Sastra dan Cerpen
Comments 3

N.U.R.I

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham.  Profesor Ilham…”

Suara itu lirih menggema. Suara lembut yang sangat ia rindukan. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu.

“Nuri…?” Ia  mengigau. Terbaring di kasur, Ilham merasa masih lemas. Masih ingin melanjutkan tidur.

Ilham perlahan membuka matanya. Penglihatannya masih tampak kabur. Samar-samar ia melihat di hadapannya kamar yang begitu penuh dengan kenangan, sudah sepuluh tahun dia tinggal disana. Ruangan penuh cinta penuh kenangan. Ilham meluruskan badan dan berbaring telentang. Samar menatap langit-langit bercorakkan kerlip cahaya bintang, hadiah spesial untuk ulang tahun istrinya tahun lalu.

Tiba-tiba wajah Ilham basah. Entah langit-langit itu bocor atau hujan merembes lewat jendela, sehingga sekelompok tetes air hinggap di wajahnya.

“Nura-nuri… Sudah jam berapa ini… Ayo bangun! Tumben-tumbennya…”

Seorang wanita cantik berdiri di samping Ilham. Rambutnya tertutup kerudung putih. Mawar emas terukir di ujung segi empatnya. Wanita itu tidak tinggi dan tidak gemuk. Tidak, kurus pendek mungkin lebih tepat. Seperti masih remaja atau malah anak-anak. Namun, namanya anak-anak pastilah tampak menggemaskan. Sayangnya, sekarang ia tidak lagi mode gemas. Berkacak pinggang, si cantik tampak berang. Alisnya yang tipis bertemu di tengah. Pipinya menggembung. Tidak. Setelah dipikir ulang, bisa jadi itu salah satu mode gemasnya.

Sebelum wanita itu sempat mengambil kembali gelas dari meja dan mencelupkan tangan, Ilham memaksa diri bangun. Ia mengelap wajah dan memulihkan kesadarannya.

“Emmm, iya-iya Ibu Doktor. Ini juga sudah bangun. Cuma ngerjain kamu aja kok…”

“Apaan sih… Bu Doktor? Aneh banget!”

“Lah, kamunya yang duluan manggil profesor segala.”

“Heiii, aku kan merayakan… Diangkatnya kamu jadi profesor bulan kemaren. Masak gak boleh…”

“Ya aku juga merayakan kamu wisuda doktor tahun kemaren. Masak gak boleh juga…”

“Nggak penting banget sih. Lagian aneh kali Bu Doktor. Bu Dokter iya juga. Kalau aku nggak sakit, paling aku duluan yang jadi profesor. Udah ah… Bangun gih! Makan dulu… Telat nanti.”

“Kalau kamu nggak sakit, mungkin aku nggak nikah denganmu.”

“Mm…” Ia tidak bisa menjawab.

“Eh kamu masak? Tumben banget… Ada kejadian apa nih, aku jadi profesor? Kok baru sekarang ngerayainnya…”

“Ye, yang bangun kesiangan siapa?”

Sambil memaksa bangkit, pandangan Ilham membayang. Ruangan indah itu membaur seperti baurnya bunga karang di dasar laut oleh ombak. Kepala agak berat. Pasti karena tidur terlalu larut, pikirnya. Ketika sadar, Ilham sudah duduk di depan meja kayu berulir di tengah ruangan.

Disebut meja makan sebenarnya kurang tepat. Ia mungil seperti meja kafe. Ia juga tidak hanya dipakai makan. Ngetik, nulis, main halma, dan motong bawang tentunya. Tak jauh dari meja itu, tempat tidur di kiri dan dapur di kanan. Ruang itu berukuran mungil laiknya apartemen pasaran di negeri ini.

Di seberang meja, istri tercinta sedang menata sendok yang baru diambilnya dari dapur. Lalu menuang sesuatu ke mangkuk. Sup hangat untuk sarapan katanya. Di seberang jendela tampak kuncup bunga mulai tumbuh di pepohonan gundul. Namun, dingin udara masih menggelitik kulit.

“Eh… Soal kerja sama dengan badan riset kerajaan itu gimana? Jadi bangun sistem pembaca yang lebih besar?” Nuri membuka obrolan pagi.

“Iya, hari ini mau finalisasi. Sejauh ini mereka setuju dengan desainnya. Aku juga sudah presentasi semua target fungsional dengan prototype yang ini. Tinggal cari relawan untuk dipindai otaknya. Kalau oke, kita tinggal MoU.”

Meja tersebut cukup kecil sehingga hidangan mereka tertumpuk satu sama lain. Bukan karena tidak mampu menyewa apartemen besar, tetapi rumah sederhana lebih mereka suka. Lagipula, mereka lebih sering berkutat di kampus.

