Jadi Ceritanya...
Comments 5

Kurma, Madu, dan Arum Manis

Shalat Ied di Parkiran Tizi

Shalat Ied di Parkiran Tizi

Sepuluh September pagi, sayup-sayup takbir bersahutan di langit sana menandakan bahwa hari ini adalah hari raya, hari raya kembali. Menandakan pula kalau aku telat bangun dan shalat subuh di masjid. Setelah kemarin ku kira takkan ada kumandang takbir, ternyata ada pula sesahutan takbir di malam lebaran Bandung ini. Sebenarnya takbirnya mulai setelah shalat isya di malam sebelumnya, diiringi dentuman-dentuman dan percikan di langit tentunya. Aku tidak yakin apakah itu petasan atau bom beneran.

Setelah sebulan berpuasa, hari inilah saatnya ‘balas dendam’. Kalau biasanya dilarang makan, hari ini disunnahkan makan sebelum shalat id*, malah bahkan wajib makan siang-siang. Aku yang tidak punya apa-apa – dan tentu saja tidak ada orang bodoh yang buka warung makan di subuh hari menjelang shalat idul fitri – pun mencari-cari makanan yang masih tersisa. Menyesallah aku tidak menyiapkan baik-baik bekal buat hari ini kemarin.

Hampir tidak ada apa-apa di meja makanan. Kurma, Madu, dan Arum Manis lah yang tersisa. Mau-tidak-mau aku pun menyantap hidangan pagi ini. Sebutir (atau beberapa butir?) kurma, sesendok madu, dan sepotong arum manis menemani pagi ini, sebuah deklarasi bahwa hari ini aku tidak puasa.

Madu, Kurma, dan Arum Manis

Madu, Kurma, dan Arum Manis

Aku mandi jam enam tepat. Dari spanduk yang ada, aku tahu bahwa shalat id di deket kosan di mulai setengah tujuh. Aku tidak mau ketinggalan shalat id seperti lebaran idul adha kemarin. Habisnya, suara takbir yang ada sangat kecil, meragukan sudah mulai, sudah rame, atau bagaimana. Sistem sound yang dibawa ke lapangan Tizi kurang baik sepertinya. Apalagi kebiasaan di Metro mulai shalat id sekitar jam 7.30. Entah bandungnya atau dewan masjid RW sini yang bertradisi Shinkansen gini. Masjid An-Nur yang deket kosan sih memang masjid Shinkansen, jarak azan dan komat seruas jari. Akhirnya aku dan sekumpulan orang padang waktu itu berlari dan mencari angkot untuk ke kampus. Sesampainya di lokasi shalat di lapangan basket ITB, jamaah sudah takbir untuk ruku’.

Keluar kamar mandi aku kaget melihat anaknya (atau mantunya?) ibu kos masih tergolek di sofa ruang tengah. Istrinya lalu baru naik tangga masih hilir mudik menyiapkan kebutuhan keluarga. Memang Shinkansen orang-orang bandung, super cepat. Sudah mepet waktunya masih belum siap, hanya butuh waktu yang sedikit untuk siap-siap. Padahal waktu dirumah dulu, jam lima lewat dikit itu aku dan keluarga sudah siap dengan pakaian lengkap dan sajadah. Tinggal sarapan dan nyolongin kue di meja saja.

Shalat id selesai pukul tujuh lewat sedikit. Setelah shalat id di lapangan parkir tizi, aku pun berleha-leha di kamar. Sebenarnya selain tiga makanan tadi, masih ada sebungkus mie dan beberapa teh celup. Makan mie mentah gak mungkin banget kan jadi aku hanya menyeduh teh sambil melanjutkan novel. Setelah agak lama – satu jam mungkin –, aku laporan dulu ke ortu di Tanjung Balai, Sumut yang ternyata di sana baru selesai shalat id. Kemudian aku meminta maaf karena tidak bisa pulang dan mohon ampun atas segala kesalahan selama ini. Di telepon, aku direkomendasikan keliling Bandung saja daripada tidak jelas dikosan. Maka, sesaat setelah telepon ditutup, aku langsung cabut keliling mencari makan.

Tak disangka, warung tutup total. Seluruh warung di simpang, baik warung makan, warung listrik, warung besi bersih.. Jejalanan bersih dari kemacetan, lengang dan bisa ngebut sekenanya. Yang paling mencengangkan kampus ITB juga bersih dari motor dan mahasiswa, segala pintu aksesnya ditutup, aku yang berniat nge-net dikampus jadi mengurungkan diri. Salman aja tutup, bersih dari kehidupan cerdas (baca: manusia) tampaknya. Tetapi di sekitaran Kebun Binatang ada yang jualan, beberapa gerobak batagor dan mie. Aku yang kepalang tanggung tidak berhenti, tapi meneruskan perjalanan keliling Bandung sampai dirasa ada yang asyik buat dicoba (kepedean, padahal pilihannya aja minim, tutup mua gitu). Perjalanan iseng keliling Bandung tanpa tujuan (tujuan utamanya cari makan sih) ini, insya Allah akan ‘dilaporkan’ pada post berikutnya.

*Pernyataan ini perlu referensi dan penyelidikan lebih lanjut.

5 Comments

  1. Ping-balik: Bagaimana Saya Dulu Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

  2. aku dong lebaran di bahuga, masak rendang (yang sebenarnya mal prtaktek),masak soto (yang hasilnya gak begitu ada rasanya kecuali sedikit asin).

  3. rizqy says

    apa kabar bro?
    pengalaman pertama lebaran di bandung ya..cb maen aja ke lampung bed.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s