Bandung
Comments 3

Killing the Holy Day

Emang Idul Fitri ada Bahasa Chinanya ya?

Seperti yang saya janjikan, walaupun agak lama juga terlambatnya akan saya ceritakan rangkuman perjalanan tidak jelas keliling bandung ku di waktu di hari nan fitri (baca: holy day) yang lalu. Seperti yang telah kuceritakan, perjalanan ini dilakukan sekedar ngabuburit alias menghabiskan waktu liburan menghilangkan kebosanan dan beratnya liburan lebaran.

Btw itu, Emang Idul Fitri ada Bahasa Chinanya ya? (Gambar ditemukan di dekat Jalan AA)

Dimulai dari mengecek kampus tercinta, dengan sedikit niatan berinternet ria di dalamnya –liburan gini mahasiswa, rilekser, dan lecher pasti pada pulkam– aku pun melaju ke Jalan Ganesha. Sesampai disana seperti yang dikira, jejalanan sepi. Hal ini sebenarnya sudah terlihat di jalan Juanda yang lengang tidak wajar. Ternyata tidak hanya kesepian yang kudapati di kampus, seluruh palka ke sana pun ditutup! Bayangkan, untuk masuk kampus sendiri saat ini mesti memanjat pagar atau melompati rantai pembatas. Parkiran Seni Rupa yang selalu fulltank dan buka 24/7 – hanya tutup gerbang saat sholat jumat – pun secara tak wajar tampak nihil pengunjung. Gerbangnya pun digembok. Akhirnya terpaksa niat berinternet ria pun diurungkan.

SR pas Lebaran

Gerbang Ganesha Sepi dan Tutup

Seperti yang telah kuceritakan pula, sepinya bandung juga mengakibatkan sepinya penjual makanan dan tutupnya warung. ‘Sepi’ disini sampai ke taraf akut, sehingga anda harus berputar-putar dulu untuk mendapatkan sekedar batagor. Aku pun sekitar pukul 9 lewat di Ganesha belum makan apa-apa sejak pagi kecuali Kurma, Arum Manis, dan Madu. Selepas dari gerbang ganesha, melewati taman sari dekat pusat sampah kebun binatang taman sari alangkah terkejutnya aku mendapati gerobak makan nasi dan ayam goreng bercokol disana. Aku yang sedang berkecepatan agak tinggi – maklum tak menyangka ada warung disana – tidak sempat mengerem dan akhirnya nekat untuk mencari makan di tempat yang lebih jauh.

Kuputuskan untuk mengecek tempat-tempat yang kerap menjadi pusat keramaian di hari biasa. Tujuan pertama adalah areal BIP-Gramedia-BEC, areal perbelanjaan paling ramai, dan paling difavoritkan sebagian besar rakyat bandung. Selain karena gabungan saling menyokong dari mall Bandung Indah Plaza yang mewah, bermasjid besar, dan bonafit, mall Bandung Electronic Center yang menyediakan handphone dan computer lengkap, serta Gramedia toko buku paling terkenal di Indonesia, sekitar area itu terdapat pusat pertemuan keluarga yang asyik, gamezone, distro-distro, taman, dan lain-lain.

Jalan raya di depan BIP meskipun lebarnya belasan meter selalu dipadati kendaraan. Tentu saja, mereka berjalan dengan padat merayap. Tapi kini, sepertinya anda bisa main kelereng disana (sebenarnya tetap berbahaya –atau malah tambah berbahaya, karena kendaraan disana jadi melesat terus) sekarang. BIP dan Gramedia pun tutup. Kios makanan di sekitarnya tutup dengan kursi dijungkir balikkan. BEC pun mengalami nasib yang sama, hanya dikunjungi oleh satpam yang bertugas.

Aku kemudian melintasi jalan Asia-Afrika yang tentu saja tidak pernah tidak ramai. Sekitar jalan tuek ini dikenal dengan areal ‘alun-alun’. Sayang sekali, tidak ada penyusutan extreme yang terjadi disini. Masih ada beberapa kendaraan lalu-lalang di jalan ini dan sekitaran Masjid Raya.

Lurus melewati Gedung Asia Afrika, aku ingin mencapai terminal Kalapa, ingin mencari jalan pintas ke sana lebih tepatnya. Sayangnya, bukannya ke terminal Kalapa, malah sampai di terminal Caringin yang sangat lebih jauh. Aku sampai di sana pukul 10an dan merasa lapar. Akhirnya aku membeli mie ayam di pinggir jalan depan terminal itu. Aku memutar balik (sebenarnya ini mustahil, karena jalan yang kulewati tadi satu arah) sesuai petunjuk pak mie yang ku tanyakan jalan ke dago. Hal ini ku lakukan karena tidak mau melewati jalan seharusnya yang juga ditunjuki pak mie, jauh dan biasa – lewat jalan besar. Tentu saja aku balik bukan melawan arus, tetapi lewat gang sempit di belakang pertokoan di belakang terminal. Sampailah lagi aku di AA. Keinginan yang belum padam memacuku untuk melewati jalan yang biasa aku kelewati untuk ke terminal kalapa berulang kali, ambil asumsi jalan, sampai akhirnya aku menemukannya (Yatta… /).

