Cerita Jepang
Comments 4

Cari Kerja di Jepang: Psikotes dan Psikopas

Contoh soal tes kepribadian (Bahasa Jepang)

Salah satu yang menyebalkan saat cari kerja di Jepang adalah pada saat ujian tertulis. Ujian tertulis disini atau biasa disebut SPI Test oleh para pencari kerja di Jepang terdiri dari beberapa komponen: bahasa, matematika-logika (semacam tes IQ gitu), dan tes kepribadian. Semuanya menyebalkan (matematikanya gampang sih) tetapi yang agak reseh dan jadi fokus artikel ini adalah tes kepribadiannya.

Bagian tes kepribadian ini sebenranya nggak ada istilah jawaban benar dan jawaban salah. Soalnya juga mirip-mirip tes kepribadian abal-abal yang tersebar di internet itu. Pertanyaannya juga klise ttg sehari-hari. Namun mungkin bedanya fokus tentang pekerjaan dan konteks kantor gitu.

Yang bikin reseh sebenarnya adalah jumlah soal. Dari tiga subjek uji tadi, tes kepribadian yang memiliki jumlah terbanyak. Tak jarang, tes kepribadian ini terdiri dari 2 bagian yang per bagiannya berjumlah 200 soal. Total 400 soal dong…

Contoh soal tes kepribadian (Bahasa Jepang)

Contoh soal tes kepribadian (Bahasa Jepang)

Yang ditanyakan ya standar dan klise. Misalnya saya artikan soal pada gambar di atas aja yak.

81. Akrab dengan orang seperti apa pun.
82. Butuh waktu untuk berteman dengan orang.
83. Pekerjaan yang lebih sulit itu lebih asyik dan menantang.
84. Jika orang lain berekspektasi tinggi, diri merasa terbebani.
85. Jika ada pekerjaan yang wajib dilakukan oleh seseorang, diri akan inisiatif mengerjakannya.

86. Saat bekerja dengan kelompok, sering menjadi pengarah kegiatan.
87. Tidak bisa memulai sesuatu yag baru jika tidak membuat rencana detail
88. Jika ada jadwal pagi-pagi, saya jadi tidak semangat.
89. Sampai sekarang, tidak pernah kehilangan kepercayaan diri sekali pun.
90. Meskipun dikritik orang, kalau saya merasa benar akan saya lakukan.

91. Jika ditanya iya atau tidak, saya akan menjawab: sangat suka terhadap umat manusia.
92. Jika orang sadar ttg perilaku buruk diri, saya menerima dengan lapang dada.
93. Sekali memutuskan sesuatu, tidak akan pernah mundur.
94. Jika tertarik kepada satu hal, lebih baik tidak melihat hal yang lain.
95. Setelah tidur malam, hal yang dibenci semua terlupakan.

96. Mudah bertanya kepada orang lain tentang hal apa pun.
97. Senang berpartisipasi pada beragam kegiatan kantor.
98. Apapun yang terjadi, perasaan tidak ingin kalah sangat kuat.
99. Jika melihat perilaku diri di masa lalu, kadang-kadang malu sendiri.
100. Tujuan hidup yang diinginkan sampai detik ini tercapai semua.

Pertanyaan yang sebenarnya seintrik kadang ditanyakan dua tiga empat kali. Misalnya yang poin 98 tadi. Kadang diulang dengan parafrase “Harus memberikan hasil yang terdepan” atau “Dalam kompetisi selalu berjuang hingga menang”.

Terkadang juga diberikan dua kata sifat dan peserta ujian harus memilih kata mana yang lebih dekat dengannya. Misalnya:

  • Memimpin vs Melaksanakan
  • Kompetisi vs Kolaborasi
  • Mandiri vs Kerja sama
  • Mudah akrab vs Menjaga hubungan profesional
  • Semua harus sesuai rencana vs Harus bisa fleksibel

Dan sama juga, kayak semua kata yang mirip diulang lagi dengan lawan kata yang juga mirip. Terus begitu untuk ratusan soal.

Inti dari mata uji ini adalah untuk melihat kecenderungan kepribadian kita, apakah cocok dengan orang yang dicari perusahaan. Lalu petunjuk soalnya, setiap pertanyaan katanya tidak boleh terlalu dipikir. Satu soal satu detik itu sudah lebih dari cukup.

Mudah tapi nyapekin tangan.

Apalagi kalau setiap perusahaan yang dilamar masing-masing ngasih tes kepribadiannya. Beratus soal juga. Nggak bisa dites sekali terus hasilnya dibagi kemana-mana apa yak (mungkin harus ujian di test-center kalau gitu). Mending kalau perusahaannya punya soal berbahasa pengantar bahasa Inggris. Kalau Jepang, waduh modyaar.

Huh…

Beberapa waktu silam, ilmuwan dari Universital Drexel, Philadelphia mengkonfirmasi adanya neuron yang bertugas untuk mengolah informasi lokasi. Dengan kata lain, mereka berhasil melokalisasi bagian yang berfungsi sebagai GPS di kepala kita. Yang nyimpen sekarang kita di rumah atau di kampus terus peta ke mana itu gimana, dll yang kalau ga berfungsi dg baik manusia bisa jatuh pada kondisi yg biasa disebut dengan “Nyasar”.

