Cerita Jepang, Islam
Comment 1

Toyohashi Masjid dan Meriahnya Ramadhan

Suasana Buka Bareng

Tahun lalu ketika Ramadhan berakhir, kalimat berikut tertulis di entri buku harian saya.

Finally the festivity days has ended. What’s left now are plain days with nothing to look forward to. Not even you.


Toyohashi Masjid: Deskripsi dan Sejarah

Pelajar muslim di Kota Toyohashi, Prefecture Aichi, Jepang sangat beruntung. Terdapat masjid yg begitu dekat dengan kampus. Naik sepeda sekitar lima menit dari gedung kampus. Jalan kaki mungkin lima belas menit. Kalau disetarakan dengan skala kampus ITB, masjidnya ada di Boromeus. Dekat. Sangat dekat.

Masjid Toyohashi kami menyebutnya. Karena, duh… ada di Toyohashi.

Ketika saya baru datang kesini, Oktober 2013, masjid ini sedang mengalami renovasi pertamanya. Masjid ini dahulunya adalah bengkel. Sekitar tahun 2012, komunitas muslim Toyohashi berhasil membeli gedung bengkel ini dan mengalihfungsikan menjadi tempat ibadah.

Masjid berlokasi di Tempakucho, tepat di depan CircleK, dekat perempatan. Cukup strategis. Tapi memang jauh dari pusat kota. Setidaknya dekat dengan kampus. Gedungnya besar. Sangat besar. Bahkan bisa diperdebatkan kalau masjid ini termasuk terbesar di Jepang. Kalau bukan yang terbesar.

Ia tiga tingkat. Ruang shalat utama ada di lantai dua, beserta kamar imam, kantor, gudang futon, dan ruang sedang untuk tidur-tiduran. Lantai tiga dapur, ruang makan, dan ruang shalat utama cadangan yang gak kalah besar dibanding ruang shalat utama di lantai dua. Ruang shalat utama (2F dan 3F) memiliki delapan shaf dengan satu shaf bisa dipenuhi oleh 35 orang.

Note: bayangkan ukuran orangnya standar Arab ya, bukan Indonesia

Lantai satu umumnya tempat parkir. Kalau dipaksa cukup untuk enam mobil. Dahulunya mungkin bekas ruang ngoprek mobil. Di halaman depan dan samping juga cukup untuk tambahan enam mobil lain. Tapi sesak.

Di lantai satu, tempat wudhu dan delapan toilet terpasang, juga warung halal, dan ruang untuk mengakses markas rahasia khusus perempuan shalat di lantai 1.5 untuk shalat biasa. Kalau lebaran, pria akan menempati ruang shalat lantai tiga dan wanita ruang shalat utama lantai dua.

Renovasi Akbar I Akhir 2013 – Fokus 3F dan 1F

Gedung ini dibeli seharga 20 juta. Renovasi pertama befokus pada lantai 3 (dapur), lantai 1 (tempat wudhu), dan lantai 1.5 (tempat wanita). Biaya dikeluarkan sekitar 20 juta juga. Tahun lalu ada renovasi mendadak karena atap/dinding masjid bocor. Harus dicat ulang dengan no-drop. Biaya: 2 juta. Barusan sebelum Ramadhan sekarang, ada renovasi kecil untuk merobohkan ruang tak berguna di lantai dua bekas kantor bengkel dahulu. Yup, hanya merobohkan. Biaya: hampir 1 juta. Segala biaya dalam yen.

Di Jepang, apa-apa mahal. Terlebih berkaitan dengan tenaga manusia.

Semua pengeluaran tadi ditanggung oleh komunitas sini. Jadi tak jarang kalau pelajar disini dimintai tolong untuk menyumbang sepuluh ribu per orang. Mungkin setahun sekali atau dua kali. Bisa untuk kurban tuh kalau di Indonesia. Alhamdulillah, semua rela. Namun, the real money berasal dari para pekerja bisnisman disini. Rata-rata orang Pakistan. Mereka tinggal disini dan beristri Jepang. Mereka sangat mudah mengeluarkan uang untuk masjid.

Legenda mengatakan bahwa pelopor masjid Toyohashi ini adalah mahasiswa. Sebelum ada masjid, shalat jumat harus dilakukan berdesakan di common room asrama internasional. Shalat biasa di ujung tangga di lantai atap sebuah gedung. Dan keduanya barely legal. Cerita untuk lain kali.