Seperti orang bodoh, aku melewati jalan panjang yang biasa aku lewati ke kalapa tadi. Sedikit menyimpang aku mengambil jalan ke Buah Batu, mengharapkan hapalnya alur jalan di sana di kepalaku. Akan tetapi, entah bagaimana, entah berputar-putar dimana, aku keluar di sebuah jalan yang sangat-sangat ramai. Mungkin antrian akibat lampu merah perempatannya hampir sekilo. Aku yang frustasi, tidak tahu dimana dan mau lewat mana, memutuskan untuk pulang ke dago.

Aku pun belok ke kanan persimpangan itu. Saat belok aku melihat kebelakang tempat jalan aku berhenti lampu merah tadi. Celaka, dago adalah arah berlawanan dengan arah aku mendapati simpang tadi. Untuk belok ke sisi jalur dua yang selanjutnya, aku harus menghadapi sekilo antrian. Mampus aja, apalagi bentar lagi jumatan. Akhirnya aku memutuskan untuk terus saja, berharap Allah masih meridhai. Usut-punya-usut, rupanya jalan yang sedang kujalani ini adalah ByPass Sokearno Hatta. Petualangan yang cukup jauh, kataku meringin dalam hati.

Beberapa perempatan ku lewati. Setiap perempatan yang ada, ramainya minta ampun. Padahal lebar jalannya jauh lebih lebar dari rumahku.Setelah beberapa kali perempatan akhirnya aku mencapai perempatan yang kukenal, perempatan dekat pak mie tadi! Ya ampun, aku pun akhirnya mengkuti saran original beliau melewati BTC dan rel kereta api menuju dago.

Pulang langsung ke kosan tentu tidak seru. Aku memutuskan untuk shalat jumat di Masjid Raya. Masjid ini adalah masjid terbesar di Bandung, mungkin juga di Jawa Barat. Masjid ini sayangnya juga terkenal sebagai tempat maksiat cukup popular di Bandung. Maksudnya sebagai tempat berkhalwat massal terisolasi karena selasarnya yang panjang dan remang, dan tamannya yang tak kalah luas dengan masjidnya. Konon, penjaja s**s juga ada disini, sampai-sampai ada peringatan seperti ini di pinggir jalan.

Menjajakan?

Di selasar masjid juga banyak seruan halus yang menyeru untuk tidak pacaran di tempat ibadah. Meskipun begitu, siang itu aku tidak melihat tanda-tanda itu. Meskipun ramai sekali tempat itu seperti pasar. Benar-benar pasar karena banyak penjual snack yang suka masuk di bus-bus itu (penjual mizone, tahu, dan manisa ituloh).

Jam 11 aku sampai di sana. Biasanya di Salman mendiami masjid untuk jumatan dari jam 11 adalah pilihan ideal. Tapi sekarang, belum ada tanda-tanda berlangsungnya shalat jumat di sana. Aku pun memutuskan untuk mencari makan siang. Penjaja makanan di sekitar sana juga ternyata tak lain dari batagor-mie ayam-bakso. Ada dua ibu penjual sate agak aneh yang akhirnya aku beli juga. Setelah jumatan baru aku tahu bahwa ada juga penjual makan berat di selasar masjid itu.

Masjid Raya

Bagaimanapun rumornya, masjid ini memang cukup megah dan artistic. Dalamnya sejuk dan rapih. Pembagian ruangnya cukup aneh, depan dan belakang disekati dengan ruangan yang tidak ada shaf shalatnya dan ada kolamnya. Jamaahnya sepertinya campur-campur dan juga kurang teredukasi. Tidak seperti salman, tidak ada perapatan shaf sesaat menjelang shalat. Bahkan ada yang shalat di lantai dua yang padahal lantai satu aja belum penuh dan bolong-bolong. Beberapa sandal milik jamaah juga ikut hadir meluruskan barisan dalam barisan shalat.

Kunjungan shalat jumat ini adalah perjalanan terakhirku sebelum aku mengunjungi PVJ di Surajadi dan pulang. Tidak seperti kerabat dekatnya BEC, dan BIP, PVJ tetap buka dan dikinjungi orang waktu hari-H ini. Meskipun tidak banyak juga. Sayangnya aku tak sempat mengecek Ciwalk dan BSM dikarenakan mendungnya hari yang memang cukup wajar di minggu itu.

Oh ya, anda tahu kenapa tadi di dekat ITB ada warung nasi goreng? Siang ini, areal itu sangat ramai. Hampir macet. Pedagang pun memadati pinggir jalan. Ruko yang tadinya kios photokopi, kini jadi kios air minum dan barang oleh-oleh. Hal itu tidak lain karena tetap bukanya kebun binatang dan ramainya monster ber-Plat-B –yang setiap malam minggu tidak tahu diri membuat macet Bandung– mengunjunginya.

3 Comments

  1. Ping-balik: Bagaimana Saya Dulu Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s