“Wah sudah mau terwujud dong ya mimpimu, full virtual reality game seperti yang di film-film itu”

“Haha… Masih jauh lah itu, perlu banyak pengembangan lagi. Makanya kamu juga siap-siap. Bakal banyak kerjaan yang aku limpahkan ke kamu, Doktor Nuri…”

Wajahnya melengos sambil mementungkan sumpit ke arah kepala Ilham. “Ihh… Udah ‘Doktor’, ‘Nuri’ lagi… Nggak jelas banget” Gumamnya tak setuju. Tetapi tidak diragukan lagi, ia tampak lebih manis saat menahan senyum. Ilham hanya terkikik bahagia sambil menyumpalkan makanan ke dalam mulutnya. Nuri pun turut memulai sarapan pagi dengan sumpit yang tak jadi dilempar tadi.

“Ilham, udangnya untuk kamu aja deh… ” Nuri mengambil tempura udang dari udonnya dan dengan cepat memasukkannya ke mangkok Ilham.

Ehm… Ehm…” “Cie… Cie… Uhuy… Suara-suara muncul dari meja sebelah. Ruangan kedai itu hangat karena hidupnya heater dan canda tawa pengunjung. Tak ada yang ingat dinginnya hari pergantian tahun di luar.

Tahu alergi kenapa pesen yang itu.” “Emang khusus itu untuk Ilham… Diikuti tawa riang oleh mereka.

“Apaan sih, kalian…” Tersenyum malu, Nuri kembali fokus kepada udon yang kini polos itu.

“Cie yang panik duduk di depan Ilham. Suara dari kiri menggoda. Hush ga usah diganggu lah, urusi pasangan masing-masing… Hehe… Suara dari kanan tidak mau kalah.

Ilham pun ikut malu sesaat. Namun langsung tersadar, lalu berdiri tiba-tiba. “Kalian! Kenapa ada disini…”  Ia kemudian terdiam dan mengernyitkan dahi. Menengok ke kanan dan ke kiri, ke arah dapur dan tempat tidur. Tidak ada siapa-siapa. Kemudian, ke arah Nuri. Ilham merasa lelah.

“Sayang kamu kenapa?” Sang tercinta menatap Ilham dengan penuh heran.

“Ah..” Ilham sedikit mengusap dahi dan mengucek mata.

“Nggak… Aku cuma teringat…”

Lalu kembali duduk dan menenangkan diri. Sambil menopang dagu ia memusatkan perhatiannya ke gurat-gurat kayu di meja yang perlahan memudar putih. Pandangannya berbayang seperti karang dideru ombak. Ilham akhirnya mengusap wajah, kemudian kembali senyum ke hadapan Nuri.

“… waktu jalan-jalan kita akhir tahun…”

Nuri hanya bisa membalas senyum. “Waktu di meja makan kita diplot makan semeja sama teman-teman itu?” Nuri kemudian mengeluarkan mode gemasnya. “Kamu masih inget aja kayak gitu…”

“Ah, nggak kok aku… Entah kenapa agak pusi…” Kenangan manis saat mereka saat kuliah entah kenapa muncul tetiba, bersamaan dengan kaburnya penglihatan dan pendengaran ilham. Namun, hasilnya sangat membahagiakan Ilham. Melihat wajah malu istrinya itu melebihi segala yang ia harapkan.

Sesaat dua saat, Ilham menikmati rona tersepu yang terurat di pipi Nuri. Mereka berdua diam menunggu lawan bicara memulai, atau bisa jadi menunggu hal lain. Tiba-tiba terdengar suara dering dari objek hitam mengkilap yang biasa ia taruh di meja. Hanya saja, objek itu sedikit lebih pendek dari yang ia bayangkan. Benda itu hanya berupa spiker dan satu buah tombol. Nuri mengambil benda berdering itu dari meja putih.

“Eh ham, sudah jadi tuh pesanannya…” Nuri pun menekan tombol dan secara ajaib raungan kotak itu terhenti. “Ayuk ambil…” Kemudian ia berdiri dan menyodori benda itu ke Ilham.

“Eh? Oh iya…” Secara spontan Ilham mengambil kotak menjerit itu dan menuju ke counter untuk menukarnya. Sebagai ganti dari kotak berisik itu, mereka masing-masing mendapatkan gelas jus dari penjaga kafe. Kembali ke meja, mereka melanjutkan pembicaraan serius tadi.