Tahun 2012, Pre-Masjid. Acara: Muslim Gathering Di International House

Tahun 2012, Pre-Masjid. Acara: Muslim Gathering Di International House

Dalam cerita legenda itu, fraksi pelajar muslim di TUT bertahun-tahun menggalang dana dan informasi untuk membuat masjid. Mereka ingin nyaman beribadah. Namun, fraksi pekerja/bisnisman Pakistan tadi katanya kurang setuju dengan ide itu. Karena akan sulit merawat, butuh dana besar, pelajar ganti-ganti, etc-etc. Dan ada juga masjid dekat dari Kota Toyohashi yakni di kota sebelah, Hamatsu, cuma 40 menit naik mobil.

Setelah bertahun-tahun dana pun terkumpul. Lokasi dicari sana-sini tapi tak ketemu. Soalnya kalau dekat permukiman warga nanti ribut diprotes gawat kan. Pernah hampir deal di satu gedung yang agak jauh dari kampus, 10 menit . Namun sayang, dibatalkan dalam detik akhir. Nggak jodoh. Eh, ternyata Allah Maha Berencana. Akhirnya dapat gedung yang lebih baik, lebih besar, lebih dekat dari kampus, dan sekitarnya sepi. Jadilah bengkel berubah menjadi Masjid Toyohashi. Bahkan pemilik bengkelnya jadi mualaf lho!

Legenda melanjutkan fraksi bisnisman yang tadinya menolak pembangunan masjid menjadi penolong pertama masalah manejemen dan finansial. Ketika dibutuhkan, entah darimana mereka bisa mendapat uang 20 juta yen.

Kini masjid ini sudah bagus. Sangat luas. Nyaman. Fasilitas kulkas, heater, kompor lengkap. Josh lah. Toko halal ada, sistem kantin kejujuran… Cuma bisa karena di Jepang keknya. Dan saya tencho-nya ^^. Cerita untuk lain kali.

Tempat Wudhu (1F),  Ruang Shalat Cadangan/Ruang Istirahat (2F), dan Lantai 3 (3F) [2012|2013]

Keragaman Negara, Watak, dan Mahzab

Demografi muslim disini sudah barang tentu orang asing semua. Mungkin cuma satu dua orang Jepang. Yang paling umum adalah dari tiga negara. Pelajar dari Indonesia, pelajar Malaysia, dan bisnisman Pakistan. Sisanya ada yang dari timur tengah, bangladesh, afgaishtan, afrika, jerman, dan lain-lain.

Dari demografi tersebut, mahzab yang mendominasi adalah Hanafi dan Syafii. Kadang agak clash dalam perbedaan negara, watak, dan mahzab keduanya. Pekerja yang rata-rata Pakistan, berwatak keras, bermahzab Hanafi. Dan pelajar yang rata-rata Indonesia-Malaysia, berwatak lembut [dubious], bermahzab Syafii. Pengelola dan tim pengembangan masjid rata-rata dari bisnisman, brother Pakistan. Jadi, gaya dan aturan masjid sesuai budaya sana. Namun, jemaah keseharian adalah pelajar.

Oleh karena itu, kadang ada perbedaan pendapat. Beberapa isu yg dulu pernah jadi pertengkaran adalah masalah wanita datang ke masjid dan shalat witir. But, that’s for another story.

Intinya, muslim disini banyak belajar untuk bertoleransi lebih dibanding di negaranya. Asyik rasanya. Tegang-tengang manis. Setidaknya itu yang saya rasakan. Mengambil kesetimbangan antara watak dan pendapat tadi, titik tengah cara ibadah dua mahzab, belajar bersabar dan saling percaya terhadap sesama muslim. Pengalaman yang bagus.

Nggak kayak di Indonesia yang subuh qunut vs ga qunut aja bikin masjid sendiri-sendiri. Belum tahu mereka kalau Hanafi qunutnya sebelum ruku. Heboh lagi kalau mereka tahu.

