Year: 2013

Oh, UN itu Begini?

Originally posted on Ninok Eyiz's Journey:
Tahun ini pertama kali saya memperoleh kehormatan sebagai pengawas Ujian Nasional! Wow. Saya menyebut kehormatan karena sejak bertugas sebagai guru PNS, baru tahun ini saya mendapatkan kesempatan. Keren sekali rasanya. Hi hi 😀 Jauh-jauh hari sebelum UN, saya melakukan survei kecil-kecilan ke teman-teman guru. Hasil surveinya sangat menarik dan membuat saya penasaran. Mereka bilang kalau nantinya pengawas itu akan jadi boneka di ruang ujian. Waktu saya tanya, Kenapa? Kok gitu? Mereka menjawab, “Ntar kamu tahu sendiri”. Nah looh..
 Senin (14/4), saya tiba di sekolah tempat saya bertugas. Sekolah kecil yang ramai. Ada 2 lembaga pendidikan di sini, pendidikan menengah dan atas. Pukul 7.00 WIB kami, para pengawas, memasuki ruang ujian. Anak-anak sudah berbaris rapi menunggu kami membuka pintu. Kami lalu mempersilahkan mereka masuk. Hari pertama yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Soal dan Lembar Jawab Ujian Nasional (LJUN) kami bagikan. Segera saja mereka larut mengerjakan soal-soal. Wajah-wajah berpikir, mulut komat-kamit membaca soal dan tangan yang sesekali mencoretkan pensil ke soal ujian untuk menemukan jawaban itu membuat saya dan teman…

Bakat Engineer Masyarakat Indonesia

Ketika diberikan kompor gas gratis untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak tanah, banyak masyarakat yang memanfaatkan ‘kebaikan’ pemerintah tersebut untuk mendapatkan sekadar uang tambahan. Jual lagi kompornya. Balik lagi ke kompor minyak. Ketika terdapat kebijakan untuk memekarkan daerah supaya pembangunan daerah menjadi lebih modular dan fokus, ada oknum memanfaatkan untuk menjadi bupati setelah kalah pada pilkada. Bawa sedikit masa, mekarkan daerah baru, jadi bupati pertama. … profit! Ketika ada proyek bernilai sekian em harus ditender, kenapa nggak kita pecah saja menjadi banyak proyek di bawah nilai em. Nggak perlu tender. Tinggal tunjuk perusahaan sodara. Terus kalau perusahaan sodara yg ditunjuk bukan ahlinya? Gampang. Tinggal si perusahaan sodara ‘meneruskan’ proyek. Cari lagi yang bisa ngerjain. Terus, hingga yang mengerjakan ternyata adalah mahasiswa. Ketika ada ujian nasional untuk memberikan standar, seluruh perangkat bersatu untuk mengalahkannya. Bagi tugas. Ada yang mengawas dengan renggang. Ada yang memeriksa jawaban murid. Ada yang memastikan murid bisa diajak kerja sama. Ada yang membuat jaringan karisidenan dan menyebar info. Ketika menemukan bahwa daftar Paypal itu bisa menggunakan verifikasi manual oleh staf Paypal sendiri, orang pun …

Jadi Korban Salah Kunci Cakram

Hari Jumat kemaren, saat saya mau pulang dari Syukuran Wisuda STEI, saya mengambil motor ke parkiran salman. Motor mau saya keluarkan kok terhalang sesuatu. Tek.. tekk… Setelah dilihat, ada kunci cakram yang menggantung di cakram roda depan motor saya. Akan tetapi, saya tidak mengingat kalau saya tadi memasang gembok cakram itu. Tidak ingat. Semenjak saya mengalami bahwa kunci cakram itu berbahaya kalau kita salah pasang, terbalik misalnya, saya jarang memakainya. Kok ini bisa ada kunci cakram yg sudah tampak overused di cakram saya. Kurang kerjaan kali ya tu kunci… Saya tanya deh ke pihak pengelola parkir salman. Yah, kali aja saya melakukan kesalahan dalam berparkir ria. Ada peringatan kalau kelamaan parkir nanti motor/mobilnya digembok. Tapi kan saya baru parkir dari jam tiga tadi? Duh… Ternyata Mas Budi sang penjaga parkir yang suka menawarkan les bahasa gorila beruang ke saya dan teman boncengan saya itu tidak tahu menahu tentang penguncian motor tadi. Bahkan Mas Budi meminjami saya satu set kunci salman, kali aja ada yang cocok. Dan ternyata, sesuai dugaan, tidak ada yang pas saudara-saudara. Bingung, bolak-balik saya ke motor …