“Ya ilham ya, pokoknya itu tadi ya. Aku kan mau rangkap karena tugasnya sudah spesifik. Aku males kalau ditambah.” Mode muka tajamnya kembali. Tangannya memainkan sedotan sambil mengaduk-aduk isi gelas. Sesekali, ujung sedotan ia turunkan tekanan udara sehingga isi gelas dapat mengalir melawan gravitasi.

“Ya aku pikir kan itu juga termasuk tugas bendahara.” Ilham ikut menyeruput jus dengan wajah pucat.

“Lho kan bisa dikasih ke eksternal. Donasi ke BEM luar ya urusan eksternal.” Ia menyedot kembali minuman itu.

“Hmf, iye ye… Oke deh.. Yang ini terlanjur, maaf ya. Lain kali nggak lagi. Janji.”

Nuri tersenyum lega setelah Ilham mengucap janji itu. Akhirnya mereka bisa kembali ke topik utama, mencoba kafe baru. “Betewe, pesen apa kamu tadi ham?”

“Ehm… Fruit mix, kamu? Jus mangga ya… Wah, cobain dong.”

Nuri menyodorkan gelas jusnya ke depan. Ilham sedang akan mencabut sedotan dari gelasnya sebelum tiba-tiba berubah pikiran. Tangannya pun menyambar sedotan dari gelas Nuri dan menyeruput jus mangga dari sana.

“Eeeeh… Ilham… Ngapain kamu?” Muka kesalnya kembali seketika. Ilham geli menahan tawa. “Iihh… Apaan sih!” Nuri pun berdiri sambil berkacak pinggang. Pipinya menggembung setengah malu setengah kesal. Ia pun menggeser kursi dan berbalik badan, ingin mengambil sedotan baru.

Nuri berjalan ke arah rak piring, gelas, dan peralatan di samping kasir sementara Ilham masih cekikikan. Namun, Ilham kemudian merasakan seolah seseorang menekan tombol slow motion. Langkah gadis itu seperti  film yang disorot dengan kamera berkecepatan tinggi. Ia dapat melihat detail gerakannya. Latar belakang pun memutih, dan objek-objek di kafe itu memudar. Seperti menyadari sesuatu, Ilham bergegas berdiri. Ia panik, menerabas meja dan berusaha mengejar Anya.

“Anya… Jangan pergi…”

Anya? Iham sendiri tidak mengerti kenapa dia mengucap nama itu. Nama yang rasanya penuh makna namun sudah lama tidak ia ucapkan. Anya berjalan sampai tepi rak kasir dan terus berjalan hingga kesudahannya, seolah-olah rak itu tidak ada semenjak awal. Ilham pun berusaha bergegas tetapi gerakan tubuhnya dan seluruh pemandangan sekitar seperti membeku.

Angin berhembus kencang. Suara debur ombak terdengar keras. Ranting pepohonan saling beradu. Bunga-bunga sakura merah muda beterbangan seperti tiada habisnya. Seperti surga, sejauh mata memandang di kiri dan di kanan menghampar laut, di antaranya berbaris pepohonan tumbuh di sejumput lahan memanjang dihiasi dua pantai. Sepatu ilham penuh dengan pasir putih. Ia berhenti di tengah tanah genting, kelelahan. Si mungil Anya sudah lari agak jauh lari kemudian jongkok mencoba air pantai satunya lagi.

“Ilham beneran deh, air yang sana tawar yang sini asin.” Anya melaporkan temuannya. Ilham hanya bisa garuk-garuk kepala dan sedikit khawatir dengan kehigienisan airnya. Anya yang sepertinya sudah puas bereksperimen dengan air laut, membersihkan kepala ilham dari satu dua kelopak sakura yang nyangkut. “Ayuk lanjut, sebentar lagi sampai seberang.” Ilham menyambut tangan Anya dan melanjutkan perjalanan.

Standar pantai, tanah genti itu pun berkelok-kelok sehingga terkadang angin menerpa dari arah depan. Anya melirik dan mengajak Ilham berlari menantang angin. Ilham tersenyum. Sudah lama dia nggak lari, pikir Ilham. Ia pun menerima tantangannya dan menarik tangan Anya. Berpegangan tangan, lari melawan angin.

Silir aroma laut menghebus wajah Anya dan Ilham, juga dada dan mengembang mereka. Mereka melaju dengan kecepatan tinggi, kesan bahagia tanpa beban terukir di wajah mereka. Tangan mereka bersatu, lepas dari setang. Kaki mereka berhenti mengayuh pedal. Samar tampak di kiri-kanan. Air masih tampak terhampar luas sejauh mata memandang. Namun, tergenang dalam petak-petak. Beberapa sudah ditumbuhi hijau bakal padi. Dan beberapa tampak petani sedang menanam benihnya. Hanya Ilham yang merasa sedikit janggal, tetapi ia riuh terbenam dengan indahnya keadaan saat itu. Juga bahaya saat itu.

