencho (empunya) warung, masalah parkir CircleK dan Masjid ini mungkin sedikit dimaafkan. Toh, Toyohashi kota kecil; dan kombini disini punya parkir besar-besar; parkir lowong mudah ditemukan.

Jadi dimaafkan. Kecuali pada kasus tertentu.

Jika kita lihat tempat parkit lebih dekat, kita bisa tahu kalau ada kolom parkir (garis putih) yg besar dan kecil. Yang kecil untuk mobil biasa. Yang besar untuk truk dan tronton.

Toyohashi Masjid - peta parkir

Nah, suatu hari, ketika Indonesia mengadakan buka bersama, tambahan 50-an tamu orang Indonesia dari luar Toyohashi datang ke masjid. Nambah deh 5-8 mobil dari biasanya. Jeng-jeng… Yang biasa parkir di CircleK (kotak biru di atas) merembet sampai ke area parkir truk (lingkaran merah). Kebetulan apes kali ya, pas maghrib polisi dateng, dan kena deh itu satu mobil yg parkir disono. Tanpa gubris, 7000 yen melayang.

Namun, bukan itu poin utama artikel ini. Yg itu tadi baru konteks. Inti baru akan diceritakan setelah ini. 

Setelah kejadian itu, malamnya pengunjung dari luar Toyohashi tadi menginap di masjid. Iktikaf. Ternyata masih ada dua mobil yang parkir di area truk (lingkaran merah). Salah satunya plat Hamamatsu, alias luar Toyohashi. Salah satu brother pun menegur rombongan Indonesia yg sedang ngaji bareng, meminta memindahkan mobil. Ditunggu 10 menit, belum pindah. Naik lagi brother-nya, dengan nada yg agak lebih tinggi kembali menegur. Meminta cari siapa yg punya mobil terus pindahin ke parkiran masjid aja, biar ga ada masalah.

Begitu terus sampai berkali-kali. Kami yang orang Indonesia ini sudah kelabakan cari siapa yg bawa tu mobil dengan pelat sekian dan sekian. Tamu udah tanya-tanya dan cek sana-sini. Nggak ketemu juga. Orang yang dari hamamatsu juga cuma bawa dua mobil dan keduanya sudah di parkiran masjid. Setelah telpon ke ibu-ibu di ruang sebelah pun nggak ada yg parkir mobil di CircleK lagi.

Si brother masih ga percaya. Argumennya: (1) salah satu mobil dari luar Toyohashi (2) parkir di tempat yg salah (3) cara parkirnya aneh: ban belakang nggak sampe menyentuh pembatas parkir. Pasti bukan orang Jepang itu. Orang jepang nggak ada yang begitu. Orang Jepang nggak mungkin salah!

Berkali-kali deh diskusi debat masalah itu. Setelah empat lima kali ping pong, dan kami bersikukuh kalau bukan orang Indonesia yang punya mobil, plus argumen berdasarkan pengalaman bahwa ada juga orang Jepang yg parkir ngasal, akhirnya beliau melunak.

Maksud beliau itu baik. Yang rugi kan yg punya mobil. Kalau polisi datang lagi, yg kena denda ya empunya mobil. Mungkin masjid toyohashi juga jadi tercoreng namanya. Kecurigaan beliau pun sebenarny valid. Secara persentase, memang orang Jepang lebih banyak yang taat aturan. Jadi kalau mau tebak-tebakan (baca: statistik), peluang false-positif untuk mencari pelanggar pada himpunan orang Jepang lebih kecil dari himpunan orang asing.

Namun, saya juga berargumen. Saya sering lewat parkiran itu. Tiap hari berkali-kali malah. Sering juga kok ngeliat mobil orang Jepang ngaco. Jadi, gak mesti juga kalau ada mobil ngaco itu pasti orang asing. Orang Jepang tidak semuanya suci.

Beliau pun melunak. Okelah. Kalau ada kejadian saya gak mau tahu ya… Udah diperingatkan. Katanya. Kemudian beliau tenang dan melanjutkan pekerjaannya.

Belum selesai. Now, for the kicker. Meskipun ikut berargumen “melawan” brother tadi, pengamat – orang Indonesia – yg menemani saya melayani brother tadi masih meyakini kalau itu mobil orang Indonesia yg sedang bertamu. Berbisik, katanya, mungkin ibu-ibu yg ditanyai tadi cuma istrinya aja. atau yang gak kenal gak ditanyai. Atau ada yang tidur gak ditanyai. Atau bla-bla, dan sebagainya memberikan teori-teori yang meragukan penuturan dan validitas pernyataan dari orang sebangsa. Saya yakin tamu kita. Orang Jepang nggak mungkin itu. Lebih meyakini integritas bangsa lain.

Hm.

Ya. Saya merasa mentalitas meninggikan bangsa Jepang dan merendahkan bangsa sendiri ini adalah sebuah fakta. Bisa dicari puluhan konteks lain kalau mau. Yang saya nggak tahu, apakah itu baik atau buruk. Menurut Anda?