Seperti diketahui, ternyata proses pengolahan di dalam otak itu terjadi secara modular dengan bagian otak tertentu atau sekelompok neuron tertentu memiliki fungsi yang berbeda dari bagian lain. Yang sudah diketahui sejak lama misalnya adalah visual kortex di occipital lobe, persepsi sentuh dan pengenalan wajah di parietal lobe, koordinasi dan kesetimbangan di cereblum, konsentrasi dan empati di frontal lobe, memori di temporal lobe dan individu neuron, dll.

Meskipun sebenarnya yang disebut “bagian” atau “sekelompok” neuron tadi tidak mesti fix pada lokasi tertentu pada otak sih. Misalnya penglihatan, sesuai penjelasan pada kuliah Visual Cognitive Science yang saya ambil sebenarnya diproses di otak bukan cuma di bagian otak belakang. Itu hanya primary vision (V1), sebagai proses primitif pengolahan sinyal cahaya aja misalnya untuk melihat posisi cahaya dimana, bergerak atau nggak, orientasinya gimana, atau warnanya apa. Setelah itu pada tahap pengolahan info visual selanjutnya, ditangani oleh bagian otak di tengah lalu bercabang kedua ke bawah dan atas yang cukup rumit. Tahapnya misal itu benda apa, dalam kondisi apa, posisi relatif dengan objek lain, dll.

Long story short: Penemuan terakhir dari Universitas Drexel tentang pengolahan informasi lokasi melengkapi “peta” otak yang ada.

Nah seiring berkembangnya pengetahuan kita tentang otak ini alangkah lebih asyik ada penelitian tentang peta otak lain. Sangatlah seru kalau nanti diketahui bagian otak yang berfungsi mementukan tingkat kompetitif pemilik otaknya. Atau bagian mana yang mengolah apakah orang tersebut mudah menyerah atau tidak. Bagian yang mendikte apakah orang itu insiatif?

Tinggal diadakan riset masing-masing kan. Jurusan neuro-science di universitas apa bertugas untuk mencari tahu tentang neuron keakraban. Kampus lain tentang neuron malu. Badan riset lain tentang neuron self-esteem.

Kemudian, kalau sudah berhasil dilokalisasi bisa diukur satu-satu tentang daftar perilaku manusia tadi. Nilai hasil pengukuran tadi bisa diriset lagi keterkaitannya dengan perilaku kemanusiaan lain. Bisa juga dipasang threshold atau pass sehingga dari nilai tentang ambisi seseorang bisa dilihat dia itu cocok dengan pekerjaan seperti apa.

Nah, jika semua komponen perilaku manusia tadi sudah dikuantifikasi sedemikian rupa, saat cari kerja tidak perlu tes repot-repot. Di masa depan, tinggal ukur sinyal otak sekali dua kali, ada deh print-out kepribadian yang lebih akurat. Lembar nilai psikologi alias Psikopas kita pun tercetak.

Digabung dengan sebuah sistem informasi milik Kementrian Tenaga Kerja, Kesehatan, dan Kesejahteraan yang bisa menghubungkan kepribadian apa cocok kerja dimana, kita bisa memetakan formasi kerja nasional dengan sangat efisien. Manusia bisa bekerja sesuai dengan bakatnya. Kantor dapat orang yang tepat dengan sangat mudah.

Sibyl_System

System ini kemudian tinggal dipasang dengan jaringan internet kecepatan tinggi dan super komputer. Kalau perlu analisa lebih lanjut, misalnya dengan pola pikir dan kepribadian seperti ini apakah dia bisa berbuat jahat atau nggak. Simulasi dengan komputer, atau kalau nggak kuat dengan simulasi dengan otak manusia lain. Nah! Akhirnya, selesai juga lah.

Selamat datang Sybil System.

4 Comments

  1. Ping-balik: Lamaran Kerja di Jepang: Alur dari Kenalan sampai Tunangan | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Cari Kerja di Jepang: Alur Seleksi dari Seminar sampai Naitei | Blog Kemaren Siang

  3. Dulu saya juga sempat terfikir, kenapa psikotest ga dibikin dengan sistem terpusat dan hasilnya bisa diterima semua instansi. Cem2 toefl gitu, kan lebih memudahkan job seeker. Tapi entahlah, belum dapet jawaban yang pas. Terkait otak dan kepribadian, masih banyak riset yang perlu dilakukan. Untuk saat ini, mungkin psikotest manual merupakan hal terbaik, murah dan mudah yang bisa diupayakan psikolog untuk menerka kemampuan dan karakter orang. Beberapa jenis tes kepribadian memang didesain dengan soal yang banyak dan berulang. Karena ada alasan tertentu. Biasanya ditiap bundel tes kan ada nama jenis tes kepribadiannya. Kalau sudah tau jenis tesnya bisa dipelajari apa yang diinginkan dari tes itu. Setidaknya tau sistem penilaian dibaliknya. *maap ya numpang sok tau nih^^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s