Sesaat setelah turunan, jalanan sedikit melengkung. Di hadapan mereka, sepetak sawah dan lumpur menghadang, Ilham dan Anya saling bertatap pandang dan panik tiba-tiba muncul di antara senyumnya. Tangan mereka yang berpegangan bukannya terlepas malah tergenggam makin erat. Tangan yang lain berusaha meraih setang. Namun mereka terlambat dan juga akibat kurang koordinasi, terbang menerabas batas jalan.

Terhempas, Ilham jatuh ke dataran empuk. Tangannya menarik Anya sehingga mereka jatuh tak jauh satu sama lain. Wajah dan tubuh mereka tersiram dengan putihnya embun beku. Zat itu terasa dingin di kulit. Jaket tebal yang mereka kenakan pun tak cukup menahan suhu puncak gunung itu. Sejauh mata memandang hanya salju putih yang terlihat.

Sesaat terdiam, mereka lalu kembali tertawa lepas. Anya mengambil sejumput salju terdepat dan melempar ke Ilham. Hey. Ilham pun membalas dengan dua dan tiga lemparan. Anya mengembalikan lima sampai sebelas. Main sori yuk. Anya kembali menambah tantangan. Mereka pun kembali jalan menanjak ke atas sambil mengambil sori; kursi berbentuk kapal kecil yang bisa dipakai untuk perosotan di salju. Hanya versi kecil yang tersisa tetapi tetap mereka pakai juga untuk merosot berdua. Anya duduk duluan, di depan. Kakinya menahan ke dalam salju agar perosotan itu tidak jalan duluan. Ilham bersiap di belakang memegangi pundak Anya. Terbesit ide iseng oleh Ilham untuk mendorong sori tersebut kencang-kencang tanpa ikut naik. Sambil menahan tawa, Ilham bergerak perlahan. Ia pun memegang pegangan di belakang pundak Anya, dan bersiap.

Kembali Ilham merasakan apa yang dia rasakan berkali-kali sejak tadi. Mata sedikit blur, kepala mengernyit. Pemandangan salju sekitar yang putih sejauh cakrawala, makin memudar putih. Ilham pun berusaha menghilangkan perasaan aneh itu dengan sedikit mengibaskan kepala. Menghela nafas sejenak dan menatap punggung wanita yang sedang duduk di hadapannya. Ilham pun mengeratkan kepalan ke pegangan di belakang pundak Nuri. Ia pun berjalan maju dan mendorong kursi roda itu, perlahan dengan penuh hati-hati.

Koridor itu sepi hampir tidak dilalui orang. Jendela besar berderet menghiasi kiri kanan koridor tersebut. Tampak di luar jendela sebelah kanan dua tiga lajur jalan besar membentang hingga kedua sisinya bertemu di ujung pandang. Jalanan itu tampak gelap dan sepi, beberapa lampu sepertinya jalan tidak menyala. Sesekali satu dua kelebat cahaya merah kendaraan lewat dengan kencang. Di dekat jendela sebelah kiri, terdapat sebuah platform berjalan. Eskalator horizontal persis seperti yang biasa ditemukan di bandara. Segerombol anak muda berjalan di atasnya; sebagian pandangannya kosong, sebagian memegang pose, sebagian senyum memandangi Nuri dan Ilham. Pemandangan di luar jendela sebelah kiri begitu indah; hamparan hijau pematang sawah, biru sungai, dan cokelat perbukitan lewat silih berganti. Kadang diselangi oleh pedesaan, jembatan, tiang listrik, rel bercabang, dan tentu saja kereta lain dari arah berlawanan.

Koridor itu tidak hanya sepi tetapi juga sunyi. Ilham mendorong kursi roda setenang mungkin meskipun dengan hati tidak tenang. Nuri hanya diam tak berbicara. Atau tidak bisa berbicara lebih tepatnya. Sesekali terdengar suara interkom dari langit-langit, memanggil-manggil nama orang tertentu, diselingi ancaman panggilan terakhir, dan informasi gerbang sekian atau apalah. Mereka yang tidak berurusan dengan panggilan tersebut hanya cuek melakukan apapun yang sedang mereka lakukan.

Dari ujung koridor berlawanan, tampak rombongan berseragam rapi layaknya orang penting. Mereka membawa koper dan banyak peralatan. Berbaju putih beberapa berbaju hijau. Ilham pun sesaat berhenti dan memandang mereka. Meski terheran, Nuri hanya terdiam di kursi roda. Ia bergeming menghadap depan. Penahan di lehernya sepertinya bekerja seperti yang diharapkan, memaksa kepalanya untuk tak bergerak.

