Cerita Jepang
Comments 2

Shakaijin: Rakyat Kelas Satu Jepang

Di Stasiun

Ada istilah khusus di Jepang bagi orang yang sudah tidak belajar/kuliah lagi: shakaijin. Biasa dikontraskan dengan kata gakusei (pelajar). Harfiah berarti masyarakat atau kelompok manusia yang tergabung dalam society. Namun, istilah ini biasa ditujukan (hanya) untuk golongan pekerja, sampai mereka pensiun. Arti sebenarnya mungkin, anggota produktif dari masyarakat.

Jadi, istilah ini juga sering digunakan dalam makna diskriminatif yang menganggap golongan pekerja adalah first-class citizen. Sedangkan golongan lainnya seperti pelajar, ibu rumah tangga, NEET, freeter, dan pensiunan yang tidak ada kewajiban membayar pajak dan kewajiban sipil lainnya adalah second-class karena tidak memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Mentalitas menjunjung tinggi pekerjaan dan perusahaan tempat bekerja memang unik di Jepang. Masyarakat Jepang sangat hobi bekerja. Sampai-sampai mati karena terlalu banyak bekerja memiliki istilah khusus disini, Karōshi (過労死)

Pegawai Pulang dari Kantor

Jika sesuai jadwal, saya akan memasuki era Shakaijin ini pada 1 April 2016. Sebenarnya, saya agak ragu apakah saya bisa bertahan dalam lingkungan yang seperti ini. Overworking is not just my cup of tea. Melihat komentar orang-orang mengenai era baru kehidupan mereka seperti di artikel Japan: Call us social beings now! ini, cukup membuat saya… Ragu…

Awal bulan Oktober lalu, saya mengikuti seminar Shakaijin yang diwajibkan oleh perusahaan. Inti dari seminar dua jam ini hanyalah membuat peserta sadar perbedaan antara Gakusei dan Shakaijin, pelajar dan pekerja.

Yang satu membayar untuk belajar, yang satu dibayar untuk belajar.

Yang satu kesalahan adalah tanggung jawab untuk diri sendiri, yang satu adalah representasi perusahaan.

Sebenarnya sih Master saya sekarang virtually dibayar untuk belajar, soalnya beasiswa kan. Dan ini di luar negeri, kalau ada kesalahan yang kena bukan hanya diri sendiri tetapi juga nama almamater di negara asal dan juga nama si negara asal bakal tercoreng. Namun, saya tetap merasakan gravitasi dari dua basis perbedaan di atas.

Gakusei itu banyak waktu. Shakaijin tidak. Harus disiplin ke kantor pagi dan pulang kadang sampai malam.

Nah ini-ni. Saat kerja praktek di RSHS Bandung waktu S1 dulu aja capek minta ampun tiap hari harus berangkat jam 8. Padahal di kantor nggak ngapa-ngapain. Pas internship di gamagori harus berangkat bus pertama karena perjalanan kurang lebih satu jam.

dan seterusnya dan seterusnya…

Pokoknya shakaijin itu lebih berat dah! tl;dr nya saya.

Sampai mereka menjelaskan apa yang harus dilakukan mulai sekarang untuk mempersiapkan diri menjadi Shakaijin. Yang saya udah lupa juga detailnya…

Beginilah galau menghadapi dunia kerja. Gimana kawan-kawan yang udah merasakan duluan?

Sebenarnya agak mendingan ya dibanding Indonesia. Di Jepang job hunting dimulai pada tingkat akhir, kepastian bisa didapat beberapa bulan sebelum lulus. Jadi bisa persiapan. Dua minggu setelah wisuda sudah langsung kerja. Jadi tidak ada nganggur. Di Indonesia harus (seringnya) dilakukan setelah lulus dan persiapan untuk masuk ke dunia shakaijin bisa jadi sangat mendadak.

Namun karena ini Jepang dengan etos kerja yang lebih, saya pun hm…

Nomikai sambil Hanami (Ueno Park)

Nomikai sambil Hanami (Ueno Park)

Hal lain yang agak membuat saya hesitan adalah budaya nomikai. Secara harfiah, nomikai berarti pesta minum. Intinya adalah sesama pekerja (di lab, undangan dari mana, kumpul grup beasiswa, atau grup lain juga sering nomikai sih) datang ke tempat minum dan restoran lalu ngobrol sambil makan (lebih banyak minum sih). Acara tidak formal. Mengakrabkan dan ngobrol ngalor-ngidul. Katanya nomikai ini merupakan kesempatan satu-satunya untuk ngobrol secara kasual ke bos atau bahkan bos besar.

Tentu saja, saya nggak minum. Dan selama ini, saya juga bahkan gak akan mau menuangkan minum (baca: alkohol) ke orang Jepang tersebut. Namun, gimana ya… Tetap aja rasanya kok gelisah dengan hanya menghadiri acara minum-minum ini. Hmmff. Saat jadi shakaijin nanti, takutnya akan makin sering pula kegiatan ini.

Mohon doanya supaya saya tetap terlindungi dari segala budaya tak jelas ini.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s