Jadi Ceritanya...
Comments 3

Flowers in the Holy Night

Flowers in the Holy Night

Flowers in the Holy Night

Sore ini hari terakhir ramadhan. Aku masih di Bandung, di kosan ku sendiri. Seminggu terakhir selalu hujan cukup deras di luar sana, membuatku buka seadanya di kosan atau nekat menunggangi superbit menembus cucuran air untuk sekedar mencari es pisang hijau yang telah lama ku dambakan. Tetapi sore ini, aku terkurung di kosan malas beranjak dari novel Negeri 5 Menara yang sedang ku baca.

Meskipun esok lebaran, aku belum – atau tidak bisa – bertemu keluargaku. Meskipun esok lebaran, suasana sore ini sama seperti sore-sore sebelumnya. Magrib ku berbuka dengan kurma, madu, dan arum manis, terlambat ke masjid dan ketinggalan jamaah di masjid super cepat An-Nur. Meskipun esok lebaran, tiada yang berbeda di masjid. Tidak ada takbir bada magrib, tidak ada kumpul-kumpul atau sensasi meriah lainnya. Sepi, semua* telah kembali ke rumah masing-masing.

Ya, aku cukup heran dengan kota ini. Di kotaku dulu (Metro.red), malam lebaran adalah malam yang ramai. Yang namanya malam, yang namanya hari dalam tanggalan islam ya mulainya dari magrib, maka sejak shalat magrib di sana telah sahut menyahut takbir menyambut hari raya Idul Fitri. Ya ini pengalaman pertamaku di Bandung melewati malam lebaran remotely. Tak menyangka malam mini begitu sepi.Mungkin beginilah situasi lebaran di kota besar.

Aku yang lapar belum makan dari pagi (ya iyalah kan puasa, gak sahur pula!) pun beranjak juga dari kosan menembus rintik-rintik malam dengan payung – entah punya siapa – yang nemu di ‘ruang tamu’ kamarku. Aku ingin makan rendang, atau gulai daging atau apa pun yang dari daging. Maklum, dari siang aroma udara di kosan adalah aroma opor, rendang, daging or something like that. Meskipun aku sadar, mulai liburan lebaran ini yang ada di benakku saat menjelang magrib praktis hampir satu: ‘Moga-moga masih ada warung makan yang buka malam ini’. Ya kalo sahur aku sudah tidak deg-degan lagi karena sudah pasti tak ada warung yang buka.

Perjalanan ke simpang dari kosan hanya butuh waktu 3 menit. Jalan yang biasa, seperti hari biasa, tidak ada sesuatu yang sangat berbeda kecuali sekarang hujan dan sepi meskipun tampaknya besok lebaran. Handphone ku sesekali bergemerincing menandakan sms puitis dari banyak orang masuk. Setelah lihat siapa yang mengirim, pesan langsung ku tutup –tidak perlu kubaca lagi– pasti intinya sama. Sudah puluhan yang sampai sore ini, bahkan temanku yang ‘mengaku’ atheis pun ikut-ikutan berpuitis ria, tiga kali sms pula. Well aku yang tidak punya pulsa, tidak berniat membalas atau berinisiatif memberi puisi serupa ke orang-orang. Ada pulsa pun aku tak berminat melakukan hal pasaran, kurang artistik, dan kurang bermanfaat itu, pikirku.

Sampai di simpang, seperti yang kuduga, 80% warung sudah gulung tenda: lenyap. Tetapi ada yang berbeda, sangat berbeda. Warung-warung itu berubah menjadi kerumunan orang. Preman? Tentu bukan. Kerumunan orang itu sedang sibuk memilih-milih bunga. Ya, simpang dago yang kemaren pangkalan warung makan sekejab berbuah jadi gerai kembang. Belasan penjual kembang menggelar pameran kembangnya di bawah rintikan hujan ini. Mereka memakai pakaian anti hujan dan beberapa gemetar kedinginan, tetapi mereka tetap jualan dan dikelilingi banyak ibu-ibu.

Gerai Bunga Tahunan

Gerai Bunga Tahunan

Kembang yang dijual adalah kembang potong untuk hiasan. Artinya, bunga-bunga itu terpisah dari akarnya, sudah terpotong per tangkai dan siap untuk di ikebana, di rangkai. Aku masih kurang percaya kalo aku di Bandung bukan di Jepang (bodo ya, padahal bandung kan emang kota kembang). Kembang yang dijual beragam, dari mawar sampai matahari, sedap malam, dedaunan hiasan, dan banyak jenis yang tak aku kenal. Semuanya indah dan membumbui udara segar malam dengan wewangian harumnya, meskipun tidak setajam yang seharusnya karena hujan menutupi gelora harum para bunga di tepi jalan ini.

Aku yang tertarik sedikit berkeliling, menunda makan malamku dan bertanya-tanya. Ternyata, memang ini sudah jadi tradisi di berbagai titik di Bandung. Pada malam lebaran, para florist itu bersekongkol untuk jualan akbar salah satunya di areal Simpang Dago ini, hanya pada malam lebaran. Biasanya sampai jam 10 atau 12 malam, dan tidak akan ada lagi sampai lebaran tahun depan. Tradisi ini sudah bertahun-tahun meskipun tahun kemarin tidak ada karena hujannya terlalu lebat untuk mengusir baik penjual maupun pengunjung.

