Kampus Ganesha
Comments 4

Minggu Wisuda yang Begitu Melelahkan

Alhamdulillah. Pada hari Sabtu, 6 April 2013 kemarin, saya akhirnya diwisuda juga.

Bagi wisudawan, prosesi wisuda sangat melelahkan sekali. Tidak hanya pada hari sidang terbuka saja tetapi juga hari-hari sekitarnya.

Rabu: Pengambilan Toga dan Tanda Tangan Ijazah

Rangkaian tugas wisudawan pada minggu graduation ceremony tersebut dimulai dari pengambilan toga. Fakultas saya, STEI, mendapat jadwal pengambilan hari Kamis. Akan tetapi, saya dan teman-teman sudah mengambil mulai dari hari Rabu sore. Konon, hari kedua (Kamis) pengambilan toga selalu ramai dan pengambilan di luar jadwal juga dilayani. Nakal, kami bersama-sama mengambil toga pada Rabu sore sekitar jam 2. Kebetulan sore itu hujan. Annex makin sepi pengunjung. Karena malas menunda-nunda, walaupun hujan, saya tetap berangkat menjemput pakaian keramat tersebut.

Kamis: Lomba Poster dan Syukuran HMIF

Kamis pagi pukul 08:00, fakultas STEI mengadakan lomba presentasi poster wisudawan terbaik STEI. Saya kebetulan ikut (catatan: untuk prodi IF-STI, ketigabelas wisudawan ikut semua). Acara ini berlangsung hingga pukul 12. Saya tidak langung pulang karena menunggu hujan dan menunggu LO HMIF untuk memberikan undangan syukwis.

Bagi wisudawan STEI yang belum mengambil toga, tentu sorenya dimanfaatkan untuk mengunjungi Annex. Syukur saya sudah mengambil jadi tidak perlu marathon. Setelah istirahat sebentar, sekitar pukul 16.30 saya berangkat ke Mall BTC Bandung. Mal yang cukup jauh dari kampus. Dan seperti biasa, sore itu gerimis tetapi saya tetap berangkat. Syukwis HMIF dimulai pukul 17.00 dengan menyambut anak-anak Panti Asuhan Alber.

Syukwis HMIF kali ini keren!

Itu si Febi (alias Apip karena katanya mukanya kayak mobil APV, lead vocal, berdiri paling kiri) dan Ujang (cowok paling kecil, ketutupan MC baju putih) sedang perform

Rangkaian cara selesai pukul 22.30, malam sekali. Foto-foto, ngobrol, ambil motor, jam 11 malam keluar. Sampai kosan pukul 11.30 dan sekitar sepuluh menit kemudian tidur.

Jumat: Jemput Keluarga, Gladi Resik, Syukuran STEI

Setengah tujuh pagi esoknya saya ke bandara untuk menjemput orang tua. Pukul tujuh sampai, bandara masih sepi. Jadwal pesawat  mendarat ternyata pukul 07:35. Eh, setelah ditunggu sampai pukul 08:10 tulisan landed di daftar arrival berubah menjadi delay. Walau sudah menunggu 1,5 jam, saya terpaksa cabut tanpa menemui ortu. Takutnya tidak sempat ikut gladi resik.

Pukul 08:30 sampai di Sabuga. Gladi resik masih mencapai tahap himbauan-himbahauan. Setengah jam kemudian, gladi dimulai dan saya mendapat telepon dari orang tua bahwa pesawatnya akhirnya landing (setelah sejam muter-muter di atas akibat kabut). Orang tua saya pinta naik taksi ke Sabuga. Pukul 10:30 prosesi gladi selesai. Setelah antri mengambil undangan wisuda, saya mengantar orang tua ke kosan dahulu. Hotel belum bisa check-in soalnya.

Siang tidak bisa istirahat. Jumatan soalnya.