Dua orang di rombongan itu mendorong troli besar berbentuk dipan. Satu lagi berjalan di samping kasur roda itu sambil memegangi tiang bertabung. Terdapat kabel menjulur dari tabung itu ke tangan seseorang yang sedang tertidur di atasnya. Seorang wanita terkapar tak sadar diri. Ia mungil dan tampak lebih kurus dari biasa. Raut muka tipisnya menggemaskan mengundang rindu. Selendang putih kusam berulir mawar emas pun tampak tak asing. Ilham – masih memandang mereka – melemas. Satu orang berbaju putih seperti dokter balik memandang ilham. Tanpa bicara, dokter itu memberikan ekspresi tegar sambil mengangguk. Ilham hanya bisa mengencangkan kepalan. Ikut tegar mengawasi rombongan itu hingga berlalu.

Cahaya terang mulai terbit di jendela kanan. Pergantian di jendela kiri, tanda kereta telah sampai kereta tujuan. Di kejauhan, sesosok wanita sedang menunggu kereta berhenti total. Ia tampak sedih dan sendiri. Melihat Ilham memandanginya, ia melambaikan tangan ke arah Ilham. Lalu masuk ke pintu gerbong terdekat.

Tetiba Ilham merasa tarikan di lengan bajunya. Ia kaget dan kembali menghadap depan. Berdiri, Nuri menggenggam tangan Ilham. Ia menarik Ilham ke ujung lorong yang tinggal dua tiga langkah lagi. Di hadapan mereka, di luar koridor, taman berhias warna merah jingga terhampar. Semak kecil hingga pohon besar, bahkan dedaunan yang jatuh menutupi tanah seluruhnya berwarna keemasan.

“Sayang. Semua akan baik-baik saja…” Nuri berucap. Tangan kanannya masih menggenggam tangan Ilham. Tangan kirinya menyentuh pipi ilham.

“Tidak Nuri. Aku takkan biarkan semua ini terjadi.” Ilham tidak rela. Ia bersumpah akan memperbaiki semuanya. “Pasti ada jalan.” Ia berfikir keras. “Ya aku tahu…” Ilham seperti mendapat ilham meskipun ia tahu bahwa ide tersebut sangatlah absurd. “Kalau dokter itu tidak bisa apa-apa, kita bisa gunakan NUR. Teorinya ada. Elisabeth pasti setuju.” Sampai akhirnya keabsurdan itu memuncak pada satu kalimat: “Kami akan membuatmu abadi.”

“Sayang. Aku…” Nuri memeluk Ilham dan meletakkan kepalanya di dada Ilham. “Kamu harus mengikhlaskan ham… Aku cinta kamu.”

Tiba-tiba suara lirih memanggil dari samping. Hey, Aku Anya. Seorang gadis cantik; ia tampak sedikit lebih muda dari Ilham. Namamu siapa? Dari lab mana? Sambil mengambil kursi di sebelah Ilham, gadis itu bertanya. Ilham kamu udah makan? Suara lirih lain memanggil dari belakang. Ilham kembali menoleh. Di depannya kasur putih ala rumah sakit memanjang. Gadis yang sama, duduk setengah berbaring disana. Meja makan lipat tertata di hadapannya. Mau bubur sayur? Setengah tertawa dia menawarkan, berusaha bercanda meski dalam keadaan demikian. Sayang, semua akan baik-baik saja. Menoleh lagi ke samping, gadis yang sama duduk di kursi roda. Lalu menghilang. Ilham memutar badan kesana kemari untuk mencari gadis itu. Hanya putih yang dapat ia temukan. Sampai akhirnya Ilham mendapati di kejauhan, tampak ia melambai dan tersenyum.

Lalu, terdengar suara kereta melaju dari belakang. Di jendela sebelah kiri tampak kereta tersebut akan menyalip kereta Ilham. Mendekat ke jendela, Ilham memandangi erat kereta tersebut. Sesaat kecepatan keduanya seimbang seolah keduanya tidak bergerak satu sama lain. Saat itu, Ilham melihat sosok gadis mungil berkerudung putih berulir mawar emas. Berdiri di gerbong kereta sebelah. Tersenyum. Dan melambaikan tangan. Hingga akhirnya rel keduanya tak lagi paralel, dan gerbong itu menjauh dari pandangan. Hingga hanya putih saja yang tersisa. Putih kosong sejauh mata memandang.

*************************************************

“…. Ilham… Bangun Profesor Ilham. Profesor Ilham…”

Suara itu lirih kembali menggema. Suara yang sangat ia kenal. Memanggil-manggil Ilham yang pikirannya masih mengambang, belum terkumpul menjadi satu. Namun, panggilan tersebut tidak lembut dan begitu tergesa-gesa.