Lantai Dua Masjid – Ruang Shalat Utama [2015]

Oh ya, harakah yang paling umum disini adalah Jamaah Tabligh. Jadi kalau ada rombongan datang dari daerah lain terus melakukan pengajian/datang ke rumah, ukuran kesholehan yang dibicarakan bukanlah sudah liqo belum atau berapa banyaknya mentee antum. Bukan juga berapa kali turun demo atau kapan terakhir menghadiri muktamar khilafah. Bukan. Namun, sudah berapa hari kamu udah pergi keluar. Setiap bayan, ujung ceritanya pasti kesana. Niat berapa hari? Sampai-sampai Pak Subhan membawa jawaban “Tiga hari?”, seraya bercanda ke konteks apapun, akibat keseringan mendengar pertanyaan tersebut tersebut.

Dapur dan Ruang Shalat (3F) dan Warung (1F) [2015]

Ramadhan dan Kemeriahan Masjid

Cukup bertolak belakang dengan kebanyakan tulisan yang Anda temukan tentang nasib muslim di negara lain, saya merasakan kemeriahan komunitas muslim disini. Naik sepeda bareng atau jalan kaki ke masjid, menikmati udara sore. Bahas hadits habis subuh dan ashar, bayan tiap rabu, bersih-bersih tiap kamis. Pengajian sering (tahun lalu). Ngobrol dengan teman sebangsa seiman dan beda bangsa beda iman. Tiap bulan musyawarah di muslim gathering plus mencicipi masakan dari berbagai negara. Suara adzan kadang kedengeran dari apartment (soalnya depanan masjid). Terus, akses ke orang alim pun mudah, dibanding dengan di Indonesia.

Masjid mengundang imam dari luar. Setiap tiga bulan sekali ganti. Imam biasanya dari Malaysia/ Indonesia/ Bangladesh. Umumnya lulusan sekolah di Afsel atau Pakistan. Bisa bahasa urdu, inggris, malay, arab. Kealiman high level lah, lebih high dari pengurus masjid belakang rumahmu. Tinggal mau mengakses mereka atau nggak itu urusan lain.

Terlebih soal ramadhan. Dua imam hafidz yang diundang. Target sebulan tarawih khatam satu juz. Dua imam yang sekarang dari Malaysia (Syafii) dan satu lagi dari Jepang (Half Jepang-Pakistan, umur 20 tahun, sedang kuliah di Afsel, ganteng, hafidz, lancar empat+ bahasa. Recommended! Ada yang mau dikenalin?).

Dan meriahnya lagi, mulai ramadhan tahun lalu, bapak-bapak Pakistan yang bisnisman itu libur sebulan. Mereka meluangkan waktu dan uang untuk menyiapkan makanan berbuka setiap hari. Masjid Toyohashi menjadi sangat-sangat ramai. Saya merasakan Ramadhan yang begitu meriah. 

Pemandangan Lantai 3 Masjid Setiap Maghrib Ramadhan

Tiap sore makan briyani. Nyicipi makanan Pakistan. Sayuran goreng (paprika, buncis segala) rasa rempah-rempah. Acar asem. Asinan cabe. Dll. Belum lagi dengerin lawakan pak Subhan cs. Akhir pekan, giliran siswa yang masak. Nyicipi gaya buka puasa dari Malaysia, Arab, dan Bangladesh. Apalagi saat mengundang orang Jepang secara umum, staf dan dosen kampus, intel dan pegawai balai kota, dan juga warga sekitar untuk ikut buka bareng dan mempersilakan mereka untuk nonton kita shalat. Wow… Feel the hype. Seru bangetz…

Itulah sebabnya tahun lalu ketika Ramadhan berakhir, kalimat tadi terlintas. Finally the festivity days has ended. What’s left now are plain days with nothing to look forward to. Tidak ada lagi briyani gratis tiap hari. Tidak ada lagi ramai-ramai di masjid. Canda tawa ketemu orang-orang. Tidak ada lagi yang dinanti-nanti. Hmf…

Namun, sekarang ramadhan itu kembali. Masjid kembali ramai. Kemaren, dua belas mobil parkir memenuhi lahan masjid. Mungkin banyak juga yang parkir di CircleK depan. Keluarga komunitas datang semua. Ibu-ibu sampai 40 orang dan bapak-bapak 40 lebih. Tarawih sudah lewat Al-Baqarah hanya di hari kedua. Habis shalat, ada pembahasan pula tentang surat yang tadi dibaca. Dan tentu yang paling ditunggu, Briyani… Mantab.

Looking forward to it. Hari-hari ke depan yang begitu meriah.

And there is also you. Here. ♡

1 Komentar

  1. Ping-balik: Orang Jepang Tidak Semuanya Suci | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s