Dunia Maya
Comments 3

Kocaknya Masyarakat Modern dan Instansi Pemerintah dalam Memilih Jalur Komunikasi

Social

Di era internet ini, komunikasi bukan lagi hal yang sulit dilakukan. Jarak. Waktu. Bukan sebuah halangan. Informasi bertebar luas. Jalur komunikasi banyak pilihan. Tiga di antaranya adalah telepon, email, dan messaging. Dan yang lain tak kalah pentingnya adalah sosial media (Fesbuk, Twiter, dkk).

Saking banyaknya jalur, saya pikir masyarakat modern sekarang sudah kehilangan sense ttg cara berkomunikasi itu sendiri. Membuat komunikasi di era komunikasi ini agak membingungkan.

Tidak. Artikel ini tidak akan membicarakan ttg kurangnya interaksi orang dalam dunia nyata. Tidak juga tentang maraknya kesalahpahaman dan tendensi buruk dalam komunikasi via teks. Hal itu bisa dibahas di artikel panjang terpisah.

Saya ingin mengeluhkesahkan tentang cara orang modern dalam memilih jalur untuk berkomunikasi. Penekanannya ada pada dua kata: memilih dan jalur.

Ikon sosial media di atas oleh Martz90, diunduh dari Iconspedia – Circle Icons set.

Catatan: Judul yang sangat panjang di atas muncul karena ada dua atau tiga ide tulisan yang mirip dan kalau ditulis jadi tiga artikel berbeda akan redundan dan cuma bikin pusing penulis saja.


Tidak Semua Media Komunikasi Diciptakan untuk Tujuan yang Sama

Jalur komunikasi yang sangat banyak itu menurut saya bisa dikelompokkan menjadi beberapa kategori. Menurut ruang lingkup: pribadi, kelompok, umum. Menurut urgensi: mendesak dan tidak.

Wall dan status? Umum. Instant messaging? Pribadi. Group, milis, atau chat-room yang kebetulan juga ada di instant messaging? Kelompok. Mudah kan identifikasinya…

Hal Pribadi Jadi Konsumsi Publik

Sayangnya, kok hal ini masih terjadi juga. Contoh yang paling kocak bisa didapati di news feed lah ya. Suami yang ngirim pesan ke dinding Facebook istrinya atau pacar ke pacar minimal hmf…

Suami Istri

Dulu yang semacam di atas sering lihat sih. Sekarang sudah jarang. Mungkin karena media sosial sudah semakin lumrah digunakan, orang-orang sudah pada sadar cara menggunakannya. Atau kemungkinan kedua adalah, algoritma filter Facebook telah menyaring pos seperti itu sehingga tidak muncul di umpan berita saya.

Yang sering akhir-akhir ini adalah salah satu pasangan mengepos link url ke sebuah artikel berita atau tips ttg keluarga ke wall sang pasangan (entah suma/istri atau masih calon). Secara publik…

Tidak mesti pasangan. Non-kapel juga bisa jatuh ke fenomena ini. Misal menanyakan lokasi dimana… Atau bagi yang udah lama tak ketemu, menanyakan kabar di jalur publik tadi. Apa ya nggak bisa via PM yak…

Kejadian Unik Seputar Chat-room

Hal baru yang suka terjadi belakangan ini adalah memanggil orang tertentu di chat-room. Misal, di sebuah grup chat-room messenger di Facebook ada anggota bernama Mawar. Mentari kemudian mengepos ke chat-room itu:

Mawar Baca Line Dong!

Asumsinya grup mesej tadi lebih sering dibaca dibanding Line kali ya. Padahal kan, kalau keduanya di-instal di  hape, mesej di kedua IM bakal sampai bersamaan. Kalau ngeliat notif si chat-room ya Line juga keliatan. Mungkin asumsi si Mentari, bakal ada anggota grup lain yg kebetulan ada di tempat yg sama dengan si Mawar kali ya, untuk memberi tahu Mawar.

Di Grup: Dul, japri yak…

Hmm Hmm…

Hari gini…. DVD dong, lebih bagus

Kejadian lain: omongan berdua/sifat pribadi tetapi diomongi di grup. Yang orang lain nggak tahu mau nanggapi-nya gimana. Hmm…

Misalnya kejadian fiktif pada grup diskusi menguasai dunia yang ada di sebelah kiri. Apa nggak bisa langsung PM si Sinta gt yak…

Lain cerita kalau itu bercanda atau memang mau menarik perhatian / komentar / jawaban dari anggota lainnya.

Kejadian lain lagi yg agak gimana gt adalah tidak memakai grup sesuai tujuan dipakainya. Teman cerita, dia punya sebuah grup yang isinya orang Indonesia ingin koordinasi studi tur sesekolahan ke Jepang. Yang di Jepang membantu mereka yg datang dari Indonesia, memesankan bus, penginapan, acara, dll. Namun, bukannya si grup diisini koordinasi atau aktif bertanya, malah si orang Indonesia ini mengirim cem pesan nasihat atau kisah inspiratif dari sekolahnya atau apalah. Sekali dua kali mungkin tak apa. Tapi itu rutin, searah, dan berkelanjutan. Akhirnya membuat grup tidak efektif dan koordinasi tak tercapai.

