Cerita Jepang
Comment 1

Cerita Pak Kimura: Pernikahan Orang Jepang

Sebagai penutup seri dua tema bulan ini, saya menyampaikan artikel yang menyilangkan keduanya: jejepangan dan ninikahan.

Sebelum masuk ke cerita inti yg saya dengar dari Pak Kimura, mungkin ada baiknya kita simak sekilas info tentang masalah yg dihadapi di jepang saat ini.

Jepang sedang mengalami yang namanya bencana populasi. Jepang adalah negara yang sangat makmur dan kaya yg salah satu indikator utamanya adalah rata-rata umur, hingga 80 tahun untuk pria. Peringkat yg sepertinya paling tinggi seluruh dunia. Akan tetapi, tingkat kelahiran Jepang kian tahun selalu mencetak rekor, terendah. Peringkat kelahiran Jepang hanya 10.3 dari 1000 orang di tahun 1993 [1] dan sekarang lebih rendah lagi, hanya 1.75%. Akibatnya, jumlah populasi produktif Jepang sangatlah sedikit. Katanya, jumlah orang tua di atas umur 65 tahun mencapai 20% populasi disana, bahkan tahun 2010 pun Jepang kehilangan 212.000 penduduk [2]. Kalau tren ini terus begini, populasi Jepang hanya akan setengah dari sekarang 70 tahunan lagi. [3]

Itulah mengapa Jepang banyak impor pelajar dan pekerja ke negaranya. Proyek terbarunya saja, Global 30, menargetkan 300.000 pelajar asing yang studi di kelas internasional di Universitas-universitas Jepang.

Mengapa bisa begitu? Katanya, penyebab utama adalah rendahnya minat menikah. Orang Jepang cenderung menikah sangat telat (karir oriented) atau tidak menikah sama sekali. Pada rekor terendahnya, jumlah orang yang menikah dari 100.000 penduduk hanya 5.3 orang menurut worldsecuritynetwork.com [3],

Miris yak? Disana nikah tidak disukai. Saya dengar-dengar (tapi tidak ada referensi terpublikasinya) karena nikah itu mahal dan ngurus anak repot. Hmm… Akibatnya, yg dirugikan negara!


Nah, yang Kimura Sensei bukan itu dan tidak berhubungan sama sekali dengan itu. Bahkan mungkin judul artikel di atas kurang tepat. Hehe…

Pak Kimura bercerita. Resepsi pernikahan di Jepang itu repot dan sering dijauhi. Males datang lah, ke walimahan. Begini alasannya.

Kalau walimahan di Jepang, katanya orang Jepang (undangan.pen) selalu bawa amplop. Besaran amplop disesuaikan dengan kedekatan undangan tersebut dengan (salah satu) pengantin pria atau wanita. Makin dekat orangnya, katanya makin mahal pula amplop yang harus diisi.

Gawat yak? Nikah = mahal, baik bagi pengantin maupun pengunjung.

Kemudian, kalau sudah memberi amplop, baru kita boleh makan di walimah itu. Makannya disesuaikan dengan amplop yg kita beri tadi. Mungkin ini sikap sportif-nya kali ya, makan sesuai dengan yang kita beri.

Jadi sepertinya, kalau sahabat dekat pengantin harus bayar banyak, dan makannya juga banyak. Bahaya ya. Itulah pula sebabnya artikel ini dipublikasi setelah tanggal 22 Juni 2013. Kalau sebelum bisa bahaya, ada yang dapet ide/usul aneh-aneh, saya yang rugi ntar. Hehe…

Btw, budaya ini mirip-mirip sama di Jawa khususnya di Kebumen sana, kata temen saya. Bedanya, kalau disana tiap orang yang datang walimah mesti bawa amplop. Misalnya, satu rumah memboyong 4 orang, suami-istri dan dua anaknya. Nah, masing-masing wajib bawa sogokan (amplop.red) masing-masing. Makanya, kalau ada walimah disana jarang yg satu keluarga datang ramai-ramai. Cuma diwakili satu orang saja, takut tekor soalnya.

Hmm, beda budaya beda aturan main memang. Ada yang punya aturan main menarik lainnya?

1 Komentar

  1. kalo cerita temen yang dari Cilacap, setiap undangan yang dateng ditulis berapa besar nilai amplopnya. Nanti kalo kita yang diundang balik maka kita ngasih sebesar nominal yang pernah dikasih sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s