Harga yang ditawarkan sangat variatif, tergantung bunga yang anda pilih, dan tentu saja penjual dan teknik lobi anda. Salah satu contoh adalah bunga mawar, harga sekitar Rp 5.000 rupiah per tangkai. Harga ini sejalan dengan harga bunga mawar pada malam-malam biasa yang juga dijual mahasiswa sebagai teknik danus, Rp 20.000 modalnya sih tidak sampai Rp 2000 gosipnya. Harga makin melonjak dengan makin banyaknya bunga yang dimiliki penjual. Bukan apa-apa, itu memang taktik jualan. Semakin banyak dagangan kita, semakin menarik pembeli dan menyita perhatian dan kepercayaannya. Dengan begitu, harga bisa sedikit dinaikkan tanpa menghiraukan pedagang berbarang sedikit yang membandrol harga murah di sana tetapi sepi pengunjung karena tidak menarik.

Anda dapat membeli bunga per tangkai dari satu penjual ke penjual lain lalu merangkainya di rumah, dengan begini rangkaian akan sesuai dengan selera anda. Atau yang tidak mau repot-repot bisa membeli satu pot langsung. Bunga di pot ini ditusukkan ke semacam busa penyerap air yang disebut sebagai ‘Oasis’. Dirangkai dengan sangat rapi dan komposisi yang beragam. Ada yang mawar only, ada yang campuran, atau sudah seperti hutan saja.

Saat ditanya berapa lama bunga ini bertahan, jawaban berbeda tiap penjual. Ada yang seminggu, ada yang 5 hari, ada yang 2 minggu (ini melebihkan sepertinya biar dibeli), da nada yang bilang Cuma 2 hari (yang ini kelewat jujur kayaknya). Yang jelas semua tergantung perawatan kita. Oasis menyimpan air, jadi sebetulnya tidak perlu ditambahi lagi, hanya saja sesekali perlu untuk menjaganya tetap basah demi segarnya kembang. Kembang yang pertangkai juga bisa langsung dicelup ke vas berisi air, dan bisa tahan sampai 2 mingguan. Kita tinggal menjaga agar air tetap dan sesekali memotong tangkai agar air bisa masuk ke tangkai kembang.

Well, tidak diragukan lagi kembang ini ada untuk hiasan dan terlebih lagi untuk menyambut tamu-tamu di hari nan fitri kelak. Makanya kembang ini hanya di jual pada malam fitri ini. Meskipun tidak mungkin ada tamu yang datang ke kosanku, aku tak kuat menahan rasa untuk membeli. Biar ku perlakukan bunga ini sebagai tamuku, sehingga ku memiliki pendamping selama liburan idul fitri ini. Lebih dari setengah jam aku berkeliling hanya untuk mencari bunga yang bisa hidup lebih dari sebulan sampai aku menyimpulkan bahwa itu mustahil. Akhirnya ku memutuskan untuk membeli beberapa tangkai mawar atau sebuah pot.

Bunga 20.000

Harga kembang ruas per pot bervariatif tergantung besarnya dan kebagusan potnya. Ada yang 30.000 berukuran sedang, ada yang 35.000 sedikit lebih besar, dan 50.000 karena potnya bukan pot hitam yang biasa. Setelah agak lama aku menemukan pot berharga 20.000, anda bisa lihat foto-fotonya di atas. Karena ragu – aku ragu karena dikit mawarnya – aku pun membeli mawar 2 tangkai+1 tangkai matahari (mungkin) saja seharga 10.000, mestinya 11.000, mawar 4.000 dan matahari 3.000 per tangkai tapi aku tawar. Sesaat kemudian, ibu-ibu datang dan membeli pot itu seharga 25.000 per dua pot, negosiasi hanya berlangsung 2 menit, hebat sekali ibu ini. Aku mahfum karena modal kembang ini memang lumayan kecil.

Mawar Pink Bertotol yang Indah, Dua Tangkai 5000

Mawar Pink Bertotol yang Indah, Dua Tangkai 5000

Sedikit berselang aku iseng kembali ke tempat aku ngobrol dengan florist pertama yang sepi pengunjung. Mawarnya per tangkainya lebih gress, tidak hanya pink polos tapi berbercak indah. Harganya Rp.5000 per dua tangkai pula, menyesallah daku. Di sana juga ada rangkaian per pot yang cukup menarikku. Harga 20.000 sepakat digoyang menjadi 15.000 (masih lebih mahal dari tawaran ibu tadi) dan jadilah aku pulang membawa 3 tangkai kembang, 1 pot bunga, payung, dan handphone untuk foto-foto di tanganku. Sayang hanya bertahan 2 minggu paling lama, padahal aku ingin memeliharanya dan merias ruang agar lebih ramah mata lebih lama. Terlebih lagi supaya bisa dipamerkan ke kawan-kawan dan teman seperkosan kelak, oleh-oleh melewati malam lebaran di Bandung.

3 Tangkai BungaBunga di Atas Rak Buku

Aku taruh bunga berangkai di atas lemari bukuku. Lalu tiga tangkai tadi kumasukkan dalam botol sirup ABC – yang kucari-cari dulu di gudang – dan dipajang di meja makanan. Lumayan untuk mempercantik ruangan. Bunga yang dibeli di malam idul fitri, bunga yang mungkin akan menemani seminggu ke depan.

.

Albadr,

On the holy night, 09-09-10.

.

Satu lagi yang disayangkan, para florist tadi sebagian besar adalah cowok. Semua memakai pakaian hujan dan sebagian terlihat melawan dingin dengan sangat. Sebagian sudah tua, dan sebagian masih anak-anak. Tidak ada nona muda penjual bunga nan manis dan berpakaian romansa yang bisa didatangi dan dikatakan : “Aku beli bunganya tiga, tapi kamu yang simpen. Gimana, boleh gak?”…

* bisa anda tafsirkan sebagai orang-orang di masjid, atau hampir semua mahasiswa(i) di cisitu lama atau bahkan bandung.

3 Comments

  1. Ping-balik: Blue Rose dan Bunga di Tepi Jalan | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Bagaimana Saya Dulu Mengisi Blog Ini | Blog Kemaren Siang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s