“Nuri…?” Ia kembali mengigau nama yang sama.

Sekilas Ilham dapat mendengarkan gema suara. Seperti ada dua orang sedang bercakap-cakap di dekatnya.

“… dokter… kenapa? … apa yang …”

“… supaya bisa mengakses memori … prinsipnya … terfokus ke satu … termasuk untuk kembali ke kesadaran nyata … ”

“ … jadi? … ”

“… ada risiko subjek bisa koma … pemakaian dosis tinggi dapat … ”

“Nur….??” Ilham masih mengigau mencari-cari sosok yang ia sebut namanya.

“ … dokter Elis … persiapan kondisi darurat selesai … ” Suara lain muncul bersamaan dengan deru kaki gerombolan orang.

“ … syukurlah kalian tiba tepat waktu … tidak ada cara lain … laksanakan emergency lapse sequence… segera … ”

“Nuri?? Nuri?? Kaukah itu?” Meskipun suara percakapan itu kian jelas didengarnya, indra-indra ilham masih belum berhasil menangkap penuh kejadian yang ada di sekelilingnya. Pikirannya masih belum terkumpul jadi satu. Ia hanya bisa mengucap satu nama.

Dokter Elis tampak sangat risau. Ia menggigit ibu jari. Tatapannya kosong terbenam dalam pikiran kekhawatiran. Jaket putih laboratoriumnya tampak kusut. Rambut panjangnya pun tak teratur. Di hadapanya meja oval besar dipenuhi kabel. Beberapa lengkungan besar setinggi dua meter – bentuknya seperti mesin – MRI melingkupi meja tersebut. Dokter Elis menatap meja tersebut dengan wajah sangat menyesal. Tidak. Bukan meja tersebut yang ia pandangi, tetapi subjek yang ada berbaring di atasnya.

“Nurii, kau dimana…”

“…” Dokter Elis tersentak dari pikiran dalamnya. Ia kemudian mendekati meja tersebut. Ia seperti mendengar sesuatu.

 “Kalian, tunggu sebentar…” Tersenyum lega, ia pun mencabut perintahnya kepada tim darurat yang sedang tergesa-gesa menyusun dan memprogram entah peralatan apa. “Sepertinya prosedur itu tidak diperlukan lagi.  Profesor kita sudah kembali… Kita hanya tinggal menunggu saja.”

“Anda yakin sudah aman…?” Seorang lelaki setengah baya berpakaian serba putih atas bawah luar dalam. Namun, bukan putihnya jas lab yang menjadi perhatian dari orang itu. Di bawah jas lab yang ia pakai sekenanya, tampak pakaian selayaknya seragam elit kerajaan atau tentara penjaga istana. Warna kuning emas mengukir kerah, lis kancing, dan lis ujung lengan kemejanya. Sebuah bulan sabit emas nan elegan  menggantung dari sabuk celana putihnya. Sepertinya sengaja ia tidak mengancing jas lab untuk menunjukkan tanda resmi tersebut.

“Bisa Anda jelaskan apa yang terjadi?” Pemuda itu meminta penjelasan  kepada Dokter Elis.

“Seperti yang saya jelaskan tadi… Kami tidak bisa membiarkan kalian bertemu dengan Prof. Ilham sekarang. Untuk sekarang prof sudah cukup aman. Namun kondisi kesehatan… tidak… kondisi mental profesor belum memungkinkan untuk memenuhi undangan Anda.”

“Mohon maaf dokter. Anda tahu situasi dunia sekarang bukan? Potensi perang sudah di depan mata. Negeri ini bisa jadi medan tempur. Kami butuh bantuan Anda.”

“Kami tidak ada urusan dengan itu. Kami tidak punya kewajiban untuk melindungi negara. Kami bukan organisasi kerajaan dan juga bukan tentara.”

“Tuan Putri secara pribadi memanggil Anda. Secara pribadi beliau menginginkan pertolongan Anda dan Profesor Ilham… Negeri ini butuh keahlian kalian. Bukankah kalian mentor dan sahabat lama Tuan Putri?”

“Kami tidak peduli dengan politik. Kami di sini punya masalah sendiri. Sampaikan ke Shabrina lain kali kalau ingin meminta tolong, silakan datang sendiri. Jangan mengutus wakil.”

“… Pihak kerajaan akan sangat mengapresiasi jika setidaknya anda tidak memanggil Tuan Putri dengan nama kecilnya.” Pria itu menaikkan nada bicaranya.