Akhirnya si teman saya tadi cuma me-mute si grup dan koordinasi sama si orang Indonesia via email.

Teks Panjang di Pesan Singkat

Teks Panjang di Pesan Singkat

Soal pesan berisi nasihat, kisah, atau berita ini juga; banyak orang yang mengirim semacam itu ke grup mesej. Isinya puanjangggg parah… Nggak muat di jendela mesej/ layar hape. Padahal kan nama si media: Pesan Singkat. Kok ngirim artikel… Kalau link sih ga masalah. Biasanya kalau ada yg kirim beginian di IM, nggak akan pernah saya baca, siapapun dia.

Banyak sih kejadian yg ada. Akhir-akhir ini, grup messaging semakin prevalen, semakin diandalkan untuk banyak hal. Kejadian aneh tadi semakin bisa teridentifikasi. Kesadaran orang ttg perbedaan pemilihan jalur komonukasi juga mungkin semakin besar seiring kebiasaan grup messaging semakin lumrah.

Terakhir, ada pengalaman yang membuat saya lebih kesal lagi. Mirip sih dengan di atas.

Suatu hari ada seseorang yang membutuhkan bantuan saya. Saya pun deal akan membantu. Beliau akan menjemput saya di asrama. Nah, sampai di jam perjanjian kok belum ada kabar juga. Ternyata, beliau sudah datang di bawah dan memberi kabar di grup. Dan kebetulan grup tersebut pagi itu sedang saya mute. Saya tahunya ketika saya tanyakan “kenapa nggak kasih kabar?” di grup tersebut, seseorang yang lain dengan sombongnya memberi skrisyut pesan kabar di dalam tumpukan chatting grup itu.

Susah ya memilih jalur PM?

Sangatlah valid untuk me-mute sebuah grup apalagi kalau grup itu tidak esensial dan bukan organisasial. Kalau jalur pesan pribadi, nggak mungkin lah di-mute. Kecuali kalau emang sengaja diblok per orangan.

Mendesak dan Tidak: Telpon Berbayar vs VoIP Gretong

Oh ya, selain mesej ada juga tilpon via internet. Kenapa nggak tilpun coba? Waktu kejadian terakhir, telp via messenger Facebook sudah tersedia tetapi kayaknya orang belum banyak pakai. Masih pada gandrung line.

Saya agak kesal saat orang yang membutuhkan komunikasi yang bersifat time critical tetapi melakukannya dengan kirim mesej via messenger. Sebenarnya, juga kesal kalau melihat orang itu telpon dengan gratisan line atau VoIP lain.

Lah, ada yang gratis kenapa pilih yang bayar?

Saya bilang saat kegiatan time critical kan. Komunikasi yang butuh target menjawab secepat mungkin. Fitur VoIP di aplikasi pesan seperti messenger atau line tadi punya kelemahan. Ketika hape di silent, penerimaan tilpun dari VoIP gratisan tadi jadi kurang bergetar. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Dulu sih, sekarang iOS/apps udah diupdate jadi sudah sama bergetarnya. Karena artikel ini adalah artikel yg sudah dari tahun lalu ingin ditulis, bagian “Telpon vs VoIP” ini kayaknya sudah tidak valid lagi.

Namun masih ada juga kelemahan. Saat mengangkat si tilpun VoIP harus beberapa tahap dulu. Buka lock screen, navigasi ke apps, baru deh angkat. Kadang lupa mencet tombol angkat. Keburu mati tilpunnya. Tidak menghitung hal-hal lain, misal apps tidak ada di hape atau lagi puasa sms atau internet over quota yg membuat VoIP ini makin tidak cocok untuk pilihan dikala mendesak.


Saya tidak memungkiri bahwa semua contoh di atas juga pernah saya lakukan. Hal-hal yg dituang disini juga hanyalah nit-picking belaka. Namun, saya pribadi ingin ke depan tidak melakukan hal-hal di atas, yang mungkin bisa membuat orang lain berkeluh kesah yang sama seperti saya.

Instansi Pemerintah Harusnya Bertindak Layaknya Sebuah Instansi Pemerintah

Suatu hari, saya duduk-duduk dengan bapak-bapak diktiers. Salah satu bapak memberi tahu bapak lainnya kalau Dikti meminta dokumen ini-itu. Deadline pengumpulan hari ini. Bapak satunya kaget, “lho dimana pengumumannya, kok aku ga tahu?” Di jawab oleh si bapak, “itu lho ada di grup fesbuk yang XXX”. Tambahan lagi di ujung jawaban “katanya sih”. Masih katanya toh, rupanya.