Pukul setengah duaan, saya mengantar orang tua dan barang-barang ke penginapan dengan motor. Siang itu Bandung begitu terik. Entah kenapa, badan agak lemas. Mungkin karena koper ortu besar sekali dan saat mengendarai motor tangan saya terpaksa memendek. Saat berangkat, kondisi saya sudah siap untuk ikut acara berikutnya: Syukuran Wisuda dari pihak STEI.

Tanpa bisa istirahat cukup, di hotel hanya bisa siap-siap belaka. Berangkat dari hotel buru-buru. Jadwalnya sih mulai jam 3. Karena ayah saya dijadwalkan memberi sambutan orang tua wisudawan, saya tidak boleh telat kan? Ternyata sampai di Aula Timut masih sepi dong! Menunggu mulai makan-makan dulu. Jam empat baru dimulai. Syukuran Wisuda STEI selesai pukul limaan dengan dirundung hujan lebat. Terpaksa pulang hujan-hujanan.

Syukwis STEI

Syukwis STEI

Dua hari muter-muter dan tiga hari hujan-hujan sepertinya cukup menguras tenaga saya. Malamnya agak lemas dan masuk angin. Saya mengambil mobil rentalan pukul sembilan malam sambil sempoyongan.

Sabtu: Hari Yang Ditunggu-tunggu

Sabtu, proses wisuda. Untuk memastikan orang tua mendapat tempat duduk yang strategis, kami berangkat pagi sekali: pukul 06:00. Sampai di kampus lima belas menit kemudian dan di Sabuga tepat pukul 06.30. Tidak seperti yang dijanjikan, gerbang sabuga belum dibuka. Padahal pagi itu tidak seperti pagi yang biasa: hujan deras.

Pukul 08:10 saat prosesi Wisuda dimulai terlambat 10 menit dari yang dijanjikan. Rasa kantuk sudah menjalar di seluruh tubuh. Tetapi tidak bisa tidur.

Prosesi wisuda selesai pukul 12:40 setelah rektor menyalami satu per satu ke-1236 wisudawan. Setelah melalui acara istimewa yang ternyata sangat melelahkan dan memenatkan tersebut, masih ada lagi yang harus kami hadapi: foto bersama prodi dan arak-arakan. Tentu saja saya tidak mau melewatkan sedikitpun dari rangkaian acara sekali seumur hidup ini, selelah apapun saya.

Orang tua diantar kembali oleh LO ke area Informatika di Labtek V untuk makan siang. Wisudawan tetap di dalam Sabuga hanya disuguhi snack. -.-

Foto dapat giliran 9 dari 12 fakultas dan wisudawan S1 terakhir di antara wisudawan S1, S2, dan S3. Terpaksa berjam-jam menunggu. Untungnya, waktu menunggu dihabiskan dengan mengobrol ria dan berfoto dengan teman-teman yang bersedia jauh-jauh menyusup ke dalam sabuga untuk memberi sekadar ucapan selamat, ucapan cepet nikah, bunga, coklat, dan balon Ipin-Upin. Terima kasih kawan-kawan!

Sabtu: Arak-arakan

Foto bersama wisudawan seprodi dan rektor, dekan, kaprodi dilakukan sekitar 1,5 jam kemudian. Prosesi arak-arakan, dimulai dengan keluar dari gedung sabuga, entah HMIF dapat antrian nomor berapa. Pokoknya dilakukan 1,5 jam setelahnya lagi, sekitar pukul setengah lima. Waktu di antarnya dihabiskan dengan berdiri saja. Antri.

You know what? At that moment, my energy is zero.

Pada kondisi inilah mungkin para pembaca Fairy Tail yang selalu mengeluh dan mencerca manga tersebut dapat dibantah. Mereka selalu komplain kenapa tokoh utama di manga tersebut bisa tambah kuat tiba-tiba dari posisi mana (kekuatan sihir) nol sampai menang hanya dengan the power of feeling belaka. Persahabatan? Bleh! Well, what if I tell youthe power of feeling is real, man!

Di hadapan orang yang kaucinta, kau akan lebih tegar dari yang kausadar.