Elisabeth hendak akan mengeluarkan stres pendamannya ke tamu tak ramah itu ketika ia mendengar panggilan dari pria yang tertidur di meja.

“Elisabeth… ”Ilham telah membuka mata dan berhasil duduk. “Berapa lama aku ‘terjun’? Siapa dia?”

“Profesor. Dia, tidak penting. Hanya Shabrina yang mau titip salam via anak buahnya.” Sesaat mimik pria yang ditanyakan Ilham berubah kesal. “Yang penting adalah kondisi Anda prof. Ini pertama kalinya kita memecahkan rekor terjun lebih dari 12 jam. Memang kita dapat data terbagus dari percobaan selama ini, tetapi Anda tidak bisa melakukan hal ini terus menerus.”

“Bagus. Itu artinya metode ini tepat. Sesaat lagi singularity cita-cita kita akan tercapai. Nuri, semua akan baik-baik saja…”

Ilham kembali mengambil disk yang tergantung keluar dari salah satu lubang di mesin lingkaran tadi. Label NUR-1 tertulis di disk tersebut… Setelah mengecek kondisi disk itu sebentar, Ilham kembali memasukkannya ke lubang input dan memasang program sesuatu. Kemudian ia kembali ke atas meja baring.

“Profesor! Saya mohon prof, Anda tidak boleh gegabah. Meskipun demi istri Anda… Anda juga harus memikirkan kondisi Anda sendiri. Prof Anya pasti marah jika ia mengetahui apa yang…”

“Profesor Ilham. Saya Alif, utusan kerajaan. Anda paham kondisi geopolitik terakhir bukan? Perang akan datang. Kerajaan dan Tuan Putri Shabrina butuh bantuan Anda menghadapinya.” Pria tadi memotong pembicaran Elisabeth.

“Tidak, saya tidak membaca berita. Hoo.. Baru tahu juga, Shasha diangkat jadi Putri. Sampaikan ucapan selamat dan maaf ke dia. Saya sedang banyak pekerjaan.”

“Profesor… Saya yakin Anda cukup logis untuk menimbang mana yang lebih berat. Istri Anda atau dunia yang telah ditinggalkannya! Disana masih ada keluarga Anda yang lain, kemenakan Anda Sang Putri.” Pria tadi berusaha meyakinkan Ilham. Namun, sepertinya diksi pilihannya salah.

“Persetan dengan dunia kalian.” Ilham kemudian melanjutkan persiapan di meja baring, menginisiasi riset dengan kredensial yang ia miliki – sehingga Elisabeth tak dapat berkutik. Ia pun berbaring di meja tersebut dan memejamkan mata. Mesin pun membaca disk tersebut dan dilayar tertulis berbagai log status. Inisiasi peta memori. Akses dimulai. Dan ribuan baris laporan log lainnya hingga mesin itu menyala penuh…

Elisabeth hanya bisa menarik rambutnya sendiri dengan kekerasan kepala bosnya itu. Dalam hati, ia bersumpah akan mengikat dan melempar sang profesor jauh-jauh dari lab pada lapse berikutnya. Yap, akan ia lakukan. Ini demi kesehatan fisik mental Ilham sendiri, pikirnya. Namun, sebelum mempersiapkan jebakan dan jaring untuk mengagetkan Ilham saat bangun, ia harus mengusir si tamu yang tak ramah ini lebih dahulu.

“Kami tahu, riset kami dapat membantu Anda mengendalikan berjuta drone dan robot dalam perang mendatang dengan pilot minimal. Namun, seperti yang Anda lihat bos kami sedang tidak enak badan. Tim kami dapat memberi Anda arahan, hanya untuk implementasi yang lebih jauh kami memerlukan persetujuan dari pemimpin lab.”

“Prof Eli, menurut cerita Anda barusan, bisa dibilang Profesor Ilham setengah gila setelah ditinggal istrinya.  Anda kolega terdekatnya bukan. Apa Anda tidak bisa berbuat sesuatu untuk menenangkan beliau, membujuk beliau? Anda setuju bahwa mengabdi pada negara lebih penting dibanding meratapi orang mati, bukan? Di dunia ini setiap hari ratusan orang mati dalam perang, dan Anda dapat mencegahnya. Apalah arti satu orang yang telah tiada dibanding nyawa warga kerajaan ini? Dibanding melakukan hal tak berarti seperti ini, tim Anda akan lebih bermanfaat bergabung dengan kami.”

Elisabeth tersentak dengan komentar itu. Ingin rasanya melempar pria ini dari bulan. Sambil menahan letusan simpanan stresnya, ia berusaha menenangkan diri dan menjelaskan dengan tenang ke tamu ignoran ini.