Oh ya, akhir dari si mobil tadi, ternyata orang dari CircleK yang punya. Jam 2 malam kurang, dengan santai dia keluar dari kombini dan mengambil mobil. Kebetulan, brother dan pengamat masih mengamati mobil itu. Jadi misteri siapa yg punya akhirnya terkuak: Orang Jepang.


Di Jepang, ada peraturan kalau pejalan kaki punya prioritas. Jadi mobil yg mau belok harus menunggu pejalan kaki lewat dulu.

Nah, suatu hari saya mau menyeberang di lampu hijau depan CircleK tadi. Tentu saja di atas zebra cross. Saya prioritas dong. Eh, si mobil eta melaju dari belokan tanpa ngerem. Memotong jalan saya. Untung waktu itu saya tidak meyakini bahwa dia pasti akan berhenti (orang Jepang gituh) dan berhenti berjalan. Soalnya kecepatannya gak wajar, refleks. Kalau lanjut, ya bisa-bisa saya pindah apartemen ke rumah sakit.


Minggu kemaren, pulang tarawih, saya melihat mobil (juga orang Jepang) ngebut dengan rute seru. Berikut rutenya:

Padahal jalanan, ketiga cabang jalan, waktu itu kosong. Nggak ada mobil di depan dia yg menghalangi. Parkiran juga kosong. Kalau dia nunggu bentar bisa lah dapat lampu hijau tak begitu lama. Tapi dia malah belok dan menghindar… Dengan rute di atas. Well, setidaknya dia nggak melanggar lampu merah jadinya sih.

Di Indonesia biasa sih “pelanggaran” kayak gitu. Saya sering. Nggak yakin saya kalaupun polisi liat mereka berani menyetop. Saya juga termasuk  yg skeptis terhadap bangsa sendiri.


Oh ya, sepakat ya? Nggak 100% orang Jepang itu maksum.


Kembali ke masalah mentalitas merendahkan bangsa sendiri. Rata-rata narasi yang ditulis oleh orang yang melancong ke luar negeri adalah hal-hal hebat yang ada di negara itu.

Misal nih. Di Jepang bersih, padahal jarang kotak sampah. Di Indonesia bisa nggak ya. Di Jepang jarang macet, sistem transportasi handal. Kapan Indonesia bisa gitu ya. Di Jepang orang nggak boleh ngerokok sembarangan. Di Indonesia, parah banget. Dan seterusnya?

Satu. Saya ingin tanya ke pelancong yang ke negara lain? Trennya sama nggak ya? Cerita dong…

Dua. Saya ingin mengajak kira duduk dan berfikir. Narasi yang seperti itu bagus nggak ya?

Saya pribadi sih ada rasa tidak suka dengan pandangan seperti itu. Kayaknya setiap kali melihat bangsa sendiri, yang ada keburukan dan kejelakan mulu. Setiap cerita ttg si negara lain, pasti hal yang wah dan bagus. Setiap perbandingan, pasti Indonesia kena yang jeleknya. Saya nggak suka, tetapi tidak memungkiri saya juga di blog ini sering menulis begitu.

Gimana ya enaknya?

5 Comments

  1. IMHO, yang pasti tiap seseorang pergi ke luar negeri secara alamiah akan membanding-bandingkan kultur bangsa setempat dengan bangsanya. Yang dia cari dan ceritakan ke saudara sebangsa tentu yang positif-positifnya aja supaya bisa ditiru bersama. Jarang orang menceritakan yang jelek-jeleknya, karena mungkin dianggap nggak ada manfaatnya untuk bangsa mereka. Atau jika pun ada, paling membuat kita semakin bersyukur bahwa bangsa kita masih lebih baik atau mendingan.

    Tapi seharusnya memang tak sampai merendahkan bangsa sendiri sih. Apalagi sampai membuat kita inferior berhadapan dengan bangsa lain. Betul kata Sunni, tiap bangsa pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

  2. Biasanya iya badr. Kebanyakan pada mendewa-dewakan negara orang. Yang cuman sebentar melancongnya, biasanya cerita yang baik-baik. Yang sekedar denger atau ngidolain negaranya, juga biasanya cerita yang baik-baik. Mungkin ada batas minimal 10000 jam (setahun lebih) tinggal di negara orang kali ya, biar ngerasain pahit manisnya.

    Kalau korsel misalnya, pada suka mabok, oplas everywhere, orang marah2 di muka umum, toilet kotor, kurang santai hidupnya, wisata alam kalah telak sama indonesia, (imho ya, bagiku ini kekurangan, entah kalau orang lain nganggep sebagai kelebihan)

    Mungkin, nyeritain yang baik-baik, karena ngebandingin sama kejelekan negara sendiri. Kalau yang buruk-buruk, jarang sih. Mungkin malu.

    yang jelas, ndak ada yang maksum kalau menurutku. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

    Memang, rumput tetangga selalu kelihatan lebih baik bad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s