Haduh-haduh
Tinggalkan sebuah Komentar

Hasil Observasi TV selama liburan

Liburan ini akhirnya aku melakukan (lagi) hal yang sudah lama kutinggalkan. Nonton TV atau teve (bukan tivi atau tipi ya karena melanggar PPEYD nanti). Di kosan di bandung bukannya saya gak punya tipi (contoh penulisan yang salah), tapi males menonton karena tidak tertarik dengan acaranya dan televisiku burek. Akhirnya, liburan ini intensitas itu meningkat tajam dan aku berhasil mengamati beberapa sisi dari pertelevisian saat ini.

Karena saya nonton dirumah, tentu seperti biasa tv didominasi oleh antek-antek setia sinetron. Sinema Elektronik a.k.a. sinetron emang acara paling andalan di tv kita. Sinetron hampir setara dengan dorama di Asia Timur sana atau Telenovela di Amerika Latin. Bedanya, di kita lebih norak. Jumlahnya pun lebih banyak dari biasanya tampaknya sekarang. Lihat saja, mulai dari siang pukul 2 an sudah ada sinetron yang siap Anda tonton di layar kaca. Untuk pengetahuan saya, stasiun yang gemar menayangkan sinetron adalah R**I, S**V, dan Indo****. Kebetulan mereka bertiga memang yang paling besar dan tua (dan mungkin paling berpengalaman) dibanding stasiun lain.

Sinetron menurut pandangan saya masih sama seperti saat terakhir saya nonton dulu. Masih bercerita tentang cinta, anak hilang dari kecil, salah pacar, siksa istri anak, dan begitulah. Dengan pola dan runut yang juga mudah ditebak seperti biasa. Tren judul juga tampaknya belum berubah. Trend judul sinetron memakai nama perempuan (annisa, nikita, manohara) justru makin liar. Meskipun kini timbul tren baru menggunakan nama-nama istilah islami seperti hidayah, muallaf, inayah, dan begitulah (saying gak ada yang judulnya murtad). Meskipun begitu jangan terlalu banyak berharap dari mereka, isinya sama saja. Tidak ada istimewanya dan beberapa malah lebih parah.

Yang paling jadi sorotan adalah Indo****. Tingkat mistik di stasiun ini makin menjadi rupanya. Makin banyak “sukriwa” modern yang menganut kerajaan dan jin tapi di dalam rumah besar-mewah. Menurut informan yang tidak dapat disebut namanya, ada juga pilm berjudul islami yang awalnya bagus, tapi makin plot berjalan tokohnya ada yang ngidam makan kecoa dan cacing. Yah, mungkin pikir mereka akan banyak penonton dari desa dan orang tua yang menonton acara bernuansa klenik begini sehingga masih dipertahankan. Saya (dan semua representative yang saya tanya) muak dengan tipe seperti ini. Aneh dan tidak mendidik. Mendingan sinetron itu deh. Ada teman saya yang hobi nonton Indo**** dengan tujuan berburu. Berburu apa? Spesial efek naga yang aneh, dan akting kuno-modern yang kocak disini. Mungkin itu penonton mereka. Saya pribadi mengutuk Indo**** saat dia menghentikan penanyangan Detective Conan. Tapi ternyata sekarang ada lagi. Itulah alasan saya masih respek dengan stasiun tv putih ini.

Mayoritas ke dua setelah sinetron adalah reality show. Cukup bagus, tapi banyak yang menjijikkan. Maksud saya adalah acara seperti The Lemon di S***. Menampilkan segala macam tentang cinta, mulai dari cari pacar, investigasi, selingkuh, gelut, pelecehan ada! Gile dan semuanya tidaklah REAL melainkan rekayasa. Sangat jelas terlihat lah semua itu konflik rancangan. Temenku aja ada yang pernah ditawarin melakukan demikian (pura-pura gelut apa ya) untuk sebuah acara radio saat kami jalan-jalan di jalan beramai-ramai.

Yang juga jadi sorotan adlaah kuis dan acara anak-anak. Rupanya ada kuis yang bangkit kembali dengan property identik. Perbedaan hanya terletak di stasiun penyelenggara dan kata ‘lebih’ pada judul kuisnya. Teknik yang sama digunakan Pat Mata yang menghindari pencekalan dengan menambah kata Bukan didepan judulnya. Tehnik ini juga digunakan salah satu lembaga (mengaku) islam dan dijatuhi fatwa sesat di jaman Soeharto dan kini masih hidup dengan nama berbeda.

Oh ya, ada Super Ranger di TiPI (katanya).  Saya juga belum lihat. Power Ranger yang dimainkan oleh orang Indonesia atau lebih tepatnya “diindonesiakan” (baca: dimainkan dan disetting ala Indonesia. Untuk lebih jelasnya coba bandingkan AAC novel dan filmya yang “diindonesiakan”). Komen teman: ‘lebig bagus PowerRanger jepang 20 tahun lalu’. Bukan menjelekkan, tapi mungkin memang hanya separo-separo aja kita nampilinnya. Yang ujungnya bergenre Sinetron juga. Tapi lumayanlah, kemajuan beberapa micron bagi produser kita.

Ada kabayan animasi 3D. Sebaiknya anda tonton deh. Walaupun saya ragu dan menafikan jalan ceritanya bakal bagus. Mungkin karena saya terlalu cinta dengan produk dilm luar dan anime Jepang. Hal ini disebabkan karena dari kecil memang itulah yang menarik saya. Bursa Indonesia hanya dapat menampilkan hal yang itu-itu saja, cerita yang begitu-begitu, sederhana, dan kurang berkualitas.

Tahukah Anda tentang kuis yang tujuannya menebak lirik lagu? Ada setidaknya 3 quiz serupa di 3 stasiun yang berbeda. Tentu 3 stasiun besar yang saya sebut tadi, stasiun putih, biru, dan orange. Apa apaan coba.

Itulah kita, kurang berinovasi dan hanya meniru, mengambil, serta reaktif dengan tren. Bukti: keberadaan sinetron Manohara yang dimainkan orang berjudul sama padahal masalah belau (yang begitu dibesar-besarkan media) belum selesai (kayaknya) di dunia nyata sana. Uhh.. Pusing melihat tivi (contoh penulisan yang salah) kita. Observasi dihentikan dan gua memulai perjalanan panjang menonton 200 GBan fansub di databaseku.

NB: Observasi ini atas perintah dosen sekaligus trainer Arief Munandar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s