“Atfisah Nur Anya. Salah satu pendiri institut riset ini. Cantik, mungil, ramah, visinya hebat. Nama mesin ini, Neurosignal Unifier and Repertoir, diambil dari nama beliau. Mesin masa depan dengan tujuan mengekstrak, menerjemahkan kemudian menyimpan dan mungkin menggabungkan sinyal otak dan memori manusia. Spesimen pertama peta memori, NUR-1, juga diambil dari beliau. Melalui spesimen ini, kami sekarang berusaha keras mewujudkan jiwa dan pikiran beliau kembali.

“Institut ini dibuat oleh dan didedikasikan untuk beliau. Yah, meskipun kini riset yang dilakukan Profesor Ilham sedikit melenceng dari tujuan semula; dari sekedar membaca memori ke memindahkan jiwa pikiran manusia ke mesin. Menurut beliau riset ini dapat menghidupkan kembali Nona Anya di dunia dijital. Hmf, memang sedikit delusional walau secara teori mungkin. Dan mungkin lebih tepat jika kutata ulang menjadi: menghidupkan kenangan beliau di dunia mimpi.

“Efek sampingnya, beliau menjadi kecanduan dengan memori. Bahkan ia tidak ingat siapa nama asli istrinya.

“Ya. Sama seperti Anda yang tidak suka mendengar tuan putri Anda dipanggil sembarangan, kami juga akan sangat mengapresiasi jika Anda tidak meremehkan Nona Anya. Apalagi di depan Profesor Ilham, di depan Profesor Ilham yang sekarang. Anya – atau Nuri seperti dipanggil Prof Ilham akhir-akhir ini, baginya dan bagi kami lebih berharga dibanding dunia dan seisinya.”

*************************************************

“…. Ilham…. Banguun…”

Suara itu kembali menggema. Nadanya terdengar kesal namun menggoda. Ilham membuka matanya. Terduduk di kursi meja makan di hadapannya, Nuri kembali memasang mode gemas versi kacak pinggang.

“Kok tidur lagi…”

Ilham tersenyum lega. Ya… Inilah yang seharusnya terjadi. This is the way it should be. Ilham terus mengucapkan kalimat itu ke dalam hatinya. Semua baik-baik saja.

“Nggak tidur ah, cuma kedip mata kok.” Ilham membela diri. Sepertinya Nuri tidak terima dengan alasan setengah ngasal itu.

“Eh, aku tadi teringat kamu waktu kita terpisah di beda kereta lho.” Ilham menimpali.

“Eh eh eh… Ngapain inget kayak gituan, kan malu-maluin.”

Pagi di ruang itu pun berlanjut seperti pagi-pagi biasanya. Masak-masak. Sarapan. Mandi dan memilih baju. Penuh canda tawa diselingi debat akademis dan nostalgia. Ruang itu memang ruang penuh cinta penuh kenangan.

“Sebelum berangkat, seperti biasa… Janji kita.”

“Iya nggak bakal lupa lah. Satu menit?”

Pintu kayu dengan pegangan emas berulir mawar membuka di depan ruang itu. Cahaya putih terang menyilaukan dari luar pintu. Setiap pagi di depan pintu itu, mereka selalu melaksanakan sebuah ritual suci. Ritual yang mereka mulai saat mereka menikah dan berjanji akan dilakukan hingga waktu memisahkan mereka.

Satu menit. Sebelum melanjutkan hari, sebelum beranjak ke luar ruang mungil itu, satu menit. Sebagai ungkapan ekspresi cinta, umat manusia kadang menciptakan hal aneh. Menempelkan bibir ke satu sama lain – aneh, entah bagaimana teori evolusi menjelaskannya – dapat mengobarkan api cinta. Dan karena itulah dari malam pertama mereka berjanji untuk menjaga api itu setiap hari. Minimal satu menit, adalah rutinitas wajib pembuka hari mereka. Awal-awal terasa sangat lama dan begitu canggung. Setelah 10 tahun, satu menit terasa seperti sekecup belaka.

Namun sekarang, Ilham tidak ingin melepaskan kecupan itu selamanya.


A short story (Cerpen) by Albadr Nasution. This story is a complement of another Short Story titled Kilas.

3 Comments

  1. Ping-balik: In The Zenith | Blog Kemaren Siang

  2. Mantap, bed. Urang waktu baca awalnya agak bingung kenapa settingnya pindah-pindahnya cepet banget. Hahaha… Seru sih sebenernya ngebayangin perang kerajaannya kayak apa, terus hubungan mereka dengan princess Sasha itu gimana sebenernya… Urang udah langsung ngebayangin NURI dipake buat ngendaliin dragon system nya gundam Freedom gitu… Hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s