Hijab dan Putihnya Baju Koki

Koki profesional dapat dikenali dengan mudah dari pakaiannya. Mereka punya pakaian khas putih-putih, seperti dokter saja. Anda tahu kenapa koki memakai baju putih? Emangnya nggak repot ya masak pakai baju putih. Ntar kotor? Yup, justru itulah tantangannya (dan tujuannya). Selain memang untuk menahan panas (putih = isolator), katanya sih baju putih itu supaya koki selalu hati-hati dalam melakukan pekerjaannya. Koki kan pekerjaan profesional. Malu dong kalau lagi masak kelihatan noda-noda di bajunya. Nggak pro banget lah. Karena bajunya putih, kalau ada noda jadi keliatan banget kan. Jadi, koki profesional harus hati-hati sekali dalam memasak. Tidak boleh sedikitpun noda menempel di bajunya. Malu. White signify cleanliness… Saya heran dengan wanita yang katanya sudah berniat memakai hijab (atau lebih akrab disebut jilbab) tetapi masih belum memakainya. Alasan yang dipakai biasanya “belum siap”, “masih kotor”, “nanti kalau sudah pakai jilbab lalu berbuat aneh-aneh tambah malu”. Kita lihat koki tadi. Kalau mereka mau, mereka bisa saja kan memakai baju hitam. Toh, baju hitam juga ada kok yang terlihat profesional dan elegan. Warna hitam juga aman. Nggak gampang kotor. Kena noda setitik …

Lulus versus Hampir Lulus

Sebagai pemuda dengan idealisme, tentu kita setuju bahwa kemampuan (skill) lebih utama dari sekedar ijazah. Alasan utamanya adalah menilai seseorang hanya dari ijazah saja menimbulkan beberapa masalah. Misalnya, tidak semua kemampuan ada ijazahnya. Kemudian, mana kelihatan perbedaan level masing-masing orang dari ijazah saja, apalagi ijazahnya beberapa tahun lalu. Alasan terburuknya adalah mentalitas keinstanan rakyat kita. Karena kita masih mendewakan ijazah, banyak jasa-jasa pembuatan ijasah secara mudah. Asal punya modal, dapat ijazah PT ternama gampang. Kerja pun tidak jadi masalah. Caranya? Situsnya? Gampang dicari kok. Tinggal googling “ijazah” atau “buat ijazah” atau “ijazah palsu” pasti banyak tuh di halaman pertama. Jika hal di atas dilakukan oleh masyarakat kebanyakan yang memang masih lugu, saya sih masih memaklumi. Akan tetapi, jika hal senada (meskipun jauh berbeda) terpercik dari kolega sendiri atau teman dekat sendiri kok rasanya sedih saya. Saya terkadang kesal ketika teman saya sendiri membanding-bandingkan antara orang yang belum lulus (misalnya saya) dan yang sudah lulus. Saat bercerita, mulailah dia “mengeluh” seakan keadaan saya jauh lebih baik darinya. Enak kamu masih kuliah. Belum ada beban… Saya tidak …

S-Class University

Setiap mendengar world class university, yang saya dengar adalah hal ini: s-class university. Kalau sekarang kan akreditasi sekolah (dan universitas) itu kan A-B-C. Saya tidak tahu syarat masing-masing apa sih. Kalau tidak salah sih C itu untuk Cukup, B untuk Baik, dan A (saya tidak yakin) untuk Asyik atau Apik mungkin ya.  Well, di situs ban-pt pun tidak ada penjelasannya loh masing-masing akreditasi di atas maksudnya apa dan syaratnya apa. Tipikal Indonesia ya. Sekarang bayangkan kalau akreditasi yang dilakukan Badan Akreditasi Nasional bukan cuma A-B-C saja. Hihi… Kayak di game-game atau di film gitu. Ada sebuah akreditasi yang lebih tinggi lagi dari sekadar akreditasi A. Untuk sekolah-sekolah yang sudah super, yang tidak perlu diragukan lagi, dan yang tidak sekadar “asyik”, “apik”, atau “sangat baik”. Sistem Kelas S ini memang sistem yang aneh. Mau gimana lagi… Huruf paling awal kan A, masa S lebih bagus. Kalau dipakai di dunia nyata juga kayaknya kurang praktikal, sangat menimbulkan kesenjangan sosial [original research]. Biasanya sistem aneh ini ada di cerita-cerita terutama yang dari Jepang. Misalnya saja di Naruto, misi dan ninja paling hebat …

Kenapa Nggak Pengumuman di Facebook?

Pascasidang saat bertemu teman di jalan, mereka menanyakan hal yang sama. “Habis sidang mas? Bijimana?” Yah, keliatan dari bajunya sih, rapi tidak wajar. Saat itulah saya merasakan bahwa saat orang mengucapkan “Alhamdulillah…” pada suatu progress yang kita lakukan, itu sesuatu banget (bukan ucapan selamat loh ya, tapi ucapan hamdalah). Senangnya luar biasa. Apalagi… Ups, tapi bukan bahasan saya kali ini ya. Salah satu dari mereka berkata seperti ini: Ih Albed nih lo… Nggak bilang-bilang mau sidang. Pengumuman kek di Facebook. Well. Entah kenapa, saya merasa agak gimana gitu (mixed feeling) tentang ide mengumumkan akan sedang apa saya hari ini, besok, dan seterusnya [kok jadi judul lagu]. Walaupun itu untuk hal yang penting seperti sebuah milestone. Okelah, memang untuk melewati suatu milestone tertentu, kerja keras saja tidak cukup. Doa adalah sangat utama. Dan doa diri sendiri seperti juga tidak cukup meyakinkan bukan? Dengan demikian, doa dari banyak orang, teman-teman dekat, khususnya yang alim-alim harus kita kejar. Kan? Tapi kok saya tetap saja asa geli gimana gitu. Mungkin hal ini ada kaitannya dengan keintrovertan saya ya… Atau karena saya modest, xixixi… Tapi …