Padahal, Dikti punya laman web resmi. Juga punya forum studi penerima beasiswa dikti, yang harus login. Namun, simpang siur apakah dikti minta pengumpulan dokumen ini-itu sering terjadi. Pernah benar. Pernah tidak. Tidak menghitung juga kadang mereka meminta isian penting, pribadi, atau sensitif via GoogleDocs.  Dan diset bisa dilihat umum (you know, GoogleDocs yg mode bisa diedit siapa aja itu). Waduh, waduh…

Jadi ingat. Waktu saya mendaftar beasiswa LPDP dahulu, semua komunikasi memakai gmail. Kocak… Jadi inget berita anggota dpr beralamat mail yahoo. Kayaknya semua instansi pemerintah punya masalah yg sama soal email gratis ini.

Kenapa hal-hal tadi tidak bagus? Yang penting kan ada jalur komunikasi? Informasi “sampai”. Fasilitas gratis. Handal pula. Toh itu kan bisa dipake semua dengan lancar!

Jawabannya karena:

itu bukan tindakan sebuah instansi pemerintah atau instansi apapun.

Saya tidak akan membahas sisi keamanan, kebocoran informasi, dll. Tentu saja saya lebih percaya keamanan server Gmail dibanding mail-server Instansi Pemerintah manapun. Lebih reliable pula (UI bagus, nggak bakal down di DDOS, spam filter mantab, dll-dll). Bocor informasi negara ke perusahaan/intel asing? Bah… Kayaknya negara ini nggak peduli gituan.

Yang saya sayangkan adalah staf di dalam instansi itu tidak punya sense bahwa pekerjaaannya itu mewakili instansi pemerintah. Hanya dengan bekal pengetahuannya ttg fasilitas populer di internet, mereka langsung memakai layanan gratisan itu untuk menghubungi klien (misal: penerima beasiswa). Akibatnya, sesuatu yang harusnya resmi malah jadi simpang siur. Sumber menjadi tidak meyakinkan. Berindukkan gmail atau malah fanpage Facebook.
Kan lucu kalau instansi pemerintah setinggi dikti atau lpdp kirim email via moderator.lpdp[at]gmail.com (seriusan ini, dulu di-email via ini, nggak tahu sekarang). Kalau saya buat email baru di gmail, dengan alamat moderator.lpdp.2015[at]gmail.com dan mengirim email ke para penerima beasiswa, minta data ini itu, bijimana coba?

Oh ya, saat saya menulis paragraf ini, akun email tersebut masih available untuk diklaim. Sudah saya klaim tapi saya isi password super ngasal, ntah apa jadinya.

 

Moderator LPDP

Masih dipake rupanya

Google aja mencurigai:

MilisLPDP dicurigai Google

Sebuah informasi resmi juga sebaiknya diumumkan ke orang perorangan (telpon atau via milis atau kirim ke email masing-masing, atur-atur lah). Seperti di universitas gitu.

Setelah itu baru dipajang di portal web. Lebih resmi, kan situs berita sang instansi. Atau forum resmi yang disepakati misal sistem web khusus untuk kegiatan (e.g.program beasiswa) tersebut. Jadi klien pemerintah bisa tahu keaslian berita sampe ke wording-nya.

Nggak kayak dikti yang berita suruh mengumpulkan dokumen sesuatu malah via grup fesbuk. Entah siapa pula member itu grup. Berita pun kemudian menyebar via mulut ke mulut. Hmf…

Lebih parahnya lagi adalah tadi, formulir isian pribadi di GoogleDocs yang bisa diakses umum. Sampai pernah – kata bapak diktiers – seseorang sensei di Jepang dikerjai oleh orang iseng yang berpura-pura sebagai mahasiswanya. Hmf…

Kesalahan fatal pemilihan jalur ini mungkin karena kurang paham tujuan setiap platform. Kurang gahul kayaknya stafnya. GoogleDocs itu dibuat untuk kolaborasi. Satu dokumen bisa dilihat dan disunting bersamaan oleh banyak orang. GoogleForms untuk survey. Orang cuma bisa isi, pembuat form yang bisa lihat.

Apakah tidak bisa minta data begituan ke orang per orangan. Email kek satu-satu. Atau minimal pake GoogleForm yang hasil rekap akhirnya cuma bisa diakses oleh admin (dengan catatan username password gmail si akun form itu cuma diketahui admin dan Two-factor authentication-nya aktif, walaupun masih agak lucu juga sih).

Atau yaaa yang paling bagus, kalau pemerintahnya canggih, bikin lah sistem web untuk para penerima beasiswa gitu. Toh dua minggu jadi kan?!



P.S. Fasilitas super mantab milik Google (Gmail, GoogleDocs, Form, Drive, dll) bisa dikustomasi menjadi ….@domainaing.com dengan mudah dan murah meriah via Google Apps for Bussiness. Cuma 5 dolar sebulan gan! Ada juga Google Apps for Goverment, cuma saya belum nanya bisa di luar US atau kaga.

3 Comments

  1. Ping-balik: Dear Tribun | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s