Sepertinya saya tidak punya energi lagi tetapi saya tetap berdiri bersama teman-teman. Wisudawan yang lain pasti juga sudah lelah minta ampun, saya yakin. Akan tetapi, apa boleh buat. Wisuda kan bukan cuma milik kami saja. Hal terakhir yang harus kami lakukan adalah berbagi kebahagiaan dengan mereka-mereka yang sudah capek-capek mempersiapkan semua massa, kostum, properti, dan yel-yel untuk mengantar kami kembali ke kampus. Itulah setidaknya yang bisa wisudawan berikan. Kan?

Hampir pukul 17, rombongan arak-arakan HMIF masih di pelataran sabuga. Walaupun sudah keluar gedung, antrian rombongan arak-arakan lain di sepanjang jalur festival cukup panjang. Kami pun terpaksa menambah waktu tunggu sampai setengah jam lagi.

Arak-arakan memang seru. Apalagi kalau kamu salah satu tokoh sentralnya, yang diarak. Saya agak menyesal sebenarnya jarang ikut arak-arakan wisuda sebelum ada teman yang benar-benar lulus dan diarak. Terima kasih sekali buat teman-teman 2008 dan seluruh massa HMIF yang sudah bersedia repot-repot datang pada Wisuda kali ini. Terima kasih…

[The passage about arakan is under construction because the writer cannot express his feeling correctly]

Baru dua puluh menit berjalan arak-arakan, belum juga keluar dari kompleks Sabuga-Saraga, langit sudah gemuruh. Rintik air pun satu per satu turun, membuat bubar sebagian rombongan arakan yang lain. Untung HMIF sudah mulai masuk terowongan.

Tapi kalau masuk terowongan, tetep aja harus keluar terowongan kan? Hujan-hujanan lagi deh, di hari yg keempat.

Meskipun hujan begitu, dan sudah tentu wisudawan lelah, acara tetap harus lanjut. It’s one of my best moment. I hope, it will be one of my best memories. (catatan: saya cukup pelupa dan agak sulit mengingat-ingat event).

Fellow graduates...

Wish you all best, fellow graduates…

Minggu dan Aftermath

Hari Minggu, seharian saya menemani orang tua keliling Bandung untuk mencari oleh-oleh. Tidak jauh-jauh sih, cuma ke Pasar Baru, Ciwalk, Cibaduyut, Rabbani, Dago Pakar, dan Madtari. Minggu sore, hujan lebat kembali turun. Mobil rental dikembalikan dengan menerjang hujan. Pulangnya ya naik motor hujan-hujanan. Lima hari.

Malamnya cukup lemas seperti malam Sabtu sebelumnya. Paginya cukup kembali segar. Pukul setengah tujuh, saya mengantar ortu ke bandara. Saya tidak ikut pulang ke Tanjung Balai karena masih banyak yg mau diurus.

Di depan bandara, ortu sudah sampai duluan karena mereka naik taksi dan saya naik motor. Tidak terasa apa-apa di badan selain agak sedih saja kembali sendirian ditinggal pulang ortu. Saya pun membawa barang ortu yang seabreg ke depan area check-in bandara, menyusup sedikit.

Sesaat setelah keluar, ortu sudah di dalam bandara, mulai terasa efeknya. Beda jauh saat orang tua masih di luar bandara. Badan lemas. Ngantuk. Agak sempoyongan. Walaupun begitu, tetap harus pulang kan? Masa tidur di bandara. Naik motor pas pulang terpaksa pelan-pelan. Sampai di kosan pun, langsung terkapar hingga siang hari.

Ternyata, kekuatan kita itu tidak hanya tergantung pada stamina semata tetapi juga bergantung pada siapa yang ada di samping kita.

4 Comments

  1. Ping-balik: Jadi Korban Salah Kunci Cakram | Blog Kemaren Siang

  2. Ping-balik: Wisuda Itu Mahal | Blog Kemaren Siang

  3. Ping-balik: Pendamping Wisuda? | Blog Kemaren Siang

  4. makanya bed, cepet cari pendamping yg bisa memberikan kekuatan. misalnya, dewi langit?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s